Kebetulan sekali, setelah membaca esai Dwi Cipta, Hilangnya
Dunia Lain yang Memesona[1],
seorang teman yang kebetulan tengah di Jakarta mengajak berkeliling melihat
toko buku-buku loak. Esai itu membayangi perjalanan saya kali ini. Dwi Cipta
berpendapat, toko buku loak semakin sedikit menawarkan pilihan-pilihan buku.Saya
da teman itu sejak awal berencana mengunjungi toko buku loak di Blok M, Thamrin
City (dekat pusat kota, bundaran HI), Senen dan Taman Ismail Marzuki , Cikini,
dalam satu hari.
Awalnya
ajakan teman saya itu membuat saya menggebu. Sudah lama saya ingin berkunjung
ke toko-toko buku loak Thamrin City dan Blok M. Namun, selain mengalami
kepedihan yang sama dengan Dwi Cipta karena toko buku loak dipenuhi buku-buku
yang tak lagi seru, jumlah toko buku loak itu secara mengejutkan semakin surut.
Ketika di Thamrin City, saya nyaris tak percaya dengan mata saya ketika
menemukan jumlah toko buku yang tinggal belasan. Padahal, sekitar setahun lalu
ketika terakhir berkunjung, jumlah toko buku itu nyaris dua kali lipatnya.
Ketika bertanya pada pedagangnya, mereka mengatakan sudah pada tutup, katanya
mau pindah entah ke mana. Pedagang itu mengatakan di lantai tiga itu, sepi
pembeli. Selain tutup, sejumlah toko buku hanya buka di akhir pekan ketika
pengunjung ramai. Ia malah dengan nada iri mengatakan toko buku di blok M lebih
ramai daripada di Thamrin City yang notabene ada di pusat kota. Padahal, ketika
mengunjungi tempat Blok M, saya amati jumlahnya juga menurun ketimbang terakhir
saya berkunjung sekitar setahun lalu. Atau mungkin saja saya terlalu lama tidak
berkunjung ke toko buku bekas?
Kios buku di Thamrin City yang sudah saya dambakan untuk datang sejak awal juga turut sirna. Di tempat itu, saya mendapat novel Mother karya Maxim Gorky terbitan Uni Soviet Foreign Publisher dengan harga hanya Rp 40 ribu. Buku yang dulu dibeli tahun 1965 itu, pembeli meninggalkan coretan di buku, lebih murah dari terjemahan bahasa Indonesianya. Di tempat itu saya juga menemukan Intimacy (terjemahan Indonesianya Dinding), kumpulan cerpen Jean-Paul Sartre, dengan harga hanya Rp 24 ribu.
Malamnya, mbah gugel menunjukan
bacaan-bacaan yang menceritakan kedua toko buku itu memang tidak menguntungkan
ekonomi para penjualnya. Kedua toko buku itu adalah hasil para pedagang yang
tercerai berai akibat Pemda DKI menggusur pusat buku Kwitang pada 2010. Dalam
tulisan jurnalismenya, Kwitang dan Jejak Wisata Buku Jakarta,[2]
Dedek Priyanto, yang tampaknya seorang pecinta buku, menceritakan obrolannya
dengan para pedagang. Sepertinya tulisan
itu sudah meramalkan kejadian yang saya alami dua tahun setelahnya. Pada 2012, ia menulis pedagang mengeluh omset yang jauh lebih sepi ketimbang di ketika
toko-toko buku itu berjejal di Kwitang. Jumlahnya minim untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari. Entah seberapa ramai tempat Kwitang dulu, saya belum
tinggal di Jakarta dan cari-cari di youtube, ketemunya malah video pengajian.
Saya heran dulu dengan penempatan
pemerintah, seingat saya, di daerah sekitar Thamrin City dan Blok M, sedikit kampus
yang merupakan pasar potensial. Kenapa tidak ditempatkan di dekat UNJ atau kampus
IISIP di Lenteng Agung? Kedua jenis konsumen itu mungkin cocok karena relatif
lebih banyak yang memerlukan buku-buku murah. Lokasi di Blok M dan Thamrin
City, bagi saya pribadi, membuat malas berkunjung karena sudah terbayang
kemacetannya. Selain itu, lokasi toko-toko buku ex-kwitang di Thamrin City ada
di tempat yang jauh, lantai 3a (lantai kedua dari lantai teratas) dan tidak
strategis. Jaraknya sekitar hampir 20 menit perjalanan dari tempat parkiran
motor. Toko itu seperti di ujung keramaian. Sebelah barat toko-toko buku
ex-kwitang itu adalah kios-kios tak laku. Kuat dugaan karena sepi pengunjung
akibat letaknya di ujung atas. Bahkan ruang kosong di antara kios dijadikan
lapangan badminton.
Perjalanan berlanjut ke toko-toko
buku di Senen dan TIM. Di TIM, banyak buku-buku bagus. Namun, harganya bagi
saya mahal sekali untuk buku-buku bekas. Banyak buku menarik harganya di atas
50 ribu meskipun tipis. Menariknya, buku bekas impor, seperti Charles Dickens,
dijual dengan kisaran harga itu. Padahal, versi baru karya klasik karya sastra
kanon Inggris seperti itu sekarang dijual dengan harga Rp 40 ribu. Entah apa
pertimbangan toko buku bekas di TIM ini masih PD menjual dengan harga di atas
Rp 50 ribu untuk karya klasik Charles Dickens. Mungkin buat teman-teman yang melakukan
penelitian, buku-buku bekas berisi esai dan teori seperti itu layak dibeli.
Namun, untuk yang sekedar membutuhkan bacaan penyegar otak, saya kira akan
menguras kantong di tengah harga-harga kebutuhan yang semakin mahal.
Di banyak toko buku Senen, kebanyakan yang dijual
adalah komik, novel popular terbitan baru hingga novel porno (dan playboy, yang
ditawarkan sambil berbisik.). Meskipun begitu, beberapa karya menarik masih
ada, seperti Nawal el-Sadawi, George Bernard Shaw[3]
dan buku-buku Pramoedya Ananta Toer (meskipun versi bajakan.) Toh, buku-buku
Pram, entah mengapa, kini sudah tidak beredar di toko buku Gramedia.
Saya tidak paham kenapa toko-toko
buku loak semakin sedikit jumlahnya di Jakarta. Atau mungkin ini pengalaman
saya saja di dua tempat, Blok M dan Thamrin City? Jikapun ada, toko-toko buku
itu tidak terlalu menarik saya lagi. Pertama, jumlahnya semakin sedikit.
Pilihan-pilihannya semakin minim. Mereka ramai-ramai gulung tikar saya kira
karena sepinya pembeli. Kedua, toko buku loak jikapun menawarkan buku bermutu,
seperti di TIM, harganya seperti lebih mahal ketimbang membeli yang baru. Pengalaman
hari ini membuat saya tidak lagi terlalu bersemangat mengunjungi toko buku loak
di Jakarta. Mungkin ketika esok kembali mengunjungi toko buku ex-kwitang,
kompleks toko-toko itu sudah menjadi bekas ex-kwitang.
[2] Bisa
dibaca di http://www.angkringanwarta.com/2012/03/kwitang-dan-jejak-wisata-buku-jakarta.html
[3] Ketika
tanya harga karya-karya sastra bekas setelah melihat karya Shaw, penjual
menawarkan harga Rp 50 ribu untuk satunya. Ia mengatakan nilai buku itu karena
klasik dan sudah tidak ada cetak ulang. Alasan yang aneh.
Aaaaa setuju kak... dulu aku sering ke thamrin city khusunya lantai a3 bwt baca buku or beli buku tp skrg di sana udah tinggal sedikit yg jual malah skrg lantai 3a jd toko baju tasik... hudfttt kecewa bnget di jkt minim toko buku bekas! Pas berkunjung ke daerah laen malah masih bnyak toko buku bkas >< aaaa rasanya gereget banget!!
BalasHapusPostinganmu membantu kak..
Iya. Jogja dan bandung lebih ramai toko buku bekasnya. Di toko buku Senen itu udah sepi buku bekas yang mengejutkan
BalasHapus