Dibilangnya hidupku kuat,
Dibilangnya hidupku tak menanggung beban,
Tapi aku menanggung luka
Akan rasa yang kuangan,
Seperti gerombolan mayat-mayat busuk yang bangkit
yang memaksa keluar dari pekuburan
Dan ingin menghancurkan segala peradaban
Beban kerinduan akan keindahan,
Keindahan yang lama tak mampu kupenuhi sendiri,
Seperti luka dari
kerinduan gamelan yang terongok
Akan indahnya tetabuhan pegelaran wayang
Seperti kejenuhan biola tua di gudang
Yang mendamba kesemarakan melodi orkestra
Dan lama ingin kuraih
Yang tampak padat dan nyata di depan mata
Berkali-kali kucoba genggam
Namun selalu dan selalu
menguap saat telapak ini merengkuhnya
Seolah itu bayang ilusi
Dan rasanya baru kemaren hari
Sayup kudengar melodi keindahan
Kulihat pancaran cahaya senja yang merona
Di balik jurang pemisah buatan sejarah dan manusia
Yang begitu lebar menganga
Namun tetap kucoba berlari
Berlari dan berlari sekuat-kuatnya..
Mengambil ancang-ancang untuk melompat terbang
Dan lagi tersandung tepat di mulut jurang
Kini terkulai sambil melongok ke bawah
Ke kedalaman jurang
Dan yang tampak begitu padat
Kembali bagai menguap seperti ilusi
Dengan sepenuh upaya kucegah
Namun sepertinya dayaku tak kuasa