Politik, Liputan, Humor, Budaya

Senin, 23 Juli 2012

Buruh Migran Rentan Tertular HIV/Aids



Pekerja migran menunggu pemeriksaan
Pekerja migran menunggu pemeriksaan
Buruh migran  rentan tertular virus HIV/Aids. Minimnya pengetahuan TKI dan perilaku seks tak aman diantara  faktor  pemicu penyebaran penyakit mematikan itu.  Situasi ini diperparah dengan belum maksimalnya perlindungan dan pendampingan kepada mereka yang positif HIV/Aids. Akibatnya beberapa ODHA, mesti meregang nyawa. Belum lagi diskriminasi terkait pekerjaan yang mesti mereka terima.
Sore itu, Saturi dan Yuni tengah berkemas. Saat ditemui KBR68H kedua Tenaga Kerja Indonesia tersebut, siap  terbang dari  Jakarta menuju Abu Dhabi, Arab Saudi. Di sana mereka akan  mencari peruntungan, mengais  rezeki untuk keluarga. Sambil menutup risleting tasnya, perempuan tiga puluh tahunan itu  menunjukan barang bawaannya. “Bawa baju doang, sama (buku) Yasin, buku agenda dan mukena. Bawaan Yuni juga hampir sama. Itu saja,” tuturnya.
Keduanya  mencari nafkah di negeri orang untuk menafkahi keluarga mereka. “Mau cari uang buat sesuatu yag baru,” kata Yuni. “Kalau aku untuk bayar anak sekolah. Anakku empat. Dulu saya jualan nasi. Sekarang saya tidak kerja. Sementara suami, bekerja di tambang emas. Tapi sekarang sudah tutup. Sekarang tidak ada penghasilan,” imbuh Saturi.
Sebelum berangkat, sejumlah pelatihan terkait pekerjaan dan penyuluhan kesehatan  sudah mereka terima. Baik dari Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia(PJTKI) sampai Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI).
Formulir permintaan tes HIV dari negara penerima pekerja migran
Formulir permintaan tes HIV dari negara penerima pekerja migran
Bagaimana pemahaman mereka tentang HIV/Aids? “KBR68H: Ada pembelajaran tentang kesehatan?   Saturi: Penyakit aids. Jangan bermain seksual.  KBR68H: Berapa lama? Saturi: Dari jam 3-4. Bedanya HIV dan AIDS? Lupa.  Orang kena HIV bisa kerja? Tidak. Gelas yang dipakai bersama bisa menularkan? Nggak, eh, Bisa, makanya perlu direndam dengan air panas dulu.”
Mitos HIV/Aids
Benarkah pemahaman mereka tentang  virus mematikan tersebut?  Kelompok Kerja Komisi Penanggulangan AIDS untuk Pekerja Migran, Pandu Riono menjawab:  Tidak !  “HIV menular melalui gelas yang sama? Salah. Jika terkena hiv tak bisa bekerja, apakah itu benar? Salah, itu juga mitos, HIV mati juga salah. Minimal mereka harus tahu, gak bisa satu atau dua jam. Mungkin seharian, diberi penjelasan dan diskusi yang cukup lebar. Cerita-cerita sederhana, bukan hanya teori,”jelas Pandu.
Pemahaman yang minim seputar HIV/Aids, membuat para pahlawan devisa itu  rentan terpapar virus,  saat  mereka bekerja di negeri orang.
Hubungan seks yang tidak aman kata  Kepala BNP2TKI  Jumhur Hidayat, salah satu pemicunya. “Lebih banyak yang terkena HIV di luar negeri. Terutama laki-laki. Setelah bekerja, pulang dan diperiksa, ada yang terkena HIV. Ada istilah 4 M:  Man, Mobile, Macho with Money. Laki-laki, berpindah, jantan, punya hasrat yang kuat terhadap perempuan, with money, punya uang juga,” katanya seraya tersenyum.
Kepala BNP2TKI Jumhur Hidayat
Kepala BNP2TKI Jumhur Hidayat
BNP2TKI  mengaku belum memiliki data pasti berapa TKI  yang  positif  HIV/Aids.  “Klinik atau pemeriksaan kesehatan tidak sepenuhnya memberikan data itu. Justru mereka tidak melaporkan secara rinci angka-angkanya. Karena masih ada semacam ketakutan atau tabu memberi laporan tentang HIV ini,” tambahnya.
Sekadar gambaran saja  di Jawa Tengah kasus TKI yang  terpapar virus HIV/Aids mencapai lebih dari 140 kasus.  Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah Anung Sugihantono “Menurut laporan BP3TKI pada saat bertemu dengan kami bersama salah satu LSM. Dari sekitar 105 ribuan TKI kita yang hand out pada 2011 itu ditemukan 145 yang positif HIV/AIDS, ini yang harus kita pahami sebagai satu warning untuk kita semua melakukan sesuatu,” jelasnya.
Yang tercatat di Jawa Timur lebih mengerikan. Pada tahun lalu saja, 320 pekerja migran asal provinsi itu  terpapar  HIV. Sementara  LSM Caring for Migrant Workers, melaporkan sejak 2010 mereka menerima lebih dari 50 kasus AIDS. Mereka adalah pekerja migran  yang terdeportasi dari negeri jiran Malaysia.
Tes Kesehatan
Sejumlah upaya untuk mengerem pertumbuhan kasus HIV/Aids digelar. Misalnya dilakukan tes kesehatan. KBR68H mengunjungi sebuah klinik kesehatan di  Jakarta.Puluhan calon pekerja migrant tengah antri  memeriksa kesehatan.  Salah satunya adalah Iwan. Bekas nelayan asal Cirebon, Jawa Barat ini akan bekerja di Taiwan. “Mau cek kesehatan buang air besar, kencing, ambil darah juga. Penyakit apa saja yang mau dicek? Penyakit apa aja. Pernah dikasih tau kalau di sini ada tes HIV juga? Nggak tahu. Baru kali ini,” akunya.
Direktur Amalia Medical Center Zainal Muhammad
Direktur Amalia Medical Center Zainal Muhammad
Tampaknya Iwan kurang memperhatikan, dalam formulir pemeriksaan yang telah ia tanda tangani, terdapat surat pernyataan, “Saya mengizinkan pemeriksaan HIV atas diri saya”. Padahal, menurut standar Badan Kesehatan Dunia, tes HIV mesti sukarela dan melalui proses konseling. Hasilnyapun hanya boleh diketahui pasien.
Desakan negara-negara penerima pekerja migran menjadi alasan tes paksa ini. Kepala BNP2TKI Jumhur Hidayat menjelaskan, “Pemeriksaan itu diberitahukan Fit atau unfit aja. Tidak diberitahukan pada yang bersangkutan dia terkena HIV. Karena tenaga kerja mesnyaratkan tenaga kerja yang ke luar negeri harus diperiksa HIV. Itu keinginan mereka utuk diperiksa ke luar negeri. Sehingga tidak ada yang dilanggar karena ini rahasia. Sehingga mereka tidak membuka data.”
Namun kewajiban tes HIV ini ditentang berbagai kalangan, salah satunya Organisasi Buruh Internasional (ILO). Petugas Program Hiv dan Aids ILO, Risya Ariyani Kori berpendapat, tes kesehatan itu akan memicu  diskriminasi pekerjaan para  pekerja yang positif HIV/Aids. Sumber dari masalah ini kata  Risya  ada di Undang-Undang  tentang TKI.  “Undang-undang sendiri yang paling pasti, mereka mengharuskan pemeriksaan kesehatan, termasuk HIV dan AIDS. Dan kita tahu sekali mandatori testing ini sangat rentan membuat buruh migrant terdiskriminasi. Bukannya ini malah membantu, dan ILO sama sekali tidak mendukung itu,” ungkapnya.
Minim Pendampingan
KBR68H menemui bekas pekerja migran Baby Rivona. Kini ia menjadi Koordinator Ikatan Perempuan Positif Indonesia. Baby  dideportasi dari Malaysia karena terkena HIV pada 2002. “Karena satu tahun kemudian setelah saya berangkat, saya harus memperpanjang visa kerja. Kontrak dua tahun, memperpanjang visa kerja satu tahun sekali. Maka, saya meakukan medical tes lagi di Malaysia. Apakah itu kewajiban? Di beberapa negara iya. Saya langsung dipulangkan karena itu menjadi kebijakan mereka. Tidak boleh ada pekerja yang HIV positif,” ungkapnya.
Ketua IPPI Baby Rivona,(Foto sumber Radar Lampung)
Ketua IPPI Baby Rivona,(Foto sumber Radar Lampung)
“Saya kehilangan pekerjaan saya. Padahal saya belum habis kontrak.Masih ada satu tahun lagi kontrak saya. Yang disayangkan lagi saya belum terima duit banyak juga karena dipotong gaji selama beberapa bulan. Jadi betul-betul apes. Dan setelah pulang juga, saya tidak tahu mesti ngapain,” tuturnya.
Analis Kebijakan LSM Migrant Care Wahyu Susilo membenarkan para pekerja migrant rentan tertular virus HIV/Aids. “Buruh migran kita yang berada di luar negeri terjebak dalam sindikat perdagangan manusia. Apalagi mereka terjebak sebagai perempuan yang dilacurkan. Itu yang menurut saya kelompok yang paling rentan,” jelasnya.
Sebut saja namanya Mei-Mei, ia salah seorang korban perdagangan manusia. Mengaku sempat dijual mucikari ke Malaysia.  Namun ia  berhasil kabur.
Didampingi sebuah lembaga swadaya masyarakat, perempuan ini melakukan tes HIV. Hasilnya positif. Untunglah ia mendapat pendampingan informasi dari lembaga non pemerintah. “Belum, Cuma  saya masih ingat, pendamping saya waktu itu, mbak Ika, yang mengantar saya pulang sampai Semarang, dipertemukan oleh koordinator kelompok dukungan sebaya di Salatiga. Akses berikutnya saya mencari informasi ya dari kelompok dukungan sebaya di salatiga itu,” kata Mei-Mei.
Analis kebijakan Migran Care, Wahyu Susilo
Analis kebijakan Migran Care, Wahyu Susilo
Tak semua TKI  yang terkena virus HIV/Aids  beruntung seperti Mei-Mei. Akibat tak ada pendampingan kesehatan, tak jarang di antara mereka mesti meregang nyawa. Bahkan banyak pekerja migrant yang baru terdeteksi terkena aids, setelah meninggal . Kembali Wahyu Susilo, “Biasanya yang kita sering kordinasi dengan teman-teman, ada kasus pada HIV/Aids ditemukan kebanyakan saat meninggal dunia. Saya kira kuncinya pada minimnya informasi mengenai perlunya seseorang yang dari mobilitas yang jauh memeriksakan kesehatan. Terutama pada buruh migran.”
Kondisi ini diperparah dengan posedur penanganan kasus HIV/Aids  di kalangan pekerja migrant yang tidak jelas.  Hal itu dibenarkan Direktur Amalia Medical Center Zainal Muhammad. “Kita tetap mengikuti standar, dalam arti kita memberikan unfit, dalam arti tidak layak, untuk bekerja di luar negeri, tanpa sebab. Nah, sebabnya itu sendiri hanya bisa dia tanya melakui lisan. 15% tadi tidak semuanya mempertanyakan. Katakanlah 5%. Biasanya dia pulang begitu saja karena merasa diri. Kasusnya hiv di sini mungkin bisa 1 di antara seribu orang,” jelasnya.
Zainal menambahkan,”Dari mereka asalnya harus diberikan oleh pemerintah. Sehingga kalau kedapatan suspect tadi dengan pemeriksaan detail lebih lanjut, mau diapakan? Apakah orang ini dimasukan ke dalam, semacam diawasi? Diobati? Direkomendasikan dibawa ke mana-kemana sampai sekarang belum ada? Kalo ada sosialisasi diperlukan.”
Sistem Kesehatan Terpadu
Kelompok Kerja Pekerja Migrant dari Komisi Penanggulangan AIDS Pandu Riono melacak, akar penyebab karut-marutnya persoalan ini akibat tidak adanya  sistem penanganan kesehatan yang terpadu. “Kalau mereka melakukan koordinasi dengan benar, tahu apa yang dilakukan, ya, karena uang banyak karena uang banyak mereka melupakan fungsi-fungsi dasar. Hasil eksternal review dari WHO di Indonesia ada dualisme penanganan HIV/Aids. Yang satu dipimpin KPA yang satu dipimpin Kemenkes. Dan ini saling bertolak belakang, sehingga tidak terjadi koordinasi,” kata Pandu.
Peluang untuk mengatasi masalah ini terbuka, pasca DPR meratifikasi konvensi Organisasi Pekerja Internasional .  Upaya itu mesti diimbangi lewat  revisi Undang-Undang  TKI, kata  Ketua Panitia Kerja UU itu, Irgan Chairul Mahfiz. “Bukan hanya persoalan kesehatan saja yang kita masukan, seluruh hak-hak normatif buruh harus mendapat perhatian. Peningkatan kesejahteraan dan perlindungannya harus jadi perhatian. Jadi ratifikasi konvesi ilu ini dalam rangka pemenuhan hak-hak normatif.”
Langkah lainnya dengan membentuk badan baru. “Kalau BNP2TKI itu kan badan nasional penempatan dan perlindungan. Kita ingin badan perlindungan. Perlindungan yang kita kedepankan. Ini rekomendasi dpr ke pemerintah kita ingin badan yang tidak tumpang tindih dengan Kementerian Tenaga kerja dan transmigrasi,” imbuh Irgan.
Namun sejumlah langkah di atas kertas itu kata  bekas pekerja migran yang terpapar virus HIV/Aids Baby Rivona akan sia-sia, jika praktik diskriminasi masih mereka terima.  KBR68H: Anda merasa ada hak-hak anda yang terlanggar? Pasti, karena saya merasa saya orang sehat dan tidak boleh bekerja. Kenapa saya tidak boleh bekerja? Hanya karena penyakit ini. Hingga saat ini, kita berjuang keras agar bisa orang HIV bisa kembali bekerja ke luar negeri, tapi tetap saja tak bisa, karena kebijakan negara itu tidak mengizinkan,” katanya lirih. (Gur|Fik)
(tulisan saya ini merupakan liputan feature radio, untuk mendengarkan versi radio, bisa berkunjung ke (http://kbr68h.com/saga/77-saga/29253-buruh-migran-rentan-tertular-hivaids )

Kwee Tek Hoay : Harta Terpendam Sastra Indonesia


KBR68H - Kesastraan Melayu Tionghoa sejak akhir abad 19 sudah mewarnai kesastraan Indonesia modern. Namun kurikulum nasional mengajarkan pembabakan sastra Indonesia modern dimulai dari Balai Pustaka pada 1920-an. Peneliti Prancis Claudine Salmon mencatat, selama hampir seabad, lebih dari 3000 karya dihasilkan sastrawan Melayu Tionghoa. Salah satu maestronya adalah Kwee Tek Hoay. Kwee tidak hanya menulis karya sastra, ia juga menulis di surat kabar, dan menulis sejarah serta agama. Bagaimana sepak terjang tokoh ini dan karya-karyanya? Berikut laporan reporter KBR68H Guruh Dwi Riyanto.
Sastrawan tak Dikenal
Drama Zonder Lentera karya Kwee Tek Hoay sedang dimainkan oleh Teater Bejana. Asisten Sutradara Hendra menceritakan naskah yang diterbitkan lebih 80 tahun lalu itu.
“Dan yang menarik dari Zonder Lentera itu, cerita soal masalah-masalah kecil yang melebar ke masalah-masalah besar. Jadi awalnya cuma gara-gara ada anak muda ditangkap karena naik sepeda tidak pakai lampu.”
Zonder Lentera adalah salah satu karya sastra Kwee Tek Hoay yang didramakan. Di antara karyanya yang lain adalah Nonton cap Gomeh, Drama di Boeven Digoel, Bunga Roos dari Tjikembang dan Roema Sekola jang Saja Impiken.
Kwee Tek Hoay lahir di Bogor, Jawa Barat pada 1886. Ia menjadi bagian dari arus kesasteraan melayu Tionghoa.
Pentas Drama Zonder Lentera (doc Teater Bejana)
Pentas Drama Zonder Lentera (doc Teater Bejana)
Dosen Sastra Universitas Indonesia Ibnu Wahyudi mengatakan, arus kesasteraan berbahasa melayu pasar ini lahir sejak akhir abad 19, sebelum Belanda mendirikan Blai Pustaka.
“Mulai munculnya penerbitan yang dimiliki para keturunan Tionghoa. Ada surat kabar, almanac dan sebagainya, di sela-selanya muncul puisi dan cerita bersambung.”
Peneliti Prancis Claudine Salmon mendokumentasikan, hingga 1960an lebih dari 3 ribu karya sastra diterbitkan kaum peranakan Tionghoa di Indonesia.
Kwee Tek Hoay berperan dominan di dalamnya, lanjut Ibnu Wahyudi.
“Memang karyanya paling banyak, jelas sekali kandungan isinya. Karya ia yang tercatat 115, mungkin lebih sebenarnya.”
Kwee Tek Hoay menghasilkan karya sebanyak itu tanpa mengenyam pendidikan tinggi, kata Sejarawan Tionghoa dari Yayasan Nabil Didi Kwartanada.
“Dia hanya pendidikan setingkat SD. Orang Tionghoa susah mendapat pendidikan yang cukup baik. Jadi Kwee Tek Hoay lebih sebagai orang yang belajar sendiri sehingga bisa mendapat banyak pengetahuan.”
Ibnu Wahyudi, Dosen Sastra UI
Ibnu Wahyudi, Dosen Sastra UI
Dalam kesehariannya, Kwee Tek Hoay adalah seorang jenaka dan berpandangan terbuka. Cicitnya, Susi Kohar mengenang.
“Orang yang lucu, pintar berkelakar. Dia sangat demokratis. Tidak seperti orang zaman dulu, yang tradisi minded. Dia sangat terbuka wawasannya. Apa yang baik dari barat dan timur diambil oleh almarhum KTH.
Kedua sifat itu muncul dalam sejumlah karyanya. Dalam karya drama Nonton Cap Go Meh, dengan gaya jenaka Kwee mengkritik kekolotan tradisi peranakan di Indonesia.
Alkisah pada 1930, ada pasangan suami istri baru dari keluarga Tionghoa, Thomas dan Lies. Thomas mengajak istrinya nonton Cap Gomeh, perayaan 15 hari setelah Hari Raya Imlek. Lies yang kolot menolak, tabu keluar bersama rombongan pria, teman-teman suaminya. Thomas kesal. Ia minta teman prianya, Franz menyamar menjadi perempuan dan menemaninya.
Lies mengira suaminya pergi dengan perempuan sungguhan. Terbakar cemburu, ia minta kerabat perempuannya menyamar menjadi pria dan menemaninya nonton Cap Gomeh. Gantian Thomas marah. Sesampai di rumah, mereka bertengkar dan akhirnya tertawa setelah mengetahui kenyataan sesungguhnya.
Sutradara Teater Bejana Daniel Jacob mengomentari lakon itu.
Susy Kohar, Cicit Kwee
Susy Kohar, Cicit Kwee
“Banci-banci yang di sini diwakili tokoh Franz. Banci yang kita lihat di televisi dan film biasanya cuman untuk lelucon, bodoh, dan lemah. Tapi di Nonton Cap Gomeh, dialah yang membuka kekolotan atau kritik.”
Gebrakan Kwee Tek Hoay juga muncul dalam sikapnya terhadap perempuan. Ia mendukung dan turut membidani kelahiran penulis perempuan peranakan melalui majalah Panorama dan Moestika Panorama. Ia memimpin dua majalah ini pada 1926 sampai 1932.
Pakar Kesasteraan Melayu Tionghoa, Myra Sidharta menceritakan.
“Dia khusus menyediakan beberapa halaman untuk karya-karya wanita. Jadi wanita-wanita itu mengirim tulisan pada dia. Dia mengkoreksi. Seperti kursus tertulis. Kalau sudah disetujui, dia muat dalam majalahnya. Sehingga perempuan-perempuan itu jadi terkenal juga.”
Pembelaan terhadap perempuan juga muncul dalam karya-karya lain Kwee, lanjut Myra.
“Dan dalam tulisan-tulisannya, ia juga banyak membela wanita. Misalnya perempuan-perempuan yang pernah menjadi PSK tapi belakangan bertobat. Dia ada beberapa tulisan mengenai hal itu.”
Putri sulungnya Kwee Yat Nio, merupakan bukti didikan Kwee Tek Hoay. Cicit Kwee, Susi Kohar mengenang aktivitas neneknya yang menjadi sastrawan dan jurnalis perempuan.
Daniel Jacob (kiri), Sutradara Teater Bejana dan Asistennya Hendra
Daniel Jacob (kiri), Sutradara Teater Bejana dan Asistennya Hendra
“Ngikutin kegiatan ayahnya. Dia ikut sejak masih remaja. Maka dia penerusnya Kwee Tek Hoay. Banyak membuat karya sastra dan penulisan di Maanblat Istri (media berbahasa Belanda –red) pada saat itu. Di seminar mewakili wanita bagaimana pemikiran-pemikiran dia.”
Kwee Tek Hoay tidak hanya menjadi penulis untuk golongan peranakan. Karyanya juga menjadi bagian dari catatan tentang gerakan Indonesia modern, kata sejarawan Tionghoa, Didi Kwartanada.
“Serial tulisan yang berjudul, Atsal Moelahnja Timboel Pergerakan Tionghoa Modern Pertama di Indonesia. Kwee Tek Hoay menceritakan suatu organisasi modern pertama Tionghoa yang pertama ada di Indonesia.  Ini sekolah dan gerakan Tionghoa Hwee Kwan pengaruhnya besar sekali. Seperti kepada Budi Utomo sedikit banyak dipengaruhi THHK. Tanpa warisan naskah ini, susah kita mencarinya.”
Ia pun berperan penting dalam kehidupan beragama masyarakat peranakan. Bersama teman-temannya, Kwee Tek Hoay mendirikan organisasi keagamaan Tridharma pada 1934.
Pengurus Pusat Majelis Tridharma Marga Singgih menceritakan.
Mara Singgih, Pengurus Pusat Majelis Tridharma, di Depan Altar Buddha, Tao dan Konfusius
Mara Singgih, Pengurus Pusat Majelis Tridharma, di Depan Altar Buddha, Tao dan Konfusius
“Kwee Tek Hoay mendirikan Tridharma yang kala itu nama organisasinya Sam Kauw Hwee. Artinya perkumpulan tiga agama. Ajaran tridharma oleh orang Tionghoa kebanyakan menjadi agama yang dilakukan bersamaan secara alamiah. Kalau dibilang singkretis ya singkretis.”
Inisiatif mendirikan Tridharma muncul karena gempuran Kristenisasi Eropa.
“Para misionaris yang mendompleng penjajah dan menyebarkan agama di Hindia Belanda. Kwee Tek Hoay melihat banyak orang Tionghoa masuk Kristen dan mulai melupakan ajaran leluhur.”
Pada 1952, rumah Kwee di Cicurug, Jawa Barat disatroni maling. Luka akibat aniaya para begundal itu menutup kiprahnya. Kwee tewas.
Di kalangan peranakan Tionghoa dan sejumlah sastrawan, nama Kwee Tek Hoay tidak asing. Sebaliknya, ia tak dikenal sebagian besar masyarakat Indonesia.
Mengenang Kwee 
Jackson adalah jemaat Tridharma di Wihara Silaparamita, Cipinang, Jakarta Timur. Dia dan 75 ribuan penganut Tridharma Indonesia mengenal Kwee Tek Hoay. Foto Kwee terpampang di Wihara Tridharma.
Rutin mereka mengenang Kwee, kata Pengurus Pusat Majelis Tridharma Marga Singgih.
Foto Kwee di Rumah Ibadah Tridharma
Foto Kwee di Rumah Ibadah Tridharma
“Untuk menghargai jasanya, setiap tanggal 31 Juli kami memperingati hari Tridharma. 31 Juli adalah tanggal lahir Kwee Tek Hoay. Ini untuk mengenang cita-cita Kwee Tek Hoay yang perlu kita pelihara.”
Berbeda dengan kebanyakan mahasiswa jurusan sastra yang justru tak mengenal Kwee Tek Hoay. Kurikulum nasional tidak memasukan peran Kesastraan Melayu Tionghoa, apalagi menyebut nama Kwee.
Dosen Sastra Universitas Indonesia Ibnu Wahyudi mengatakan, kurikulum sastra di Indonesia masih menyisakan warisah kolonial Belanda.
“Dipopulerkan oleh HB Jassin dan Teuww itu kan mulainya Balai Pustaka. Sebuah periodisasi yang tidak jujur. Dasarnya kan kolonial. Balai pustaka kan dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda. Kalau kita tidak memasukan pengarang Melayu Tionghoa, Indo, dan pengarang pribumi, tentu itu penghianatan sejarah. Itu sangat kolonialistis.”
Ibnu menambahkan, Univesitas Indonesia sudah sepuluh tahun ini memberi ruang satu mata kuliah pengkajian kesasteraan Melayu Tionghoa.
Sementara Pejabat Kementerian Pendidikan Bidang Bahasa Fahirul Zabadi mengatakan, pemerintah akan mengkaji peran Kwee dalam sastra Indonesia.
“Mana karya sastra yang memiliki nilai bagus akan diajarkan pada siswa. Apakah nanti berasal dari Melayu Tionghoa, Bugis, Minang, atau daerah lain, itu tidak kita utamakan. Yang penting nilai-nilainya bermanfaat untuk pembelajaran anak didik kita.”
Sebagai bentuk pengakuan awal, pada Hari Pahlawan November lalu pemerintah memberikan penghargaan Budaya Parama Dharma kepada Kwee. Ia dinilai berperan dalam kesastraan Indonesia.
Pentas Drama Nonton Cap Go Meh (doc Kominfo)
Pentas Drama Nonton Cap Go Meh (doc Kominfo)
Salah satu upaya mengenalkan sosok Kwee ditempuh lewat pementasan karya-karya sastranya. Teater Bejana adalah salah satu yang pernah mementaskan karya-karya drama Kwee. Sebelas kali, kata sutradara Daniel Jacob.
“Bisa dikatakan dari tahun 2004 ketika kami memilih memainkan naskah Melayu Tionghoa kami memiliki kenyamananan dan kami senang dalam eksplorasi karena bisa memberikan sesuatu yang beda. Nonton Cap Gomeh sudah 4 kali pentas, Boenga Roos dari Tjikembang lima kali. Naskah sekitar empat, bunga ros, nonton cap gomeh, zonder lentera dan pencuri hati.”
Bulan lalu Teater Bejana mementaskan Nonton Cap Gomeh di Gedung Kesenian Jakarta. Menurut asisten sutradara Hendra, penontonnya cukup banyak.
“Hari pertama mungkin cuman 35%, hari kedua makin meningkat. Hari ketiga lebih 80%. Hampir 300 dari kapasitas 470.”
Upaya memperkenalkan Kwee Tek Hoay juga ditempuh melalui penerbitan. Untuk memperingati 100 tahun kelahirannya, diterbitkan buku berjudul 100 Tahun Kwee Tek Hoay. Myra Sidharta, penyunting buku itu.
“Waktu tahun 87 kita baru dapat gagasan menerbitkan buku 100 tahun Kwee Tek Hoay. Saat itu kita minta berbagai macam penulis dari luar negeri, Claudine Salmon, Leo Suryadinata, untuk kirim tulisan mereka. Nah baru pada 1989 buku itu diluncurkan.”
Pax Benedanto, Penyunting Buku Kumpulan Sastra Melayu Tionghoa
Pax Benedanto, Penyunting Buku Kumpulan Sastra Melayu Tionghoa
Dari penerbitan 10 edisi kumpulan karya Kesasteraan Melayu Tionghoa, dua edisi khusus memuat karya Kwee Tek Hoay. Penyunting seri ini, Pax Benedanto.
“Dibilang paling sering, karena dia tokoh yang sangat produktif dalam kesasteraan melayu Tionghoa. Kita pilih jilid III Drama di Boeven Digoel kita terbitkan khusus. Tebalnya hampir 800 halaman. Itu dianggap sebagai salah satu puncak karya sastra Melayu Tionghoa.”
Selama masa produktifnya, Kwee menulis setidaknya 55 karya sastra, 73 buku keagamaan, dan tak terhitung esai-esainya. Ia sempat menjadi pemimpin redaksi di harian peranakan Sin Bin dan memimpin empat majalah lainnya.
Kwee Tek Hoay layak dikenang, bahkan kualitas karyanya dapat disandingkan dengan Pramoedya Ananta Toer, kata Dosen Sastra Indonesia Universitas Indonesia Ibnu Wahyudi. Pram adalah satu-satunya pengarang Indonesia yang berkali-kali masuk nominasi nobel sastra.
“Karya-karyanya sebagai karya sastra cukup tertib. Kalau kita ubah bahasa Melayu pasarnya menjadi bahasa Indoesia sekarang. Saya kira karyanya bisa mengiringi Pramoedya, terutama Drama di Boeven Digoel. Dalam hal membangun karya itu menjadi karya sastra, baik dalam memilih kata maupun membangun konflik dia cukup jeli.”