Politik, Liputan, Humor, Budaya

Kamis, 30 Juli 2015

Nestapa Cinta Tan Malaka


Perkara Jabrik

Jabrik Ditangkep pak polisi karena kasus tabrakan.

Polisi: "Gimana critanya kamu bisa nabrak orang 20 itu?"

Jabrik: "Aku nyetir mobil kecepatan 90 km/jam.

Pas di pertigaan tiba2 remnya blong. Kalau kekiri ada 2 orang laki2, lha kalo kekanan ada pesta nikahan. 

Coba kalo Bapak, pilih nabrak yang mana?"

Polisi: "Ya pasti ke kiri, korban nya lebih sedikit."

Jabrik: "Persis..!! Aku juga mikir begitu Pak !"

Polisi: "Trus lha kenapa orang2 yang di pesta nikahan yang kena tabrak?!"

Jabrik: "Lhaaa, itu masalahnya. Aku sudah milih dua orang laki2 yang di kiri,....eh mereka malah lari menyeberang ke pesta nikahan...jadi aku ya banting stir ke kanan, ngejar dua orang laki2 tadi Pak...!"

Polisi: "Guoobluooogg...!

Jabrik: "Iya betulllll!! emang dua orang laki2 tadi gubloook, Pak Polisi..!"

Lari Sprint Jelang Garis Finish: Strategi Jokowi-JK Menangkan Opini Publik dalam Pilpres 2014

Sepanjang kampanye pemilu presiden 2014, calon presiden ketika itu, Joko Widodo dan Prabowo Subianto saling bertarung untuk memenangkan opini publik. Namun, pada dasarnya, opini publik tidaklah tunggal. Kedua calon presiden saling memperebutkan untuk menguasai opini publik sedominan mungkin. Sebab, penguasaan opini publik sebanyak mungkin memberikan peluang pada kedua kandidat untuk lolos ke kursi RI-1. Joko Widodo sebagai seorang calon presiden terbukti berhasil memenangkan lebih banyak opini publik dengan meyakinkan mereka untuk memilihnya. Keberhasilan Joko Widodo ini terutama karena berhasil mengarahkan opini publik dari kelompok pemilih rasional pada saat-saat akhir.
Opini Publik-publik
Sosiolog dari Universitas Colombia Philips Davison menguraikan opini publik sebagai, “kumpulan pandangan, sikap dan kepercayaan individu tentang topik tertentu, disampaikan oleh jumlah signifikan dari suatu komunitas.” Davison merangkum, sebagian besar akademikis sepakat, setidaknya ada empat syarat agar suatu opini bisa disebut opini publik. Pertama, harus ada sebuah pokok persoalan. Kedua, mesti ada sejumlah besar individu yang menyampaikan pendapat tentang suatu pokok masalah. Ketiga, mesti ada kesepakatan dari setidaknya sejumlah pendapat ini. Keempat, kesepakatan itu mesti memiliki pengaruh secara langsung atau tidak. [1]
            Ahli dilompasi dari Universitas Aberystwyth, Gary Rawnsley berpendapat, opini publik bagaimanapun tidaklah tunggal. Sebab, ia mendapati gagasan publik yang tunggal bukanlah suatu fakta. “Tidak ada publik yang tungggal dan upaya mengukur opini mesti cukup maju untuk mengenali banyak publik, setiap kelompok memiliki tingkat kepedulian dan kepentingan politik yang sangat berbeda,” tulisnya dalam Political Communication and Democracy. Ia menyebutkan, setiap isu memunculkan publik tersendiri. Terlebih, setiap individu memiliki keanggotaan bersinggungan dengan sejumlah publik pada satu waktu. [2]
            Dengan persepektif teoritis itu, Rawnsley menekankan, pendapat mayoritas orang dalam suatu masyarakat tidak lantas menjadi opini publik. Namun, ia membuka ruang munculnya banyak opini publik dalam satu masyarakat tempat para aktor politik berebut pengaruh.[3]
            Rawnsley menyebut, media memiliki pengaruh besar dalam membentuk opini publik. Pengaruh media semakin besar terutama ketika individu konsumen media memiliki jarak ruang dan waktu yang terhampar hauh dari peristiwa atau pokok persoalan yang menjadi ulasan. Pengaruh itu menjadi semakin kuat ketika seorang individu tidak berada dalam kelompok yang dapat memberi pengaruh terhadap sejumlah isu.[4]
Pengaruh Opini Publik pada Perilaku Pemilih
Banyak teoritikus politik melihat perilaku pemilih dalam kelompok pemilih rasional, sosiologis dan psikologis. Pemilih rasional adalah pemilih yang mencoblos dengan penuh pertimbangan dan alasan, pemilih psikologis karena kedekatan seperti identitas partai dan sosiologis karena asal usul kelompok sosial. Namun, Richard Lau dan David Redlawks dalam How Voters Decide mengembangkan pengggolongan perilaku pemilih menjadi empat.  Berdasarkan paparan Rawnsley, kita bisa menggolongkan kelompok pemilih mana yang dapat menjadi sasaran kampanye pembentukan opini publik untuk mendulang suara.
Pertama, Laws dan Redlawks tipe pemilih sebagai model rasional. Pemilih rasional “dengan penuh kesadaran mempertimbangkan dampak (baik positif dan negative) untuk kepentingan diri mereka.”[5] Kedua, model perilaku pemilih early socialization and cognitive consistency yang gampang menenetukan pilihan karena berdasarkan pada identitas partai. Selain itu, identitas partai bagi kelompok ini seperti halnya ras dan gender, seolah merupakan bawaan bayi. Ketiga adalah model perilaku memilih fast and frugal decision making. Model perilaku ini memperhatikan hanya pada satu atau dua isu saja yang mereka peduli. Setelahnya, mereka melakukan seleksi secara singkat berdasarkan isu mereka. Tidak seperti pemilih rasional yang menghabiskan sumber daya untuk mencari informasi tentang kandidat, kelompok ini menganggap mereka memiliki keterbatasan sumber daya tersebut. Terakhir adalah model bounded rationality and intuitive decision making. Model ini juga mirip dengan model kedua. Namun, model pemilih ini bersedia membuka peluang untuk memastikan kandidat mereka sesuai dengan kriteria pengelompokan spektrum politik. Mereka mencari sedikit informasi, contohnya, untuk memastikan John Kerry mengusung nilai-nilai Partai Demokrat atau George Bush mengusung nilai-nilai Partai Republik.
Berdasarkan kategori di atas, model pemilih pertama, ketiga dan keempat memiliki peluang untuk mendapat pengaruh melalui opini publik. Ketiganya mencari informasi untuk memastikan mereka tidak salah pilih. Bedanya, model pemilih rasional meluangkan lebih banyak sumber daya untuk mencari dan mempertimbangkan informasi. Sementara, model pemilih yang cepat dan gampang mengambil keputusan sedikit sumber daya dan model intuitif lebih sedikit lagi.
Konser Dua Jari, Sumber Kompas.com
Memenangkan Opini Publik Kritis di Saat Akhir 
Calon presiden pada pemilu 2014 Joko Widodo dan Prabowo Subianto saling merebut opini publik kelompok-kelompok tertentu untuk memenangkan pemilu. Joko Widodo terutama, mengemas citra dirinya sebagai bagian dari rakyat jelata untuk secara pasti memenangkan opini publik pada kelompok perilaku pemilih intuitif  (model 4) dengan gampang. Meskipun dianggap berhasil, ia kewalahan menghadapi kampanye hitam berbau SARA untuk memenangkan opini publik model pemilih kritis (model 1) dan pemilih cepat (model 3). Untungnya, Jokowi, seperti pengakuan JK, berhasil memanfaatkan momentum saat-saat terakhir untuk menggaet suara dari perilaku pemilih rasional (model 1) dan menetralisir opini publik negative untuk isu agama bagi kelompok model pemilh 3.
            Joko Widodo mencoba meyakinkan opini publik khalayak pemilih tradisional PDI-P dengan gampang. PDI-P mencitrakan diri sebagai partai wong cilik. Jokowi dapat mengemas diri dengan gampang untuk menyesuaikan citra tersebut. Alhasil, pemilih intuitif cukup melakukan sedikit sekali informasi untuk memastikan Joko Widodo sesuai dengan kebiasaan memilih mereka. Anggota Tim Pemenangan Jokowi, Nusron Wahid mengatakan dalam pernyataan penutup di debat Mata Najwa bahwa Jokowi 2 Juli 2014 sangat sesuai dengan citra wong cilik. “Saya yakin Jokowi akan menang karena wajahnya ndeso, dan hampir semua orang Indonesia itu wajahnya ndeso kaya saya. Personifikasi dari orang Indonesia pada umumnya.[6]
            Pakar sosiologi komunikasi Burhan Bungin berpendapat, Joko Widodo menggunakan pola komunikasi wong cilik karena langkah itu merupakan pilihan terbaik. “Jokowi, yang datangnya dari kalangan bawah, anak dari orang biasa, didukung oleh banyak akar rumput. Mau-tidak mau menggunakan gaya komunikasi pencitraan ini sebagai salah satu senjata utamanya,” tulisnya. [7] Jokowi bahkan menyikapi serangan terhadap dirinya seperti rakyat jelata dengan mengatakan aku ra po po. 
            Jajak pendapat Cyrus Surveyors Group pada periode November-Desember 2013 menyimpulkan, sebanyak 64,5 persen pemilih PDI-P bakal mencoblos Joko Widodo jika PDI-P akhirnya mengajukan ia menjadi calon presiden. [8] Jajak pendapat LIPI pada Juni 2014 menemukan, sebanyak 60 persen dari pemilih PDI-P, Hanura, PKB dan Nasdem bakal mencoblos Jokowi.[9]
            Untuk memenangkan opini publik dari model pemilih 3 yang peduli dengan satu atau dua isu, Jokowi meskipun tergopoh-gopoh, berhasil menetralisir kampanye hitam berbau SARA di masa akhir menjelang kampanye. Sayangya, upaya ini tidak berhasil untuk menembus provinsi-provinsi yang dikenal memiliki tingkat religiusitas tinggi.
            Selama masa kampanye, Jokowi mendapat paling banyak serangan kampanye hitam dibandingkan dengan lawannya, Prabowo Subianto. Survei Indonesia Indicator (I2) terhadap isu di Twitter selama periode 1 Januari-4 Juni 2014 menyimpulkan, sebanyak 148.133 informasi dengan 12 isu negative menyerang Jokowi. Jumlah ini lebih 10 kali lipat ketimbang 12.090 informasi negative dalam bingai 6 isu yang menyerang Prabowo.[10] Survei Politicawave menemukan, 94 persen kampanye hitam di Internet tertuju pada Joko Widodo. [11] Jokowi disebut memiliki keturunan Cina, beragama Kristen dan berpihak pada non-muslim. [12]
            Bagi pemilih model 3 yang mempedulikan satu atau dua isu, banyak menganggap agama merupakan isu penentu dalam memilih calon presiden. Selama kampanye, Jokowi membuat komitmen yang membuat berang kelompok masyarakat Islam fanatik karena ingin menghapuskan perda syariah kecuali untuk Aceh. [13] Selaini tu, Jokowi berasal dari PDI-P yang selama ini dikenal nasionalis dan pluralis.
Sumatera Barat contohnya, merupakan wilayah yang pemilihnya banyak menjadikan isu agama sebagai penentu. Pengamat politik dari Universitas Negeri Padang, Nora Eka Putri mengatakan, agama merupakan satu dari empat faktor utama yang menyebabkan kekalahan Jokowi di sana. Di provinsi itu, pesaingnya, Prabowo menang dengan suara 78 persen. Selain kalah di sana, Jokowi juga kalah di daerah yang dikenal sangat mementingkan isu agama antara lain Jawa Barat, NTB, Aceh  dan Gorontalo.
Jokowi berupaya melawan upaya pembangunan opini publik di daerah-daerah dengan tingkat religiusitas tinggi tersebut. Tokoh Muhammadiyah Buya Syafii Maarif bersama timses Jokowi bahkan melakukan safari ke 10 titik selama dua hari untuk menepis isu bahwa Jokowi merupakan kafir di Sumatera Barat. [14]
Jokowi juga berupaya menepis isu itu terutama dengan gaya komunikasi khasnya, plain folks. Plain folks merupakan teknik propaganda dengan, “mendekatkan juru bicara propagandis sebagai sosok yang sederhana, seseorang yang bisa dipercaya oleh khalayak dan memiliki kesamaan kepentingan dengan khalayak.”[15] Penelitian Alip Kunandar dan Yani Tri Wijayanti selama bulan Maret dan April 2014 di Kompas.com dan Detik.com menyimpulkan, di Detik.com 46 persen upaya Jokowi menepis kampanye hitam dengan cara plain folks dan di Kompas.com sebanya 42 persen. Jokowi pada saat-saat akhir bahkan menjanjikan untuk menetapkan hari santri untuk memenangkan opini publik bahwa ia tidak anti-Islam ketika memimpin.
Pertarungan opini publik pada isu soal agama bahkan semakin bergulir pelik ketika lawan Jokowi, Fahri Hamzah menanggapi janji Jokowi itu dengan kata-kata kasar. “Jokowi Janji 1 Muharam hari santri. Demi dia terpilih, 360 hari akan dijanjikan ke semua orang. Sinting!” tulisnya. Tim kampanye Jokowi menyambut baik umpah ini untuk memperkuat opini bahwa Jokowi pro-terhadap muslim. Banyak santri NU turun ke jalan untuk menekan Fahri dan mendukung hari santri.  Tim kampanye Jokowi membayar advertorial ke sejumlah media untuk memberitakan demo itu. Media itu di antaranya adalah merdeka.com[16] dan tribunnews[17]. Cawapres JK menganggap kesalahan itu sebagai langkah bunuh diri kubu Prabowo-Hatta. Dipandang dari pertarungan opini publik, langkah Fahri Hamzah memberi peluang Jokowi untuk mentralisir isu anti-Islam dan meraih suara dari pemilih yang hanya memperhatikan sedikit isu (model 3). [18]
Terkait pertarungan opini publik untuk memperebutkan suara model 1 atau perilaku pemilih rasional, Joko Widodo diperkirakan mengantongi dukungan para pemilih rasional. Selain itu, ia mencoba meyakinkan dengan memanfaatkan momen saat-saat akhir kampanye. Pemilih rasional memiliki kecenderungan menentukan pilihan di saat-saat akhir. Mereka juga rentan menjadi swing voters jika melihat terjadi perubahan-perubahan kondisi.
Pemilih rasional merupakan pemilih yang mempertimbangkan untung rugi suatu pilihan dengan seksama. Kebanyakan pemilih rasional merupakan kelompok muda dan berpendidikan. Banyak dari mereka tinggal di perkotaan. Survei Polcom Institut pada 16-20 Juni 2014 menyimpulkan, usia pemilih di bawah 34 tahun kebanyakan memberikan suara pada Joko Widodo. [19]
Kelompok ini gemar menggunakan media internet. Jajak pendapat Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia pada 2014 memperkirakan, hampir separuh (49 persen) pengguna internet di Indonesia berusia muda pada rentang 18-25 tahun. Penelitian pada blog opini kompasiana, sebagai salah satu tempat kelompok muda ini mencoba mempengaruhi opini publik, menemukan, sebagian besar penulis menyatakan dukungan pada Jokowi. Penelitian Aryo Subarkan Eddyono mencatat, 69 persen artikel tentang calon presiden Jokowi pada periode 9 April 2015 hingga 9 Mei 2014 mendukung Joko Widodo dan hanya 36 persen tentang Prabowo mendukung pencalonan bekas danjen kopassus tersebut. Jokowi juga mendapat porsi pembahasan paling banyak dengan 62 persen dari seluruh artikel tentang pencapresan. [20]
           
            Untuk kelompok pemilih ini, Jokowi mencoba mencitrakan diri sebagai calon alternatif dengan gagasan-gagasan segar. Contohnya, Jokowi membuat kampanye tidak harus dengan rapat massa dengan alasan kalau di Jakarta akan mengganggu orang lain. Alih-alih, ia kampanye dengan menelusuri jejak perjuangan bangsa, patriot trail dari museum. [21]
Joko Widodo menggunakan momentum masa akhir kampanye untuk meyakinkan para pemilh rasional ini dengan menggunakan band wagon effect  melalui konser dua jari pada hari terakhir kampanye dan memanfaatkan opinion leader melalui media sosial Twitter pada masa tenang. Konser dua jari di Jakarta dihadiri puluhan ribu pendukung dan memberi kesan pasangan Jokowi-JK akan memenangi pemilihan umum. Selain itu, para selebritis seperti Djoko Anwar dan Sherina Munaf mendorong para penggemar dengan tanda pagar #akhirnyapilihjokowi.             



[1] Davison, Philips. 30 Juni 2015. Public Opinion http://www.britannica.com/topic/public-opinion
[2] Rawnsley, Gary. 2005. Political Communication and Democracy.  Palgrave Macmillan. London. hal 66
[3] hal 67
[4] hal 74
[5] Lau, Richard and David Redlaws. 2006. How Voters Decide: Information processing during election campaign  
[7] Budianto, Heri dan Dewi Sad Tanti,ed. 2014. Membaca Gaya Komunikasi Pemimpin Kita. Jakarta: Political Communication Institute. hal xvii
[8] Firdaus, Rendy Ferdy. Setelah PDI-P, Pemilih Jokowi Paling Banyak dari Demokrat. 9 Januari 2014. http://www.merdeka.com/pemilu-2014/setelah-pdip-pemilih-jokowi-paling-banyak-dari-demokrat.html
[9] Aco, Hasanudin. 26 Juni 2014. Suvei LIPI Jokowi JK menang, Pengamat: Sulit berubah http://www.tribunnews.com/pemilu-2014/2014/06/26/survei-lipi-jokowi-jk-menang-pengamat-sulit-berubah
[12] Shaidra, Aisha. Pengamat: Kampanye Hitam Terhadap Jokowi Membodohi, 5 Juni 2014  http://www.tempo.co/read/news/2014/06/05/269582647/pengamat-kampanye-hitam-terhadap-jokowi-membodohi
[14]Trianita, Linda. 03 Juli 2015. Buya Syafii Ngeri Lihat Kampanye HItam ke Jokowi http://nasional.tempo.co/read/news/2014/07/03/078589971/buya-syafii-ngeri-lihat-kampanye-hitam-ke-jokowi
[15] hal 23
[20] hal 61
[21] hal 10

The Story of Kusut



Lee Sum Wan : Hello can i speak to Annie Wan

Mr Sori : Yes u could speak to me.

Lee Sum Wan: No, i want to speak to Annie Wan!

Mr Sori : You are talking to someone! Who is this?

Lee Sum Wan : Im Sum Wan. And i need to talk to Annie Wan! Its urgent.

Mr Sori : I know u are someone and u want to talk to anyone! But what's this
urgent matter about?

Lee Sum Wan : Well just tell my sister Annie Wan that our brother was
involved in an accident. Noe Wan got injured and now Noe Wan is being to the
hospital. Right now Avery Wan is going to the hospital.

Mr Sori : Look if no one was injured and no one was sent to the hospital
from the accident that isnt an urgent matter! You may find this hilarious
but i dont have time for this!!!

Lee Sum Wan : You are rude. Who are you?

Mr Sori : Im Sori.

Lee Sum Wan : You should be sorry. Now give me your name!

Mr Sori : Im Sori!!

Lee Sum Wan : I dont like your tone of voice Mr and i dont care, give me
your name!

Mr Sori : Look lady, I told you already Im Sori! Im Sori!! Im SORI!!! you
didnt even give me your name!

Lee Sum Wan : I told u before im Sum Wan! Sum Wan!!! You better be careful
my father is Sum Buddy. And my uncle holds a very big position in the co.
He is Noe Buddy.

Mr Sori : Oh im so scared(sarcastically).Look i dont care about ur uncle
he's a nobody. Everybody thinks his top dog and holding an important
position in the company.

Lee Sum Wan : No Avery Buddy just married my aunt. And Avery Buddy doesn't
work there.

Mr Sori : Like i said i dont care which one of ur aunt screws everybody and
i also know that not everybody works here! Jeez!!

Lee Sum Wan : Wheech Wan is my sis!

Mr. Sori : I dont know which one is ur sis! Why in gods name u think I do!?
Look i got work to do and if im feeling mischievious i'll broadcast it on
the P.A system saying. "Attention, someone called and said that anyones
brother just got involved in an accident. But not to worry no one got
injured and no one was sent to the hospital. But everyone is going to the
hospital anyways. The father maybe a somebody but if u're their uncle, u're
a nobody. "how bout that!?

Toot....Toot....Toot.......