![]() |
| Samuel Huntington, sumber http://www.glogster.com/oliviagrace23/samuel-huntington/g-6mh3c4huelgsv8bar5g69a0 |
Pembangunan
politik di Indonesia mengalami kesenjangan politik karena permasalahan proses
pelembagaan politik. Huntington menyebut pelembagaan ialah “proses dengan mana
organisasi dan tata cara memperoleh nilai baku dan stabil (Huntington, 1983,
hal 21.” Pembangunan orde baru menghasilkan kelas menengah yang memiliki
tuntutan akan transparansi dan demokrasi. Kegagalan pelembagaan politik Orde
Baru mengakibatkan mahasiswa melakukan protes besar-besaran menuntut
penggulingan presiden.
Tekanan-tekanan kelas menengah itu pada
akhirnya berujung pada reformasi 1998. Reformasi menuntut penerapan demokrasi. Partai
Politik merupakan instrument penting dalam pelembagaan politik menunju proses
demokratisasi itu. Partai politik mendukung demokrasi melalui empat fungsi.
Keempat itu adalah fungsi komunikasi politik, sosialisasi politik, rekrutmen
politik dan pengatur konflik (Budiardjo, 2003, 163-164)
Keberhasilan pelembagaan politik negara
akan sangat bergantung pada keberhasilan pelembagaan politik partai.
Keberhasilan partai politik bakal menengahi hubungan antara masyarakat dengan
organisasi bernama negara. Huntington menyebutkan empat cara menentukan tingkat
pelembagaan. Analisa ini akan mengukur kemampuan negara Indonesia berdasarkan
empat ukuran tingkat pelembagaan politik dalam pemikiran Huntington.
Pertama, Huntington melihat ukuran
pelembagaan berdasarkan penyesuaian diri dan kekakuan. Tingginya pelembagaan
politik akan meningkatkan kemampuan negara sebagai organisasi untuk
menyesuaikan diri. Kemampuan penyesuaian diri dapat dilihat dari kronologis. Secara
kronologis, organisasi politik yang tua memiliki daya penyesuaian diri. Dari
parai-partai yang berkompetisi pada pemilu 2019, ada dua partai tua yang
memiliki daya penyesuaian diri cukup. Kedua partai ini adalah Golkar dan PDI-P.
PDI-P meski baru berdiri setelah reformasi mengaku memiliki tradisi panjang
sebagai penerus PNI.
Meskipun begitu, kemampuan menyesuaikan
diri PDI-P jauh tertinggal dibanding Partai Golkar bila dilihat dari tolok ukur
usia generasi. “Selama suatu organisasi masih mempunyai tokoh-tokoh angkatan
pertama, dan selama tatacaranya masih dilaksanakan oleh mereka, sampai sebegitu
jauh kemampuan organisasi untuk menyesuaikan diri masih diragukan (Huntington,
1983, hal 24). Golkar selama masa orde reformasi telah mengalami berbagai
pergantian generasi. Kelompok militer-Jawa-Abangan yang memimpin Golkar diganti
dengan kelompok Islam-luar Jawa dan sipil ketika Akbar Tandjung memimpin partai
berlambang beringin itu. Di lain sisi, PDI-P sejak reformasi hingga kini masih
berada di bawah pimpinan Megawati Soekarnoputri. PDI-P baru saja mendapuk
kembali Megawati sebagai ketua umum partai hinggga 2020. Padahal, putri
Soekarno ini memimpin PDI-P sejak 1993. Artinya, PDI-P hingga kini gagal
melakukan pergeseran generasi. Partai-partai di Indonesia juga mengalami
perubahan fungsi. Partai-partai lain juga kebanyakan berdasarkan patronasi. Demokrat,
Gerindra, Hanura dan Nasdem juga memiliki pemimpin yang belum berganti sejak
awal berdiri.
Namun, berdasarkan fungsi perwakilan
partai-partai justru tengah mengalami kemunduran. Sebab, kecenderungan
partai-partai saat ini berubah menjadi inklusif atau catch-all party yang ingin mewakili seluruh masyarakat. Partai
nasionalis seperti Demokrat dan PDI turut menggarap basis masa Isla. Demokrat
menerapkan slogan nasionalisme-religius dan partai agama seperti PKB menyerukan
religios-nasionalisme. PDI-P juga mendirikan Baitul Muslimin Indonesia untuk
menarik pemilih-pemilih kelompok muslim. Sialnya, strategi ini menjadi bumerang
karena menjadikan partai kehilangan identitas. Partai ID menjadi kabur. Fungsi
perwakilan dari partai juga gagal karena ia mencoba mewakili seluruh golongan.
Kedua, Huntington mengukur kemampuan
lembaga politik berdasarkan kompleksitas. Partai-partai di Indonesia mencoba
meningkatkan kompleksitas dengan menjadi partai inklusif, seperti PDI-P yang
menambah kelompok agama. “Kompleksitas dapat menambah jumlah sub unit
organisasi, baik dari segi hierarki mau pun fungsional, dan diferensiasi
berbagai tipe sub-unit organisasi yang terpisah (Huntington, 1983, 30).
Sayangnya, partai-partai politik Indonesia rendah dalam pelembagaan politik ketika
melihat kesederhanaan sistem regenerasi. Huntington melihat, organisasi politik
menjadi ringkih ketika mengandalkan pada satu orang. “Sistem semacam itu paling
tidak stabil. Menurut pandangan Aristoteles, pemerintahan tirani pada dasarnya
hanya dapat ‘bertahan dalam waktu singkat.’(Huntington, 1983, 29)
Ketiga, peningkatan otonomi suatu otonomi
organisasi berbanding lurus dengan tingkat suatu pelembagaan politik. Dengan
kata lain, organisasi politik, dalam hal ini partai politik, meski memiliki
independensi terhadap kelompok sosial yang menyusunnya. Apakah partai politik
Indonesia memiliki otonomi dari kelompok sosial yang menjadi bagiannya?
Oligarki partai politik dan bertahannya patron partai politik menunjukan tidak
adanya otonomi dari partai politik. Pendiri partai terus menerus menjadi ketua
partai tanpa penyerahan dari generasi lain. Jika tidak seperti itu, dibutuhkan
uang banyak untuk menjadi ketua partai akiabt budaya politik uang. Dengan
begitu, kelompok yang memiliki uang lebih seperti penguasaha memiliki
kemampuang mengendalikan partai. Alhasil, partai politik dapat disimpulkan
tidak memiliki keotonoman.
Keempat adalah faktor kesatuan dan
perpecahan. Semakin terpadu dan utuh suatu organisasi menandakan semakin
terlembagakannya organisasi politik itu. Sebaliknya, organisasi yang terpecah
menandakan semakin rendah pelembagaan organisasi politik. Partai-partai politik
Indonesia dapat dilihat kerap terpecah. Salah satu yang paling banyak pecah
adalah partai Golkar. Partai Golkar pecah menjadi partai Gerindra, Hanura, PKP
dan Nasdem. Bagaimanapun, semua partai itu memiliki watak nasionalis seperti
induknya. Dengan kata lain, penyebab perpecahan lebih karena dominasi satu
kelompok yang enggak kehilangan kendali dari partai. Prabowo Subianto
memutuskan membentuk Partai Gerindra setelah ia kalah dalam pertarungan
konvensi partai Golkar. Begitu pula Wiranto yang mendirikan partai Hanura
setelah Jusuf Kalla menguasai partai golkar. Hal serupa terjadi dengan Surya
Paloh yang mendirikan Partai Nasdem setelah kalah bersaing dengan Aburizal
Bakrie dalam memperbutkan kursi ketua Golkar.
Melihat situasi di atas,
terang bahwa pelembagaan partai politik sebagai organisasi politik lemah.
Banyak partai-partai gagal dalam melakukan regenerasi. Selain itu, satu
kelompok menguasai partai dan menyingkirkan kelompok sosial lain. Di lain sisi,
partai politik mencoba memperkuat pelembagaan dengan menjadi partai inklusif.
Namun, strategi ini justru memperlemah pelembagaan partai karena mengkaburkan
fungsi perwakilan. Terakhir, partai politik lemah dalam persatuan karena
menjadi kendaraan bagi satu kelompok sosial semata.
Esai ini adalah tulisan saya sebagai bagian dari ujian tengah semester Pengantar Politik Indonesia di Universitas Paramadina dengan dosen pengampun Philip Vermonte.
Referensi:
Bourchier, David dan Vedi Hadiz,ed. (2006) Pemikiran Sosial dan Politik Indonesia periode 1965-1999. Jakarta: Grafiti Pustaka Utama Gayatri
Bourchier, David dan John Legge. (1994) Democracy in Indonesia: 1950s and 1990s. Centre of Southeast Asian Studies, Monash University
Budiarjo, Miriam. 2003. Dasar-dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia.
Feith, Herbert dan Lance Castles, ed. (1988) Pemikiran Politik Indonesia 1945-1965. Jakarta:LP3ES
Feith, Herbert. 1957. The Indonesian Elections of 1955. Ithaca, NY. Modern Indonesia Project, Southeast Asia Program, dept.of Far Eastern Studies, Cornell University,
Feillard, Andree dan Remy Madinier. 1999. At the Sources of Indonesian Political Islam's Failure: The Split between the Nahdlatul Ulama and the Masyumi dalam Retrospect Studi Islamika Volume 2 nomor 2 1999
Rosssa, John. 2008. Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto. Jakarta: Hasta Mitra dan Institut Sejarah Sosial Indonesia.
Huntington, Samuel. Tertib Politik di Dalam Masyarakat yang Sedang Berubah. Jakarta:CV Rajawali

Tidak ada komentar:
Posting Komentar