http://www.kbr68h.com/feature/laporan-khusus/11961-solidaritas-untuk-munir-perjuangan-melawan-lupa-
KBR68H - Tujuh September 2004 Munir Said Thalib tewas diracun arsenic dalam penerbangan Jakarta-Amsterdam. Tujuh tahun berlalu hingga kini dalang pelaku pembunuh pejuang HAM tersebut belum terungkap. Kemarin berbagai elemen masyarakat yang peduli penuntasan kasus Munir menggeruduk Istana Presiden. Mereka menuntut pemerintah menuntaskan kasus ini. Sebuah aksi peringatan melawan lupa.
"Sekarang coba, satu orang saja, jelaskan kepada saya, kepada kami, kenapa tadi ada yang ditendang, ada yang didorong-dorong, ada yang diseret, coba siapa yang berani?"
Sumiarsih salah satu peserta unjuk rasa yang menuntut penuntasan Kasus Munir. Ia sempat ditarik polisi untuk menjauhi Istana Presiden.
Selain Sumiarsih, bekas Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KONTRAS) Usman Hamid juga menjadi korban kekerasan anggota Pasukan Pengamanan Presiden.
Sumiarsih dan Usman Hamid bersama puluhan pengujuk rasa yang tergabung dalam Komite Aksi Solidaritas Untuk Munir (KASUM) menagih janji Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk mengusut dalang pembunuh Munir.
Menurut Koordinator KONTRAS Haris Azhar kasus Munir dapat diselesaikan jika Presiden Yudhoyono memiliki kemauan politik.
"SBY lebih melihat kalkulasi orang-orang yang mesti dimintai pertanggungjawaban kasus Munir. Seperti Muchdi Pr. Kedua, mungkin SBY memilih menyibukan diri membangun kejayaan ekonomi dan penerimaan masyarakat internasional dengan jargon-jargon demokrasi. Sehingga SBY mengabaikan kasus munir."
Ironisnya kata Haris pemerintah malah memberikan remisi atau potongan hukuman kepada terpidana pembunuh Munir, Polycarpus Budihari Priyanto. Bekas pilot Garuda itu mendapatkan remisi enam bulan. Alasannya pun bikin geleng kepala: karena Poly dinilai aktif ikut kegiatan kepramukaan dan rajin donor darah.
Selain kalangan aktivis HAM, dukungan penuntasan kasus Munir juga datang dari kalangan seniman. Musisi Glen Fredly menyuarakan dukungannya melalui lagu.
"Menurut saya, dia tidak akan pernah dilupakan. Dan saya yakin semangatnya akan terus hidup dan terutama di generasi saya. Karena kalau kami membicarakan tentang generasi kita yang tidak berbicara tentang HAM dengan gaya aktivis. Saya ingin generasi ABG di Mall juga tahu siapa Munir dan apa yang terjadi di Papua dan Timur Indonesia."
Dukungan serupa juga datang dari kalangan cendikia. Sejarawan LIPI Asvi Warman Adam meminta pemerintah segera menetapkan Munir sebagai pahlawan nasional. Perjuangan Munir menegakan HAM di Indonesia nilai Asvi layak diajarkan di bangku sekolah.
"Ada seorang pejuang HAM yang akan diajarkan di sekolah secara resmi dari SD hingga SMA. Secara tidak langsung melalui sejarah kita sudah menyosialisasikan HAM. Hingga sekarang dari 149 pahwlawan Nasional tidak ada pahlawan HAM."Sementara anggota Komisi Hukum DPR Eva Kusuma Sundari menegaskan penuntasan kasus Munir akan terus ditagih parlemen.
"Kembali ke munir saya akan terus berupaya untuk bersuara. Dan terus meminta penegak hukum menyelesaikan masalah"
Kasus pembunuhan pejuang HAM Munir seperti kata Presiden Yudhoyono sebagai test sejarah bangsa ini. Kasus ini harus dituntaskan hingga dalangnya dihukum. Mengutip Sastrawan Milan Kundera,: perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa. Melupakan kasus Munir sama dengan membiarkan kekuasaan terus menindas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar