Politik, Liputan, Humor, Budaya

Rabu, 12 Maret 2014

Bekas Toko Buku Ex-Kwitang





Kebetulan sekali, setelah membaca esai Dwi Cipta, Hilangnya Dunia Lain yang Memesona[1], seorang teman yang kebetulan tengah di Jakarta mengajak berkeliling melihat toko buku-buku loak. Esai itu membayangi perjalanan saya kali ini. Dwi Cipta berpendapat, toko buku loak semakin sedikit menawarkan pilihan-pilihan buku.Saya da teman itu sejak awal berencana mengunjungi toko buku loak di Blok M, Thamrin City (dekat pusat kota, bundaran HI), Senen dan Taman Ismail Marzuki , Cikini, dalam satu hari.
             
 Awalnya ajakan teman saya itu membuat saya menggebu. Sudah lama saya ingin berkunjung ke toko-toko buku loak Thamrin City dan Blok M. Namun, selain mengalami kepedihan yang sama dengan Dwi Cipta karena toko buku loak dipenuhi buku-buku yang tak lagi seru, jumlah toko buku loak itu secara mengejutkan semakin surut. Ketika di Thamrin City, saya nyaris tak percaya dengan mata saya ketika menemukan jumlah toko buku yang tinggal belasan. Padahal, sekitar setahun lalu ketika terakhir berkunjung, jumlah toko buku itu nyaris dua kali lipatnya. Ketika bertanya pada pedagangnya, mereka mengatakan sudah pada tutup, katanya mau pindah entah ke mana. Pedagang itu mengatakan di lantai tiga itu, sepi pembeli. Selain tutup, sejumlah toko buku hanya buka di akhir pekan ketika pengunjung ramai. Ia malah dengan nada iri mengatakan toko buku di blok M lebih ramai daripada di Thamrin City yang notabene ada di pusat kota. Padahal, ketika mengunjungi tempat Blok M, saya amati jumlahnya juga menurun ketimbang terakhir saya berkunjung sekitar setahun lalu. Atau mungkin saja saya terlalu lama tidak berkunjung ke toko buku bekas?  

Kios buku di Thamrin City yang sudah saya dambakan untuk datang sejak awal juga turut sirna. Di tempat itu, saya mendapat novel Mother karya Maxim Gorky terbitan Uni Soviet Foreign Publisher dengan harga hanya Rp 40 ribu. Buku yang dulu dibeli tahun 1965 itu, pembeli meninggalkan coretan di buku, lebih murah dari terjemahan bahasa Indonesianya. Di tempat itu saya juga menemukan Intimacy (terjemahan Indonesianya Dinding), kumpulan cerpen Jean-Paul Sartre, dengan harga hanya Rp 24 ribu.  

Malamnya, mbah gugel menunjukan bacaan-bacaan yang menceritakan kedua toko buku itu memang tidak menguntungkan ekonomi para penjualnya. Kedua toko buku itu adalah hasil para pedagang yang tercerai berai akibat Pemda DKI menggusur pusat buku Kwitang pada 2010. Dalam tulisan jurnalismenya, Kwitang dan Jejak Wisata Buku Jakarta,[2] Dedek Priyanto, yang tampaknya seorang pecinta buku, menceritakan obrolannya dengan para pedagang.  Sepertinya tulisan itu sudah meramalkan kejadian yang saya alami dua tahun setelahnya.  Pada 2012, ia menulis pedagang mengeluh  omset yang jauh lebih sepi ketimbang di ketika toko-toko buku itu berjejal di Kwitang. Jumlahnya minim untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Entah seberapa ramai tempat Kwitang dulu, saya belum tinggal di Jakarta dan cari-cari di youtube, ketemunya malah video pengajian.  

Saya heran dulu dengan penempatan pemerintah, seingat saya, di daerah sekitar Thamrin City dan Blok M, sedikit kampus yang merupakan pasar potensial. Kenapa tidak ditempatkan di dekat UNJ atau kampus IISIP di Lenteng Agung? Kedua jenis konsumen itu mungkin cocok karena relatif lebih banyak yang memerlukan buku-buku murah. Lokasi di Blok M dan Thamrin City, bagi saya pribadi, membuat malas berkunjung karena sudah terbayang kemacetannya. Selain itu, lokasi toko-toko buku ex-kwitang di Thamrin City ada di tempat yang jauh, lantai 3a (lantai kedua dari lantai teratas) dan tidak strategis. Jaraknya sekitar hampir 20 menit perjalanan dari tempat parkiran motor. Toko itu seperti di ujung keramaian. Sebelah barat toko-toko buku ex-kwitang itu adalah kios-kios tak laku. Kuat dugaan karena sepi pengunjung akibat letaknya di ujung atas. Bahkan ruang kosong di antara kios dijadikan lapangan badminton.

Perjalanan berlanjut ke toko-toko buku di Senen dan TIM. Di TIM, banyak buku-buku bagus. Namun, harganya bagi saya mahal sekali untuk buku-buku bekas. Banyak buku menarik harganya di atas 50 ribu meskipun tipis. Menariknya, buku bekas impor, seperti Charles Dickens, dijual dengan kisaran harga itu. Padahal, versi baru karya klasik karya sastra kanon Inggris seperti itu sekarang dijual dengan harga Rp 40 ribu. Entah apa pertimbangan toko buku bekas di TIM ini masih PD menjual dengan harga di atas Rp 50 ribu untuk karya klasik Charles Dickens. Mungkin buat teman-teman yang melakukan penelitian, buku-buku bekas berisi esai dan teori seperti itu layak dibeli. Namun, untuk yang sekedar membutuhkan bacaan penyegar otak, saya kira akan menguras kantong di tengah harga-harga kebutuhan yang semakin mahal.

 Di banyak toko buku Senen, kebanyakan yang dijual adalah komik, novel popular terbitan baru hingga novel porno (dan playboy, yang ditawarkan sambil berbisik.). Meskipun begitu, beberapa karya menarik masih ada, seperti Nawal el-Sadawi, George Bernard Shaw[3] dan buku-buku Pramoedya Ananta Toer (meskipun versi bajakan.) Toh, buku-buku Pram, entah mengapa, kini sudah tidak beredar di toko buku Gramedia.

Saya tidak paham kenapa toko-toko buku loak semakin sedikit jumlahnya di Jakarta. Atau mungkin ini pengalaman saya saja di dua tempat, Blok M dan Thamrin City? Jikapun ada, toko-toko buku itu tidak terlalu menarik saya lagi. Pertama, jumlahnya semakin sedikit. Pilihan-pilihannya semakin minim. Mereka ramai-ramai gulung tikar saya kira karena sepinya pembeli. Kedua, toko buku loak jikapun menawarkan buku bermutu, seperti di TIM, harganya seperti lebih mahal ketimbang membeli yang baru. Pengalaman hari ini membuat saya tidak lagi terlalu bersemangat mengunjungi toko buku loak di Jakarta. Mungkin ketika esok kembali mengunjungi toko buku ex-kwitang, kompleks toko-toko itu sudah menjadi bekas ex-kwitang.



[2] Bisa dibaca di  http://www.angkringanwarta.com/2012/03/kwitang-dan-jejak-wisata-buku-jakarta.html
[3] Ketika tanya harga karya-karya sastra bekas setelah melihat karya Shaw, penjual menawarkan harga Rp 50 ribu untuk satunya. Ia mengatakan nilai buku itu karena klasik dan sudah tidak ada cetak ulang. Alasan yang aneh.

2 komentar:

  1. Aaaaa setuju kak... dulu aku sering ke thamrin city khusunya lantai a3 bwt baca buku or beli buku tp skrg di sana udah tinggal sedikit yg jual malah skrg lantai 3a jd toko baju tasik... hudfttt kecewa bnget di jkt minim toko buku bekas! Pas berkunjung ke daerah laen malah masih bnyak toko buku bkas >< aaaa rasanya gereget banget!!

    Postinganmu membantu kak..

    BalasHapus
  2. Iya. Jogja dan bandung lebih ramai toko buku bekasnya. Di toko buku Senen itu udah sepi buku bekas yang mengejutkan

    BalasHapus