Libya, Dipahami dengan Benar: Sebuah sudut pandang Revolusioner Pan-Afrika
Karya Gerald A. Perreira yang telah tinggal di Libya bertahun-tahun yang lalu dan merupakan seorang anggota eksekutif The World mathaba. Dia dapat dihubungi melalui mojadi94@gmail.com.
Alih Bahasa oleh Guruh Dwi Riyanto (29/3/11) dari Libya, Getting it Right: A Revolutionary Pan-African Perspective karya Gerald A. Perreira ditulis 4 Maret 2011 dapat dibuka di
http://dissidentvoice.org/2011/03/libya-getting-it-right-a-revolutionary-pan-african-perspective/
Beribu-ribu warga India, Mesir, Cina, Filipina, Turki, Jerman, Inggris, Italia, Malaysia, Korea dan sekumpulan warga berkebangsaan lainnya antri di perbatasan dan bandar udara hendak meninggalkan Libya. Muncul pertanyaan: Apa yang sedang mereka lakukan di Libya tadinya? Angka pengangguran, menurut media Barat dan Al Jazeera,adalah 30%. Jika demikian, lantas kenapa ada semua pekerja asing tersebut?
Bagi kami yang telah tinggal dan bekerja di Libya, ada banyak kerumitan dalam situasi terkini yang telah sungguh-sungguh disepelekan oleh media Barat dan analis “yang mabuk kemenangan di sisi Barat”, yang tidak punya apa-apa selain menarik sudut pandang yang berpusat pada Eropa. Mari kami jelaskan – tidak mungkin memahami apa yang sedang terjadi di Libya dengan kerangka yang berpusat pada Eropa. Orang barat tidak mampu memahami sebuah sistem kecuali sistem tersebut berasal dari atau terlampir pada Barat. Sistem Libya dan pertempurang yang sedang terjadi memperebutkan minyak Libya, berada sepenuhnya di luar imajinasi Barat.
Liputan berita BBC, CNN, dan Al Jazeera telah terlalu menyederhanakan dan menyesatkan. Juru bicara pasukan anti-Gaddafi, sebagian besar hidup di luar Libya, telah berbaris di depan kita – setiap orang tersebut jelas-jelas melawan-revolusi dan kurang dapat dipercaya ketimbang yang sebelumnya. Walaupun ada bukti yang jelas dan tak terbantahkan dari awal protes-protes tersebut bahwa Muammar Gaddafi memiliki dukungan yang layak diperhitungkan secara internasional dan di Libya, tidak satupun suara pro-Gaddaf diperbolehkan mengudara. Media dan komentator pilihan mereka telah berbuat sebaik mungkin untuk menghasilkan pendapat bahwa Libya pada dasarnya sama dengan Mesir dan Tunisia dan bahwa Gaddafi hanyalah tirani lain yang menumpukan banyak uang di rekening bank Swiss. Tapi tak peduli seberapa keras mereka berupaya, mereka tidak mampu membuat Gaddafi seperti Mubarak atau Libya seperti Mesir.
Pertanyaan pertamanya adalah: apakah revolusi yang terjadi di Libya dibakar oleh keprihatinan isu ekonomi seperti kemiskinan dan pengangguran sebagaimana yang media barat ingin agar kita percaya? Mari kita kaji fakta-faktanya.
Di bawah kepemimpinan revolusioner dari Muammar Gaddafi, Libya telah mencapai standar kehidupan tertinggi di Afrika. Pada 2007, dalam sebuah artikel yang muncul dalam African Executive Magazine, Norah Owaraga mencatata bahwa Libya, “tidak seperti negara-negara penghasil minyak lainnya seperti Nigeria dan Arab Saudi, menggunakan keuntungan minyak Libya untuk mengembangkan negara tersebut. Standar kehidupan masyarakat Libya adalah salah satu yang tertinggi di Afrika, termasuk kategori negara dengan GNP antara USD 2.200 dan 6.000.”
Angka tersebut lebih menakjubkan saat kita mempertimbangkan bahwa pada 1951 Libya secara resmi adalah negara termiskin di dunia. Menurut Bank Dunia, pendapatan per kapita kurang dari $50 per tahun – bahkan lebih rendah dari India. Kini, semua warga Libya memiliki rumah dan mobil sendiri. Jurnalis Two Fleet Street, David Blundy dan Andrew Lycett, yang bukanlah pendukung revolusi Libya, berkata demikian:
“orang muda berpakaian elok, berpendidikan baik dan makan enak. Warga Libya kini memperoleh pendapatan per kapita lebih banyak ketimbang warga Inggris. Perbedaan pendapaatan per tahun…lebih kecil ketimbang di sebagian besar negara. Kemakmuran Libya telah menyebar dengan adil di seluruh masyarakat. Semua warga Libya memperolah pendidikan, pelayanan kesehatan dan obat-obatan yang gratis, dan seringkali cemerlang, Pendidikan tinggi dan rumah sakit luar biasa dengan standar internasional. Semua warga Libya memiliki sebuah rumah atau rumah bertingkat, sebuah mobil dan sebagian besar memiliki TV, perekam video dan telepon. Dibandingkan dengan sebagian besar warga negara Dunia Ketiga, dan dengan banyak, warga Libya hidupnya sesungguhnya sangatlah baik”1
Pembangunan perumahan dalam skala besar dilakukan di seluruh negara. Setiap warga negara telah diberi rumah atau apartmen yang layak untung dihuni dengan gratis biaya sewa. Dalam Buku Hijau Gaddafi, dinyatakan :”Rumah adalah kebutuhan dasar baik bagi pribadi maupun keluarga, maka rumah tidak sebaiknya dimiliki orang lain.” Diktum tersebut kini menjadi kenyataan bagi warga Libya.
Proyek-proyek agrikultur berskala besar telah diterapkan dalam upaya “membuat gurun berbunga” dan menggapai kemandirian produksi pangan. Setiap warga Libya yang ingin menjadi petani diberikan tanah gratis untuk digunakan, rumah, peralatan pertanian, sejumlah ternak dan benih.
Kini, Libya dapat sesumbar akan salah satu sistem perawatan kesehatan terbaik di dunia Arab dan Afrika. Semua orang memiliki akses ke dokter, rumah sakit, klinik dan obat-obatan, benar-benar gratis dari semua biaya. Faktanya revolusi Libya telah mencapai standar hidup setinggi itu bagi warganya dan mereka mengimpor pekerja dari bagian dunia lain untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang ditolak untuk dikerjakan penganggur Libya. Libya telah disebut oleh banyak pengamat dalam dan luar negeri, “bangsa pemilik toko.” Hal itu adalah bagian psikis Arab warga Libya untuk memiliki usaha kecil milik Anda sendiri dan usaha berskala kecil jenis ini bertumbuhan di Libya. Kita dapat menyimpulkan dari banyak contoh tersebut bahwa Libya dengan orang-orang mudanya yang menyampaikan gagasan bahwa akan memalukan bagi keluarga jika orang-orang muda tersebut mencari pekerjaan kasar dan sebagai gantinya mereka lebih suka tetap di rumah dengan dukungan dari keluarga besar.
Tidak ada sistem yang sempurna, dan tidak terkecuali Libya. Mereka menderita sembilan tahun sangsi ekonomi dan hal itu menyebabkan masalah besar bagi ekonomi Libya. Juga, tidak ada tempat di dunia yang telah lolos dari krisis kapitalisme neo-liberal. Krisis tersebut berdampak ke mana saja- bahkan ke masyarakat pasca revolusi yang telah menolak kapitalisme “pasar bebas.” Namun, apa yang sedang kita sampaikan adalah bahwa ketidakadilan ekonomi yang parah tidak berada pada jantung konflik ini. Lantas, apa?
Sebuah Pertempuran Mendukung Afrika
Perang yang sedang dikobarkan di Libya pada dasarnya adalah peran antara kekuatan-kekuatan Pan-Afrika di satu sisi, yang berdedikasi untuk mewujudkan visi Gaddafi akan Persatuan afrika, dan kekuatan-kekuatan reaksioner rasis Libya yang menolak visi Gaddafi akan Libya sebagai bagian Persatuan afrika dan sebagai gantinya ingin mempersekutukan diri mereka dengan Uni Eropa dan memandang dunia Arab dan Eropa sebagai masa depan Libya.
Salah satu gerakan paling sulit dan kontroversial Muammar Gaddafi di mata banyak warga Libya adalah perjuangannya untuk Afrika dan dorongan gigihnya untuk menyatukan Afrika dalam satu mata uang, satu pasukan dan satu visi bersama menyangkut kebebasan dan kemandirian sebenarnya bagi seluruh benua tersebut. Dia telah menyumbangkan sejumlah besar uang dan tenaga dan waktunya untuk proyek ini dan seperti Kwame Nkrumah, dia telah membayar harga yang mahal.
Banyak warga Libya tidak menyetujui gerakan ini. Mereka ingin pemimpin mereka mengarah pada Eropa. Tentunya, Libya memiliki investasi luas dan ikatan komersial dengan Eropa tapi warga Libya tahu bahwa hati Gaddai ada di Afrika.
Bertahun-tahun yang lalu, Gaddafi berkata pada sebuah perjamuan besar, yang mencakup banyak warga Libya dan revolusioner dari berbagai belahan dunia, bahwa Orang Kulit Hitam Afrika adalah pemilik sesungguhnya dari Libya jauh sebelum serbuan Arab ke Afrika Utara, dan bahwa warga Libya perlu mengakui dan bersyukur pada akar nenek moyang Arika mereka. Dia mengakhiri perkataannya, seperti diproklamirkan dalam Buku Hijaunya, bahwa “ras kulit hitam akan berjaya di seluruh dunia.” Hal itu bukanlah apa yang ingin didengar sebagian besar warga Libya. Sebagaimana dengan semua orang arab berkulit kuning, prasangka terhadap Orang kulit hitam Afrika mewabah.
Saudara Seperjuangan, Pemandu Revolusi dan Raja dari Raja-raja adalah beberapa gelar yang dipersembahkan untuk Gaddafi oleh orang-orang Afrika. Baru bulan lalu Gaddafi mengunjungi sekertarian Raja dan Kepala Suku Afrika tradisional, dia memiliki ikatan erat dengan mereka, untuk bekerjasama usaha-usaha membangung persatuan Afrika di tingkat akar rumput di seluruh benua, pendekatan dari bawah ke atas, sebagai lawan dari percobaan membangun persatuan di tingkat pemerintah/negara, sebuah pendekatan yang telah menggagalkan proyek persatuan Afrika sejak zaman Kwame Nkrumah dan Sekou Toure. Pendekatan bawah ke atas ini medapat dukungan luas dari banyak pendukung Pan Afrika di seluruh dunia.
Orang Afrika Bayaran atau Pejuang Kemerdekaan?
Dalam satu minggu terakhir, phrasa “Orang afrika bayaran” telah diulang dan diulang kembali oleh media dan warga negara Libya yang mereka pilih untuk berbicara tentang, seperti disampaikan seorang komentator, “pertikaian dunia Afrika” dengan kebencian berbisa.
Media telah menganggap, tanpa penelitian atau pemahaman apapun yang lebih mendalam tetnang situasi Libya karena mereka menolak memberi kekuatan-kekuatan pro- Gaddafi waktu mengudara, bahwa banyak orang Afrika dalam seragam tentara berjuang bersama pasukan-pasukan pro- Gaddafi adalah bayaran. Namun, itulah mitos bahwa orang Afrika berjuang membela Jamahiriya dan Muammar Gaddafi adalah upahan yang dibayar sedikit uang dan asumsi itu hanya berlandaskan pandangan rasis biasa dan penuh kebencian pada Orang kulit hitam Afrika.
Sebenarnya, pada kenyataanya, ada orang-orang di seluruh Afrika dan Orang Afrika Diaspora (orang Afrika yang tersebar di luar negeri.pent) yang mendukung dan menghormati Muammar Gaddafi sebagai hasil dari sumbangan tak ternilainya pada perjuangan mendunia pembebasan Afrika.
Sepanjang dua dasawarsa terakhir, tersedia pendidikan, pekerjaan, dan pelatihan militer bagi ribuan orang Afrika di seluruh benua – banyak dari mereka berasal dari gerakan pembebasan. Sebagai hasilnya dukungan Libya bagi gerakan pembebasan di seluruh Afrika dan dunia, batalion internasional dibentuk. Batalion tersebut memandang diri mereka sebagai bagian revolusi Libya, dan menjadikan diri mereka pembela revolusi melawan serangan-serangan dari dalam maupun luar perbatasan.
Merekalah orang-orang Afrika yang bertarung membela Gaddafi dan keberhasilan-keberhasilan Revolusi Libya hingga titik darah terakhir jika diperlukan. Hal tersebut bukannya tidak serupa dengan apa yang terjadi saat batalion internasionalis datang membantu pasukan-pasukan revolusioner melawan pasukan fasis Franco di Spanyol.
Analis politik Mali, Adam Thiam mencatat bahwa “ribuan warga Tuareg yang tergabung dalam Legium Islam didirikan oleh revolusi Libya tetap di Libya dan mereka tergabung dalam pasukan-pasukan pengamanan Libya.
Orang-orang Migran Afrika diserang
Karena pejuang Afrika dari Chad, Nigeria, Mali, Ghana, Kenya dan Sudan Selatan (harus diperhatikan bahwa Libya mendukung Tentara Pembebasan Masyarakat Sudan di bawah John Garang dalam perang pembebasan mereka melawan hegemoni Arab Khartoum, sedangkan semua pemimpin Arav lainnya menyokong dari belakang rezim Khartoum) bertempur membela revolusi Afrika ini, jutaan orang Afrika mencari perlindungan dan ribuan migran Afrika menanggung resiko dibunuh sebagai hasil dari dukungan mereka yang diketahui bagi Gaddafi.
Seorang pekerja konstruksi Turki menggambarkan sebuah pembantaian: “kita punya 70-80 orang dari Chad untuk bekerja di perusahaan kami. Mereka dipenggal dengan gunting cukur dan kapak, penyerang mengatakan: “kau menyediakan pasukan bagi Gaddafi. Orang Sudan juga dibantai. Kita melihatnya sendiri.” Hal itu jauh sekali dari apa yang digambarkan media barat sebagai “pemrotes damai” yang diatur oleh pasukan-pasukan pro-Gaddafi. Pada kenyataanya, sepanjang revolusi Benghazi menampilkan orang-orang dengan Golok, AK 47 dan RPG. Dalam Buku Hijau, Gaddafi berpendapat mendukung perpindahan semua kekuasaan, kekayaan, dan persenjataan secara langsung ke tangan-tangan rakyat sendiri. Tidak ada yang dapat menyangkal bahwa penduduk Libya banyak yang memiliki senjata. Hal tersebut adalah bagian dari filsafat Gaddafi agar senjata tidak dikuasai oleh bagian masyarakat apa pun, termasuk pasukan-pasukan bersenjata. Harus dikatakan bahwa merupakan praktik yang tidak lumrah bagi tirani dan diktator untuk mempersenjatai penduduk mereka.
Gaddafi juga telah sangat lantang tentang keadaan menyedihkan orang Afrika yang bermigrasi ke Eropa, ketika mereka menjadi korban rasisme, lebih banyak kemisikinan, kekerasan di tangan kelompok ekstrim sayap kiri dalam banyak kasus kematian, saat kepentingan bersama mereka terancam.
Tergerak oleh kesengsaraan migran Afrika, sebuah konferensi berlangsung di Libya bulan Januari tahun ini, membahas kebutuhan dan keprihatinan mereka. Lebih dari 500 delegasi dan pembicra di seluruh dunia menghadiri konferensi berjudul “Hidup Layak di Eropa atau Selamat Datang Kembali di Afrika.”
“kita sebaiknya hidup di Eropa dengan layak dan bermartabat,” ucap Gaddafi pada peserta. “Kita butuh hubungan baik dengan Eropa bukannya hubungan tuan dan budak. Sebaiknya ada hubungan kuat antara Afrika dan Eropa. Kehadiran kita sebaiknya kuat, nyata, dan baik. Terserah pada Anda sebagai orang Afrika dalam Diaspora. Kita harus melanjutkan lebih dan lebih hingga persatuan Afrika tergapai.
Mulai kini, dengan restu Tuhan, saya akan mengangkat tim-tim untuk mencari, menyelidiki dan penghubung dengan orang Afrika di Eropa dan untuk memeriksa situasi mereka. Inilah tugas dan peran saya pada anak-anak Afrika; saya seorang prajurit pendukung Afrika. Saya di sini untuk Anda dan saya bekerja untuk Andal maka, saya tidak akan meninggalkan Anda dan saya akan mengikuti keadaan-keadaan Anda.”
Komite gabungan migran Afrika, PBB, Persatuan Orang Afrika, dan Uni Eropa dan organisasi-organisasi internasional hadir di konferensi membahasa kebutuhan untuk bekerjasama dan menerapkan banyak usulan-usulan konferensi tersebut.
Pernyataan-pernyataan bermunculan di segala penjuru internet dari orang Afrika yang memiliki pandangan berbeda dengan apa yang diulang-ulang oleh yang bertujuan memojokan Gaddafi dan revolusi Libya. Seorang Afrika berkomentar:
Saat saya tumbuh dewasa pertama kali saya membaca buku komik tentang revolusi ini di usia sepuluh. Sejak itu, seraya diktator datang dan pergi, kolonel Gaddafi telah memberi kesan pada saya sebagai seseorang yang sangat mencintai Afrika! Orang-orang Libya dapat mengeluhkan bahwa dia menghabiskan kekayaan mereka untuk orang Afrika lainnya! Tapi orang-orang Afrika yang dia bantu naik ke kekuasaan, membangun sekolah dan masjid dan mewujudkan bantuan tersebut dalam berbagai bentuk pembangunan yang menunjukan bahwa orang Afrika dapat berbuat bagi diri mereka sendiri. Jika orang Afrika tersebut akan mencampakan dia supaya tertelan oleh imperialisme Barat dan rekan mereka dan hanya membiarkannya sebagai diktator atas nama apa yang disebut demokrasi...jika mereka melakukannya...mereka seharusnya menerima nama dan takdir yang diberikan pers Barat pada pemimpin tercinta kita. Jika saja ada siapapun yang kebaikannya setengah dari Gaddafi, biarkan dia maju.
Dan seorang Afrika lainnya berkomentar:
Orang ini telah banyak dituduh dan mendengar Barat yang baru akhir-akhir ini senang menerima sambutan ramahnya, Anda akan mengira dia lebih buruk dari Hitler. Sikap benci dan rasis orang Arab terhadap Orang kulit hitam Afrika telah menjadikan saya secara terbiasa skeptis terhdapa tawaran apapun dari mereka untuk merajut hubungan yang lebih dekat dengan Orang kulit hitam Afrika kecuali Gaddafi sebagai perkecualian.
Revolusi Oportunistik
Revolusi revolusioner-balasan ini mengejutkan semua orang, termasuk otoritas Libya. Mereka tahu bahwa media barat tidak memberitakan: bahwa tidak seperti di Mesir dan Tunisia dan negara-negara lain di daerah itu, tempat berlimpahnya kemiskinan, pengangguran dan rezim penindas pro-barat, dinamika Libya sungguh lain. Namun, kesatuan kekuatan oportunistik, berkisar dari yang disebut Islamis, Supremasi-Arab, mencakup beberapa dari mereka telah akhir-akhir ini menyebarng dari lingkaran dalam Gaddafi, telah menggunakan peristiwa-peristiwa di negara tetangga sebagai dalih untuk melancarkan kudeta dan memajukan agenda mereka untuk bangsa Libya. Banyak mantan-pejabat ini adalah penguasa dari, dan secara sembunyi-sembunyi membakar program anti-Orang Afrika di Libya beberapa tahu lalu saat banya orang afrika kehilangan nywa mereka dalam pertempuran jalanan antara warga Libya Afrika dan Arab. Itu adalah usaha disengaja untuk mempermalukan Gaddafi dan melemahkan usahanya di Afrika.
Telah lama Gaddafi menjadi duri di pihak Islam. Kepada rakyat Libya baru-baru ini, disiarkan dari halaman reruntuhan Bab al-Azizia yang dibom Reagan pada 1986, dia mengundang “orang-orang berjenggot” di Benghazi dan Jabal al Akhdar tempat mereka berada saat Reagan membom halamannya di Tripoli, membunuh ratusan warga Libya, termasuk putrinya. Dia mengatakan mereka bersembunyi di rumah bertepuk tangan untuk AS dan dia bersumpah bahwa dia tidak pernah akan membiarkan negaranya kembali ke cengkeraman mereka dan tuan kolonial mereka.
Al Qaeda ada di Sahara di perbatasannya dan Persatuan Cendikiawan Muslim Internasional mengundang untuk diuji di persidangan. Seseorang bertanya kenapa tidak menumpahkan darah Gaddafi? Kenapa Mubarak yang dekat dengan Perlintasan Perbatasan Rafah saat pembantaian orang Palestina di Israel. Kenapa tidak Bush, Cheney, Rumsfeld dan Blair yang bertanggungjawab atas pembunuhan jutaan mulsim di Irak dan Agansitan?
“kesatuan pasukan-pasukan oportunistik, berkisar dari yang disebut Islamis, Supremasi-Arab, termasuk beberapa orang yang akhir-akhir ini telah keluar dari lingkaran dalam Gaddai, telah menggunakan peristiwa di negeri tetangga sebagai dalih melancarkan kudeta.”
Jawabannya sederhana- karena Gaddafi melakukan “kejahatan besar.” Dia berani menantang gagasan feodal dan reaksioner Islam mereka. Dia telah menegakan gagasan bahwa setiap Muslim adalah pemerintah (Khalik) dan tidak perlu Ulama menafsirkan Quran untuk mereka. Dia telah mempertanyakan Persaudaraan Islam dan Al Qaeda dari sudut pandang Quran/teologis dan satu dari sedikit pemimpin politik memiliki perlengkapan untuk melakukannya. Gaddafi telah dipanggil Mujahidin (istilah ini mengacu ke seseorang yang muncul untuk membangkitkan Islam dan membersihkan elemen asing, memulihkan Islam ke bentuk aslinya) dan dia datang ke tradisi Jamaludeen Afghani dan Iran Revolusioner, Ali Shariati.
Libya adalah masyarakat yang sangat tradisional, terjangkiti gagasan rusak dan usang yang terus muncul hingga hari ini. Dengan banyak cara, Gaddafi telah berjuang melawan aspek revolusioner yang sama dari budaya dan tradisi arab yang dilawan perjuangan nabi suci Muhammad pada abad 7 di Arab – rasisme/supremasi Arab, supremasi keluarga dan suku, sejarah suku feodal melawan suku lainnya dan pemarginalan perempuan. Beghazi telah selau melawan-revolusi di Libya, menggemborkan gerakan Islam reaksioner seperti Wahhabis dan Salafists. Orang-oragn inilah yang mendirikan Kelompok Petearugn Islam Libya yang bermarkas di Benghazi yang menyekutukan dirinya dengan Al Qaeda dan yang telah, selama tiga tahun, bertanggun jawab atas pembunuhan anggota-anggota terkemuka komite revolusioner Libya.
Pasukan-pasukan tersebut membenci pembacaan revolusioner Gaddafi terhadap Quran. Mereka menyebarkan Islam yang peduli pada jebakan keluar dan religiusitas belaka, dalam bentuk ritual, yang pada saat yang sama feodal dan menindas, sembari menolak semangat pembebasan Islam. Jika yang disebut Islamis melawan pendudukan Barat di tanah Islam, mereka tidak memiliki program nyata untuk perubahan sosial-ekonomi dan politik yang berarti untuk memajukan masayarakat mereka mengatasi sistem semi-feodal dan kapitalis yang menjejalkan gagasan dan tradisi paling terbelakang dan reaksioner. Filsafat politik Gaddafi, seperti diringkas dalam Buku Hijau, menolak kapitalisme yang tanpa koridor dalam semua pengejawantahannya, termasuk model “kapitalisme Negara” negara-negara bekas komunis dan kapitalis neo-liberal yang telah dipaksakan di tingkat dunia. Gagasan bahwa kapitalisme tidak sejalan dengan Islam dan Quran tidak dapat diterima banyak orang Arab dan yang disebut Islamis karena mereka memegang gagasan salah bahwa bisnis dan perdanganan sama dengan kapitalisme.
Dipahami dengan Benar
Apapun kesalahan yang dibuat Gaddafi dan revolusi Libya, perolehannya dan sumbangsih besarnya pada perjuangan kaum tertindas di seluruh dunia tidak dapat dan seharusnya tidak diabaikan. Saif Gaddafi, saat ditanya tentang posisi ayahnya dan keluarganya, mengatakan bahwa pertempuran ini bukan tentang satu orang dan keluarganya, ini tentang Libya dan arah yang akan diambil.
Arahnya selalu kontroversioal . pada 1982, The World Mathaba berdiri di Libya. Mathaba artinya tempat berkumpul orang-orang satu tujuan. The World Mathaba mengumpulkan pejuang revolusioner dan kemerdekaan dari semua pojok jagad untuk berbagi gagasan dan mengembangkan pengetahuan revolusioner mereka. Banyak kelompok pembebasan di seluruh dunia menerima pendidikan, pelatihan dan dukungan dari Muammar Gaddafi dan revolusi Libya termasuk ANC, AZAPO, PAC and BCM dari Azania (Afrika Selatan), SWAPO dari Namibia, MPLA dari Angola, The Sandinistas dari Nikaragua, The Polisario of the Sahara, the PLO, The Native American Movements dari selurh negara-negara America, The Nation of Islam pimpinan Louis Farrakhan dan masih banyak lagi. Nelson Mandela menyebut Muammar Gaddafi salah satu pejuang kebebasan terbesar abad ini, dan menekankan bahwa keruntuhan sesungguhnya sistem aparteid banyak berhutang pada dukungan Gaddafi dan Libya. Mandela mengatakan bahwa dalam saat-saat perjuangan yang paling gelap, saat pundak mereka hampir kalah, Muammar Gaddafilah yang berdiri bersama mereka. Pejuang pembebasan Afrika terkini, Kwame Ture, menyebut Gaddafi sebagai “permata di tengah kolam tinja pemimpin sesat Afrika.”
Gagasan tersembunyi yang sedang digemborkan media barat dan kekuatan reaksioner, di dalam dan di luar Libya, bahwa Libya hanyalah kisah lain kediktatoran rakus yang telah habis waktunya adalah informasi sesat dan penyelewengan informasi yang disengaja. Apapun pendapat seseorang tentang Gaddafi, tidak ada yang dapat menolak sumbangan tak ternilainya pada pembebasan manusia dan kebenaran-kebenaran universlan yang diringkas dalam Buku Hijaunya.
Cendikiawan progresif di seluruh dunia, termasuk Barat, telah memuji Buku Hijau sebagai kritik tajam pada kapitalisme dan model demokrasi multi-partai parlementer Barat. Sebagai tambahan, tidak ada penyangkalan bahwa sistem demokrasi langsung yang dilontarkan Gaddafi dalam Buku Hijau menawarkan model alternatif dan solusi bagi Afrika dan Dunia Ketiga, tempat dari yang disebut demokrasi multi-partai telah gagal dengan menyedihkan, menghasilkan kemiskinan, konflik dan kekacauan antar etnis dan suku.
Setiap revolusi, sejak awal zaman, telah membela dirinya melawan orang yang ingin menggulung keberhasilannya. Eropa sebaiknya berkaca pada sejarah berdarah mereka untuk melihat, ini termasuk revolusi Amerika, Perancis, dan Bolshevik. Marxists berbicara penindasan Brutal Trotsky dan Lenin pada pemberontakan Kronstadt oleh Tentara Merah sebagai “keniscayaan yang tragis”
Mari kita luruskan: pertempuran di Libya bukanlah tentang pemrotes damai melawan Negara bersenjata dan penuh kebencian. Kedua sisi banyak memiliki senjata dan penuh kebencian. Pertempuran yang dikibarkan di Libya pada dasarnya adalah pertarungan antara mereka yang ingin melihat Libya dan Afrika yang merdeka dan bersatu, bebas neo-kolonialisme dan kapitalisme neo-liberal dan bebas membangun sistem pemerintahan mereka sendiri yang sesuai dengan kepribadian dan budaya Afrika dan Arab melawan mereka yang mendapati seluruh gagasan tersebut menjijikan. Dan kedua sisi bersedia membayar harga paling mahal untuk membela posisi mereka.
Janganlah keliru, jika Gaddafi dan revolusi Libya dikalahkan oleh konglomerat oportunistik yang reaksioner dan rasis, maka kekuatan-kekuatan progresif di seluruh dunia dan proyek Pan Afrika akan menderita kekalahan dan kemunduran besar.