Politik, Liputan, Humor, Budaya

Sabtu, 25 Januari 2014

Ideologi dalam Ruang Kelas: Sebuah Kajian Kasus dalam Pengajaran Sastra Inggris di Universitas di Kanada


karangan Arun P.Mukherjee
 *dari “Ideologi dalam Ruang Kelas: Sebuah Kajian Kasus dalam Pengajaran Sastra Inggris di Universitas-universtias di Kanda” Dalhousie review 66 (1&2), 1986.

BERBICARA SECARA UMUM, KAMI, pengajar-pengajar sastra Inggris di universitas-universitas di Kanada, tidak menganggap pokok masalah di kelas layak ditelaah dengan kritis. Malahan, ilmu pendidikan (pedagogy) kami dan penelitian ilmiah kami nyaris tidak berhubungan sama sekali. Pengajar baru, mencari strategi-strategi pembelajaran efektif, akan menemukan dirinya benar-benar cemas karena tidak ada bacaan memadahi dari terbitan-terbitan ilmiah cukup membantu saat ia menghadapi kelas mahasiswa strata satu. Nyatanya, kedua wacana itu-wacana ilmu pendidikan dan penelitian ilmiah Sastra Inggris - sama sekali bertentangan dan menjadi luka untuk orang baru yang menggunakan bahasa wacana ilmiah terkini di dalam kelas....
                Kumpulan cerita pendek yang saya gunakan dalam kelas pengantar Sastra Inggris 100 (angka 100 menunjukan kode mata kuliah untuk kelas bagi mahasiswa tahun pertama. pent) - saya dengan sengaja memilih cerpen Kanada-mencakup sebuah cerpen karangan Margaret Laurence berjudul “The Perfume Sea”. Cerita ini, menurut tafsiran saya, menekankan dominasi ekonomi dan budaya atas Negara Dunia Ketiga. Namun, walaupun saya memaparkan tafsiran ini pada mahasiswa-mahasiswa saya dengan sejumlah rincian, mereka bahkan tidak mempertimbangkan tafsiran saya saat menulis esai-esai mereka. Walaupun cerita ini jelas-jelas menarik perhatian mereka-hampir 40 persen memilih menulis tentang cerita ini - mereka mengabaikan seluruh makna politis cerita ini.
                Saya benar-benar kecewa oleh pengabaian mutlak mahasiswa-mahasiswa saya pada kenyataan lokal yang disajikan dalam cerpen tersebut. Namun, makalah-makalah mereka sungguh memberi saya pemahaman tentang bagaimana pendidikan mereka mengizinkan mereka menetralkan makna-makna pembangkangan yang tersirat dalam sebuah nukilan karya sastra yang bagus, seperti cerita Laurence.
                Cerita ini, dari sudut pandang saya, cukup gamblang maksudnya. Cerita ini bertempat di Ghanna pada awal-awal kemerdekaan dari kekuasaan Inggris. Pegawai-pegawai kolonial pergi dan kepergian tersebut menyebabkan permasalahan keuangan bagi Mr. Archipelago dan Doree yang menjalankan satu-satunya salon kecantikan dalam radius seratus lima puluh kilometer dari sebuah kota kecil tak bernama. Walaupun alat-alatnya kuno, dan para pelayanya tidak sesuai selera mereka, para nyonya-nyonya memakluminya karena tidak ada alternatif.
                Dengan perginya pelanggan-pelanggan kulit putih, Mr. Archipelago dan Doree tak lagi punya pelanggan. Salon tersebut kosong selama berminggu-minggu hingga suatu hari kegentingan datang dalam wujud tuan tanah Ghana mereka, Mr. Tachie, menagih uang sewa. Keadaan, bagaimanapun juga, mulai berubah saat Mr. Archipelago mempelajari anak perempuan Mr. Tachie ingin terlihat seperti “gadis kota” dan selalu merengek pada ayahnya agar diberikan uang untuk membeli sepatu, pakaian, dan riasan. Mr. Archipelago dalam kilatan inspirasi, mendapati Mercy Tachie merupakan pelanggan baru sasaran dia dapat menjual “produk”nya: Mr. Tachie, Anda adalah pembawa mujizat!... Seperti itu ternyata, sepanjang waktu, dan kami tidak melihat. Kami, bahkan Doree, akan membuat sejarah-Anda akan menyaksikannya” (221).
Klaim tentang pembuatan sejarah diulang dua kali dalam cerita dan bertautan secara penting dengan sejarah yang dibuat Columbus. Karena Mr. Archipelago sangat bangga pada kenyataan dia lahir di Genoa, kampung halaman Columbus. Aspek tidak menyenangkan tindakan pembuatan sejarah ini tak salah lagi memang disengaja: Dia [Columbus] pernah di Afrika Barat, kau tahu, sebagai pelaut muda, di sebuah puri-budak tua tidak jauh dari sini. Dan dia, juga, datang dari Genoa” (217)
Penanda simbolis salon dibuat tampak cukup jelas pada perhatian rinci yang Laurence curahkan pada perubahanya. Jika papan sebelum kemerdekaan bertuliskan:
ARCHIPELAGO
Tukang Cukur Gaya-Inggris
Penata Rambut Perempuan-Eropa (211)
Papan baru bertuliskan:

ARCHIPELAGO & DOREE
Tukang Cukur
Salong Kecantikan-Segala Kalangan
Khususnya Perempuan Afrika (211)

Dengan bantuan pinjaman dari Mr. Tachie, sang pemilik memasang peralatan pelurus rambut dan membeli corak riasan yang cocok untuk kulit Afrika. Namun, walaupun banyak perempuan Afrika dari kejauhan nampak sungguh berminat, tak ada yang memasuki salon. Dua minggu kemudian, Mercy Tachie berjalan dengan ragu ke salon itu “karena jika kau tidak mendapat pelanggan, dia [Mr. Tachie] tidak akan mendapatkan uangnya darimu” (222). Mercy mengalami perubahan menyeluruh di salon dan setelah keluar tampak seperti “gadis kota,” seperti yang ia pernah liat di majalah Drum. Maka, Mr. Archipelago dan Doree “diselamatkan” oleh “sebuah tindakan Mercy(226)” (by an act of Mercy bisa berarti tindakan Mercy, juga bisa tindakan Kasihan (mercy=kasihan, Inggris) pent.) Mereka menemukan peranan baru dalam hidup negara yang baru merdeka ini: membantu borjuis Afrika yang dengan seperti budak membebek nilai-nilai bekas tuan kolonialnya.
Nada-nada tambahan politis dari cerita itu dipertegas lagi dengan seluruh kemiskinan yang cerita ini gambarkan dan tautan simbolis antara pelaku salon kulit putih dengan satu-satunya pedagang kulit hitam di kota kecil itu. Pemisahan antara putrinya dan perempuan-perempuan Afrika lainya yang berpergian tanpa alas kaki dengan bayi di punggung mereka lebih jauh menandakan sifat perpecahan yang ditanamkan Eropa. Tanda lainnya dari tujuan pengarang tampak dari penggambaran konyol tentang Mr.Archipelago dan Doree, sarana yang mencegah identifikasi emosional dengan mereka. Juga penting kenyataan bahwa identitas nasional keduanya yang tidak diketahui, keduanya merubah-rubah cerita mereka, karena kenyataan tersebut seperti ingin mengatakan bahwa, seperti Kurtz1 dalam Heart of Darkness, mereka mewakili seluruh peradaban kulit putih. Maka, cerita ini kurang menekankan kehidupan individu-individunya agar menekankan pokok masalah yang lebih luas: hakikat kolonialisme dan akibat buruknya saat elit pribumi mengambil alih tanpa benar-benar merubah institusi kolonial kecuali namanya.
Maka hal ini merupakan aspek cerita yang paling menarik bagi saya, tak ragu lagi karena saya sendiri berasal dari bekas jajahan Raj. Selama diskusi kelas, saya bertanya pada para mahasiswa tentang arti simbolis dari alat pelurus rambut, perubahan nama, pengidentifikasian Mr. Archipelago dengan Columbus, majalah Drum, dan tokoh Mr. Tachie dan Mercy Tachie. Namun, esai-esai para mahasiswa tidak berlandaskan aspek-aspek tersebut, tetapi perihal bagaimana kedua tokoh utama dalam cerita “tampak nyata” atau “layak mendapat simpati” , dan bagaimana mereka mendapatkan kebahagiaan di akhir cerita dengan menerima perubahan. Artinya, kedua tokoh tersebut benar-benar terbebas dari kungkuman konteks, seperti, situasi kolonial, dan hanya dinilai berdasarkan hubungan emosi satu sama lain. Kekacauan politik di dunia luar, ketelitian sistem kelas yang diamati sistem kolonial, kontras antara kekayaan dan kemiskinan, tidak hadir dalam makalah-makalah mereka. Seperti yang dituliskan seorang mahasiswa, kesimpulan ceritanya adalah “Pasangan sempurna berjalan ke arah matahari tenggelam, masing-masing merasa bahagia mendapati mereka berdua terlepas dari masalah sepanjang hidup, kebersamaan dan keleluasaan pada akhirnya menghinggapi sebuah hubungan.” Bagi yang lainya, mereka menyimbolkan “kecemasan dan harapan kemanusiaan...permasalahan umum antara menghadapai atau tidak menghadapi kenyataan.”
Saya sangat terkejut dengan kemampuan mahasiswa-mahasiswa saya menjauhkan diri mereka dari dampak-dampak menggelisahkan dari penafsiran saya dan mencurahkan perhatian mereka pada karangan tentang “kecemasan dan harapan kemanusiaan,” dan generalisasi lainya seperti perubahan, masyarakat, nilai-nilai, kenyataan, dsb. Saya menyadari generalisasi-generalisasi ini ideologis. Generalisasi-generalisasi ini memungkinkan mahasiswa-mahasiswa saya mampu menghapuskan perbedaan antara birokrat Inggris dan pedagang Inggris, antara penjajahan kulit putih dan kulit hitam, dan antara kulit hitam yang kaya dan kulit hitam yang miskin. Generalisasi-generalisasi itu memungkinkan mereka dapat percaya semua manusia dihadapkan pada dilema-dilema yang mirip dengan yang dihadapi kedua tokoh dalam cerita tersebut.
Terimakasih pada Kenneth Burke, saya tahu dalih tersirat dari retorika, seni berbicara, generalisasi-generalisasi seperti “kemanusiaan”, makalah-makalah mahasiswa-mahasiswa saya memaksa saya merasa sangat-sangat sadar tujuan-tujuan ideologis mereka. Saya melihat generalisasi-generalisasi tersebut membantu kami menerjemahkan dunia ke dalam idiom kita dengan menghapus keambiguan-keambiguan dan kebenaran-kebenaran menyakitkan di dalam keretakan-keretakan dunia. Generalisasi-generalisasi tersebut memaksa kami mengabaikan fakta bahwa masyarakat bukanlah pengelompokan yang sama tetapi berbagai macam penggolongan kelompok-kelompok  tempat kita termasuk salah satu himpunan tertentu yang dipanggil “kami,” sebagai lawan dari golongan atau golongan-golongan lain yang kita bedakan sebagai “mereka.”   
Hikmah paling menyakitkan terjadi saat saya menyadari sumber kosa kata mahasiwa-mahasiswa saya. Analisa mereka, saya menyadari, ada dalam zaman-tradisi terhormat dari kritik sejenisnya yang menghadirkan karya-karya sastra sebagai “universal.” Ujian karya sastra besar, menurut tradisi ini, selain kekhususanya, adalah pesannya pada semua zaman dan semua masyarakat. Seperti yang dicatat Brenth Harold, “sangat jarang ada diskusi sastra yang tidak benar-benar bergantung pada “kita” (berarti umat manusia) yang universal, pada “kondisi manusia,” “kesedihan manusia modern,” “manusia absurd” dan abstraksi-abstraksi penyaman lainya yang mengaburkan para penggunanya pada landasan sosial tertentu pikiran mereka sendiri...” (Harold 1972:201).
Maka, semua konflik dihilangkan dengan bantuan “kita” yang universal, apa yang tertinggal bagi kita selain “perasaan” dan “pengalaman” tokoh-tokoh individu? Pertanyaan-pertanyaan dalam kumpulan cerpen tersebut mencerminkan hal itu. Ketika pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak berlandaskan permasalahan-permasalahan teknik-tempat orang dapat memilih alur permasalahan-permasalaan seperti itu -pertanyaan-pertanyaan tersebut menanyakan para mahasiswa apakah karakter seperti ini dan itu layak mendapatkan simpati kita, atau apakah karakter ini dan itu mengalami perubahan, atau, dengan kata lain, sebuah inisisasi. Seperti komentar Richard Ohman:
Mahasiswa fokus ke satu tokoh, ke sikap si penyair, pada perjuangan pemahaman individu namun sangat jarang, jikapun pernah, pada kekuatan-kekuatan sosial yang dimunculkan dalam setiap babak dramatis dan hampir setiap bentangan narasi dalam fiksi. Kekuasaan, kelas, budaya, tatanan dan kekacauan sosial-bahan baku sastra ini benar-benar tidak dipertimbangkan dalam kumpulan-kumpulan tugas analisis bagi Penempatan Tingkat Lanjut para kandidat. (1976:59-60)

Bukannya menghadapi kenyataan-kenyataan “kekuasaan, kelas, tatanan dan kekacauan sosial,” para kritikus sastra dan penyunting kumpulan karya sastra bersembunyi di belakang kosa-kata universalis yang hanya mengkaburkan hakikat sebenarnya dari kenyataan. Contohnya, pengantar penyunting untuk “The Perfume Sea” menganggap cerita itu dalam ranah kategori yang seharusnya universal dan abadi:
Di sinilah momen penting dalam sejarah manusia dilihat dari dalam salon kecantikan dan disadari dalam hal “gelombang permanen.” Namun saat kesombongan feminim dihadirkan sebagai satu-satunya elemen yang tak berubah di dalam dunia yang berubah, Mrs. Laurence, karena segala keringan tangananya, tidak “bermain-main dengan” orang-orang Afrika maupun Eropa. Dalam membaca cerita ini, menggali lapisan yang lebih dalam dari kecemasan manusia dan harapan di bawah kulit kegembiraan. (Ross dan Stevens 1988:201)

Walaupun “sebuah momen mendesak dalam sejarah” diakui penting di sini, pengakuan tersebut hanyalah untuk menunjuk apa yang diangap tak berubah: hal sangat kabur yang disebut “kesombongan feminim.” Istilah itu menjalankan fungsi menggapai harapan identifikasi antara semua perempuan kulit putih dan semua perempuan kulit hitam, tanpa menganggap batasan-batasan ras dan kelas sosial. Perintah untuk menggali “lapisan yang lebih dalam dari kecemasan manusia dan harapan”- perintah yang oleh mahasiswa-mahasiswa saya ambil dengan lebih serius daripada tafsiran alternatif pengajar mereka - bekerja untuk menyisihkan dengan efektif anggapan-anggapan kenyataan-kenyataan sosial-politik yang mencemaskan.
Proses ini menghasilkan penyebar luasan apa yang Ohmann sebut “saringan memandang sastra” (63). Bahkan karya sastra paling provokatif, jika dilihat dari sudut pandang seperti tadi, menjadikan isi pembangkangannya tidak ada. Setelah perlakuan tersebut, seperti yang dikatakan Ohmann, “perlakuan itutidak akan menyebabkan masalah apapun bagi orang-orang yang menjalankan sekolah-sekolah atau kampus-kampus, bagi kompleks industri militer, atau siapapun yang memegang kuasa. Perlakuan itu hanya melestarikan kenestapaan mereka yang tak kuasa” (61)
Maka kritikus-penyunting berfungsi sebagai pengkebiri. Dia memastikan pikiran-pikiran kaum muda tidak akan mendapatkan pengetahuan apapun juga perihal bagaimana masyarakat kita sebenarnya berjalan dan bagaimana sastra mengambil peran di dalam masyarakat. Alih-alih menjelaskan hubungan-hubungan ini, kritikus-penyunting itu menjejali mahasiswa kosa kata yang berpura-bepura bahwa semua umat manusia dan institusi-institusinya belum berubah sedikitpun sepanjang jalannya sejarah, bahwa mereka semua menghadapi permasalahan yang sama sebagai umat manusia...
Pastinya, sastra lebih dari sekedar bentuk? Bagaimana dengan pertanyaan-pertanyaan menyangkut ideologi dan kelas sosial pengarangnya, peran dan ideologi pelanggan dan penyebar sastra, peran sastra sebagai institusi sosial, dan, akhirnya, peran kritikus-penyunting sastra sebagai perantara nilai-nilai sosial dan budaya dominan? Apakah pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak memiliki tempat dalam pertimbangan-pertimbangan mendalam profesi kita?

1                                Kurtz dalam The Heart of Darkness, sebuah novel karya Joseph Concard, yang disebut Achebe sebagai “bajingan rasis”, “adalah pedagan gading, dikirim oleh perusahaan Belgia ke pedalaman Negara Bebas Kongo. Dengan bantuan teknologi yang lebih unggul, Kurtz menjadikan dirinya sosok karismatik setengah-dewa di antara suku-suku sekitar pangkalanya, dan mengumpulkan banyak gading dengan cara ini.....Ibunya setengah-Inggris, ayahnya setengah-Prancis dan maka “Semua bangsa Eropa menyumbang pada penciptaan Kurtz” (http://en.wikipedia.org/wiki/Kurtz_%28Heart_of_Darkness%29)