I
DPR 11 mei
Ada Aksi massa sekaligus Dua
Mahasiwa Protes seperti biasa
dan Petani Sukamulya
lima ribu orang tuntut tanah mereka
yang dirampas Angkatan Udara
seribut hektar, banyak bukan kepalang
Ini luar biasa gila!
Ada juga tiga partai gurem
Tolak pembangunan gedung, Katanya
Ada Pansus bahas RUU Pengadaan Tanah untuk Pembangunan
dan usulkan Polisi tegas saja pada warga
supaya negara maju
dan kata “tegas” terdengar begitu sadis di telinga
karena telinga hati mendengar kata “bantai saja”
Walau itu-itu saja
Agak Luar Biasa
II
Jangan Dulu Beli Buku
Ada Satu buku ingin kubeli
Naga Bumi Satu
Harga lebih dari seratus ribu
mau gimana?
Akses ke perpus tak ada
Teman di sini tak ada yang punya
Tapi, mulut sepatu teriak-teriak merana
diajak jalan nyaris tidak bisa
Beli sepatu dulu saja
Belum bisa baca itu buku, terpaksa
Blogi ini berisi tulisan2 saya dan tulisan2 yang saya anggap perlu serta menghibur untuk dikumpulkan. Dalam tulisan biasanya ditandai tulisan milik siapa.
Kamis, 27 Oktober 2011
dua puisi, I feel Guilty dan Tak Terbagi
I Feel Guilty
by Guruh Dwi Rianto on Friday, May 20, 2011 at 2:15am
I feel guilty
From working in a metropolis, in a city
In the capital of my country
In this horrible discrepancy
of wonderful modern facilities
between city and villages!
I feel guilty
From prolonging
What I think is wrong
but, what can I do?
My peers are gone
From my hometown
I cannot stand alone
And that eases my guilty
Sorry,
Tak Terbagi
Andai Saja
Bagi kau,
Yang setiap hari hidupmu pasti
Paling tidak setiap ada nasi
Pernahkan kau bingung,
Hingga linglung,
Besok makan apa?
Sekarang tidak ada uang atau apapun
Buat makan dua tiga hari lagi
Bahkan buat esok hari
Atau mungkin makan nanti
Dan jika saja bisa
Ingin rasanya engkau bisa mengerti
Agar kau tahu bersimpati
Tapi perasan ini tak terbagi
Gedung Tipikor, 18 mei 2011
by Guruh Dwi Rianto on Friday, May 20, 2011 at 2:15am
I feel guilty
From working in a metropolis, in a city
In the capital of my country
In this horrible discrepancy
of wonderful modern facilities
between city and villages!
I feel guilty
From prolonging
What I think is wrong
but, what can I do?
My peers are gone
From my hometown
I cannot stand alone
And that eases my guilty
Sorry,
Tak Terbagi
Andai Saja
Bagi kau,
Yang setiap hari hidupmu pasti
Paling tidak setiap ada nasi
Pernahkan kau bingung,
Hingga linglung,
Besok makan apa?
Sekarang tidak ada uang atau apapun
Buat makan dua tiga hari lagi
Bahkan buat esok hari
Atau mungkin makan nanti
Dan jika saja bisa
Ingin rasanya engkau bisa mengerti
Agar kau tahu bersimpati
Tapi perasan ini tak terbagi
Gedung Tipikor, 18 mei 2011
Kasihan anak muda urban
by Guruh Dwi Rianto on Thursday, May 26, 2011
Kasihan
Anak-anak muda urban
yang hanya tau mengolok-olok buat tertawa
yang selalu saja
minta dibayari setelah makan bersama
tapi tidak bosan-bosan juga
dan, ketawa juga!
kasihan.
Saya kasihan,
pada orang-orang urban
yang selalu perlu berbelanja
agar dapat diterima sesama
yang gayanya dan hidupnya
ya, itu-itu saja
tapi merasa diri paling unik sedunia
saya kasihan,
walau, mereka juga mengatakan pada saya
kasihan deh lu
dasar katrok
Kasihan
Anak-anak muda urban
yang hanya tau mengolok-olok buat tertawa
yang selalu saja
minta dibayari setelah makan bersama
tapi tidak bosan-bosan juga
dan, ketawa juga!
kasihan.
Saya kasihan,
pada orang-orang urban
yang selalu perlu berbelanja
agar dapat diterima sesama
yang gayanya dan hidupnya
ya, itu-itu saja
tapi merasa diri paling unik sedunia
saya kasihan,
walau, mereka juga mengatakan pada saya
kasihan deh lu
dasar katrok
Di Tengah Kemacetan
Di tengah kemacetan
Di bawah sorot terik mentari
Didekap udara pengap
Dalam gaung bunyi klakson melengking
Dari kendaraan orang-orang
yang merasa hidup terburu-buru
dan waktu cepat berlalu
Dan aku pun merasa begitu
Tiba-tiba aku melihat
Seorang tua melangkah
Dan tiba-tiba dia memperlambat jalan
Hingga berhenti di pinggiran
Aku bertanya heran, untuk apa?
Mengapa berhenti di tengah-tengah kemacetan
Yang begitu bising dan panasnya?
Bukankah semua orang ingin momen ini segera berlalu
Ternyata dia memungut bunga
Berwarna merah dan tampak sangat indah
Senyuman merekah di wajahnya
Dan aku merasa
waktu mendadak berjalan…..begitu pelan
Guruh Dwi Rianto on Saturday, June 4, 2011
Di bawah sorot terik mentari
Didekap udara pengap
Dalam gaung bunyi klakson melengking
Dari kendaraan orang-orang
yang merasa hidup terburu-buru
dan waktu cepat berlalu
Dan aku pun merasa begitu
Tiba-tiba aku melihat
Seorang tua melangkah
Dan tiba-tiba dia memperlambat jalan
Hingga berhenti di pinggiran
Aku bertanya heran, untuk apa?
Mengapa berhenti di tengah-tengah kemacetan
Yang begitu bising dan panasnya?
Bukankah semua orang ingin momen ini segera berlalu
Ternyata dia memungut bunga
Berwarna merah dan tampak sangat indah
Senyuman merekah di wajahnya
Dan aku merasa
waktu mendadak berjalan…..begitu pelan
Guruh Dwi Rianto on Saturday, June 4, 2011
Langganan:
Komentar (Atom)