Blogi ini berisi tulisan2 saya dan tulisan2 yang saya anggap perlu serta menghibur untuk dikumpulkan. Dalam tulisan biasanya ditandai tulisan milik siapa.
Selasa, 19 Januari 2016
Lelucon singkat
Instant mood booster..... Refresh otak sejenak
1). Bang..., lagi ngapain..?
- : Ngegambar
+ : Ngegambar apee...?
- : Segitiga ama kaki...
+ : Hebat loe bang..., gue ngegambar segitiga sama
tangan aje suseh....
2). Bang..., bener di sini cuci mobil 24 jam....?
- : Bener mas....
+ : Gak jadi aahhh...!
- : Lhaahh..., kenapa emang...???
+ : Abis..., nyuci-nye lama amat ampe 24jam...!!, di-mane-mane juga gak sampe 1 jam keleeeus.....??!!!
3). DITILANG POLISI
+ : Mana surat-suratmu....??!
- : Maaf pak..., saya sekarang udah gak pake surat..,
saya sekarang pake email..
+ : ".....????...."
4). MIMPI
+ : Gue mimpi dikejar-kejar anjing....
- : Udah-lahh...., cuma mimpi.., ayo tidur lagi...!
+ : Gak mau...!
- : Kenape....???!
+ : Takut anjing-nya masih nungguin....
5). NANYA ALAMAT
+ : Neng..., tinggal di-mana....???
- : Di-rumah bang...
+ : Bukan itu..., maksud-nya rumah-nya dimana...???
- : Ya di-tinggal-lah bang...!, masa saya bawa..
7). NASI GORENG
+ : Bang..., nasi goreng sepiring berapa....??
- : Waduh Neng...., gak pernah saya itung tuh nasinya....??!
+ : "....???😮...."
8). Otong : ngapa tampang lo bro? Kusut amat..?
Udin : pusing gw sob.. Kartu ATM gw ketelen..
Otong : Haah..??? Nih.. Buru2 minum aer putih yg banyak bro.. Biar kagak seret..!
Udin : 😤
9). Udin, coba ceritakan sejarah soekarno | Gak ah pak | Loh,knp? | Kata kakek saya, gak baik ngomongin org yg sudah meningga
Kamis, 07 Januari 2016
Cara Pandang Khas Indonesia terhadap Politik
Herbeth
Feith melihat ada setidaknya tiga ciri
umum cara pandang khas Indonesia pada periode 1945-1965. Ciri itu berada dari
berbagai generasi. “Ditinjau dari perspektif kami, pemikiran politik dalam
periode yang sedang kita bahas bersifat moralis, bercirikan kecenderungan untuk
melihat masyarakat sebagai tidak berbeda-beda dan pemikiran ini bersifat
optimis,” (Feith, 1988, hal LX)
Pertama, Feith menyebutkan,
moralitas merasuk dalam semua aspek politik. Akibatnya, pemikiran politik
Indonesia banyak menakar mutu moral para pelakunya. Dengan kata lain, sorotan
terhadap moral pelaku politik sering menjadi yang utama. “Apakah mereka
beritikad baik atau haus akan kekuasaan? Pemberani atau pengecutkah? Bjiaksana
atau bodohkan? Bersifat patriotkah atau memikirkan kepentingan diri sendiri
belaka?” tulis Feith meniru pertanyaan-pertanyaan dari segi moral.
Sebaliknya, sisi-sisi politik
sebagai sebuah sistem terbatas seolah-oleh tidak muncul dalam permukaan. “politik
jarang dianggap sebagai suatu bidang di mana banyak terdapat paradox dan mesin
yang bercirikan proses-proses, dengan individu-individu yang sedikit banyak
dibatasi untuk melakukan peranan tertentu (Feith, 1988, hal IX).”
Bahkan ketika muncul pandangan
tentang politik yang menekankan segi institusi dan sistem, unsur moral tetap
mewarnai kajian-kajian para pemikir tersebut. Analisa terhadap hal yang
bersifat sistemik sering berkelindan dengan kualitas moral pelaku politik. Dalam
antologi Feith, kritikan-kritikan terhadap mutu moral lawan kerap mendominasi
argument-argumen polemik politik.
Mohammad Natsir dalam Kelesuan dan Pamer Kemegahan yang Semu contohnya,
menyalahkan penurunan mutu moral sebagai penyebab lambannya pembangunan setelah
kemerdekaan. “Semua orang menghitung pengurbannannya dan mita dihargai. Senga
ditonjol-tonjolkan ke muka apa yang telah dikurbankannya itu dan menuntut supaya
dihargai oleh masyarakat (Feith, 1988, hal 1952).” Contoh gamblang lain adalah
tulisan pada hari pahlawan 1951 yang diduga kuat ditulis oleh T.B.Simatupang.
Ia mengkritik rendahnya mutu moral para pemimpin politik yang berakibat pada
krisis politik. “Sampai sekarang golongan-golongan yang berkewajiban untuk
memberi pimpinan kepada perkembangan pimpinan kepada perekmbangangan bangsa kita
tidak selalu menunjukan kseungguhan yang sebesar-besarnya (Feith, 1988, hal 44).”
Dominasi pemikiran normatif juga
mengakibatkan minim muncul pemikiran yang berbau teknis. “Pemikiran mengenai apa yang seharusnya dilakukan memenuhi
perhatian orang hampir sebagai satu-satunya pemikiran; jarang ada pemikir
politik yang mempertanyakan bagaimana, untuk
mencari cara-cara efektif mengatasi tugas tertentu,” (Feith, 1988, hal lxi)
Diktum ini terbukti dengan sedikitnya pemikir seperti Muhammad Hatta yang dalam
pemikiran politiknya memaparkan cara mencapai sebuah tujuan. Hatta mengkritik
Soekarno sebagai pemikir politik yang sekedar memikirkan tujuan, tanpa teknis
bagaimana mencapai tujuan itu. “Hal-hal yang mengenai detail, yang mungkin
menyangkut dan menentukan dalam pelaksanaaannnya, tidak dihidaruakan. Sebab
itu, ia sering mencapai yang sebaliknya dari yang ditujunya,” sebut Hatta (Feith,
1988, hal 127)
Singkatnya, banyak pemikir
politik Indonesia mengutamakan moral. Dengan begitu, seolah-olah memiliki
pemimpin dengan mutu moral super merupakan penyelesaian terhadap permasalahan
politik.
Kedua, pemikian politik
Indonesia cenderung melihat rakyat sebagai kelompok homogen atau satu kesatuan.
Pemedaan yang muncul adalah antara rakyat dan pemimpin, bukan antara rakyat
dengan rakyat itu sendiri. Konflik-konflik yang terjadi di antara para pemimpin
seolah-olah tidak mencerminkan pengelompokan dan konflik dalam masyarakat. “Sekedar
perhatian diberikan kepada konflik antara partai dan kelompok-kelompok
ideologis dan kepada konflik antar generasi, tetapi sedikit sekali kepada
konflik antargolongan etnis dan boleh dikatakan sama sekali tidak kepada
pertentangan kelas, kecuali di kalangan kamu komunis,” tulis Feith.
Akibat menganggap rakyat
sebagai homogen, para pemimpin berlomba-lomba mengklaim mewakiliki kepentingan
rakyat secara umum tersebut. Mewakili sekelompok kepentingan dalam politik
dianggap sebagai tabu dan seolah-olah tindakan menguntungkan diri sendiri.
Akibatnya, tidak ada perhatian diberikan kepada individu seperti dalam alam
pemikiran politik barat. Feith melihat akar pemikiran ini terletak pada alam
pikir tradisional jawa dan tradisi besar nusantara tentang konsep harmoni.
Kalangan komunis mungkin
menjadi satu dari sedikit kelompok masyarakat yang menekankan pembedaan klas
dalam satu masyarakat. Pengertian Rakyat dalam istilah mereka dengan sengaja
menekankan sebagai kelompok terhisap. Sementara, kelompok penghisap tidak
dimasukan dalam kategori rakyat.
Ketiga, pikiran politik
Indonesia memiliki nuansa optimisme. Dalam optimisme, terdapat dua ciri yaitu
progresivisme dan voluntarisme. “Ada kesan bahwa banyak pemikir dalam buku ini,
sangat yakin akan masa depan negara mereka. Jauh lebih yakin daripada orang
barat yang mengamati keadaan Indonesia waktu itu (Feith, 1988, hal lxii)”. Para
pemikir mengasumsikan tugas mereka salah satunya adalah mencegah kemerosotan
moral melalui nada optimisme dalam tulisan mereka.
Aspek optimisme ini terwujud
dalam dua hal, pertama adalah voluntarisme. Artinya, semua masalah dapat
tercapai dengan modal pikiran jernih, itikad baik dan solidaritas persaudaraan.
Wujud kedua adalah progrevisime
di mana laju sejarah dianggap sebagai terus menjanjak sebagaimana telah
ditakdirkan. Indonesia dianggap tengah berada dalam masyarakat yang berubah
dari segala yang dianggap dampak buruk kolonialisme ke dalam masyarakat baru
yang meredeka dengan berbagai sifat baik.
Langganan:
Komentar (Atom)