Politik, Liputan, Humor, Budaya

Senin, 23 Juli 2012

Buruh Migran Rentan Tertular HIV/Aids



Pekerja migran menunggu pemeriksaan
Pekerja migran menunggu pemeriksaan
Buruh migran  rentan tertular virus HIV/Aids. Minimnya pengetahuan TKI dan perilaku seks tak aman diantara  faktor  pemicu penyebaran penyakit mematikan itu.  Situasi ini diperparah dengan belum maksimalnya perlindungan dan pendampingan kepada mereka yang positif HIV/Aids. Akibatnya beberapa ODHA, mesti meregang nyawa. Belum lagi diskriminasi terkait pekerjaan yang mesti mereka terima.
Sore itu, Saturi dan Yuni tengah berkemas. Saat ditemui KBR68H kedua Tenaga Kerja Indonesia tersebut, siap  terbang dari  Jakarta menuju Abu Dhabi, Arab Saudi. Di sana mereka akan  mencari peruntungan, mengais  rezeki untuk keluarga. Sambil menutup risleting tasnya, perempuan tiga puluh tahunan itu  menunjukan barang bawaannya. “Bawa baju doang, sama (buku) Yasin, buku agenda dan mukena. Bawaan Yuni juga hampir sama. Itu saja,” tuturnya.
Keduanya  mencari nafkah di negeri orang untuk menafkahi keluarga mereka. “Mau cari uang buat sesuatu yag baru,” kata Yuni. “Kalau aku untuk bayar anak sekolah. Anakku empat. Dulu saya jualan nasi. Sekarang saya tidak kerja. Sementara suami, bekerja di tambang emas. Tapi sekarang sudah tutup. Sekarang tidak ada penghasilan,” imbuh Saturi.
Sebelum berangkat, sejumlah pelatihan terkait pekerjaan dan penyuluhan kesehatan  sudah mereka terima. Baik dari Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia(PJTKI) sampai Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI).
Formulir permintaan tes HIV dari negara penerima pekerja migran
Formulir permintaan tes HIV dari negara penerima pekerja migran
Bagaimana pemahaman mereka tentang HIV/Aids? “KBR68H: Ada pembelajaran tentang kesehatan?   Saturi: Penyakit aids. Jangan bermain seksual.  KBR68H: Berapa lama? Saturi: Dari jam 3-4. Bedanya HIV dan AIDS? Lupa.  Orang kena HIV bisa kerja? Tidak. Gelas yang dipakai bersama bisa menularkan? Nggak, eh, Bisa, makanya perlu direndam dengan air panas dulu.”
Mitos HIV/Aids
Benarkah pemahaman mereka tentang  virus mematikan tersebut?  Kelompok Kerja Komisi Penanggulangan AIDS untuk Pekerja Migran, Pandu Riono menjawab:  Tidak !  “HIV menular melalui gelas yang sama? Salah. Jika terkena hiv tak bisa bekerja, apakah itu benar? Salah, itu juga mitos, HIV mati juga salah. Minimal mereka harus tahu, gak bisa satu atau dua jam. Mungkin seharian, diberi penjelasan dan diskusi yang cukup lebar. Cerita-cerita sederhana, bukan hanya teori,”jelas Pandu.
Pemahaman yang minim seputar HIV/Aids, membuat para pahlawan devisa itu  rentan terpapar virus,  saat  mereka bekerja di negeri orang.
Hubungan seks yang tidak aman kata  Kepala BNP2TKI  Jumhur Hidayat, salah satu pemicunya. “Lebih banyak yang terkena HIV di luar negeri. Terutama laki-laki. Setelah bekerja, pulang dan diperiksa, ada yang terkena HIV. Ada istilah 4 M:  Man, Mobile, Macho with Money. Laki-laki, berpindah, jantan, punya hasrat yang kuat terhadap perempuan, with money, punya uang juga,” katanya seraya tersenyum.
Kepala BNP2TKI Jumhur Hidayat
Kepala BNP2TKI Jumhur Hidayat
BNP2TKI  mengaku belum memiliki data pasti berapa TKI  yang  positif  HIV/Aids.  “Klinik atau pemeriksaan kesehatan tidak sepenuhnya memberikan data itu. Justru mereka tidak melaporkan secara rinci angka-angkanya. Karena masih ada semacam ketakutan atau tabu memberi laporan tentang HIV ini,” tambahnya.
Sekadar gambaran saja  di Jawa Tengah kasus TKI yang  terpapar virus HIV/Aids mencapai lebih dari 140 kasus.  Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah Anung Sugihantono “Menurut laporan BP3TKI pada saat bertemu dengan kami bersama salah satu LSM. Dari sekitar 105 ribuan TKI kita yang hand out pada 2011 itu ditemukan 145 yang positif HIV/AIDS, ini yang harus kita pahami sebagai satu warning untuk kita semua melakukan sesuatu,” jelasnya.
Yang tercatat di Jawa Timur lebih mengerikan. Pada tahun lalu saja, 320 pekerja migran asal provinsi itu  terpapar  HIV. Sementara  LSM Caring for Migrant Workers, melaporkan sejak 2010 mereka menerima lebih dari 50 kasus AIDS. Mereka adalah pekerja migran  yang terdeportasi dari negeri jiran Malaysia.
Tes Kesehatan
Sejumlah upaya untuk mengerem pertumbuhan kasus HIV/Aids digelar. Misalnya dilakukan tes kesehatan. KBR68H mengunjungi sebuah klinik kesehatan di  Jakarta.Puluhan calon pekerja migrant tengah antri  memeriksa kesehatan.  Salah satunya adalah Iwan. Bekas nelayan asal Cirebon, Jawa Barat ini akan bekerja di Taiwan. “Mau cek kesehatan buang air besar, kencing, ambil darah juga. Penyakit apa saja yang mau dicek? Penyakit apa aja. Pernah dikasih tau kalau di sini ada tes HIV juga? Nggak tahu. Baru kali ini,” akunya.
Direktur Amalia Medical Center Zainal Muhammad
Direktur Amalia Medical Center Zainal Muhammad
Tampaknya Iwan kurang memperhatikan, dalam formulir pemeriksaan yang telah ia tanda tangani, terdapat surat pernyataan, “Saya mengizinkan pemeriksaan HIV atas diri saya”. Padahal, menurut standar Badan Kesehatan Dunia, tes HIV mesti sukarela dan melalui proses konseling. Hasilnyapun hanya boleh diketahui pasien.
Desakan negara-negara penerima pekerja migran menjadi alasan tes paksa ini. Kepala BNP2TKI Jumhur Hidayat menjelaskan, “Pemeriksaan itu diberitahukan Fit atau unfit aja. Tidak diberitahukan pada yang bersangkutan dia terkena HIV. Karena tenaga kerja mesnyaratkan tenaga kerja yang ke luar negeri harus diperiksa HIV. Itu keinginan mereka utuk diperiksa ke luar negeri. Sehingga tidak ada yang dilanggar karena ini rahasia. Sehingga mereka tidak membuka data.”
Namun kewajiban tes HIV ini ditentang berbagai kalangan, salah satunya Organisasi Buruh Internasional (ILO). Petugas Program Hiv dan Aids ILO, Risya Ariyani Kori berpendapat, tes kesehatan itu akan memicu  diskriminasi pekerjaan para  pekerja yang positif HIV/Aids. Sumber dari masalah ini kata  Risya  ada di Undang-Undang  tentang TKI.  “Undang-undang sendiri yang paling pasti, mereka mengharuskan pemeriksaan kesehatan, termasuk HIV dan AIDS. Dan kita tahu sekali mandatori testing ini sangat rentan membuat buruh migrant terdiskriminasi. Bukannya ini malah membantu, dan ILO sama sekali tidak mendukung itu,” ungkapnya.
Minim Pendampingan
KBR68H menemui bekas pekerja migran Baby Rivona. Kini ia menjadi Koordinator Ikatan Perempuan Positif Indonesia. Baby  dideportasi dari Malaysia karena terkena HIV pada 2002. “Karena satu tahun kemudian setelah saya berangkat, saya harus memperpanjang visa kerja. Kontrak dua tahun, memperpanjang visa kerja satu tahun sekali. Maka, saya meakukan medical tes lagi di Malaysia. Apakah itu kewajiban? Di beberapa negara iya. Saya langsung dipulangkan karena itu menjadi kebijakan mereka. Tidak boleh ada pekerja yang HIV positif,” ungkapnya.
Ketua IPPI Baby Rivona,(Foto sumber Radar Lampung)
Ketua IPPI Baby Rivona,(Foto sumber Radar Lampung)
“Saya kehilangan pekerjaan saya. Padahal saya belum habis kontrak.Masih ada satu tahun lagi kontrak saya. Yang disayangkan lagi saya belum terima duit banyak juga karena dipotong gaji selama beberapa bulan. Jadi betul-betul apes. Dan setelah pulang juga, saya tidak tahu mesti ngapain,” tuturnya.
Analis Kebijakan LSM Migrant Care Wahyu Susilo membenarkan para pekerja migrant rentan tertular virus HIV/Aids. “Buruh migran kita yang berada di luar negeri terjebak dalam sindikat perdagangan manusia. Apalagi mereka terjebak sebagai perempuan yang dilacurkan. Itu yang menurut saya kelompok yang paling rentan,” jelasnya.
Sebut saja namanya Mei-Mei, ia salah seorang korban perdagangan manusia. Mengaku sempat dijual mucikari ke Malaysia.  Namun ia  berhasil kabur.
Didampingi sebuah lembaga swadaya masyarakat, perempuan ini melakukan tes HIV. Hasilnya positif. Untunglah ia mendapat pendampingan informasi dari lembaga non pemerintah. “Belum, Cuma  saya masih ingat, pendamping saya waktu itu, mbak Ika, yang mengantar saya pulang sampai Semarang, dipertemukan oleh koordinator kelompok dukungan sebaya di Salatiga. Akses berikutnya saya mencari informasi ya dari kelompok dukungan sebaya di salatiga itu,” kata Mei-Mei.
Analis kebijakan Migran Care, Wahyu Susilo
Analis kebijakan Migran Care, Wahyu Susilo
Tak semua TKI  yang terkena virus HIV/Aids  beruntung seperti Mei-Mei. Akibat tak ada pendampingan kesehatan, tak jarang di antara mereka mesti meregang nyawa. Bahkan banyak pekerja migrant yang baru terdeteksi terkena aids, setelah meninggal . Kembali Wahyu Susilo, “Biasanya yang kita sering kordinasi dengan teman-teman, ada kasus pada HIV/Aids ditemukan kebanyakan saat meninggal dunia. Saya kira kuncinya pada minimnya informasi mengenai perlunya seseorang yang dari mobilitas yang jauh memeriksakan kesehatan. Terutama pada buruh migran.”
Kondisi ini diperparah dengan posedur penanganan kasus HIV/Aids  di kalangan pekerja migrant yang tidak jelas.  Hal itu dibenarkan Direktur Amalia Medical Center Zainal Muhammad. “Kita tetap mengikuti standar, dalam arti kita memberikan unfit, dalam arti tidak layak, untuk bekerja di luar negeri, tanpa sebab. Nah, sebabnya itu sendiri hanya bisa dia tanya melakui lisan. 15% tadi tidak semuanya mempertanyakan. Katakanlah 5%. Biasanya dia pulang begitu saja karena merasa diri. Kasusnya hiv di sini mungkin bisa 1 di antara seribu orang,” jelasnya.
Zainal menambahkan,”Dari mereka asalnya harus diberikan oleh pemerintah. Sehingga kalau kedapatan suspect tadi dengan pemeriksaan detail lebih lanjut, mau diapakan? Apakah orang ini dimasukan ke dalam, semacam diawasi? Diobati? Direkomendasikan dibawa ke mana-kemana sampai sekarang belum ada? Kalo ada sosialisasi diperlukan.”
Sistem Kesehatan Terpadu
Kelompok Kerja Pekerja Migrant dari Komisi Penanggulangan AIDS Pandu Riono melacak, akar penyebab karut-marutnya persoalan ini akibat tidak adanya  sistem penanganan kesehatan yang terpadu. “Kalau mereka melakukan koordinasi dengan benar, tahu apa yang dilakukan, ya, karena uang banyak karena uang banyak mereka melupakan fungsi-fungsi dasar. Hasil eksternal review dari WHO di Indonesia ada dualisme penanganan HIV/Aids. Yang satu dipimpin KPA yang satu dipimpin Kemenkes. Dan ini saling bertolak belakang, sehingga tidak terjadi koordinasi,” kata Pandu.
Peluang untuk mengatasi masalah ini terbuka, pasca DPR meratifikasi konvensi Organisasi Pekerja Internasional .  Upaya itu mesti diimbangi lewat  revisi Undang-Undang  TKI, kata  Ketua Panitia Kerja UU itu, Irgan Chairul Mahfiz. “Bukan hanya persoalan kesehatan saja yang kita masukan, seluruh hak-hak normatif buruh harus mendapat perhatian. Peningkatan kesejahteraan dan perlindungannya harus jadi perhatian. Jadi ratifikasi konvesi ilu ini dalam rangka pemenuhan hak-hak normatif.”
Langkah lainnya dengan membentuk badan baru. “Kalau BNP2TKI itu kan badan nasional penempatan dan perlindungan. Kita ingin badan perlindungan. Perlindungan yang kita kedepankan. Ini rekomendasi dpr ke pemerintah kita ingin badan yang tidak tumpang tindih dengan Kementerian Tenaga kerja dan transmigrasi,” imbuh Irgan.
Namun sejumlah langkah di atas kertas itu kata  bekas pekerja migran yang terpapar virus HIV/Aids Baby Rivona akan sia-sia, jika praktik diskriminasi masih mereka terima.  KBR68H: Anda merasa ada hak-hak anda yang terlanggar? Pasti, karena saya merasa saya orang sehat dan tidak boleh bekerja. Kenapa saya tidak boleh bekerja? Hanya karena penyakit ini. Hingga saat ini, kita berjuang keras agar bisa orang HIV bisa kembali bekerja ke luar negeri, tapi tetap saja tak bisa, karena kebijakan negara itu tidak mengizinkan,” katanya lirih. (Gur|Fik)
(tulisan saya ini merupakan liputan feature radio, untuk mendengarkan versi radio, bisa berkunjung ke (http://kbr68h.com/saga/77-saga/29253-buruh-migran-rentan-tertular-hivaids )

Kwee Tek Hoay : Harta Terpendam Sastra Indonesia


KBR68H - Kesastraan Melayu Tionghoa sejak akhir abad 19 sudah mewarnai kesastraan Indonesia modern. Namun kurikulum nasional mengajarkan pembabakan sastra Indonesia modern dimulai dari Balai Pustaka pada 1920-an. Peneliti Prancis Claudine Salmon mencatat, selama hampir seabad, lebih dari 3000 karya dihasilkan sastrawan Melayu Tionghoa. Salah satu maestronya adalah Kwee Tek Hoay. Kwee tidak hanya menulis karya sastra, ia juga menulis di surat kabar, dan menulis sejarah serta agama. Bagaimana sepak terjang tokoh ini dan karya-karyanya? Berikut laporan reporter KBR68H Guruh Dwi Riyanto.
Sastrawan tak Dikenal
Drama Zonder Lentera karya Kwee Tek Hoay sedang dimainkan oleh Teater Bejana. Asisten Sutradara Hendra menceritakan naskah yang diterbitkan lebih 80 tahun lalu itu.
“Dan yang menarik dari Zonder Lentera itu, cerita soal masalah-masalah kecil yang melebar ke masalah-masalah besar. Jadi awalnya cuma gara-gara ada anak muda ditangkap karena naik sepeda tidak pakai lampu.”
Zonder Lentera adalah salah satu karya sastra Kwee Tek Hoay yang didramakan. Di antara karyanya yang lain adalah Nonton cap Gomeh, Drama di Boeven Digoel, Bunga Roos dari Tjikembang dan Roema Sekola jang Saja Impiken.
Kwee Tek Hoay lahir di Bogor, Jawa Barat pada 1886. Ia menjadi bagian dari arus kesasteraan melayu Tionghoa.
Pentas Drama Zonder Lentera (doc Teater Bejana)
Pentas Drama Zonder Lentera (doc Teater Bejana)
Dosen Sastra Universitas Indonesia Ibnu Wahyudi mengatakan, arus kesasteraan berbahasa melayu pasar ini lahir sejak akhir abad 19, sebelum Belanda mendirikan Blai Pustaka.
“Mulai munculnya penerbitan yang dimiliki para keturunan Tionghoa. Ada surat kabar, almanac dan sebagainya, di sela-selanya muncul puisi dan cerita bersambung.”
Peneliti Prancis Claudine Salmon mendokumentasikan, hingga 1960an lebih dari 3 ribu karya sastra diterbitkan kaum peranakan Tionghoa di Indonesia.
Kwee Tek Hoay berperan dominan di dalamnya, lanjut Ibnu Wahyudi.
“Memang karyanya paling banyak, jelas sekali kandungan isinya. Karya ia yang tercatat 115, mungkin lebih sebenarnya.”
Kwee Tek Hoay menghasilkan karya sebanyak itu tanpa mengenyam pendidikan tinggi, kata Sejarawan Tionghoa dari Yayasan Nabil Didi Kwartanada.
“Dia hanya pendidikan setingkat SD. Orang Tionghoa susah mendapat pendidikan yang cukup baik. Jadi Kwee Tek Hoay lebih sebagai orang yang belajar sendiri sehingga bisa mendapat banyak pengetahuan.”
Ibnu Wahyudi, Dosen Sastra UI
Ibnu Wahyudi, Dosen Sastra UI
Dalam kesehariannya, Kwee Tek Hoay adalah seorang jenaka dan berpandangan terbuka. Cicitnya, Susi Kohar mengenang.
“Orang yang lucu, pintar berkelakar. Dia sangat demokratis. Tidak seperti orang zaman dulu, yang tradisi minded. Dia sangat terbuka wawasannya. Apa yang baik dari barat dan timur diambil oleh almarhum KTH.
Kedua sifat itu muncul dalam sejumlah karyanya. Dalam karya drama Nonton Cap Go Meh, dengan gaya jenaka Kwee mengkritik kekolotan tradisi peranakan di Indonesia.
Alkisah pada 1930, ada pasangan suami istri baru dari keluarga Tionghoa, Thomas dan Lies. Thomas mengajak istrinya nonton Cap Gomeh, perayaan 15 hari setelah Hari Raya Imlek. Lies yang kolot menolak, tabu keluar bersama rombongan pria, teman-teman suaminya. Thomas kesal. Ia minta teman prianya, Franz menyamar menjadi perempuan dan menemaninya.
Lies mengira suaminya pergi dengan perempuan sungguhan. Terbakar cemburu, ia minta kerabat perempuannya menyamar menjadi pria dan menemaninya nonton Cap Gomeh. Gantian Thomas marah. Sesampai di rumah, mereka bertengkar dan akhirnya tertawa setelah mengetahui kenyataan sesungguhnya.
Sutradara Teater Bejana Daniel Jacob mengomentari lakon itu.
Susy Kohar, Cicit Kwee
Susy Kohar, Cicit Kwee
“Banci-banci yang di sini diwakili tokoh Franz. Banci yang kita lihat di televisi dan film biasanya cuman untuk lelucon, bodoh, dan lemah. Tapi di Nonton Cap Gomeh, dialah yang membuka kekolotan atau kritik.”
Gebrakan Kwee Tek Hoay juga muncul dalam sikapnya terhadap perempuan. Ia mendukung dan turut membidani kelahiran penulis perempuan peranakan melalui majalah Panorama dan Moestika Panorama. Ia memimpin dua majalah ini pada 1926 sampai 1932.
Pakar Kesasteraan Melayu Tionghoa, Myra Sidharta menceritakan.
“Dia khusus menyediakan beberapa halaman untuk karya-karya wanita. Jadi wanita-wanita itu mengirim tulisan pada dia. Dia mengkoreksi. Seperti kursus tertulis. Kalau sudah disetujui, dia muat dalam majalahnya. Sehingga perempuan-perempuan itu jadi terkenal juga.”
Pembelaan terhadap perempuan juga muncul dalam karya-karya lain Kwee, lanjut Myra.
“Dan dalam tulisan-tulisannya, ia juga banyak membela wanita. Misalnya perempuan-perempuan yang pernah menjadi PSK tapi belakangan bertobat. Dia ada beberapa tulisan mengenai hal itu.”
Putri sulungnya Kwee Yat Nio, merupakan bukti didikan Kwee Tek Hoay. Cicit Kwee, Susi Kohar mengenang aktivitas neneknya yang menjadi sastrawan dan jurnalis perempuan.
Daniel Jacob (kiri), Sutradara Teater Bejana dan Asistennya Hendra
Daniel Jacob (kiri), Sutradara Teater Bejana dan Asistennya Hendra
“Ngikutin kegiatan ayahnya. Dia ikut sejak masih remaja. Maka dia penerusnya Kwee Tek Hoay. Banyak membuat karya sastra dan penulisan di Maanblat Istri (media berbahasa Belanda –red) pada saat itu. Di seminar mewakili wanita bagaimana pemikiran-pemikiran dia.”
Kwee Tek Hoay tidak hanya menjadi penulis untuk golongan peranakan. Karyanya juga menjadi bagian dari catatan tentang gerakan Indonesia modern, kata sejarawan Tionghoa, Didi Kwartanada.
“Serial tulisan yang berjudul, Atsal Moelahnja Timboel Pergerakan Tionghoa Modern Pertama di Indonesia. Kwee Tek Hoay menceritakan suatu organisasi modern pertama Tionghoa yang pertama ada di Indonesia.  Ini sekolah dan gerakan Tionghoa Hwee Kwan pengaruhnya besar sekali. Seperti kepada Budi Utomo sedikit banyak dipengaruhi THHK. Tanpa warisan naskah ini, susah kita mencarinya.”
Ia pun berperan penting dalam kehidupan beragama masyarakat peranakan. Bersama teman-temannya, Kwee Tek Hoay mendirikan organisasi keagamaan Tridharma pada 1934.
Pengurus Pusat Majelis Tridharma Marga Singgih menceritakan.
Mara Singgih, Pengurus Pusat Majelis Tridharma, di Depan Altar Buddha, Tao dan Konfusius
Mara Singgih, Pengurus Pusat Majelis Tridharma, di Depan Altar Buddha, Tao dan Konfusius
“Kwee Tek Hoay mendirikan Tridharma yang kala itu nama organisasinya Sam Kauw Hwee. Artinya perkumpulan tiga agama. Ajaran tridharma oleh orang Tionghoa kebanyakan menjadi agama yang dilakukan bersamaan secara alamiah. Kalau dibilang singkretis ya singkretis.”
Inisiatif mendirikan Tridharma muncul karena gempuran Kristenisasi Eropa.
“Para misionaris yang mendompleng penjajah dan menyebarkan agama di Hindia Belanda. Kwee Tek Hoay melihat banyak orang Tionghoa masuk Kristen dan mulai melupakan ajaran leluhur.”
Pada 1952, rumah Kwee di Cicurug, Jawa Barat disatroni maling. Luka akibat aniaya para begundal itu menutup kiprahnya. Kwee tewas.
Di kalangan peranakan Tionghoa dan sejumlah sastrawan, nama Kwee Tek Hoay tidak asing. Sebaliknya, ia tak dikenal sebagian besar masyarakat Indonesia.
Mengenang Kwee 
Jackson adalah jemaat Tridharma di Wihara Silaparamita, Cipinang, Jakarta Timur. Dia dan 75 ribuan penganut Tridharma Indonesia mengenal Kwee Tek Hoay. Foto Kwee terpampang di Wihara Tridharma.
Rutin mereka mengenang Kwee, kata Pengurus Pusat Majelis Tridharma Marga Singgih.
Foto Kwee di Rumah Ibadah Tridharma
Foto Kwee di Rumah Ibadah Tridharma
“Untuk menghargai jasanya, setiap tanggal 31 Juli kami memperingati hari Tridharma. 31 Juli adalah tanggal lahir Kwee Tek Hoay. Ini untuk mengenang cita-cita Kwee Tek Hoay yang perlu kita pelihara.”
Berbeda dengan kebanyakan mahasiswa jurusan sastra yang justru tak mengenal Kwee Tek Hoay. Kurikulum nasional tidak memasukan peran Kesastraan Melayu Tionghoa, apalagi menyebut nama Kwee.
Dosen Sastra Universitas Indonesia Ibnu Wahyudi mengatakan, kurikulum sastra di Indonesia masih menyisakan warisah kolonial Belanda.
“Dipopulerkan oleh HB Jassin dan Teuww itu kan mulainya Balai Pustaka. Sebuah periodisasi yang tidak jujur. Dasarnya kan kolonial. Balai pustaka kan dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda. Kalau kita tidak memasukan pengarang Melayu Tionghoa, Indo, dan pengarang pribumi, tentu itu penghianatan sejarah. Itu sangat kolonialistis.”
Ibnu menambahkan, Univesitas Indonesia sudah sepuluh tahun ini memberi ruang satu mata kuliah pengkajian kesasteraan Melayu Tionghoa.
Sementara Pejabat Kementerian Pendidikan Bidang Bahasa Fahirul Zabadi mengatakan, pemerintah akan mengkaji peran Kwee dalam sastra Indonesia.
“Mana karya sastra yang memiliki nilai bagus akan diajarkan pada siswa. Apakah nanti berasal dari Melayu Tionghoa, Bugis, Minang, atau daerah lain, itu tidak kita utamakan. Yang penting nilai-nilainya bermanfaat untuk pembelajaran anak didik kita.”
Sebagai bentuk pengakuan awal, pada Hari Pahlawan November lalu pemerintah memberikan penghargaan Budaya Parama Dharma kepada Kwee. Ia dinilai berperan dalam kesastraan Indonesia.
Pentas Drama Nonton Cap Go Meh (doc Kominfo)
Pentas Drama Nonton Cap Go Meh (doc Kominfo)
Salah satu upaya mengenalkan sosok Kwee ditempuh lewat pementasan karya-karya sastranya. Teater Bejana adalah salah satu yang pernah mementaskan karya-karya drama Kwee. Sebelas kali, kata sutradara Daniel Jacob.
“Bisa dikatakan dari tahun 2004 ketika kami memilih memainkan naskah Melayu Tionghoa kami memiliki kenyamananan dan kami senang dalam eksplorasi karena bisa memberikan sesuatu yang beda. Nonton Cap Gomeh sudah 4 kali pentas, Boenga Roos dari Tjikembang lima kali. Naskah sekitar empat, bunga ros, nonton cap gomeh, zonder lentera dan pencuri hati.”
Bulan lalu Teater Bejana mementaskan Nonton Cap Gomeh di Gedung Kesenian Jakarta. Menurut asisten sutradara Hendra, penontonnya cukup banyak.
“Hari pertama mungkin cuman 35%, hari kedua makin meningkat. Hari ketiga lebih 80%. Hampir 300 dari kapasitas 470.”
Upaya memperkenalkan Kwee Tek Hoay juga ditempuh melalui penerbitan. Untuk memperingati 100 tahun kelahirannya, diterbitkan buku berjudul 100 Tahun Kwee Tek Hoay. Myra Sidharta, penyunting buku itu.
“Waktu tahun 87 kita baru dapat gagasan menerbitkan buku 100 tahun Kwee Tek Hoay. Saat itu kita minta berbagai macam penulis dari luar negeri, Claudine Salmon, Leo Suryadinata, untuk kirim tulisan mereka. Nah baru pada 1989 buku itu diluncurkan.”
Pax Benedanto, Penyunting Buku Kumpulan Sastra Melayu Tionghoa
Pax Benedanto, Penyunting Buku Kumpulan Sastra Melayu Tionghoa
Dari penerbitan 10 edisi kumpulan karya Kesasteraan Melayu Tionghoa, dua edisi khusus memuat karya Kwee Tek Hoay. Penyunting seri ini, Pax Benedanto.
“Dibilang paling sering, karena dia tokoh yang sangat produktif dalam kesasteraan melayu Tionghoa. Kita pilih jilid III Drama di Boeven Digoel kita terbitkan khusus. Tebalnya hampir 800 halaman. Itu dianggap sebagai salah satu puncak karya sastra Melayu Tionghoa.”
Selama masa produktifnya, Kwee menulis setidaknya 55 karya sastra, 73 buku keagamaan, dan tak terhitung esai-esainya. Ia sempat menjadi pemimpin redaksi di harian peranakan Sin Bin dan memimpin empat majalah lainnya.
Kwee Tek Hoay layak dikenang, bahkan kualitas karyanya dapat disandingkan dengan Pramoedya Ananta Toer, kata Dosen Sastra Indonesia Universitas Indonesia Ibnu Wahyudi. Pram adalah satu-satunya pengarang Indonesia yang berkali-kali masuk nominasi nobel sastra.
“Karya-karyanya sebagai karya sastra cukup tertib. Kalau kita ubah bahasa Melayu pasarnya menjadi bahasa Indoesia sekarang. Saya kira karyanya bisa mengiringi Pramoedya, terutama Drama di Boeven Digoel. Dalam hal membangun karya itu menjadi karya sastra, baik dalam memilih kata maupun membangun konflik dia cukup jeli.”

Sabtu, 31 Maret 2012

Langit Makin Mendung Oleh Kipandjikusmin




LAMA-LAMA mereka bosan juga dengan status pensiunan nabi di surgaloka. Petisi dibikin, mohon (dan bukan menuntut) agar pensiunan-pensiunan diberi cuti bergilir turba ke bumi, yang konon makin ramai saja.
“Refreshing sangat perlu. Kebahagiaan berlebihan justru siksaan bagi manusia yang biasa berjuang. Kami bukan malaikat atau burung perkutut. Bibir-bibir kami sudah pegal-pegal kejang memuji kebesaran-Mu; beratus tahun tanpa henti.”
Membaca petisi para nabi, Tuhan terpaksa menggeleng-gelengkan kepala, tak habis pikir pada ketidakpuasan di benak manusia…. Dipanggillah penanda-tangan pertama: Muhammad dari Medinah, Arabia. Orang bumi biasa memanggilnya Muhammad saw..

“Daulat, ya Tuhan.”
“Apalagi yang kurang di surgaku ini? Bidadari jelita berjuta, sungai susu, danau madu, buah apel emas, pohon limau perak. Kijang-kijang platina, burung-burung berbulu intan baiduri. Semua adalah milikmu bersama, sama rasa sama rata!”
“Sesungguhnya bahagia lebih dari cukup, bahkan tumpah ruah melimpah-limpah.”
“Lihat rumput-rumput jamrud di sana. Bunga-bunga mutiara bermekaran.”
“Kau memang mahakaya. Dan manusia alangkah miskin, melarat sekali.”
Tengok permadani sutra yang kau injak. Jubah dan sorban cashmillon yang kau pakai. Sepatu Aladin yang bisa terbang. Telah kuhadiahkan segala yang indah-indah!”
Muhammad tertunduk, terasa betapa hidup manusia hanya jalinan-jalinan penyadong sedekah dari Tuhan. Alangkah nista pihak yang selalu mengharap belas kasihan. la ingat, waktu sowan ke surga dulu dirinya hanya sekeping jiwa telanjang.
“Apa sebenamya kau cari di bumi? Kemesuman, kemunafikan, kelaparan, tangis, dan kebencian sedang berkecamuk hebat sekali.”
“Hamba ingin mengadakan riset,” jawabnya lirih.
“Tentang apa?”
“Akhir-akhir ini begitu sedikit umat hamba yang masuk surga.”
“Ahk, itu kan biasa. Kebanyakan mereka dari daerah tropis kalau tak salah?”
“Betul, kau memang maha tahu.” “Kemarau kelewat panjang di sana. Terik matahari terlalu lama membakar otak-otak mereka yang bodoh.” Kacamata model kuno dari emas diletakkan di atas meja dari emas pula.
“Bagaimana, ya Tuhan?”
“Umatmu banyak kena tusukan siar matahari. Sebagian besar berubah ingatan, lainnya pada mati mendadak.”
“Astaga! Betapa nasib mereka kemudian?”
“Yang pertama asyik membadut di rumah-rumah gila.”
“Dan yang mati?”
“Ada stempel Kalimat Syahadat dalam paspor mereka. Terpaksa raja iblis menolak memberikan visa neraka untuk orang-orang malang itu.”
“Heran, tak pernah mereka mohon suaka ke sini!” dengan kening sedikit mengerut.
“Tentara neraka memang telah merantai kaki-kaki mereka di batu nisan masing-masing.”
“Apa dosa mereka gerangan? Betapa malang nasib umat hamba, ya Tuhan!”
“Jiwa-jiwa mereka kabarnya mambu Nasakom. Keracunan Nasakom!”
“Nasakom? Racun apa itu, ya Tuhan! Iblis laknat mana meracuni jiwa mereka. (Muhammad saw. nampak gusar sekali. Tinju mengepal). Usman, Umar, Ali! Asah pedang kalian tajam-tajam!”
Tuhan hanya mengangguk-angguk, senyum penuh pengertian –penuh kebapaan.
“Carilah sendiri fakta-fakta yang otentik. Tentang pedang-pedang itu kurasa sudah kurang laku di pasar loak pelabuhan Jedah. Pencipta Nasakom sudah punya bom atom, kau tahu!”
“Singkatnya, hamba diizinkan turba ke bumi?” (Ia tak takut bom atom).
“Tentu saja. Mintalah surat jalan pada Sulaiman yang bijak di sekretariat. Tahu sendiri, dirasai Botes polisi-polisi dan hansip-hansip paling sok iseng, gemar sekali ribut-ribut perkara surat jalan.”
“Tidak bisa mereka disogok?”
“Tidak, mereka lain dengan polisi dari bumi. Bawalah Jibril serta, supaya tak sesat!”
“Daulat, ya Tuhan.” (Bersujud penuh sukacita).
***
Sesaat sebelum berangkat, surga sibuk sekali. Timbang terima jabatan Ketua Kelompok Grup Muslimin di surga, telah ditandatangani naskahnya. Abubakar tercantum sebagao pihak penerima. Dan masih banyak lainnya.
“Wahai yang terpuji, jurusan mana yang paduka pilih?” Jibril bertanya takzim.
“Ke tempat jasadku diistirahatkan; Medinah, kau ingat? Ingin kuhitung jumlah musafir-musafir yang ziarah. Di sini kita hanya kenal dua macam angka, satu dan tak berhingga.”
Seluruh penghuni surga mengantar ke lapangan terbang. Lagu-lagu padang pasir terdengar merayu-rayu, tapi tanpa tari perut bidadari-bidadari. Entah dengan berapa juta lengan Muhammad saw. harus berjabat tangan.
Nabi Adam as. sebagai pinisepuh tampil di depan mikropon. Dikatakan bahwa pengorbanan Muhammad saw. merupakan lembaran baru dalam sejarah manusia. Besar harapan akan segera terjalin saling pengertian yang mendalam antara penghuni surga dan bumi.
“Akhir kata saudara-saudara, hasil peninjauan on the spot oleh Muhammad saw. harus dapat dimanfaatkan secara maksimal nantinya. Ya, saudara-saudara para suci! Sebagai kaum arrive surga, kita tak boleh melupakan perjuangan saudara-saudara kita di bumi melawan rongrongan iblis-iblis di neraka beserta antek-anteknya. Kita harus bantu mereka dengan doa-doa dan sumbangan-sumbangan pikiran yang konstruktif, agar mereka scmua mau ditarik ke pihak Tuhan; sekian. Selamat jalan Muhammad. Hidup persatuan Rakyat Surga dan Bumi.”
“Ganyang!!!” Berjuta suara menyahut serempak.
Muhammad segera naik ke punggung buroq-kuda sembrani yang dulu jadi tunggangannya waktu ia mikraj.
Secepat kilat buroq terbang ke arah bumi, dan Jibril yang sudah tua terengah-engah mengikuti di belakang.
Mendadak, sebuah sputnik melayang di angkasa hampa udara.
“Benda apa di sana?” Nabi keheranan.
“Orang bumi bilang sputnik! Ada tiga orang di dalamnya, ya Rasul.”
“Orang? Menjemput kedatanganku kiranya?” (Gembira).
“Bukan, mereka justru rakyat negara kapir terbesar di bumi. Pengikut Marx dan Lenin yang ingkar Tuhan. Tapi pandai-pandai otaknya.”
“Orang-orang malang; semoga Tuhan mengampuni mereka. (Berdoa). Aku ingin lihat orang-orang kapir itu dari dekat. Ayo, buroq!”
Buroq melayang deras menyilang arah sputnik mengorbit. Dengan pedang apinya Jibril memberi isyarat sputnik berhenti sejenak.
Namun sputnik Rusia memang tak ada remnya. Tubrukan tak terhindarkan lagi. Buroq beserta sputnik hancur jadi debu; tanpa suara, tanpa sisa. Kepala botak-botak di lembaga aeronetika di Siberia bersorak gembira.
“Diumumkan bahwa sputnik Rusia berhasil mencium planet yang tak dikenal. Ada sedikit gangguan komunikasi …,” terdengar siaran radio Moskow.
Muhammad dan Jibril terpental ke bawah, mujur mereka tersangkut di gumpalan awan yang empuk bagai kapas.
“Sayang, sayang. Neraka bertambah tiga penghuni lagi.” Berbisik sedih.
Sejenak dilontarkan pandangannya ke bawah. Hatinya tiba-tiba berdesir ngeri.
“Jibril, neraka lapis ke berapa di sana gerangan?”
“Paduka salah duga. Di bawah kita bukan neraka tapi bagian bumi yang paling durhaka. Jakarta namanya. Ibukota sebuah negeri dengan seratus juta rakyat yang malas dan bodoh. Tapi ngakunya sudah bebas B.H.”
“Tak pernah kudengar nama itu. Mana lebih durhaka, Jakarta atau Sodomah dan Gomorah?”
“Hampir sama.”
“Ai, hijau-hijau di sana bukankah warna api neraka?”
“Bukan, paduka! Itulah barisan sukwan dan sukwati guna mengganyang negara tetangga, Malaysia.”
“Adakah umatku di Malaysia?”
“Hampir semua, kecuali Cinanya tentu.”
“Kalau begitu, kapirlah bangsa di bawah ini!”
“Sama sekali tidak, 9o persen dari rakyatnya orang Islam juga.”
“90 persen,” wajah nabi berseri, “90 juta umatku! Muslimin dan muslimat yang tercinta. Tapi tak kulihat mesjid yang cukup besar, di mana mereka bersembahyang Jumat?”
“Soal 90 juta hanya menurut statistik bumiawi yang ngawur. Dalam catatan Abubakar di surga, mereka tak ada sejuta yang betul-betul Islam!”
“Aneh. Gilakah mereka?”
“Tidak, hanya berubah ingatan. Kini mereka akan menghancurkan negara tetangga yang se-agama!”
“Aneh!”
“Memang aneh.”
“Ayo Jibril, segera kita tinggalkan tempat terkutuk ini. Aku terlalu rindu pada Medinah!”
“Tidak inginkah paduka menyelidiki sebab-sebab keanehan itu?”
“Tidak, tidak di tempat ini!” jawabnya tegas, “rencana risetku di Kairo.”
“Sesungguhnya pdukalah nabi terakhir, ya Muhammad?”
“Seperti telah tersurat di kitab Allah,” sahut Nabi dengan rendah hati.
“Tapi bangsa di bawah sana telah menabikan orang lain lagi.”
“Apa peduliku dengan nabi palsu!”
“Umat paduka hampir takluk pada ajaran nabi palsu!”
“Nasakom, jadi tempat inilah sumbernya. Kau bilang umatku takluk, nonsense!” Kegusaran mulai mewarnai wajah Muhammad.
“Ya, Islam terancam. Tidakkah paduka prihatin dan sedih?” terdengar suara Iblis, disambut tertawa riuh rendah.
Nabi tengadah ke atas.
“Sabda Allah tak akan kalah. Betapapun Islam, ia ada dan tetap ada, walau bumi hancur sekalipun!”
Suara Nabi mengguntur dahsyat, menggema di bumi, di lembah-lembah, di puncak-puncak gunung, di kebun-kebun karet, dan berpusar-pusar di laut lepas.
Gaungnya terdengar sampai ke surga, disambut takzim ucapan serentak:
“Amien, amien, amien.”
Neraka guncang, iblis-iblis gemetar menutup telinga. Guntur dan cambuk petir bersahut-sahutan.
“Naiklah, mari kita berangkat ya Rasulullah!”
Muhammad tak hendak beranjak dari awan tempatnya berdiri. Hatinya bimbang pedih dan dukacita. Wajahnya gelap, segelap langit mendung di kiri-kanannya.
Jibril menatap penuh tanda tanya, namun tak berani bertanya.
***
Musim hujan belum datang-datang juga. Di Jakarta banyak orang kejangkitan influensa, pusing-pusing dan muntah-muntah.
Naspro dan APC sekonyong-konyong melonjak harga. Jangan dikata lagi pil vitamin C dan ampul penstrip.
Kata orang, sejak pabriknya diambil alih bangsa sendiri, agen-agen Naspro mati kutu. Hanya politik-politik Cina dan tukang-tukang catut orang dalam leluasa nyomoti jatah lewat jalan belakang.
Koran sore Warta Bahari menulis: Di Bangkok 1000 orang mati kena flu, tapi terhadap flu Jakarta Menteri kesehatan bungkem.
Paginya Menteri Kesehatan yang tetap bungkem dipanggil menghadap Presiden alias PBR.
“Zeg, Jenderal. Flu ini bikin mati orang apa tidak?”
“Tidak, Pak.”
“Jadi tidak berbahaya?”
“Tidak Pak. Komunis yang berbahaya, Pak!”
“Akh, kamu. Komunisto-phobi, ya!”
Namun, meski tak berbahaya flu Jakarta tak sepandai polisi-polisinya. Flu tak bisa disogok, serangannya membabi buta tidak pandang bulu. Mulai dari pengemis-pelacur-nyonya menteri-sampai presiden diterjang semena-mena.
Pelayan-pelayan istana geger, menko-menko menarik muka sedih karena gugup menyaksikan sang PBR muntah-muntah seperti perempuan bunting muda.
Sekejap mata dokter-dokter dikerahkan, kawat telegram sibuk minta hubungan rahasia ke Peking.
“Mohon ssegera dikirim tabib-tabib Cina yang kesohor, Pemimpin Besar kami sakit keras. Mungkin sebentar lagi mati.”
Kawan Mao di singgasananya tcrsenyum-senyum, dengan wajah penuh welas-asih ia menghibur kawan seporos yang sedang sakratulmaut.
“Semoga lekas sembuh. Bersama ini rakyat Cina mengutus beberapa tabib dan dukun untuk memeriksa penyakit Saudara.”
Terhampir obat kuat akar jinsom umur seribu tahun. Tanggung manjur. Kawan nan setia: tertanda Mao. (Tidak lupa, pada tabib-tabib dititipkan pula sedikit oleh-oleh untuk Aidit).
Rupanya berkat khasiat obat kuat, si sakit berangsur-angsur sembuh. Sebagai orang beragama tak lupa mengucap sjukur pada Tuhan yang telah mengaruniai seorang sababat sebaik kawan Mao.
Pesta diadakan. Tabib-tabib Cina dapat tempat duduk istimewa. Untuk sejenak tuan rumah lupa agama, hidangan daging babi dan kodok ijo disikat tandas-tandas. Kyai-kyai yang hadir tersenyum-senyum kecut.
“Saudara-saudara. Pers nekolim gembar-gembor, katanya Soekarno sedang sakit keras. Bahkan hampir mati katanya. (Hadirin tertawa. Menertawakan kebodohan nekolim). Wah, saudara-saudara. Mereka itu selak kemudu-kemudu melihat musuh besarnya mati. Kalau Soekarno mati mereka pikir Indonesia ini akan gampang mereka iles-iles, mereka kuasai seenak udelnya sendiri, seperti negaranya Tengku.
“Padahal (menunjuk dada) lihat badan saya, saudara-saudara, Soekarno tetap segar-bugar. Soekarno belum mau mati. (Tepuk tangan gegup gempita, tabib-tabib Cina tak mau ketinggalan). Insya Allah, saya belum mau menutup mata sebelum proyek nekolim ‘Malaysia’ hancur lebur jadi debu. (Tepuk tangan lagi).”
Acara bebas dimulai. Dengan tulang-tulangnya yang tua Presiden menari lenso bersama gadis-gadis daerah Menteng Spesial diundang.
Patih-patih dan menteri-menterinya tak mau kalah gaya. Tinggal hulubalang-hulubalang cemas melihat Panglima Tertinggi bertingkah seperti anak kecil urung disunat.
Dokter pribadinya berbisik.
“Tak apa. Baik buat ginjalnya, biar kencing batu PYM tidak kumat-kumat.”
“Menyanyi! Menyanyi dong Pak!” Gadis-gadis merengek.
“Baik, baik. Tapi kalian mengiringi, ya!” Bergaya burung unta.
Siapa bilang Bapak dari Blitar
Bapak ini dari Prambanan
Siapa bilang rakyat-
Malaysia yang kelaparan …!
“Mari kita bergembira….” Nada-nada sumbang bau champagne.
Di sudut gelap istana tabib Cina berbisik-bisik dengan seorang menteri.
“Gembira sekali nampaknya dia.”
“Itu tandanya hampir mati.”
“Mati?”
“Ya, mati. Paling tidak lumpuh. Kawan Mao berpesan sudah tiba saatnya.”
“Tapi kami belum siap.”
“Kapan lagi? Jangan sampai keduluan klik Nasution.”
“Tunggu saja tanggal mainnya!”
“Nah, sampai ketemu lagi!” (Tabib Cina tersenyum puas.)
Mereka berpisah.
Mendung makin tebal di langit, bintang-bintang bersinar guram satu-satu. Pesta diakhiri dengan lagu langgam ‘Kembang Kacang’ dibawakan nenek-nenek kisut 68 tahun.
“Kawan lama Presiden!” bisik orang-orang.
Kemudian tamu-tamu permisi pamit. Perut kenyangnya mendahului kaki-kaki setengah lemas; beberapa orang muntah-muntah mabuk di halaman parkir.
Sendawa mulut mereka berbau alkohol. Sebentar-sebentar kiai mengucap ‘alhamdulillah’ secara otomatis.
Menteri-menteri pulang belakangan bersama gadis-gadis, cari kamar sewa. Pelayan-pelayan sibuk kumpulkan sisa-sisa makanan buat oleh-oleh anak istri di rumah.
Anjing-anjing istana mendengkur kekenyangan-mabuk anggur Malaga. Pengemis-pengemis di luar pagar istana memandang kuyu, sesali nasib kenapa jadi manusia dan bukan anjing!
***
Desas-desus Soekarno hampir mati lumpuh cepat menjalar dari mulut ke mulut. Meluas seketika, seperti loncatan api kebakaran gubuk-gubuk gelandangan di atas tanah milik Cina.
Sampai juga ke telinga Muhammad dan Jibril yang mengubah diri jadi sepasang burung elang. Mereka bertengger di puncak menara emas bikinan pabrik Jepang. Pandangan ke sekeliling begitu lepas bebas.
“Allahuakbar, nabi palsu hampir mati.” Jibril sambil mengepakkan sayap.
“Tapi ajarannya tidak. Nasakom bahkan telah mengoroti jiwa prajurit-prajurit. Telah mendarah daging pada sebagian kiai-kiaiku,” mendengus kesal.
“Apa benar yang paduka risaukan?”
“Kenapa kau pilih bentuk burung elang ini dan bukan manusia? Pasti kita akan dapat berbuat banyak untuk umatku!”
“Paduka harap ingat; di Jakarta setiap hidung harus punya kartu penduduk. Salah kena garuk razia gelandangan!”
“Lebih baik sebagai ruh, bebas dan aman.”
“Guna urusan bumi wajib kita jadi sebagian dari bumi.”
“Buat apa?”
“Agar kebenaran tidak telanjang di depan kita.”
“Tapi tetap di luar manusia?”
“Ya, untuk mengikuti gerak hati dna pikiran manusia justru sulit bila satu dengan mereka.”
“Aku tahu!”
“Dan dalam wujud yang sekarang mata kita tajam. Gerak kita cepat!”
“Akh, ya. Kau betul, Tuhan memberkatimu Jibril. Mari kita keliling lagi. Betapapun durhaka, kota ini mulai kucintai.”
Sepasang elang terbang di udara senja Jakarta yang berdebu menyesak dada dan hidung mereka asap knalpot dari beribu mobil.
Di atas Pasar Senen tercium bau timbunan sampah menggunung, busuk dan mesum.
Kemesuman makin keras terbau di atas Stasiun Senen. Penuh ragu Nabi hinggap di atas atap seng, sementara Jibril membuat lingkaran manis di atas gerbong-gerbong kereta Daerah planet.
Pelacur-pelacur dan sundal-sundal asyik berdandan. Bedak-bedak penutup bopeng, gincu merah murahan dan pakaian pengantin bermunculan.
Di bawah-bawah gerbong, beberapa sundal tua mengerang –lagi palang merah– kena raja singa. Kemaluannya penuh borok, lalat-lalat pesta mengisap nanah. Senja terkapar menurun, diganti malam bertebar bintang di sela-sela awan. Pemuda tanggung masuk kamar mandi berpagar sebatas dada, cuci lendir. Menyusul perempuan gemuk penuh panu di punggung, kencing dan cebok. Sekilas bau jengkol mengambang. Ketiak berkeringat amoniak, masih main akrobat di ranjang reot.
Di kamar lain, bandot tua asyik… di atas perut perempuan muda 15 tahun. Si perempuan … dihimpit sibuk cari … dan … lagu melayu.
Hansip repot-repot …
“Apa yang Paduka renungi.”
“Di negeri dengan rakyat Islam terbesar, mereka begitu bebas berbuat cabul!” Menggeleng-gelengkan kepala.
“Mungkin pengaruh adanya Nasakom! Sundal-sundal juga soko guru revolusi,” kata si Nabi palsu.
“Ai, binatang hina yang melata. Mereka harus dilempari batu sampai mati. Tidakkah Abu Bakar, Umar dan Usman teruskan perintahku pada kiai-kiai di sini? Berzina, laangkah kotor bangsa ini. Batu, mana batu!!”
“Batu-batu mahal di sini. Satu kubik 200 rupiah, sayang bila hanya untuk melempari pezina-pezina. Lagipula….”
“Cari di sungai-sungai dan di gunung-gunung!”
“Batu-batu seluruh dunia tak cukup banyak guna melempari pezina-pezinanya. Untuk dirikan masjid pun masih kekurangan, Paduka lihat?”
“Bagaimanapun tak bisa dibiarkan!” Nabi merentak.
“Sundal-sundal diperlukan di negeri ini ya, Rasul.”
“Astaga! Sudahkah Iblis menguasai dirimu Jibril?”
“Tidak Paduka, hamba tetap sadar. Dengarlah penuturan hamba. Kelak akan lahir sebuah sajak, begini bunyinya :
Pelacur-pelacur kota Jakarta
Naikkan tarifmu dua kali
dan mereka akan kelabakan
mogoklah satu bulan
dan mereka akan puyeng
lalu mereka akan berzina
dengan istri saudaranya
“Penyair gila! Cabul!”
“Kenyataan yang bicara. Kecabulan terbuka dan murah justru membendung kecabulan laten di dada-dada mereka.” Muhammad membisu dengan wajah bermuram durja.
Di depan toko buku ‘Remaja’ suasana meriak kemelut, ada copet tertangkap basah. Tukang-tukang becak mimpin orang banyak menghajarnya ramai-ramai. Si copet jatuh bangun minta ampun meski hati geli menertawakan kebodohannya sendiri: hari naas, ia keliru jambret dompet kosong milik kopral sedang preman kosong milik Kopral setengah preman. Hari naas selalu berarti tinju-tinju, tendangan sepatu dan cacian tak menyenangkan baginya. Tapi itu rutin–. Polisi-polisi Senen tak acuh melihat tontonan sehari-hari: orang mengeroyok orang sebagai kesenangan. Mendadak sesosok baju hijau muncul, menyelak di tengah. Si copet diseret keluar dibawa entah kemana.
Orang-orang merasa kehilangan mainan kesayangannya, melongo.
“Dia jagoan Senen; anak buah Syafii, raja copet!”
“Orang tadi mencuri tidak?” Pandangan Nabi penuh selidik.
“Betul. Orang sini menyebutnya copet atau jambret.”
“Kenapa mereka hanya sekali pukul si tangan panjang? Mestinya dipotong tangan celaka itu. Begitu perintah Tuhan kepadaku dulu.”
“Mereka tak punya pedang, ya Rasul.”
“Toh, bisa diimpor!”
“Mereka perlu menghemat devisa. Impor pedang dibatasi untuk perhiasan kadet-kadet Angkatan Laut.”
“Lalu dengan apa bangsa ini berperang?”
“Dengan omong kosong dan bedil-bedil utangan dari Rusia.”
“Negara kapir itu?”
“Ya, sebagian lagi dari Amerika. Negara penyembah harta dan dolar.”
“Sama jahat keduanya pasti!”
“Sama baik dalam mengaco dunia dengan kebencian.”
“Dunia sudah berubah gila!” Mengeluh.
“Ya, dunia sudah tua!”
“Padahal Kiamat masih lama.”
“Masih banyak waktu ya, Nabi!”
“Banyak waktu untuk apa?”
“Untuk mengisi kesepian kita di sorga.”
“Betul, betul, sesungguhnya tontonan ini mengasyikkan, meskipun kotor. Akan kuusulkan dipasang TV di sorga.”
Kedua elang terbang di gelap malam.
“Jibril! Coba lihat! Ada orang berlari-lari anjing ke sana! Hatiku tiba-tiba merasa tak enak.”
“Hamba berperasaan sama. Mari kita ikuti dia, ya Muhammad.”
Sebentar kemudian di atas sebuah pohon pinang yang tinggi mereka bertengger. Mata tajam mengawasi gerak-gerik orang berkaca mata.
“Siapa dia? Mengapa begitu gembira?”
“Jenderal-jenderal menamakannya Durno, Menteri Luar Negeri merangkap pentolan mata-mata.”
“Sebetulnya siapa menurut kamu?”
“Dia hanya Togog. Begundal raja-raja angkara murka.”
“Ssst! Surat apa di tangannya itu?”
“Dokumen.”
“Dokumen?”
“Dokumen Gilchrist, hamba dengar tercecer di rumah Bill Palmer.”
“Gilchrist? Bill Palmer? Kedengarannya seperti nama kuda!”
“Bukan, mereka orang-orang Inggris dan Amerika.”
“Ooh.”
Di bawah sana Togog melonjak kegirangan. Sekali ini betul-betul makan tangan, nemu jimat gratis. Kertas kumal mana ia yakin bakal bikin geger dunia. Tak henti-henti diciuminya jimat wasiat itu.
Angannya mengawang, tiba-tiba senyum sendiri.
“Sejarah akan mencatat dengan tinta emas: Sang Togog berhasil telanjangi komplotan satria-satria pengaman Baginda Raja.”
Terbayang gegap gempita pekik sorak rakyat pengemis di lapangan Senayan.
“Hidup Togog, putra mahkota! Hidup Togog, calon baginda kita!”
Sekali lagi ia senyum-senyum sendiri. Baginda Tua hampir mati, raja muda togog segera naik takhta, begitu jenderal selesai-selesai dibikin mati kutunya.
Pintu markas BPI ditendang keras-keras tiga kali. Itu kode!
“Apa kabar Yang Mulia Togog?”
“Bikin banyak-banyak fotokopi dari dokumen ini! Tapi awas, top secret. Jangan sampai bocor ke tangan dinas-dinas intel lain. Lebih-lebih intel AD.”
“Tapi ini otentik apa tidak, Pak Togog? Pemeriksaan laboratoris…?”
“Baik, baik Yang Mulia” Pura-pura ketakutan.
“Nah, kan begitu. BPI-Togog harus disiplin dan taat tanpa reserve pada saya tanpa hitung-hitung untung atau rugi. Semua demi revolusi yang belum selesai!”
“Betul, Pak, eh, Yang Mulia.”
“Jadi kapan selesai?”
“Seminggu lagi, pasti beres.”
“Kenapa begitu lama?”
“Demi security, Pak. Begitu saya baca dari buku-buku komik detektif.”
“Bagus, kau rajin meng-up-grade otak. Soalnya begini, saya mesti lempar kopi-kopi itu di depan hidung para panglima waktu meeting dengan PBR. Gimana?”
“Besok juga bisa, asal uang lembur…,” sembari membuat gerak menghitung uang dengan jari-jarinya.
Togog meluruskan seragam-dewannya. Dan gumpalan uang puluhan ribu keluar dari kantong belakang. Sambil tertawa senang ditepuk-tepuknnya punggung pembantunya.
“Diam! Diam! Dokumen ini bakal bikin kalang kabut Nekolim dan antek-anteknya dalam negeri.”
“Siapa mereka?”
“Siapa lagi? Natuurlijk de— ‘our local army friends’. Jelas toh?”
Sepeninggal Togog jimat ajaib ganti berganti dibaca jin-jin liar atau setan-setan bodoh penyembah Dewa Mao nan agung. Mereka jadi penghuni markas BPI secara gelap sejak bertahun-tahun.
Syahdan desas-desus makin laris seperti nasi murah. Rakyat jembel dan kakerlak-kakerlak baju hijau rakus berebutan, melahap tanpa mengunyah lagi.
“Soekarno hampir mati lumpuh, jenderal kapir mau coup, bukti-bukti lengkap di tangan partai!”
***
Sayang, ramalan dukun-dukun Cina sama sekali meleset. Soekarno tidak jadi lumpuh, pincang sedikit cuma. Dan pincang tak pernah bikin orang mati. Tanda kematian tak kunjung tampak, sebaliknya Soekarno makin tampak muda dan segar.
Kata orang dia banyak injeksi H-3, obat pemulih tenaga kuda. Kecewalah sang Togog melihat baginda raja makin rajin pidato, makin gemar menyanyi, makin getol menari dan makin giat menggilir ranjang isteri-isteri yang entah berapa jumlahnya.
Hari itu PBR dan Togog termangu-mangu berdua di Bogor. Briefing dengan Panglima-panglima berakhir dengan ganjalan-ganjalan hati yang tak lampias.
“Jangan-jangan dokumen itu palsu, hai Togog.” PBR marah-marah.
“Akh, tak mungkin Pak. Kata pembantu saya, jimat tulen.”
“Tadinya sudah kau pelajari baik-baik?”
“Sudah pak. Pembantu-pembantu saya bilang, siang malam mereka putar otak dan bakar kemenyan.”
“Juga sudah ditanyakan pada dukun-dukun klenik?”
“Lebih dari itu, jailangkung bahkan memberi gambaran begitu pasti!”
“Apa katanya?”
“Biasa, de bekendste op vrije voeten gesteld, altjid…!”
“Akh, lagi-lagi dia. Nasution sudah saya kebiri dengan embel-embel –. Dia tidak berbahaya lagi.
“Ya, tapi jailangkung bilang CIA yang mendalangi ‘our local army friends’.”
“Gilchrist toh orang Inggris, kenapa CIA dicampuradukkan!”
“Begini, Pak. Mereka telah berkomplot. Semua gara-gara kita– kawan Mao buka front baru dengan konfrontasi Malaysia.”
“Dunia tahu, Hanoi bisa bernapas sekarang. Paman Ho agak bebas dari tekanan Amerika.”
“Kenapa begitu?”
“Formil kita berhadapan dengan Inggris-Malaysia. Sesungguhnya Amerika yang kita rugikan: mereka harus memecah armadanya jadi dua. Sebagian tetap mengancam RRT lainnya mengancam kita!”
“Mana lebih besar yang mengancam kita atau RRC?” Ada suara cemas.
“Kita. Itu sebabnya AD ogah-ogahan mengganyang Malaysia. Mereka khawatir Amerika menjamah negeri ini. “
Soekarno tunduk. Keterangan Togog membuatnya sadar telah ditipu mentah-mentah sahabat Cinanya. Kendornya tekanan Amerika berarti biaya pertahanan negeri Cina dapat ditransfer ke produksi. Dan Indonesia yang terpencil jadi keranjang sampah raksasa buat menampung barang-barang rongsokan Cina yang tak laku di pasaran.
Kiriman bom atom –upah mengganyang Malaysia– tak ditepati oleh Chen-Yi yang doyan omong kosong. Tiba-tiba PBR naik pitam.
“Togog, panggil Duta Cina kemari. Sekarang!”
“Persetan dengan tengah malam. Bawa serdadu-serdadu pengawal itu semua kalau kamu takut.”
Seperti maling kesiram air kencing togog berangkat di malam dingin kota bogor. Angan-angan untuk seranjang dengan gundiknya yang di Cibinong buyar. Dua jam kemudian digiring masuk seorang Cina potongan penjual bakso. Dia cuma pakai piyama, mulutnya berbau angciu dan keringatnya berbau daging babi.
“Ada apa malam-malam panggil saya? Ada rejeki nih!” Duta Cina itu sudah pintar ngomong Indonesia. Dan PBR senang pada kepintarannya.
“Betul, kawan. Malam ini juga kau harus pulang ke negeri leluhur. Dan jangan kembali kemari sebelum dibekali oleh-oleh dari Chen Yi. Ngerti tuh?”
“Buat apa bom atom, sih?” Duta Cina mengingat kembali instruksi dari Peking, “tentaramu belum bisa merawatnya. Jangan-jangan malah terbengkalai jadi besi tua dan dijual ke Jepang. Akh, sahabat Ketua Mao; lebih baik kau bentuk angkatan kelima. Bambu runcing lebih cocok untuk rakyatmu.”
“Gimana ini, Togog?”
“Saya khawatir bambu runcing lebih cocok untuk bocorkan isi perut Cina WNA disini,” Togog mendongkol.
“Jelasnya?” tanya PBR dan Duta Cina serentak.
“Amerika mengancam kita gara-gara usul pemerintah kamu supaya Malaysia diganyang. Ngerti, tidak?” (Cina itu mengangguk). Dan sampai sekarang pemerintahmu cuma nyokong dengan omong kosong!”
“Kami tidak memaksa, Bung! Kalau mau stop konfrontasi, silakan.”
“Tidak mungkin!” PBR meradang, betul or tidak, Gog?”
“Akur, pak! Konfrontasi mesti jalan terus. Saya jadi punya alasan berbuat nekad.”
“Nekad bagaimana?” Cina menyipitkan matanya yang sudah sipit.
“Begitu Amerika mendarat akan saya perintahkan potong leher semua Cina-cina WNA.” Menggertak.
“Ah, jangan begitu kawan Haji Togog. Anda kan orang beragama!”
“Masa bodoh. Kecuali kalau itu bom segera dikirim.”
“Baik, baik. Malam ini saya berangkat.”
PBR mau tak mau kagum akan kelihaian Togog. Mereka berangkul-rangkulan.
“Kau memang Menteri Luar Negeri terbaik di dunia.”
“Tapi Yani jenderal terbaik, kata Bapak kemarin.”
“Memang ada apa rupanya? Apa dia ogah-ogahan juga ganyang malaysia?”
“Maaf PYM hal ini kurang jelas. Faktanya keadaan berlarut-larut hanya menguntungkan RRC.”
“Yani ragu-ragu?”
“Begitulah. Sebab PKI ikut jadi sponsor pengganyangan. Sedangkan mayoritas AD anggap aksi ini tak punya dasar.”
“Lalu CIA dengan ‘our local army friends’ nya mau apa?”
“Konfrontasi harus mereka hentikan. Caranya mana kita bisa tebak? Mungkin coba-coba membujuk dulu lewat utusan diplomat penting. Kalau gagal cara khas CIA akan mereka pakai.”
“Bagaimana itu?”
“Unsur-unsur penting dalam konfrontasi akan disingkirkan. Soekarno-Subandrio-Yani dan PKI harus lenyap!”
Sang PBR mengangguk-angguk karena ngantuk dan setuju pada analisia buatan Togog.
Hari berikutnya berkicaulah Togog di depan rakyat jembel yang haus, penjual obat pinggir jalan, ia berpidato. Ia sering lupa mana propaganda dan mana hasil gubahan sendiri.
“Saudara-saudara, di saat ini ada bukti-bukti lengkap di tangan PYM Presiden PBR tentang usaha Nekolim untuk menghancurkan kita. CIA telah… dengan barisan algojonya yang bercokol dalam negeri untuk menyingkirkan musuh-musuh besarnya. Waspadalah saudara-saudara. Soekarno-Subandrio-Yani dan rakyat progresif-revolusioner lainnya akan mereka musnahkan dari muka bumi. Tiga orang ini justru dianggap paling berbahaya untuk majikan mereka di London dan Washington.
“Tapi jangan gentar, Saudara-saudara! Saya sendiri tidak takut demi Presiden/PBR dan demi revolusi yang belum selesai. Saya rela berkorban jiwa raga. Sekali lagi tetaplah waspada. Sebab algojo-algojo tadi ada di antara Saudara-saudara.”
Rakyat bersorak kegirangan. Bangga punya Wakil Perdana Menteri berkaliber Togog yang tidak gentar mati. Sejenak mereka luput perut-perut lapar ditukar dengan kegemasan dan geram meluap-luap atas kekurangajaran nekolim.
Rapat diakhiri dengan membakar orang-orangan berbentuk Tengku sambil menari-nari. Bendera-bendera Inggris dan Amerika yang susah payah dijahit perempuan-perempuan mereka di rumah, diinjak-injak dan dirobek penuh rasa kemenangan dan kepuasan luar biasa.
Setelah bosan mereka bubar satu-satu. Tinggal pemuda-pemudanya yang melantur kesana kemari, bergaya tukang copet. Mereka ingin mencari tahu algojo-algojo Nekolim yang dikatakan Togog barusan.
Di Harmoni segerombolan tukang becak asyik kasak-kusuk, bicara politik. Kalau di Rusia Lenin bilang koki juga mesti melek politik, di Jakarta tukang-tukang becak juga keranjingan ngomong politik.
“Katanya Dewan Jenderal mau coup. Sekarang Yani mau dibunuh, mana yang benar?”
“Dewan Jenderal siapa pemimpinnya?”
“Pak Yani, tentu.”
“Jadi Yani akan bunuh Yani. Gimana, nih?”
“Aaah! Sudahlah. Kamu tahu apa.” Suara sember.
“Untung Menteri Luar Negeri kita jago. Rencana nekolim bisa dibocorin.”
“Dia nggak takut mati?”
“Tentu saja kapan dia sudah puas hidup. Berapa perawan dia ganyang!” suara sember menyela lagi.
Yang lain-lain tidak heran atau marah. Seakan sudah jamak Menteri mengganyang perawan dan isteri orang.
***
Pengganyangan Malaysia yang makin bertele-tele segera dilaporkan PBR ke Peking.
“Kawan-kawan seporos, harap bom atom segera dipaketkan, jangan ditunda-tunda. Tentara kami sudah mogok berperang, jenderal-jenderal asyik ngobyek cari rejeki dan prajurit-prajurit sibuk ngompreng serta nodong.
Jawaban dari Peking tak kunjung datang. Yang datang membanjir hanya tekstil, korek api, senter, sandal, pepsodent, tusuk gigi dan barang-barang lain bikinan cina.
Soekarno tiba-tiba kejatuhan ilham akan pentingnya berdiri di atas kaki sendiri. Rakyat yang sudah lapar dimarahi habis-habisan karena tak mau makan lain kecuali beras.
“Padahal saudara-saudara. Saya tahu banyak sekali makanan bervitamin selain beras. Ubi, jagung, singkong, tikus, bekicot, dan bahkan kadal justru obat eksim yang paling manjur. Saya sendiri dikira makan nasi tiap hari? Tidak! PBR-mu ini cuma kadang-kadang makan nasi sekali sehari. Bahkan sudah sebulan ini tidak makan daging. Tanya saja Jenderal Saboer!”
“Itu Pak Leimena di sana (menunjuk seorang kurus kering). Dia lebih suka makan sagu daripada nasi. Lihat Pak Seda bertubuh tegap (menunjuk seorang bertubuh kukuh mirip tukang becak), dia tak bisa kerja kalau belum sarapan jagung.”
Paginya ramai-ramai koran memuat daftar menteri-menteri yang makan jagung. Lengkap dengan sekalian potretnya.
Sayang, rakyat sudah tidak percaya lagi, mereka lebih percaya pada pelayan-pelayan istana. Makan pagi Soekarno memang bukan nasi, tapi roti panggang bikinan Perancis di HI. Guna mencegah darah tingginya kumat, dia memang tak makan daging. Terpaksa hanya telor goreng setengah matang dicampur sedikit madu pesanan dari Arab sebagai pengiring roti. Menyusul buah apel kiriman Kosygin dari Moskow.
Namun rakyat tidak heran atau marah. Seakan sudah jamak seorang presiden harus bohong dan buka mulut seenaknya. Rakyat Indonesia rata-rata memang pemaaf dan baik hati. Kebohongan dan kesalahan pemimpin selalu disambut dengan dada lapang.
Hati mereka bagai mencari, betapa pun langit makin mendung, sinarnya tetap ingin menyentuh bumi. ***

Sumber: Majalah Sastra, th. VI. No. 8, edisi Agustus 1968./sumber: dok. PDS H.B Jassin.