karangan Arun P.Mukherjee
*dari “Ideologi dalam Ruang Kelas: Sebuah Kajian Kasus dalam Pengajaran
Sastra Inggris di Universitas-universtias di Kanda” Dalhousie review 66 (1&2), 1986.
BERBICARA
SECARA UMUM, KAMI, pengajar-pengajar sastra Inggris di universitas-universitas di Kanada, tidak menganggap pokok
masalah di kelas layak ditelaah dengan kritis. Malahan, ilmu pendidikan
(pedagogy) kami dan penelitian ilmiah
kami
nyaris tidak berhubungan sama sekali. Pengajar baru, mencari strategi-strategi pembelajaran efektif,
akan menemukan dirinya benar-benar cemas karena tidak ada bacaan memadahi dari terbitan-terbitan ilmiah cukup membantu saat
ia menghadapi kelas mahasiswa strata satu. Nyatanya, kedua wacana itu-wacana ilmu
pendidikan dan penelitian ilmiah Sastra Inggris - sama sekali bertentangan dan menjadi luka untuk orang
baru yang menggunakan bahasa wacana ilmiah terkini di dalam kelas....
Kumpulan
cerita
pendek yang saya gunakan dalam kelas pengantar Sastra Inggris 100 (angka 100 menunjukan
kode mata kuliah untuk kelas bagi mahasiswa tahun pertama. pent) - saya dengan sengaja memilih cerpen Kanada-mencakup sebuah cerpen karangan Margaret Laurence berjudul “The Perfume Sea”. Cerita ini, menurut
tafsiran saya, menekankan dominasi
ekonomi dan budaya atas Negara Dunia Ketiga. Namun, walaupun saya memaparkan tafsiran ini pada mahasiswa-mahasiswa
saya dengan sejumlah rincian, mereka bahkan tidak mempertimbangkan tafsiran saya saat menulis esai-esai
mereka. Walaupun cerita ini jelas-jelas menarik perhatian mereka-hampir 40
persen memilih menulis tentang cerita ini - mereka mengabaikan seluruh makna politis cerita ini.
Saya benar-benar kecewa oleh pengabaian mutlak mahasiswa-mahasiswa
saya pada kenyataan lokal yang disajikan dalam
cerpen tersebut. Namun, makalah-makalah mereka sungguh memberi saya pemahaman tentang bagaimana
pendidikan mereka mengizinkan mereka
menetralkan makna-makna pembangkangan yang tersirat dalam sebuah nukilan karya sastra yang bagus, seperti cerita Laurence.
Cerita
ini, dari sudut pandang saya, cukup gamblang maksudnya. Cerita ini
bertempat di Ghanna pada awal-awal kemerdekaan dari kekuasaan Inggris.
Pegawai-pegawai kolonial pergi dan kepergian tersebut menyebabkan permasalahan keuangan bagi Mr. Archipelago
dan Doree yang menjalankan satu-satunya salon kecantikan dalam radius seratus lima puluh
kilometer dari sebuah kota kecil tak
bernama. Walaupun alat-alatnya kuno, dan para pelayanya tidak sesuai selera
mereka, para nyonya-nyonya memakluminya karena tidak ada alternatif.
Dengan
perginya pelanggan-pelanggan kulit putih, Mr. Archipelago dan Doree tak lagi punya pelanggan. Salon tersebut kosong selama berminggu-minggu hingga suatu hari kegentingan
datang dalam wujud tuan tanah
Ghana mereka, Mr. Tachie, menagih uang sewa. Keadaan, bagaimanapun juga, mulai berubah saat Mr. Archipelago mempelajari anak perempuan Mr. Tachie ingin
terlihat seperti “gadis kota” dan selalu merengek pada ayahnya agar diberikan
uang untuk membeli sepatu, pakaian, dan riasan. Mr. Archipelago dalam kilatan
inspirasi, mendapati Mercy Tachie merupakan pelanggan baru sasaran dia dapat menjual “produk”nya: Mr. Tachie, Anda adalah pembawa mujizat!... Seperti itu
ternyata, sepanjang waktu, dan kami tidak melihat. Kami, bahkan Doree, akan
membuat sejarah-Anda akan menyaksikannya” (221).
Klaim
tentang pembuatan sejarah diulang dua kali dalam cerita dan
bertautan secara penting dengan sejarah yang dibuat Columbus. Karena Mr. Archipelago sangat bangga pada kenyataan dia lahir di Genoa, kampung halaman Columbus.
Aspek tidak menyenangkan tindakan pembuatan sejarah ini tak salah lagi memang disengaja: Dia [Columbus] pernah di
Afrika Barat, kau tahu, sebagai pelaut muda, di sebuah puri-budak tua tidak
jauh dari sini. Dan dia, juga, datang dari Genoa” (217)
Penanda simbolis
salon dibuat tampak cukup jelas pada perhatian rinci yang Laurence curahkan pada perubahanya. Jika papan sebelum kemerdekaan bertuliskan:
ARCHIPELAGO
Tukang Cukur Gaya-Inggris
Penata Rambut Perempuan-Eropa (211)
Papan baru bertuliskan:
ARCHIPELAGO & DOREE
Tukang Cukur
Salong Kecantikan-Segala
Kalangan
Khususnya Perempuan
Afrika (211)
Dengan bantuan pinjaman dari Mr. Tachie, sang pemilik memasang
peralatan pelurus rambut dan membeli corak riasan yang cocok untuk kulit
Afrika. Namun, walaupun banyak perempuan Afrika dari kejauhan nampak sungguh
berminat, tak ada yang memasuki salon. Dua minggu kemudian, Mercy Tachie
berjalan dengan ragu ke salon itu “karena jika kau tidak mendapat pelanggan,
dia [Mr. Tachie] tidak akan mendapatkan uangnya darimu” (222). Mercy mengalami
perubahan menyeluruh di salon dan setelah
keluar tampak seperti “gadis kota,” seperti yang
ia pernah liat di majalah Drum. Maka,
Mr. Archipelago dan Doree “diselamatkan” oleh “sebuah tindakan Mercy(226)” (by an act of
Mercy bisa berarti tindakan Mercy, juga bisa tindakan Kasihan
(mercy=kasihan, Inggris) pent.) Mereka menemukan
peranan baru dalam hidup negara yang baru merdeka ini: membantu borjuis Afrika
yang dengan seperti budak membebek nilai-nilai bekas tuan kolonialnya.
Nada-nada tambahan politis dari cerita itu dipertegas lagi dengan seluruh kemiskinan yang cerita ini gambarkan dan
tautan simbolis antara pelaku salon kulit putih dengan satu-satunya pedagang
kulit hitam di kota kecil itu. Pemisahan antara putrinya dan
perempuan-perempuan Afrika lainya yang berpergian tanpa alas kaki dengan bayi
di punggung mereka lebih jauh menandakan sifat perpecahan yang ditanamkan
Eropa. Tanda lainnya dari tujuan pengarang
tampak dari penggambaran konyol tentang
Mr.Archipelago dan Doree, sarana yang mencegah
identifikasi emosional dengan mereka. Juga penting kenyataan bahwa identitas
nasional keduanya yang tidak diketahui, keduanya merubah-rubah cerita mereka, karena kenyataan tersebut seperti ingin mengatakan bahwa, seperti Kurtz1
dalam Heart of Darkness, mereka
mewakili seluruh peradaban kulit putih. Maka, cerita ini kurang menekankan kehidupan individu-individunya agar menekankan pokok masalah
yang lebih luas: hakikat kolonialisme dan akibat buruknya saat elit pribumi
mengambil alih tanpa benar-benar merubah institusi kolonial kecuali namanya.
Maka hal ini merupakan
aspek cerita yang paling menarik bagi saya, tak ragu lagi
karena saya sendiri berasal dari
bekas jajahan Raj. Selama diskusi kelas, saya bertanya pada para mahasiswa tentang arti simbolis dari alat pelurus rambut, perubahan nama, pengidentifikasian
Mr. Archipelago dengan Columbus, majalah Drum,
dan tokoh Mr. Tachie dan Mercy Tachie. Namun, esai-esai para mahasiswa
tidak berlandaskan aspek-aspek tersebut, tetapi perihal
bagaimana kedua tokoh utama dalam cerita “tampak nyata” atau “layak
mendapat simpati” , dan bagaimana mereka
mendapatkan kebahagiaan di akhir cerita dengan menerima perubahan. Artinya, kedua tokoh tersebut benar-benar terbebas dari
kungkuman konteks, seperti, situasi kolonial, dan hanya dinilai berdasarkan hubungan emosi satu sama lain. Kekacauan
politik di dunia luar, ketelitian sistem kelas yang diamati sistem kolonial,
kontras antara kekayaan dan kemiskinan, tidak hadir dalam makalah-makalah mereka. Seperti yang
dituliskan seorang mahasiswa, kesimpulan ceritanya adalah “Pasangan sempurna
berjalan ke arah matahari tenggelam, masing-masing merasa bahagia mendapati mereka
berdua terlepas dari masalah sepanjang hidup, kebersamaan dan keleluasaan pada akhirnya menghinggapi sebuah hubungan.” Bagi yang
lainya, mereka menyimbolkan “kecemasan dan harapan kemanusiaan...permasalahan
umum antara menghadapai atau tidak menghadapi kenyataan.”
Saya sangat terkejut dengan
kemampuan mahasiswa-mahasiswa saya menjauhkan diri mereka dari dampak-dampak menggelisahkan dari penafsiran saya dan mencurahkan perhatian mereka pada karangan tentang “kecemasan
dan harapan kemanusiaan,” dan generalisasi lainya seperti perubahan,
masyarakat, nilai-nilai, kenyataan, dsb. Saya menyadari generalisasi-generalisasi ini ideologis. Generalisasi-generalisasi ini memungkinkan
mahasiswa-mahasiswa saya mampu menghapuskan perbedaan antara birokrat Inggris dan
pedagang Inggris, antara penjajahan kulit putih dan kulit hitam, dan antara
kulit hitam yang kaya dan kulit hitam yang miskin. Generalisasi-generalisasi
itu memungkinkan mereka dapat percaya semua
manusia dihadapkan pada dilema-dilema yang mirip dengan yang dihadapi kedua
tokoh dalam cerita tersebut.
Terimakasih pada Kenneth
Burke, saya tahu dalih tersirat dari retorika, seni berbicara, generalisasi-generalisasi
seperti “kemanusiaan”, makalah-makalah mahasiswa-mahasiswa saya memaksa saya merasa
sangat-sangat sadar tujuan-tujuan ideologis mereka. Saya melihat generalisasi-generalisasi tersebut membantu kami menerjemahkan dunia ke dalam idiom kita dengan
menghapus keambiguan-keambiguan dan kebenaran-kebenaran menyakitkan di dalam keretakan-keretakan
dunia. Generalisasi-generalisasi tersebut memaksa kami mengabaikan fakta bahwa masyarakat bukanlah
pengelompokan yang sama tetapi berbagai macam penggolongan
kelompok-kelompok tempat kita termasuk
salah satu himpunan tertentu yang dipanggil “kami,”
sebagai lawan dari golongan atau golongan-golongan lain yang kita bedakan
sebagai “mereka.”
Hikmah paling menyakitkan terjadi
saat saya menyadari sumber kosa kata mahasiwa-mahasiswa
saya. Analisa mereka, saya menyadari, ada dalam zaman-tradisi terhormat dari kritik
sejenisnya yang menghadirkan karya-karya sastra sebagai “universal.” Ujian
karya sastra besar, menurut tradisi ini, selain kekhususanya, adalah pesannya pada semua zaman dan semua masyarakat. Seperti yang
dicatat Brenth Harold, “sangat jarang ada diskusi sastra yang tidak benar-benar
bergantung pada “kita” (berarti umat manusia) yang universal, pada “kondisi
manusia,” “kesedihan manusia modern,” “manusia absurd” dan abstraksi-abstraksi
penyaman lainya yang mengaburkan para penggunanya pada landasan sosial tertentu
pikiran mereka sendiri...” (Harold 1972:201).
Maka, semua konflik
dihilangkan dengan bantuan “kita” yang universal, apa yang tertinggal bagi kita
selain “perasaan” dan “pengalaman” tokoh-tokoh individu? Pertanyaan-pertanyaan dalam kumpulan cerpen tersebut mencerminkan
hal itu. Ketika pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak
berlandaskan permasalahan-permasalahan teknik-tempat orang dapat memilih alur permasalahan-permasalaan seperti itu -pertanyaan-pertanyaan
tersebut menanyakan para mahasiswa apakah
karakter seperti ini dan itu layak mendapatkan simpati kita, atau apakah
karakter ini dan itu mengalami perubahan, atau, dengan kata lain, sebuah
inisisasi. Seperti komentar Richard Ohman:
Mahasiswa fokus ke satu tokoh, ke sikap si penyair, pada perjuangan pemahaman individu – namun sangat jarang, jikapun
pernah, pada kekuatan-kekuatan sosial yang
dimunculkan dalam setiap babak dramatis dan hampir setiap bentangan narasi
dalam fiksi. Kekuasaan, kelas, budaya, tatanan dan kekacauan sosial-bahan baku
sastra ini benar-benar tidak dipertimbangkan
dalam kumpulan-kumpulan tugas analisis bagi Penempatan Tingkat Lanjut para
kandidat. (1976:59-60)
Bukannya menghadapi kenyataan-kenyataan “kekuasaan, kelas,
tatanan dan kekacauan sosial,” para kritikus sastra dan penyunting kumpulan
karya sastra bersembunyi di belakang kosa-kata
universalis yang hanya mengkaburkan hakikat sebenarnya dari kenyataan.
Contohnya, pengantar penyunting untuk “The
Perfume Sea” menganggap cerita itu dalam ranah kategori yang seharusnya
universal dan abadi:
Di sinilah momen penting
dalam sejarah manusia dilihat dari dalam salon kecantikan dan disadari dalam
hal “gelombang permanen.” Namun saat kesombongan feminim dihadirkan sebagai satu-satunya
elemen yang tak berubah di dalam dunia yang berubah, Mrs. Laurence, karena
segala keringan tangananya, tidak “bermain-main dengan” orang-orang Afrika maupun Eropa. Dalam membaca cerita
ini, menggali lapisan yang lebih dalam dari kecemasan manusia dan harapan di
bawah kulit kegembiraan. (Ross dan Stevens 1988:201)
Walaupun “sebuah momen
mendesak dalam sejarah” diakui penting di sini, pengakuan
tersebut hanyalah untuk menunjuk apa yang diangap tak berubah: hal sangat kabur yang disebut “kesombongan
feminim.” Istilah itu menjalankan fungsi menggapai harapan identifikasi antara semua perempuan kulit putih dan semua
perempuan kulit hitam, tanpa menganggap batasan-batasan ras dan kelas sosial. Perintah untuk menggali “lapisan yang lebih dalam dari
kecemasan manusia dan harapan”- perintah yang oleh mahasiswa-mahasiswa saya ambil dengan lebih serius daripada tafsiran alternatif
pengajar mereka - bekerja untuk menyisihkan dengan efektif anggapan-anggapan kenyataan-kenyataan sosial-politik yang
mencemaskan.
Proses ini menghasilkan
penyebar luasan apa yang Ohmann sebut “saringan memandang sastra” (63). Bahkan
karya sastra paling provokatif, jika dilihat dari sudut pandang seperti tadi,
menjadikan isi pembangkangannya tidak ada. Setelah perlakuan tersebut, seperti
yang dikatakan Ohmann, “perlakuan itutidak akan menyebabkan masalah apapun bagi orang-orang yang menjalankan
sekolah-sekolah atau kampus-kampus, bagi kompleks industri militer, atau
siapapun yang memegang kuasa. Perlakuan itu hanya melestarikan kenestapaan mereka yang tak kuasa” (61)
Maka kritikus-penyunting
berfungsi sebagai pengkebiri. Dia memastikan pikiran-pikiran kaum muda tidak
akan mendapatkan pengetahuan apapun juga perihal bagaimana masyarakat kita
sebenarnya berjalan dan bagaimana sastra
mengambil peran di dalam masyarakat. Alih-alih menjelaskan hubungan-hubungan ini,
kritikus-penyunting itu menjejali mahasiswa kosa kata yang berpura-bepura bahwa
semua umat manusia dan institusi-institusinya belum berubah sedikitpun
sepanjang jalannya sejarah, bahwa mereka
semua menghadapi permasalahan yang sama sebagai umat manusia...
Pastinya, sastra lebih
dari sekedar bentuk? Bagaimana dengan pertanyaan-pertanyaan menyangkut ideologi
dan kelas sosial pengarangnya, peran dan ideologi pelanggan dan penyebar
sastra, peran sastra sebagai institusi sosial, dan, akhirnya, peran
kritikus-penyunting sastra sebagai perantara nilai-nilai sosial dan budaya
dominan? Apakah pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak memiliki tempat dalam
pertimbangan-pertimbangan mendalam profesi kita?
1
Kurtz dalam The Heart of Darkness, sebuah novel karya Joseph Concard, yang
disebut Achebe sebagai “bajingan rasis”, “adalah pedagan gading, dikirim oleh
perusahaan Belgia ke pedalaman Negara
Bebas Kongo. Dengan bantuan teknologi yang lebih unggul, Kurtz menjadikan
dirinya sosok karismatik setengah-dewa di antara suku-suku sekitar pangkalanya,
dan mengumpulkan banyak gading dengan cara ini.....Ibunya setengah-Inggris,
ayahnya setengah-Prancis dan maka “Semua bangsa Eropa menyumbang pada penciptaan
Kurtz” (http://en.wikipedia.org/wiki/Kurtz_%28Heart_of_Darkness%29)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar