Politik, Liputan, Humor, Budaya

Jumat, 28 Agustus 2015

REUNI setelah dewasa..



Bpk Ali,Tejdo, Cokro dan Hadi reunian di Restoran. Mereka ber 4 ngobrol2.

Bpk Hadi pamit utk ke Wc.

Bpk Ali : "Bgmn bisnis anakmu Djo?

Bpk Tedjo : "Skrng anakku sdh jd boss, pabriknya 2. Tapi, saya bpknya ndak prnh dibelikan apa2. Eh, pas kemarin pacarnya ulang tahun dibelikan BMW 320i baru!"

Bpk Cokro : "Lha anakku skrg sdh jadi direktur perumahan. Rumah bapaknya sdh doyong dibiarkan aja, tp waktu kemarin pacarnya ulang tahun dibelikan rumah mewah di Kota Wisata"

Bapak Ali : "Anakku jg cowok! Jadi pialang saham. Lha, saya ini nggak pernah dikasih duit sama sekali, tp wkt pacarnye ulang tahun, dikasih deposito 500 juta"

Bpk Hadi balik dari Wc, "Nyritain apa sih ?"

Bpk Tedjo : "Ini lho, pada nyritain anaknya, gimana anakmu Had?"

Bpk Hadi mulai cerita:
"Anakku cuma 1, tp payah. Aku ingin dia jadi ABRI, eh malah jd bencong.
Tapi meskipun bencong dia tetep anakku. Apalagi dasarnya anakku baik, pergaulannya luas dan sayang bapaknya. Setiap dpt rejeki, saya pasti diberi.
Kemarin pas dia ulang tahun, ada temannya yang ngado BMW 320i baru, rumah mewah di Kota Wisata, dan deposito 500 juta! Katanya semua itu buat bapak saja, dia ttp seneng buka salon saja..."

Bpk Ali,Tedjo, Cokro : �
"PlaAkkkk!.."

Kamis, 27 Agustus 2015

Panggilan Paling Mesra (Seri Meme Lucu)


Gagal Paham antara Guru dan Murid soal BH

Pak Guru : "Sundari..!! Coba tulisen neng papan tulis opo tulisan neng lambang Garuda  tulis!"

Sundari maju terus nulis neng papan tulis: 'BINEKA TUNGGAL IKA'.

Ndeleng tulisan iku Pak Guru Gedeg2...
Sebab dudu "BHINEKA" tapi ditulis "BINEKA".

Pa guru: "Ngopo ra nganggo BH?" Karo mendelik.

Diomongi ngono Ndari cepet2  nyekel dadane, amargo dewek e kroso nek ora nganggo BH, karo mesam mesem kecut. ( koyo ngombe kopi luwak)

Ndari : Bapak Guru kok pirso ?"
Pa guru: "haaa yo  cetho  banget!! Lha wong ketok melok melok !! Cobo benerke". Ngendikane Pak Guru tambah molotot.

Ndari : "Hiks..hiks..(karo klecam klecem) "isin pak..., mosok mbeneraken  teng mriki" jawabe Ndari karo mesam mesem.

Pak guru: "Yo kudu sak iki kapan maneh...! Ngopo koq ora nganggo BH?"

Ndari : " Dereng garing pak, BH ne..., nembe dijemur , lha wong namung setunggal.., hiks..hiks.." karo ngguyu terus mencolot mlayu moleh...

Pa guru lingak..linguk... ndomblong...😮😮😮

Strategi Jitu Gaet Cewek Matre

Agus lungguh dewekan nang Bar. Gak sepiro suwene koncone sing jenenge Bambang mlebu ambek nggandeng wong wedok 5 uayu-uayu, terus lungguh neng lounge, gayane ngebosi koyo raja minyak, guyon cekakakan karo bolak balik cipika cipiki, wis pokok'e marai kemropok.

Agus mbatin, "Kapan nasibku koyo Bambang. Lha aku wong wedok siji wae ora gablek.."

Pas Bambang mlaku nang Bar, Agus ono kesempatan takon:
"Mbang, piye carane awakmu iso oleh kencanan ayu-ayu?"

Bambang: "Ojo crito-crito yo, tak kandhani rahasiane... mrene nek awakmu dolan rene maneh... begitu awakmu lungguh neng bar, uncalno kunci mobilmu neng mejo bar, wis mesti wong wedok-wedok iku marani"
..
Agus: "Tapi aku gak duwe mobil, aku mung duwe sepeda montor wae wis elek, knalpote ucul pisan..."

Bambang: "Awakmu cuma perlu gantungan kunci mobil. Iki deloken aku duwe gantungan kunci Jaguar. Yo cuma ngono thok modalku.."

Sesuk bengine, Agus kledhang-kledhang mlebu kafe; Bambang wis ono neng jero lungguh karo wong wedok telu.
AGUS marani bar, karo nguncalno kunci sak gantungan mobile FERRARI neng duwur mejo bar.. gak ono reaksi babar pisan..
Kunci dijupuk maneh disak'i.. Bareng ono wong wedok liwat, kunci diuncalno maneh nang duwur meja bar.. Gak ono reaksi maneh, malah diguyu-guyu.

Bambang sing wiwit mau ngawasno wae langsung marani Agus, karo mbisiki,

"..awakmu iku lho, kok goublok nemen to....COPOTEN DISIK HELM sepeda montormu!!

Rabu, 26 Agustus 2015

Doa Penyembuh Paling Mujarab

Ada seorang anak Papua berusia 10 tahun, namanya Jacobus. Suatu hari Jacobus berlari lari menemui Pak Purwadi.
Jacobus meminta Pak Purwadi untuk mengobati anjingnya yang sekarat. Pak Pur tersenyum dan mengiyakan.
Mereka berdua menuju rumah Jacobus.
Melihat anjing tsb sekarat, Pak Pur yang asli Bantul itu menempelkan telapak tangannya ke jidat anjing dan berkata dlm bahasa Jawa,
"Su, asu ( njing, anjing ), nek kowe arep mati, yo mati-ò. (kalau kamu mau mati, ya mati aja)".
"Nek arep urip, yo waras-ò (kalau mau hidup, sembuhlah)".
Jacobus yang tidak bisa bahasa Jawa berpikir Pak Pur menggunakan bahasa Latin.
Diam2 Jacobus menghafalkan kata2 yg dia kira mantra / doa itu.
Setelah itu Pak Pur langsung pulang.
Beberapa hari kemudian, Jacobus lari2 ke rumah Pak Pur bermaksud melaporkan kalau anjingnya sudah sembuh.
Namun ternyata, Pak Purwadi sedang sakit. Jacobus terkejut, langsung menuju ke kamar Pak Pur dan menempelkan telapak tangannya ke dahi Pak Pur.
Selanjutnya Jacobus membaca mantra,
"Su, asu, nek kowe arep mati, yo mati o. Nek arep urip, yo waras o."
Pak Purwadi kaget dan tertawa langsung sembuh.
Siapa yg hari ini sedang sakit? Semoga senyum dan tawamu stlh membaca ini, juga membuatmu sembuh dan pulih yaaa.. Aamiin.
Sebab hati yg gembira adalah obat yg manjur.😀

Selamat beraktifitas..😃😃😃😃😃😃😃

Kamis, 20 Agustus 2015

Gubernur vs Sapi

Gara2 daging sapi mahal ingat percakapan jaman pak harto..

Pada zaman Pak Harto jadi Presiden, dia sering mengajak Gubernur2 se Indonesia ke Tapos, setelah rapat koordinasi, untuk dipameri peternakan sapinya 🐄🐂....

Setelah di'briefing' oleh Pak Harto, para Bapak dan ibu Gubernur lalu diajak keliling Tapos sambil diberi penjelasan tentang jenis dan keunggulan sapi2 🐂, oleh Pemandu Ahli Sapi....

Pemandu 🌿 : "Kalau 🐄🐂 sapi pejantan yg ini, dari New Zealand, kuat sekali, kalau lagi musimnya, bisa kawin 5 kali dalam sehari...."

Ibu2 Gubernur langsung nyenggol suaminya, sambil bisik2 : "Tuh lho Pak..., kuat 5 kali sehari 🐂🐄 lho...."

Pemandu : "Kalau yg ini sapi 🐂🐄 pejantan dari Australia, lebih kuat lagi, bisa kawin 10 kali sehari...."

Ibu2 tambah rame bisik2nya ke suaminya : "Tuh Pak..., kuat 10 kali lho..., padahal cuma diberi makan rumput 🌾🌿 lho...!"

Lama2..., para Bapak Gubernur jengkel juga, di-banding2kan sama sapi 🐂, lalu salah seorang Gubernur tanya ke si Pemandu : "Mas..., itu 🐂 kawinnya apa dengan sapi 🐮 betina yg sama juga...??"

Pemandu : "Ooo..., ya ngga dong Pak..., pasti ganti2 terus dong sapi betinanya 🐮🐮...."

Pak Gubernur : "Tuh Bu.., denger ngga, 🐄🐂 betinanya ganti2..., BOLEH ngga...!!?😊😊
Ibu...😡😡👊👊

Senin, 10 Agustus 2015

SBY, Politisi Orba yang Paling Adaptif

Secara umum, kekuatan figur SBY sangat berpengaruh dalam menentukan hasil pemilu legislatif dan presiden 2009.  SBY dan Partai Demokrat bahkan berhasil mengeruk keuntungan dari suara-suara partai Islam dengan mencitrakan diri sebagai sosok nasionalis-religius. Faktor ini didukung dengan kelemahan-kelemahan partai Islam. Di lain sisi, kehadiran dua partai baru di bawah pimpinan jendral produk Orde Baru, yang sebenarnya hanya pecahan Golkar, berhasil lolos ambang batas parlemen. Namun, meskipun menang, pemerintahan SBY tidaklah aman karena sistem pemerintahan di Indonesia bisa disebut campuran presidensial parlementari. Ini membuat SBY mau tidak mau tetap menyusun koalisi besar dan gemuk.
            Presiden SBY, menurut Rizal Sukma, merupakan politis Indonesia yang paling siap menghadapi pemilu 2009. Ia menyebut SBY sebagai; “Indonesia’s first truly modern politician, well adapted to a contemporary political landscape domnated by the electronic media,” (Sukma, 61). Sukma menyebutkan, SBY dengan sadar merawat citra di mata publik dan menghindari kebijakan yang menurunkan popularitasnya di mata para pemilih. Alhasil, pemerintahan SBY tampak popular dengan kesan terdapat perbaikan ekonomi berarti. Terlebih, SBY mengeluarkan kebijakan populis seperti bantuan langsung tunai dan penurunan harga BBM menjelang pemilu legislatif. Jajak pendapat Saiful Mujani menyebutkan, sebanyak 66 persen responden merasa ekonomi Indonesia lebih baik pada 2009 setelah lima tahun dipimpin SBY-Kalla (Mujani, 344).  Jajak pendapat LSI, seperti dikutip Rizal Sukma, menyebutkan 70 persen responden puas dengan kepemimpinan SBY. 
            Dalam pemilu legislatif, Partai Demokrat meraup untung besar dari tingginya popularitas SBY. Suara partai ini tumbuh hampir tiga kali lipat dari 7,5 persen pada 2004 menjadi 20,9 persen pada 2009. Suara ini membuat Partai Demokrat leluasa untuk mengusung calon presiden sendiri. 
            Meskipun secara kasat mata Partai Demokrat menang, partai-partai pecahan Golkar sebenarnya mendominasi hasil pemilu. Partai pemenang pada pemilu 2004 itu pecah menghasilkan Partai Hanura dan Partai Gerindra. Jika suara Golkar, Gerindra dan Hanura pada pemilu 2009 digabung, angka ketiga partai itu menjadi 22,8 persen. Angka ini mirip dengan perolehan Golkar ketika memenangi pemilu 2004 dengan 21,6 persen suara. 
            Banyak pengamat menyebut hasil pemilu legislatif ini sebagai kembalinya jendral-jendral. Namun, penghitungan di atas menunjukan terjadi kerinduan terhadap Orde Baru dengan keperkasaan Golkar. Partai Gerindra dan Hanura dipimpin oleh dua jendral orde baru. Pemimpin Hanura, Wiranto merupakang panglima ABRI di masa-masa akhir Soeharto. Sementara, pemimpin Gerindra, Prabowo merupakan bekas Panglima Kostrad dan menantu bekas presiden Soeharto. Pada pemilu presiden 2014, kecenderungan laten di masyarakat ni semakin tampak jelas dalam barisan pendukung Prabowo Soebianto sebagai presiden. 
            Dengan kekuatan citra SBY, ia dapat dengan gampang memenangi pemilu presiden 2009. Terlebih, partai-partai politik gagal menghasilkan kader-kader baru untuk maju menantang calon petahanan tersebut. PDI-P mengusung Mega yang tidak lagi disukai masyarakat karena dianggap gagal memimpin sebagai presiden. Sementara, Partai Golkar mengusung calon yang tidak cukup populis seperti JK dan Wiranto. 
            Hasil pemilu legislatif 2009 juga menghasilkan DPR dengan kinerja buruk. Dari target pengesahan 247 Rancangan Undang-undang, DPR hanya berhasil mengesahkan 126 RUU menjadi UU. [i] Perubahan sistem menjadi proporsional terbuka mungkin menjadi salah satu penyebabnya. Sistem ini mendorong poitik uang untuk semakin gencar. Akibatnya, calon yang terpilih adalah calon dengan kantong tebal dan bukan berdasarkan kemampuan dan integritas. Politisi PDI-P Pramono Anung memperkirakan, butuh dana ratusan juta (600 juta-6 miliar) agar bisa terpilih sebagai anggota DPR. [ii]
            Pemilu legislatif 2009 juga menyisakan kekecewaan terhadap partai Islam. Suara partai-partai Islam terpuruk. Total suara partai Islam pada 2009 hanya mencapai 24,1 persen. Padahal, mereka berhasil meraup hingga 32,5 persen pada pemilu sebelumnya. Partai Islam, termakan oleh kecenderungan  nasionalis, memilih menjadi catch all party atau partai yang menyasar semua golongan. Pilihan untuk membuka diri menjadikan mereka tidak lagi memiliki nilai pembeda yang kuat dengan partai-partai nasionalis. Partai-partai Islam gagal menawarkan kekuatan politik Islam sebagai alternatif. Artinya, mereka tidak dapat menjalankan fungsi partai dengan efektif untuk menyerap dan mewujudkan aspirasi rakyat. Selain itu, kekuatan citra SBY dibarengi dengan penggembosan PKB oleh faksi PKB Abdurahman Wahid turut membuat jumlah suara partai Islam merosot.  
Pemilu presiden 2009 juga memberikan pelajaran berharga bagi rakyat Indonesia dalam menghadapi pemilu presiden 2014. Strategi pencitraan SBY yang berhasil pada pemilu 2009 menghasilkan pemerintahan yang mengecewakan banyak rakyat selama lima tahun setelahnya. Sebanyak tiga menteri dari pemerintahan tersebut mesti terseret kasus korupsi. Kekecewaan rakyat membuat para pemilih 2014 semakin kritis. Ini memaksa partai-partai politik tidak bisa lagi mencalonkan sembarangan orang untuk maju dalam pemilu presiden. Tekanan ini cukup menghasilkan figur muda Joko Widodopada pemilu 2014. 
            Meskipun menang secara mutlak, SBY tidak lantas serta merta bisa membentuk pemerintahannya sendiri. Ia tetap menawarkan partai-partai untuk bergabung. SBY menyebut, tawaran seluas mungkin itu sebagai niat untuk “memberi ruang kebersamaan.” Banyak yang menganggap pilihan SBY tersebut tidak tepat. Sebab, meskipun berhasil menguasai lebih 50 persen kursi, koalisi ini tidak lantas memberi dukungan pada kebijakan pemerintah dan membela pemerintah. Apalagi, partai-partai tersebut acap kali berkelahi dalam koalisi ketika menyangkut kepentingan sektoral mereka. Sebagai contoh, rencana SBY untuk menaikan BBM sempat mendapat penolakan dari Partai Golkar dan PKS.  Alih-alih, kekuatan mereka, seperti Golkar, justru menjadi posisi tawar di dalam negeri. 
Pilihan SBY untuk menumpuk modal politik meskipun berhasil menguasa 
banyak kursi di parlemen merupakan sebuah keterpaksaan.  Meskipun Indonesia menganut sistem presidensial, parlemen Indonesia memiliki kekuasaan besar. Bekas Kepala Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD membenarkan keputusan SBY karena ia bersandra oleh partai-partai politik lainnya; 

Itulah sebabnya, presiden dihadapkan pada paksaan untuk selalu memperhatikan parpol-parpol. Dia akan merangkul parpol agar tak ada guliran bola politik yang mengarah pada munculnya dua pertiga dari dua pertiga kekuatan di DPR dan dua pertiga dari tiga perempat di MPR yang melawannya. Sistem presidesial kita kemudian tak dapat mengelak dari keharusan untuk tampil dengan gaya parlementer. Sistem multipartai menyebabkan presiden tak dapat mengabaikan parpol-parpol.[iii]

DPR bukan hanya dapat menjatuhkan presiden yang dipilih rakyat, DPR juga menyandera presiden dengan memiliki hak untuk ikut menentukan panglima TNI dan Kapolri. Bekas Wakil Menteri Hukum dan HAM menganggap, aturan seperti itu memperlemah sistem presidensial. [iv]
            Pelajaran hasil pemerintahan koalisi 2009-2014 menunjukan, pemerintahan stabil juga tidak terwujud. Isu Bank Century menyandera pemerintahan Demokrat. Untuk itu, sebaiknya Indonesia kembali membenahi konstitusi untuk tegas pada salah satu sistem; baik parlementer maupun presidensial.  

Tulisan saya sebagai bagian untuk memenuhi ujian aksi semester dalam mata kuliah Ulasan Politik Kontemporer Indonesia di Universitas Paramadina 




Referensi 

Bourchier, David dan Veri Hadiz.ed. 2006. Pemikiran Sosial dan Politik Indonesi Periode 1965-1999. Jakarta: Grafiti
Effendy, Bahtiar. 2003. Islam and the State in Indonesia. Singapore: Instute of Southeast Asian Studies Singapore 
Feith, Herbert dan Lance Castles. 1956. Pemikiran POlitik Indonesia 1945-1965. Jakarta:LP3ES 
Huntington, Samuel. 1983. Tertib Politik di dalam Masyarakat yang Sedang Berubah. Jakarta: Grafiti Pers 
Kingbury, Damien. 2003. Power, Politics and the Indonesian Military. New York: Routledge 
Ricklef, M.R. 2001. A History of Modern Indonesia Since 1200, Third Edition. Palgrave. London 

Rinakit, Sukardi. 2005. The Indonesian Military after the New Order. Denmark: Nias Press 
Sukma, Rizal. Indonesia’s 2009 Elections: Detective Systemm, Resilient Democracy dalam Problems of Democratisation in Indonesia. Edward Aspinal dan Marcus Mietzner. Ed. 
Winters, Jeffrey. 2011. Oligarchy. New York: Cambridge Univesity Press



[i] Firdaus, Ferdy Randy. (2014, 30 September) Akhiri Masa Bakti 2009-2014, DPR hasilkan 126 Undang-undang. http://www.merdeka.com/politik/akhiri-masa-bakti-2009-2014-dpr-hasilkan-126-undang-undang.html  
[ii] Biaya Calon Anggota DPR Hingga 6 Miliar. (2013, 22 April) http://www.tempo.co/read/fokus/2013/04/22/2745/Biaya-Calon-Anggota-DPR-Hingga-Rp-6-Miliar
[iv]Keterlibatan DPR Dalam Pengangkatan dan Pemberhentian Kapolri dan Panglima TNI Dianggap Membatasi Hak Prerogratif Presiden http://www.mahkamahkonstitusi.go.id/index.php?page=web.Berita&id=10585#.VYtEomDldlI

Sumbangsih Perpecahan Militer dalam Keruntuhan Orde Baru



Wiranto dan Prabowo, sumber http://indonesiabim.blogspot.com/2013/10/kesaksian-wiranto-soal-aksi-prabowo.html


Menjelang reformasi 1998, ABRI terpecah menjadi dua kubu. Kubu pertama dipimpin oleh Wiranto. Kubu ini disebut sebagai kubu Merah-putih karena sebagian besar merupakan kelompok abangan dan non-muslim. Kubu kedua disebut ABRI Hijau di bawah pimpinan menanto Soeharto, Prabowo Subianto.
            Kedua faksi saling berebut di dalam militer untuk mendapatkan jabatan strategis. Permasalahan ini semakin pelik dengan ditambah terlalu banyaknya lulusan AKABRI dibandingkan kebutuhan untuk menduduki pos. Sukardi Rinakit memaparkan, kedua faksi bahkan saling berebut untuk merekrut anggota hingga ke tingkat akademi dan pendidikan tinggi militer lainnya seperti SESKOAD dan SESKO ABRI (Rinakit, 84). Persaingan bahkan membelah tentara hingga ke tingkat KODIM.
            Kondisi di atas membuat persaingan memperebutkan jabatan semakin sengit. Ketika satu faksi berhasil menduduki kursi strategis, orang itu langsung mengganti pejabat-pejabat di bawahnya yang diduga berasal dari faksi lawan. Akibatnya, rotasi di tubuh ABRI menjadi cepat. Seorang tentara menduduki menduduki jabatan pangdam pada 1998 rata-rata hanya 12 bulan. Padahal, pada 1991 periode rata-rata jabatan pangdam adalah 36 bulan. Jabatan danyom rata-rata hanya 13 bulan pada 1998 sementara pada 1990 rata-rata masa jabatan mencapai 24 bulan.
            Perpecahan ini membuat ABRI secara institusi tidak lincah. Mereka saling mencurigai satu sama lain. Sebagai contoh, satu faksi akan mencurigai sebuah aksi demonstrasi sipil didukung oleh faksi lawannya untuk menjatuhkan mereka. Rinakit menganggap, faktor ini merupakan faktor yang memiliki peran terkuat, meskipun bukan faktor yang dominan, yang turut menentukan jatuhnya Soeharto selain demo mahasiswa, konspirasi elit dan tekanan internasional.
“Compared to the first two factors, intra-military politics probably contributed most in influencing his downfall. Could the student and other opposition forces have occupied the DPR/MPR building without support from certain elements in the military? (Rinakit, 79-80).”

            Sebelumnya, tentara merupakan penopang utama pemerintahan rezim Orde Baru karena keterlibatan mereka sebagai alat politik pemerintah dan sistem Dwifungsi ABRI memungkinkan mereka ikut menopang pemerintahan Soeharto.
            Dengan friksi dan lemahnya ABRI sebagai institusi, mereka tidak sanggup menghadapi tekanan anti-dwifungsi dan seruan kembali ke barak (tuntutan agar ABRI tidak campur tangan politik). Terlebih, tuntutan itu semakin kencang seiring dengan menguatnya tuntutan penggulingan Orde Baru.
            Sadar akan tekanan tersebut, Wiranto sebagai panglima ABRI menolak usul Soeharto untuk mendirikan KOPKAMTIB. Pada 18 Mei 1998, Soeharto mendapuk Wiranto sebagai kepala Komando Operasi Kewaspadaan dan Keselamatan Nasional (KOPKKN). Dengan bekal surat perintah Soeharto yang dianggap sama dengan Supersemar, Wiranto bisa saja menegakan kondisi darurat militer dan memegang tampuk kekuasaan sementara. Namun, ia tidak melakukan itu karena menyadari sentiment anti-militer begitu kuat.
            Rinakit menyebutkan, ada faktor eksternal dan internal yang membuat ABRI terpaksa tidak bersikukuh mempertahankan Orde Baru dengan menegakan dwifungsi ABRI. Tiga faktor eksternal adalah menguatnya sentiment anti-militer di dunia setelah kejatuhan Uni Soviet, ketidakmampuan militer menangani negara dalam persaingan globalisasi dan lahirnya generasi baru yang tidak punya pengalaman sejarah peperangan dan ketegangan 1965-66 yang melegitimasi dwifungsi ABRI. Rinakit juga menyebutkan, tiga faktor internal yaittu; krisis institusi militer karena banyaknya lulusan dan rotasi jabatan yang cepat, konflik internal dalam tubuh tentara dan hantaman krisis ekonomi terhadap sumber pendanaan militer.
            Hal-hal di atas memaksa ABRI untuk melakukan reformasi. Di bawah pemerintahan Habibie, faksi Wiranto berhasil menyingkirkan kubu Prabowo. Wiranto juga membuat kesepakatan dengan Habibi agar bisa melakukan reformasi sendiri dalam tubuh militer di bawah “Paradigma Baru” untuk menggantikan paradigm lama yang melandasi dwifungsi. Syaratnya, Wiranto memastikan ABRI sebagai institusi memberikan dukungan pada pemerintahan Habibie. Habibie menggunakan kesempatan ini di antaranya untuk menekan ABRI mendukung Akbar Tanjung sebagai ketua Golkar.
            ABRI yang mengubah nama menjadi TNI memutuskan paradigma baru itu memiliki empat gagasan. Pertama, TNI akan berusaha mengubah posisi dan metode tidak harus selalu di depan. Kedua, TNI mengubah konsep dari menduduki menjadi mempengaruhi. Ketiga, TNI ingin mengubah cara-cara mempengaruhi dari secara langsung menjadi tidak langsung. Keempat, TNI bersedia melakukan role sharing (kebersamaan dalam pengambilan keputusan penting kenegaraan dan pemerintahan) dengan komponen bangsa lainnya (mitra non militer).
            Perwujudan dari paradigm itu adalah pemisahan POLRI dari ABRI, penghapusan WANSOSPOLSUS dan WANSOSOPOLDA, pengubahan stas sosial-politik menjadi star teritori, penghapusan SYARWAN dan BABINKAR, penghapusan staf sosial politik KODAM, KOREM dan KODIM, penghapusan penempatan perwakilan militer di pos sipil, pengurangan jumlah kursi di parlemen, lepas tangan dari urusan politik praktis, pemisahan dari GOLKAR, netralitas dalam pemilu, pengubahan paradigm dalam ABRI dan Keluarga Besar ABRI dan revisi doktrin militer.
            Karena mereformasi dirinya, Wiranto membuat militer berhasil mempertahankan hal vital yaitu pundi-pundi uang militer. Wiranto tidak menghapus struktur TNI hingga ke tingkat bawah.
            Most important, the territorial command structure, the backbone of military presence in sociopolitical life in the regions, was left untouched for the entirety of Habibie’s interregnum. The territorial system consisted of a vast network of command units reaching from the capital down to the village level.  First practiced during the guerilla war and institutionalized in the mid-1950s, the territorial units exercised social control and allowed the military to access off-budget funding sources in the regions.
(Kingsbury, 12-13)


Tulisan saya sebagai bagian untuk memenuhi ujian aksi semester dalam mata kuliah Ulasan Politik Kontemporer Indonesia di Universitas Paramadina 




Referensi

Bourchier, David dan Veri Hadiz.ed. 2006. Pemikiran Sosial dan Politik Indonesi Periode 1965-1999. Jakarta: Grafiti
Effendy, Bahtiar. 2003. Islam and the State in Indonesia. Singapore: Instute of Southeast Asian Studies Singapore
Feith, Herbert dan Lance Castles. 1956. Pemikiran POlitik Indonesia 1945-1965. Jakarta:LP3ES
Huntington, Samuel. 1983. Tertib Politik di dalam Masyarakat yang Sedang Berubah. Jakarta: Grafiti Pers
Kingbury, Damien. 2003. Power, Politics and the Indonesian Military. New York: Routledge
Ricklef, M.R. 2001. A History of Modern Indonesia Since 1200, Third Edition. Palgrave. London

Rinakit, Sukardi. 2005. The Indonesian Military after the New Order. Denmark: Nias Press
Sukma, Rizal. Indonesia’s 2009 Elections: Detective Systemm, Resilient Democracy dalam Problems of Democratisation in Indonesia. Edward Aspinal dan Marcus Mietzner. Ed.
Winters, Jeffrey. 2011. Oligarchy. New York: Cambridge Univesity Press



[i] Firdaus, Ferdy Randy. (2014, 30 September) Akhiri Masa Bakti 2009-2014, DPR hasilkan 126 Undang-undang. http://www.merdeka.com/politik/akhiri-masa-bakti-2009-2014-dpr-hasilkan-126-undang-undang.html 
[iv]Keterlibatan DPR Dalam Pengangkatan dan Pemberhentian Kapolri dan Panglima TNI Dianggap Membatasi Hak Prerogratif Presiden http://www.mahkamahkonstitusi.go.id/index.php?page=web.Berita&id=10585#.VYtEomDldlI

Kenapa Sulit Hancurkan Oligarki: Jenis dan Perilaku Oligarki Menurut Jeffrey Winters

WInters, sumber
http://www.polisci.northwestern.edu/people/core-faculty/jeffrey-winters.html
Jeffrey Winters memaparkan pengertian oligarki sebagai sebuah, “politik pertahanan kekayaan oleh pelaku yang berlimpah harta (Winters, 7).” Pelaku dari sistem oligarki adalah oligark.
                  Winters menyebutkan, sistem oligarki muncul karena adanya pelaku oligarki (oligarch). Pelaku ini mampu memerintah atau menguasai pemusatan sumber daya material berlimpah yang bisa untuk mempertahankan atau menumpuk kekayaan material mereka dan posisi sosial yang ekslusif (Winter, 6). Winters menekankan, kunci dari pelaku oligarki adalah pemusatan kekayaan dalam jumlah besar untuk kepentingan pribadi. Meski kekayaan itu tidak dimiliki, oligarki bisa menggunakannya untuk kepentingan pribadi. Ia mencontohka Oligarki yang tidak memiliki kekayaan namun mampu menggerakan kekayaan dalam jumlah besar untuk kepentingan pribadinya adalah Akbar Tanjung. Ia memiliki kemampuan menggerakan anggaran negara untuk kepentingan pribadi. Tanpa pemusatan kekayaan, pelaku oligarki juga tidak mungkin muncul.
                  Winter menekankan, ada tiga pokok relevan dengan pengertian pelaku oligarki tersebut. Pertama, kekayaan mesti dalam bentu materi yang dapat dipusatkan pada segelintir orang. Kedua, kendali atau perintah kekayaan mesti untuk kepentingan pribadi, bukan institutsi. Ketiga, definisi pelaku oligarki dapat tetap dari waktu ke waktu.
                  Dengan kata lain, sebab utama munculnya pelaku oligarki, dan juga  berbuntut pada sistem oligarki, adalah pemusatan harta dan kemampuannya untuk mengerahkan harta miliknya atau kendalinya untuk melakukan pertahanan upah ataupun kepemilikan dalam kesenjangan sosial ekstrim. Kesenjangan material yang ekstrim ini berbuntut pada kesenjangan luar biasa pada politik.
                  Dengan menarik dari pengertian di atas, pelaku oligarki melakukan dua komponen pertahanan kekayaan. Pertama adalah pertahanan kepemilikan. Dengan begitu, oligarki dapat mengerahkan kekayaan untuk memastikan mereka tetap berada pada kendali, memiliki atau setidaknya bisa mengakses kekayaan yang terpusat. Komponen kedua adalah pertahanan pemasukan. Pertahanan ini memastikan pelaku oligarki dapat mengerahkan sebagian dari harta berlimpah di atas kendalinya untuk memastikan ia tetap mendapatkan pemasukan tinggi.
                  Harta merupakan penyebab utama sistem oligarki karena ia memberikan kekuasaan istimewa bagi pemilik atau orang yang dapat mengendalikannya untuk menambah dan mempertahankan kekayaaan. Hak istimewa ini cenderung lebih sulit untuk dibubarkan dibandingkan dengan sumber kekuasaan lain berupa jabatan, hak politikformal, kemampuan memaksa dan mobilisasi.   
                  Winter membagi tipologi oligarki berdasarkan empat hal. Pertama, keterlibatan langsung dalam tindak pemaksaan. Oligarki jenis ini menggunakan senjata secara langsung untuk melakukan kekerasan. Dalam kesenjangan ekstrim, kekerasan merupakan hal niscaya untuk mempertahankan akumulasi kekayaan dalam kerangkan kelas-kelas sosial. Kedua, keterlibatn langsung atau tidak langsung dari pelaku oligarki untuk memerintah. Pelaku oligarki bisa saja langsung atau tidak langsung dalam memegang pemerintahan. Ketiga, apakah oligarki terlibat secara kolektif atau sendiri-sendiri dalam keterlibatan mereka terkait dengan kekerasan. Keempat, apakah oligarki tersebut jinak atau buas. Oligarki yang liar cenderung tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan diri. Di lain sisi, oligarki bisa saja jinak ketika ada faktor luar yang mempengaruhi atau mengendalikan mereka. (Winters, 32)
                  Berdasarkan tipologi itu, Winters membagi sistem oligarki menjadi empat jenis. Pertama, oligarki panglima. Oligarki ini diwarnai dengan perpecahan ekstrim antar para pelaku oligarki. Alhasil, mereka saling berperang satu sama lain untuk memperebutkan dan mempertahankan kekayaan dan pemasukan. Ini membuat tidak ada institusi kuat yang melindungi dan mempertahankan kekayaan mereka. Oligarki ini bersifat liar dan tidak dikendalikan selain oleh diri mereka sendiri. Sebab, semua memiliki wilayah kekuasaan serta terlibat langsung dalam memerintah dan memasok paksaan karena tidak ada institusi ang melindungi kekayaan mereka. Contoh ekstrim adalah warlord di benua Timur Tengah dan Afrik.
                  Kedua adalah oligarki sultanistik. Oligarki ini diwarnai dengan satu pelaku oligarki yang menguasai pelaku-pelaku lainnya. Dengan kata lain, penguasa itu menjadi primes interpares. Dalam sistem ini, hanya satu pelaku oligarki yang paling berkuasa yang terlibat langsung memasok kekerasan dan memerintah. Pelaku oligarki lainnya mengandalkan pemimpin itu untuk mengatur pemasukan dan pertahanan kekayaan mereka. Alhasil, keterlibatan ini bersifat. Oligarki ini lebih bersifat jinak karena memiliki satu orang untuk mengendalikan para pelaku lainnya. Namun, sistem ini jarang bertahan ketika pelaku oligarki tertinggi lengser. Brunei adalah contoh ketika pelaku oligarki ini. Indonesia juga masuk dalam contoh ini ketika berada di zaman Soeharto.
                  Ketiga adalah oligarki sipil.  Oligarki ini tidak terlibat langsung dalam memerintah dan memasok kekerasan. Sebab, mereka memiliki institusi yang cukup kuat dalam mempertahankan kekayaan dan pemasukan mereka. Biasanya, negara justru menjadi ancaman pemasukan dengan menarik pajak tinggi. Itulah kenapa pertahanan sering bersifat pertahanan terhadap pemasukan. Oligarki ini bersifat jinak atau relatif dapat dikendalikan karena ada unsur hukum dan peraturan yang kuat. Contohnya adalah oligarki di Amerika Serikat dan Singapura.
                  Keempat adalah oligarki memerintah. Oligarki ini adalah bentuk pemerintahan oleh kelompok-kelompok oligarki yang memerintah secara kolektif, biasanya dalam bentuk konfederasi, namun semuanya memiliki akses atau terlibat dalam memasok paksaan. Pertahanan kekayaan dilakukan secara lebih kolektif. Oligarki ini berbahaya karena cenderung tidak stabil dan rentan untuk saling perang satu sama lain.  






Terlibat langsung dalam memerintah atau tidak
Terlibat langsung dalam memasok paksaan (bersenjata) atau tidak
Keterlibatan kolektif atau terpecah dalam memasok paksaan dan memerintah
Liar/Jinak
Oligarki Panglima
Terlibat
Terlibat
Terpecah
Liar
Oligarki Sultanistik
Hanya satu yang terlibat
Hanya satu yang terlibat
Hanya oleh satu pelaku oligarki
Jinak
Oligarki Sipil
Tidak terlibat
Tidak
kolektif
Jinak
Oligarki Memerintah
Terlibat
Terlibat
Kolektif
Liar

                  Oligarki pada dasarnya tidak dapat dibenarkan karena berlawanan dengan prinsip keadilan sosial. Winters dengan cermat menggunakan kata “klaim” untuk menyebutkan hubungan antara penguasaan harta mereka. Dengan kata lain, yang dianggap kepemilikan merupakan produk dari sebuah sistem sosial yang dijalankan oleh penguasa. Selain itu, dalam ketimpangan ekstrim, yang terjadi adalah kelompok yang kaya akan merekayasa kelompok-kelompok di bawahnya untuk mengabdi pada mereka secara langsung atau tidak langsung. Baru-baru ini, kesenjangan kekayaan di dunia semakin melebar. Untuk itu, pemerataan kembali kekayaan merupakan keniscayaan untuk demokratisasi.
                  Lantas, bagaimana proses itu bisa berlangsung? Oligarki memiliki kekayaan luar biasa dan kemampuan untuk melawan siapa saja yang mencoba merebutnya. Satu-satuya cara untuk melawan oligarki adalah dengan memaksimalkan berbagai sumber kekuatan seperti mobilisasi dan jika perlu kemampuan memaksa ketika terjadi perlawanan balik. Steve Ellner menyebutkan, kasus Venezuela membuktikan oligarki memiliki kemampuan untuk memobilisasi kekacauan ekonomi. Untuk itu, ia menyarankan, pemerataan kemakmuran melalui jalur politik memerlukan perubahan struktural dan mendasar melalui kekuasaan politik. [i]


Tulisan saya sebagai bagian untuk memenuhi ujian aksi semester dalam mata kuliah Ulasan Politik Kontemporer Indonesia di Universitas Paramadina




Referensi 

Winters, Jeffrey. 2011. Oligarchy. New York: Cambridge Univesity Press

[i] Elnner, Steve. (2015, 22 Mei) Chavismo On The Horns Of A Dilemma: Populism And Pragmatism In Venezuela terakhir diakses http://venezuelanalysis.com/analysis/11391