![]() |
| Kampanye Masjumi di sebuah masjid, sumber https://islaminindonesia.files.wordpress.com/2014/02/kampanye-pemilu-1955-1.jpg |
“As the campaign developed, the lurahs and their subordinate officers most frequently became active representatives of the PNI . Their aristocratic pretentions, their wealth and their dependence on the facor of the largely PNI-dominated pamong pradja combined to attract them to this party. (Feith, 1971. Hal 33)
Pemilu
1955 merupakan poros peristiwa demokrasi di masa Soekarno. Sebelum pemilu,
Indonesia riuh oleh kampanye-kampanye partai politik. Setelah pemilu,
kabinet-kabinet pemerintahan hanya seumur jagung. Terlebih, konflik politik
berujung pada konflik bersenjata. Ini berakibat pada munculnya Dekrit Presiden
5 Juli 1959.
Herbet Feith dalam How Did Constitutional Democracy Function? menyebutkan,
partai-partai politik memiliki masa kampanye panjang menjelang pemilu 1955.
Akibatnya, masyarakat menjadi terbelah dalam faksi-faksi pendukung partai
politik. “Kampanye panjang antara 1953-1955 memicu konflik etnisk dan
sosial-religius di banyak masyarakat desa dan kota di seluruh negeri, dan
khususnya konflik santri-abangan di komunitas etnis Jawa(Bourchier,1994. hal18).
“
Partai Komunis Indonesia dan PNI
mendapat dukungan dari kelompok abangan di desa-desa Jawa. PNI juga mendapat
dukungan dari birokrasi. Sementara itu, Partai Masyumi memperoleh keuntungan
dari sentimen anti-Jawa dengan mereguk kemenangan di banyak wilayah luar Jawa. Di
Sumatera Utara contohnya, Partai Masyumi dapat unggul jauh dengan memperoleh
789.657 pada pemilu legilsatif. Sementara itu, peringkat kedua PNI hanya
mendapat 329.657 suara. Di Jawa Tengah yang banyak terdapat kaum abangan, PNI
mendapat 3.091.568 suara dan PKI 2.326.108. Padahal, Masyumi hanya mendapat
902.387 suara dan NU 1.772.306. (Feith, 1971. hal 69).
Kampanye-kampanye partai
politik juga mengakibatkan birokrasi berjalan lambat. Di berbagai tempat, Feith
menyebutkan lurah-lurah menjadi mesin agar PNI meraup suara. “As the campaign developed, the lurahs
and their subordinate officers most frequently became active representatives of
the PNI . Their aristocratic pretentions, their wealth and their dependence on
the facor of the largely PNI-dominated pamong pradja combined to attract them
to this party. (Feith, 1971. Hal 33). Di beberapa daerah lain, lurah aktif
mendukung kepala desa. Ada juga lurah yang terpaksa mendukung PKI karena partai
komunis itu berhasil meraup dukungan mayoritas warga.
Lurah yang aktif mendukung partai
tertentu kerap kali menayalahgunakan wewenang untuk kepentingan politik. Mereka
melakukan intimidasi agar warga mengikuti pilihan mereka. “In a number of
Javanese village, lurahs threatened voters with gaol sentences and large money
fines if they did not vote PNI. In others, they threatened to withhold supplies
of salt, and other commodities normally distributed by them (Feith. 1971.hal
46).
Persoalan pendanaan partai yang menjadikan
anggaran negara bancakan turut memperlambat roda birokrasi. Perdana Menteri Ali
Sastro Amidjojo (Juli 1953- Agustus 1955) menjatuhkan sanksi pada sejumlah
menter-menterinya yang menggunakan dana negara untuk menggerakan mesin partai.
Meskipun begitu, di lain sisi PNI mendapatkan untung karena menjabat perdana
menteri, menteri keuangan dan ekonomi. Partai itu juga mendapat banyak
pendanaan dari pengusaha etnis cina. (Feith.1971.hal 26-27). Perebutan anggaran
negara berujung pada pemecatan pejabat-pejabat pendukung Masyumi dan PSI ketika
Ali Sastro Amidjojo berkuasa. Tindakan ini mendapat pembalasan dari Masyumi
ketika Burhanudin Harahao berkuasa pada Agustus 1955-Maret 1966. Permasalahan
anggaran partai juga berujung pada inflasi tinggi menjelang pemilu. (Boucher,
1994, hal 18)
Setelah pemilu 1955, Partai-partai
politik gagal memperoleh suara dominan. Perolehan suara tertinggi didapat oleh
PNI dengan hanya 22,32 persen suara. Peringkat kedua diperoleh Masyumi dengan
20,92 persen suara, ketiga NU dengan 18,41 persen suara dan keempat PKI dengan
16,36 persen suara.
Akibatnya, tidak ada kekuatan
berhasil menjadi pemenang tunggal dan memimpin dengan mantap. Sejak Agustus
1955 hingga Juli 1959, pemerintahan Indonesia dipegang oleh tiga perdana
menteri berbeda. Dua berasal dari PNI dan satu dari Masyumi. Sejak bertugas,
konstituante hasil pemilu juga tak kunjung tuntas menyelesaikan konstitusi baru
hingga Soekarno mengeluarkan dekrit 1959.
Ketegangan partai politik antara
kubu Soekarno dengan dukungan Tentara fraksi Nasution-PNI-PKI-NU (Partai-partai
birokrat yang kuat di Jawa) serta Hatta dengan dukungan Masyumi-PSI-Tentara di
daerah berujung pada dekrit 1959 (Partai pedagang yang kuat di luar Jawa). Ada
sejumlah penjelasan bagaimana dinamika partai politik dapat berujung pada
perubahan tersebut. Bruce Glassburner dan Hans Schmitt melihat, seperti
disarikan oleh Jamie Mackie, persaingan ekonomi antara kedua kekuatan merupakan
sumber utama pembubaran demokrasi terpimpin melalui dekrit 1959. Kedua bekas
pengajar ekonomi di Universitas Indonesia itu menyebutkan perubahan inflasi
menguntungkan Jawa sebagai importir komoditas dan merugikan luar Jawa sebagai
eksportir komoditas.
Kelompok Soekarno mendapat dukungan
kuat dari Jawa dan Hatta dari luar Jawa. Kelompok elit ini akhirnya berdebat
soal bagaimana menangani ekonomi. Soekarno dan pendukungnya lebih memilih untuk
meninggalkan ketergantungan pada perusahaan asing yang ketika itu mendominasi
ekonomi Indonesia dengan resiko inflasi. Sementara, kelompok Hatta lebih ingin
menciptakan ekonomi stabil meski harus bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan
yang sebagian besar berasal dari Belanda
Glassburner kemudian pada 1971 beranggapan, tiga
peristiwa berurutan mengubah situasi politik secara tiba-tiba dengan memberi
keuntungan telak pada kubu Soekarno. Ketiga peristiwa itu adalah nasionalisasi
aset perusahaan belanda oleh SOBSI, percobaan pembunuhan Soekarno dan kegagalan
pemungutan suara di PBB terkait Irian Jaya. Permasalahan Irian Jaya
mengakibatkan bangkitnya sentiment anti-asing dan berujung pada nasionalisasi.
Setelah angin politik berhembus pada kubu Soekarno, tentara-tentara yang
berkonflik dengan markas besar ABRI di daerah melancarkan pemberontakan
bersenjata. Mabes ABRI yang sudah gerah dengan ulah anak buah mereka
menggunakan kesempatan ini untuk menumpas para pemberontak secara terbuka. Dalam
konteks dukungan seperti itulah, Soekarno akhirnya mengeluarkan dekrit 1959
untuk menumpas lawan-lawan politiknya. (Bouher, 1994, hal 32-33). Dekrit itu
berhasil karena mendapat dukungan dari PKI, NU dan ABRI.
Esai ini adalah tulisan saya sebagai bagian dari ujian tengah semester Pengantar Politik Indonesia di Universitas Paramadina dengan dosen pengampun Philip Vermonte.
Referensi:
Bourchier, David dan Vedi Hadiz,ed. (2006) Pemikiran Sosial dan Politik Indonesia periode 1965-1999. Jakarta: Grafiti Pustaka Utama Gayatri
Bourchier, David dan John Legge. (1994) Democracy in Indonesia: 1950s and 1990s. Centre of Southeast Asian Studies, Monash University
Budiarjo, Miriam. 2003. Dasar-dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia.
Feith, Herbert dan Lance Castles, ed. (1988) Pemikiran Politik Indonesia 1945-1965. Jakarta:LP3ES
Feith, Herbert. 1957. The Indonesian Elections of 1955. Ithaca, NY. Modern Indonesia Project, Southeast Asia Program, dept.of Far Eastern Studies, Cornell University,
Feillard, Andree dan Remy Madinier. 1999. At the Sources of Indonesian Political Islam's Failure: The Split between the Nahdlatul Ulama and the Masyumi dalam Retrospect Studi Islamika Volume 2 nomor 2 1999
Rosssa, John. 2008. Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto. Jakarta: Hasta Mitra dan Institut Sejarah Sosial Indonesia.
Huntington, Samuel. Tertib Politik di Dalam Masyarakat yang Sedang Berubah. Jakarta:CV Rajawali

Tidak ada komentar:
Posting Komentar