Politik, Liputan, Humor, Budaya

Jumat, 02 Oktober 2015

Sosialisme Liberal dan Kapitalisme Tirani (Diktator)

Propaganda Kekejaman Sosialisme pada Perang Dingin
Teman bercerita, seorang intelektual muslim liberal yang tiba-tiba pindah haluan membicarakan politik mengklaim, ia menganut ekonomi liberal sebagai keniscayaan karena ia menganut liberalisme politik. Jelas, ini merupakan pemahaman sesat yang berasal dari propaganda perang dingin. Propaganda yang terus bergaung hingga kini menyebutkan bahwa sosialisme secara niscaya itu berujung pada kediktatoran dan kapitalisme pada demokrasi. Propaganda itu mengkaburkan perbedaan jelas antara kebebasan ekonomi (liberalisme ekonomi) dan kebebasan politik (liberalisme politik). Terlebih, penelaahan gagasan secara sederhana akan menemukan bahwa sosalisme memiliki lebih besar potensi pada kebebasan politik ketimbang kapitalisme.


Liberal secara politik berarti mengizinkan perbedaan pandangan politik ada. Orang boleh berbeda dalam pandangan politik, orientasi-seksual, agama dan dsb tanpa harus mendapatkan diskriminasi. Sebagian paham liberalisme politik tidak mensyaratkan perbedaan itu tidak perlu dirayakan, dengan bersama-sama merayakan ibadat agama contohnya. Perbedaan boleh ada selama dia tidak mengakibatkan perang antara semau melawan semua (Bellum omnium contra omnes). Anda boleh tidak setuju dengan kepercayaan politik atau orientasi seksual saya selama Anda tidak menyerang.

Ada kesetaraan dari semua orang untuk memiliki hak-hak politik. Artinya, semua orang bisa bebas untuk memilih dan dipilih. Selain itu, semua orang berhak menyuarakan aspirasi dan mempengaruhi kebijakan kolektif. Kebijakan kolektif terinstitusikan di antaranya melalui produk hukum seperti undang-undang.  

Liberal secara ekonomi berarti mengizinkan kegiatan ekonomi berjalan sebebas-bebasnya tanpa perlu campur tangan organisasi sosial terutama negara. Individu memiliki kebebasan melakukan kegiatan-kegiatan ekonomi untuk mencari laba dengan cara apapun. Asumsinya, kebebasan mencari laba akan menghasilkan sebuah kegiatan ekonomi yang efekti dan efisien melalui persaingan antar individu. Alhasil, sistem ini dianggap menghasilkkan apa yang disebut sebagai kemajuan ekonomi, lebih pada banyaknya jumlah aktivitas ekonomi (GDP) ketimbang pada siapa memiliki apa. Liberalisme ekonomi menganggap kesamaan semua orang untuk bebas berusaha merupakan mutlak.

Kapitalisme jelas berada pada spektrum ekonomi liberal. Ia mengkampanyekan organisasi sosial tidak perlu campur tangan dengan kegiatan ekonomi warganya. Alhasil, organisasi sosial tidak boleh melakukan campur tangan baik melalui kegiatan BUMN ataupun pengaturan upah.

Namun, kapitalisme tidak secara niscaya menghasilkan demokrasi. "Lihatlah Cina," kata jurnalis senior Tariq Ali ketika berkunjung di Jakarta. Sistem politik bisa saja menjadi tirani dengan tidak mengizinkan adanya perbedaan dan kapitalisme tetap berjalan. Organisasi sosial bisa saja otoriter terhadap kebebasan berpendapat, berkumpul dan orientasi seksual, tapi memberi ruang kebebasan bagi kegiatan ekonomi.

Begitu juga dengan sosialisme. Sosialisme tidak secara niscaya menghasilkan tirani dan demokrasi. Gagasan sosialisme adalah pembatasaan kegiatan ekonomi. Sosialisme menentang liberalisme ekonomi. Alat produksi mesti dikuasai secara bersama untuk menghasilkan kesejahteraan bersama. Dari semua berdasarkan kemampuannya, untuk semua berdasarkan kebutuhannya. Itu saja. Tidak benar bahwa sosialisme mewajibkan Anda bekerja menjadi ini dan itu untuk organisasi sosial.

ekonomi, mungkin karena isu ekonomi  mengklaim, sebagaian seorang liberal, ia secara niscaya menolak sosialisme dan membela neo-liberalisme. Ini tentu membuat geleng-geleng kepala. Banyak orang salah paham tentang sosialisme dan kapitalisme karena buah propaganda perang dingin; bahwa kapitalisme sama dengan demokrasi dan sosialisme sama dengan tirani. Propaganda itu, yang terus menggema hingga saat ini, berakar dari ketidakpahaman perbedaan antara liberal secara politik dan liberal secara ekonomi. 
Kesenjangan ekonomi (gini rasio) Indonesia semakin bertambah.
Indonesia menjadi semakin liberal secara ekonomi pasca reformasi


Kecenderungan Kapitalisme Diktator (Tirani) dan Sosialisme Liberal 

Sosialisme berpendapat, liberalisme ekonomi akan menghasilkan suatu hukum rimba. Kaum pemilik modal akan lebih mudah memperbanyak aset mereka. Sementara, kaum miskin, termasuk menengah, akan semakin miskin karena ketidakberimbangan modal tersebut. Terlebih, kepemilikan modal dalam skala besar tersebut rentan membuat mereka berkausa secara politik dan membajak organisasi sosial melalui kepemilikan partai.

Sosialime menganggap, liberalisme ekonomi merupakan gagasan yang bertentangan dengan dirinya sendiri. Meskipun Anda bebas secara ekonomi untuk berusaha, ada kesenjangan aset yang membuat kebebasan Anda sia-sia belaka. Anda kemungkinan besar selalu kalah dalam kompetisi dengan anak orang bermodal ketika membangun usaha. Liberalisme ekonomi karena itu mengakibatkan orang yang kaya semakin kaya dan miskin semakin miskin. Indeks gini akan terus semakin meningkat.

Di lain sisi, liberalisme ekonomi bertentangan dengan liberalisme politik. Sebab, orang yang memiliki harta lebih banyak jelas memiliki kekuatan politik yang lebih kuat. Mereka tidak setara dalam politik dengan orang miskin. Alahasil, suara mereka lebih banyak didengar, mereka bisa lebih mempengaruhi kebijakan dan mengkampanyekan kepercayaan agama, sosial, orientasi seksual mereka sendiri. Karena itu, liberalisme ekonomi secara niscaya menghasilkan penguasaan sekelompok elit kaya terhadap organisasi sosial seperti negara. Inilah kapitalisme tirani.

Sosialisme juga mengkampanyekan kesetaraan politik melalui kesetaraan ekonomi. Dengan penguasaan aset oleh organisasi sosial, organisasi sosial memiliki kekayaan untuk menghasilkan pelayanan-pelayanan sosial. Organisasi sosial bisa membangunkan rumah Anda gratis dengan uang itu. Atau, Anda bisa membangun berdasar selera Anda dan organisasi sosial cukup memberi bahan-bahannya.

Organisasi sosial juga bisa memiliki cukup uang untuk menyediakan pendidikan gratis. Anda bisa sekolah gratis dan dengan itu bisa mengambil jurusan kuliah apa saja yang Anda minati. Alhasil, Anda bisa memilih pekerjaan sesuka Anda dengan kebebasan memilih jurusan.

Si miskin semakin miskin dan semakin sulit sekolah
Singkatnya, memahami secara niscaya kapitalisme (liberalisme ekonomi) sama dengan kebebasan (liberalisme politik) merupakan kesesatan berpikir. Ini sama sesatnya dengan memahami sosialisme (anti-liberalisme ekonomi) sama dengan diktator (anti-liberalisme politik).

Ketika memahaminya sebagai kecenderungan akibat penerapan dan gagasan, Anda juga menemukan bahwa kapitalisme, liberalisme ekonomi, cenderung anti atau berlawanan dengan liberalisme politik. Sebaliknya, pengendalian ekonomi untuk kepentingan bersama, sosialisme, cenderung menghasilkan kesetaraan politik.



Jakarta Utara, 3 Oktober 2015










Tidak ada komentar:

Posting Komentar