Politik, Liputan, Humor, Budaya

Jumat, 15 Februari 2013

(Matematika Subjektif atau Tidak Objektif?) Matematika Barat: Senjata Rahasia Imperialisme Budaya


 
DARI SEMUA mata pelajaran yang dijejalkan pada murid-murid pribumi di sekolah-sekolah penjajah, jamak diterima bahwa mata pelajaran yang mungkin telah dianggap kurang bermuatan-budaya adalah matematika. Bahkan kini, kepercayaan itu semakin menguat. Jika perdebatan pendidikan telah membahas perihal bahasa(-bahasa) apa yang sebaiknya diajarkan, sejarah atau agama apa, dan apakah, contohnya, “Peradaban Perancis” merupakan pelajaran sekolah yang tepat untuk murid-murid yang hidup ribuan kilomteter dari Perancis, matematika entah bagaimana selalu dirasa universal dan, maka, bebas-budaya. Matematika di zaman kolonial memiliki, dan bagi sebagian besar orang matematika tetap hingga hari ini memiliki, status fenomena budaya yang netral dalam pergolakan arus balik pendidikan dan imperialisme....


Hingga lima belas tahun atau tak jauh berbeda sebelumnya, merupakan kearifan bersama bahwa matematika adalah ilmu pengetahuan bebas-budaya. Betapapun, menurut pendapat khalayak, dua ditambah dua adalah empat, angka negatif dikali angka negatif sama dengan angka positif, dan semua segi tiga jika sudutnya dijumlah adalah 180 derjat. Pernyataan-pernyataan tersebut benar di seluruh dunia. Pernyataan-pernyataan tersebut memiliki pengesahan universal. Maka, pastilah pendapat tadi dibuntuti dengan anggapan bahwa matematika pastilah bebas dari pengaruh budaya apapun?



Tidak ada keraguan bahwa kebenaran-kebenaran matematika seperti di atas bersifat universal. Kebenaran-kebenaran tersebut absah di manapun juga, karena abstraksi dan sifat umum kebenaran-kebenaran tersebut disengaja. Jadi, tidak perduli di manapun Anda, jika Anda menggambar segitiga datar, mengukur semua sisi dengan busur derajat, dan menjumlah semua derajatnya, seluruhnya akan selalu kurang lebih 180 derajat....karena kebenaran-kebenaran matematika tersebut adalah abstraksi-abstraksi dari dunia nyata, kebenaran-kebenaran tersebut secara niscaya bebas-konteks dan universal.



Tapi dari mana asalnya “derajat”? Kenapa jumlahnya 180? Kenapa bukan 200, atau 100? Sesungguhnya, kenapa kita benar-benar tertarik pada segi tiga dan sifat-sifatnya? Jawaban atas semua pertanyaan tersebut, secara hakiki, ‘karena sejumlah orang menentukan begitulah seharunya”. Gagasan-gagasan matematis, seperti gagasan-gagasan lainnya, merupakan ciptaan manusia. Gagasan-gagasan tersebut memiliki sejarah budaya.



Kesusastraan-kesusastraan antroplogi menunjukan pada semua yang mau memahaminya bahwa matematika yang sebagian besar masyarakat pelajari di sekolah kontemporer bukanlah satu-satunya matematika yang ada. Contohnya, kita sekarang sadar akan fakta bahwa banyak sistem berhitung berbeda ada di dunia. Di Papua New Guinea, Lean telah mendokumentasikan hampir 600 (ada lebih dari 750 bahasa di sana) yang memiliki berbagai bilangan angka, tidak semuanya berdasarkan sepuluh (Lean 1991). Seperti halnya berhitung dengan jari, berhitung dengan bagian tubuh lainya juga didokumentasikan, yang menunjuk satu bagian tubuh dan menggunakan nama bagian tubuh tersebut sebagai angka. Angka-angka juga terekam dalam simpul-simpul tali, terpahat di atas lembaran kayu atau di atas batu, dan digunakannya manik-manik, seperti halnya banyak sistem penulisan bilangan yang berbeda (Menninger 1969). Kekayaannya memukau dan provokatif bagi siapa saja yang awalnya membayangkan bahwa milik mereka adalah satu-satunya sistem berhitung dan pencatatan angka.



Tidak hanya dalam angka kita medapati perbedaan-perbedaan menarik. Pengkonsepan ruang yang mendasari geometri Euclidean (geomtri bidang datar yang digunakan barat.pen) juga hanya sebuah konsepsi-geometri Euclidean khususnya bersandar pada titik-titik, garis-garis, bidang-bidang dan kepenuhan-kepenuhan “atomistik”dan gagasan yang berpusat pada obyek. Ada pengkonsepan lainnya, seperti milik Navajos (suku Indian di Amerika.pent) yang tidak membagi maupun mengobjekan ruang, dan semuanya bergerak (Pinxten, Van Doren dan harvey 1983). Bahkan mungkin yang lebih mendasar, kita lebih menyadari bentuk-bentuk pemilahan yang berbeda dari sistem-sistem hirearkis barat-Lancy, lagi di Papua New Guinea, mengenali apa yang dia sebut sebagai “pemilahantelur (edgeclassification)” yang lebih linear ketimbang hirearkis (Lancy 1983, Philp 1973). Bahasa dan logika kelompok Indo-Eropa telah mengembangkan lapisan-lapisan istilah abstrak dalam matriks pemilahan hirearkis, tapi hal ini tidak terjadi di semua kelompok bahasa, yang menghasilkan logika yang berbeda dan cara yang berbeda menghubungkan fenomena.



Fakta-fakta seperti disebut di atas menantang anggapan mendasar dan kepercayaan yang lama dipegang tentang matematika. Dengan mengenal penyimbolan aritmatika, geometri, dan logika alternatif menyiratkan ,maka, kita sebaiknya membangkitkan pertanyaan apakah ada sistem matematika alternatif. Beberapa orang akan berpendapat bahwa fakta-fakta seperti di atas telah menunjukan keberadaan apa yang mereka sebut “matematika-etnis”, sehimpunan gagasan-gagasan matematis yang
lebih lokal dan spesifik yang mungkin tidak bertujuan menjadi sebegitu umum maupun tersistematiskan seperti matematika “arus utama”. Dengan jelas, kini memungkinkan untuk memaparkan pernyataan bahwa semua budaya telah menghasilkan gagasan-gagasan matematika, seperti halnya semua budaya telah menghasilkan bahasa, agama, moral, kebiasaan dan sistem kekerabatan. Matematika kini mulai dimengerti sebagai sebuah fenomena di semua budaya (a pan-cultural phenomenon)


Maka, kita mulai sekarang harus lebih berhati-hati dengan penamaan kita. Kita sekarang tidak dapat mengatakan tentang “matematika” tanpa menjadi lebih spesifik, kecuali kita mengacu ke bentuk umum (seperti bahasa, agama, dsb.). Jenis matematika khusus yang kini merupakan mata pelajaran yang di-internasional-kan yang sebagian besar dari kita kenali adalah sebuah produk sejarah budaya, dan di
tiga abad terakhir sejarah itu, matematika tersebut berkembang sebagai bagian budaya Eropa Barat (jika itu merupakan sebuah istilah yang didefinisikan denga baik). Itulah sebabnya judul artikel ini mengacu ke “matematika barat.” Dalam suatu pengertian, istilah itu juga tidak tepat, karena banyak budaya telah menyumbang untuk pengetahuan ini dan banyak pelaku matematika di seluruh dunia
keberatan disebut sebagai peneliti budaya barat yang mengembangkan sebagian budaya barat. Sesungguhnya, sejarah matematika barat sendiri sedang ditulis ulang kini seraya semakin banyak bukti ditemukan, tapi lebih banyak lagi bukti kemudian. Terlepas dari itu semua, dalam pandangan saya cukup memadahi untuk menyebutnya sebagai “matematika barat”, karena matematika ini dulunya merupakan budaya barat, dan lebih khususnya budaya Eropa barat, yang memainkan peranan penting dalam memenuhi tujuan imperialisme.


Tampaknya ada tiga pelaku utama yang memperantarai proses penyerbuan budaya negara-negara terjajah oleh matematika barat: perdagangan, administrasi dan pendidikan. Perihal bidang perdagangan dan perniagaan umum, ini jelas-jelas merupakan wilayah tempat ukuran, satuan, angka, mata uang dan beberapa gagasan geometri digunakan. Lebih khususnya, gagasan-gagasan barat perihal panjang, luas,
isi, tinggi, waktu dan yang yang akan dijejalkan pada masyarakat-masyarakat pribumi....


Cara kedua yang melaluinya matematika barat telah menimpa budaya-budaya lain adalah melalui mekanisme administrasi dan pemerintahan. Khususnya, angka dan perhitungan yang penting untuk mencatat sejumlah besar orang dan komoditas mengharuskan prosedur bilangan barat digunakan di sebagian besar kasus...


Perantara ketiga dan yang utama bagi pendudukan budaya adalah pendidikan, yang memainkan peran penting dalam menyebarkan gagasan-gagasan matematika barat dan, maka, budaya barat....yang paling buruk, kurikulum matematikanya abstrak, tidak relevan, dipilah-pilah dan elitis-seperti halnya di Eropa- dikendalikan oleh struktur seperti Cambridge Overseas Certificate (Sertifikasi Luar Negeri
Cambridge), tingkat muatan budayanya sangat tinggi. Hal tersebut merupakan bagian dari sebuah strategi akulturasi yang disengaja-usahanya tingkat internasional untuk mengajarkan “yang terbaik dari Barat”, dan memastikan keunggulannya atas sistem matematika dan budaya pribumi manapun. Karena
matematika barat esensial dalam pendidikan persiapan-universitas, cita-cita para murid tertuju untuk menghadiri universitas barat. Mereka dididik jauh dari budaya mereka dan jauh dari masyarakat mereka.. .


Jadi, jelas bahwa melalui tiga media tersebut; perdagangan, administrasi dan pendidikan, penyimbolan dan struktur matematika barat dijejalkan pada budaya-budaya pribumi-pribumi persis sama pentingnya dengan pentingnya penyimbolan lingustik dan struktur bahasa Inggris, bahasa Perancis, bahasa Belanda atau apapun yang merupakan bahasa Eropa dari kekuasaan kolonial tertentu yang dominan di suatu
negara.


Namun, seperti halnya bahasa, penyimbolan tertentu yang digunakan, dalam satu permasalahan, merupakan aspek yang kurang penting dari matematika. Yang lebih penting lagi, khususnya dalam kosa kata budaya, merupakan nilai-nilai yang dibawa bersama penyimbolan itu. Tentu saja, diterima begitu saja sebagai kearifan yang disepakati bersama bahwa matematika itu bebas nilai. Bagaimana mungkin matematika barat dapat memiliki nilai jika matematika barat bersifat universal dan bebas budaya? Kita kini lebih tahu, dan sebuah analisa sejarah, kesusastraan antropologi dan lintas-budaya menawarkan empat tandan nilai yang dilekatkan dengan matematika Eropa barat, dan yang pastinya telah berpengaruh dahsyat pada budaya-budaya orang-orang pribumi.


Pertama, ada ruang rasionalisme, yang ada di jantung sebenarnya matematika barat. Jika harus dipilih sebuah nilai dan sifat tunggal yang menjamin kekuasaan dan kewenangan matematika dalam budaya barat, itulah rasionalisme. Seperti Kline katakan: “Dalam aspeknya yang paling luas matematika adalah semangat, semangat kerasionalan. Inilah semangat yang menantang, merangsang, menguatkan, dan menggerakan pikirkan manusia untuk mengasah dirinya secara maksimal”(Kline 1972)...


Kedua, sehimpunan nilai-nilai pujian yang dilekatkan pada matematika barat dapat diberi istilah objektisme, sebuah cara mencerap dunia seolah-olah dunia disusun oleh obyek terpisah dan terbatas, dapat dipindah dan diabstrakan, begitulah katanya, dari konteks mereka. Untuk melepas konteks (to decontextualise), agar dapat melakukan generalisasi, ada pada pusat matematika barat dan ilmu pengetahuan; namun jika budaya Anda mendorong Anda percaya, sebaliknya dari matematika barat, bahwa semuanya memiliki dan hadir dalam hubunganya dengan semua hal lainya, maka memindahnya dari konteksnya membuatnya secara harafiah tidak bermakna. Di peradaban Yunani kuno, ada sebuah kontroversi mendalam perihal “objek” atau “proses” sebagai inti dasar keberadaan. Heraklitus, pada
600-500BC, berpendapat bahwa sifat esensi fenomena yaitu bahwa fenomea selalu mengalir, selalu bergerak dan selalu berubah. Democritus dan Pythagoreas memilih sudut-padang-dunia “atom” yang sesungguhnya diberlakukan dan dikembangkan dalam matematika dan ilmu pengetahuan barat (lihat Ronan 1983 dan waddington 1977).



Horton melihat objektisme dengan cara lain. Dia membandingkan pandangan ini dengan apa yang dia lihat sebagai kegemaran orang Arika menggunakan idiom pribadi untuk menjelaskan. Dia berpendapat bahwa hal ini bagi orang Afrika tradisional telah mengembangkan perasaan bahwa “dunia” sosial dan personal dapat diketahui, sedangkan “dunia hal-ikhwal” secara esensial tidak dapat diketahui. Kecenderungan sebaliknya dipegang oleh orang barat (Horton 1967). ..kita dapat melihat, maka, bahwa baik dengan rasionalisme dan objektisme sebagai nilai inti, matematika barat mencerminkan sudut-pandang-dunia yang terdehumanisasi, terobjekan, ideologis yang niscaya akan muncul melalui pengajaran matematika pada jenis matematika tradisional kolonial.


Kumpulan nilai-nilai ketiga menyangkut aspek kekuasaan dan kendali matematika barat. Gagasan-gagasan matematika digunakan baik sebagai teknik dan konsep yang dapat diterapkan langsung, atau tidak langsung melalui ilmu pengetahuan dan tekonologi, sebagai cara untuk mengendalikan lingkungsn fisik dan sosial. Seperti yang Schaff ungkapkan dalam hubungannya dengan sejarah matematika:”semangat abad sembilan belas dan dua puluh dilambangkan dengan semakin berkuasanya
manusia atas lingkungan fisiknya” (Schaff 1963:48). Jadi, penggunaan bilangan dan ukuran dalam perdagangan, industri, perniagaan dan administrasi semuanya telah menekankan nilai kekuasaan dan kendali matematika. Hal ini telah (dan masih berlangunsg) menjadi pengetahuan yang berguna, pengetahuan yang berkuasa, dan menggoda mayoritas rakyat-rakyat yang mengalami kontak denganya...


Sejak zaman kolonial hingga hari ini, kekuasaan budaya matematis-teknologis ini telah tumbuh dengan cepat-begitu cepatnya hingga matematika barat kini diajarkan di semua negara di dunia. Sekali lagi, pelajaran ini diajarkan dengan asumsi keuniversalan dan kenetralan budaya. Dari kolonialisme terus berlanjut hingga neo-kolonialisme, imperialisme budaya matematika barat belum juga benar-benar
disadari dan dimengerti. Bertahap, pemahaman yang lebh besar akan dampak buruknya sedang digali, tapi harus dipikirkan apakah pengaruhnya-yang-menyebar di mana-nana berada di luar kendali.



Dengan menyebar dan tumbuhnya kesadaran sifat dan pengaruh budaya matematika barat, begitu juga berbagai tingkat tanggapan terahadapnya dapat juga dilihat. Pada tahap pertama ada peningkatan minat dalam kajian matematika-etnis, melalui baik analisa kesusastraan maupun penyelidikan anthropologi di situasi hidup-sesungguhnya...


Pada tahap kedua, ada tanggapan di banyak negara berkembang dan bekas jajahan yang bertujuan menciptakan kesadaran lebih kuat pada budayanya. Kelahiran kembali atau kebangkitan ulang kebudayaan adalah tujuan dari proses pendidikan di beberapa negara. Gerdes, In Mozambique, merupakan seorang pendidik matematika yang telah banyak berurusan dengan pekerjaaan di wilayah ini. Dia tidak hanya mencoba menunjukan aspek penting dari matematika masyarakat Mozambi, tapi juga mengembangkan proses “pencairan” “pembekuan” matematika yang dia angkat. Contohnya, dengan metode papan lempeng yang digunakan nelayan untuk membuat perangkap ikanya, dia menunjukan gagasan-gagasan geometrik yang penting yang dapat dengan mudah digabungkan dengan kurikulum matematika untuk menciptakan apa yang dia anggap sebagai pendidikan matematika Mozambik yang asli bagi kaum muda di sana.....


Tanggapan tahap ketiga pada imperialisme budaya matematika barat, secara paradoks, adalah mengkaji ulang seluruh sejarah matematika barat itu sendiri. Bukanlah kecelakaan jika sejarah ini telah ditulis utamanya oleh para peneliti kulit putih, pria, Eropa Barat atau Amerika,dan ada keprihatinan bahwa, contohnya, sumbangsih orang kulit hitam Afrika telah disepelekan.


Saya mulai dengan memaparkan mitos netralnya matematika barat. Akhir-akhir ini, bukti-bukti modern membawa pada kehancuran kepercayaan naif ini. Namun, kepercayaan pada mitos itu telah menghasilkan, dan terus menghasilkan, dampak-dampak yang kuat. Dampak-dampak tersebut berkatian dengan pendidikan, pembangunan bangsa dan berlanjutnya imperialisme budaya. Sesungguhnya pernyataan bahwa sebagian besar dunia moden telah menerima matematika barat, termasuk nilainya, sebagai bagian dasar pendidikanya tidak dapat berlaku untuk semuanya...


Namun, jika dilihat lebih luas, harus dipertanyakan: bukankah sebaiknya ada lebih banyak perlawanan terhadap hegemoni budaya ini?...Perlawanan sedang tumbuh, debat kritis sedang memberi tahu perkembangan teori, dan penelitian sedang meningkat, tentunya dalam situasi pendidikan tempat konflik-budaya dikenali. Senjata rahasia tersebut tidak lagi rahasia.



* Dari ‘Western Mathematics: The Secret Weapon of Cultural Imperialism’ Race

and Class 32(2), 1990.

ALAN J.BISHOP*

Kamis, 14 Februari 2013

PKI Dilarang Merokok

http://www.facebook.com/notes/rio-al-wafa-rizalino/pki-dilarang-merokok/10151238936320993


Sejak beberapa hari lalu, saya mewawancarai sejumlah ex tapol 1965 untuk keperluan peliputan program acara di Tempo TV. Program tersebut mengangkat tema seputar peristiwa G30S. Satu hal yang menarik dari keterangan sejumlah ex tapol tersebut adalah larangan merokok di kalangan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Menurut mereka, salah satu kode etik ketika menjadi anggota atau simpatisan PKI adalah dilarang merokok. Larangan ini muncul bukan tanpa sebab. Menurut para ex tapol itu, salah satu tujuan berdirinya PKI adalah untuk memperjuangkan hak-hak kaum miskin dan tertindas. Jadi basis massa dan basis ideologi mereka adalah kaum proletar. Lalu kenapa dilarang merokok? menurut salah satu ex tapol, mbah Pudjiati, larangan itu muncul karena mayoritas anggota PKI adalah orang miskin. Jadi, kalau orang miskin punya kebiasaan merokok, itu sama saja memiskinkan diri sendiri. "Lebih baik uang untuk beli rokok digunakan untuk kebutuhan lain," kata mbah Pudjiati yang kini berusia hampir 80 tahun.

Larangan ini pula lah yang jadi salah satu bukti kalau PKI bukan dalang G30S. Kalau kita melihat film "Pengkhianatan G30S/PKI" yang selalu diputar setiap tahun pada era orde baru, ada sebuah adegan di mana para petinggi PKI sedang rapat mempersiapkan kudeta. Di sana mereka rapat sambil menghisap rokok. Adegan itu cukup mudah diingat, karena setting ruangan yang remang-remang, kepulan asap dimana-mana dan sesekali kamera menyorot close up bibir pemimpin rapat yang sambil menghisap rokok. "Djawa adalah kontji." begitu kalimat yang saya ingat dalam adegan rapat tersebut.

Mengomentari adegan di film itu, mbah Pudjiati berkata, "Dalang G30S itu bukan PKI. Wong orang-orang PKI itu ngga boleh merokok. Makanya film itu bohong semuanya,"

Berebut Tanah Dengan TNI AU , Masyarakat Morotai Ancam Gabung ke Philipina

www.deliknews.com/2013/01/berebut-tanah-dengan-tni-au-masyarakat-morotai-ancam-gabung-ke-philipina/

Berebut Tanah Dengan TNI AU , Masyarakat Morotai Ancam Gabung ke Philipina


Pangkalan Udara Leo Watimena di demo masyarakat morotai1 300x225 Berebut Tanah Dengan TNI AU , Masyarakat Morotai Ancam Gabung ke PhilipinaMorotai -Kepala Bagian Hukum Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai, D. Lasidji gerah dengan tingkah para petinggi negeri ini  . Pasalnya , kasus sengketa tanah antara masyarakat dengan TNI AU Lanud Leo Watimena Pulau Morotai  terus bergejolak , bahkan upaya mendamaikan kedua belah pihak masih menemui jalan buntu .
Kasus tanah , yang dianggap bisa diselesaikan tanpa harus berlarut-larut itu selalu berakhir dengan aksi demo masyarakat pulau morotai  di Markas TNI AU. Bahkan sudah sering terjadi ketegangan di antara masyarakat pulau Morotai dengan TNI AU Lanud Morotai.
Ketegangan ini terjadi karena masalah perebutan lahan antara warga dengan TNI AU,
Menurut Kabag Hukum Pemkab Pulau Morotai , D Lasidji ” Ini menjadi ancaman serius jika tidak ditindak lanjuti , maka akan terjadi disintegrasi bangsa , saya mengatakan demikian, karena kita cukup dekat dengan Negara tetangga philipina, wacana ini sudah berulang-ulang didengungkan oleh masyarakat kalau kita tidak diperhatikan ya kita gabung saja dengan philipina, atau kita bikin negara sendiri,” ujar Lasidji,
Namun menurutnya warga Pulau Morotai mendambakan ketenangan dan kedamaian, tetapi penguasaan hak atas tanah dengan berpatokan pada keterangan TNI AU seluas 1125 Ha, dengan jumlah 104 patok itu harus dijelaskan secara hukum, dengan menunjukkan bukti kepemilikan berupa surat tanah yang dikeluarkan oleh Badan Pertanahan Nasional, bukan atas dasar klaim pribadi pihak TNI AU. tegasnya
Lanjut dia , jika pihak TNI AU hanya di suruh untuk menjaga dan mengawasi pihak kementerian keuangan cukup tugas itu yang dilakukan, bukan berarti harus membongkar pondasi rumah atau menakut-nakuti warga, karena tanah ini sudah dikelola sebelum perang dunia ke II di mulai, apalagi pihak Pemda sudah melakukan peningkatan daerah yang tertuang dalam RTRW .
Pihak TNI AU tidak bisa seenaknya melakukan tindakan yang berlebihan, karena menurutnya semua sudah di atur dalam UU Dasar 1945 Pasal 33, dimana dijelaskan, bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang ada di negara adalah dikuasai oleh negara, yang diperuntukkan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat. ‘ lanjutnya’
Masih menurutnya,pihak TNI AU tidak bisa melakukan tindakan yang sengaja memancing kemarahan masyarakat, karena semua ini bisa dilakukan dengan mengadakan pertemuan dengan pihak pemda, DPRD yang mewakili masyarakat.
” Namun saya yakin masyarakat morotai adalah masyarakat yang nasionalis, masyarakat yang betul-betul memperjuangkan NKRI,” ujar Don yang juga ikut berorasi ketika masyarakat berdemo di depan kantor TNI AU Lanud Leo Wattimena Morotai.kata dia
Sekedar diketahui , Kepulauan Morotai yang merupakan teras Indonesia bagian utara itu , pernah menjadi markas besar Amerika Serikat dalam perang dunia ke II ,Pasukan Sekutu yang dipimpin MAC Arthur itu memanfaatkan Pulau Morotai dalam pertempuran dengan pasukan Nippont ( Jepang) , tak heran jika pulau ini dihiasi dengan sisa-sisa perlengkapan perang dunia II yang terdapat di dasar laut dan di darat , melihat potensi itu pada september 2012 tahun kemarin , Kegiatan bertaraf Internasional Sail Indonesia di gelar di Pulau Ini yang di hadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono .
Sisa perang yang digunakan saat  ini yakni Bandara Pitu yang sudah berganti nama mejadi Bandara Leo Watimena ,Bandara ini memiliki 7 buah landasan alam , dan diklaim oleh Amerika Serikat sebagai bandara dengan landasan terbaik ke dua di Dunia setelah John F. Kennedy , Pulau Morotai  juga memiliki potensi dibidang  perikanan dan Hasil bumi lainya . ( Jalu/Editor : Yeni)

1 Comment for “Berebut Tanah Dengan TNI AU , Masyarakat Morotai Ancam Gabung ke Philipina”

  1. Saya merasa sedih,pedih bercampur aduk dengan keprihatinan terhadap kasus kasus tanah rakyat yang bermasalah dengan TNI,kenapa harus terjadi dan terus terjadi.Apa masih kurang korban korban rakyat sipil yang sudah susah payah menghidupi keluarganya tanpa dapat gaji,hanya tanah yang menjadi sumber kehidupan dan penghidupan,Apa gak malu didengar negara lain masa sesama putra bangsa harus menumpahkan darah karena berebut tanah.Kemana para petinggi Negara ini?Apa yang sebenarnya yang ada dibenak hati nurani para petinggi di negeri tercinta ini?mau dibawa kemana arah kebijakan para pejabat sebagai nahkoda negara ini?ampun….mohon ampun ya Allah ya Tuhan kami,bukalah hati dan pikiran para pemegang kuasa di negeri ini,agar dapat mencari solusi terbaik bagi seluruh bangsa Indonesia,jangan sampai tercerai berai hanya karena ambisi,emosi,dan ego individual.walaupun langkah kami terasa lelah melihat,mendengar kabar yang tiada ujung pangkalnya,namun kami masih optimis masih banyak anak bangsa ini yang punya hatinurani untuk memikirnya masa depan bangsa ini.semoga yang maha kuasa membimbing kita semua,amiin

Rabu, 13 Februari 2013

Kucing di Jakarta


Kucing di Jakarta
Tidak lagi dengan garang menerjang tikus
dan membawa mayatnya dengan elegan untuk anak-anaknya
Insting liarnya sudah mati
Orang di Jakarta,
Bisa dengan garang menerjang sesama
Dana dengan rakus mencari harta
Insting liarnya semakin menjadi

Kucing di Jakarta mengganyang makanan sisa
Orang di Jakarta menguras rejeki orang hingga tak bersisa

Ah, mungkin Jakarta hanya cocok dihuni kucing-kucing saja

Step Up Revolution: Ironi Film yang Melumpuhkan Revolusi


Step Up Revolution adalah film kelanjutan dari Step Up series. Bedanya, kali ini tarian-tarian berada dalam kemasan tema, seperti judulnya, revolusi dan terbukti cukup sukses. Step Up Revolution menghasilkan pendapatan kotor hingga Rp 1,3 triliun di seluruh dunia. Pada pekan perdana pemutarannya di awal November, posisi empat Box Office berhasil disikat. Namun, kritikus menilainya dengan sinis. Film ini hanya mendapat tanggapan positif dari 25% kritikus media dan film terkemuka pilihan Rotten Tomatoes. Sebagian menilai Step Up Revolution memiliki alur cerita yang gampang ditebak. Ironisnya, proses revolusi yang melekat dalam judul ini merupakan upaya untuk menumpulkan revolusi.



Ringkasan Cerita
Secara sekilas, Step Up Revolution mengkisahkan munculnya kesadaran untuk melakukan perlawanan. Sekelompok pemuda di Miami menamakan diri The Mobs (Gerombolan) beranggotakan orang-orang terpinggirkan di daerah kumuh yang memiliki hobi menari. Sean contohnya, pemimpin grup ini merupakan pelayan di sebuah restaurant, yang menghabiskan waktu luangnya berlatih joged. Pencerita di bagian awal mengatakan,

 “ketika kamu tumbuh di kota sebesar Miami, gampang merasa kecil. …pemukiman kami ada di tengah gedung pencakar langit. Hanya beberapa kilometer dari Pantai Selatan tapi seperti di dunia lain saja. Tumbuh di tempat seperti ini, Kau akan cepat belajar, kau harus bicara lebih keras ketimbang semua orang agar didengar. ….Dan ada waktunya kau harus bersuara, berjuang untuk yang kau inginkan.”

 Untuk memenangkan lomba berhadiah uang dari laman Youtube, mereka harus membuat channel yang dlihat 10 juta pengunjung. The Mobs membuat video pertunjukan tari dengan memblokade pusat kota Miami dan merubahnya menjadi panggung dadakan. Mereka menyebutnya melakukan mobs. Bagi The Mobs, melanggar aturan dan membuat kota macet untuk memaksa mereka menonton pertunjukan di panggung dadakan merupakan tindakan membangkang guna bersuara. Seperti kata Sean, ketua The Mobs,

 Sean: Kau tahu? Langgar aturan..Kau harusnya sadar, orang seperti aku dan Eddy, tidak tampak di kota ini. Itulah kenapa kami mendapatkan gagasan melakukan Mobs. Kami seperti mengatakan, “Dengarkanlah. Kami ada. Kota ini juga milik kami. “

 Sayangnya, beberapa kali dicoba, ulah yang membuat gerah polisi ini tak kunjung membuahkan hasil.


Orientasi uang dan ketenaran bergeser menjadi perlawanan ketika mereka bersama ribuan orang lainnya terancam digusur. Pasalnya, developer ternama hendak membangun tempat padat penduduk ini menjadi industry mewah. Mereka mengalihkan tarian jalanan mereka menjadi ajang menyampaikan pesan perlawanan. Dengan gaya tari sedemikian rupa, mereka akhirnya berhasil menarik simpati warga kota Miami untuk mendukung perlawanan mereka; membatalkan penggusuran untuk industry pariwisata kelas mewah. Cara ini juga akhirnya berhasil membatalkan persetujuan dari Dewan Kota dan menarik Nike untuk menjadi sponsor mereka.




Tarian Anti- Revolusi

Revolusi merupakan perubahan mendasar dan secara sistematis untuk menggantikan suatu sistem dengan yang lainnya. Contohnya, revolusi k komunisme yang bertujuan mengganti kapitalisme dengan komunisme. Pengertian sederhana kapitalisme yang ditawarkan Simon Torney sebagai kapitaisme adalah adanya kepemilikan pribadi, buruh upahan dan akumulasi capital melalui kerja (baik itu keringat sendiri dan orang lain). Dengan tiga syarat itu, kelompok kaya dapat mempekerjakan buruh miskin dan menengah demi menumpuk laba bagi dirinya. Revolusi komunisme bertujuan menghancurkan itu semua dengan menjadikan alat produksi milik bersama. Dengan begitu, semua orang dapat bekerja sesuai kemampuannya dan menerima sesuai kebutuhannya. Bayangkan betapa mendasarnya suatu revolusi.

Dalam sejarah, sejumlah revolusi juga terpaksa dijalankan melalui peperangan dan kekerasan, contohnya revolusi Agustus 1945 untuk mengusir Belanda di Indonesia. Kekerasan kerap menjadi cara terakhir karena pihak penindas mesti dipaksa untuk menghentikan penindasannya. Kekerasan kerap menjadi taring pamungkas.


Revolusi dalam Step Up Series membalik makna revolusi sosial. Dalam perlawanan The Mobs, perjuangan kelompok yang dibalut dengan kemasan terpinggirkan ini bukanlah revolusi karena tidak merubah secara structural dan sistematis sistem kapitalisme, sebaliknya, malah mengokohkan. Kenapa sistem kapitalisme yang semestinya dirubah? Karena mereka terpinggirkan akibat sistem kapitalisme. Dalam kapitalisme, kota menjadi pusat penumpukan modal di tengah kesenjangan ekonomi yang diciptakan. Kesenjangan ekonomi ini berujung pada berbagai kesenjangan lain, seperti budaya, sosial dan politik.

Pertama, film ini tidak mengandung kritik sosial soal kenapa masyarakat mereka menjadi terpinggirkan dalam Miami. Tidak ada pembahasan soal penyebab kemiskinan sistematis yang menimpa mereka. Sejumlah tokoh secara gamblang digambarkan terasingkan dari ekspresi diri mereka, seperti Sean yang terpaksa menjadi juru masak untuk mendapat uang agar bisa menari. Namun, tidak ada kritikan soal penyebab keterasingan itu. Tentu jika muncul kritik, analisa itu akan berbau marxis karena mengkritik penindasan kaum pekerja yang mengakibatkan keterasingan. Selain itu, solusi yang ditawarkan untuk keluar dari penindasan adalah revolution yang sangat individualistis, atau paling banter sektarian, berlatihlah sekeras mungkin agar kelompokmu didengar dan mendapat kesuksesan. Ini tercermin karena mereka sembari tersenyum menerima tawaran dari Bob Cooper untuk menjadi model kampanye Nike, perusahaan yang memiliki reputasi buruh dengan buruh murah di dunia ketiga, termasuk Indonesia.

“Klien terbesar kita adalah Nike. Mereka mencari sesuatu yang berbeda…untuk kampanye mereka. Saya kira kelompok Anda sempurna. Siap memperkenalkan The Mobs ke seluruh dunia? 
Sean: Apa yang saya pertimbangkan? Di mana saya mesti tanda tangan kontrak? ”

Dengan tambahan unsur tari revolusi yang dibawa The Mobs, persuahaan besar seperti Nike justru semakin kokoh.

Kedua, mereka menentang rencana pembangunan industri pariwisata dengan gaya mewah.Namun, mereka justru merubah cara menjual dengan lebih efektif. The Mobs mendesak budaya jalanan sebagai bahan jualan karena menilai hal itu adalah bagian dari identitas Miami. Tentu, dengan mengesankan Miami sebagai tempat wisata dengan ikon budaya jalanan, pengunjung dari segmen bawah dapat terus membanjiri kota itu untuk menghabiskan uang mereka. Budaya perkampungan kumuh bukannya dilawan, kebodohan dan penindasan tidak dilawan, tapi justru menjadi jualan. Perlawanan The Mobs merupakan upaya agar kaum terpinggirkan dapat menikmati buah kapitalisme, bukannya merubah sistem.

Ketiga, film ini berusaha menyingkirkan cara kekerasan dalam menuntaskan konflik sosial. Asumsinya tentu saja, kekerasan hanya boleh dilakukan apparatus negara. Padahal, dalam sebagian besar kasus, negara dikuasai oleh kelompok pemodal yang membeli politik. Dalam tarian gambling tercermin, mereka menunjukan gerakan-gerakan yang mengancam akan mengusir. Contohnya,tari yang menggambarkan seseorang bakal menembak. Namun, desakan mengenyahkan pengembang itu tidak memiliki tindak lanjut selain kampanye tarian-tarian mereka. Seumpama pengembang tetap menjalankan rencana sambil berkolaborasi dengan pemerintah (dalam hal ini Dewan Kota) The Mobs tidak akan mampu melawan aparat kekerasan sama sekali. Selain itu, aksi melanggar aturan mereka dengan menggelar pertunjukan tari di gedung Dewan Kota dan jalanan umum sangatlah tidak masuk akal dalam kehidupan nyata. Amerika Serikat sudah memiliki alat pengintai menggunakan kamera cctv. Kamera ini memiliki program untuk memindai dengan cepat identitas wajah. Akibatnya, dengan gampang akan terekam data orang-orang yang berbuat onar menurut pemerintah. Melawanlah dengan cara ini dan Anda akan segera masuk penjara karena alasan konyol.

Singkatnya, Step Up Revolution benar-benar menihilkan gagasan bahwa revolusi adalah perubahan mendasar dan sistematis yang kerap melibatkan kekerasan. Dengan propaganda film-film seperti ini, para penonton diajak untuk menyalurkan hasrat perlawanan mereka. Namun, perlawanan diajarkan utnuk menjadi tumpul dan tidak bermakna. Penonton diajak berpikir revolusi mesti menempuh cara-cara yang tidak revolusioner demi tujuan yang juga tidak revolusioner. Secara halus film Step Up Revolution menjauhkan penontoh dari kesadaran-kesadaran revolusioner, seperti kesadaran kelas dalam marxisme.

Senin, 11 Februari 2013

Lelaki Tua di Tengah Kemacetan Jakarta


Di tengah kemacetan
Di bawah sorot terik mentari
Didekap udara pengap
Dalam gaung bunyi klakson melengking
Dari kendaraan orang-orang
yang merasa hidup terburu-buru
dan waktu cepat berlalu
Dan aku pun merasa begitu

Tiba-tiba aku melihat
Seorang tua melangkah
Dan tiba-tiba dia memperlambat jalan
Hingga berhenti di pinggiran

Aku bertanya heran, untuk apa?
Mengapa berhenti di tengah-tengah kemacetan
Yang begitu bising dan panasnya?
Bukankah semua orang ingin momen ini segera berlalu

Ternyata dia memungut bunga
Berwarna merah dan tampak sangat indah
Senyuman merekah di wajahnya

Dan aku merasa
 waktu mendadak berjalan…..begitu pelan

Antara Daun-daun dan Cocote Mario Teguh

Antara Daun-daun dan Cocote Mario Teguh

Hijaunnya daun-daun setelah hujan,
seperti wajah buruh habis gajian,


Daun kering meronta di musim kemarau,
seperti buruh ketika tanggal tua sedang sakau,


Mario Teguh mungkin bilang,
"Anda harus punya visi dalam mengatur gaji"
Maaf Guh, harga kebutuhan tak bisa berbohong,
dan Hidup tak segampang cocote Mario Teguh!
 

(Utan Kayu, 09 Januari 2012)