Politik, Liputan, Humor, Budaya

Kamis, 27 Oktober 2011

Dua puisi di 11 mei

I



DPR 11 mei



Ada Aksi massa sekaligus Dua

Mahasiwa Protes seperti biasa

dan Petani Sukamulya

lima ribu orang tuntut tanah mereka

yang dirampas Angkatan Udara

seribut hektar, banyak bukan kepalang

Ini luar biasa gila!



Ada juga tiga partai gurem

Tolak pembangunan gedung, Katanya



Ada Pansus bahas RUU Pengadaan Tanah untuk Pembangunan

dan usulkan Polisi tegas saja pada warga

supaya negara maju

dan kata “tegas” terdengar begitu sadis di telinga

karena telinga hati mendengar kata “bantai saja”



Walau itu-itu saja

Agak Luar Biasa







II

Jangan Dulu Beli Buku



Ada Satu buku ingin kubeli

Naga Bumi Satu

Harga lebih dari seratus ribu

mau gimana?

Akses ke perpus tak ada

Teman di sini tak ada yang punya



Tapi, mulut sepatu teriak-teriak merana

diajak jalan nyaris tidak bisa



Beli sepatu dulu saja

Belum bisa baca itu buku, terpaksa

dua puisi, I feel Guilty dan Tak Terbagi

I Feel Guilty

by Guruh Dwi Rianto on Friday, May 20, 2011 at 2:15am


I feel guilty



From working in a metropolis, in a city

In the capital of my country

In this horrible discrepancy

of wonderful modern facilities

between city and villages!



I feel guilty

From prolonging

What I think is wrong



but, what can I do?

My peers are gone

From my hometown

I cannot stand alone



And that eases my guilty

Sorry,



Tak Terbagi

Andai Saja



Bagi kau,

Yang setiap hari hidupmu pasti

Paling tidak setiap ada nasi



Pernahkan kau bingung,

Hingga linglung,

Besok makan apa?

Sekarang tidak ada uang atau apapun

Buat makan dua tiga hari lagi

Bahkan buat esok hari

Atau mungkin makan nanti



Dan jika saja bisa

Ingin rasanya engkau bisa mengerti

Agar kau tahu bersimpati

Tapi perasan ini tak terbagi



Gedung Tipikor, 18 mei 2011

Kasihan anak muda urban

by Guruh Dwi Rianto on Thursday, May 26, 2011


Kasihan

Anak-anak muda urban



yang hanya tau mengolok-olok buat tertawa

yang selalu saja

minta dibayari setelah makan bersama

tapi tidak bosan-bosan juga

dan, ketawa juga!

kasihan.



Saya kasihan,

pada orang-orang urban



yang selalu perlu berbelanja

agar dapat diterima sesama



yang gayanya dan hidupnya

ya, itu-itu saja

tapi merasa diri paling unik sedunia



saya kasihan,

walau, mereka juga mengatakan pada saya

kasihan deh lu

dasar katrok

Di Tengah Kemacetan

Di tengah kemacetan

Di bawah sorot terik mentari

Didekap udara pengap

Dalam gaung bunyi klakson melengking

Dari kendaraan orang-orang

yang merasa hidup terburu-buru

dan waktu cepat berlalu

Dan aku pun merasa begitu



Tiba-tiba aku melihat

Seorang tua melangkah

Dan tiba-tiba dia memperlambat jalan

Hingga berhenti di pinggiran



Aku bertanya heran, untuk apa?

Mengapa berhenti di tengah-tengah kemacetan

Yang begitu bising dan panasnya?

Bukankah semua orang ingin momen ini segera berlalu



Ternyata dia memungut bunga

Berwarna merah dan tampak sangat indah

Senyuman merekah di wajahnya



Dan aku merasa

waktu mendadak berjalan…..begitu pelan

  Guruh Dwi Rianto on Saturday, June 4, 2011

Minggu, 11 September 2011

Solidaritas untuk Munir

Untuk versi suara (tujuan tulisan ini diciptakan) silahkan buka tautan di bawah

http://www.kbr68h.com/feature/laporan-khusus/11961-solidaritas-untuk-munir-perjuangan-melawan-lupa-

KBR68H - Tujuh September 2004 Munir Said Thalib tewas diracun arsenic dalam penerbangan Jakarta-Amsterdam. Tujuh tahun berlalu hingga kini dalang pelaku pembunuh pejuang HAM tersebut  belum terungkap. Kemarin berbagai elemen masyarakat  yang peduli penuntasan kasus Munir menggeruduk Istana Presiden. Mereka menuntut pemerintah menuntaskan kasus ini. Sebuah aksi peringatan melawan lupa.
"Sekarang coba, satu orang saja, jelaskan kepada saya, kepada kami, kenapa tadi ada yang ditendang, ada yang didorong-dorong, ada yang diseret, coba siapa yang berani?"
Sumiarsih salah satu peserta unjuk rasa yang menuntut penuntasan Kasus Munir.  Ia sempat ditarik polisi untuk menjauhi Istana Presiden.
Selain Sumiarsih, bekas Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KONTRAS) Usman Hamid juga menjadi korban kekerasan anggota Pasukan Pengamanan Presiden.
Sumiarsih dan Usman Hamid bersama puluhan pengujuk rasa yang tergabung dalam Komite Aksi Solidaritas Untuk Munir (KASUM)  menagih janji Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk mengusut dalang pembunuh Munir.
Menurut Koordinator KONTRAS Haris Azhar  kasus Munir dapat diselesaikan jika Presiden Yudhoyono memiliki kemauan politik.
"SBY lebih melihat kalkulasi orang-orang yang mesti dimintai pertanggungjawaban kasus Munir. Seperti Muchdi Pr. Kedua, mungkin SBY memilih menyibukan diri membangun kejayaan ekonomi dan penerimaan masyarakat internasional dengan jargon-jargon demokrasi. Sehingga SBY mengabaikan kasus munir."
Ironisnya kata Haris  pemerintah malah memberikan remisi atau potongan hukuman kepada terpidana pembunuh Munir, Polycarpus Budihari Priyanto. Bekas pilot Garuda itu  mendapatkan remisi  enam bulan. Alasannya pun bikin geleng kepala: karena Poly dinilai aktif  ikut kegiatan kepramukaan dan rajin donor darah.
Selain kalangan aktivis HAM, dukungan penuntasan kasus Munir  juga datang  dari kalangan seniman.  Musisi Glen Fredly menyuarakan dukungannya melalui lagu.
"Menurut saya, dia tidak akan pernah dilupakan. Dan saya yakin semangatnya akan terus hidup dan terutama di generasi saya. Karena kalau kami membicarakan tentang generasi kita yang tidak berbicara tentang HAM dengan gaya aktivis. Saya ingin generasi ABG di Mall juga tahu siapa Munir dan apa yang terjadi di Papua dan Timur Indonesia."
Dukungan serupa juga datang dari kalangan cendikia. Sejarawan LIPI Asvi Warman Adam meminta pemerintah segera menetapkan Munir  sebagai pahlawan nasional. Perjuangan Munir menegakan HAM di Indonesia nilai Asvi layak diajarkan di bangku sekolah.
"Ada seorang pejuang HAM yang akan diajarkan di sekolah secara resmi dari SD hingga SMA. Secara tidak langsung melalui sejarah kita sudah menyosialisasikan HAM. Hingga sekarang dari 149 pahwlawan Nasional tidak ada pahlawan HAM."
Sementara  anggota Komisi Hukum DPR Eva Kusuma Sundari menegaskan penuntasan kasus Munir akan terus ditagih parlemen.
"Kembali ke munir saya akan terus berupaya untuk bersuara. Dan terus meminta penegak hukum menyelesaikan masalah"
Kasus pembunuhan pejuang HAM Munir seperti kata Presiden Yudhoyono sebagai  test sejarah bangsa ini. Kasus ini harus dituntaskan hingga dalangnya dihukum. Mengutip Sastrawan Milan Kundera,: perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan  melawan lupa. Melupakan kasus Munir sama dengan membiarkan kekuasaan terus menindas.

Jumat, 05 Agustus 2011

Yang Tak Direlakan


Dibilangnya hidupku kuat,
Dibilangnya hidupku tak menanggung beban,

Tapi aku menanggung luka
Akan rasa yang kuangan,
Seperti gerombolan mayat-mayat busuk yang bangkit
yang memaksa keluar dari pekuburan
Dan ingin menghancurkan segala peradaban  

Beban kerinduan akan keindahan,
Keindahan yang lama tak mampu kupenuhi sendiri,

Seperti luka dari
kerinduan gamelan yang terongok
Akan indahnya tetabuhan pegelaran wayang
Seperti kejenuhan biola tua di gudang
Yang mendamba kesemarakan melodi orkestra  

Dan lama ingin kuraih  
Yang tampak padat dan nyata di depan mata
Berkali-kali kucoba genggam
Namun selalu dan selalu
menguap saat telapak ini merengkuhnya
Seolah itu bayang ilusi

Dan rasanya baru kemaren hari
Sayup kudengar melodi keindahan
Kulihat pancaran cahaya senja yang merona
Di balik jurang pemisah buatan sejarah dan manusia
Yang begitu lebar menganga

Namun tetap kucoba berlari
Berlari dan berlari sekuat-kuatnya..
Mengambil ancang-ancang untuk melompat terbang
Dan lagi tersandung tepat di mulut jurang
Kini terkulai sambil melongok ke bawah
Ke kedalaman jurang

Dan yang tampak begitu padat
Kembali bagai menguap seperti ilusi
Dengan sepenuh upaya kucegah
Namun sepertinya dayaku tak kuasa

Sabtu, 16 Juli 2011

Melarang PKI Berarti Menentang 4 Sila Pancasila

Diambil dari Pilihan Tulisan D.N. Aidit Djilid II 

Berhubungan adanya suara-suara, walaupun tidak begitu lantang, yang menuntut supaya ada pelarangan terhadap PKI karena katanya “Komunisme bertentangan dengan sila pertama Pancasila dan kepribadian Indonesia”, saya merasa perlu untuk sekedar memberi penjelasan tentang ini. Dengan penjelasan ini sekaligus saya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang banyak disampaikan kepada Comite Central PKI dan kepada saya sendiri tentang soal ini.

                Pertama-tama saya berpendapat bahwa suara-suara yang menghendaki supaya PKI dilarang samasekali tidak mewakili kepentingan agama manapun atau kepentingan nasional Rakyat Indonesia. Ribut-ribut supaya PKI dilarang adalah sangat erat hubungannya dengan perang urat syaraf yang sengaja dilancarkan oleh kaum imperialis untuk memecahbelah kekuatan revolusioner Rakyat Indonesia.

                Selanjutnya perlu saya kemukakan, bahwa adalah tidak benar bahwa komunisme mau memaksakan orang meninggalkan ke-Tuhanan yang Maha Esa dan memaksa orang menerima materialism, sehinggga dianggap “bertentangan dengan sila pertama Pancasila dan kepribadian Indonesia”. Yang diinginkan oleh kaum komis iyahal, supaya tidak ada seorangpun yang dipaksa menganut atau dipaksa tunduk pada peraturan-peraturan salahsatu agama. Malahan konstitusi PKI tidak menetapkan, bahwa seseorang harus melepaskan agamanya untuk menjadi anggota PKI. Dalam soal keagamaan yang kami perjuangan iyalah supaya soal-soal kenegaraan tidak dicampur-adukan dengan soal-soal keagamaan. Dalam hal ini kami memang tidak sependiriang dengan orang-orang yang secara sah atau tidak sah memperjuangkan berdirinya Negara Darul Islam, tetapi sebaliknya saya kira kami sepaham sepenuhnya dengan semua nasionalis yang sejati, dengan semua penganut agama Kristen, dengan sebagian besar penganut-penganut agama Islam, dengan semua penganut agama Hindu Bali dan agama-agama lainnya.

                Dalam hubungan dengan kesetiaan pada Pancasila, saya berpendapat bahwa justru mereka yang menuntut supaya PKI dilarang pada hakekatnya adalah orang-orang yang dengan terang-terangan menolak Pancasila, terutama menolak 4 sila daripada Pancasila. Tuntuttan melarang PKI adalah bertentangan dengan sila-sila kemanusiaan, kebangsaan, kerakyatan, dan keadilan sosial.

                Mereka yang menuntut supaya PKi dilarang pada hakekatnya menolak sila peri-kemanusiaan, karena sejak berdirinya 37 tahun yang lalu, jadi lama sebelum Masyumi dan partai-partai lain lahir di Indonesia, PKI sudah memperjuangkan terlaksananya azas-azas kemanusiaan dalam bentuk-bentuk perjuangan melawan kolonialisme, melawan eksploitasi dan menciptakan persaudaraan antara sesame manusia. Adalah juga kenyataan bahwa sampai sekarang PKI tetap memperjuangan azas-azas kemanusiaan ini.
            
    Mereka pada hakekatnya menolak sila kebangsaan, karena lama sebelum masyumi dan partai-partai lain lahir, PKI sudah berjuang di barisan depan untuk kemerdekaan bangsa Indonesia. Adalah juga kenyataan, bahwa untuk kemerdekaan bangsa orang-orang komunis juga telah menjadi pendorong yang penting daripada proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, bahwa orang-orang Komunis juga pengambil bagian yang penting dalam melawan tentara colonial Belanda, dan sekarang kaum Komunis juga berdiri di barisan depan untuk menyempurnakan kemerdekaan Indonesia di lapangan politik, untuk kesatuan Republik Indonesia dan untuk kemerdekaan Indonesia di lapangan ekonomi dan kebudayaan. Jadi, dalam membela kepentingan bangsa atau nasion Indonesia, PKI tidak hanya tidak pernah ketingaalan, tetapi ia memang didirikan untuk itu. PKI adalah partai yang tidak hanya nasional dalam omongan, taetapi juga dan terutama dalam perbuatan.

Mereka pada hakekatnya menolak sila kerakyatan, mereka sebenarnya tidak menermia bahwa sumber segala kekuasaan ada di tangan Rakyat, karena justru merekalah yang bertindak di luar bidang Parlemen dan demokrasi. Lama sebelum Masyumi dan partai-partai lain lahir, PKI sudah berjuang menentang otokrasi kolonial dan feodal, supaya hak-hak demokrasi dijamin bagi Rakyat. Sekarang PKI berjuang untuk pelaksanaan Konsepsi Presiden Sukarno 100%, artinya supaya terbentuk Kabinet Gotongroyong sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia, dimana semua partai yang mencapai quorum duduk dalam satu kabinet untuk melaksanakan cita-cita Revolusi Agustus 1945. Ini  berarti, bahwa PKi berjuang untuk melenyapkan dictator beberapa partai besar yang selama ini sering demokratis daripada orang-orang, golongan-golongan dan partai-partai yang menuntut dibentuknya kekuasaan diktatur anti-Komunis, yaitu kekuasaan diktatur yang memusuhi lebih dari duapuluh juta jiwa Rakyat Indonesia yang menjadi pengikut-pengikut PKI sekarang.

                Mereka pada hakekatnya menolak sila keadilan-sosial, karena dengan menolak PKI berarti, bahwa mereka menolak partai yang lama sebelum Masyumi dan partai-partai lain lahir di Indonesia, sudah memperjuangkan adanya pembagian rezeki yang adil (Sosialisme) di Indonesia, dan sampai sekarang PKI dengan teguh meneruskan perjuangan untuk hapusnya ketidakadilan feodalsime, imperialisme dan kapitalisme. Sebaliknya, dari mereka yang anti-Komunis suara yang emnuntut hapusnya ketidakadilan ini tidak begitu kedengaran, malahan ada tanda-tanda yang kuat, bahwa semboyan anti-Komunisme mereka hanyalah kelanjutan belaka dari pembelaan merka terhadap feodalisme, imperialisme, dan kapitalisme.

                Bagi mereka yang belum mengetahui, adalah baik sekali membaca Maklumat Pemerintah tentang Pendemokrasian tanggal 14 November 1945 yang antara lain mengemukakan: “Baik Jepang, maupun Belanda bertindak keras terhadap Komunis dan partai-partai politik yang menghendaki kemerdekaan se-sempurna-sempurnanya” dan bahwa “Republik Indonesia tidak akan melarang organisasi-organisasi politik selama dasar-dasarnya atau aksi-aksinya tidak melanggara azas-azas demokrasi yang sah”

                Dari Maklumat Pendemokrasian tersebut jelas sekali bahwa legaliteta Partai komunis Indoensia adalah salahsatu cirri yang penting dari demokrasi Indonesia, bahwa Partai Komunis Indonesia berjuang untuk kemerdekaan yang se-sempuna-sempurnanya, dan bahwa yang harus dilarang sekarang bukanlah PKI, tetapi justru partai-partai yang bertindak melanggar azas-azas demokrasi. Maklumat Presiden Pendemokrasian ini tidak pernah dicabut oleh kobinet yang manapun, juga tidak oleh cabinet Hatta, cabinet Natsir atau cabinet Sukiman. Oleh perdana menteri Juanda Maklumat Pendemokrasian 14 November 1945 ini diingatkan kembali dalam keterangannya di muka Parlemen pada 4 Oktober baru-baru ini.
Jakarta, 8 Oktober 1957.

Selasa, 29 Maret 2011

Libya, Dipahami dengan Benar: Sebuah sudut pandang Revolusioner Pan-Afrika



Libya, Dipahami dengan Benar: Sebuah sudut pandang Revolusioner Pan-Afrika
Karya Gerald A. Perreira yang telah tinggal di Libya bertahun-tahun yang lalu dan merupakan seorang anggota eksekutif The World mathaba. Dia dapat dihubungi melalui mojadi94@gmail.com.

Alih Bahasa oleh Guruh Dwi Riyanto (29/3/11) dari Libya, Getting it Right: A Revolutionary Pan-African Perspective karya Gerald A. Perreira ditulis 4 Maret 2011 dapat dibuka di

http://dissidentvoice.org/2011/03/libya-getting-it-right-a-revolutionary-pan-african-perspective/

Beribu-ribu warga India, Mesir, Cina, Filipina, Turki, Jerman, Inggris, Italia, Malaysia, Korea dan sekumpulan warga berkebangsaan lainnya antri di perbatasan dan bandar udara hendak meninggalkan Libya. Muncul pertanyaan: Apa yang sedang mereka lakukan di Libya tadinya? Angka pengangguran, menurut media Barat dan Al Jazeera,adalah 30%. Jika demikian, lantas kenapa ada semua pekerja asing tersebut?

Bagi kami yang telah tinggal dan bekerja di Libya, ada banyak kerumitan dalam situasi terkini yang telah sungguh-sungguh disepelekan oleh media Barat dan analis “yang mabuk kemenangan di sisi Barat”, yang tidak punya apa-apa selain menarik sudut pandang yang berpusat pada Eropa. Mari kami jelaskan – tidak mungkin memahami apa yang sedang terjadi di Libya dengan kerangka yang berpusat pada Eropa. Orang barat tidak mampu memahami sebuah sistem kecuali sistem tersebut berasal dari atau terlampir pada Barat. Sistem Libya dan pertempurang yang sedang terjadi memperebutkan minyak Libya, berada sepenuhnya di luar imajinasi Barat.

Liputan berita BBC, CNN, dan Al Jazeera telah terlalu menyederhanakan dan menyesatkan. Juru bicara pasukan anti-Gaddafi, sebagian besar hidup di luar Libya, telah berbaris di depan kita – setiap orang tersebut jelas-jelas melawan-revolusi dan kurang dapat dipercaya ketimbang yang sebelumnya. Walaupun ada bukti yang jelas dan tak terbantahkan dari awal protes-protes tersebut bahwa Muammar Gaddafi memiliki dukungan yang layak diperhitungkan secara internasional dan di Libya, tidak satupun suara pro-Gaddaf diperbolehkan mengudara. Media dan komentator  pilihan mereka telah berbuat sebaik mungkin untuk menghasilkan pendapat bahwa Libya pada dasarnya sama dengan Mesir dan Tunisia dan bahwa Gaddafi hanyalah tirani lain yang menumpukan banyak uang di rekening bank Swiss. Tapi tak peduli seberapa keras mereka berupaya, mereka tidak mampu membuat Gaddafi seperti Mubarak atau Libya seperti Mesir.

Pertanyaan pertamanya adalah: apakah revolusi yang terjadi di Libya dibakar oleh keprihatinan isu ekonomi seperti kemiskinan dan pengangguran sebagaimana yang media barat ingin agar kita percaya? Mari kita kaji fakta-faktanya.

Di bawah kepemimpinan revolusioner dari Muammar Gaddafi, Libya telah mencapai standar kehidupan tertinggi di Afrika. Pada 2007, dalam sebuah artikel yang muncul dalam African Executive Magazine, Norah Owaraga mencatata bahwa Libya, “tidak seperti negara-negara penghasil minyak lainnya seperti Nigeria dan Arab Saudi, menggunakan keuntungan minyak Libya untuk mengembangkan negara tersebut. Standar kehidupan masyarakat Libya adalah salah satu yang tertinggi di Afrika, termasuk kategori negara dengan GNP antara USD 2.200 dan 6.000.”

Angka tersebut lebih menakjubkan saat kita mempertimbangkan bahwa pada 1951 Libya secara resmi adalah negara termiskin di dunia. Menurut Bank Dunia, pendapatan per kapita kurang dari $50 per tahun – bahkan lebih rendah dari India. Kini, semua warga Libya memiliki rumah dan mobil sendiri. Jurnalis Two Fleet Street, David Blundy dan Andrew Lycett, yang bukanlah pendukung revolusi Libya, berkata demikian:
“orang muda berpakaian elok, berpendidikan baik dan makan enak. Warga Libya kini memperoleh pendapatan per kapita lebih banyak ketimbang warga Inggris. Perbedaan pendapaatan per tahun…lebih kecil ketimbang di sebagian besar negara. Kemakmuran Libya telah menyebar dengan adil di seluruh masyarakat. Semua warga Libya memperolah pendidikan, pelayanan kesehatan dan obat-obatan yang gratis, dan seringkali cemerlang, Pendidikan tinggi dan rumah sakit luar biasa dengan standar internasional. Semua warga Libya memiliki sebuah rumah atau rumah bertingkat, sebuah mobil dan sebagian besar memiliki TV, perekam video dan telepon. Dibandingkan dengan sebagian besar warga negara Dunia Ketiga, dan dengan banyak, warga Libya hidupnya sesungguhnya sangatlah baik”1

Pembangunan perumahan dalam skala besar dilakukan di seluruh negara. Setiap warga negara telah diberi rumah atau apartmen yang layak untung dihuni dengan gratis biaya sewa. Dalam Buku Hijau Gaddafi, dinyatakan :”Rumah adalah kebutuhan dasar baik bagi pribadi maupun keluarga, maka rumah tidak sebaiknya dimiliki orang lain.” Diktum tersebut kini menjadi kenyataan bagi warga Libya.

Proyek-proyek agrikultur berskala besar telah diterapkan dalam upaya “membuat gurun berbunga” dan menggapai kemandirian produksi pangan. Setiap warga Libya yang ingin menjadi petani diberikan tanah gratis untuk digunakan, rumah, peralatan pertanian, sejumlah ternak dan benih.

Kini, Libya dapat sesumbar akan salah satu sistem perawatan kesehatan terbaik di dunia Arab dan Afrika. Semua orang memiliki akses ke dokter, rumah sakit, klinik dan obat-obatan, benar-benar gratis dari semua biaya. Faktanya revolusi Libya telah mencapai standar hidup setinggi itu bagi warganya dan mereka mengimpor pekerja dari bagian dunia lain untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang ditolak untuk dikerjakan penganggur Libya. Libya telah disebut oleh banyak pengamat dalam dan luar negeri, “bangsa pemilik toko.” Hal itu adalah bagian psikis Arab warga Libya untuk memiliki usaha kecil milik Anda sendiri dan usaha berskala kecil jenis ini bertumbuhan di Libya. Kita dapat menyimpulkan dari banyak contoh tersebut bahwa Libya dengan orang-orang mudanya yang menyampaikan gagasan bahwa akan memalukan bagi keluarga jika orang-orang muda tersebut mencari pekerjaan kasar dan sebagai gantinya mereka lebih suka tetap di rumah dengan dukungan dari keluarga besar.

Tidak ada sistem yang sempurna, dan tidak terkecuali Libya. Mereka menderita sembilan tahun sangsi ekonomi dan hal itu menyebabkan masalah besar bagi ekonomi Libya. Juga, tidak ada tempat di dunia yang telah lolos dari krisis kapitalisme neo-liberal. Krisis tersebut berdampak ke mana saja- bahkan ke masyarakat pasca revolusi yang telah menolak kapitalisme “pasar bebas.” Namun, apa yang sedang kita sampaikan adalah bahwa ketidakadilan ekonomi yang parah tidak berada pada jantung konflik ini. Lantas, apa?

Sebuah Pertempuran Mendukung Afrika

Perang yang sedang dikobarkan di Libya pada dasarnya adalah peran antara kekuatan-kekuatan Pan-Afrika di satu sisi, yang berdedikasi untuk mewujudkan visi Gaddafi akan Persatuan afrika, dan kekuatan-kekuatan reaksioner rasis Libya yang menolak visi Gaddafi akan Libya sebagai bagian Persatuan afrika dan sebagai gantinya ingin mempersekutukan diri mereka dengan  Uni Eropa dan memandang dunia Arab dan Eropa sebagai masa depan Libya.

Salah satu gerakan paling sulit dan kontroversial Muammar Gaddafi di mata banyak warga Libya adalah perjuangannya untuk Afrika dan dorongan gigihnya untuk menyatukan Afrika dalam satu mata uang, satu pasukan dan satu visi bersama menyangkut kebebasan dan kemandirian sebenarnya bagi seluruh benua tersebut. Dia telah menyumbangkan sejumlah besar uang dan tenaga dan waktunya untuk proyek ini dan seperti Kwame Nkrumah, dia telah membayar harga yang mahal.

Banyak warga Libya tidak menyetujui gerakan ini. Mereka ingin pemimpin mereka mengarah pada Eropa. Tentunya, Libya memiliki investasi luas dan ikatan komersial dengan Eropa tapi warga Libya tahu bahwa hati Gaddai ada di Afrika.

Bertahun-tahun yang lalu, Gaddafi berkata pada sebuah perjamuan besar, yang mencakup banyak warga Libya dan revolusioner dari berbagai belahan dunia, bahwa Orang Kulit Hitam Afrika adalah pemilik sesungguhnya dari Libya jauh sebelum serbuan Arab ke Afrika Utara, dan bahwa warga Libya perlu mengakui dan bersyukur pada akar nenek moyang Arika mereka. Dia mengakhiri perkataannya, seperti diproklamirkan dalam Buku Hijaunya, bahwa “ras kulit hitam akan berjaya di seluruh dunia.” Hal itu bukanlah apa yang ingin didengar sebagian besar warga Libya. Sebagaimana dengan semua orang arab berkulit kuning, prasangka terhadap Orang kulit hitam Afrika mewabah.

Saudara Seperjuangan, Pemandu Revolusi dan Raja dari Raja-raja adalah beberapa gelar yang dipersembahkan untuk Gaddafi oleh orang-orang Afrika. Baru bulan lalu Gaddafi mengunjungi sekertarian Raja dan Kepala Suku Afrika tradisional, dia memiliki ikatan erat dengan mereka, untuk bekerjasama usaha-usaha membangung persatuan Afrika di tingkat akar rumput  di seluruh benua, pendekatan dari bawah ke atas, sebagai lawan dari percobaan membangun persatuan di tingkat pemerintah/negara, sebuah pendekatan yang telah menggagalkan proyek persatuan Afrika sejak zaman Kwame Nkrumah dan Sekou Toure. Pendekatan bawah ke atas ini medapat dukungan luas dari banyak pendukung Pan Afrika di seluruh dunia.

Orang Afrika Bayaran atau Pejuang Kemerdekaan?

Dalam satu minggu terakhir, phrasa “Orang afrika bayaran” telah diulang dan diulang kembali oleh media dan warga negara Libya yang mereka pilih untuk berbicara tentang, seperti disampaikan seorang komentator, “pertikaian dunia Afrika” dengan kebencian berbisa.

Media telah menganggap, tanpa penelitian atau pemahaman apapun yang lebih mendalam tetnang situasi Libya karena mereka menolak memberi kekuatan-kekuatan pro- Gaddafi waktu mengudara, bahwa banyak orang Afrika dalam seragam tentara berjuang bersama pasukan-pasukan pro- Gaddafi adalah bayaran. Namun, itulah mitos bahwa orang Afrika berjuang membela Jamahiriya dan Muammar Gaddafi adalah upahan yang dibayar sedikit uang dan asumsi itu hanya berlandaskan pandangan rasis biasa dan penuh kebencian pada Orang kulit hitam Afrika.

Sebenarnya, pada kenyataanya, ada orang-orang di seluruh Afrika dan Orang Afrika Diaspora (orang Afrika yang tersebar di luar negeri.pent) yang mendukung dan menghormati Muammar Gaddafi sebagai hasil dari sumbangan tak ternilainya pada perjuangan mendunia pembebasan Afrika.
Sepanjang dua dasawarsa terakhir, tersedia pendidikan, pekerjaan, dan pelatihan militer bagi ribuan orang Afrika di seluruh benua – banyak dari mereka berasal dari gerakan pembebasan. Sebagai hasilnya dukungan Libya bagi gerakan pembebasan di seluruh Afrika dan dunia, batalion internasional dibentuk. Batalion tersebut memandang diri mereka sebagai bagian revolusi Libya, dan menjadikan diri mereka pembela revolusi melawan serangan-serangan dari dalam maupun luar perbatasan.

Merekalah orang-orang Afrika yang bertarung membela Gaddafi dan keberhasilan-keberhasilan Revolusi Libya hingga titik darah terakhir jika diperlukan. Hal tersebut bukannya tidak serupa dengan apa yang terjadi saat batalion internasionalis datang membantu pasukan-pasukan revolusioner melawan pasukan fasis Franco di Spanyol.

Analis politik Mali, Adam Thiam mencatat bahwa “ribuan  warga Tuareg yang tergabung dalam Legium Islam didirikan oleh revolusi Libya tetap di Libya dan mereka tergabung dalam pasukan-pasukan pengamanan Libya.

Orang-orang Migran Afrika diserang
Karena pejuang Afrika dari Chad, Nigeria, Mali, Ghana, Kenya dan Sudan Selatan (harus diperhatikan bahwa Libya mendukung Tentara Pembebasan Masyarakat Sudan di bawah John Garang dalam perang pembebasan mereka melawan hegemoni Arab Khartoum, sedangkan semua pemimpin Arav lainnya menyokong dari belakang rezim Khartoum) bertempur membela revolusi Afrika ini, jutaan orang Afrika mencari perlindungan dan ribuan migran Afrika menanggung resiko dibunuh sebagai hasil dari dukungan mereka yang diketahui bagi Gaddafi.

Seorang pekerja konstruksi Turki menggambarkan sebuah pembantaian: “kita punya 70-80 orang dari Chad untuk bekerja di perusahaan kami. Mereka dipenggal dengan gunting cukur dan kapak, penyerang mengatakan: “kau menyediakan pasukan bagi Gaddafi. Orang Sudan juga dibantai. Kita melihatnya sendiri.” Hal itu jauh sekali dari apa yang digambarkan media barat sebagai “pemrotes damai” yang diatur oleh pasukan-pasukan pro-Gaddafi. Pada kenyataanya, sepanjang revolusi Benghazi menampilkan orang-orang dengan Golok, AK 47 dan RPG. Dalam Buku Hijau, Gaddafi berpendapat mendukung perpindahan semua kekuasaan, kekayaan, dan persenjataan secara langsung ke tangan-tangan rakyat sendiri. Tidak ada yang dapat menyangkal bahwa penduduk Libya banyak yang memiliki senjata. Hal tersebut adalah bagian dari filsafat Gaddafi agar senjata tidak dikuasai oleh bagian masyarakat apa pun, termasuk pasukan-pasukan bersenjata. Harus dikatakan bahwa merupakan praktik yang tidak  lumrah bagi tirani dan diktator untuk mempersenjatai penduduk mereka.

Gaddafi juga telah sangat lantang tentang keadaan menyedihkan orang Afrika yang bermigrasi ke Eropa, ketika mereka menjadi korban rasisme, lebih banyak kemisikinan, kekerasan di tangan kelompok ekstrim sayap kiri dalam banyak kasus kematian, saat kepentingan bersama mereka terancam.

Tergerak oleh kesengsaraan migran Afrika, sebuah konferensi berlangsung di Libya bulan Januari tahun ini, membahas  kebutuhan dan keprihatinan mereka. Lebih dari 500 delegasi dan pembicra di seluruh dunia menghadiri konferensi berjudul “Hidup Layak di Eropa atau Selamat Datang Kembali di Afrika.”

“kita sebaiknya hidup di Eropa dengan layak dan bermartabat,” ucap Gaddafi pada peserta. “Kita butuh hubungan baik dengan Eropa bukannya hubungan tuan dan budak. Sebaiknya ada hubungan kuat antara Afrika dan Eropa. Kehadiran kita sebaiknya kuat, nyata, dan baik. Terserah pada Anda sebagai orang Afrika dalam Diaspora. Kita harus melanjutkan lebih dan lebih hingga persatuan Afrika tergapai.

Mulai kini, dengan restu Tuhan, saya akan mengangkat tim-tim untuk mencari, menyelidiki dan penghubung dengan orang Afrika di Eropa dan untuk memeriksa situasi mereka. Inilah tugas dan peran saya pada anak-anak Afrika; saya seorang prajurit pendukung Afrika. Saya di sini untuk Anda dan saya bekerja untuk Andal maka, saya tidak akan meninggalkan Anda dan saya akan mengikuti keadaan-keadaan Anda.”

Komite gabungan migran Afrika, PBB, Persatuan Orang Afrika, dan Uni Eropa dan organisasi-organisasi internasional hadir di konferensi membahasa kebutuhan untuk bekerjasama dan menerapkan banyak usulan-usulan konferensi tersebut.

Pernyataan-pernyataan bermunculan di segala penjuru internet dari orang Afrika yang memiliki pandangan berbeda dengan apa yang diulang-ulang oleh yang bertujuan memojokan Gaddafi dan revolusi Libya. Seorang Afrika berkomentar:

Saat saya tumbuh dewasa pertama kali saya membaca buku komik tentang revolusi ini di usia sepuluh. Sejak itu, seraya diktator datang dan pergi, kolonel Gaddafi telah memberi kesan pada saya sebagai seseorang yang sangat mencintai Afrika! Orang-orang Libya dapat mengeluhkan bahwa dia menghabiskan kekayaan mereka untuk orang Afrika lainnya! Tapi orang-orang Afrika yang dia bantu naik ke kekuasaan, membangun sekolah dan masjid dan mewujudkan bantuan tersebut dalam berbagai bentuk pembangunan yang menunjukan bahwa orang Afrika dapat berbuat bagi diri mereka sendiri. Jika orang Afrika tersebut akan mencampakan dia supaya tertelan oleh imperialisme Barat dan rekan mereka dan hanya membiarkannya sebagai diktator atas nama apa yang disebut demokrasi...jika mereka melakukannya...mereka seharusnya menerima nama dan takdir yang diberikan pers Barat pada pemimpin tercinta kita. Jika saja ada siapapun yang kebaikannya setengah dari Gaddafi, biarkan dia maju.

Dan seorang Afrika lainnya berkomentar:

Orang ini telah banyak dituduh dan mendengar Barat yang baru akhir-akhir ini senang menerima sambutan ramahnya, Anda akan mengira dia lebih buruk dari Hitler. Sikap benci dan rasis orang Arab terhadap Orang kulit hitam Afrika telah menjadikan saya secara terbiasa skeptis terhdapa tawaran apapun dari mereka untuk merajut hubungan yang lebih dekat dengan Orang kulit hitam Afrika kecuali Gaddafi sebagai perkecualian.

Revolusi Oportunistik
Revolusi revolusioner-balasan ini mengejutkan semua orang, termasuk otoritas Libya. Mereka tahu bahwa media barat tidak memberitakan: bahwa tidak seperti di Mesir dan Tunisia dan negara-negara lain di daerah itu, tempat berlimpahnya kemiskinan, pengangguran dan rezim penindas pro-barat, dinamika Libya sungguh lain. Namun, kesatuan kekuatan oportunistik, berkisar dari yang disebut Islamis, Supremasi-Arab, mencakup beberapa dari mereka telah akhir-akhir ini menyebarng dari lingkaran dalam Gaddafi, telah menggunakan peristiwa-peristiwa di negara tetangga sebagai dalih untuk melancarkan kudeta dan memajukan agenda mereka untuk bangsa Libya. Banyak mantan-pejabat ini adalah penguasa dari, dan secara sembunyi-sembunyi membakar program anti-Orang Afrika di Libya beberapa tahu lalu saat banya orang afrika kehilangan nywa mereka dalam pertempuran jalanan antara warga Libya Afrika dan Arab. Itu adalah usaha disengaja untuk mempermalukan Gaddafi dan melemahkan usahanya di Afrika.

Telah lama Gaddafi menjadi duri di pihak Islam. Kepada rakyat Libya baru-baru ini, disiarkan dari halaman reruntuhan Bab al-Azizia yang dibom Reagan pada 1986, dia mengundang “orang-orang berjenggot” di Benghazi dan Jabal al Akhdar tempat mereka berada saat Reagan membom halamannya di Tripoli, membunuh ratusan warga Libya, termasuk putrinya. Dia mengatakan mereka bersembunyi di rumah bertepuk tangan untuk AS dan dia bersumpah bahwa dia tidak pernah akan membiarkan negaranya kembali ke cengkeraman mereka dan tuan kolonial mereka.

Al Qaeda ada di Sahara di perbatasannya dan Persatuan Cendikiawan Muslim Internasional mengundang untuk diuji di persidangan. Seseorang bertanya kenapa tidak menumpahkan darah Gaddafi? Kenapa Mubarak yang dekat dengan Perlintasan Perbatasan Rafah saat pembantaian orang Palestina di Israel. Kenapa tidak Bush, Cheney, Rumsfeld dan Blair yang bertanggungjawab atas pembunuhan jutaan mulsim di Irak dan Agansitan?

“kesatuan pasukan-pasukan oportunistik, berkisar dari yang disebut Islamis, Supremasi-Arab, termasuk beberapa orang yang akhir-akhir ini telah keluar dari lingkaran dalam Gaddai, telah menggunakan peristiwa di negeri tetangga sebagai dalih melancarkan kudeta.”

Jawabannya sederhana- karena Gaddafi melakukan “kejahatan besar.” Dia berani menantang gagasan feodal dan reaksioner Islam mereka. Dia telah menegakan gagasan bahwa setiap Muslim adalah pemerintah (Khalik) dan tidak perlu Ulama menafsirkan Quran untuk mereka. Dia telah mempertanyakan Persaudaraan Islam dan Al Qaeda dari sudut pandang Quran/teologis dan satu dari sedikit pemimpin politik memiliki perlengkapan untuk melakukannya. Gaddafi telah dipanggil Mujahidin (istilah ini mengacu ke seseorang yang muncul untuk membangkitkan Islam dan membersihkan elemen asing, memulihkan Islam ke bentuk aslinya) dan dia datang ke tradisi Jamaludeen Afghani dan Iran Revolusioner, Ali Shariati.

Libya adalah masyarakat yang sangat tradisional, terjangkiti gagasan rusak dan usang yang terus muncul hingga hari ini. Dengan banyak cara, Gaddafi telah berjuang melawan aspek revolusioner yang sama dari budaya dan tradisi arab yang dilawan perjuangan nabi suci Muhammad pada abad 7 di Arab – rasisme/supremasi Arab, supremasi keluarga dan suku, sejarah suku feodal melawan suku lainnya dan pemarginalan perempuan. Beghazi telah selau melawan-revolusi di Libya, menggemborkan gerakan Islam reaksioner seperti Wahhabis dan Salafists. Orang-oragn inilah yang mendirikan Kelompok Petearugn Islam Libya yang bermarkas di Benghazi yang menyekutukan dirinya dengan Al Qaeda dan yang telah, selama tiga tahun, bertanggun jawab atas pembunuhan anggota-anggota terkemuka komite revolusioner Libya.

Pasukan-pasukan tersebut membenci pembacaan revolusioner Gaddafi terhadap Quran. Mereka menyebarkan Islam yang peduli pada jebakan keluar dan religiusitas belaka, dalam bentuk ritual, yang pada saat yang sama feodal dan menindas, sembari menolak semangat pembebasan Islam. Jika yang disebut Islamis melawan pendudukan Barat di tanah Islam, mereka tidak memiliki program nyata untuk perubahan sosial-ekonomi dan politik yang berarti untuk memajukan masayarakat mereka mengatasi sistem semi-feodal dan kapitalis yang menjejalkan gagasan dan tradisi paling terbelakang dan reaksioner. Filsafat politik Gaddafi, seperti diringkas dalam Buku Hijau, menolak kapitalisme yang tanpa koridor dalam semua pengejawantahannya, termasuk model “kapitalisme Negara” negara-negara bekas komunis dan kapitalis neo-liberal yang telah dipaksakan di tingkat dunia. Gagasan bahwa kapitalisme tidak sejalan dengan Islam dan Quran tidak dapat diterima banyak orang Arab dan yang disebut Islamis karena mereka memegang gagasan salah bahwa bisnis dan perdanganan sama dengan kapitalisme.

Dipahami dengan Benar
Apapun kesalahan yang dibuat Gaddafi dan revolusi Libya, perolehannya dan sumbangsih besarnya pada perjuangan kaum tertindas di seluruh dunia tidak dapat dan seharusnya tidak diabaikan. Saif Gaddafi, saat ditanya tentang posisi ayahnya dan keluarganya, mengatakan bahwa pertempuran ini bukan tentang satu orang dan keluarganya, ini tentang Libya dan arah yang akan diambil.

Arahnya selalu kontroversioal . pada 1982, The World Mathaba berdiri di Libya. Mathaba artinya tempat berkumpul orang-orang satu tujuan. The World Mathaba mengumpulkan pejuang revolusioner dan kemerdekaan dari semua pojok jagad untuk berbagi gagasan dan mengembangkan pengetahuan revolusioner mereka. Banyak kelompok pembebasan di seluruh dunia menerima pendidikan, pelatihan dan dukungan dari Muammar Gaddafi dan revolusi Libya termasuk ANC, AZAPO, PAC and BCM dari Azania (Afrika Selatan), SWAPO dari Namibia, MPLA dari Angola, The Sandinistas dari Nikaragua, The Polisario of the Sahara, the PLO, The Native American Movements dari selurh negara-negara America, The Nation of Islam pimpinan Louis Farrakhan dan masih banyak lagi. Nelson Mandela menyebut Muammar Gaddafi salah satu pejuang kebebasan terbesar abad ini, dan menekankan bahwa keruntuhan sesungguhnya sistem aparteid banyak berhutang pada dukungan Gaddafi dan Libya. Mandela mengatakan bahwa dalam saat-saat perjuangan yang paling gelap, saat pundak mereka hampir kalah, Muammar Gaddafilah yang berdiri bersama mereka. Pejuang pembebasan Afrika terkini, Kwame Ture, menyebut Gaddafi sebagai “permata di tengah kolam tinja pemimpin sesat Afrika.”

Gagasan tersembunyi yang sedang digemborkan media barat dan kekuatan reaksioner, di dalam dan di luar Libya, bahwa Libya hanyalah kisah lain kediktatoran rakus yang telah habis waktunya adalah informasi sesat dan penyelewengan informasi yang disengaja. Apapun pendapat seseorang tentang Gaddafi, tidak ada yang dapat menolak sumbangan tak ternilainya pada pembebasan manusia dan kebenaran-kebenaran universlan yang diringkas dalam Buku Hijaunya.

Cendikiawan progresif di seluruh dunia, termasuk Barat, telah memuji Buku Hijau sebagai kritik tajam pada kapitalisme dan model demokrasi multi-partai parlementer Barat. Sebagai tambahan, tidak ada penyangkalan bahwa sistem demokrasi langsung yang dilontarkan Gaddafi dalam Buku Hijau menawarkan model alternatif dan solusi bagi Afrika dan Dunia Ketiga, tempat dari yang disebut demokrasi multi-partai telah gagal dengan menyedihkan, menghasilkan kemiskinan, konflik dan kekacauan antar etnis dan suku.

Setiap revolusi, sejak awal zaman, telah membela dirinya melawan orang yang ingin menggulung keberhasilannya. Eropa sebaiknya berkaca pada sejarah berdarah mereka untuk melihat, ini termasuk revolusi Amerika, Perancis, dan Bolshevik. Marxists berbicara penindasan Brutal Trotsky dan Lenin pada pemberontakan Kronstadt oleh Tentara Merah sebagai “keniscayaan yang tragis”

Mari kita luruskan: pertempuran di Libya bukanlah tentang pemrotes damai melawan Negara bersenjata dan penuh kebencian. Kedua sisi banyak memiliki senjata dan penuh kebencian. Pertempuran yang dikibarkan di Libya pada dasarnya adalah pertarungan antara mereka yang ingin melihat Libya dan Afrika yang merdeka dan bersatu, bebas neo-kolonialisme dan kapitalisme neo-liberal dan bebas membangun sistem pemerintahan mereka sendiri yang sesuai dengan kepribadian dan budaya Afrika dan Arab melawan mereka yang mendapati seluruh gagasan tersebut menjijikan. Dan kedua sisi bersedia membayar harga paling mahal untuk membela posisi mereka.

Janganlah keliru, jika Gaddafi dan revolusi Libya dikalahkan oleh konglomerat oportunistik yang reaksioner dan rasis, maka kekuatan-kekuatan progresif di seluruh dunia dan proyek Pan Afrika akan menderita kekalahan dan kemunduran besar.




  




Sabtu, 19 Maret 2011

Standar Ganda Agama

Walaupun dengan berbagai modifikasi dan pembaharuan, agama adalah salah satu unsur kebudayaan yang dapat bertahan sangat lama. Agama yang dominan dalam budaya modern adalah agama dengan konsep-konsep monoteis antroposentris yang dianut muslim, yahudi dan Kristen arus utama. Walaupun mulai banyak mendapat tinjauan kritis dan seruan-seruan penolakan bahwa agama itu logis dan padu (coherence), agama dapat bertahan di masyarakat awam. Standar-standar ganda telah dipergunakan dengan efektif untuk mendamaikan ketidakpaduan dalam pemahaman dan konsep-konsep agama sehingga bagian yang bertentangan disembunyikan dan mapanlah agama dalam iman tanpa dipertanyakan.  Standar pertama dikemukakan, tapi ketika dibantah atau ada kebutuhan lain, standar kedua dikeluarkan.
                Standar ganda diterapkan dalam bagaimana sifat-sifat Tuhan. Orang-orang yang percaya Tuhan biasanya membuat klaim bahwa tuhan tidak dapat diketahui karena dia tuhan. Pernyataan ini mengandung standar ganda. Dengan kata lain, Tuhan di luar pengetahuan manusia karena jika dalam pengetahuan manusia maka dia bukanlah tuhan. Lantas, dari mana datangnya pengetahuan dan gagasan tersebut, bahwa tuhan ada di luar batas pengetahuan manusia, sehingga ada dalam gagasan dan manusia? Lihatlah betapa gagasan dengan standar tersebut diterapkan. Anda tahu bahwa mengetahui bahwa sesuatu ada “di luar pengetahuan manusia” dengan pengetahuan manusia adalah tidak mungkin. Hanya ada satu standar yang mungkin benar. Hanya satu yang mungkin benar, standar pertama, yaitu Tuhan ada di dalam pengetahuan manusia yang berarti pengetahuan tentang Tuhan tidaklah mistis dan adi-alami melainkan alamiah dan dapat dikuak, atau standar kedua, bahwa tuhan tidak ada di luar batas pengetahuan (yang berarti kita bahkan tidak ada gagasan sama sekali). Namun, kedua standar tersebut dipakai bersamaan dan pertentangannya diselesaikan dengan iman, yang entah dari mana datangnya (Kemelekatan psikologis yang erat karena indoktrinasi budaya?)
                Standar ganda tersebut menjalar ke gagasan-gagasan lebih jauh tentang Tuhan saat dilontarkan bantahan dari masalah kejahatan (problem of evil). Yang percaya Tuhan umumnya mengatakan bahwa Tuhan maha baik, mahasempurna, mahabijaksana, dan segala maha yang baik-baik. Namun, saat dilontarkan pertanyaan dari masalah adanya kejahatan yang menolak bahwa Tuhan yang mahabaik, mahakuasa dan mahatahu ada karena adanya kejahatan di dunia (apakah tuhan ingin merubah tapi tidak mampu? Maka dia tidak mahakuasa, apa dia mampu tapi tidak ingin? Maka dia tidak mahabaik? Apakah tuhan mampu dan ingin? Lalu dari mana datangnya kejahatan?). Biasanya orang beragama akan menjawab, seperti dilontarkan filsuf kristen William Lane Craig, kita tidak berada dalam posisi yang baik untuk menggapai dengan percaya diri kemungkinan bahwa Tuhan tidak memiliki alasan-alasan [penekanan ditambahkan] yang cukup bermoral karena memperbolehkan penderitaan di dunia.” Atau

“kita tidak berada dalam posisi epistemis yang baik untuk membuat penghakiman-penghakiman                 kemungkinan sejenis itu [seperti dilontarkan permasalahan kejahatan] dengan kepercayaan diri macam apa pun. Hanya akal budi yang mahatahu dapat menggenggap kerumitan tujuan yang telah ditakdirkan dari dunia dengan makhluk yang memiliki kehendak bebas ke arah tujuan yang telah terlihat”(Cambridge Companion to Atheism,pg 73)

Lantas, jika kita tidak berada di posisi epistemis yang baik tersebut, bagaimana kita dapat tahu ada posisi seperti itu? Bagaimana kita dapat membenarkan ataupun menyalahkan? Berarti, kepercayaan pada Tuhan yang mahabaik, mahakuasa, dan mahatahu tidak dapat dibenarkan atau disalahkan? Jika standar pertama tersebut digunakan, toh orang-orang tetap keukeuh bahwa tuhan pasti memiliki tujuan baik yang kita tidak tahu (lagi, standar kedua ini melanggar standar pertama tentang ketidakmungkinan diketahui).
                Bukan saja konsep ketuhanan, yang seharunya merupakan konsep dasar, yang menerapkan standar ganda, tapi juga tentang doktrin-doktrin tradisinya. Dalam konsep takdir, dikisahkan bahwa Tuhan tidak akan mengubah nasib jika manusia tidak mencoba. Lalu, siapa yang menetapkan takdir? Jika manusia dapat merubah dengan kehendak bebasnya (free will), apa peran tuhan? Menyetujui dan menolak yang berarti juga ujung-ujungnya Tuhan yang menentukan (determinisme)? Atau Tuhan tidak berperan dan hanya manusia yang menentukan takdirnya, yang menguasai takdirnya, maka, di mana posisi Tuhan yang mahakuasa (karena manusia berkuasa atas dirinya) dan Tuhan yang mahatahu di hadapan kebebasan manusia?  Ekspresi pertama dapat disampaiakan, oh, karena kau berusaha, Tuhan merubah takdirmu. Ekspresi kedua, walaupun kau berusaha tuhan tidak merubah tadirmu (mungkin usahamu kurang keras dan tulus? Atau tuhan telah menentukan yang lain? Hanya tuhan yang tahu. Namun, dalam agama kedua standar bertentangan itu tetap saja digunakan dengan nyamannya.  
Dalam doa, jika seseorang berdoa dan memohon sesuatu, maka doa itu dapat terkabul atau tidak. Nah, jika terkabul, diterapkan standar bahwa tuhan mencintai manusia maka mau mengkabulkan doa. Jika tidak, diterapkan standar Tuhan maha mendengar dan mengerti tapi tidak mau karena dia mencintai manusia dan menolak demi kebaikan yang lebih tinggi. Akibatnya, doa terkabul atau tidak tetap Tuhan memiliki posisi yang aman.
                Jika standar agama tidak jelas, kapan pemeluknya tahu untuk menggunakan satu standar atau standar yang lainnya? Seperti, kapan kita mengetahui kita bisa merubah takdir atau tuhan yang merubah takdir? Hanya Tuhan yang tahu adalah sama dengan mengatakan standar tersebut semena-mena, terserah, atau misteri. Saya teringat perkataan Ionas Rakhman dalam esainya berjudul Keingintahuan Melahirkan Sains, bahwa” Agama di mana-mana dan sejak dulu, melalui para agamawan yang taat, memang mempertahankan dan menjaga misteri-misteri alam dan kehidupan. Hanya dengan cara inilah mereka dapat terus mengendalikan umat yang mereka pimpin.” Standar-standar ganda digunakan untuk membungkam dan menjaga misteri alam dan kehidupan. Standar mana yang digunakan? Tanyalah the holy man (yang biasanya man).  Dennet mengatakan bahwa agama-agama suku lebih konsisten karena dewa bertanggung jawab atas keburukan ataupun kebaikan.

Sabtu, 05 Februari 2011

Ateisme dan Evolusi Oleh Daniel Dennet


bab ini dipaparkan, dengan revisi, dari Dennet 1995 dan 2005
pengantar penerjemah:
esai ini mengungkapkan pembalikan argument rancangan, bahwa pencipta mestilah lebih agung dari ciptaanya, bahwa alam raya memiliki keteraturan dan rancangan ilahiah, dan bahwa alam raya memiliki tujuan. Ada keterangan penerjemah di sana-sini hanya dengan maksud mempermudah pemahaman istilah-istilah yang mungkin kurang akrab.

Descrates (seorang filsuf rasionalis yang percaya Tuhan.pent), dalam Meditations (1841), mencatat bahwa “hanya ada dua cara membuktikan keberadaan Tuhan, yang pertama melalui akibat-akibatnya, dan yang kedua melalui sifat atau hakikatnya” “ (AT, 120). Yang kedua, sebuah jalan apriori, secara paradigma diwakili oleh argumen ontologisme (bahwa Tuhan ada sebagai akibat definisinya.pent) St. Anselm (dan turunanya, termasuk versi Descrates sendiri), memiliki daya tarik abadi bagi beberapa golongan filsuf, tapi tidak dipedulikan oleh sebagian besar orang. Yang pertama, secara paradigma diwakili oleh argumen rancangan (argumen from design), tentunya merupakan yang paling mendesak dari semua alasan-alasan menolak ateisme, dan argumen rancangan dengan gambalang muncul secara spontan kapanpun di manapun orang ditantang membenarkan kepercayaan meraka akan Tuhan. Contoh William Paley perihal menemukan sebuah jam tangan selagi berjalan-jalan di panas terik mencotohkan pokok-pokok dan sari-sarinya, kata dia, pada “acuan yang kita pikir tak dapat dielakan, bahwa jam tangan pastilah memiliki pembuat- bahwa pasti telah ada pada suatu waktu dan pada suatu atau lain tempat, sebuah kecerdsan atau kecerdasan-kecerdasan yang membentuknya demi tujuan yang sebenarnya kita menemukan jam tangan itu untuk menjawabnya, yang memahami konstruksinya dan merancang penggunaanya” (Paley 1800). Hingga Darwin muncul, argumen rancangan merupakan argumen yang disegani, berharga untuk dirusak Hume (seorang filsuf empiris yang percaya bahwa segalanya datang dari indera.pent) tapi tidak serentak ditembak dalam Hume Dialogues Concerning Natural Religion (1779). Descrates sendiri menganut sebuah versi argumen rancangan, dalam argumen Meditasi Ketiga-nya yang terkenal buruk bahwa gagasanya perihal Tuhan terlalu hebat untuk Descrates ciptakan sendiri. Walaupun Descrates tentunya menganggap dirinya cerdas, dan terlebh lagi perancang gagasan-gagasan yang berhasil, dia tidak dapat membayangkan bahwa dia dapat menjadi perancangan cerdas gagasanya perihal Tuhan.   

Gagasan akrab bahwa alam raya yang mengagungkan membuktikan keberadaan Tuhan sebagai penciptanya mungkin setua spesies kita, atau bahkan lebih tua. Apakah Homo habilis, manusia “menggunakan alat” yang membuat alat-alat sederhana pertama, memiliki beberapa gagasan remang-remang dan tak tersampaikan bahwa selalu membutuhkan suatu yang sungguh canggih yang cerdas untuk membuat sesuatu yang kurang canggih? Kita tidak pernah melihat pot membuat pembuat pot, tapal kuda membuat pandai besi, bagaimanapun juga. Aliran mengucur-bawah (trickle-down) ini, pandangan pikiran-awal (mind-first) perihal rancangan nampak pada awalnya tidak perlu bukti (self-evident). Pamflet propaganda kreasionis (kaum yang percaya pada penciptaan.pent) yang dulu diberikan pada saya oleh seorang murid memanfaatkan intuisi ini dengan kuisoner yang mengejek:

Tes Dua
Apakah Anda mengetahui bangunan apapun juga yang tidak punya pembangun? [YA] [TIDAK]
Apakah Anda mengetahui lukisan apapun juga yang tidak memiliki pelukis? [YA] [TIDAK]
Apakah Anda mengetahui mobil apapun juga yang tidak memiliki pembuat? [YA] [TIDAK]
Jika Anda menjawab YA untuk pertanyaan apapun di atas, berikan rincianya:
__________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Rasa malu yang diperkirakan pada orang yang mengisi tes tersebut saat dihadapkan dengan urutan panjang ini menimbulkan pada banyak orang-mungkin sebagian besar- rasa ragu saat mereka menghadapi gagasan agung Darwin. Nampaknya sungguh jelas, bukankah begitu, bahwa tidak dapat ada rancangan apapun tanpa perancang, ciptaan apapun tanpa seorang pencipta! Rasa penat dan reaksi mendadak yang dimunculkan kemungkinan ini pada banyak orang disampaikan dengan sempurna dalam sebuah serangan awal terhadap Darwin, diterbitkan tanpa nama pada 1868:

Dalam teori yang denganya kita harus berurusan, Keangkuhan Mutlak adalah kecerdasannya; sehingga kita dapat terus terang mengucapkan sebagai prinsip dasar seluruh sistem, bahwa, UNTUK MEMBUAT SEBUAH MESIN YANG SEMPURNA DAN INDAH, TIDAK DIBUTUHKAN MENGETAHUI BAGAIMANA MEMBUATNYA. Pernyataan ini akan ditemukan, pada pengkajian cermat, untuk mengekspresikan, dalam bentuk termampatkan, pokok inti dari Teori ini, dan untuk  mengekspresikan dalam sedikit kata meringkas semua maksud Tuan Darwin; yang, dengan pembalikan penalaran aneh, nampaknya berpikir  Keangkuhan Mutlak secara sepenuhnya  bermutu menggantikan Kebijakasanaan Mutlak dalam semua pencapaian-pencapaian skil kreatif. (Mackenzie 1868)

Tepat! “pembalikan penalaran aneh” milik Darwin pada kenyataanya merupakan sebuah cara pikir baru dan mengagumkan, menjungkirbalikan sepenuhnya cara pikiran-pertama  yang bahkan David Hume tidak dapat menyangkalnya, dan menggantikanya dengan pandangan yang meletup muncul yang di dalamnya kecerdasan- kecerdasan yang terkumpulkan, berpandangan ke depan dari sebuah pelaku anthropomorphis (berwujud seperti manusia.pent)- sesungguhnya muncul hanya sebagai salah satu hasil proses mekanistik, tak berpikiran. Proses-proses ini penuh dengan milyaran ketiadaan arah yang tak terkisahkan, tanda-tanda tubrukan, beberapa serpihan kecil yang musnah yang secara kebetulan menghasilkan sedikit peningkatan pada keturunan tempat proses-proses tersebut terjadi. Terimakasih pada prinsip Darwin “menurunkan dengan perombakan,”inovasi rancangan yang diuji dengan kejam ini bertumpuk selama berabad-abad, menghasilkan rancangan-rancangan brilian mencengangkan yang tidak pernah memiliki perancang-kecuali ketiadaan tujuan, proses tersalurkan dari seleksi alam itu sendiri.   

Tanda-tanda khas dari inovasi-inovasi tak terencana ini dapat ditemukan dimana-mana dalam pengujian rinci atas alam yang mengaggumkan, retina mata binatang bertulang belakang yang mengembang dan memipih, yang setengah dibuang yang sia-sia di gen dan organ dari setiap spesies, pemborosan-pemborosan dan kekejaman yang tampak jelas dari begitu banyaknya proses-proses alam. Hal-hal tersebut berasal dari kebijaksanaan, “kecelakaan-kecelakaan terbekukan,” dalam frasa yang sangat tepat dari Francis Crik, menghadapkan teis dengan sebuah dilemma: jika Tuhan bertanggung jawan atas rancangan-rancangan tersebut, maka secara menggelisahkan kecerdasanya tampak seperti kebodohan dan tak berperasaan milik manusia. Terlebih lagi, seraya pemahaman kita perihal mekanisme evolusi bertumbuh, kita dapat membuat sketsa yang semakin rinci tentang urutan sejarah perisitiwa-peristiwa yang dengannya inovasi-inovasi rancangan muncul dan tergabung pada cabang-cabang pohon genom . Sebuah penjelasan berlimpah yang terprediksi perihal proses pembuatan kini sedang muncul, penuh dengan ribuan rincian yang saling mendukung, dan tanpa kontradiksi sama sekali. Seraya teka-teki bongkar-pasang (puzzle) besar ini jatuh serpih demi serpih ke tempatnya dengan semakin cepat, tidak ada alasan meragukan bahwa inilah, dalam segala garis besar umum seakan-akan tiada semua rincian yang tidak mapan, kisah sesungguhnya tentang bagaimana semua makhluk hidup dapat memiliki rancangan seperti yang kita amati.

Keraguan tak beralasan tumbuh dengan subur, bagaimanapun juga, terima kasih pada upaya-upaya propaganda kreasionis yang tiada henti dan penyuara rancangan cerdas (RC (intelligent Design)), seperti William Dembski dan Michael Behe, yang telah mengelola secara mengecewakan sebagian besar jumlah populasi awam bahwa sungguh ada kontroversi ilmiah terjadi dalam biologi perihal teori yang menjadi tulang punggungnya, evolusi oleh seleksi alam. Tidak ada. Sungguh ada kontroversi ilmiah berlimpah di setiap sudut biologi, tapi tidak ada kontoversi yang membantah evolusi. Cara sah menanam badai dalam disiplin ilmu adalah dengan teori alternatif yang

1. Membuat prediksi yang langsung  saja ditolak oleh teori yang berkuasa tapi akhirnya benar atau
2. Menjelaskan sesuatu yang telah dan masih membingungkan pembela status quo atau
3. Menyatukan dua teori yang jauh, berkaitan dengan beberapa elemen pandangan yang sedang diterima,

Tercatat, para pembela RC belum menghasilkan satu contoh dari apapun  seperti di atas. Tidak ada percobaan dengan hasil-hasil yang menantang standar pemahanan neo-Darwinian apapun juga, tidak ada pengamatan pada catatan fosil atau genomik atau biogeografi atau anatomi perbandingan yang memperlemah pemikiran evolusioner standar, tanpa penyederhanaan maupun kesatuan teoritis, dan tanpa prediksi mengejutkan yang menjadi nyata. Singkatnya, tidak ilmiah-hanya iklan. Tidak ada hipotesa RC yang telah diajukan sebagai penjelasan tandingan atas fenomena biologi apapun. Untuk merancang hipotesa saingan, Anda harus turun ke parit-parit dan menawarkan beberapa rincian berdampak yang dapat dibuktikan, tapi pembela RC dengan baik sekali menghindari persyaratan itu, mendaku bahwa mereka tidak tahu secara pasti dalam kepala perihal kemungkinan siapa atau apa rancangan cerdasnya.

Untuk mengamati kelemahan ini dalam penggambaranya, pertimbangkanlah sebuah hipotesa imginatif dari rancangan cerdas yang dapat menjelaskan munculnya umat manusia di atas planet ini:
Sekita enam juga tahun yang lalu, insinyur genetis cerdas dari galaksi lain mengunjungi bumi dan memutuskan bahwa bumi akan menjadi planet yang lebih menarik jika di atasnya ada spesies pengguna-bahasa, pembentuk-agama, sehingga mereka mengasingkan beberapa primata (yang di antaranya nenek moyang baik manusia dan simpanse dan bonobo (kera langka afrika.pent)), dan secara genetis merancang ulang mereka guna memberi insting bahasa, dan memperlebar cuping bagian depan untuk perencanaan dan berefleksi. Hal tersebut berhasil.

Jika beberapa versi hipotesa ini benar, sesungguhnya hal tersebut dapat menjelaskan bagaimana dan kenapa umat manusia berbeda dari kerabat-kerabat terdekat mereka dan hal ini akan menyalahkan semua hipotesa saingan neo-darwinian yang akhir-akhir ini sedang dikejar perihal pertanyaan menghebohkan ini. Kita masih memiliki masalah perihal bagainama insinyur genetis cerdas ini ada di planet asal mereka, tapi kita dapat saja mengacuhkanya dengan aman  kesulitan itu untuk saat ini, karena tidak ada sedikit irisanpun bukti mendukung hipotesa ini. Dan-inilah sesuatu yang komunitas RC enggan membahasnya-tak ada hipotesa rancangan-cerdas yang berkembang lebih jauhd dari ini. Faktanya, ketidakyakinann saya- tapi mungkin- hipotesa memiliki keuntungan tersendiri karena dapat diuji prinspinya: kita dapat mengamati genome manusia dan simpanse untuk  tanda-tanda yang tak dapat keliru perihal pencangkokan oleh para insinyur genetis tersebut (mungkin mereka meninggalkan sebuah pesan“Kilroy pernah ada di sini” di DNA manusia bagi kita untuk diuraikan!). Menemukan semacam buku pentunjuk penggunaan yang dengan rapi tersimpan dalam “DNA sampah” yang tampaknya tidak berguna yang membentuk sebagian besar genome manusia akan mendapat Penghargaan Nobel-segera menang KO untuk gerombolan RC, tapi jika mereka bahkan mencari, mereka tidak memberi tahu siapapun. Mereka lebih tahu. Ironisnya, argumen “kesimpulan rancangan” William Dembski seharusnya menegaskan tes yang pasti berhasil dalam hanya menemukan pembuka rahasia seperti itu perihal pematri cerdas dalam fenomena asal muasal keturunan, tapi alih-alih mencoba menunjukan dalam tindakan tes tersebut, Dembski (2005) menyudahi dengan pengamatan yang menggunakan sudut pandang RC “mendorong ahli biologi untuk menyelidiki apakah system yang pada mulanya nampak tak berfungsi mungkin kenyataannya memiliki sebuah fungsi”- dan tiada kaum neo-Darwinian akan tidak setuju dengan strategi itu.

Antara kisah evolusi yang sangat terperinci serta bercabang-cabang banyak dan misteri tak berciri perihal Tuhan pencipta semua ciptaan besar dan kecil, tidak ada persaingan. Inilah pembalikan penting bagi keyakinan purba bahwa eksistensi Tuhan dapat dibaca melalui alam yang mengagumkan. Siapapun yang pernah terpukul oleh kebesaran rumitnya rancangan dan sangat banyaknya varietas menghidupi dunia dan berkhayal apakah-jika bukan Tuhan-dapat mungkin menjelaskan keberadaanya kini mesti menghadapi bukan hanya alternatif yang memuaskan, tapi sebuah kekuatan alternatif penjelasan yang menghenyakan nafas didukung ribuan prediksi yang benar-benar terbukti dan teka-teki yang terselesaikan. Richar Dawkins telah membuat intinya dengan bernas: “walaupun ateisme secara logis memungkin dapat dipertahankan sebelum Darwin, Darwin membuat mungkin ateisme terpenuhi secara intelektual” (1986:6).  

Memperlemah argumen terbaik yang pernah terpikirkan siapapun untuk mendukung eksistensi Tuhan bukanlah, tentu  saja, membuktikan ketiadaan Tuhan, dan banyak pemikir teliti yang telah menerima evolusi oleh seleksi alam sebagai penjelasan kekaguman dunia yang memiliki makhluk hidup mencari dukungan-dukungan lain agar kepercayaan mereka akan Tuhan berlanjut. Gagasan memperlakukan pikiran sebagai sebuah dampak bukanya sebagai sebab pertama terlalu revolusioner bagi beberapa orang. Alfred Russel Wallace, teman penemu (co-discoverer) Darwin perihal seleksi alam, tidak pernah dapat menerima pembalikan tersebut sepenuhnya, menyatakan bahwa “kompleksitas yang hebat dari daya-daya yang nampaknya mengendalikan permasalannya, jika bukan sesungguhnya mendirikannya , merupakan dan pastilah produk-pikiran” (dikutip dari Gould 1985:397). Lebih baru lagi, seorang fisikawan Paul Davies, dalam bukunya, The Mind of God (Pikiran Tuhan) (1992:232), berpendapat bahwa kekuatan reflektif pikiran manusia mungkin “bukanlah rincian sepele, bukanlah bagian kecil dari produk daya-daya tanpa pikiran yang tanpa tujuan.” Ini adalah cara paling terbuka untuk menyatakan penyangkalan yang akrab, karena hal ini mengkhianati prasangka yang kurang-dikaji. Kenapa, kita mungkin menanyai Davies, jika keberadaanya karena produk daya tanpa pikiran dan tanpa tujuan membuatnya sepele? Kenapa tidak dapat hal paling penting dari semuannya merupakan sesuatu yang muncul dari hal-hal tidak penting? Kenapa yang penting dan unggul dari segalanya harus turun jatuh bercucuran dari atasnya dari ketinggian, dari sesuatu yang lebih penting, sebuah anugrah dari Tuhan? Pembalikan Darwin menyarankan bahwa kita melepaskan anggapan itu dan mencari semacam keunggulan, berharga dan bertujuan, yang dapat muncul, meluap dari “daya-daya tanpa pikiran, tujuan.”

Tapi sebelum kita bereskan sudut pandang yang meluas tentang yang paling penting, dengan bantuan apapun yang kita dapat kerahkan, kita perlu berurusan dengan skeptisisme sisa dari sudut pandang tradisional mengucur-ke-bawah: Begitu evolusi tanpa pikiran, tujuan dapat berjalan, evolusi menghasilkan rancangan dahsyat setiap waktu, tapi bagaimana ini semua bermula? Tidakkah kita membutuhkan Tuhan untuk memantik proses dengan menyatukan secara ajaib dan secara mustahil  benda replika-diri pertama? Harapan ini- dan keyakinan sebaliknya bahwa asal usul hidup dapat dijelaskan sedemikian rupa oleh urutan-urutan peristiwa alamiah yang dasar tapi kemungkinannya tidak sepele perihal asal-usul kehidupan-mendasari minat yang dalam, agar tidak menyebutnya hasrat, yang mengelilingi penelitian terbaru perihal asal-usul kehidupan.  Rincian-rincian proses belum selesai, tapi kehadiran bekas-bekas bangunan yang cenderung kompleks-tidak hanya asam amino dan molekul dasar “organis”- dalam dunia sebelum adanya makhluk hidup kini terbangun, dan permasalahan yang dihadapi para ilmuwan saat ini lebih persoalan misteri yang tak dapat diperhitungkan ketimbang sebuah kekayaan memalukan: begitu banyak kemungkinan yang belum disingkirkan. Keyakinan bahwa pasti telah butuh sebuah mukjizat-pelanggaran sejenak hukum fisika dan kimia yang berlaku-bagi kehidupan untuk dapat bermulah telah kehilangan kepercayaan apapun juga yang pernah dimilikinya.

Tapi, lalu, kedudukan hukum-hukum itu sendiri membutuhkan penjelaskan, bukankah demikian? Jika Tuhan Cerdas dan Tuhan Pemantik telah kehilangan pekerjaan mereka, bagaimana dengan Tuhan Pemberi hukum? Pendapat ini telah populer sejak saat-saat awal pemikiran Darwininian, dan Darwin sendiri bermain dengan pemunduran menarik ini. Dalam sebuah surat pada 1860 pada seorang peneliti alam Amerika, Asa Gray, seorang supporter dini, Darwin menulis, “saya cenderung melihat semuanya sebagai hasil hukum-hukum terancang (penekanan ditambahkan), dengan rincian apakah baik atau buruk, ditentukan oleh kerja apa yang dapat kita sebut kebetulan” (Darwin 1911:105).

Proses otomatis sendiri sering merupakan ciptaan dari kecerdasan yang tinggi. Dari letak yang menguntungkan kini, kita dapat memahami bahwa para pencipta transmisi otomatis dan pembuka-pintu otomatis bukanlah orang idiot, dan kejeniusan mereka tersimpan pada memahami bagaimana menciptakan sesuatu yang dapat melakukan sesuatu yang “cerdas” tanpa harus berpikir tentangnya. Bermanja dalam suatu anarkonisme (kekacauan istilah.pent), kita dapat mengatakan bahwa bagi beberapa pengamat di saat Darwin, tampaknya Darwin telah membiarkan terbuka kemungkinan bahwa Tuhan melakukan prakaryanya dengan merancang pembuat rancangan otomatis. Dan pada beberapa hal dari gagasan tersebut, gagasan tersebut bukan hanya sebuah selisish-henti putus asa melainkan sebuah peningkatan positif pada tradisi. Bab pertama Kitab Kejadian (bagian pertama dari Kitab Perjanjian lama di Alkitab yang mengkisahkan penciptaan.pent) menjelaskan urutan tahapan penciptaan dan semuanya berakhir denga ulangan “dan Tuhan melihatnya baik.” Darwin telah menemukan sebuah cara menghilangkan penerapan terus-menerus dari kendali mutu yang cerdas; seleksi alam akan mengambil alih tanpa campur tangan lebih jauh dari Tuhan. (filsuf abad tujuh belas Gottfried Wilhelm Leibniz telah membela pandangan tanpa campur tangan dari Tuhan Pencipta yang mirip.) Sebagaimana Henry Ward Beecher menyampaikannya, “Rancangan secara besar-besaran lebih besar daripada rancangan terus-menerus” (Rachels 1991:99). Asa Graya, tertawan oleh gagasan baru Darwin tapi mencoba mendamaikanya sebisa mungkin dengan iman relijius tradisionalnya, menyimpulkan pada perkawinan menyamankan ini: Tuhan memaksudkan “arus variasi-variasi” dan telah memahami bagaimana hukum alam yang telah dia letakan akan memangkas aliran ini melalui ribuan tahun. Seperti yang kemudian John Dewey dengan tepat katakan (1910:12), mendukung tapi metafor pasaran lainya, “Gray berpegang pada apa yang dapat kita sebut rancangan dengan rencana kecil-kecil.”

Apakah perbedaan antara tatanan dan rancangan? Sebagai tikaman awal, kita mungkin mengatakan bahwa tatanan hanyalah keteraturan, hanyala pola; rancangan merupakan “telos”nya Aristoteles (telos=tujuan.pent), sebuah pendaya gunaan tatanan untuk sebuah tujuan, seperti kita lihat dalam artefak yang dirancang dengan cerdas. Sistem tata surya menunjukan tatanan menakjubkan, tapi (rupanya) tidak memiliki sebuah tujuan-tata surya tidak berjalan untuk apapun juga. Sebuah mata, sebagai lawanya, adalah untuk memandang. Sebelum Darwin, perbedaan ini tidak selalu dengan jelas diputuskan. Lebih tepatnya, perbedaan ini secara positif dikaburkan:

 Pada abad tiga belas, Aquinas (Teolog abad pertengahan pembela Tuhan dengan lima jalan, yang salah satunya mendukung alasan rancangan.pent) menawarkan pandangan bahwa tubuh alam [seperti planet-planet, rintik hujan, gunung-gunung berapi] bertikndak seolah-olah dibimbing menuju sebuah tujuan atau akhir yang pasti “sehingga mendapatkan hasil terbaik.” Penyesuaian alat-alat ini dengan tujuan-tujuan menyiratkan, pendapat Aquinas, sebuah maksud. Tapi, melihat bahwa tubuh-tubuh alam tidak memiliki kesadaran, tubuh-tubuh alam tidak dapat mengisi maksud tersebut sendiri. “Maka ada suatu makhluk cerdas yang olehnya semua hal-ikhwal alam diarahkan ke tujuanya, dan makhluk ini kita sebut Tuhan.” (Davies 1992:200)

Cleanthes-nya Hume (seorang karakter dalam Dialogues Concerning Natural Religion), mengikuti tradisi ini, mengumpulkan kekaguman yang dibiasakan perihal dunia yang ditinggali makhluk hidup dengan keteraturan-keteraturan surga-hal ini semua seperti sebuah mesin jam yang menawan baginya. Tapi Darwin menyarankan sebuah pemisahan: beri saya tatanan, kata dia, dan waktu, dan saya akan memberi Anda rancangan. Biarlah saya mulai dengan keteraturan-keteraturan tanpa tujuan, tanpa pikiran, tanpa inti dari fisika-dan saya akan menunjukan pada Anda sebuah proses yang sesungguhnya akan menghasilkan produk-produk yang menunjukan tidak hanya keteraturan tapi juga rancangan bertujuan. (Inilah apa Karl Marx dengat tepat pikir dia lihat saat dia mendeklarasikan bahwa Darwin telah memberi pukulan mematikan pada teleologi(paham bahwa alam raya bertujuan-pent) : Darwin telah mengurangi teleologi menjadi nonteleologi, rancangan ke tatanan)

Sebuah gagasan lebih baru perihal perbedaannya- dan hubungan erat- antara rancangan dan tatanan akan membantu memperjelas gambaran tersebut. inilah usulannya, dipopulerkan pertama kali oleh fisikawan Erwin Schrodinger (1967), bahwa hidup dapat dijelaskan dalam hal hukum kedua thermodinamika (cabang fisika yang berurusan dengan perpindahan berbagai bentuk daya satu ke yang lainnya dan bagaimana perpindahan tersebut mempengaruhi temperature, tekanan, isi, aksi mekanis, dan kerja.pent). Dalam fisika, tatanan atau pengelompokan dapat diukur dalam kaitanya dengan perbedaan panas antar daerah-daerah ruang-waktu, entropi (satuan ketidakteraturan.pent) hanyalah ketidakteraturan, lawannya keteraturan, dan menurut hukum kedua, entropi sistem terisolasi bertambah seiring waktu. Dengan kata lain, hal ikhwal berhenti berfungsi, secara tak terhindarkan. Menurut hukum kedua, alam raya semakin berhenti bekerja dari keadaan tertata akhirnya tak tertata yang dikenal sebagai matinya panas alam raya. Lalu apakah keberadaan semua makhluk hidup? Mereka adalah hal ikhwal yang menentang kehancuran menjadi debu ini, paling tidak untuk sementara, dengan tidak menjadi terisolasi- dengan mengambil bagian dalam lingkungan mereka alat yang diperlukan untuk tetap hidup dan bertunas bersama. Richard Gregory seorang psikolog menyarikan gagasan tersebut:

Anak panah waktu dilepaskan oleh Entropi-hilangnya pengorganisasian, atau hilangnya perbedaan-perbedaan temperatur- merupakan statistis dan merupakan subyek untuk pembalikan lokal berskala-kecil. Paling mencengangkan: hidup merupakan sebuah pembalikan Entropi sistematis, dan kecerdasan menciptakan tatanan dan perbedaan-perbedaan energi melawan “kematian” bertahap yang seharusnya melalui Entropi fisik alam raya. (1981:136).

Gregory melanjutkan dengan berhutang kepada Darwin dengan dasar yang memungkinkan gagasan: “inilah takaran konsep Seleksi Alam yang meningkat dalam kompleksitas dan tatanan organisme dalam waktu biologis kini dapat dipahami.” Kemudian tidak hanya organisme individual, tapi seluruh proses evolusi yang menciptakan mereka, maka dapat dilihat sebagai fenomena fisik mendasar yang berjalan melawan kecenderungan lebih lebar dari waktu kosmis.

Sebuah hal yang dirancang, maka, kalau tidak makhluk hidup ya sebagian dari makhluk hidup, atau artefak sebuah makhluk hidup, terorganisir dalam kasus apapun dalam pertolongan pertarungan melawan ketaktertataan ini. Tidaklah tidak mungkin melawan kecenderungan Hukum Kedua, tapi harganya mahal. Gregory mendramatisir ini dengan sebuah contoh tak terlupakan. Ekspresi standar buku pelajaran tentang keberarahan yang dipaksakan oleh hukum kedua thermodinamika adalah klaim bahwa Anda tidak dapat menyatukan telor (yang telah pecah.pent). Baiklah, bukannya Anda sepenuhnya tidak dapat, tapi bahwa akan sungguh-sungguh mahal bayarannya, tugas yang rumit, dengan segala jalan melawan hukum kedua. Kini pertimbangkanlah: betapa mahalnya jika membuat sebuah alat yang akan mengambil telor yang pecah sebagai bahan dan mengeluarkan telor yang utuh sebagai hasil? Ada satu penyelesaian yang siap: letakan induk ayam di kotak! Beri makan telor pecah, dan ayam akan dapat mengeluarkan telor untuk Anda-untuk sementara. Ayam normalnya tidak menghenyakan kita sebagai entitas yang canggih mendekati muzizat, tapi satu hal yang seekor ayam dapat lakukan, terima kasih pada rancangan yang telah mengaturnya, caranyapun masih di luar gapaian peralatan yang dibuat oleh insinyur manusia.

Semakin terancang sesuatu tampaknya, semakin kerja Penelitian dan Pengembangan harus telah terdapat untuk menghasilkan rancangan tersebut. Di antara hal-hal paling terancang adalah pikiran (dalam peranannya karena pikiran merupakan hal yang merancang-ulang-dirinya). Tapi ini berarti bahwa pikiran adalah di antara yang efek-efek paling tinggi (hingga kini) dari proses pembuatan, bukan-seperti dalam versi lama-penyebab atau sumbernya. Produk pikiran pada gilirannya-artefak manusia yang merupakan model awal kita-harus dianggap masih tetap sebagai masih terancang. Hal ini pada awalnya mungkin tampak melawan intuisi. Syair pujian Keats (penyair zaman Romantik ternama karena karya “Syair Pujian untuk Kendi Yunani”.pent) mungkin nampaknya memiliki suatu klaim kepemilikan turunan Penelitian dan Pengembangan yang lebih besar ketimbang sebuah burung bulbul – paling tidak hal ini mungkin tampak seperti itu bagi seorang pujangga yang tidak peduli biologi-tapi bagaimana dengan sebuah penjepit koran? Tentunya, penjepit koran merupakan produk rancangan sepele ketimbang makhluk hidup apapun, betapapun mendasarnya. Satu hal yang jelas, hal ini benar, tapi renungkanlah sejenak. Letakan dirimu di posisi Paley, tapi berjalanlah sepanjang sungai yang tampak benar-benar padang pasir di sebuah planet asing. Penemuan (discovery) mana yang paling menghebohkanmu: sebuah kerang atau pengumpul kerang? Sebelum sebuah planet dapat membuah seorang pengumpul kerang, harus dibuat terlebih dahulu pembuat pengumpul kerang, dan hal itu sebuah hal yang jauh lebih terancang ketimbang sebuah kerang.     

Hanya sebuah teori dengan bentuk logis milik Darwin yang dapat menjelaskan bagaimana hal-hal terancang muncul, karena penjelasan sejenisnya lainya kalau bukan menjadi lingkaran setan maka menjadi pengunduran tak terbatas (Dennet 1975). Jalan lama, jalan pikiran-pertama, menyokong prinsip bahwa membutuhkan kecerdasan untuk membuat kecerdasan. Anak-anak menyanyi, “butuh seseorang untuk mengetahui seseorang,” tapi sebuah slogan yang lebih membujuk nampaknya akan menjadi” butuh yang lebih besar untuk membuat yang kurang besar.” Pandangan apapun yang terinspirasi oleh slogan ini akan segera menghadapi sebuah pertanyaan memalukan, bagaimanapun juga, seperti Hume tandaskan: Jika Tuhan menciptakan dan merancang semua hal-hal menawan, siapa yang menciptakan Tuhan? Supertuhan? Dan siapa yang menciptakan supertuhan? Supermahatuhan? Atau apakah Tuhan menciptakan dirinya? Apakah hal ini merupakan kerja keras? Apakah hal ini membutuhkan waktu? Jangan banyak tanya! Baiklah maka, kita dapat ganti bertanya apakah pelukan lemah lembut ini merupakan peningkatan atas hanya penolakan prinsip kecerdasan (atau rancangan ) musti bersemi dari kecerdasan. Darwin menawarkan sebuah jalan penjelasan yang sesungguhnya menghormati wawasan Paley: karya nyata berjalan merancang jam ini, dan karya ini tidaklah gratis. Richard Dawkins menyarikan pokoknya:

kompleksitas teratur merupakan hal yang sulit kita jelaskan. Begitu kita diperbolehkan hanya mendalilkan kompleksitas teratur, jika saja kompleksitas teratur mesin pengganda DNA/protein, cenderung gampang memunculkannya sebagai penghasil tapi kompleksitasnya lebih tertata…tapi tentu saja Tuhan apapun yang dapat merancang secara cerdas sesuatu yang kompleks seperti mesin tiruan DNA/protein pasti paling tidak telah sama kompleks dan teratur seperti mesin itu sendiri….menjelaskan asal-usul mesin DNA/protein dengan mempersembahkan Perancang supernatural sama persis dengan tidak menjelaskan apa-apa, karena ini meninggalkan asal-usul sang Perancang tidak terjelaskan (1986:141)

Seperti yang Dawkin katakan selanjutnya, “Satu hal yang membuat evolusi teori yang sedemikian rapi adalah bahwa teori ini menjelaskan bagaimana kompleksitas teratur dapat muncul dari kesederhanaan purba” (hal. 316). Tapi tetap, kesederhanaan purba itu menunjukan tatanan, dan apakah hukum alam itu sendiri? Tidakah mereka mengejawantahkan eksistensi pemberi-hukum? Freeman Dyson seorang fisikawan dan kosmologis menyebut pokok tersebut secara hati-hati: “saya tidak mendaku bahwa arsitektur alam raya membuktikan eksistensi Tuhan. Saya hanya mendaku arsitektur alam raya konsisten dengan hipotesa bahwa pikiran memainkan perananan esensial dalam penggunaanya (Dyson 1979:251). Karena, seperti Dawkin perhatikan, hipotesa bahwa pikiran (teratur, kompleks) memainkan  peranan sedemikian rupa tidak mungkin dapat menjadi penjelasan, kita mesti bertanya: Dengan hipotesa lain apa arsitektur alam raya konsisten? Ada beberapa. 

Karena semakin banyak yang dipelajari tentang perkembangan alam raya sejak dentuman besar, tentang kondisi-kondisi yang memungkinkan pembentukan galaksi dan bintang dan elemen berat yang darinya planet dapat terbentuk, fisikawan dan kosmologis telah semakin tercengang oleh eloknya kepekaan hukum alam. Kecepatan cahaya kurang lebih 300.000 km per detik. Bagaimana jika kecepatanya hanya 299.000 km per detik, atau 301.000 km per detik? Akankah itu banyak merubah sesuatu hal apapun itu? Bagaimana jika daya gravitasi satu persen lebih atau kurang ketimbang sekarang? Konstanta dasar fisika-kecepatan cahaya, konstanta daya tarik graviatas, daya-daya lemah dan kuat dari interaksi subatomik, konstantan Planck-memiliki nilai bahwa tentu saja mengizinkan perkembangan actual alam raya seperti kita ketahui alam raya telah terjadi. Tapi yang terjadi jika dalam imajinasi kita merubah sembarang satu dari nilai-nilai tersebut hanya dengan jumlah sedikit, maka kita menempatkan alam raya yang di dalamnya tidak ada salah sau darinya dapat telah terjadi, dan sesungguhnya di dalamnya jelas tidak ada serupa makhluk hidup (life-like) dapat muncul: Tanpa planet, tanpa atmosfir, tanpa kemampatan sama sekali, tanpa elemen-elemen kecuali hydrogen dan helium, atau mungkin bahkan tak ada hal tersebut-hanya suatu plasma panas membosankan, benda-benda sama saja, atau sebuah ketiadaan yang sama membosankanya. Jadi bukankah ini fakta yang mengagumkan bahwa hukum-hukum tersebut begitu tepat untuk kita ada? Sesungguhnya, mungkin dapat ditambahkan, kita hampir tidak membuatnya!

Apakah fakta mengagumkan ini membutuhkan pejelasan, dan jika begitu, penjelasan macam apa yang mungkin diterima? Menurut prinsip anthropik (manusiawi), kita diberi hak untuk menarik fakta-fakta perihal alam raya dan hukumnya dari fakta tak terbantahkan bahwa kita (kita anthropo, kita makhluk manusia) di sini untuk melakukan penyimpulan dan penagamatan. Prinsip anthropik tiba pada beberapa selera. Pada “bentuk yang lemah” prinspip ini merupakan sebuah suara, tak berbahaya, dan kadang berguna diterapkan pada logika dasar: jika x merupakan kondisi niscaya untuk eksistensi y, dan y ada, maka x ada. Orang-orang yang percaya Tuhan dalam versi terkuat yang ditawarkan apapun dari prinsip anthropik pikir mereka dapat menarik kesimpulan sesuatu yang sangat bagus dan mengejutkan dari fakta bahwa kita pengamat berkesadaran ada di sini-contohnya, bahwa dalam beberapa tataran alam raya ada untuk kita, atau mungkin bahwa kita ada sehingga alam raya seluruhnya dapat ada, atau bahkan bahwa Tuhan menciptakan alam raya sedemikian rupa sehingga kita menjadi mungkin. Ditasrikan dengan cara ini, usulan-usulan ini merupakan usaha-usaha mengembalikan argumen rancangan Paley, menyasar ulang hal ini untuk hukum fisika paling umum alam raya, bukan konstruksi tertentu yang dimungkinkan hukum-hukum tersebut. Di sini, sekali lagi, gerakan balasan Darwinian tersedia.

Yang paling keras kepala adalah bahwa entah bagaimana mungkin telah ada semacam reproduksi yang berbeda seluruh alam raya-alam raya, dengan beberapa jenis memiliki lebih “keturunan-keturunan” ketimbang yang lainya, karena hukum alam alam raya tersebut lebih subur. Penyambung lidah Hume, Philo, mempercandakan gagasan ini, dalam Dialogues Concerning Natural Religion, saat dia membayangkan tuhan-perancang yang jauh dari cerdas:

Dan betapa pastinya muncul keterkejutan pada kita, saat kita mendapati dia (Tuhan-perancang, pent) sebuah mesin bodoh, yang meniru yang lainya, dan meniru dari seni, yang, melalui sebuah pergantian zaman yang panjang, setelah berkali-kali percobaan, setelah berkali-kali percobaan, kesalahan, perbaikan, perenungan, dan kontroversi, telah secara bertahap meningkat? Banyak dunia mungkin telah dikerjakan dengan ceroboh dan rusak, melalui keabadian, kesalahn dalam sistem ini adalah kegagalan: Banyak jerih payah hilang: Banyak percobaan dibuat tak berbuah: Dan sebuah peningkatan perlahan, tapi berlanjut dilakukan selama zaman tak terbatas pembuatan-dunia (Bagian V)

Hume mempertalikan “peningkatan berkelanjutan” pada bias pilihan minimal “mekanik bodoh,” tapi kita dapat menggantikan mekanik bodoh dengan sesuatu yang bahkan lebih bodoh tanpa menghilangkan kekuatan peningkatnya: Proses Darwinian yang secara murni proses Darwinian algoritmik
  Apakah teori itu dapat diuji? Smolin menawarkan beberapa prediksi yang akan, jika tidak dibenarkan, menyingkirkan gagasanya dengan cukup baik: haruslah semua variasi-variasi “mendekati” konstanta fisik dari nilai-nilai yang kita nikmati mesti memberi alam raya-alam raya yang di dalamnya lubang-lubang hitam kurang mungkin atau kurang sering daripada dalam milik kita. Singkatnya, dia berpikir bahwa alam raya kita mesti mengejawantahkan paling tidak sebuah keoptimalan yang lokal, jika tidak global, dalam kompetisi pembuatan-lubang-lubang hitam. Masalahnya adalah terlalu sedikit rintangan-rintangan, sejauh dapat saya lihat, pada apa yang sebaiknya diperhitungkan sebagai “nyaris” variasi dan kenapa, tapi mungkin uraian lebih jauh pada teori ini akan memperjelas ini. Tidak perlu dikatakan, sulit mengetahui apa yang membuat gagasan ini namun, terlepas apapun keputusan sesungguhnya para ilmuwan, gagasanya telah menyajikan pendukung sebuah pokok fasafah. Feeman Dyson, dan yang lainya yang berpikir mereka melihat sebuah pola sangat hebat dalam hukum-hukum fisika, mungkin tergoda membuat kesalahan taktis dari bertanya pertanyaan retoris, “Apalagi selain Tuhan yang mungkin dapat menjealskanya?” Smllin menawarkan gagasan menggemboskan secara halus. Jika kita mengikuti jalur Darwinian hingga setapak ini, Tuhan Pencipta pertama-tama berubah menjadi Tuhan Pemberi Hukum, yang kemudian dapat dilihat bergabung dengan Tuhan Penemuhukum, yang tidak menciptakan hukum-hukum alam, tapi sesungguhnya hanya tersandung sepanjang mereka dalam rangkaian coba-coba buta alam raya-alam raya. Sumbangsih Tuhan dihipotesiskan mejadi semakin kurang personal-dan maka semakin  siap dilakukan oleh sesuatu yang tak berpikiran dan keras kepala!

Tapi seumpama, demi kebaikan argumen, bahwa spekulasi Smolin semuanya cacat; seumpama seleksi alam raya-alam raya tidak berjalan sama sekali. Ada yang lebih lemah, spekulasi semi-Darwinian yang juga menjawab pertanyaan retoris secara tepat guna. Hume juga memainkan gagasan yang lebih lemah ini, dalam bagian VIII Dialoguesnya.
Alih-alih mengandaikan materi tak terbatas, seperti dilakukan Epicurus, mari andaikan materi terbatas. Sebuah jumlah terbatas partikel hanya mudah sekali terkena perubahan terbatas: Dan ini pasti terjadi, dalam durasi abadi, bahwa setiap kemungkinan tatanan atau posisi pasti dicoba berkali-kali tak terbatas jumlahnya…..
Seumpama…materi dilemparkan dalam posisi apapun, oleh daya buta, tak terarah; ini bukti bahwa posisi pertama ini patilah dalam semua kemungkinanya yang paling membingungkan dan paling kacau dibayangkan, tanpa kemiripan apapun dengan karya penemuan manusia, yang, bersama dengan sebuah bagian-bagian simetris, menemukan dan menyesuaikan alat-alat untuk tujuan-tujuan dan sebuah kecenderungan untuk mempertahankan-diri….[S]eandainya, bahwa daya penjalan, apapun itu, masih berlanjut dalam materi….Maka alam raya berjalan terus selama banyan zaman dalam urutan chaos dan tak teratur yang berlanjut. Tapi apakah tidak mungkin bahwa alam raya mungkin mapan pada akhirnya…? Mungkinkah kita tidak berharap untuk sebuah posisi tersebut, atau lebih baik diyakinkan akan posisi tersebut, dari revolusi abadi materi tanpa panduan, dan tidakah mungkin hal ini mejelaskan semua kebijaksanaan dan penemuan yang muncul, yang ada di dalam alam raya? 

Gagasan ini tidak memanfaatkan versi penciptaan sama sekali, tapi hanya menarik perhatian pada fakta bahwa kita memiliki keabadian untuk bermain denganya. Tidak ada jatuh tempo lima-milyar-tahun dalam hal ini, cara adanya evolusi hidup di Bumi. Beberapa versi spekulasi telah dipertimbangkan dengan serius oleh fisikawan dan kosmologis beberapa tahun terakhir. John Archibald Wheeler (1974), contohnya, telah mengusulkan bahwa alam raya terombang-ambing mundur dan maju selamanya: sebuah dentuman besar diikuti oleh pengembangan, yang diikuti oleh pemampatan menjadi sebuah remukan besar, yang kemudian diikuti oleh big bang lainnya, dan begitulah selamanya, dengan vatiasi acak dalam konstanta dan parameter penting lainya terjadi dalam setiap ombang-ambingnya. Setiap aturan yang mungkin dicoba berkali-kali tak terbatas, dan juga setiap cara dengan setiap corak, baik yang “masuk akal” dan yang tidak masuk akal, bergerak tanpa aturan, bukannya sekali tapi berkali-kali tak terbatas. 
Sulit percaya bahwa agagasan ini secara empiris dapat diuji dalam cara bermakna apapun, tapi kita sebaiknya menyediakan putusan. Variasi-variasi atau pengembangan-pengembangan tema yang mungkin memiliki implikasi yang dapat dibenarkan atau tidak dibenarkan. Sementara ini perlu untuk mencatatat bahwa rumpun hipotesa-hipotesa sungguh memiliki kebajikan memperluas prinsip penjelasan yang bekerja demikian baik dalam wilayah teruji seperti apapun juga. Konsistensi dan penyederhanaan adalah sokongannya. Dan bahwa, sekali lagi, hal tersebut tentu saja cukup menumpulkan daya tarik alternative tradisional. Di sinilah kenapa: jika alam raya terstruktur sedemikian rupa sehingga seuah ketakterbatasan “hukum-hukum fisika” yang berbeda dapat dicoba dalam kepenuhan waktu, kita akan sesat berpikir bahwa ada apapun yang khusus perihal menemukan diri kita sendiri dengan hukum-hukum yang secara peka tertata indah. Hal ini harus terjadi sesungguhnya, dengan atau tanpa bantuan dari Tuhan yang ramah. Ini bukanlah sebuah argumen untuk kesimpulan bahwa alam raya merupakan, atau pastilah merupakan, tersususn sedemikian rupa, tapi hanya sebuah argumen untuk kesimpulan yang lebih rendah hati bahwa tak ada sifat “hukum alam” yang dapat diamati dapat mejadi begitu tidak ringkih pada alternatif ini, tafsiran turunan.


Begitu hipotesa-hipotesa yang tadinya spekulatif, hipotesa Darwinian yang semakin ramping dirumuskan, hipotesa-hipotesa tersebut menyajikan-dalam gaya Darwinian klasik-untuk membebaskan dengan langkah kecil tugas penjelasan yang menghadapi kita. Semua yang tertinggal dalam kebutuhan akan penjelasan pada titik ini adalah sebuah kemolekan atau kehebatan yang pasti tercerap di hukum fisik yang dapat diamati. Jika Anda ragu bahwa hipotesa ketidakterbatasan varian-varian alam raya sesunggunya dapat menjelaskan kemolekan ini, Anda sebaiknya merenungkan bahwa hal ini memiliki paling tidak klaim sebanyak seperti pertanyaan-tidak-menuntut penjelasan sebagaimana alterfnatif tradisional; kali ini Tuhan telah didepersonalisasi hingga titik menjadi suatu prinsip abstrak dan abadi dari kecantikan dan kebaikan, bukan sebuah kecerdasan atau pembuathukum atau bahkan penemuhukum tapi paling bagus semacam pembawa acara, susuah melihat bagaimana eksistensi Tuhan dapat menjelaskan segalanya. Apa yang akan dituntut sebagai “penjelasan” yang tidak telah diberikan dalam deskripsi fenomena indah untuk dijelaskan? Sudut pandang Darwinian tidak membuktikan bahwa Tuhan-dalam penyamaran apapun-tidak dapat ada, tapi hanya jika kita tidak punya alasan yang baik untuk berpikir Tuhan sungguh ada. Bukan pula reduksi ad absurdum klasik, maka, tapi bagaimanapun juga sebuah tantangan rasional yang mengurangi pilihan-pilihan orang yang percaya pada Tuhan hingga dasar minimalis secara absurd. Seperti yang diungkapkan Reverend Mackerel, dalam novel komik peter De Vries, The Mackerel Plaza (1958), “Merupakan bukti terakhir kemahakuasaan Tuhan bahwa dia tidak perlu ada untuk menyelamatkan kita.”

Biologi evolusioner juga mendukung ateisme secara tidak langsung dengan menyediakan sebuah kerangka penjelasan untuk apa yang kita mungkin sebut asal-usul (genealogy) teology. Karena percaya pada Tuhan tidak dibenarkan oleh alasan ilmiah atau logis apapun, tapi paling tidak bumbu yang hampir kompak di peradaban manusia, apa yang menjelaskan kelestarian kepercayaan ini? Hal ini merupakan bagian yang diabaikan dari beban bukti bagi ateis: tidak hanya menunjukan kesalahan dan kemeraguan dalam berbagai argumen yang telah ditawarkan mendukung eksistensi Tuhan, tapi menjelaskan kenapa proposisi yang begitu meragukan lebih dipilih oleh siapapun pertama kali.  Belum pernah ada kekurangan hipotesis membebaskan ditawarkan selama berabad-abad: neurosis yang merupakan produk peradaban tak terhindarkan, sebuah konspirasi secara akhir pemuka agama egois, dan kebodohan belaka, contohnya, merupakan prasangka lestari yang populer. Karya-karya terbaru dalam ilmu social evolusioner (Boyer 2001; Atran 2002; Dennet 2006) menunjukan bahwa ada hipotesa yang lebih menarik dan lebih masuk akal- dan secara ilmiah terbukti- untuk diburu.    


references
Atran, Scott. 2002. In Gods We Trust: The Evolutionary Landscape of Religion. New
York: Oxford University Press.
Boyer, Pascal. 2001. Religion Explained: The Evolutionary Origins of Religious
Thought. New York: Basic Books.
Darwin, Francis. 1911. The Life and Letters of Charles Darwin. 2 vols. New York:
Appleton (original edition, 1887).
Davies, Paul. 1992. The Mind of God. London: Simon and Schuster.
Dawkins, Richard. 1986. The Blind Watchmaker. London: Longmans.
De Vries, Peter. 1958. The Mackerel Plaza. Boston: Little, Brown.
Dembski, William. 2005. “In Defense of Intelligent Design.” Http://www.
designinference.com. Forthcoming in Philip Clayton (ed)., Oxford Handbook of
Religion and Science.
Dennett, Daniel. 1975. “Why the Law of Effect Will Not Go Away.” Journal of the
Theory of Social Behaviour 5: 179–87.
Dennett, Daniel. 1995. Darwin’s Dangerous Idea. New York: Simon & Schuster.
Dennett, Daniel. 2005. “Show Me the Science.” New York Times op/ed page, August
28, 2005.
Dennett, Daniel C. 2006. Breaking the Spell: Religion as a Natural Phenomenon.
New York: Viking Penguin.
Descartes, Rene. 1641. Meditations on First Philosophy. Paris: Michel Soly.
Dewey, John. 1910. The Influence of Darwin on Philosophy. New York: Henry Holt;
Bloomington: Indiana University Press, 1965.
Dyson, Freeman. 1979. Disturbing the Universe. New York: Harper and Row.
Gould, Stephen Jay. 1985. The Flamingo’s Smile. New York: Norton.
Gregory, Richard L. 1981. Mind in Science: A History of Explanations in Psychology
and Physics. Cambridge: Cambridge University Press.
Hume, David. 1779. Dialogues Concerning Natural Religion. London.
MacKenzie, Robert Beverley. 1868. The Darwinian Theory of the Transmutation of
Species Examined. London: Nisbet&Co. Quoted in a review, Athenaeum, no. 2102
(February 8): 217.
Paley, William. 1800. Natural Theology. Oxford: J. Vincent.
Rachels, James. 1991. Created from Animals: The Moral Implications of Darwinism.
Oxford: Oxford University Press.
Schr ¨ odinger, Erwin. 1967. What Is Life? Cambridge: Cambridge University Press.
Smolin, Lee. 1992. “Did the Universe Evolve?” Classical and Quantum Gravity
9:173–91.
Wheeler, John Archibald. 1974. “Beyond the End of Time.” In Martin Rees, Remo
Ruffini, and John Archibald Wheeler (eds.), Black Holes, Gravitational Waves and
Cosmology: An Introduction to Current Research. New York: Gordon and Breach.

Sumber terjemahan Cambridge Companion to Atheism, ed. Michael Martin. Anda dapat mengunduhnya dari situs http://www.4shared.com/document/5aCOBgiM/The_Cambridge_Companion_to_Ath.htm  dan www.scribd.com