Alkisah, di suatu hutan, hiduplah berbagai macam binatang
dan tumbuhan. Mereka bersyukur dengan kelebihan mereka masing-masing. Walaupun
berkuran kecil, semut hidup dengan gotong royongnya. Mereka sungguh kompak.
Gajah hidup dengan belalainya yang panjang. Burung pelatuk dengan paruhnya yang
kuat. Mereka juga saling kerja sama dan berbagi. Bunga memberikan nektarnya
pada lebah dan kupu-kupu. Sebagai gantinya, mereka dibantu agar berbuah.
Namun, ada suatu kelompok binatang yang tidak mensyukuri apa
yang dia punya. Kelompok ini bernama keong. Para keong merasa dirinya berjalan
terlalu lambat. Keong berpikir bahwa dirinya hanya dapat merayap dan menempel
di bebatuan sungai. Keong tidak memiliki kaki. Mereka merasa seolah-olah banyak
binatang-binatang di hutan menertawakan mereka.
Selain itu, keong juga merasa iri hati dengan
binatang-binatang lain, terutama kancil. Menurut para keong, kancil binatangnya
besar dan dapat berlari-lari dengan lincahnya. Maka, suatu ketika sang raja
keong mengumpulkan seluruh keong-keong yang ada di hutan. Mereka berkumpul di
kolam yang indah sambil membahas sebuah rencana.
“Saya merasa kita telah dianggap remeh oleh makhluk-makhluk
hutan yang lainnya” seru dia membuka pertemuan itu.
“kita dipermalukan karena kita berjalan lambat, hanya mampu
menempel dan tidak punya kaki. Lihatlah binatang-binatang lain? Mereka
memandang kita dengan tatapan menghina. Maka, agar kita tidak minder, hendaklah
kita mengadakan sayembara. Kita tantang kancil berlari mengelilingi danau.”
Namun, Si Keong Tua yang bijaksana membalas, “Tapi kita
pastilah kalah, kancil dapat berlari lebih cepat dan gesit. Lagi pula, bukankah
setiap jenis binatang memiliki kelebihan dan keunggulannya masing-masing. Kita
tidak perlu iri, juga merasa minder”
Raja Keong membantahnya, “Tentu kita curang supaya menang.
Aku sudah merancang cara supaya menang. Dalam pertandingan ini, kita akan
melibatkan banyak keong tanpa pengetahuan si kancil dan juri. Kancil akan
mengira dia hanya bertanding melawan satu keong. Setelah kancil menyalip dan
melaju lebih cepat, kita telah menyiapkan keong di depan sehingga keong itu
akan masuk finis terlebih dahulu. Dan pertandingan akan kita menangkan.”
Banyak rakyat keong setuju karena mereka memang merasa
minder. Namun, Si Keong Tua tidak merasa iri dengan kancil, dia tidak merasa
minder pada binatang-binatang lainnya. Namun, karena iri hati menguasai Raja
Keong. Ia tetap bersikeras, dan keong-keong lain juga setuju rencana
pertandingan dengan kancil.
Kerajaan keongpun mengirim utusan menemui kerajaan kancil.
Raja Keong juga telah mengundang seluruh binatang di hutan untuk menyaksikan
jalannya pertandingan. Raja Keong ingin agar semua makhluk di hutan melihat
kehebatan keong mengalahkan kancil. Kerajaan Keong dan kerajaan kancil saling
sepakat untuk berlomba sesuai peraturan yang adil. Setiap kerajaan diwakili
satu ekor. Tapi tidak ada yang tahu rencana curang Raja Keong kecuali Raja
Keong dan rakyatnya. Juri pertandingan tersebut adalah seekor burung elang. Dia
dipilih karena penglihatannya tajam dan jeli.
Sebelum pertandingan, kancil yang mewakili berlomba tertawa
geli. Dengan sombong dia berkata pada lawannya, “mana mungkin keong, kamu bisa
mengalahkanku. Larimu pelan, kaki saja kamu tidak punya. ”
“kita lihat saja nanti, jangan terlalu sombong.
Kesombonganmu dapat menjatuhkanmu” jawab keong yang sudah siap-siap berlari.
Perlombaanpun dimulai, “prriiiiit” si burung elang
membunyikan peluit start. Para binatang mempercayai matanya yang jeli untuk
mengamati pertandingan. Elang segera terbang dan mengamati memantau dari udara.
Kancil langsung melesat berlari meninggalkan keong. Dia berlari sambil
tertawa-tawa girang. Sambil berlari ke depan dan menoleh ke belakang kancil
berteriak “lihatlah, sudah kukatakan, aku pasti menang, akulah binatang yang
dapat lari paling lincah di hutan”
“Siapa bilang, aku sudah di depanmu” seru seekor keong lainnya
di depan kancil.
“Tidak mungkin, tadi aku sudah lari di depanmu. Baiklah,
segera aku lewati kamu” balas kancil kesal.
Begitulah pertndingan berlangsung, hingga sebelum garis
finis, kancil yang sombong mengira dia akan menang. Namun sayang, raja keong telah
menyiapkan sebuah rencana curang untuk menggagalkan kemenangan kancil. Seeekor
keong telah disiapkan di tikungan terakhir sebelum garis finis. Saat kancil
mendekat, keong itu tinggal sedikit melangkah dan jadilah, dia melewati finis
sebelum kancil. Penduduk hutan yang menunggu tepat di garis finis terkesima.
Entah bagaimana, ternyata keong mampu berlari lebih cepat dari kancil.
Merekapun menganggap keonglah pemenang perlombaan tersebut.
“Tungguh, teriak si burung elang yang menjadi wasit. Dia
telah memutuskan bahwa pemenang sebenarnya adalah kancil.. dia menjelaskan pada
penonton bahwa dalam pertandingan ini si keong yang mewakili telah jauh
tertinggal, dan si keong yang membelakangi kancil adalah keong yang lain. Ini
berarti curang. Maka, kancillah pemenang perlombaan ini.” Si Elang menjelaskan.
Kancil yang semula sebal akhirnya merasa lega. Namun, saat
dia melihat raja keong menjadi sebal, terlintas dari pikirannya “Kenapa mereka
sebal pada saya dan menantang saya lomba lari? Mengapa mereka berusaha mati-matian
memenangkannya dengan segala cara?”.
Kancilpun akhirnya menyadari bahwa dia telah sombong, tidak
rendah hati. Maka, dia dengan lapang dada segera menyesalinya. Dia merasa
bersalah telah membangkitkan rasa tidak suka pada orang lain. “Keong, saya minta
maaf karena saya sadar saya terlalu sombong.”
Hewan-hewan yang ada di sana menjadi terkagum dan
menghormati kancil yang lapang dada. Keongpun menjadi tersentuh. Dia kini
bersimpati pada kancil. Mereka merasa lega dan bahagia. Raja keong akhirnya
berbicara, “kami juga meminta maaf telah iri pada dirimu kancil. Si Keong Tua
benar bahwa semua dari kita memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Kaum keong tak perlu iri karena tak punya kaki, memang yang kami butuhkan
adalah menempel kuat di batu-batu sungai karena kami tidak boleh terseret arus”
“Betul raja keong, setiap binatang memiliki kekurangan dan
kelebihannya. Yang terpenting adalah mengembangkan kelebihan kita” sahut si
elang.
Binatang-binatang lainnya pun turut bersuka cita. Mereka
bahagia tidak ada perselisihan lagi. Akhirnya, kisah tentang perlombaan keong
dan kancil menyebar di seluruh hutan. Binatang-binatang lain yang tidak hadir
tetap dapat mengambil pelajaran darinya. Hutanpun menjadi damai tanpa iri hati.
Mereka menjadi binatang-binatang yang semakin bersyukur atas apa yang mereka
punya dan mereka kini semakin akrab berkawan satu sama lain.
Digubah dengan banyak perubahan dari fable klasil tentang
kancil dan keong.