Politik, Liputan, Humor, Budaya

Minggu, 30 Juni 2013

Ironi Pementasan Sendratari Ariah di Jakarta


Cerita dari tarian Ariah terasa begitu menohok bagi saya karena dipertontonkan di depan publik Jakarta. Pembaca dapat menikmati rekaman drama itu di http://www.youtube.com/watch?v=s_wZSSqyW3w&feature=share Drama musical dari kisah sejarah betawi ini terdengar begitu ironis dengan stereotipe masyarakat Jakarta sekarang. Stereotipe menjadi sesuatu yang perlu dibahas karena lebih dari sekedar cap saja. Stereotipe ini berakar dari pengalaman-pengalaman dan tindakan generalisir berlebihan atas gejala budaya. 


Drama tari Ariah menceritakan gadis miskin yang menjadi tambatan hati tiga pria. Pria pertama, seorang tuan tanah, memiliki posisi kuat karena keluarga Ariah menumpang di tanahnya. Pria kedua, seorang pria hidung belang kaya Oey Tambahsia yang “hartanya tidak habis dimakan tujuh turunan”. Pria dengan banyak istri ini mampu membayar centeng tangguh untuk menyeret Ariah. Pria ketiga adalah jawara lokal. Apesnya, Ariah menyukai jawara ini dan menolak kehidupan dengan harta mapan bersama dua pria.

Ariah digambarkan sebagai tokoh yang membela martabatnya hingga mati. Ia menolak menjadi perempuan pemuas nafsu lelaki kaya meskipun dengan imbalan harta dan kemapanan. Demi membela prinsip ini, ia menggunakan silat yang ia pelajari dengan singkat dari Juki untuk melawan centeng Oey Tambahsia. Tentu saja ia kalah. Ariah memilih mati membawa martabatnya. Aria ditokohka sebagai perempuan yang keras. Ia rela berpeluh belajar silat demi membela diri dan tentu martabatnya.

Bagaimana dengan fenomena sejumlah perempuan Jakarta atau yang tinggal di Jakarta sekarang? Mungkin perlu penelitian lebih lanjut untuk memastikan kisaran persentase kecenderungan ini. Saya kira ada cukup banyak perempuan Jakarta yang, ketika menjadi Ariah, akan lebih memilih menikah dengan orang kaya dan menjadi mapan. Bagaimana dengan martabat? Mereka yakin masyarakat sekarang materialistis dan memandang martabat berdasarkan harta dan jabatan. Teman saya yang bekerja di bank swasta pernah menceritakan, rekan sejawatnya yang perempuan mengeluh karena masih jomblo. Perempuan ini jelas berharap mendapat pria kaya dan ia bahkan rela menjadi perempuan simpanan asalkan mendapat jaminan harta. Ini jelas mengingatkan pada perempuan-perempuan terdakwa koruptor seperti Djoko Susilo, Fathanah dan Lufi Hassan Ishaq. Perempuan-perempuan ini keraplagi dikandangkan dalam apartemen-apartemen di Jakarta. Apakah perempuan ini, seperti Ariah, rela berpeluh untuk mendapatkan sesuatu? Saya kira perempuan-perempua itu lebih suka menikmati kerja lelaki, entah halal atau haram, asal mereka mendapat harta dan merasa martabat meningkat.

Ada juga perempuan-perempuan dengan mental terjajah yang merasa martabatnya terangkat dengan jalan bersama bule kulit putih. Seorang teman saya mengaku mengenal perempuan yang kumpul kebo bersama seorang bule. Padahal, ia tahu bule itu sudah beristri di negara asalnya. Begitu juga dengan seorang kenalan saya, ia menikah dengan bule di Indonesia dan bangganya setengah mampus. Namun, ia ditinggal begitu saja setelah menua setelah usia pernikahan satu dasawarsa. Sang bule pergi ke negara asalnya dan menceraikannya. 

Saya membayangkan, bagaimana jika kisah ini disaksikan dan ditanggapi oleh perempuan-perempuan di atas? Entah apakah mereka merasa tertusuk dengan Ariah atau malah acuh tak acuh. Mungkin juga mereka sekedar menikmati sendratari yang diiringi dengan koreografi, efek dan musik apik ini. Lantas, seumpama saja Ariah seperti yang ditokohkan dalam cerita, bagaimana pendapatnya melihat perempuan-perempuan yang saya paparkan di atas?

Jumat, 21 Juni 2013

AS Minta Hong Kong Tangkap Pengungkap Kecurangan NSA, Edward Snowden







Kejaksaan federal Amerika Serikat meneteapkan whistleblower/peniup peluit (orang yang mengungkap rahasia kasus) Edward Snowden sebagai tersangka. Ia dikenaik pasal mata-mata, pencurian dan pengambilalihan kepemilikan pemerintah. Pemerintah AS meminta Hong Kong menahan dan memindahkannya ke Amerika.

Pasal mata-mata dan pencurian berdasarkan pengungkapan Snowden atas dokumen-dokumen yang digolongkan dari NSA (Badan Pertahanan Nasional) Servers yang tergolong rahasia. Ini mengakibatkan penerbitan sejumlah artikel di media tentang program pengawasan NSA , termasuk PRISM, yang dituding mengumpulkan data pribadi pengguna internet melalui kerjasama dengan banyak perusahaan-perusahaan Amerika Serikat termasuk Facebook, Yahoo, Google, Apple dan Microsoft.

Perusahaan yang disebut menyangkal memberikan “akses langsung” dinas rahasia Amerika Serikat pada server mereka. Namun, dalam perbincangan online Senin lalu, Snowden menuding mereka sengaja menyampaikan tanggapan itu untuk menipu.

Ketika ditanya untuk “memaparkan serinci mungkin apa yang Anda maksud dengan sarana ‘akses langsung ‘“ Snowden melanjutkan dengan rincian teknis yang lebih luas”:

“Rincian lebih lanjut tentang akses NSA akan segera muncul, tapi secara umum, kenyataannya seperti: jika analis dari NSA, FBI, CIA, DIA dsb punya akses ke database pertanyaan Sigint, mereka dapat masuk dan mendapatkan hasil apapun yang mereka inginkan,” katanya. 

Rincian khusus soal bagaimana Snowden memindahkan dokumen rahasia NSA tidaklah begitu jelas, Guardian mengatakan dokumen-dokumen itu diekstrak menggunakan empat laptop berbeda yang kemudian dipindahkan ke hongkong, meskipun laporan selanjutnya menunjukan Snowden hanya menyalin data rahasia itu menggunakan USB. Walaupun begitu, penggunaan alat semacam itu dilarang di SIPRNET, jaringan rahasia Kementerian Pertahanan, sebagai administrator sistem Snowden punya akses luas pada data-data.

Diterjemahkan dari http://rt.com/usa/snowden-charged-espionage-sealed-092/  pada 22 Juni 2013



Senin, 10 Juni 2013

Ketika Orang Kulit Putih Kapitalis Menghidupi Budaya Indian Shuar-Kutipan dari novelet Pak Tua yang Membaca kisah Cinta






Kutipan dari novelet Pak Tua yang Membaca kisah Cinta, halaman 26-27, Luis Sepulveda, terbitan Marjin Kiri.  
 
Ia (Antonio Jose Bolivar Proano) belajar bahasa Shuar (suku Indian di Ekuador dan Peru.ed) dengan ikut ekspedisi berburu mereka. Mereka memburu tapir, paca, kapibara, babi-rusa, celeng hutan kecil yang sangat lezat, monyet, burung, dan reptil. ….

                Bersama mereka ia abaikan adat kesopanan Katolik udiknya. Ia berjalan-jalan setengah telanjang dan menghindari kontak dengan pemukiman-pemukiman baru, yang menganggapnya orang gila. 

                Antonio Jose Bolivar Proano, yang tak pernah berpikir soal kata “kebebasan” selama di hutan, kini menikmati kebebasan tak terbatas..

                Ia makan kapanpun merasa lapar. Ia pilih buat terlezat, emoh makan ikan yang terlalu lambat buatnya, menguntit binatang liar, tapi saat hewan itu sudah masuk dalam jangkau sumpitnya, ia tiba-tiba merasa pingin makan yang lain.

                Malamnya, kalau ingin sendiri ia berbaring di bawah kano, dan sebaliknya, kalau butuh teman ia pergi mencari orang-orang Shuar. 

                Dan mereka pun menerimanya dengan senang hati. Mereka berbagi makan, rokok lintingan sendiri, dan ngobrol sampai berjam-jam, meludah banyak-banyak di seputar tungku susun tiga mereka yang terus menyala. 

                “Seperti apa kami ini?” mereka bertanya. 

                “Seramah kawanan monyet, secerewet kakaktua mabok dan besar mulut persis iblis.”

                Orang Shuar menyambut perbandingan ini dengan tawa ngakak dan kentut keras2 tanda puas. 

                 “Dan di sana, tempat asalmu, seperti apa?”

                “Dingin. Pagi dan sore seperti beku. Kau harus memakai poncho rajutan panjang, juta topi.”

                “Pantas kau bau. Kalau berak, kau kotori kain ponchomu.”

                “Nggak juga, kadang memang. Masalahnya, terlalu dingin buat kami untuk mandi sesuka hati, tidak seperti kalian.”

                “Monyet-monyet kalian juga pakai poncho?”

                “Tak ada monyet di gunung. Babi-rusa juga tak ada. Orang gunung tidak berburu.”

                “Lalu, mereka makan apa?”

                “Apa saja. Kentang, jagung. Kadang babi biasa atau ayam, di hari pesta. Atau marmot di hari pasar.”

“Dan apa yang mereka perbuat kalau tidak berburu?”

“Mereka kerja. Dari terbit matahari sampai tenggelam.”

“Goblok sekali! Goblok sekali!” seru orang-orang Shuar itu. 

Setelah di sana lima tahun, ia tahu ia tak bisa meninggalkan dunia rimba itu.