Politik, Liputan, Humor, Budaya

Sabtu, 27 Juli 2013

Apakah koran tempo Pro-Amerika Serikat?: Mempertanyakan Keberimbangan Koran Tempo

Oleh, Guruh Dwi Riyanto, bekerja sebagai jurnalis Kantor Berita Radio
68H. Pendapat ini adalah pribadi dan tidak mewakili institusi.

Setiap media memiliki politik redaksi sendiri-sendiri entah disadari
ataupun tidak. Politik redaksi mencerminkan sikap redaksi tersebut
terhadap permasalahan-permasalahan di luar. Politik redaksi ini akan
muncul dalam pemilihan apa yang dianggap penting menjadi permasalahan
untuk diangkat, pemilihan sudut pandang hingga narasumber mana yang
dikutip dan terutama jatah ruang untuk berbicara pada publik. Membaca
Koran Tempo Senin (15/7), politik redaksi itu Koran itu tampaknya
mengarah untuk memberikan kesan positif pada Amerika Serikat.

      Pertama, pemberitaan koran tempo pada hari di atas tidak
berimbang dan memberi jatah lebih untuk menyuarakan Amerika Serikat.
Padahal, pasal tiga kode etik jurnalistik menyebutkan, “Wartawan
Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang,
tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan
asas praduga tak bersalah.” Berita berjudul Telepon Putin, Obama
Kembali Minta Snowden Diekstradisi tidak berimbang. Tidak Ada satupun
kutipan atau informasi yang mencerminkan sikap Rusia terhadap
permintaan kedua dari Amerika Serikat. Orang yang dikutip dalam berita
itu adalah Juru Bicara Gedung Putih Jay Carney. Terlebih, kutipan
Carney mendiskreditkan Rusia. Carney menuding Rusia dengan mengatakan,
“Memberikan Sarana propaganda bagi Snowden bertetangan dengan
deklarasi yang disampaikan pemerintah Rusia soal netralitas Rusia”.
Kenapa Koran ini tidak memberi suara bagi Rusia untuk membela diri?
Pembelaan diri bahkan bisa mengutip pernyataan Rusia sebelumnya soal
permintaan pertama AS untuk mengekstradisi Snowden jika koran nasional
ini tidak mampu memperoleh informasi baru. Meskipun tidak kuat nilai
beritanya, pernyataan itu tetaplah pengimban penting. Berita timpang
serupa muncul dalam persoalan Mesir. Dalam berita berjudul Amerika dan
Jerman Desak Pembebasan Mursi, tidak ada satupun informasi yang
mewartakan sikap baik kubu Ikhwanul Muslimin pendukung Mursi maupun
pemerintahan di bawah presiden sementara Adly Mansour atas desakan
Amerika Serikat dan Jerman. Informasi kali ini berasal dari Juru
Bicara Kementerialn Luar Negeri Amerika Serikat Jen Psaki.

     Kedua, Berita-berita bahkan yang tidak berkaitan langsung
menyatakan dukungan kepada Amerika Serikat dengan memberi jatah suara
lebih dan menyampingkan, bahkan membungkan suara penentang. Meskipun
berita berjudul Terjebak Pertempuran, Warga Berlindung di Masjid
mengakui campur tangan Amerika Serikat dengan mendukung oposisi, tidak
ada satupun kutipan dari pihak yang disudutkan dalam berita itu,
pemerintahan Bashar al-Assad. Koran ini bahkan mengutip kelompok hak
asasi manusia Suriah yang berbasis di Inggris, “Syrian Obsevatory for
Human Rights, yang menyatakan “warga sipil di Qaboun itu bisa saja
“dibantai oleh tentara Assad.”  Lembaga itu dikabarkan memiliki
kredibilitas rendah atau kurang dapat dipercaya sebagai kelompok
pembela HAM yang independen. Kelompok ini mendukung oposisi dan terus
menuding pembantaian warga sipil oleh pemerintahan Assad yang didukung
Iran.(  http://www.asianews.it/news-en/Massacres-by-Islamic-extremists-bolster-Bashar-al-Assad-28219.html ) Padahal, dalam perang saudara yang melibatkan milisi sipil ini,
keduanya saling bertempur. Bahkan, kelompok oposisilah yang dalam
sejumlah peristiwa ketahuan menyerang warga sipil. Mereka bahkan
sempat menculik Uskup Boulos Yzigi dan Uskup John Ibrahim dari Gereja
Ortodox Suriah. ( http://www.guardian.co.uk/world/middle-east-live/2013/apr/23/syria-bishops-kidnapped-rebels-live ) Sekedar informasi, minoritas dalam perang saudara
ini membala Bashar al-Ashad karena cemas jika oposisi yang mendapat
dukungan kuat dari kelompok Islam radikial bakal mengeksekusi mereka
ketika nanti oposisi berkuasa. (http://www.cbsnews.com/8301-18563_162-57560667/syrias-assad-cultivates-support-from-minorities/)

     Ketiga, Jika dalam pemberitaan saja sangatlah pro-Amerika,
terlebih lagi dalam kolom di luar berita yang tidak menuntut
keseimbangan dari dua pihak yang berkonflik. Dalam terbitan hari itu
juga, muncul wawancara Duta Besar Amerika Serikat Scott Marciel
berjudul AS Ingin Jadi Teman Baik Indonesia dan pendapat berjudul
Kennedy dan Perdamaian Dunia karangan Jeffrey D. Sachs yang merupakan
Guru besar Pembangunan Berkelanjutan, Direktur Earth Institute pada
Colombia Universitiy. Tentu, pembaca Koran belum tentu melakukan
perimbangan informasi tersendiri dan menemukan fakta tandingan. Fakta
itu di antaranya adalah Amerika Serikat mengeksploitasi alam dan pasar
Indonesia untuk kepentingan negara itu. Contoh gamblang adalah
pengoperasian tambang Freeport di Papua. Selain itu, Kennedy mungkin
membuat langkah maju berarti dalam upaya perdamaian Soviet-AS seperti
ditulis. Namun, Keneddy tetap memberi bantuan pada Vietnam Selatan
yang berarti terus melanggengkan perang. Keneddy bahkan meningkatkan
tentara AS di Vietnam hingga mencapai 16 ribu. 4  Peningkatan jumlah
pasukan tentu bukanlah langkah perdamaian sama sekali. (http://usatoday30.usatoday.com/news/washington/2010-09-26-jfk-kennedy-mystique_N.htm   )

      Tulisan ini memang sekedar membahas tulisan-tulisan yang
diterbitkan Koran Tempo hari ini, diperlukan penelitian secara lebih
luas untuk menarik kesimpulan lebih kuat. Namun, menjadi ironis ketika
pandangan timpang ini muncul di koran yang notabene memiliki ruang dan
waktu penulisan lebih untuk bisa lebih berimbang. Beberapa artikel
memang sempat saya baca mengkritik pemerintah AS, seperti dalam kasus
penggunaan pesawat tanpa awak atau Drone di Pakistan yang menewaskan
warga sipil. Namun, berita-berita ini, jika ada penelitian lebih
lanjut soal media ini secara lebih menyeluruh, saya perkirakan
jumlahnya relatif kecil ketimbang yang mencitrakan Amerika Serikat
secara positif.

Referensi

  http://www.asianews.it/news-en/Massacres-by-Islamic-extremists-bolster-Bashar-al-Assad-28219.html
artikel berjudul Massacres by Islamic extremists bolster Bashar
al-Assad  teakhir diakses 15 Juli 2013

  http://www.guardian.co.uk/world/middle-east-live/2013/apr/23/syria-bishops-kidnapped-rebels-live
 artikel berjudul Syria crisis: Aleppo bishops kidnapped - Tuesday 23
April terakhir diakses 15 Juli 2013

  http://www.cbsnews.com/8301-18563_162-57560667/syrias-assad-cultivates-support-from-minorities/
  Syria's Assad cultivates support from minorities terakhir diakses 15
Juli 2013

. http://usatoday30.usatoday.com/news/washington/2010-09-26-jfk-kennedy-mystique_N.htm
50 years after win, Kennedy's legacy endures terakhir diakses 15 Juli
2013

Senin, 15 Juli 2013

Peribahasa dan Kutipan tentang Mabuk dan Alkohol



Kutipan dan peribahasa soal Mabuk dan Alkohol
Beberapa tidak diterjemahkan, karena jadi tidak lucu. Bahasa inggrisnya dipertahankan supaya Anda bisa membandingkan.
______________________________________________________________________________




Anggur tidak memunculkan jawaban, tapi setidaknya menghilangkan pertanyaan
______________________________________________________________________________


Uang tidak bisa membeli kebahagiaan, tapi bisa membeli alkohol

Money can’t buy you happiness but it can buy you alcohol.
______________________________________________________________________________

Alkohol mungkin musuh terburuk manusia. Tapi, injil menulis, cintailah musuhmu. “Alcohol may be man's worst enemy, but the bible says love your enemy.”
Frank Sinatra
______________________________________________________________________________
“Tidak ada keeratan hubungan sosial tanpa kehadiran alkohol” Peribahasa Cina
______________________________________________________________________________

John Marcellus Huston
 “Saya lebih suka menganggap Tuhan tidak mati. Dia hanya mabuk  - I prefer to think that God is not dead, just drunk.”
______________________________________________________________________________
Officer- “Have you been drinking?”
You- “I’m not as think as you drunk I am.”
Officer- “Son, have you been drinking tonight?”
You- “I swear to drunk I’m not God.”
Officer- “Son, can you answer me?”
You- “What’s the officer, problem?”
Officer- “I’m taking you in for the night.”
You- “I’m sotally tober though.”
Officer- “What’s your name, son?”
You- “Jack Daniels.”


______________________________________________________________________________

“Anggur adalah puisi dalam botol - Wine is bottled poetry.” ~Robert Louis Stevenson
______________________________________________________________________________

“Langit melindungi anak-anak, pelaut dan orang mabuk -Heaven protects children, sailors, and drunken men” peribahasa Jerman
______________________________________________________________________________

“Ketika teman-teman Anda mabuk dan berkelahi, ambil sendalmu dan katakan selamat tinggal pada mereka- When your companions get drunk and fight, Take up your hat, and wish them good night ” Peribahasa Jepang
______________________________________________________________________________

“Orang mabuk berbicara pada dewa-dewa - Drunkards talk to the gods” Peribahasa Cina
______________________________________________________________________________


Ilmu pengetahuan di tangah orang jahat lebih berbahaya ketimbang pedang di tangah budak.. Persian Peribahasa.

Hidup itu seperti terus mabuk. Kesenangan berlalu, tapi sakit kepala terus bertahan. -  Life is like perpetual drunkenness, the pleasure passes but the headache remains.. Peribahasa Rusia .

 peribahasa Turki
______________________________________________________________________________


Bahkan Tuhan kita membantu orang untuk mabuk
Peribahasa Hungaria (Mungkin mengacu adegan muzizat pertama Yesus di injil ketika ketika merubah air menjadi anggur)
Peribahasa Hungaria

 
______________________________________________________________________________

Orang mabuk menghargai setiap tetes terkecil
Even the smallest drop is appreciated by the drunkard.
 Peribahasa Lithuania

______________________________________________________________________________

"Ketika kita minum, kita mabuk. Ketika mabuk, kita tidur. Ketika tidur, kita tak berbuat dosa. Ketika tidak berbuat dosa, kita masuk surga. Jadi, mari mabuk supaya masuk surga! –
When we drink, we get drunk. When we get drunk, we fall asleep. When we fall asleep, we commit no sin. When we commit no sin, we go to heaven. So, let's all get drunk and go to heaven!" – Dramawan - George Bernard Shaw
______________________________________________________________________________


"Bir adalah bukti Tuhan mencintai kita dan ingin kita bahagia - Beer is proof that God loves us and wants us to be happy." -- Benjamin Franklin
______________________________________________________________________________


"Hanya butuh satu gelas untuk membuatku mabuk. Masalahnya, saya tak ingat gelas ke tigabelas atau empat belas. George Burns


It takes only one drink to get me drunk.....the trouble is, I can't remember if it's the thirteenth or the fourteenth." -- George Burns
______________________________________________________________________________


Alkohol – karena tidak ada cerita hebat muncul karena makan salad
Alcohol – Because no great story every started with someone eating a salad
______________________________________________________________________________


Saya bukan pecandu alkohol. Saya hanya minum dua kali. Ketika saya ulang tahun dan tidak ulang tahun.

I’m not an alcoholic, I only drink two times a year. On my birthday and when it’s not my birthday.
______________________________________________________________________________


That’s the problem with drinking if something bad happens you drink in an attempt to forget; if something good happens you drink in order to celebrate; and if nothing happens you drink to make something happen.
Itulah permasalahan dengan minum. Jika hal buruk terjadi, kau minum supaya lupa. Jika hal menyenangkan terjadi, kau minum untuk merayakan. Jika tidak terjadi apa-apa, kau minum agar terjadi sesuatu.
______________________________________________________________________________


Dalam anggur ada kebenaran - In vino veritas – in wine there is truth, peribahasa latin

______________________________________________________________________________



Vodka dicampur es = buruk bagi hati
Wiski dicampur es  = buruk bagi jantung
Scotch dicampur es – buruk bagi otak
Sial, es mengkacaukan segalanya.
______________________________________________________________________________


Seorang mabuk mengatakan pada temannya yang sadar, “Kau pasti mabuk karena saya melihatmu ada tiga”
You must be drunk cos I can see 3 of you.
______________________________________________________________________________


A: Saya pernah tidak minum alkohol selama empat tahun.
B: Kenapa?
A: Karena ini tahun kelima saya menjadi peminum

______________________________________________________________________________

 
“Drink what you want; drink what you’re able. If you are drinking with me, you’ll be under the table.”
~ Anonymous


Kamis, 11 Juli 2013

Ngobrol Bareng Ayu Utami yang Tukang Ngeles Pertanyaan Kritis

Ayu Utami


Minggu (1/8) malam kemaren, aku mendapat sms dari teman, “Ayu Utami ke Yogyakarta besok, senin jam 19.00..”. Waduh, senin malam. Pasti sudah lelah karena seharian harus mengurus penjualan majalah, mengambil majalah di agen, mengantar ke pelanggan2. Setelah itu, mengajar di sebuah bimbel, lalu melanjutkan mengantar. Baru malam sekitar jam tujuh selesai. Apakah sempat dan kuat? Tapi karena penasaran atas nama yang membuat kontroversial ini, dan terlebih sudah kucicipi rasanya Saman dan Larung, kedua novel pertama Ayu Utami. Kayaknya nama Ayu Utami sebegitu menjadikanku penasaran hingga aku mengusahakan untuk datang.

Untungnya waktu mengijinkan dan fisikpun dapat diajak kompromi. Banyak hal yang ada di kepala perihal nama Ayu Utami sebelumnya. Memang awalnya penuh praduga dan penasaran. Pertama kali mendengar nama dia dari beberapa teman yang mengkritik karya-karyanya, terutama Saman dan Larung. (Perihal kontroversi ini teman2 bisa coba buka google dan ketik kata “sastrawangi” dan “Perang Sastra Bumi Putra vs TUK”. Lalu, untuk tercetak ada Politik Sastra karya Saut Situmorang dan Jurnal Bumi Putra.) Seorang teman kampus sebelah bilang dia itu feminis tapi malah mengobyekan perempuan. Karya-karya dia bukanlah karya feminis, kata dia. Lalu, teman satu kampus bilang kalau karya dia sungguh dibesar-besarkan. Namun, menurut media arus utama, dia dicitrakan sebagai penulis besar dan terkenal. Wah-wah, ada2 aja orang kontroversial begini, yang kalau kita menyangkut dia, kita berada di pihak pro atau kontra, hampir tak bisa netral.

Akhirnya aku sempatkan baca novel Saman dan Larung, walau dua2nya pinjem..wk…wk.wk..(gaul bro). Saat membacannya, biasa-biasa saja. Datar, memang agak asik di bagian-bagian bercinta itu. Wah, imajinasi pornoku disenangkan nih. Gamblang dan menyenangkan. Bikin birahi.he..he.he…(ttiitt). Tapi, ada kata2 yang menyakitkan mataku, kata2 yang diucapkan seorang pastur lelaki, wisanggeni, terhadap perempuan gila haus seks. Bunyinya kurang lebih mengatakan andai dia perempuan dan perempuan gila itu laki-laki, dia pasti akan lebih gampang memuaskan hasrat birahi perempuan gila itu. Wah, udah mulai ndak beres ni, batinku. Ini seperti menyetujui perempuan lebih sebagai pemuas seks melulu. Tapi, secara umum biasa saja. Ide2nya juga biasa, cara penyajiannya biasa. Ada orang yang bilang plot-nya bagus dan pembaharu. Tapi aku pikir plot-nya lebih canggih Atheis karya K.Mihardja yang ditulis tahun 1943. Di Atheis, penutup cerita sudah ada di bab pertama, lalu plot berbalik dari masa lalu menuju awal, kembali pada bab pertama. Tapi, kata-kata terakhir dirancang untuk menjawab misteri di bab awal. (novelnya ada di perpus USD). Singkatnya, aku pikir Ayu Utami biasa-biasa saja.

Demikian prolognya sebelum diskusi ma Ayu Utami di yayasan Umar Kayam senin (02/08)
Aku datang terlambat, entah berapa menit. Waktu datang sudah ramai, juga dia bicara apa tak jelas. setelah berusaha nyambung, baru aku tahu dia bicara tentang khasanah nusantara, juga tentang penulisan-penulisan sastra, terutama perihal sejarah yang terlupakan. Diap sebut-sebut FPI dan krisis pasca-reformasi adalah kekerasan terhadap umat beragama..juga dia sebut religiousitas kritis.Religiositas kritis itu istilah yang dia pakai untuk menekankan bahwa kita bsa beriman sambil tetap kritis, bahwa berpikir, kritis tidak harus meninggalkan iman. Ayu Utami ambil contoh para pemikir yang “Eropa, Kiri, rasional” yang mengatakan meninggalkan iman itu merupakan suatu tahap selanjutnya (ini kayaknya tahap2nya August Comte dech..bukan semua bilang gitu, Nietzsche aja yang Atheis ndak mempermasalahkan politheisme(baca Anti-christ dan the Gay Science))..Hmmm……bahasanya aneh dan tak aku mengerti…..

Setelah ada kesempata bertanya, kok ndak ada yang tanya ya? Ya udah, iseng aja sambil makan gorengan dan kacang aku tanya. “apa yang Anda maksud dengan khasanah nusantara? Terus, tentang FPI, apakah Anda memuat hingga aliran dana dari mana, lalu pendukung politiknya dari mana. Terus, kata “religiositias kritis” serta stereotip2 dia tentang agama yang timur dan barat yang rasional, gak beda jauh ma jaman penjajahan yang slogan rasisnya si Kipling terus didengung-dengungkan bahwa barat adalah barat, timur adalah timur, keduannya tak mungkin bersatu. Gak ada bedannya ma zaman penjajahan dong dia?

Ayu menghindari menjawab pertanyaan2ku atau lupa ya? Dari tiga itu, cuman satu yang dijawaba…waduh2..tobat…ya udah, biar temen2 dapet jatah kan nanti ada dinamika lagi. Setelah itu, ada sepasang pria dan perempuan paruh baya yang bertanya, tapi menurtku mereka seperti inferior dan termakan mitosnya Ayu Utami yang ada di media masa. Merek tampak kagum sama Ayu. Bahkan ada yang mengatakan, aku sudah membaca semua karya Ayu Utami.

Setelah itu, ada seorang temanku menanyakan rentetan pertanyaan, ada lebih dari sepuluh kalau gak salah. Dari reaksi Ayu ma temanku itu, baru aku sadar, kayaknya si Ayu ini memang suka ndak njawab pertanyaan nih. Bahasa gaulnya, ngeles gitu bro..kecuali, dia memang gak paham pertanyaannya. (Hanya Ayu tahu mana yang benar, tapi kayaknya kedua tuduhanku kok gak enak semua ya?ha..ha.h.a.)

Contohnya, membantah klaim Ayu bahwa bilangan berbasis 10 merupakan bilangan berbasis tubuh dan bilangan berbasis 12 adalah bilangan berbasis alam, temanku berkata bahwa matematika berbasis bilangan sepuluh, yang menurut Ayu berbasis tubuh, sebenarnya bukanlah berbasis tubuh. Di esai karangan Alan Bishop berjudul Western Mathematics: A Secret Weapon of Cultural Imperialism dijelaskan ada 600 bahasa di Papua New Guinea dan ratusan sistem berhitung. Dan yang banyak yang berbasis tubuh, bukan cuman bilangan sepuluh. Tubuh yang bilangannya sepuluh tu cuman jari. Kenapa dikaitkan dengan tubuh bilangan sepuluh? Bilangan-bilangan lain juga ada yang menggunakan tubuh untuk berhitung. Lalu, pertanyaan menarik, temanku ini membantah pernyataan Ayu bahwa sastra memang mainya halus, tidak terang-terangan. Dia mengambil contoh puisi2 Wiji Thukul yang blak-blakan. Apakah itu dianggap bukan sastra? Temanku ini mengingatkan pertanyaanku tentang FPI yang belum dijawab tadi. Terus, temanku juga membantah bahwa sastra itu tidak berbahaya bagi kekuasaan, lalu dia menanyakan kenapa sastra, dari sastra kanan hingga kiri, tidak diajarkan di sekolah menengah?
Jawaban2 Ayu kurang lebih seperti ini, jika aku ingin mengangkat bilangan berbasis 12 bukan berarti tidak ada bilangan lain. Dan Ayu menuduh temanku berpikir dikotomi ( berpikir seperti hitam putih dan tidak ada warna lain). Jadi, Ayu mengambil perumpamaan, jika aku mengatakan Romo Mangun bagus, bukan berarti aku mengatakan Pramoedya jelek. Kok bisa dikotomi? Anda harus meninggalkan pemikiran dikotomi. Ha? Padahal kan temanku itu bilang dia ingin menanyakan perihal bilangan yang berbasi tubuh kok bisa hanya bilangan sepuluh? Bukankah ini sama sekali ndak nyambung? Tanya A jawabnya B.

Aku jadi berpikir tentang dua kemungkinan tadi, dia ngeles atau memang gak nangkep ya.
Ini terjadi lagi saat dia jawab pertanyaan tetnang FPI. Dia bilang tadinya masalah tu di toleransi dan kekerasan pada kebebasan beragama, seperti yang dilakukan FPI. Dan novelnya Bilangan Fu dia tulis untuk mengkritik itu. Aku tanya tadi, kritiknya sampai gak dari mana dukungan politis terhadap golongan ini? Berapa dana yang masuk dan dari mana danannya yang mengalir ke FPI. Contohnya. Terus, dia seperti biasa, ngeles lagi.h.eh.eh.e. dia bilang, ya, itu sudah ada di alam bawah sadar saja. Bahwa kalau ini pasti ada kepentingan politisnya dan ada dukunganya, jadi bukan agama semata. Bawah sadar? Mang alam pikiran semua orang kayak gitu? Wah2, jawabannya benar2 bikin kepalaku yang lagi pusing tambah pening.h.e.h.he.h.e.eh….terus dia malah cerita bagaimana “heroisme” JIL saat diserang FPI. Dari situ, JIL dikabarin polisi akan diserang FPI dan Ayu menyumpulkan memang ada hubungan antara mereka berdua. Loh..loh…kok malah narsi2an cerita diri sendiri mbak? Terus pertanyaanku tentang samapai mana karya dia mengkritik gerakan2 kekerasan beragama itu tak dijawab dech.

Ayu, dalam menjawab, juga tidak konsisten. Ini terlihat dari cara dia menjawab bantahan temanku tentang klaim dia bahwa sastra mainnya halus, tidak eksplisit. Terus, Ayu jadi bicara bahwa seni itu tidak ada larangannya. Termasuk sastra, jadi bisa saja sastra yang main halus ada, terang2an juga ada..Eh, ini dia mbantah klaim dia sendiri nih si Ayu.
Yang tragis lagi, pertanyaan terakhir temanku bahwa sastra juga berbahaya tidak dijawab..ha..ha.ha.h.a.ha..(ayo kenapa coba?)

Terus, ada penanya lagi yang menarik, dia tanya kenapa sebagian besar sastra yang mengunkap sejarah g30s hanya menjadi anti-thesis (lawan atau kebalikan) dari versi resmi Soeharto yang menuduh PKI sebagai dalangnya? Kita butuh perspektif baru, seperti bahwa rejimnya setelah 65 bukanlah militer, tapi jendral. Bapak aku militer tapi rendahan, sekrang cuman bisa jadi satpam R.S itu udah mending. Teman aku bapaknya nganggur. Perspektif apa yang ditawarkan karya Anda?

Ayu, kali ini tidak menjawab, juga tidak ngeles, jadi cuman mengiakan bahwa kita butuh perspektif baru. Terus gak dia menceritakan peristiwa para tahanan yang akhirnya akrab dengan militer2 rendahan. Ada penulis yang disuruh bikin surat cinta untuk keasih oleh seorang militer. Dia bilang, benar, ini memang rejim jendral. Waduh2..ini ya ndak beda jauh.
Dia ndak menjawab tentang apa yang ditawarkan karya dia.

Diskusi berakhir pukul 09. Jadi hanya sekitar dua jam saja. Waktu segitu relatif sebentar untuk hitungan diskusi buku sastra, apalagi kali ini temanya luas karena Ayu mempersilahkan siapa saja menanyai dia dengan tema bebas. Kenapa begitu cepat? Teman aku ada yang sampai geleng2 kepala, “kok wes bubar?” katanya.

Setelah acara selesai, kami ngobrol2 dan seorang teman lagi (pokoke ndak nyebut merek, cuman teman2..ha..hah.a.) bilang “iki mbake kaya presiden Bemu pas neng kongres mahasiswa, jawabane personal2 dan ndak cerdas. Ndak konsisten dan suka mbulet2.” Terus, aku tanyakan temanku yang menanyakan banyak pertanyaan tadi, “piye pendapatmu?” Kecewa, sudah berkali2 aku dengar tentang dia. Tapi ini benar kongkrit dia di sini. Dan, “mengecewakan”. Seorang teman yang nge-fans sama Ayu Utami, semula berencana ingin foto bersama, lalu dia membatalkan niatnya. Katanya malu, juga ndak bawa kamera. Aku tawarkan temanku yang ada kamera, karena dia kebetulan wartawan dan setelah acara mewawancarai Ayu. Tetap ndak mau juga ambil foto bersama Ayu temanku yang nge-fans ini. Hmmm, apa dia masih ngefans ya ma Ayu setelah diskusi dan mengetahui Ayu suka ngeles (atau memang ndak paham pertanyaan?) juga kata2 temanku yang bilang “kecewa!” ini cukup mendengung-dengun di telinga walaupun dia sudah tahu dia tak bisa berharap banyak dari Ayu, tapi jawaban2nya itu lebih2 bikin dia “kecewa!”..

Akhirnya aku pulang dan terheran2, kok bisa ya penulis menang hadiah Prince Clause Award? Memang aku sudah pernah baca tulisan Katrin Bandel tentang ini, cuman masih heran aja rasanya. Gak nyangka sebegitunnya…

Wah2..Ayu Utami, kau lebih medioker dari yang aku kira sebelumnya……

Sumber: Note Facebook Ian Ahong Guruh dan http://indonesiabuku.com/?p=6299 

Aku ingin mencintaimu dengan tidak sederhana



Aku ingin mencintaimu dengan tidak sederhana
Karena ada perbedaan dunia tempat kita tinggal
Kau di dunia yang gemerlap
Dan aku di dunia yang kiri

Aku ingin mencintaimu dengan tidak sederhana
Karena ada perbedaan kepercayaan di antara kita
yang kuharap tidak memisahkan kita

Aku ingin mencintaimu dengan tidak sederhana
Karena kau dan aku memang beda

Biarlah aku mencintaimu dengan tidak sederhana
Dengan penalaran dan akal budi
Bukan hanya dengan hati
Walau penuh rintangan berliku
Biarlah terang perbedaan kita
Dan terang cara kita untuk berjalan bersama
Tanpa menjadi satu

Perpustakaan Universitas Sanata Dharma, 07 Mei 2010

Catatan Perjuangan Gender Masa Kuliah

Pertama diterbitkan di web April 16, 2010 at 1:51pm


Sekitar dua tahun yang lalu, ada seorang teman perempuan dari UNY mengirim pesan pendek pada saya. Dia menanyakan apakah ada teman saya di Sanata Dharma yang suka dan mendalami teori feminisme? Setelah berpikir sejenak, saya jawab bahwa sejauh saya hanya ada dosen yang mendalaminya dan enak diajak ngobrol, itupun di S2. Teman saya? Tidak ada. Ada memang yang menjadi aktifis feminis dan terjun mendampingi perempuan2 tertindas. Ada lagi yang mengetahui feminisme, tapi hanya sedikit saja, dia lebih asik mendalami aliran teori lain. Para pria? Belum ada juga, yah, rata2 tahu sedikit2 saja. Singkatnya, walaupun banyak teman perempuan saya, baik di pers mahasiswa maupun komunitas2 diskusi, sani, dan sastra yang menyukai teori, belum ada yang khusus mendalami feminisme.

Feminisme? Apakah ini hanya sesedarhanya pembebasan perempuan dari penjajahan pria dalam budaya patriarkis? “intinya ya menuntut kesetaraan gender?” katanya. Namun, saya pikir tidak sesederhana itu. Sebagian besar feminisme memang mengkritik budaya patriarkis, budaya yang dirancang demi keuntungan dan dominasi pria atas perempuan. Namun, ada banyak rincian di dalamnya yang perlu diperdalam dan banyak masalah yang perlu dipecahkan. Sebagian besar feminisme membedakan apa yang disebut kelamin budaya dan kelamin biologis. Namun, apakah semua perempuan di semua budaya memiliki sejarah dan gaya penindasan yang sama sehingga dapat tersusun persaudaraan perempuan di seluruh dunia? Para feminist pasca-kolonialisme menolaknya. Mereka beranggap tidak ada. Ada pengalaman penjajahan yang menjadikan para perempuan negara terjajah menghadapi dua kali penindasan, oleh kolonialisme dan para pria. Lorde, seperti dikutip Minn-Ha, mengatakan “senjata para tuan tidak akan membuka pertahanan tuan itu sendiri”(pg.264 Postcolonial Studies Reader) Maka dari itu Minn-Haa mengajak pembaca untuk tidak memakai senjata teori feminisme Eropa dan Amerika tapi meracik sendiri teori yang sesuai dengan keadaanya. Menggunakan senjata feminis yang salah justru akan melukai sendiri. Contoh kedua, apakah dalam masyarakat modern kapitalistis perempuan lebih bebas? Atau malah semakin terjerat karena menjadi obyek dalam ikon2 iklan industri? Contah lain lagi, jika tubuh adalah hak para perempuan, apakah aborsi diperbolehkan? Hak bayi atau perempuan yang harus didahulukan? Feminisme tentu saja adalah teori yang kompleks dan perlu keseriusan dan ketekunan untuk mempelajarinya.

Setelah dua tahun berlalu, menurut saya keadaan tidak jauh berbeda. Saya belum menemukan satu orangpun yang serius mengkaji teks-teks feminis. Apa gunanya hanya belajar berteori saja? Tentu teori sangatlah penting, perubahan terhadap dunia tidaklah mungkin terjadi tanpa adanya sudut pandang lain dan konsep alternatif tentang dunia yang lebih baik. Memang menjadi aktifis adalah perjuangan, namun menjadi teoritikus jugalah perjuangan. Dua tahun? Dan keadaan sama sekali belum berubah.

Apakah penindasan yang dialami teman2 perempuan saya tidak cukup pedih sehingga tidak menjadi motor bagi mereka untuk belajar feminisme? Saya pikir sangatlah pedih, terutama di Yogyakarta tempat feodalisme kraton masih menyisakan budayanya kuat di masyarkat. Kos-kosan untuk teman2 perempuan banyak yang tutup jam sembilan Malam. Alhasil, kebebasan untuk mengatur diri mereka sendiri tidak ada pada mereka. Sedangkan kos laki-laki hampir tidak ada yang memiliki jam malam. Anda bisa berdalih telah memilih kos yang ini karena inilah yang terbaik. Namun, saya pikir Anda sangatlah layak mendapatkan kebebasan lebih dan mengatur hidup Anda sendiri. Industri menerapkan standard ketat bahwa perempuan cantik haruslah berambut lurus, berkulit putih dan halus, serta bertubuh langsing. Akibatnya, banyak pria juga termakan standard tersebut. Naasnya, perempuan2 dengan senang hati merelakan dirinya sengsara untuk kepuasan sang pria. Dia harus banyak berkorban untuk memnuhi standard2 industri tersebut perihal kecantikan. Perempuan memiliki intimidasi sosial yang lebih kuat daripada yang ditimpakan pada laki-laki.

Masih terheran-heran benak saya melihat hampir belum ada teman yang dengan gigih menguak penjajahan patriarkis. Memang sejak kecil budaya membangun bahwa perempuan yang baik adalah mereka yang pasif, tidak agresif, menerima, pasrahan, lemah, dan manja. Sedangkan pria yang baik adalah mereka yang aktif, agresif, berinisiatif, memberi, kuat, dan selalu melindungi. Sejak kecil para perempuan dipaksa menerima kelamin sosial tersebut sebagi hasrat alamiah dan kodrati sehingga mereka harus rela berada di bawah pria. Namun, setalah mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, dan terutama wacana yang didapat dari buku2, saya masih merasa wacana2 feminsi belumlah berekembang di antara mereka. Bukankah setelah menyadari bangunan sosial yang menindas itu, justru mereka sangatlah berkesempatan merubah. Namun, di mana para feminis yang cukup serius? Apakah mental mereka telah terbentuk dan tidak gampang merubahnya? Bukankah ini justru tantangan yang seharusnya dijawab. Perempuan paling serius mengkaji feminis yang saya temui, seorang anak UNY, bahkan tidak mau menyebut dirinya feminis. “terlalu berat” katanya.

Tulisan ini sekedar mempertanyakan ke mana para feminis? Memang feminist tidak harus perempuan karena ini merupakan posisi politis yang menolak patriarkis. Namun, saya berpendapat bahwa seharusnya perempuan, sebagai kaum yang tertindas, adalah garda depan kebangkitan melawan dominasi pria.

Membayangkan Kekuasaan : Internet, Kekuasaan, dan Kemenangan Kecil yang Disengaja

Protes WTO di Seattle


Sudah biasa diketahui bahwa kekuasaan saat ini sangat kuat. Pembaca yang budiman sudah tahu ini tanpa saya perlu tulis lebih lanjut. Namun, saya tetap menulis ini guna membayangkan secara maksimal seberapa kuat kuasa ini agar kita tidak termakan mitos-mitos, yang nanti akan saya bahas lebih lanjut.
Pengertian kekuasaan adalah upaya pemaksaan atau mengendalikan. Seperti kita berkuasa atas kendaraan kita, kita dapat mengendalikan kendaraan kita dengan gampangnya. Namun, kata kekuasaan dalam esai ini akan lebih mengacu pada kekuasaan golongan elit atas manusia kebanyakan, termasuk pembaca sendiri dan saya. Elit di suatu negara, katakanlah Amerika, menguasai elit di negara lain yang secara kekuasaan politik menjadi jajahan mereka, seperti elit Indonesia tercinta dikuasai elit Amerika. Dan elit Indonesia menjajah rakyatnya. Jadi SBY cuman boneka dari boneka-nya boneka. Dan kekuasaan tertinggi mungkin dipegan sekelompok orang, bukan satu dua orang, sehingga dapat berjalan lebih efektif. Saya pikir kekuasaan mereka lebih kuat daripada yang dibayangkan, termasuk yang saya coba bayangkan sekarang.

Kekuasaan dan Peluncuran Internet

Mari kita lihat kasus internet. Dahulu internet pertama digunakan militer Amerika. Susah dibayangkan waktu itu, bahwa satu komputer bisa terhubung dengan komputer lain tanpa menggunakan kabel. Dan jejaringnya dapat sebegitu luasnya! Perlu diingat bahwa militer adalah alat kekuasaan yang dibenarkan memakai kekerasan untuk membuat orang yang dikuasai tunduk. Suatu ketika, militer meluncurkan internet untuk masyarakat umum. Internet, sebagai alat melaksanakan kekuasaan, adalah senjata untuk bekerja lebih efektif dan kenapa dilepas ke masyarakat umum? Masayarakat umum notabene adalah golongan yang dikuasai oleh mereka? Pikrian saya membayangkan mereka bukanlah orang2 bodoh yang melepaskan senjatanya pada orang2 yang dikuasai agar yang dikuasai dapat melawan.
Dengan kata lain, mereka saya yakin, saat meluncurkan internet untuk masyarakat umum telah menciptakan senjata yang lebih ampuh dari internet, yang jelas tidak akan diluncurkan untuk umum hingga mereka telah menemukan senjata yang lebih mutakhir lagi. Tentu membayangkan ini sama mustahilnya dengan mereka yang dulu coba membayangkan internet.

Nyatanya, coba kita ketik di youtube.com, kata “facebook” dan “CIA.” Akan muncul beberapa video yang menceritakan bagaimana facebook sengaja dibentuk CIA untuk mengawasi warga negara. Hasilnya, setiap yang tertulis di FB dapat diterjemahkan dan digunakan untuk kepentingan negara (kata yang memperhalus kepentingan penguasa). CIA dapat mengawasi berapa persen yang memiliki pandangan politik ini dan itu tanpa repot2..wah..wah..benar2 efektif ni.

Perlawanan, Kemenangan, dan Kesengajaan
Seorang teman pemikir mengatakan, kekuasaan agar lebih efektif berjalan adalah dengan mencaplok perlawanan-perlawanan terhadap kekuasaan itu. Cara lainya adalah membagi-bagi kekuasaan, sehingga orang2 merasa mereka turut memiliki kekuasaan (menjadi subyek kekuasaan). Yah, memang berkuasa, tapi sedikit saja. Seemprit agar terlena pada kekuasaan yang lebih lagi, lebih ganas, lebih besar, dan lebih sadis! Kekuasaan semu seperti inilah yang menurut saya ada pada yang memberontak. Niat memberontak memang memberontak, tapi caranya telah dibelotkan oleh kekuasaan. Caranya?
Kembali ke kasus internet lagi. Setelah diluncurkan, internet dianggap sebagai kesalahan dan kekalahan kaum penguasa. “Kesalahan” karena media internet sangat anarkistis, tidak dapat disensor, murah dan egaliter. Anarkistis dan tidak dapat disensor mengakibatkan segala informasi dapat dimasukan dan diunduh siapa saja. Informasi-informasi yang dianggap subversif atau memberontak-pun dapat masuk tanpa disensor. Murah karena tanpa biaya cetak sehingga yang tak punya duit untuk menyampaikan idenyapun dapat menyampaikanya. Egaliter atau setara karena setiap orang, baik amatir atau profesional atau siapapun juga, dapat membaca dan menaruh di internet tanpa ada diskriminasi.
Menurut yang memendaku ini adalah “kesalahan” penguasa mereka memberi contoh kasus reformasi 1998 di Indonesia dan Seattle di Amrik. Salah satu penyebab penting keberhasilan gerakan mahasiswa di tahun 1998 adalah internet. Maklum, informasi mayoritas dikendalikan (a)Soe Harto. Di Seattle salah satu kota di Amrik, pernah ada konferensi WTO tahun 1999. Aktifis2 berkumpul dan menggagalkan penundaan agenda WTO karena dianggap hanya menguntungkan penguasa dan bukan rakyat. Demikianlah contoh “keberhasilan” internet.

Sayangnya, apakah setelah peristiwa di atas kekuasaan semakin melemah? Tidak, saya pikir justru sebaliknya. Di Indonesia, rontoknya Soeharto justru menjadikan kekuasaan berjalan semakin efektif saja menindas (kecuali jaman Gus Dur mungkin). Ekspresi kekuasaan gaya Soeharto yang menindas dengan represi dan terlalu menumpuk pada satu sosok telah berganit. Rezim SBY dan demokratnya tidak lagi menggunakan represi untuk menindas, tapi telah beralih ke manipulasi, termasuk salah satunya media dan pembentukan peraturan perundang-undangan. Akibatnya, kekuasaan semakin elegan dan kokoh saja. Lalu Seattle, mereka hanya menunda itu konferensi WTO.

Saya membayangkan skenarion penguasa lewat internet sebagai berikut. Mereka mengerti ada gejolak, energi, dan hasrat kebencian terhadap kekuasaan mereka, termasuk sistem2nya dan kemiskinan sebagai akibatnya. Jadi, penguasa melepas internet agar gejolak, energi, dan hasrat tersebut seolah-olah semakin terfasilitasi. Ruang “melawan” kekuasaan semakin luas. Saya membayangkan yang terjadi, lagi2, adalah sebaliknya. Alih2 melawan, gejolak, energi, dan hasrat melawan kekuasaan telah diantisipasi dan dicaplok kekuasaan itu sendiri. Yang berkuasa membiarkan saja mereka berkoar-koar di internet dan saya membayangkan ada agen-agen khusus yang mengawasi mereka di dunia maya. Jika polisi cyber saja ada, kenapa agen intelijen cyber yang mendukung penguasa tidak mungkin ada? Singkatnya, internet telah menyalurkan gejolak, energi dan hasrat pemberontakan mereka. Agar para pemberontak terus berharap, diberilah keberhasilan-keberhasilan2 kecil seperti reformasi 1998 dan Seattle 1999. Dengan demikian, pemberontak merasa tidak sia2. Pemberontak telah diberi kekuasaan sedikit dan menjadi subyek kecil kekuasaan. Akibatnya energi mereka tersalurkan, tapi toh tetap dalam ranah aman, dalam artian tidak mengganggu kekuasaan.Saya membayangkan mereka, para penguasa, paling tidak telah selangkah lebih maju daripada pemberontaknya. Kalau kata teman saya di angkringan, perlawanan pemberontak diberi saluran, bukanya direpresi, tapi tetap saja sia2. Kata mas Puthut, segala yang ada di internet bahkan bisa diakses di Pentagon. Bayangkan jenderal yang sedang asiknya minum kopi lalu mengamati gerakan-gerakan anti-kekuasaan sambil tersenyum kecil dan begumam, “hah, kalian ini, baru diciprati kekuasaan segitu saja merasa bisa mengalahkan kami. Ndak tahu siapa kami ya?ha..ha..”.

Yang saya tulis, bahas, dan bayangkan ada pada ranah internet. Namun, pikiran saya tidak dapat mencegah saya untuk membayangkan kekuasaan bekerja dengan pola yang sama di berbagai bidang. Ambil contoh kasus gerakan Zapatista di Mexico. Mereka berhasil menyatukan penduduk asli setempat dan dengan senjata menguasai tanah di Chiavas. Merekapun dapat hidup tanpa kekuasaan sang penguasa yang besar, seperti Amerika dan kapitalis Mexico pada khususnya. Hampir semua gerakan anti-kapitalis bertempik ria saat mereka menang dan mendapat “seciprit” kekuasaan. Maka dari itu, gerakan anti-kapitalis mendapatkan harapanya kembali setelah keruntuhan komunisme Soviet yang anti-kapitalis. Kapitalisme di sini adalah penguasa yang saya maksud. Akibatnya, perlawanan-perlawanan terhadap penguasa tetap tersalurkan. Saya membayangkan ini memang mereka atur karena dengan represi, mungkin saja akan mengancam kekuasaan mereka suatu ketika jika energi tersebut meledak. Toh mereka tahu, para pemberontak tidak dapat mendapatkan kemengangan besar, apalagi revolusi klasik.

Jadi, perubahan2 dan kemenangan2 kecil adalah segala yang bisa didapatkan pemberontak kekuasaan hingga saat ini. Dan perlu dicatat, bahwa kekuasaan tahu dan membiarkan dengan sengaja kemenangan2 tersebut. Mungkin juga Kuba, Venezuela, Iran, dan Bolivia sedang dibiarkan sedikit berkuasa. Besok mungkin cerita lain lagi. Bagaimanapun bayangan saya tentang kekuasaan, tidak ada alasan untuk menjadi pesimis. Saya tidak suka, walaupun saya tidak kuasa mencegah, pembaca menjadi pesimis setelah membaca tulisan ini. Memang hanya mungkin kemenangan2 kecil, tapi jika memang hanya sejauh itu yang bisa didapat, kenapa tidak direbut dan kita nikmati? Semaksimal mungkin untuk saat ini adalah yang terbaik dari yang terburuk. Mari kita pikirkan cara berikutnya dengan lebih elegan, jeli, dan kritis jika memang hendak melawan kekuasaan.

Sartre, Kebebasan, dan Modernitas




Kebasan merupakan sesuatu yang sering diperjuangkan dalam berbagai pergerkan. Namun, Jean-Paul Sartre, seorang filsuf prancsi, memiliki semoboyan yang terkenal bahwa “kita dihukum untuk bebas.” Kebebasan adalah kondisi tak terelakan. Manusia harus memilih dalam masa depan yang tidak pasti dan mengambil akibatnya.

Kehidupan dan Karya Sebagai Pengewajantahan Filsafat

Jean-Paul Sartre, yang ulang tahun ke 104 jatuh pada 21 juni, merupakan seorang filsuf yang patut dikenang atas sumbangsihnya pada umat manusia dalam mengingatkan kehadiran kebebasan manusia. Sartre adalah produk dari pengalaman perang dan suasana moralitas pasca-perang. Namun, pengalaman pasca-perang yang penuh kehancuran, traumatis, belenggu, dan kesedihan, diolah menjadi sebuah filsafat eksistensialisme yang justru penuh nuansa kebebasan dan penciptaan makna.

Sartre membawa filsafat eksistensialisme menjadi populer pasca Perang Dunia II. Being and Nothingness, mahakaryanya, menguraikan manusia secara ontologis lewat metode fenomenologi. Buku ini adalah penjelasan eksistensialisme atas fenomena manusia. Dalam karya inilah dia merumuskan kebebasan manusia dan harga yang harus dibayar atas kebebasan mutlak tersebut. Untuk menjadikan gagasan-gagasanya populer, Sartre menulis karya sastra yang lelakonya membahasakan filsafat dalam bahasa keseharian. Pintu Tertutup, Kemuakan, dan Lalat-lalat adalah karya-karya sastranya yang banyak dibaca khalayak.

Sartre membela pejuang-pejuang kemerdekaan Aljazair dan kelas pekerja. Alhasil, apartemen sartre dua kali dibom sebagai usaha membunuhnya. Saat masyarkat tengah mengalami kebingungan nilai pasca PD II, Sartre menjadi inspirasi dan kompas bagi masyarakatnya. Bukti kepopuleranya yang paling nyata adalah 10.000 orang yang berdesakan di jalanan Paris saat kematian Sartre 15 April 1980. Dalam jagad pemikiran Indonesia, Sartre banyak mempengaruhi intelektual pasca kemerdekaan seperti Fuad Hassan, Driyakara, dan Sitor Situmorang.

Sartre telah menjadi seorang filsuf yang sungguh-sungguh mengejawantahkan pemikiranya. Dia bahkan memilih untuk menolak Nobel Sastra pada 1964 dengan alasan bahwa penulis harus bebas dan tidak terinstitusikan. Dalam sejarah pemberian Nobel sastra, dialah satu-satunya yang menolak pemberian kehormatan itu dengan pilihan. Boris Pasternak pada 1958 memang pernah menolak Nobel sastra, namun atas tekanan pemerintah Soviet. Dalam New York Times 23 Oktober 1964, diberitakan bahwa panitia Nobel telah menerima surat keengganan Sartre atas hadiah nobel dua hari sebelum diumumkan. Namun, panitia Nobel tetap menganggap hanya Sartre yang pantas menerima nobel tersebut karena “kekayaan ide yang berpengaruh besar di zaman kita, terutama lewat semangat kebebasan dan pencarian kebenaran. “Alhasil, Nobel kesusastraan tahun 1964 tak diberikan pada siapa-siapa.

Kebebasan dan Hukuman Kebebasan

Kebebasan sering diartikan sebagai keberhasilan mendapatkan apa yang diinginkan. Sebagai contoh, orang yang tanganya terikat dikatakan tidak bebas karena dia tidak bisa berhasil melakukan keinginanya untuk menggerakan tangan. Namun, dia tetap bebas untuk berpikir apapun juga. Dia tetap bebas untuk memilih mengedipkan matanya atau tidak. Bagi Sartre, kebebasan adalah tak terhindarkan. Manusia tidak bisa tidak bebas. Dalam setiap saat hidupnya, dia memilih. Manusia mau tak mau memilih apa yang dia pikirkan, lakukan, dan rencanakan. Bahkan apa yang dalam Heidegger disebut keterlemparan kita di dunia, bahwa kita lahir dalam suatu budaya dan ruang serta waktu tanpa kehendak kita, bagi Sartre merupakan suatu pilihan. Bukankah kita tidak memilih terlahir di dunia? Sartre berpendapat bahwa dalam hal yang tampaknya kodrati itupun, kita tetap bebas memilih. Karena kita dapat saja memilih mati, bunuh diri, jika kita tidak ingin hidup. Bahwa kita melanjutkan hidup adalah suatu bukti bahwa kita terus memilih hidup dari pada mati.

Bagaimana manusia memiliki kebebasan ini? Sartre menjelaskan filsafatnya melalui pendekatan fenomenologis Husserl. Pendekatan ini mencoba melihat obyek apa adanya seperti tercerap oleh indera dan dengan cara tersebut membiarkan obyek menampakan diirnya sendiri apa adanya.

Dunia adalah kepenuhan ada. Dalam dunia, segala sesuatu tidak kurang dan tidak lebih ada tanpa kekurangan apapun juga. Dunia sudah penuh dalam dirinya sendiri. Dunia pada dirinya sendiri adalah ruang padat dan mampat. Jenis mengada seperti ini disebut Sartre sebagai berada-dalam-dirinya-sendiri. Sedangkan struktur kesadaran manusia terdiri dari ada dan ketiadaan. Karena adanya ketiadaan ini, manusia dapat menghadirkan ketiadaan bagi dunia. Uang di kantongku tidak ada karena aku membandingkan dengan adanya uang. Ketiadaan uang di kantong hanya mungkin hadir ke dunia karena adanya ketiadaan dalam kesadaraan. Ruang mampat dan padat dari dunia menjadi bolong dan berlubang karena kemampuan kesadaran manusia untuk menidaka (negatiti). Dalam celah-celah inilah kebebasan manusia terletak. Struktur kesadaran manusia ini disebut Sartre sebagai ada-untuk-dirinya-sendiri.

Karena ketiadaan yang menghasilkan kebebasan, seperti disebut di atas, timbulah hasrat untuk memenuhi ketiadaanya agar manusia menjadi makhluk yang penuh. Hasrat ada mendampingi adanya kebebasan. Namun, manusia hanya dapat menjadi penuh dengan menghilangkan kemanusiaanya, yaitu saat dia meninggal dunia. Dengan kata lain, hidup manusia selalu dipenuhi hasrat tanpa dapat terpuaskan. Dari sinilah disimpulkan bahwa manusia adalah hasrat yang sia-sia.

Eksistensi manusia, yang membedakanya dari eksistensi-eksistensi lainya, adalah kebebasan. Jika kebebasan ini adalah eksistensi manusia, lalu apa tujuan dan makna hakiki kebebasan manusia? Pertanyaan tersebut sama dengan mempertanyakan apa makna eksistensi manusia. Bagi Sartre, makna atau tujuan hakiki eksistensi adalah absurd, tidak beralasan. Karena hidup ini tanpa makna hakiki, maka manusia dapat mengisinya dengan makna hidup yang dia pilih. Dengan kata lain, dalam pilihan-pilihan yang dilakukan, manusia menentukan maknanya. Dalam kalimat sartre yang mahsyur dan menjadi diktum dasar eksistensialisme, hal ini dirumuskan sebagai eksistensi mendahului esensi. Manusia ada terlebih dahulu bersama kebebasanya, setelah itu dia menciptakan esensi atau makna hidupnya. Manusia adalah makhluk yang menjadi.

Kebebasan yang tak bertujuan hakiki seperti di atas tidak memiliki landasan dan makna, membuat manusia tidak memiliki kebenaran selain pembenaran yang dipilihnya. Kebebasan tidak berfondasi selain kebebasan itu sendiri. Pembenaran apapun yang ada hanyalah konstruksi pilihan manusia tersebut. Akan tetapi, kebebasan manusia selalu mengharuskanya memilih, baik disadari atau tidak. Tidak memilih merupakah suatu pilihan untuk tidak memilih. Setiap pilihan yang diambil selalu tidak pernah disertai kepastian, akan tetapi tanggung jawabnya sangat besar. Tanggung jawab dalam hal ini adalah menerima akibat dari pilihan yang telah diambilnya. Karena pilihan tersebut disebabkan oleh sang individu, maka dia tidak dapat menyalahkan pihak atau penyebab lain selain dirinya sendiri atas akibat pilihanya. Keharusan memilih dalam ketiadaan kebenaran selain yang dibuatnya mengakibatkan munculnya kecemasan dalam hidup manusia.

Manusia dihukum untuk bebas berarti manusia ada bersamaan dengan kecemasaanya. Kecemasan selalu ada dan menjadi sifat manusiawai yang tidak dapat dihilangkan. Kecemasan tak terelakan selama manusia masih hidup.

Kebebasan dalam Modernitas

Tapi tak dapat dipungkiri bahwa kecemasan sering tidak terasa karena rutinitas manusia yang begitu pasti. Seperti seorang karyawan yang setiap pagi bangun untuk bekerja, sudah merasa bahwa bekerja adalah suatu keharusan, bukan suatu pilihan. Bahwa dia dapat memilih untuk tetap tidur dan tidak bekerja merupakan pilihan yang telah terlupakan. Dengan seperti ini, kebebasan menjadi sesuatu yang seakan-akan tiada.

Modernitas, lewat budaya populer memiliki kecenderungan menyamakan manusia menjadi sekumpulan massa. Selera seluruh orang dipaksa untuk menjadi sama. Iklan memborbadir individu-individu dan membentuknya memilih satu pilihan, yaitu produk itu. Selain itu, media massa mencoba dengan halus menyamakan persepsi orang atas suatu peristiwa. Sebagai contoh, peristiwa serangan WTC diberitakan sebagai serangan muslim atas peradaban barat. Dengan itu, masyarkat barat digiring untuk membenci islam.

Bernard-Henry Levy, seorang filsuf Prancis, merumuskan filsafat Sartre sebagai filsafat “tidak.” Anda selalu dapat memilih untuk berkata, berpikir, atau bertindak “tidak” seperti keadaan saat ini. Anda selalu dapat berubah. Kemampuan untuk berkata “tidak” telah tersingkir dalam dunia modern.

Kebebasan memberi celah pada perubahan. Bahwa manusia adalah makhluk yang menjadi dan dia selalu dapat mengatakan “tidak” memberi kesempatan untuk pembaruan yang tiada henti. Selain itu, manusia dapat saja berkata “tidak” pada arus kehidupan mayoritas yang dipenuhi oleh budaya konsumtif. Manusia selalu mungkin memilih hidup hemat, tidak menjadi korban iklan. Pilihan untuk tidak terbawa arus pikiran yang ditawarkan arus besar juga selalu tersedia. Orang dapat mengkritisi logika berpikir suatu berita dan bukan hanya terbawa pada kesimpulan yang ditawarkan. Selain itu, kemungkinan mencari sumber berita alternatif juga tersedia. Pilihan untuk berbeda selalu terbuka. Hal-hal tersebut hanya mungkin dilakukan saat manusia sadar bahwa dia bebas, dan selalu dapat mengatakan “tidak”.

Melupakan kebebasan mengakibatkan masyarakat menjadi macet.Situasi masyarakat modern telah menjadikan manusia lupa akan sisi kemanusiaanya. Bahwa manusia bebas mencipta dan menjadi. Individu cair dalam kerumunan dan kehilangan keunikanya. Modernitas mempastikan manusia dalam hakikatnya yang tidak pasti, selalu berubah, dan unik.