NEGARA SOSIALIS (1)
ditulis oleh
Djoko Sri Moeljono.
Djoko Sri Moeljono, 73, was also among the hundreds of thousands of
artists, academics and trade unionists jailed at that time as
“leftists.” After his arrest in 1965, for being a trade union member and
graduate of a Sukarno-supported metallurgy program in the Soviet Union,
he spent six years in forced labor. He was then exiled to a remote
island until 1978 http://www.nytimes.com/2012/01/19/world/asia/veil-of-silence-lifted-in-indonesia.html?pagewanted=all&_r=0
Apabila 60 tahun lalu hubungan diplomatik antara Indonesia dan Uni
Soviet tidak dijalin,maka penulis bersama ratusan mahasiswa Indonesia
lainnya tidak bisa menikmati kesempatan menimba ilmu di negara yang
dikenal sebagai negara pertama didunia yg berlandaskan pada ajaran
sosialisme/komunisme dan layak disebut sebagai negara sosialis pertama
dibunia.
Penulis yakin bahwa diantara sekian ratus juta penduduk Indonesia
saat ini, tidak lebih dari 10,000 orang yang pernah benar-benar
merasakan hidup di sebuah negara sosialis. Sebelum kami mengalaminya
sendiri,memang banyak pertanyaan yang terlintas dalam benak banyak orang
: apa itu negara sosialis? Jawabannya kami temukan setelah kami sendiri
menjalani, mengalami, menyelami kehidupan di sebuah negara sosialis.
Kami merupakan saksi-saksi hidup tentang apa itu yang disebut negara
sosialis, dalam kehidupan nyata dan bukan penjelasan teori dalam
buku-buku ilmiah.
Penulis berangkat sebagai anak muda yang sudah menempuh kuliah di ITB
Jurusan Pertambangan dan pernah mengalami masa-masa transisi pergantian
pengajar dari berkebangsaan Belanda kemudian digantikan pengajar asal
Amerika Serikat setelah para pengajar berkebangsaan Belanda diusir dari
Indonesia dalam rangka merebut Irian Barat kembali kepangkuan ibu
pertiwi.
Penulis mengalami masa-masa kuliah dengan dosen Belanda dan kemudian
diganti dosen Amerika dengan sistem ujian yang sama sekali berbeda.
Kami yang sebelum berangkat masih bermental asli Indonesia yang tidak
mengenal disiplin ketat, begitu terjun dalam masyarakat Rusia mengalami
goncangan budaya kecil-kecilan. Kalau tidak ingin dibilang “ne
kulturnii” (tidak tahu sopan santun), anda harus mau antri berdiri saat
beli apa saja di toko. Saat baru menjejakkan kaki di Uni Soviet memang
sempat kaget dan heran : kok di Uni Soviet orang antri roti? Mereka
teratur antri bukan untuk mendapatkan roti, tetapi antri karena watak
disiplin
Sebelum berangkat penulis masih ikut antri gula dan memang kondisi
ekonomi Indonesia sedang sulit, sehingga begitu tiba di Uni Soviet kami
melihat perbedaan yang begitu mencolok antara kehidupan di tanah-air
yang baru kami tinggalkan dibanding dengan kehidupan di Uni Soviet yang
tampak begitu tertata. Dan masalah pangan tidak jadi persoalan, memang
bukan untuk membandingkan dengan kondisi Indonesia dimana penulis masih
harus antri bahan pokok sebelum berangkat. Kondisi Indonesia yang serba
kesulitan bahan makanan pokok ini ini masih sangat dalam meninggalkan
kesan dalam benak..
Bulan-bulan pertama sebagai mahasiswa di asrama, kami masih bisa
makan roti sepuasnya tanpa bayar. Tetapi memasuki tahun 1961, saat Rusia
gagal panen gandum, maka: makan roti di Stolowaya harus bayar walaupun
murah dan sangat terjangkau..Penulis tidak tahu pasti apakah roti gratis
ini hanya berlaku di Stolowaya kampus? Atau juga di Stolowaya
sekolah-sekolah dan juga di pabrik-pabrik untuk buruh? Kelebihan sistem
sosialis yang kami rasakan dalam kehidupan mahasiswa: adalah kenyataan
bahwa pendidikan dan perawatan kesehatan dijamin pemerintah secara
cuma-cuma. Dan kami para mahasiswa asing ikut menikmati sisi-sisi
positif dari pendidikan
cuma-cuma yang diselenggarakan negara. Mahasiswa tuan rumah adalah
mahasiswa ikatan dinas seluruhnya, mereka menerima tunjangan dari negara
walaupun tidak besar tetapi cukup untuk hidup layak dan disediakan
asrama bagi mahasiswa dari luar kota..
Apa yang penulis coba paparkan dalam tulisan singkat dibawah ini
merupakan pengalaman hidup sebenarnya,bukan cerita rekaan dan tidak
terlupakan. Apa yang penulis alami di Uni Soviet mungkin tidak jauh
berbeda dari pengalaman mereka yang pernah menimba ilmu di negara-negara
Blok Timur lainnya, terutama yang belajar di Eropa Timur atau yang
lebih dikenal dengan sebutan negara-negara Pakta Warsawa, sebagai
tandingan Blok NATO sebelum runtuhnya Tembok Berlin di penghujung tahun
1980-han dan ambruknya Uni Soviet. Bagaimanapun, mereka-mereka yang
pernah menimba ilmu di Uni Soviet di era 1960-an merupakan saksi-saksi
hidup tentang tegaknya negara-negara sosialis yang dipelopori oleh Uni
Soviet sebagai negara sosialis pertama didunia.
Tulisan singkat dibawah ini merupakan kesan dan pengalaman pribadi, yang mungkin berbeda dari pengalaman orang lain.
Sebagai mahasiswa muda kami meninggalkan tanah air yng pada tahun
1960 disaat ketegangan politik internasional baru saja mereda setelah
tetembaknya pesawat mata-mata U-2 Amerika di wilayah Uni Soviet. Kami
ditugasi belajar di negara yang disebut Uni Republik Sosialis Soviet
atau disingkat Uni Soviet, sebagai bagian dari kerjasama dibidang
kebudayaan.
Awal-awal kehidupan di Uni Soviet, bagi penulis pribadi, memang
terkesan hebat danmenjanjikan dimata rakyat Rusia. Tidak ada orang antri
roti karena barangnya langka, pembangunan berjalan siang malam tanpa
henti dan ini bisa disaksikan lewat jendela kamar asrama setiap hari.
Bagi penulis saat itu,orang bekerja siang malam merupakan hal baru yng
belum pernah penulis saksikan di tanah air (mungkin juga sudah pernah
terjadi di daerah terpencil seperti jatiluhur atau proyek Sigura-gura di
Sumatera Utara tapi bukan ditengah kota seperti di Moskwa).
Penulis setiap hari bisa melihat lewat jendela bagaimana pembangunan
kwartira (apartemen) tumbuh begitu cepat dari minggu ke minggu) walaupun
dengan mutu bangunan yang dibawah standar Eropa dan ini bisa dilihat
setelah penulis berkunjung ke beberapa negara Eropa Barat: Jerman,
Italia dan Perancis)/ Sasaran pemerintah bisa diduga agar bisa dengan
cepat memenuhi kebutuhan perumahan masyarakat dan masalah mutu sementara
di nomor duakan.
Kesan lain yang sangat terasa dalam kehidupan sehari-hari adalah
stabilnya harga karena semua diatur pemeritah,tidak ada inflasi atau
gejolak ekonomi yang disebabkanoleh faktor spekulasi pelaku pasar
(menurut kacamata Barat ekonomi semacam ini sifatnya statis,tidak
berkembang karena tidak ada persaingan dan stagnan, serta semua-nya
dikendalikan secara terpusat oleh negara dan tidak memungkinkan
persaingan).
Penulis selama empat tahun bermukim di Moskwa,sepanjang ingatan yang
bisa dirunut kembali, rasanya tidak pernah membaca berita tentang
kenaikan harga . Hal lain yang penuis kagumi adalah rasa aman dari
gangguan kriminal, kemanapun kita pergi di malam hari, tidak pernah
merasa takut dirampok atau diganggu dengan macam-macam ulah yang
mengganggu. Gangguan yang agak mengusik adalah masalah orang-orang mabok
yang berkeliaran di hari-hari pembayaran gaji atau menjelang hari
libur. Wodka sudah membudaya dan berakar dalam kehidupan rakyat Rusia.
Dikenal pemeo “Rusia tanpa wodka, bukan Rusia”
Aturan hukum mungkin begitu ketat sehingga membuat orang Rusia sangat
menahandiri dalam pertengkaran agar tidak sampai berkelahi dan kami
tahu benar hal ini, serta memanfaatkan sebaik mungkin. Kalau bertengkar
dengan orang Rusia, bagaimanapun sengitnya pertengkaran kami yakin bahwa
mereka tidak akan memukul. Banyak sisi-sisi yang membuat penulis
kagum,tetapi harus diakui bahwa tidak sedikit pula sisi-sisi yang
menjengkelkan dan menjemukan,bahkan kadang memuakkan.
Kalau semasa di Indonesia bisa bebas mendengarfkan radio mana
saja,terutama men dengarkan siaran VOA (Voice of America) dengan Jazz
Session-nya, di Moskwa mendadak radio yang kami miliki jadi bungkam dan
hanya bisa menerima siaram Goworit Moskwa. Benar-benar menyebalkan!
Punya radio bagus bagi kami sia-sia karena disetiap kamar asrama ada
radio umum, seperti pernah kami alami di masa pendudukan Jepang. Radio
di kamar asrama ditempelkan didinding semacam jam dan hanya
memiki satu tombol: untuk menghidupkan dan mematikan, tidak ada tombol
lain. Dan isisiaran yang dipancarkan hanya satu: siaran pemerintah dan
sesekali hiburan. Bagaimanapun juga ada manfaatnya bagi kami di musim
dingin mengingat-ingat ramalan cuaca untuk esok hari, sehingga kami bisa
siap dengan pakaian sesuai suhu besok. Tidak jarang radio umum ini
hidup sepanjang hari dari saat kami bangun pagi sampai malam hari saat
pergi tidur. Tak seorangpun penghuni kamar punya perhatian untuk
mematikannya.
Di Uni Soviet tidak dikenal kehidupan malam dan semua kegiatan
berhenti pada jam 23.00 malam. Trem, bus, Metro – semua berhenti
berdenyut dan kota Moskwa seolah menjadi kota mati dan gelap dan hanya
ada lampu penerangan jalan umum serta sedikit sekali lampu reklame
berwarna-warni. Pertunjukan film, ballet atau teater juga berhenti
sebelum jam 23.00 karena tidak ada lagi transport umum yang bekerja.
Satu-satunya pilihan tinggal taksi dan itupun tidak banyak.
Uni Soviet tidak mengenal buku telepon dan peta kota yang baik,
sehingga bagi warga asing akan sulit menemukan alamat atau nomor telepon
yang diperlukan. Anda harus membuat sendiri catatan nomor-nomor telepon
yang diperlukan. Tetapi di kota Moskwa banyak bertebaran kios
Informasi, dimana anda bisa menanykan apa saja dari alamat dan nomor
telepon yang anda perlukan. Semua hal yang remeh dalam benak kami,
sepertinya menjadi sesuatu yang harus dirahasiakan di Rusia.
Rakyat Rusia sangat bangga dengan negara dan Tentara Merah-nya bila
berceloteh mengenai Perang Dunia ke-II yang dalam bahasa Rusia disebut
Patrioticeskaya Woiina atau Perang Patriotik. Harus diakui bahwa Soviet
Uni sangat menderita dengan jutaan orang tewas sebagai korban
perang,tetapi mereka bangga bahwa Tentara Merahadalah pasukan pertama
yang berhasil menaklukkan tentara Nazi Hitler. Pantas kalau mereka
bangga dan merasa diri besar, kadang berlebihan dan menganggap bangsa
lain lebih rendah. Ini adalah hasil propaganda pemerintah yang
benar-benar merasuk dalam kalbu warga negaranya dan bersifat massif.
Perlu juga diingat bahwa disaat tegang-tegangnya Perang Dingin
berkonfrontasi dengan Blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat,
pemerintah Rusia sangat aktif berusaha merebut pengaruh di Asia-Afrika
dan Amerika Latin sehingga berdampak positif pada mahasiswa-mahasiswa
Indonesia. Untuk menarik perhatian kami, pemerintah Rusia tidak
segan-segan memomulerkan lagu “Rayuan Pulau Kelapa” sebagai semacam lagu
wajib disekolah-sekolah dan kemananpun kami pergi berkunjung,tidak
jarang disambut dengan paduan suara mengalunkan lagu wajib tsb. Nama
Soekarno juga sangat diken al secara luas, se
hingga rakyat kecil dipinggir jalanpun tahu bahwa Indonesia = Soekarno.
Rakyat Rusia lewat propaganda pemerintah yang begitu deras mengalir,
membuat mereka bangga dengan capaian teknologi seperti Sputnik pertama,
manusia pertama terbang keluar angkasa jadi pahlawan nasional Yurii
Gagarin, wanita pertama jadi astronot Teresykova dsb. Belum lagi
ditambah dengan keberhasilan Uni Soviet dibidangmiliter dengan
pesawat-pesawat tempur canggih, tank dan kapal selamnya. Semua ini tentu
menelan beaya sangat besar sehingga harus mengorbankan keperluan rakyat
banyak dibidang kesejahteraan.
Dimata rakyat, Uni Soviet harus jadi negara adidaya, negara besar
yang ditakuti dunia dan harus diakui, pemerintah Rusia berhasil
membangun impian di benak rakyatnya. Tetapi disisi lain dalam hal
kesejahteraan hidup,pemerintah Rusia diam-diam harus mengakui bahwa
kehidupan di Amerika, musuh nomor satu,jauh lebih baik dari kehidupan
rakyatnya sendiri. Lihat saja semboyan saat itu: mengejar dan melampaui
Amerika dalam 15 tahun! Kalau anda pergi ke toko besar Gosudarstwenii
Universalnii Magazin (GUM), semacam mall yang berserakan di Jakarta saat
ini,barang yang dipajang di etalase sangat terbatas dan tidak banyak
pilihan, belum lagi mutunya yang rendah. Pelayanan para pramuniaganyapun
sangat buruk dan bahkan kadang-kadang menjengkelkan, seolah-olah mereka
tidak butuh pembeli. “Pembeli adalah raja” tidak berlaku disini. Para
pramuniaga dan pengelola toko seolah-olah tidak berusaha menarik
pembeli.
Harus diakui bahwa di surat-surat kabar atau siaran televisi, iklan
sepertinya tabu! Penulis kadang bertanya dalam hati: sampai-sampai pasta
gigi dan sabun mandi yng baikpun pemerintah Rusia tidak bisa
membuatnya, padahal pesawat MIG-17 sudah di ekspor ke pelbagai penjuru
dunia.
Propaganda memang sangat banyak berpengaruh dalam kehidupan
masyarakat dan dimana-mana anda bisa melihat poster-poster raksasa
dengan gambar pria berotot diikuti tulisan mencolok : Plan wipolnen do
srocno! Target tercapai lebih cepat! Kalau Indonesia punya Repelita
(Rencana Lima Tahun) maka Uni Soviet memiliki Semiletka atau rencana
Tujuh Tahun dipelbagai bidang: pertanian, industri, berita disurat-surat
kabar Pravda atau Izweztiya hanya berisi keberhasilan dan sukses, tidak
ada berita kegagalan. Kegagalan adalah tabu untuk diberitakan!
Akibat dari propaganda yang sangat effektif dan mencapai
sasaran,raskyat awam kalau berdialog dengan kami mahasiswa yang datang
dari negara berkembang, mereka
menganggap dirinya sebagai :”saudara tua” yang penolong, mereka berada
diatas kita yang mendahkan tangan. Walaupun memuakkan karena seringnya
mendengar “pencerahan” semacam ini, kami tidak bisa berbuat apa-apa.Yang
bicara begini bisa sesama penumpang Metro, warga biasa yang bertemu di
taman, termasuk teman kuliah. Banyak hal-hal yang merupakan sisi-sisi
negatif dalam kehidupan sehari-hari dan semua ini adalah pengaturan atau
pengelolaan masyarakat dalam suatu sistem besar. Kalau anda lupa
membawa tanda pengenal yang disebut “propusk” jangan harap anda bisa
melenggang masuk rumah sendiri (asrama). Tidak jarang anda harus
bertengkar adu argumentasi sampai otot muncul di batang leher melawan
Komendant (Kepa
la srama sebelum bisa masuk rumah sendiri) karena lupa membawa propusk.
Tetapi belakangan kami bisa memakluminya karena asrama dimana kami
tinggal, sebuah gedung berlantai 10 dan 8 diantaranya terdiri dari
kamar-kamar yang kami huni. Kalau 8 lantai dan setiap lantai terdiri
dari 70 kamar (penulis mengisi kamar nomor 671) maka ada 560 kamar dan
setiap kamar diisi 4 mahasiswa, anda bisa hitung berapa mahasiswa
tinggal di asrama tsb.
Kepala asrama sampai berapa tahunpun tidak bakal bisa mengingat-ingat
wajah setiap penghuninya,walaupun kami orang asing (di asrama penulis
ada mahasiswa asing non-kulit putih berasal dari Vietrnam,Tiongkok, Sri
Lanka,Mesir, Irak, India). Tanda pengenal penting kemanapun anda pergi:
ke kampus, Dom Kulturi (Gedung Kesenian) dimana anda secara teratur
berlatih kesenian dan harus punya propusk terdendiri. Setelah cukup lama
tinggal dan hidup ditengah masyarakat Rusia, kami akhirnya merasa
nyaman-nyaman saja dengan kehidupan masyarakat sosialistis. Sisi positif
dari pengaturan negara yang dikelola menurut ajaran
sosialisme/komunisme juga kami rasakan dan ikut menikmati (menikmati
hal-hal positif).
*******
(Bersambung)
#sastra-pembebasan# Djoko Sri Moeljono: NEGARA SOSIALIS (2)
|
367 posts
|
Djoko Sri Moeljono:
NEGARA SOSIALIS (2)
Setiap warga negara.Rusia yang ingin melanjutkan pendidikan ke tingkat lebih tinggi
setelah lulus sekolah menengah tingkat atas, tidak akan mengalami banyak hambatan
seperti misalnya masalah beaya masuk,pemondokan dsb.
Pemerintah menjamin segala keperluan mahasiswa dan yang diperlukan hanya kemau
an dan tekad untuk belajar,tidak lebih dari itu.
Fasilitas belajar boleh dikata lengkap,baik dari segi fasilitas fisik maupun dukungan
pengajar dengan rasio jumlah mahasiswa dan pengajar sangat mendukung. Para do
sen berkualifikasi professor sangat mendukung aktivitas belajar mengajar dan mereka
berdedikasi tinggi sebagai pendidik.
Perkuliahan yang didukung perpustaan lengkap dan laboratorium sangat mendukung
Mahasiswa untuk bisa menyelesaikan jenjang pendidikan tepat waktu dan tidak ada
alasan untuk bermalas-malasan..
Mahasiswa tidak perlu khawatir mencari buku rujukan ataupun buku panduan,semua
tersedia di perpustakaan dan tinggal pinjam. Setiap awal semester setiap mahasiswa
wajib,ulangi : wajib.pinjam buku yng diperlukan untuk perkuliahan selama semester
tertentu. Buku-buku ini sudah disusun dalam satu paket (terdiri dari beberapa buku
dan paket ini sama untuk setiap mahasiswa dengan spesialisasi sama).
Mahasiswa tinggal datang ke perpustakaan,tanda tangan dan bawa paket buku ke asra.
ma.Kami mahasiswa asing tidak terkecuali,harus mengikuti aturan yang berlaku. Teta
pi sebagai mahasiswa asing kami juga harus memikirkan hari depan bila selesai kuliah
dan pulang ke tanah-air,kami tidak bisa mengharapkan ada perpustakaan yang menye
diakan buku-buku panduan yang diperlukan. Kami harus menyisihkan sebagian uang
beasiswa untuk belanja buku. Dan harga buku di Rusia sangat terjangkau dan untuk se
orang kutu buku seperti penulis, setiap kali pergi ke toko buku harus membatasi diri ba
wa uang, Bisa-bisa uang beasiswa habis untuk belanja buku. Harus diakui bahwa sega
la kebutuhan belajar,termasuk buku,harganya sangat terjangkau dan boleh dibilang sa
ngat murah. Penulis masih ingat saat membeli jangka (passer doos) hanya membayar
3,60 rubel dari beasiswa bulanan yang 90 rubel. Padahal harga passer doos di Indone
sia saat itu sangat sangat mahal dan tidak semua mahasiswa mampu membelinya.
Bagi pemerintah Rusia mutu kertas buku-buku tidak penting,kecuali untuk penerbitan
khusus seperti ensiklopedi atau buku dengan ilustrasi berwarna. Yang penting adalah
menyebarkan ilmu pengetahuan seluas mungkin,mencerdaskan bangsa.
Penerbitan dan perdagangan buku jelas tidak dibebani pajak seperti di Indonesia.
Memang harus diakui bahwa buku-buku terbitan barat mutu kertasnya jauh lebih baik
tetapi tentu saja diikuti harga mahal. Saat masih belajar di Bandung, penulis harus me
nimbang-nimbang seribu kali seb elum membeli buku walaupun sudah dibantu harga
khusus dengan adanya “Kupon” buku bagai mahasiswa. Masalahnhya,semua buku un
tuk perkuliahan hanya tersedia dalam bahasa asing yang merupakan buku impor.
Penulis saat itu pernah menjadi pemasok buku-buku terbitan Republik Demokrasi Jer
man yang dijual sangat murah di Moskwa. Buku-buku teknik yang sama juga dipergu
nakan di Repulik Federasi Jerman (Barat). Beberapa mahasiswa Indonesia memesan
buku terbitan Jerman Timur berharga murah dan penulis kiirimkan ke Jerman Barat
dengan harga khusus,lebih mahal dari harga Moskwa tapi lebih rendah dari Berlin.
Fasilitas laboratorium juga lengkap dan semua kuliah bisa diserap dengan baik ber
kat bantuan praktek di laboratorium maupun kerja lapangan.
Dalam penyampaian pelajaran di bangku kuliah, para pengajar sangat kooperatif dan
tidak pernah menyulitkan mahasiswa seperti yang sering kami alami saat kuliah di
ITB (dosen mengada-ada,mempersulit mahasiswa lulus dan bangga mendapat sebu
tan dosen “killer”). Di Rusia seorang dosen akan malu bila banyak mahasiswanya ti
dak lulus ujian karena itu berarti sang dosen tidak becus mengajar.
Sistgem ujian mulai dari semester ke-5 dan seterusnya adalah sistem ujian lisan di-
Mana dosen menguji satu persatu mahasiswanya dan hasil ujiannya disampaikan sa
At itu juga begitu ujian selesai.Tidak ada pengumuman hasil ujian seperti di Indone
sia dimana mahasiswa pesertga ujian harus menunggu berhari-hari.
Apabila mahasiswa Rusia mengalami kesulitan dalam mencerna pelajaran di bangku
kuliah,institut bisa memberi peluang kerja dibidang yang dipelajari disalah satu pa
brik atau perusahaan selama maksimal satu tahun. Saat mahasiswa kembali duduk
di bangku kjuliah,semua mata kuliah yang diajarkan akan dengan mudah diserap ka
rena didukung kerja dibidangnya dan menggelutinya setiap hari. Nagi mahasiswa
asing seperti penulis,saat mengalami kesulitan pada awal-awal perkuliahan,penulis
dibantu seorang assisten dosen untuk mata kuliah tertentu. Dan semuanya jelas be
bas beaya,tanpa dipungut sesenpun. Ini adalah fasilitas dari negara yang ikut kami
manfaatkan.
Karena kami mahasiswa asing,maka penguasaan bahasa Rusia kami harus didorong
dengan pelajaran tambahan bahasa Rusia. Pelajaran bahasa yang dipersiapkan di
Fakultas Persiapan,dengan didukung paralatan mutakhir (magnetofon atau tape re
corder untuk setiap mahasiswa) selama maksimum 10 bulan,jelas tidak mencukupi
untuk membuat kami bisa menangkap semua pelajaran di bangku kuliah.
Setelah duduk di bangku kuliah institut yang di[ilih,penulis mendapat guru bahasa
Rusia sebagai pendamping untuk membantu memahami buku-buku perkuliahan di
Samping mengembangkan pengetahuan bahasa Rusia kami. Dan semua ini juga di
sediakan secara cuma-cuma.Institut berusaha agar mahasiswanya bisa benar-benar
menjadi sarjana yang bisa diandalkan dan menjaga nama baik alma mater.
Guru pendamping bahasa Rusia ini,di kalangan mahasiswa asing juga dicurigai se
bagai mata-mata yang mencoba mengorek kecenderungan politik mahasiswa yng
didampinginya sambil sekaligus memasukkan kehebatan dan kelebihan sosialisme
Dalam kasus penulis pribadi,selama sekian tahun didampingi guru bahasa sampai
selesai belajar dan diwisuda,penulis sedikitpun tidak merasakan adanya tekanan ma
upun paksaan kearah itu. Bahkan penulis sama sekali tidak bersedia mengiluti ma
ta kuliah yang wajib bagi mahasiswa tuan rumah : sejarah PKUS (Partai Komunis
Uni Soviet),Marxisme-Leninisme, Politekonomiya dsb. Dan pihak institut juga ti
dak pernah memaksa atau mengharuskan mahasiswa asing hadir di bangku kuliah
Saat mulai duduk di bangku kuliah institut pilihan,sangat terasa bagaimana pene
kanan masalah disiplin ditanamkan. Penulis tidak tahu apakah cara ini berlaku di-
seluruh perguruan tinggi atau hanya di institut dimana penulis belajar. Kalau tidak
berlaku di seluruh republik Uni Soviet berarti institut punya wewenang untuk me
rapkam aturan-aturan tertentu sebatas internal kampus.
Peraturan yang berlaku dan mengejutkan di hari pertama : menjelang jam kuliah di
mulai,bel listrik berbunyi satu kali untuk mengingatkan mahasiswa agar siap-siap
memasuki ruangan kuliah. Saat bel berbunyi dua kali,semua mahasiswa harus su
dah memasuki ruangan kuliah. Bel ketiga berbunyi,pengajar memasuki ruang kuli
ah dan semua mahasiswa wajib berdiri. Ini sih mirip akademi militer saja! Pintu
dikunci dan tidak ada alasan mengetuk dan minta maaf terlambat datang,tidak ju
ga bagi mahasiswa asing. Setiap mahasiswa harus tahu benar peraturan ini.
Kemudian dosen pengajar mengambil absen dan setiap mahasiswa yang disebut
namanya harus berdiri.
Cara-cara seperti ini khas Rusia dan saat penulis ikut menghadiri kuliah diajak
teman di yang belajar di kota Aachen,Jerman Barat,penulis lihat mahasiswa bisa
keluar masuk ruangan kuliah dengan bebas bahkan saat dosen sedang mengajar
Di saat liburan musim panas,semua mahasiswa asing punya hak berlibur di tem
pat yang sudah ditentukan dan hak ini tidak bisa dipertukarkan dengan uang.
Pilihannya hanya : pergi berlibur atau hangus. Liburan dua minggu ini prodeo,
dibeayai negara Hak ini kami manfaatkan sejauh mungkin karena pulang libu
ran ke tanah air jelas tidak mungkin dari segi beaya. Mahasiswa dari sesama ne
gara sosialis umumnya pulang berlibur ke negara-negara mereka (Bulgaria,Ce
koslowakia,Jerman Timur,Polandia,Rumania,Bulgaria,Hongaria)
Mahasiswa asing dari apa yang disebut Rusia sebagai negara kapitalis,umumnya
Juga memanfaatkan masa liburannya di Rusia (Italia,Perancis,Inggris dsb)
Sesudah lulus dan di wisuda, setiap sarjana baru sudah ditunggu tugas bekerja di
perusahaaan-perusahaan pemerintah. Mahasiswa yang lulus dengan angka terba
ik punya hak meilih tempat kerja dalam daftar yang disodorkan. Kewajibankerja
semacam ini juga berlaku bagi mahasiswa-mahasiswa asing yang b erasal dari ne
geri-negeri sosialis lainnya di Eropa Timur. Teman sebangku yang berasal dari
republik demokrasi jerman sudah tahu kemana dia harus bekerja,begitu pula yng
pulang ke Bulgaria atau Rumania,Cekoslowakia dan Polandia. Lulusan perguru
an tinggi tidak perlu kelimpungan kesana kemari mencari pekerjaan.
Setiap mahasiswa Rusia seperti juga warga negara Amerika, harus menjalani wa
jib militer jika dipanggil negara. Impian mereka yang terpanggil adalah ditempat
kan diluar negeri,seperti di Jerman (Berlin yang terpecah menjadi empat zona)
Kami sebagai mahasiswa asing ikut menikmati fasilitas belajar yang sama seperti
mahasiswa Rusia,diluar hal-hal wajib yang harus mereka jalani.
Kelebihan lain dari negara sosialis Uni Soviet adalah jaminan kesehatan bagi war
ga negaranya dan juga berlaku bagi mahasiswa asing yang belajar di Uni Soviet.
Penulis tidak tahu apakah jaminan kesehatan ini juga berlaku untuk semua aspek
perawatan sampai ke operasi berat atau tidak,tetapi yang pernah penulis dengar
dari sesama teman kuliah warga Rusia.jaminan kwesehatan ini tidak berlaku un
kuk perawatan gigi (prothesa misalnya)
Penulis pernah suatu ketika memanfaatkan layanan kesehatan,yang di mata penu
lis tergolong prima dan istimewa untuk ukuran Indonesia saat itu.
Saat penulis jatuh sakit dan tidak bisa hadir ke kampus,segala sesuatu urusan ke
sehatan diatur oleh institut (di institut ada Dekanat po Delam s Innostranimi Stu
dentami atau Dekan Urusan Mahasiswa Asing).
Penukis tidak perlu pergi ke poliklinik dan dokter dari poliklinik terdekat datang
dan memeriksa ke asrama. Setelah hasil pe,eriksaan menunjukkan bahwa penya
kit bisa disembuhkan tanpa harus dirawat di RS.penulis bisa istirahat di asrama
Dan setiap sekian jam datang perawat memeriksa apakah obat yang diberikan
dokter diminum teratur. Ini benar-benar pelayanan luar biasa dan gratis pula!
Penulis sampai sembuh selalu dipantau kesehatannya dan tidak tahu siapa yang
mengurusnya. Semula penulis menduga bahwa pelayanan istimewa ini diberi
kan karena para dokter curiga penulis membawa sejenis penyakit menular dari
daerah tropis dan bisa menular serta mebahayakan lingkungan sekitar,tetapi ter
nyata dugaan itu keliru.
Apakah pelayanan Cuma-Cuma seperti ini juga diberikan kepada warga Rusia,
tidak jelas. Kebanyakan dokter yang bertugas adalah perempuan, karena bagi
pria muda Rusia akan jadi bahan tertawaan jika mendaftar ke perguruan tinggi
kedokteran. Profesi dokter adalah untuk perempuan sedang pria harus memilih
profesi lain yang berhubungan langsung dengan bidang pembangunan negara,
entah itu di Wilayah Timur atau Utara yang sangat dingin bersalju sepanjang
tahun. Di sanalah tempat para pria,bukan di poliklinik atau rumah sakit. Ini ada
lah kenyataan di dunia masiswa Rusia yang terjadi dan sering jadi pembicara
an dikalangan mereka. Kalau ada undangan pentas di kampus kedokteran,ruang
pesta dipenuhi mahasiswi dan sulit bagi anda untuk tidak mengajak mereka ber
dansa,membiarkan mereka menunggu-nunggu ajakan pria yang tahu adab dan
kesopana pergaulan.
Tulisan ini adalah pengalaman pribadi sebagi warga asing yang tinggal di sebu
ah negara sosialis dengan ciri-ciri kehidupan yang berbeda dari negara Barat
Kalau.berkunjung ke Barat,memang memukau dengan kehidupan sepanjang
malam tanpa henti,lampu-lampu reklame berpendar sepanjang malam.
Saat pulang ke tanah air,penulis sempat bertanya-tanya dalam hati : seperti apa
kah yang dikmasud presiden Indonesia Sukarno dengan cita-citanya menegak
kan : Sosialisme a la Indonesia?
Tulisan ini bisa jadi menjadi semacam kesaksian tentang negara sosialis yang
Sudah hilang dari muka bumi,kecuali tinggal eksis di beberapa negara saja.
Semoga kesaksian ini bisa jadi bahan renungan bagi semua!
*******
|