Politik, Liputan, Humor, Budaya

Rabu, 30 April 2014

Humor: Pasangan Sehidup Semati


CHINA : Ya… Tuhan berilah hamba kekasih hati, pasangan yang sehidup semati seperti legenda Sampek Engtay..
INDIA : Ya… Tuhan berilah hamba kekasih hati, pasangan yang sehidup semati seperti kisah Rama & Shinta….
ITALIA : Ya Tuhan berilah hamba kekasih hati, pasangan yang sehidup semati legendaris sepanjang masa bagai Romeo & Juliet!
ARAB : Celingak celinguk kebingungan…..


Kamis, 17 April 2014

Karena selingkuh


Seorang Malaikat dipintu gerbang antara Surga dan Neraka sedang mengadili orang2 mati. begini kira2 debat yg terjadi diantara mereka:
Malaikat : "Hey, Apa penyebab kematianmu??"

Orang 1 : "Beberapa menit yang lalu saya sedang berada di kantor, tp karena saya tiba2
merasa istri saya sedang selingkuh, saya buru2 pulang. Sesampainya saya di
rumah, pintu rumah sedang dalam keadaan terkunci. Kemudian saya dobrak pintu
tersebut dan menemukan istri saya sedang telanjang di pojokan ranjang dengan
posisi ranjang yang berantakan.

Saya menolah ke jendela dan melihat ada tangan orang sedang bergelantungan,
tanpa basa-basi saya pukul lah tangan org tersebut biar dia jatuh dan mati.
Setelah dia jatuh kebawah, saya ambil kulkas dan saya lemparkan juga kebawah, ketika
melemparkan kulkas, mendadak penyakit jantung saya kumat dan ikut jatuh bersama kulkas tersebut."

Malaikat: "ooh, begitu, kasihan jg kamu ya. Berikutnya yang pakai celana pendek, silahkan ceritakan penyebab kematianmu."

Orang 2 : "Begini, saya sedang berolahraga di balkon apartemen saya, kemudian saya terpeleset dan jatuh, untung saya bisa berpegangan pada balkon di lantai bawah apartemen saya. Tapi tiba2 ada yang memukuli tangan saya sehingga saya jatuh, Untungnya saya jatuh di tempat sampah yang empuk, Tapi tiba2 ada kulkas yang jatuh dan menimpa saya. Makanya saya ada disini."

Malaikat : "naas skali nasibmu. Silahkan berikutnya, org yg sedang telanjang. Bisa ceritakan bagaimana kamu bisa ada disini?"

Orang 3 : "Begini, saya sedang selingkuh dengan istri orang, tiba2 dia pulang kerja. Jadi saya buru2 sembunyi di kulkas. Tak tahu kenapa, tiba2 saya sudah ada disini."

Malaikat: " ooh...."
http://ruanghati.com/wp-content/uploads/2011/10/selingkuh-ketahuan.jpg

Rabu, 02 April 2014

Animasi Amerika Serikat: Senjata Menjinakan Sedari Dini





Pada Juli 2013, film Turbo produksi DreamWork Animation diluncurkan. Satu bulan setelahnya, film Planes buatan DisneyToon Studios juga diluncurkan. Kedua film itu bukan hanya sama-sama berwujud animasi, tapi tampaknya secara serupa mengkampanyekan ideologi berpikir positif yang penuh ilusi. Selain itu, keberhasilan yang dimaksud dalam Turbo dan Planes sangat identik dengan keberhasilan yang didengungkan budaya kapitalisme; populer dan kaya. Ini menjadi perlu diwaspadai karena sasaran produk budaya itu adalah anak-anak.   
Keajaiban dan Optimisme Cerita
 Turbo dan Planes, diawali dengan cerita tokoh utamanya yang memiliki mimpi besar dan ditertawakan oleh masyarakat sekitarnya. Dalam Turbo, seekor siput bernama Theo, yang kemudian merubah nama menjadi Turbo, bermimpi menjadi pembalap. Ia gila dengan kecepatan dan gemar sekali menonton balap mobil. Tentu saja ini menjadi cemoohan bagi rekan-rekannya, sesama siput. Sementara itu, Planes menceritakan tokoh pesawat bernama Dusty Crophopper. Ia merupakan pesawat kebun yang bertugas menyemprot pestisida. Di waktu senggang, Dusty menyempatkan diri melakukan manuver-manuver akrobatik. 
              Meskipun kedua mimpi itu tampak tidak mungkin terwujud, ada keajaiban-keajaiban dalam cerita yang memuluskan langkah kedua tokoh utama. Turbo dalam secara tidak sengaja tenggelam dalam cairan nitrogen yang membuat siput ini bisa berlari dengan kecepatan ratusan kilometer perjam. Keajaiban itu terus berlanjut ketika Turbo bertemu seorang penjual makanan kaki lima Tito. Tito terkejut dengan kecepatan Turbo. Ia bermimpi untuk mengikutsertakan Turbo ke balapan Indianapolis 500. Setelah melalui kontroversi, panitia terpaksa mengikutsertakan siput dalam balap mobil formula itu akibat desakan pembalap bintang Indianapolis Guy Gagne dan peserta konferensi pers. Keputusan ajaib bukan? Lewat pertarungan sengit, Turbo berhasil membekuk semua mobil balap itu dan memenangkan pertandingan. Turbo akhirnya membawa keberuntungan bagi Tito karena meramaikan penjualan makanannya dengan pertunjukan balap siput. Tito akhirnya tidak lagi miskin.  
                Keajabian-keajaiban serupa terjadi pada tokoh utama Planes, Dustry Crophopper. Dusty berambisi memenangi lomba Wings Across the World. Dusty ingin membuktikan ia melebihi asal usulnya ketika dibuat. “Lihat, aku lebih dari sekedar pesawat penyemprot hama,” ujarnya. Padahal, pesawat penyemprot memang dibuat untuk terbang rendah sehingga pestisida tidak berhamburan ke mana-mana.[1]  Dengan pelatihan terbang dari pesawat pensiunan perang dunia II Skipper Riley, Dusty berhasil lolos kualifikasi lomba balap bergensi Wings Across the World. Ia mendapatkan modifikasi tambahan, entah dari mana, dari temannya untuk berlomba. Ketika mengalami kecelakaan dalam mengarungi samudra Pasifik, Dusty juga secara ajaib mendapat pertolongan kapal induk Amerika Serikat. Ia akhirnya berhasil menang dengan nekat terbang tinggi dan menunggangi arus udara Jet Streams yang berhembus ke timur. Dusty akhirnya terkenal sebagai pesawat yang memiliki banyak penggemar. 
              
Ilusi Positive Thinking
Planes dan Turbo tentu memiliki pola yang sama. Kedua tokoh memiliki ambisi luar biasa dan hampir tidak mungkin tercapai. Lantas, keajaiban-keajaiban terjadi mengiringi keinginan Dusty dan Turbo untuk mencapai mimpi. Berkat kegigihan dan keajaiban itu, mereka berhasil melampaui kodrat mereka masing-masing. Siput Turbo berhasil melewati mobil balap formula dan pesawat penyemprot hama Dusty berhasil terbang tinggi dan memenangi lomba terbang bergengsi mengelilingi dunia. Singkatnya, kedua film mendorong pemirsa untuk berpikir positif yang kurang lebih berisi: Semua orang akan mendapatkan apa yang ia mau, bahkan melampaui asal-usul, jika benar-benar gigih.
                Apa yang salah dengan optimisme semacam itu? Penulis asal Amerika Serikat Barbara Ehrenrich membedah bahaya berpikir positif semacam itu dalam buku Bright-sided: How the Relentless Promotion of Positive Thinking Has Undermined America yang terbit pada 2009. Di Inggris, judulnya tampak lebih gamblang, Smile or Die: How Positive Thinking Fooled America and the World. Barbara berpendapat, kapitalisme tingkat lanjut membutuhkan propaganda berpikir positif untuk melestarikan sistem tersebut.[2]  
                Berpikir positif mendorong masyarakat bekerja keras untuk meningkatkan konsumsi. Namun, berpikir positif seolah-oleh memberi jaminan orang bisa mengkonsume lebih banyak dengan bekerja lebih keras 
          “Budaya konsumtif mendorong orang untuk menginginkan lebih – mobil, rumah yang lebih luas, televise, handphone, gadget dan semacamnya – dan sudah disiapkan cara berpikir positif untuk memberitahu orang-orang mereka layak mendapat dan memiliki lebih jka mereka menginginkannya dan bersedia berupaya untuk meraihnya
Peningkatan konsumsi, entah dengan cara apa para konsumen mengupayakannya, merupakan lahan subur untuk pertumbuhan-pertumbuhan perusahaan. Dalam kapitalisme, pertumbuhan adalah keniscayaan agar tidak tergusur, terutama oleh modal yang lebih lemah.
                Berpikir positif juga berguna sebagai pemakluman atas dampak-dampak buruk ekonomi pasar. “Jika optimisme merupakan kunci keberhasilan material, dan jika Anda mencapai pandangan optimis melalui kedisiplinan berpikir positif, maka tidak ada alasan untuk gagal,” tulis Barbara.  Cara berpikir seperti ini melepas konteks ekonomi-politik bahwa pasar semakin lama mengerucutkan kekayaan pada segelintir orang. Juga, masyarakat digiring untuk menyalahkan diri sendiri karena menganggur atau miskin ketika ekonomi makro luluh lantah akibat ulah para pemodal besar, seperti dalam great depression pada 1920an hingga 1940an, krisis ekonomi Asia akhir 1990an, krisis dunia 2008, serta krisis Eropa yang hingga kini masih berlangsung. Barbara mengusulkan sebuah alternatif berpikir realistis dan menghadapi dunia apa adanya. Ia juga menolak pesimisme karena itu sama halnya dengan ilusi optimisme.
                Dalam film Turbo dan Planes, ilusi berpikir positif semakin menjadi-jadi karena mendapat pembenaran dari bentuk fiksi animasi. Gagasan berpikir positif akan masuk dengan . Dengan tampil sebagai animasi, film ini semakin mengaburkan kenyataan hidup. Keajaiban-keajaiban yang mencapuri jalannya cerita tentu sangat kecil sekali peluangnya terjadi di dunia nyata. Padahal, keajaiban-keajaiban seperti itu tidak mungkin juga memupus begitu saja asal usul kelas seseorang (yang dalam film disimbolkan sebagai kodrat pesawat penyemprot hama dan siput yang lamban). Anak kelas pekerja miskin yang hanya mendapat gaji UMP di negara kapitalisme memiliki peluang jauh lebih kecil bersekolah hingga universitas ketimbang anak-anak kelas menengah dan kelas atas.
                Dari banyak anak kelas pekerja yang miskin itu, memang segelintir sekali berhasil mencapai apa yang disebut kesuksesan baik dalam bentuk hartau atau karir. Segelintir itu, menurut sosiolog Perancis Pierre Bordieu, terus didengungkan untuk menciptakan mitos kesetaraan dalam masyarakat kapitalisme. Turbo dan Planes bisa dipandang sebagai sarana ideologis untuk membangun mitos tersebut pada anak-anak.  Kemasan animasi yang menarik untuk membungkus ideologi berpikir positif itu terbukti laris di pasaran. Turbo menjadi nomor satu di 32 kawasan. Film ini menjadi salah satu film yang paling disukai di Cina, Korea dan Venezuela. Film Planes meraup laba kotor $219,788,712.
Pengutamaan Materi
Selain ilusi berpikir positif, Turbo dan Planes mengarahkan khayalan anak-anak akan keberhasilan. Keberhasilan yang identik dengan harta dan ketenaran mengaburkan ukuran-ukuran pencapaian hidup lainnya. Ini dicerminkan dalam Tito, penjual kaki lima yang menemukan Turbo, yang menjadi kaya setelah berhasil “menjual” balap siput. Presiden Venezuela Hugo Chavez, dalam War on Democracy, mengkritik pedas kekayaan sebagai tujuan hidup. "Saya selalu mengatakan kita tidak ingin menjadi kaya. Tujuan kita bukanlah kekayaan materi. Tujuan kita adalah hidup bermartabat, tentu dengan mengentaskan diri dari kemiskinan...Tidak menjadi milyuner,  jalan hidup orang Amerika, tidak, itu bodoh," kata Chavez.[3]
Ukuran kekayaan sebagai keberhasilan macam itu biasanya ditakar dalam Pendapatan Domestik Bruto yang menghitung kegiatan ekonomi suatu negara. Alih-alih menakar kekayaan suatu bangsa, ukuran ini sebenarnya sekedar menghitung besaran kegiatan pasar. Pada 2008, Pemerintah Perancis membentuk Komisi Pengukuran Kinerja Ekonomi dan Kemajuan Sosial untuk mencari alterntif perdap Produk Domestik Bruto. Bhutan, sebuah negara kecil di kaki pegunungan Himalaya, menolak mengukur keberhasilan bangsa mereka dengan kekayaan materi. Alhasil, mereka membuat satuan ukur kemajuan dengan Gross National Hapinnes (GNH) atau Kebahagiaan Kotor Nasional. Bhutan merupakan satu-satunya negara yang mengukur kemajuan masyarakat mereka bukan dari harta, tapi dari kebahagiaan. GNH mengukur di antaranya Kebaikan Ekonomi seperti kemerataan penghasilan, utang konsumen dan Kebaikan Sosial seperti angka perceraian dan diskriminasi.
Ajak Anak Berbicara
Dalam memahami film-film seperti Planes dan Turbo, terutama ketika penontonnya adalah anak-anak, perlu bagi orang tua untuk mengajak anak-anak membahas pesan-pesan tersembunyi film itu. Tentu dengan bahasa yang lebih sederhana dan membumi. Melarang mereka menonton akan membuat mereka penasaran. Toh, animasi film-film tersebut memang cukup menarik. Dengan mengajak anak-anak berbicara, mereka tidak perlu menyalahkan diri mereka sepenuhnya ketika kesulitan berhadapan dengan kenyataan kesenjangan sosial. Menimpakan kesalahan pada diri sendiri, ketika sumber ketidakadilan adalah sistem ekonomi-politik yang tersusun kokoh dalam kapitalisme, tentu bisa membuat anak menjadi frustasi dan memandang rendah diri. Orang tua bisa mengajarkan anak-anak mereka bahwa keadilan dan kesetaraan bisa terjadi dengan merubah sistem ekonomi-politik, bukan dengan berpikir positif secara membabi buta seperti yang dikampanyekan animasi-animasi produk negara kapitalis Amerika Serikat. Tujuan-tujuan hidup lain juga bisa ditawarkan setelah menonton Planes dan Turbo. Ini bisa dengan memberi contoh orang-orang yang memiliki tujuan hidup untuk melakukan perubahan sosial, bukan sekedar kekayaan materi.


[1] Crop Dusters, Spesialisasi Terbang Rendah http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/11/crop-dusters-spesialisasi-terbang-rendah terakhir diakses 02 April 2014
[2]
'Bright-Sided': When Happiness Doesn't Help, nukilan dari buku Barbara di http://www.npr.org/templates/story/story.php?storyId=113758696 terakhir diakses 05 April 2014
[3]War on Democracy, dokumenter John Pilger dapat diakses gratis di http://johnpilger.com/videos/the-war-on-democracy terakhir diakses 05 April 2014

NEGARA SOSIALIS - Kesaksian tentang hidup di negara sosialis Uni Soviet pada 1960an

NEGARA SOSIALIS (1)

ditulis oleh 
Djoko Sri Moeljono. 
Djoko Sri Moeljono, 73, was also among the hundreds of thousands of artists, academics and trade unionists jailed at that time as “leftists.” After his arrest in 1965, for being a trade union member and graduate of a Sukarno-supported metallurgy program in the Soviet Union, he spent six years in forced labor. He was then exiled to a remote island until 1978  http://www.nytimes.com/2012/01/19/world/asia/veil-of-silence-lifted-in-indonesia.html?pagewanted=all&_r=0  

Apabila 60 tahun lalu hubungan diplomatik antara Indonesia dan Uni Soviet tidak dijalin,maka penulis bersama ratusan mahasiswa Indonesia lainnya tidak bisa menikmati  kesempatan menimba ilmu di negara yang dikenal sebagai negara pertama didunia yg berlandaskan pada ajaran sosialisme/komunisme dan layak disebut sebagai negara sosialis pertama dibunia.
Penulis yakin bahwa diantara sekian ratus juta penduduk Indonesia saat ini, tidak lebih dari 10,000 orang yang pernah benar-benar merasakan hidup di sebuah negara sosialis. Sebelum kami mengalaminya sendiri,memang banyak pertanyaan yang terlintas dalam benak banyak orang : apa itu negara sosialis? Jawabannya kami temukan setelah kami sendiri menjalani, mengalami, menyelami kehidupan di sebuah negara sosialis. Kami merupakan saksi-saksi hidup tentang apa itu yang disebut negara sosialis, dalam kehidupan nyata dan bukan penjelasan teori dalam buku-buku ilmiah.
Penulis berangkat sebagai anak muda yang sudah menempuh kuliah di ITB Jurusan Pertambangan dan pernah mengalami masa-masa transisi pergantian pengajar dari berkebangsaan Belanda kemudian digantikan pengajar asal Amerika Serikat setelah para pengajar berkebangsaan Belanda diusir dari Indonesia dalam rangka merebut Irian Barat kembali kepangkuan ibu pertiwi.
Penulis mengalami masa-masa kuliah dengan dosen Belanda dan kemudian diganti dosen Amerika dengan sistem ujian yang sama sekali berbeda.
Kami yang sebelum berangkat masih bermental asli Indonesia yang tidak mengenal disiplin ketat, begitu terjun dalam masyarakat Rusia mengalami goncangan budaya kecil-kecilan. Kalau tidak ingin dibilang “ne kulturnii” (tidak tahu sopan santun), anda harus mau antri berdiri saat beli apa saja di toko. Saat baru menjejakkan kaki di Uni Soviet memang sempat kaget dan heran : kok di Uni Soviet orang antri roti? Mereka teratur antri bukan untuk mendapatkan roti, tetapi antri karena watak disiplin
Sebelum berangkat penulis masih ikut antri gula dan memang kondisi ekonomi Indonesia sedang sulit, sehingga begitu tiba di Uni Soviet kami melihat perbedaan yang begitu mencolok antara kehidupan di tanah-air yang baru kami tinggalkan dibanding dengan kehidupan di Uni Soviet yang tampak begitu tertata. Dan masalah pangan tidak jadi persoalan, memang bukan untuk membandingkan dengan kondisi Indonesia dimana penulis masih harus antri bahan pokok sebelum berangkat. Kondisi Indonesia yang serba kesulitan bahan makanan pokok ini ini masih sangat dalam meninggalkan kesan dalam benak..
Bulan-bulan pertama sebagai mahasiswa di asrama, kami masih bisa makan roti sepuasnya tanpa bayar. Tetapi memasuki tahun 1961, saat Rusia gagal panen gandum, maka: makan roti di Stolowaya harus bayar walaupun murah dan sangat terjangkau..Penulis tidak tahu pasti apakah roti gratis ini hanya berlaku di Stolowaya kampus? Atau juga di Stolowaya sekolah-sekolah dan juga di pabrik-pabrik untuk buruh? Kelebihan sistem sosialis yang kami rasakan dalam kehidupan mahasiswa: adalah kenyataan bahwa pendidikan dan perawatan kesehatan dijamin pemerintah secara cuma-cuma. Dan kami para mahasiswa asing ikut menikmati sisi-sisi positif dari pendidikan
cuma-cuma yang diselenggarakan negara. Mahasiswa tuan rumah adalah mahasiswa ikatan dinas seluruhnya, mereka menerima tunjangan dari negara walaupun tidak besar tetapi cukup untuk hidup layak dan disediakan asrama bagi mahasiswa dari luar kota..
Apa yang penulis coba paparkan dalam tulisan singkat dibawah ini merupakan pengalaman hidup sebenarnya,bukan cerita rekaan dan tidak terlupakan. Apa yang penulis alami di Uni Soviet mungkin tidak jauh berbeda dari pengalaman mereka yang pernah menimba ilmu di negara-negara Blok Timur lainnya, terutama yang belajar di Eropa Timur atau yang lebih dikenal dengan sebutan negara-negara Pakta Warsawa, sebagai tandingan Blok NATO sebelum runtuhnya Tembok Berlin di penghujung tahun 1980-han dan ambruknya Uni Soviet. Bagaimanapun, mereka-mereka yang pernah menimba ilmu di Uni Soviet di era 1960-an merupakan saksi-saksi hidup tentang tegaknya negara-negara sosialis yang dipelopori oleh Uni Soviet sebagai negara sosialis pertama didunia.
Tulisan singkat dibawah ini merupakan kesan dan pengalaman pribadi, yang mungkin berbeda dari pengalaman orang lain.
Sebagai mahasiswa muda kami meninggalkan tanah air yng pada tahun 1960 disaat ketegangan politik internasional baru saja mereda setelah tetembaknya pesawat mata-mata U-2 Amerika di wilayah Uni Soviet. Kami ditugasi belajar di negara yang disebut Uni Republik Sosialis Soviet atau disingkat Uni Soviet, sebagai bagian dari kerjasama dibidang kebudayaan.
Awal-awal kehidupan di Uni Soviet, bagi penulis pribadi, memang terkesan hebat danmenjanjikan dimata rakyat Rusia. Tidak ada orang antri roti karena barangnya langka, pembangunan berjalan siang malam tanpa henti dan ini bisa disaksikan lewat jendela kamar asrama setiap hari. Bagi penulis saat itu,orang bekerja siang malam merupakan hal baru yng belum pernah penulis saksikan di tanah air (mungkin juga sudah pernah terjadi di daerah terpencil seperti jatiluhur atau proyek Sigura-gura di Sumatera Utara tapi bukan ditengah kota seperti di Moskwa).
Penulis setiap hari bisa melihat lewat jendela bagaimana pembangunan kwartira (apartemen) tumbuh begitu cepat dari minggu ke minggu) walaupun dengan mutu bangunan yang dibawah standar Eropa dan ini bisa dilihat setelah penulis berkunjung ke beberapa negara Eropa Barat: Jerman, Italia dan Perancis)/ Sasaran pemerintah bisa diduga agar bisa dengan cepat memenuhi kebutuhan perumahan masyarakat dan masalah mutu sementara di nomor duakan.
Kesan lain yang sangat terasa dalam kehidupan sehari-hari adalah stabilnya harga karena semua diatur pemeritah,tidak ada inflasi atau gejolak ekonomi yang disebabkanoleh faktor spekulasi pelaku pasar (menurut kacamata Barat ekonomi semacam ini sifatnya statis,tidak berkembang karena tidak ada persaingan dan stagnan, serta semua-nya dikendalikan secara terpusat oleh negara dan tidak memungkinkan persaingan).
Penulis selama empat tahun bermukim di Moskwa,sepanjang ingatan yang bisa dirunut kembali, rasanya tidak pernah membaca berita tentang kenaikan harga . Hal lain yang penuis kagumi adalah rasa aman dari gangguan kriminal, kemanapun kita pergi di malam hari, tidak pernah merasa takut dirampok atau diganggu dengan macam-macam ulah yang mengganggu. Gangguan yang agak mengusik adalah masalah orang-orang mabok yang berkeliaran di hari-hari pembayaran gaji atau menjelang hari libur. Wodka sudah membudaya dan berakar dalam kehidupan rakyat Rusia. Dikenal pemeo “Rusia tanpa wodka, bukan Rusia”
Aturan hukum mungkin begitu ketat sehingga membuat orang Rusia sangat menahandiri dalam pertengkaran agar tidak sampai berkelahi dan kami tahu benar hal ini, serta memanfaatkan sebaik mungkin. Kalau bertengkar dengan orang Rusia, bagaimanapun sengitnya pertengkaran kami yakin bahwa mereka tidak akan memukul. Banyak sisi-sisi yang membuat penulis kagum,tetapi harus diakui bahwa tidak sedikit pula sisi-sisi yang menjengkelkan dan menjemukan,bahkan kadang memuakkan.
Kalau semasa di Indonesia bisa bebas mendengarfkan radio mana saja,terutama men dengarkan siaran VOA (Voice of America) dengan Jazz Session-nya, di Moskwa mendadak radio yang kami miliki jadi bungkam dan hanya bisa menerima siaram Goworit Moskwa. Benar-benar menyebalkan! Punya radio bagus bagi kami sia-sia karena disetiap kamar asrama ada radio umum, seperti pernah kami alami di masa pendudukan Jepang. Radio di kamar asrama ditempelkan didinding semacam jam dan hanya
memiki satu tombol: untuk menghidupkan dan mematikan, tidak ada tombol lain. Dan isisiaran yang dipancarkan hanya satu: siaran pemerintah dan sesekali hiburan. Bagaimanapun juga ada manfaatnya bagi kami di musim dingin mengingat-ingat ramalan cuaca untuk esok hari, sehingga kami bisa siap dengan pakaian sesuai suhu besok. Tidak jarang radio umum ini hidup sepanjang hari dari saat kami bangun pagi sampai malam hari saat pergi tidur. Tak seorangpun penghuni kamar punya perhatian untuk mematikannya.
Di Uni Soviet tidak dikenal kehidupan malam dan semua kegiatan berhenti pada jam 23.00 malam. Trem, bus, Metro – semua berhenti berdenyut dan kota Moskwa seolah menjadi kota mati dan gelap dan hanya ada lampu penerangan jalan umum serta sedikit sekali lampu reklame berwarna-warni. Pertunjukan film, ballet atau teater juga berhenti sebelum jam 23.00 karena tidak ada lagi transport umum yang bekerja. Satu-satunya pilihan tinggal taksi dan itupun tidak banyak.
Uni Soviet tidak mengenal buku telepon dan peta kota yang baik, sehingga bagi warga asing akan sulit menemukan alamat atau nomor telepon yang diperlukan. Anda harus membuat sendiri catatan nomor-nomor telepon yang diperlukan. Tetapi di kota Moskwa banyak bertebaran kios Informasi, dimana anda bisa menanykan apa saja dari alamat dan nomor telepon yang anda perlukan. Semua hal yang remeh dalam benak kami, sepertinya menjadi sesuatu yang harus dirahasiakan di Rusia.
Rakyat Rusia sangat bangga dengan negara dan Tentara Merah-nya bila berceloteh mengenai Perang Dunia ke-II yang dalam bahasa Rusia disebut Patrioticeskaya Woiina atau Perang Patriotik. Harus diakui bahwa Soviet Uni sangat menderita dengan jutaan orang tewas sebagai korban perang,tetapi mereka bangga bahwa Tentara Merahadalah pasukan pertama yang berhasil menaklukkan tentara Nazi Hitler. Pantas kalau mereka bangga dan merasa diri besar, kadang berlebihan dan menganggap bangsa
lain lebih rendah. Ini adalah hasil propaganda pemerintah yang benar-benar merasuk dalam kalbu warga negaranya dan bersifat massif. Perlu juga diingat bahwa disaat tegang-tegangnya Perang Dingin berkonfrontasi dengan Blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat, pemerintah Rusia sangat aktif berusaha merebut pengaruh di Asia-Afrika dan Amerika Latin sehingga berdampak positif pada mahasiswa-mahasiswa Indonesia. Untuk menarik perhatian kami, pemerintah Rusia tidak segan-segan memomulerkan lagu “Rayuan Pulau Kelapa” sebagai semacam lagu wajib disekolah-sekolah dan kemananpun kami pergi berkunjung,tidak jarang disambut dengan paduan suara mengalunkan lagu wajib tsb. Nama Soekarno juga sangat diken al secara luas, se
hingga rakyat kecil dipinggir jalanpun tahu bahwa Indonesia = Soekarno.
Rakyat Rusia lewat propaganda pemerintah yang begitu deras mengalir, membuat mereka bangga dengan capaian teknologi seperti Sputnik pertama, manusia pertama terbang keluar angkasa jadi pahlawan nasional Yurii Gagarin, wanita pertama jadi astronot Teresykova dsb. Belum lagi ditambah dengan keberhasilan Uni Soviet dibidangmiliter dengan pesawat-pesawat tempur canggih, tank dan kapal selamnya. Semua ini tentu menelan beaya sangat besar sehingga harus mengorbankan keperluan rakyat banyak dibidang kesejahteraan.
Dimata rakyat, Uni Soviet harus jadi negara adidaya, negara besar yang ditakuti dunia dan harus diakui, pemerintah Rusia berhasil membangun impian di benak rakyatnya. Tetapi disisi lain dalam hal kesejahteraan hidup,pemerintah Rusia diam-diam harus mengakui bahwa kehidupan di Amerika, musuh nomor satu,jauh lebih baik dari kehidupan rakyatnya sendiri. Lihat saja semboyan saat itu: mengejar dan melampaui Amerika dalam 15 tahun! Kalau anda pergi ke toko besar Gosudarstwenii Universalnii Magazin (GUM), semacam mall yang berserakan di Jakarta saat ini,barang yang dipajang di etalase sangat terbatas dan tidak banyak pilihan, belum lagi mutunya yang rendah. Pelayanan para pramuniaganyapun sangat buruk dan bahkan kadang-kadang menjengkelkan, seolah-olah mereka tidak butuh pembeli. “Pembeli adalah raja” tidak berlaku disini. Para pramuniaga dan pengelola toko seolah-olah tidak berusaha menarik pembeli.
Harus diakui bahwa di surat-surat kabar atau siaran televisi, iklan sepertinya tabu! Penulis kadang bertanya dalam hati: sampai-sampai pasta gigi dan sabun mandi yng baikpun pemerintah Rusia tidak bisa membuatnya, padahal pesawat MIG-17 sudah di ekspor ke pelbagai penjuru dunia.
Propaganda memang sangat banyak berpengaruh dalam kehidupan masyarakat dan dimana-mana anda bisa melihat poster-poster raksasa dengan gambar pria berotot diikuti tulisan mencolok : Plan wipolnen do srocno! Target tercapai lebih cepat! Kalau Indonesia punya Repelita (Rencana Lima Tahun) maka Uni Soviet memiliki Semiletka atau rencana Tujuh Tahun dipelbagai bidang: pertanian, industri, berita disurat-surat kabar Pravda atau Izweztiya hanya berisi keberhasilan dan sukses, tidak ada berita kegagalan. Kegagalan adalah tabu untuk diberitakan!
Akibat dari propaganda yang sangat effektif dan mencapai sasaran,raskyat awam kalau berdialog dengan kami mahasiswa yang datang dari negara berkembang, mereka
menganggap dirinya sebagai :”saudara tua” yang penolong, mereka berada diatas kita yang mendahkan tangan. Walaupun memuakkan karena seringnya mendengar “pencerahan” semacam ini, kami tidak bisa berbuat apa-apa.Yang bicara begini bisa sesama penumpang Metro, warga biasa yang bertemu di taman, termasuk teman kuliah. Banyak hal-hal yang merupakan sisi-sisi negatif dalam kehidupan sehari-hari dan semua ini adalah pengaturan atau pengelolaan masyarakat dalam suatu sistem besar. Kalau anda lupa membawa tanda pengenal yang disebut “propusk” jangan harap anda bisa melenggang masuk rumah sendiri (asrama). Tidak jarang anda harus bertengkar adu argumentasi sampai otot muncul di batang leher melawan Komendant (Kepa
la srama sebelum bisa masuk rumah sendiri) karena lupa membawa propusk.
Tetapi belakangan kami bisa memakluminya karena asrama dimana kami tinggal, sebuah gedung berlantai 10 dan 8 diantaranya terdiri dari kamar-kamar yang kami huni. Kalau 8 lantai dan setiap lantai terdiri dari 70 kamar (penulis mengisi kamar nomor 671) maka ada 560 kamar dan setiap kamar diisi 4 mahasiswa, anda bisa hitung berapa mahasiswa tinggal di asrama tsb.
Kepala asrama sampai berapa tahunpun tidak bakal bisa mengingat-ingat wajah setiap penghuninya,walaupun kami orang asing (di asrama penulis ada mahasiswa asing non-kulit putih berasal dari Vietrnam,Tiongkok, Sri Lanka,Mesir, Irak, India). Tanda pengenal penting kemanapun anda pergi: ke kampus, Dom Kulturi (Gedung Kesenian) dimana anda secara teratur berlatih kesenian dan harus punya propusk terdendiri. Setelah cukup lama tinggal dan hidup ditengah masyarakat Rusia, kami akhirnya merasa nyaman-nyaman saja dengan kehidupan masyarakat sosialistis. Sisi positif dari pengaturan negara yang dikelola menurut ajaran sosialisme/komunisme juga kami rasakan dan ikut menikmati (menikmati hal-hal positif).
*******
(Bersambung)

#sastra-pembebasan# Djoko Sri Moeljono: NEGARA SOSIALIS (2)

classic Classic list List threaded Threaded
1 message Options Options

#sastra-pembebasan# Djoko Sri Moeljono: NEGARA SOSIALIS (2)

Dian Su
367 posts
 
 
Djoko Sri Moeljono:
 
                                       NEGARA SOSIALIS (2)
 
 
Setiap warga negara.Rusia yang ingin melanjutkan pendidikan ke tingkat lebih tinggi
setelah lulus sekolah menengah tingkat atas, tidak akan mengalami banyak hambatan
seperti misalnya masalah beaya masuk,pemondokan dsb.
Pemerintah menjamin segala keperluan mahasiswa dan yang diperlukan hanya kemau
an dan tekad untuk belajar,tidak lebih dari itu.
Fasilitas belajar boleh dikata lengkap,baik dari segi fasilitas fisik maupun dukungan
pengajar dengan rasio jumlah mahasiswa dan pengajar sangat mendukung. Para do
sen berkualifikasi professor sangat mendukung aktivitas belajar mengajar dan mereka
berdedikasi tinggi sebagai pendidik.
Perkuliahan yang didukung perpustaan lengkap dan laboratorium sangat mendukung
Mahasiswa untuk bisa menyelesaikan jenjang pendidikan tepat waktu dan tidak ada
alasan untuk bermalas-malasan..
 
Mahasiswa tidak perlu khawatir mencari buku rujukan ataupun buku panduan,semua
tersedia di perpustakaan dan tinggal pinjam. Setiap awal semester setiap mahasiswa
wajib,ulangi : wajib.pinjam buku yng diperlukan untuk perkuliahan selama semester
tertentu. Buku-buku ini sudah disusun dalam satu paket (terdiri dari beberapa buku
dan paket ini sama untuk setiap mahasiswa dengan spesialisasi sama).
Mahasiswa tinggal datang ke perpustakaan,tanda tangan dan bawa paket buku ke asra.
ma.Kami mahasiswa asing tidak terkecuali,harus mengikuti aturan yang berlaku. Teta
pi sebagai mahasiswa asing kami juga harus memikirkan hari depan bila selesai kuliah
dan pulang ke tanah-air,kami tidak bisa mengharapkan ada perpustakaan yang menye
diakan buku-buku panduan yang diperlukan. Kami harus menyisihkan sebagian uang
beasiswa untuk belanja buku. Dan harga buku di Rusia sangat terjangkau dan untuk se
orang kutu buku seperti penulis, setiap kali pergi ke toko buku harus membatasi diri ba
wa uang, Bisa-bisa uang beasiswa habis untuk belanja buku. Harus diakui bahwa sega
la kebutuhan belajar,termasuk buku,harganya sangat terjangkau dan boleh dibilang sa
ngat murah. Penulis masih ingat saat membeli jangka (passer doos) hanya membayar
3,60 rubel dari beasiswa bulanan yang 90 rubel. Padahal harga passer doos di Indone
sia saat itu sangat sangat mahal dan tidak semua mahasiswa mampu membelinya.
 
Bagi pemerintah Rusia mutu kertas buku-buku tidak penting,kecuali untuk penerbitan
khusus seperti ensiklopedi atau buku dengan ilustrasi berwarna. Yang penting adalah
menyebarkan ilmu pengetahuan seluas mungkin,mencerdaskan bangsa.
Penerbitan dan perdagangan buku jelas tidak dibebani pajak seperti di Indonesia.
Memang harus diakui bahwa buku-buku terbitan barat mutu kertasnya jauh lebih baik
tetapi tentu saja diikuti harga mahal. Saat masih belajar di Bandung, penulis harus me
nimbang-nimbang seribu kali seb elum membeli buku walaupun sudah dibantu harga
khusus dengan adanya “Kupon” buku bagai mahasiswa. Masalahnhya,semua buku un
tuk perkuliahan hanya tersedia dalam bahasa asing yang merupakan buku impor.
Penulis saat itu pernah menjadi pemasok buku-buku terbitan Republik Demokrasi Jer
man yang dijual sangat murah di Moskwa. Buku-buku teknik yang sama juga dipergu
nakan di Repulik Federasi Jerman (Barat). Beberapa mahasiswa Indonesia memesan
buku terbitan Jerman Timur berharga murah dan penulis kiirimkan ke Jerman Barat
dengan harga khusus,lebih mahal dari harga Moskwa tapi lebih rendah dari Berlin.
Fasilitas laboratorium juga lengkap dan semua kuliah bisa diserap dengan baik ber
kat bantuan praktek di laboratorium maupun kerja lapangan.
 
Dalam penyampaian pelajaran di bangku kuliah, para pengajar sangat kooperatif dan
tidak pernah menyulitkan mahasiswa seperti yang sering kami alami saat kuliah di
ITB (dosen mengada-ada,mempersulit mahasiswa lulus dan bangga  mendapat sebu
tan dosen “killer”). Di Rusia seorang dosen akan malu bila banyak mahasiswanya ti
dak lulus ujian karena itu berarti sang dosen tidak becus mengajar.
Sistgem ujian mulai dari semester ke-5 dan seterusnya adalah sistem ujian lisan di-
Mana dosen menguji satu persatu mahasiswanya dan hasil ujiannya disampaikan sa
At itu juga begitu ujian selesai.Tidak ada pengumuman hasil ujian seperti di Indone
sia dimana mahasiswa pesertga ujian harus menunggu berhari-hari.
 
Apabila mahasiswa Rusia mengalami kesulitan dalam mencerna pelajaran di bangku
kuliah,institut bisa memberi peluang kerja dibidang yang dipelajari disalah satu pa
brik atau perusahaan selama maksimal satu tahun. Saat mahasiswa kembali duduk
di bangku kjuliah,semua mata kuliah yang diajarkan akan dengan mudah diserap ka
rena didukung kerja dibidangnya dan menggelutinya setiap hari. Nagi mahasiswa
asing seperti penulis,saat mengalami kesulitan pada awal-awal perkuliahan,penulis
dibantu seorang assisten dosen untuk mata kuliah tertentu. Dan semuanya jelas be
bas beaya,tanpa dipungut sesenpun. Ini adalah fasilitas dari negara yang ikut kami
manfaatkan.
 
Karena kami mahasiswa asing,maka penguasaan bahasa Rusia kami harus didorong
dengan pelajaran tambahan bahasa Rusia. Pelajaran bahasa yang dipersiapkan di
Fakultas Persiapan,dengan didukung paralatan mutakhir (magnetofon atau tape re
corder untuk setiap mahasiswa) selama maksimum 10 bulan,jelas tidak mencukupi
untuk membuat kami bisa menangkap semua pelajaran di bangku kuliah.
Setelah duduk di bangku kuliah institut yang di[ilih,penulis mendapat guru bahasa
Rusia sebagai pendamping untuk membantu memahami buku-buku perkuliahan di
Samping mengembangkan pengetahuan bahasa Rusia kami. Dan semua ini juga di
sediakan secara cuma-cuma.Institut berusaha agar mahasiswanya bisa benar-benar
menjadi sarjana yang bisa diandalkan dan menjaga nama baik alma mater.
Guru pendamping bahasa Rusia ini,di kalangan mahasiswa asing juga dicurigai se
bagai mata-mata yang mencoba mengorek kecenderungan politik mahasiswa yng
didampinginya sambil sekaligus memasukkan kehebatan dan kelebihan sosialisme
Dalam kasus penulis pribadi,selama sekian tahun didampingi guru bahasa sampai
selesai belajar dan diwisuda,penulis sedikitpun tidak merasakan adanya tekanan ma
upun paksaan kearah itu. Bahkan penulis sama sekali tidak bersedia mengiluti ma
ta kuliah yang wajib bagi mahasiswa tuan rumah : sejarah PKUS (Partai Komunis
Uni Soviet),Marxisme-Leninisme, Politekonomiya dsb. Dan pihak institut juga ti
dak pernah memaksa atau mengharuskan mahasiswa asing hadir di bangku kuliah
Saat mulai duduk di bangku kuliah institut pilihan,sangat terasa bagaimana pene
kanan masalah disiplin ditanamkan. Penulis tidak tahu apakah cara ini berlaku di-
seluruh perguruan tinggi atau hanya di institut dimana penulis belajar. Kalau tidak
berlaku di seluruh republik Uni Soviet berarti institut punya wewenang untuk me
rapkam aturan-aturan tertentu sebatas internal kampus.
 
Peraturan yang berlaku dan mengejutkan di hari pertama : menjelang jam kuliah di
mulai,bel listrik berbunyi satu kali untuk mengingatkan mahasiswa agar siap-siap
memasuki ruangan kuliah. Saat bel berbunyi dua kali,semua mahasiswa harus su
dah memasuki ruangan kuliah. Bel ketiga berbunyi,pengajar memasuki ruang kuli
ah dan semua mahasiswa wajib berdiri. Ini sih mirip akademi militer saja! Pintu
dikunci dan tidak ada alasan mengetuk dan minta maaf terlambat datang,tidak ju
ga bagi mahasiswa asing. Setiap mahasiswa harus tahu benar peraturan ini.
Kemudian dosen pengajar mengambil absen dan setiap mahasiswa yang disebut
namanya harus berdiri. 
 
Cara-cara seperti ini khas Rusia dan saat penulis ikut menghadiri kuliah diajak
teman di yang belajar di kota Aachen,Jerman Barat,penulis lihat mahasiswa bisa
keluar masuk ruangan kuliah dengan bebas bahkan saat dosen sedang mengajar
 
Di saat liburan musim panas,semua mahasiswa asing punya hak berlibur di tem
pat yang sudah ditentukan dan hak ini tidak bisa dipertukarkan dengan uang.
Pilihannya hanya : pergi berlibur atau hangus.  Liburan dua minggu ini prodeo,
dibeayai negara Hak ini kami manfaatkan sejauh mungkin karena pulang libu
ran ke tanah air jelas tidak mungkin dari segi beaya. Mahasiswa dari sesama ne
gara sosialis umumnya pulang berlibur ke negara-negara mereka  (Bulgaria,Ce
koslowakia,Jerman Timur,Polandia,Rumania,Bulgaria,Hongaria)
Mahasiswa asing dari apa yang disebut Rusia sebagai negara kapitalis,umumnya
Juga memanfaatkan masa liburannya di Rusia (Italia,Perancis,Inggris dsb)
 
Sesudah lulus dan di wisuda, setiap sarjana baru sudah ditunggu tugas bekerja di
perusahaaan-perusahaan pemerintah. Mahasiswa yang lulus dengan angka terba
ik punya hak meilih tempat kerja dalam daftar yang disodorkan. Kewajibankerja
semacam ini juga berlaku bagi mahasiswa-mahasiswa asing yang b erasal dari ne
geri-negeri sosialis lainnya di Eropa Timur. Teman sebangku yang berasal dari
republik demokrasi jerman sudah tahu kemana dia harus bekerja,begitu pula yng
pulang ke Bulgaria atau Rumania,Cekoslowakia dan Polandia. Lulusan perguru
an tinggi tidak perlu kelimpungan kesana kemari mencari pekerjaan.
 
Setiap mahasiswa Rusia seperti juga warga negara Amerika, harus menjalani wa
jib militer jika dipanggil negara. Impian mereka yang terpanggil adalah ditempat
kan diluar negeri,seperti di Jerman (Berlin yang terpecah menjadi empat zona)
Kami sebagai mahasiswa asing ikut menikmati fasilitas belajar yang sama seperti
mahasiswa Rusia,diluar hal-hal wajib yang harus mereka jalani.
Kelebihan lain dari negara sosialis Uni Soviet adalah jaminan kesehatan bagi war
ga negaranya dan juga berlaku bagi mahasiswa asing yang belajar di Uni Soviet.
 
Penulis tidak tahu apakah jaminan kesehatan ini juga berlaku untuk semua aspek
perawatan sampai ke operasi berat atau tidak,tetapi yang pernah penulis dengar
dari sesama teman kuliah warga Rusia.jaminan kwesehatan ini tidak berlaku un
kuk perawatan gigi (prothesa misalnya)
 
Penulis pernah suatu ketika memanfaatkan layanan kesehatan,yang di mata penu
lis tergolong prima dan istimewa untuk ukuran Indonesia saat itu.
Saat penulis jatuh sakit dan tidak bisa hadir ke kampus,segala sesuatu urusan ke
sehatan diatur oleh institut (di institut ada Dekanat po Delam s Innostranimi Stu
dentami atau Dekan Urusan Mahasiswa Asing).
Penukis tidak perlu pergi ke poliklinik dan dokter dari poliklinik terdekat datang
dan memeriksa ke asrama. Setelah hasil pe,eriksaan menunjukkan bahwa penya
kit bisa disembuhkan tanpa harus dirawat di RS.penulis bisa istirahat di asrama
Dan setiap sekian jam datang perawat memeriksa apakah obat yang diberikan
dokter diminum teratur. Ini benar-benar pelayanan luar biasa dan gratis pula!
Penulis sampai sembuh selalu dipantau kesehatannya dan tidak tahu siapa yang
mengurusnya. Semula penulis menduga bahwa pelayanan  istimewa ini diberi
kan karena para dokter curiga penulis membawa sejenis penyakit menular dari
daerah tropis dan bisa menular serta mebahayakan lingkungan sekitar,tetapi ter
nyata dugaan itu keliru.
 
Apakah pelayanan Cuma-Cuma seperti ini juga diberikan kepada warga Rusia,
tidak jelas. Kebanyakan dokter yang bertugas adalah perempuan, karena bagi
pria muda Rusia akan jadi bahan tertawaan jika mendaftar ke perguruan tinggi
kedokteran. Profesi dokter adalah untuk perempuan sedang pria harus memilih
profesi lain yang berhubungan langsung dengan bidang pembangunan  negara,
entah itu di Wilayah Timur atau Utara yang sangat dingin bersalju sepanjang
tahun. Di sanalah tempat para pria,bukan di poliklinik atau rumah sakit. Ini ada
lah kenyataan di dunia masiswa Rusia yang terjadi dan sering jadi pembicara
an dikalangan mereka. Kalau ada undangan pentas di kampus kedokteran,ruang
pesta dipenuhi mahasiswi dan sulit bagi anda untuk tidak mengajak mereka ber
dansa,membiarkan mereka menunggu-nunggu ajakan pria yang tahu adab dan
kesopana pergaulan.
 
Tulisan ini adalah pengalaman pribadi sebagi warga asing yang tinggal di sebu
ah negara sosialis dengan ciri-ciri kehidupan yang berbeda dari negara Barat
Kalau.berkunjung ke Barat,memang memukau dengan kehidupan sepanjang
malam tanpa henti,lampu-lampu reklame berpendar sepanjang malam.
 
Saat pulang ke tanah air,penulis sempat bertanya-tanya dalam hati : seperti apa
kah yang dikmasud presiden Indonesia Sukarno dengan cita-citanya menegak
kan : Sosialisme a la Indonesia?
 
Tulisan ini bisa jadi menjadi semacam kesaksian tentang negara sosialis yang
Sudah hilang dari muka bumi,kecuali tinggal eksis di beberapa negara saja.
Semoga kesaksian ini bisa jadi bahan renungan bagi semua!
 
 
                                                    *******