Politik, Liputan, Humor, Budaya

Senin, 23 November 2015

SEBAB KALIAN TELAH BERLAKU JUMAWA

SEBAB KALIAN TELAH BERLAKU JUMAWA

-surat terbuka untuk pengusaha-
oleh Khamid Istakhori, Pimpinan Pusat Federasi Serikat Pekerja Pulp dan Kertas Indonesia (PIMPUS FSP2KI)


Sahabat kami, seorang martir yang tak pernah sia-sia, Wiji Thukul namanya,
Dalam sebuah puisinya, dia menuliskan :
Mogoklah sehari saja,
dan pabrik-pabrik akan menjadi rumah hantu!
Pernahkah kalian membayangkan sebuah puisi yang ditulis oleh buruh tukang pelitur meubel itu menjadi kenyataan? Pernahkah kalian menggambarkan betapa dahsyatnya hal itu? Kalau belum, maka hari ini kami akan memulainya.
Memulai sebuah rencana untuk menunjukkan bahwa kami, para buruh di pabrik-pabrikmu itu punya sejuta dua juta lima juta tangan yang bisa berhenti bekerja.
Dan kalian , pasti kelimpungan karena pabrik-pabrik sebentar lagi menjadi rumah hantu.
Berbicara mogok kerja,
Tentu salah besar kalau kalian hanya menyebut itu kepentingan elit-elit nasional serikat buruh, sebab kamilah yang menjalankannya. Sebab kamilah yang merencanakannya. Sebab kamilah yang berkepentingan atas itu semua. Menganggap bahwa kami tidak tahu apa-apa dan hanya termakan provokasi murahan, itu sama saja kalian menghina kami sebagai buruh kelas rendah tak punya daya. Padahal kamilah, yang berjam-jam kerja menghasilkan produksi terbaikmu itu.
Kalau kalian bertanya,
Ajakan Mogok Nasional sebenarnya buat siapa…
Ajakan Mogok Nasional sebenarnya untuk apa…
Ajakan Mogok Nasional benarkah hanya sensasi politis semata…
Maka, hari ini kami menjawab dengan suara kami :
Mogok Nasional ini buat kami semua,
Kaum lemah yang bertahun tergilas mesin di pabrikmu, untuk suara kami yang teredam bisingnya deru mesin pabrikmu dan kami mendengar di tiap perjamuan makan malam, kalian berkata kepada dunia, kemarilah, negeri kami murah segalanya.
Berhentilah bicara, seolah negeri ini hanya milikmu hanya karena telah mencantumkan namamu dalam kertas dan bursa saham saja. Berhentilah berkata-kata, seolah negara ini kalian saja yang membiayainya, sebab deretan nama-nama pembayar pajak terbesar adalah nama kalian. Lalu, berhentilah tepuk dada, hanya karena kalian saja yang ikut naik pesawat Presiden, keliling dunia dan bertemu muka dengan petinggi antar negara. Lalu, sesudah itu lupa, lupa pada kami, buruh-buruh kecil nan lemah ini yang setiap hari menjaga mesinmu, yang setiap hari tidur di pabrikmu, yang setiap hari menuangkan gelas untuk para tamu hotelmu, yang mengusung karung ke kapal-kapal, yang mengecat pintu rumahmu, yang mengisikan bahan bakar ke mobilmu dan dengan potongan upah, denda karena salah kerja, lembur tanpa upah kami ikut membayarkan setiap tiket liburanmu dan anak istrimu ke Singapura, Amerika....
Berhentilah berkata-kata, seolah kalianlah yang paling menderita karena mogok kerja. Berhentilah, berhentilah, berhentilah!
Tengoklah, Jumisih hidup dengan satu anak di kontrakan sempit. Ruang dapurnya adalah ruang tamu, ruang belajar anaknya sekaligus kamarnya.
Hasan, berkali menunda pernikahan sebab tak ada biaya...
Ketahuilah, Yogi kawan kami telah tiada sebab kecelakaan kerja.........
Dan berjuta lainnya yang kalian pasti tak kenal meskipun tiap bulan, merekalah yang membuat rekening koranmu deposito saham dan daftar kekayaanmu berlipat, semua karena kami membayar dengan keringat!
Ah,
Bacalah kembali halaman demi halaman buku undang-undang di meja personaliamu itu
Yang isinya selalu berstabilo hijau tebal untuk sanksi-sanksi bagi kami, sembari lewat pesan-pesan rahasia, kalian memerintahkan potong upah, skorsing, pecat bagi kami yang tidak disukai. Bagi kami yang mencoba menawar sedikit saja waktu kerja, bagi kami yang diketahui rapat bersama serikat pekerja.
Ah, apakah itu adil?
Mari, lihat....
Betapa kami telah membulatkan tekad demi masa depan kami yang lebih baik
Demi menjadikan hidup kami lebih bermartabat
Dan punya harga pantas dibanding mesin-mesinmu....
Perjuangan ini, bukan karena hasutan siapapun – meski kalian menghasut birokrasi untuk melemahkan kami...
Bukan karena provokasi elit manapun – meski 1,2,3,4,5 elit mungkin kalian bisa beli
Bukan pula pesanan partai manapun- meski berpuluh undang-undang bisa kalian pesan pada mereka....
Perjuangan atas nama kemanusiaan, solidaritas atas nama persaudaraan, sifatnya universal adanya, bukan dibatasi tembok pabrik, otonomi daerah dan sektoral seperti upah yang bayarkan, tetapi ini adalah persamaan nasib buruh sedunia. Dan Indonesia, adalah bagian darinya...
Berhentilah bicara hubungan industrial Pancasila, sebab membaca sila-sila yang berbeda
Berhentilah mengajak membangun harmonisasi, sebab lebih suka berkata kebalikannya
Berhentilah merayu kami, sebab kami sekarang dalam satu barisan, satu tekad dan satu cita.
Berhentilah mencaci kami,
Tapi renungilah sejenak waktumu ini, tanpa kami, apa yang bisa produksi.
Tanpa kami apa yang bisa jual
Tanpa kami siapa yang membayar liburan kalian?
Karawang, 24 November 2015
Salam,
Khamid Istakhori