
Saat itu jam 3:00 dini hari, Goldie terbangun dan melihat suaminya sedang berjalan mondar-mandir.
“Melvin, mengapa kau tidak bisa tidur?” tanyanya.
“Kau tahu tetangga kita, Sam? Aku meminjam 1.000 dolar darinya dan harus dibayar pagi ini. Aku belum punya uang dan tak tahu harus berbuat apa,” jawab Melvin.
Goldie turun dari tempat tidurnya lalu membuka jendela. “Sam!” teriaknya. Ia mengulangi beberapa kali, “Sam! Sam!”
Akhirnya Sam yang kaget terbangun dan membuka jendela di seberang jendela Goldie. Ia balas berteriak, “Apa? Ada apa…sekarang baru jam 3, kau mau apa?”
Goldie berkata, “Kau ingat 1.000 dolar yang dipinjam suamiku? Ia tidak bisa membayarnya!”
Setelah mengatakan itu Goldie membanting daun jendela lalu menoleh ke Melvin dan berkata, “Sekarang, tidurlah. Biar sekarang Sam yang berjalan mondar-mandir!”
“Melvin, mengapa kau tidak bisa tidur?” tanyanya.
“Kau tahu tetangga kita, Sam? Aku meminjam 1.000 dolar darinya dan harus dibayar pagi ini. Aku belum punya uang dan tak tahu harus berbuat apa,” jawab Melvin.
Goldie turun dari tempat tidurnya lalu membuka jendela. “Sam!” teriaknya. Ia mengulangi beberapa kali, “Sam! Sam!”
Akhirnya Sam yang kaget terbangun dan membuka jendela di seberang jendela Goldie. Ia balas berteriak, “Apa? Ada apa…sekarang baru jam 3, kau mau apa?”
Goldie berkata, “Kau ingat 1.000 dolar yang dipinjam suamiku? Ia tidak bisa membayarnya!”
Setelah mengatakan itu Goldie membanting daun jendela lalu menoleh ke Melvin dan berkata, “Sekarang, tidurlah. Biar sekarang Sam yang berjalan mondar-mandir!”
(8)
Telepon berdering di markas KGB.
“Halo? Halo, ini KGB?” tanya seseorang.
“Benar. Anda perlu apa?” jawab staf KGB.
“Saya ingin melaporkan bahwa tetangga saya, Yankel Rabinovitz, musuh negara. Ia menyembunyikan berlian-berlian curian di gudang kayu bakarnya.”
“Laporan Anda, saya catat.”
Esoknya, staf KGB datang ke rumah Rabinovitz. Mereka mencari hingga ke setiap sudut gudang kayu bakar, memotong-motong kayu, tapi tak menemukan berlian. Akhirnya mereka pergi setelah menyumpah-nyumpahi Yankel Rabinovitz.
Telepon berdering di rumah Rabinovitz.
“Halo, Yankel! Apakah KGB datang?”
“Ya.”
“Apakah mereka sudah memotong-motong kayu bakarmu?”
“Ya. Sudah”
“Oke, sekarang giliranmu menelepon. Lahan sayuranku perlu dibajak.”
“Halo? Halo, ini KGB?” tanya seseorang.
“Benar. Anda perlu apa?” jawab staf KGB.
“Saya ingin melaporkan bahwa tetangga saya, Yankel Rabinovitz, musuh negara. Ia menyembunyikan berlian-berlian curian di gudang kayu bakarnya.”
“Laporan Anda, saya catat.”
Esoknya, staf KGB datang ke rumah Rabinovitz. Mereka mencari hingga ke setiap sudut gudang kayu bakar, memotong-motong kayu, tapi tak menemukan berlian. Akhirnya mereka pergi setelah menyumpah-nyumpahi Yankel Rabinovitz.
Telepon berdering di rumah Rabinovitz.
“Halo, Yankel! Apakah KGB datang?”
“Ya.”
“Apakah mereka sudah memotong-motong kayu bakarmu?”
“Ya. Sudah”
“Oke, sekarang giliranmu menelepon. Lahan sayuranku perlu dibajak.”
(9)
Seorang
Yahudi pindah ke lingkungan Katolik. Setiap Jumat orang-orang Katolik
dibuat gila karena sementara mereka hanya memakan ikan, orang Yahudi itu
memanggang steak di pekarangan rumahnya. Maka mereka berusaha membuat
si Yahudi pindah agama. Akhirnya, setelah mengancam dan memberi janji,
mereka berhasil. Orang Yahudi itu pun dibawa ke pendeta yang kemudian
memercikkan air suci kepadanya sambil melafazkan :
“Dilahirkan sebagai Yahudi…Dibesarkan sebagai Yahudi…Sekarang menjadi Katolik.”
Orang-orang Katolik kegirangan. Tak ada lagi aroma lezat yang membuat air liur menetes setiap Jumat malam, begitu pikir mereka. Namun Jumat berikutnya, aroma daging panggang kembali berembus di lingkungan mereka. Umat Katolik itu segera berlari ke rumah si Yahudi untuk memperingatkannya akan pola makan baru yang harus ia ikuti. Mereka mendapatinya sedang berdiri di depan kompor pemanggangan. Sambil memercikkan air ke daging sapi, ia berkata, “Dilahirkan sebagai sapi…Dibesarkan sebagai sapi…Sekarang menjadi ikan.”
“Dilahirkan sebagai Yahudi…Dibesarkan sebagai Yahudi…Sekarang menjadi Katolik.”
Orang-orang Katolik kegirangan. Tak ada lagi aroma lezat yang membuat air liur menetes setiap Jumat malam, begitu pikir mereka. Namun Jumat berikutnya, aroma daging panggang kembali berembus di lingkungan mereka. Umat Katolik itu segera berlari ke rumah si Yahudi untuk memperingatkannya akan pola makan baru yang harus ia ikuti. Mereka mendapatinya sedang berdiri di depan kompor pemanggangan. Sambil memercikkan air ke daging sapi, ia berkata, “Dilahirkan sebagai sapi…Dibesarkan sebagai sapi…Sekarang menjadi ikan.”
***
_______