Kebasan merupakan sesuatu yang sering diperjuangkan dalam berbagai pergerkan. Namun, Jean-Paul Sartre, seorang filsuf prancsi, memiliki semoboyan yang terkenal bahwa “kita dihukum untuk bebas.” Kebebasan adalah kondisi tak terelakan. Manusia harus memilih dalam masa depan yang tidak pasti dan mengambil akibatnya.
Kehidupan dan Karya Sebagai Pengewajantahan Filsafat
Jean-Paul Sartre, yang ulang tahun ke 104 jatuh pada 21 juni, merupakan seorang filsuf yang patut dikenang atas sumbangsihnya pada umat manusia dalam mengingatkan kehadiran kebebasan manusia. Sartre adalah produk dari pengalaman perang dan suasana moralitas pasca-perang. Namun, pengalaman pasca-perang yang penuh kehancuran, traumatis, belenggu, dan kesedihan, diolah menjadi sebuah filsafat eksistensialisme yang justru penuh nuansa kebebasan dan penciptaan makna.
Sartre membawa filsafat eksistensialisme menjadi populer pasca Perang Dunia II. Being and Nothingness, mahakaryanya, menguraikan manusia secara ontologis lewat metode fenomenologi. Buku ini adalah penjelasan eksistensialisme atas fenomena manusia. Dalam karya inilah dia merumuskan kebebasan manusia dan harga yang harus dibayar atas kebebasan mutlak tersebut. Untuk menjadikan gagasan-gagasanya populer, Sartre menulis karya sastra yang lelakonya membahasakan filsafat dalam bahasa keseharian. Pintu Tertutup, Kemuakan, dan Lalat-lalat adalah karya-karya sastranya yang banyak dibaca khalayak.
Sartre membela pejuang-pejuang kemerdekaan Aljazair dan kelas pekerja. Alhasil, apartemen sartre dua kali dibom sebagai usaha membunuhnya. Saat masyarkat tengah mengalami kebingungan nilai pasca PD II, Sartre menjadi inspirasi dan kompas bagi masyarakatnya. Bukti kepopuleranya yang paling nyata adalah 10.000 orang yang berdesakan di jalanan Paris saat kematian Sartre 15 April 1980. Dalam jagad pemikiran Indonesia, Sartre banyak mempengaruhi intelektual pasca kemerdekaan seperti Fuad Hassan, Driyakara, dan Sitor Situmorang.
Sartre telah menjadi seorang filsuf yang sungguh-sungguh mengejawantahkan pemikiranya. Dia bahkan memilih untuk menolak Nobel Sastra pada 1964 dengan alasan bahwa penulis harus bebas dan tidak terinstitusikan. Dalam sejarah pemberian Nobel sastra, dialah satu-satunya yang menolak pemberian kehormatan itu dengan pilihan. Boris Pasternak pada 1958 memang pernah menolak Nobel sastra, namun atas tekanan pemerintah Soviet. Dalam New York Times 23 Oktober 1964, diberitakan bahwa panitia Nobel telah menerima surat keengganan Sartre atas hadiah nobel dua hari sebelum diumumkan. Namun, panitia Nobel tetap menganggap hanya Sartre yang pantas menerima nobel tersebut karena “kekayaan ide yang berpengaruh besar di zaman kita, terutama lewat semangat kebebasan dan pencarian kebenaran. “Alhasil, Nobel kesusastraan tahun 1964 tak diberikan pada siapa-siapa.
Kebebasan dan Hukuman Kebebasan
Kebebasan sering diartikan sebagai keberhasilan mendapatkan apa yang diinginkan. Sebagai contoh, orang yang tanganya terikat dikatakan tidak bebas karena dia tidak bisa berhasil melakukan keinginanya untuk menggerakan tangan. Namun, dia tetap bebas untuk berpikir apapun juga. Dia tetap bebas untuk memilih mengedipkan matanya atau tidak. Bagi Sartre, kebebasan adalah tak terhindarkan. Manusia tidak bisa tidak bebas. Dalam setiap saat hidupnya, dia memilih. Manusia mau tak mau memilih apa yang dia pikirkan, lakukan, dan rencanakan. Bahkan apa yang dalam Heidegger disebut keterlemparan kita di dunia, bahwa kita lahir dalam suatu budaya dan ruang serta waktu tanpa kehendak kita, bagi Sartre merupakan suatu pilihan. Bukankah kita tidak memilih terlahir di dunia? Sartre berpendapat bahwa dalam hal yang tampaknya kodrati itupun, kita tetap bebas memilih. Karena kita dapat saja memilih mati, bunuh diri, jika kita tidak ingin hidup. Bahwa kita melanjutkan hidup adalah suatu bukti bahwa kita terus memilih hidup dari pada mati.
Bagaimana manusia memiliki kebebasan ini? Sartre menjelaskan filsafatnya melalui pendekatan fenomenologis Husserl. Pendekatan ini mencoba melihat obyek apa adanya seperti tercerap oleh indera dan dengan cara tersebut membiarkan obyek menampakan diirnya sendiri apa adanya.
Dunia adalah kepenuhan ada. Dalam dunia, segala sesuatu tidak kurang dan tidak lebih ada tanpa kekurangan apapun juga. Dunia sudah penuh dalam dirinya sendiri. Dunia pada dirinya sendiri adalah ruang padat dan mampat. Jenis mengada seperti ini disebut Sartre sebagai berada-dalam-dirinya-sendiri. Sedangkan struktur kesadaran manusia terdiri dari ada dan ketiadaan. Karena adanya ketiadaan ini, manusia dapat menghadirkan ketiadaan bagi dunia. Uang di kantongku tidak ada karena aku membandingkan dengan adanya uang. Ketiadaan uang di kantong hanya mungkin hadir ke dunia karena adanya ketiadaan dalam kesadaraan. Ruang mampat dan padat dari dunia menjadi bolong dan berlubang karena kemampuan kesadaran manusia untuk menidaka (negatiti). Dalam celah-celah inilah kebebasan manusia terletak. Struktur kesadaran manusia ini disebut Sartre sebagai ada-untuk-dirinya-sendiri.
Karena ketiadaan yang menghasilkan kebebasan, seperti disebut di atas, timbulah hasrat untuk memenuhi ketiadaanya agar manusia menjadi makhluk yang penuh. Hasrat ada mendampingi adanya kebebasan. Namun, manusia hanya dapat menjadi penuh dengan menghilangkan kemanusiaanya, yaitu saat dia meninggal dunia. Dengan kata lain, hidup manusia selalu dipenuhi hasrat tanpa dapat terpuaskan. Dari sinilah disimpulkan bahwa manusia adalah hasrat yang sia-sia.
Eksistensi manusia, yang membedakanya dari eksistensi-eksistensi lainya, adalah kebebasan. Jika kebebasan ini adalah eksistensi manusia, lalu apa tujuan dan makna hakiki kebebasan manusia? Pertanyaan tersebut sama dengan mempertanyakan apa makna eksistensi manusia. Bagi Sartre, makna atau tujuan hakiki eksistensi adalah absurd, tidak beralasan. Karena hidup ini tanpa makna hakiki, maka manusia dapat mengisinya dengan makna hidup yang dia pilih. Dengan kata lain, dalam pilihan-pilihan yang dilakukan, manusia menentukan maknanya. Dalam kalimat sartre yang mahsyur dan menjadi diktum dasar eksistensialisme, hal ini dirumuskan sebagai eksistensi mendahului esensi. Manusia ada terlebih dahulu bersama kebebasanya, setelah itu dia menciptakan esensi atau makna hidupnya. Manusia adalah makhluk yang menjadi.
Kebebasan yang tak bertujuan hakiki seperti di atas tidak memiliki landasan dan makna, membuat manusia tidak memiliki kebenaran selain pembenaran yang dipilihnya. Kebebasan tidak berfondasi selain kebebasan itu sendiri. Pembenaran apapun yang ada hanyalah konstruksi pilihan manusia tersebut. Akan tetapi, kebebasan manusia selalu mengharuskanya memilih, baik disadari atau tidak. Tidak memilih merupakah suatu pilihan untuk tidak memilih. Setiap pilihan yang diambil selalu tidak pernah disertai kepastian, akan tetapi tanggung jawabnya sangat besar. Tanggung jawab dalam hal ini adalah menerima akibat dari pilihan yang telah diambilnya. Karena pilihan tersebut disebabkan oleh sang individu, maka dia tidak dapat menyalahkan pihak atau penyebab lain selain dirinya sendiri atas akibat pilihanya. Keharusan memilih dalam ketiadaan kebenaran selain yang dibuatnya mengakibatkan munculnya kecemasan dalam hidup manusia.
Manusia dihukum untuk bebas berarti manusia ada bersamaan dengan kecemasaanya. Kecemasan selalu ada dan menjadi sifat manusiawai yang tidak dapat dihilangkan. Kecemasan tak terelakan selama manusia masih hidup.
Kebebasan dalam Modernitas
Tapi tak dapat dipungkiri bahwa kecemasan sering tidak terasa karena rutinitas manusia yang begitu pasti. Seperti seorang karyawan yang setiap pagi bangun untuk bekerja, sudah merasa bahwa bekerja adalah suatu keharusan, bukan suatu pilihan. Bahwa dia dapat memilih untuk tetap tidur dan tidak bekerja merupakan pilihan yang telah terlupakan. Dengan seperti ini, kebebasan menjadi sesuatu yang seakan-akan tiada.
Modernitas, lewat budaya populer memiliki kecenderungan menyamakan manusia menjadi sekumpulan massa. Selera seluruh orang dipaksa untuk menjadi sama. Iklan memborbadir individu-individu dan membentuknya memilih satu pilihan, yaitu produk itu. Selain itu, media massa mencoba dengan halus menyamakan persepsi orang atas suatu peristiwa. Sebagai contoh, peristiwa serangan WTC diberitakan sebagai serangan muslim atas peradaban barat. Dengan itu, masyarkat barat digiring untuk membenci islam.
Bernard-Henry Levy, seorang filsuf Prancis, merumuskan filsafat Sartre sebagai filsafat “tidak.” Anda selalu dapat memilih untuk berkata, berpikir, atau bertindak “tidak” seperti keadaan saat ini. Anda selalu dapat berubah. Kemampuan untuk berkata “tidak” telah tersingkir dalam dunia modern.
Kebebasan memberi celah pada perubahan. Bahwa manusia adalah makhluk yang menjadi dan dia selalu dapat mengatakan “tidak” memberi kesempatan untuk pembaruan yang tiada henti. Selain itu, manusia dapat saja berkata “tidak” pada arus kehidupan mayoritas yang dipenuhi oleh budaya konsumtif. Manusia selalu mungkin memilih hidup hemat, tidak menjadi korban iklan. Pilihan untuk tidak terbawa arus pikiran yang ditawarkan arus besar juga selalu tersedia. Orang dapat mengkritisi logika berpikir suatu berita dan bukan hanya terbawa pada kesimpulan yang ditawarkan. Selain itu, kemungkinan mencari sumber berita alternatif juga tersedia. Pilihan untuk berbeda selalu terbuka. Hal-hal tersebut hanya mungkin dilakukan saat manusia sadar bahwa dia bebas, dan selalu dapat mengatakan “tidak”.
Melupakan kebebasan mengakibatkan masyarakat menjadi macet.Situasi masyarakat modern telah menjadikan manusia lupa akan sisi kemanusiaanya. Bahwa manusia bebas mencipta dan menjadi. Individu cair dalam kerumunan dan kehilangan keunikanya. Modernitas mempastikan manusia dalam hakikatnya yang tidak pasti, selalu berubah, dan unik.
Bagaimana pengertian kebebasan ini jika dihadapkan dengan 'benturan kebebasan dengan yang lain'?
BalasHapusAtaukah kebebasan yang dimaksud di sini adalah kebebasan untuk sadar dan melawan bentuk penyeragaman yang berbau politik atau budaya(menilik juga dari latar belakang kehidupan Sartre-PD II)?
Bagaimana jika pengertian kebebasan ini dihadapkan dengan 'benturan dengan kebebasan yang lain'? Apakah kebebasan secara hakiki(bukan esensi) bersifat egoistis?
BalasHapusLalu apakah filsafat kebebasan ini(secara terapan) dimaksudkan sebagai proses penyadaran dan reaksi dari bentuk penyeragaman berbau politik-budaya?
Terima kasih.
Itu ada dalam pembahasan hubungan antar kebebasan dan memang akan terus menghasilkan konflik, "Neraka adalah orang lain" . Namun, Sarte juga berpendapat kebebasan orang lain bisa memberi dukungan terhadap kebebasan.
BalasHapusBetul, kalau diterapkan, penyeragaman yang mengakibatkan orang menjadi terpaksa untuk memilih karena arus utama memilih itu merupakan kecenderungan akan "bad faith/keyakinan buruk" . Keyakinan ini menafikan fakta niscaya bahwa manusia adalah kebebasan.