Politik, Liputan, Humor, Budaya

Kamis, 11 Juli 2013

Membayangkan Kekuasaan : Internet, Kekuasaan, dan Kemenangan Kecil yang Disengaja

Protes WTO di Seattle


Sudah biasa diketahui bahwa kekuasaan saat ini sangat kuat. Pembaca yang budiman sudah tahu ini tanpa saya perlu tulis lebih lanjut. Namun, saya tetap menulis ini guna membayangkan secara maksimal seberapa kuat kuasa ini agar kita tidak termakan mitos-mitos, yang nanti akan saya bahas lebih lanjut.
Pengertian kekuasaan adalah upaya pemaksaan atau mengendalikan. Seperti kita berkuasa atas kendaraan kita, kita dapat mengendalikan kendaraan kita dengan gampangnya. Namun, kata kekuasaan dalam esai ini akan lebih mengacu pada kekuasaan golongan elit atas manusia kebanyakan, termasuk pembaca sendiri dan saya. Elit di suatu negara, katakanlah Amerika, menguasai elit di negara lain yang secara kekuasaan politik menjadi jajahan mereka, seperti elit Indonesia tercinta dikuasai elit Amerika. Dan elit Indonesia menjajah rakyatnya. Jadi SBY cuman boneka dari boneka-nya boneka. Dan kekuasaan tertinggi mungkin dipegan sekelompok orang, bukan satu dua orang, sehingga dapat berjalan lebih efektif. Saya pikir kekuasaan mereka lebih kuat daripada yang dibayangkan, termasuk yang saya coba bayangkan sekarang.

Kekuasaan dan Peluncuran Internet

Mari kita lihat kasus internet. Dahulu internet pertama digunakan militer Amerika. Susah dibayangkan waktu itu, bahwa satu komputer bisa terhubung dengan komputer lain tanpa menggunakan kabel. Dan jejaringnya dapat sebegitu luasnya! Perlu diingat bahwa militer adalah alat kekuasaan yang dibenarkan memakai kekerasan untuk membuat orang yang dikuasai tunduk. Suatu ketika, militer meluncurkan internet untuk masyarakat umum. Internet, sebagai alat melaksanakan kekuasaan, adalah senjata untuk bekerja lebih efektif dan kenapa dilepas ke masyarakat umum? Masayarakat umum notabene adalah golongan yang dikuasai oleh mereka? Pikrian saya membayangkan mereka bukanlah orang2 bodoh yang melepaskan senjatanya pada orang2 yang dikuasai agar yang dikuasai dapat melawan.
Dengan kata lain, mereka saya yakin, saat meluncurkan internet untuk masyarakat umum telah menciptakan senjata yang lebih ampuh dari internet, yang jelas tidak akan diluncurkan untuk umum hingga mereka telah menemukan senjata yang lebih mutakhir lagi. Tentu membayangkan ini sama mustahilnya dengan mereka yang dulu coba membayangkan internet.

Nyatanya, coba kita ketik di youtube.com, kata “facebook” dan “CIA.” Akan muncul beberapa video yang menceritakan bagaimana facebook sengaja dibentuk CIA untuk mengawasi warga negara. Hasilnya, setiap yang tertulis di FB dapat diterjemahkan dan digunakan untuk kepentingan negara (kata yang memperhalus kepentingan penguasa). CIA dapat mengawasi berapa persen yang memiliki pandangan politik ini dan itu tanpa repot2..wah..wah..benar2 efektif ni.

Perlawanan, Kemenangan, dan Kesengajaan
Seorang teman pemikir mengatakan, kekuasaan agar lebih efektif berjalan adalah dengan mencaplok perlawanan-perlawanan terhadap kekuasaan itu. Cara lainya adalah membagi-bagi kekuasaan, sehingga orang2 merasa mereka turut memiliki kekuasaan (menjadi subyek kekuasaan). Yah, memang berkuasa, tapi sedikit saja. Seemprit agar terlena pada kekuasaan yang lebih lagi, lebih ganas, lebih besar, dan lebih sadis! Kekuasaan semu seperti inilah yang menurut saya ada pada yang memberontak. Niat memberontak memang memberontak, tapi caranya telah dibelotkan oleh kekuasaan. Caranya?
Kembali ke kasus internet lagi. Setelah diluncurkan, internet dianggap sebagai kesalahan dan kekalahan kaum penguasa. “Kesalahan” karena media internet sangat anarkistis, tidak dapat disensor, murah dan egaliter. Anarkistis dan tidak dapat disensor mengakibatkan segala informasi dapat dimasukan dan diunduh siapa saja. Informasi-informasi yang dianggap subversif atau memberontak-pun dapat masuk tanpa disensor. Murah karena tanpa biaya cetak sehingga yang tak punya duit untuk menyampaikan idenyapun dapat menyampaikanya. Egaliter atau setara karena setiap orang, baik amatir atau profesional atau siapapun juga, dapat membaca dan menaruh di internet tanpa ada diskriminasi.
Menurut yang memendaku ini adalah “kesalahan” penguasa mereka memberi contoh kasus reformasi 1998 di Indonesia dan Seattle di Amrik. Salah satu penyebab penting keberhasilan gerakan mahasiswa di tahun 1998 adalah internet. Maklum, informasi mayoritas dikendalikan (a)Soe Harto. Di Seattle salah satu kota di Amrik, pernah ada konferensi WTO tahun 1999. Aktifis2 berkumpul dan menggagalkan penundaan agenda WTO karena dianggap hanya menguntungkan penguasa dan bukan rakyat. Demikianlah contoh “keberhasilan” internet.

Sayangnya, apakah setelah peristiwa di atas kekuasaan semakin melemah? Tidak, saya pikir justru sebaliknya. Di Indonesia, rontoknya Soeharto justru menjadikan kekuasaan berjalan semakin efektif saja menindas (kecuali jaman Gus Dur mungkin). Ekspresi kekuasaan gaya Soeharto yang menindas dengan represi dan terlalu menumpuk pada satu sosok telah berganit. Rezim SBY dan demokratnya tidak lagi menggunakan represi untuk menindas, tapi telah beralih ke manipulasi, termasuk salah satunya media dan pembentukan peraturan perundang-undangan. Akibatnya, kekuasaan semakin elegan dan kokoh saja. Lalu Seattle, mereka hanya menunda itu konferensi WTO.

Saya membayangkan skenarion penguasa lewat internet sebagai berikut. Mereka mengerti ada gejolak, energi, dan hasrat kebencian terhadap kekuasaan mereka, termasuk sistem2nya dan kemiskinan sebagai akibatnya. Jadi, penguasa melepas internet agar gejolak, energi, dan hasrat tersebut seolah-olah semakin terfasilitasi. Ruang “melawan” kekuasaan semakin luas. Saya membayangkan yang terjadi, lagi2, adalah sebaliknya. Alih2 melawan, gejolak, energi, dan hasrat melawan kekuasaan telah diantisipasi dan dicaplok kekuasaan itu sendiri. Yang berkuasa membiarkan saja mereka berkoar-koar di internet dan saya membayangkan ada agen-agen khusus yang mengawasi mereka di dunia maya. Jika polisi cyber saja ada, kenapa agen intelijen cyber yang mendukung penguasa tidak mungkin ada? Singkatnya, internet telah menyalurkan gejolak, energi dan hasrat pemberontakan mereka. Agar para pemberontak terus berharap, diberilah keberhasilan-keberhasilan2 kecil seperti reformasi 1998 dan Seattle 1999. Dengan demikian, pemberontak merasa tidak sia2. Pemberontak telah diberi kekuasaan sedikit dan menjadi subyek kecil kekuasaan. Akibatnya energi mereka tersalurkan, tapi toh tetap dalam ranah aman, dalam artian tidak mengganggu kekuasaan.Saya membayangkan mereka, para penguasa, paling tidak telah selangkah lebih maju daripada pemberontaknya. Kalau kata teman saya di angkringan, perlawanan pemberontak diberi saluran, bukanya direpresi, tapi tetap saja sia2. Kata mas Puthut, segala yang ada di internet bahkan bisa diakses di Pentagon. Bayangkan jenderal yang sedang asiknya minum kopi lalu mengamati gerakan-gerakan anti-kekuasaan sambil tersenyum kecil dan begumam, “hah, kalian ini, baru diciprati kekuasaan segitu saja merasa bisa mengalahkan kami. Ndak tahu siapa kami ya?ha..ha..”.

Yang saya tulis, bahas, dan bayangkan ada pada ranah internet. Namun, pikiran saya tidak dapat mencegah saya untuk membayangkan kekuasaan bekerja dengan pola yang sama di berbagai bidang. Ambil contoh kasus gerakan Zapatista di Mexico. Mereka berhasil menyatukan penduduk asli setempat dan dengan senjata menguasai tanah di Chiavas. Merekapun dapat hidup tanpa kekuasaan sang penguasa yang besar, seperti Amerika dan kapitalis Mexico pada khususnya. Hampir semua gerakan anti-kapitalis bertempik ria saat mereka menang dan mendapat “seciprit” kekuasaan. Maka dari itu, gerakan anti-kapitalis mendapatkan harapanya kembali setelah keruntuhan komunisme Soviet yang anti-kapitalis. Kapitalisme di sini adalah penguasa yang saya maksud. Akibatnya, perlawanan-perlawanan terhadap penguasa tetap tersalurkan. Saya membayangkan ini memang mereka atur karena dengan represi, mungkin saja akan mengancam kekuasaan mereka suatu ketika jika energi tersebut meledak. Toh mereka tahu, para pemberontak tidak dapat mendapatkan kemengangan besar, apalagi revolusi klasik.

Jadi, perubahan2 dan kemenangan2 kecil adalah segala yang bisa didapatkan pemberontak kekuasaan hingga saat ini. Dan perlu dicatat, bahwa kekuasaan tahu dan membiarkan dengan sengaja kemenangan2 tersebut. Mungkin juga Kuba, Venezuela, Iran, dan Bolivia sedang dibiarkan sedikit berkuasa. Besok mungkin cerita lain lagi. Bagaimanapun bayangan saya tentang kekuasaan, tidak ada alasan untuk menjadi pesimis. Saya tidak suka, walaupun saya tidak kuasa mencegah, pembaca menjadi pesimis setelah membaca tulisan ini. Memang hanya mungkin kemenangan2 kecil, tapi jika memang hanya sejauh itu yang bisa didapat, kenapa tidak direbut dan kita nikmati? Semaksimal mungkin untuk saat ini adalah yang terbaik dari yang terburuk. Mari kita pikirkan cara berikutnya dengan lebih elegan, jeli, dan kritis jika memang hendak melawan kekuasaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar