Oleh, Guruh Dwi Riyanto, bekerja sebagai jurnalis Kantor Berita Radio68H. Pendapat ini adalah pribadi dan tidak mewakili institusi.
Setiap media memiliki politik redaksi sendiri-sendiri entah disadari
ataupun tidak. Politik redaksi mencerminkan sikap redaksi tersebut
terhadap permasalahan-permasalahan di luar. Politik redaksi ini akan
muncul dalam pemilihan apa yang dianggap penting menjadi permasalahan
untuk diangkat, pemilihan sudut pandang hingga narasumber mana yang
dikutip dan terutama jatah ruang untuk berbicara pada publik. Membaca
Koran Tempo Senin (15/7), politik redaksi itu Koran itu tampaknya
mengarah untuk memberikan kesan positif pada Amerika Serikat.
Pertama, pemberitaan koran tempo pada hari di atas tidak
berimbang dan memberi jatah lebih untuk menyuarakan Amerika Serikat.
Padahal, pasal tiga kode etik jurnalistik menyebutkan, “Wartawan
Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang,
tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan
asas praduga tak bersalah.” Berita berjudul Telepon Putin, Obama
Kembali Minta Snowden Diekstradisi tidak berimbang. Tidak Ada satupun
kutipan atau informasi yang mencerminkan sikap Rusia terhadap
permintaan kedua dari Amerika Serikat. Orang yang dikutip dalam berita
itu adalah Juru Bicara Gedung Putih Jay Carney. Terlebih, kutipan
Carney mendiskreditkan Rusia. Carney menuding Rusia dengan mengatakan,
“Memberikan Sarana propaganda bagi Snowden bertetangan dengan
deklarasi yang disampaikan pemerintah Rusia soal netralitas Rusia”.
Kenapa Koran ini tidak memberi suara bagi Rusia untuk membela diri?
Pembelaan diri bahkan bisa mengutip pernyataan Rusia sebelumnya soal
permintaan pertama AS untuk mengekstradisi Snowden jika koran nasional
ini tidak mampu memperoleh informasi baru. Meskipun tidak kuat nilai
beritanya, pernyataan itu tetaplah pengimban penting. Berita timpang
serupa muncul dalam persoalan Mesir. Dalam berita berjudul Amerika dan
Jerman Desak Pembebasan Mursi, tidak ada satupun informasi yang
mewartakan sikap baik kubu Ikhwanul Muslimin pendukung Mursi maupun
pemerintahan di bawah presiden sementara Adly Mansour atas desakan
Amerika Serikat dan Jerman. Informasi kali ini berasal dari Juru
Bicara Kementerialn Luar Negeri Amerika Serikat Jen Psaki.
Kedua, Berita-berita bahkan yang tidak berkaitan langsung
menyatakan dukungan kepada Amerika Serikat dengan memberi jatah suara
lebih dan menyampingkan, bahkan membungkan suara penentang. Meskipun
berita berjudul Terjebak Pertempuran, Warga Berlindung di Masjid
mengakui campur tangan Amerika Serikat dengan mendukung oposisi, tidak
ada satupun kutipan dari pihak yang disudutkan dalam berita itu,
pemerintahan Bashar al-Assad. Koran ini bahkan mengutip kelompok hak
asasi manusia Suriah yang berbasis di Inggris, “Syrian Obsevatory for
Human Rights, yang menyatakan “warga sipil di Qaboun itu bisa saja
“dibantai oleh tentara Assad.” Lembaga itu dikabarkan memiliki
kredibilitas rendah atau kurang dapat dipercaya sebagai kelompok
pembela HAM yang independen. Kelompok ini mendukung oposisi dan terus
menuding pembantaian warga sipil oleh pemerintahan Assad yang didukung
Iran.( http://www.asianews.it/news-
keduanya saling bertempur. Bahkan, kelompok oposisilah yang dalam
sejumlah peristiwa ketahuan menyerang warga sipil. Mereka bahkan
sempat menculik Uskup Boulos Yzigi dan Uskup John Ibrahim dari Gereja
Ortodox Suriah. ( http://www.guardian.co.uk/
ini membala Bashar al-Ashad karena cemas jika oposisi yang mendapat
dukungan kuat dari kelompok Islam radikial bakal mengeksekusi mereka
ketika nanti oposisi berkuasa. (http://www.cbsnews.com/8301-
Ketiga, Jika dalam pemberitaan saja sangatlah pro-Amerika,
terlebih lagi dalam kolom di luar berita yang tidak menuntut
keseimbangan dari dua pihak yang berkonflik. Dalam terbitan hari itu
juga, muncul wawancara Duta Besar Amerika Serikat Scott Marciel
berjudul AS Ingin Jadi Teman Baik Indonesia dan pendapat berjudul
Kennedy dan Perdamaian Dunia karangan Jeffrey D. Sachs yang merupakan
Guru besar Pembangunan Berkelanjutan, Direktur Earth Institute pada
Colombia Universitiy. Tentu, pembaca Koran belum tentu melakukan
perimbangan informasi tersendiri dan menemukan fakta tandingan. Fakta
itu di antaranya adalah Amerika Serikat mengeksploitasi alam dan pasar
Indonesia untuk kepentingan negara itu. Contoh gamblang adalah
pengoperasian tambang Freeport di Papua. Selain itu, Kennedy mungkin
membuat langkah maju berarti dalam upaya perdamaian Soviet-AS seperti
ditulis. Namun, Keneddy tetap memberi bantuan pada Vietnam Selatan
yang berarti terus melanggengkan perang. Keneddy bahkan meningkatkan
tentara AS di Vietnam hingga mencapai 16 ribu. 4 Peningkatan jumlah
pasukan tentu bukanlah langkah perdamaian sama sekali. (http://usatoday30.usatoday.
Tulisan ini memang sekedar membahas tulisan-tulisan yang
diterbitkan Koran Tempo hari ini, diperlukan penelitian secara lebih
luas untuk menarik kesimpulan lebih kuat. Namun, menjadi ironis ketika
pandangan timpang ini muncul di koran yang notabene memiliki ruang dan
waktu penulisan lebih untuk bisa lebih berimbang. Beberapa artikel
memang sempat saya baca mengkritik pemerintah AS, seperti dalam kasus
penggunaan pesawat tanpa awak atau Drone di Pakistan yang menewaskan
warga sipil. Namun, berita-berita ini, jika ada penelitian lebih
lanjut soal media ini secara lebih menyeluruh, saya perkirakan
jumlahnya relatif kecil ketimbang yang mencitrakan Amerika Serikat
secara positif.
Referensi
http://www.asianews.it/news-
artikel berjudul Massacres by Islamic extremists bolster Bashar
al-Assad teakhir diakses 15 Juli 2013
http://www.guardian.co.uk/
artikel berjudul Syria crisis: Aleppo bishops kidnapped - Tuesday 23
April terakhir diakses 15 Juli 2013
http://www.cbsnews.com/8301-
Syria's Assad cultivates support from minorities terakhir diakses 15
Juli 2013
. http://usatoday30.usatoday.
50 years after win, Kennedy's legacy endures terakhir diakses 15 Juli
2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar