Pertama diterbitkan di web April 16, 2010 at 1:51pm
Sekitar dua tahun yang lalu, ada seorang teman perempuan dari UNY mengirim pesan pendek pada saya. Dia menanyakan apakah ada teman saya di Sanata Dharma yang suka dan mendalami teori feminisme? Setelah berpikir sejenak, saya jawab bahwa sejauh saya hanya ada dosen yang mendalaminya dan enak diajak ngobrol, itupun di S2. Teman saya? Tidak ada. Ada memang yang menjadi aktifis feminis dan terjun mendampingi perempuan2 tertindas. Ada lagi yang mengetahui feminisme, tapi hanya sedikit saja, dia lebih asik mendalami aliran teori lain. Para pria? Belum ada juga, yah, rata2 tahu sedikit2 saja. Singkatnya, walaupun banyak teman perempuan saya, baik di pers mahasiswa maupun komunitas2 diskusi, sani, dan sastra yang menyukai teori, belum ada yang khusus mendalami feminisme.
Feminisme? Apakah ini hanya sesedarhanya pembebasan perempuan dari penjajahan pria dalam budaya patriarkis? “intinya ya menuntut kesetaraan gender?” katanya. Namun, saya pikir tidak sesederhana itu. Sebagian besar feminisme memang mengkritik budaya patriarkis, budaya yang dirancang demi keuntungan dan dominasi pria atas perempuan. Namun, ada banyak rincian di dalamnya yang perlu diperdalam dan banyak masalah yang perlu dipecahkan. Sebagian besar feminisme membedakan apa yang disebut kelamin budaya dan kelamin biologis. Namun, apakah semua perempuan di semua budaya memiliki sejarah dan gaya penindasan yang sama sehingga dapat tersusun persaudaraan perempuan di seluruh dunia? Para feminist pasca-kolonialisme menolaknya. Mereka beranggap tidak ada. Ada pengalaman penjajahan yang menjadikan para perempuan negara terjajah menghadapi dua kali penindasan, oleh kolonialisme dan para pria. Lorde, seperti dikutip Minn-Ha, mengatakan “senjata para tuan tidak akan membuka pertahanan tuan itu sendiri”(pg.264 Postcolonial Studies Reader) Maka dari itu Minn-Haa mengajak pembaca untuk tidak memakai senjata teori feminisme Eropa dan Amerika tapi meracik sendiri teori yang sesuai dengan keadaanya. Menggunakan senjata feminis yang salah justru akan melukai sendiri. Contoh kedua, apakah dalam masyarakat modern kapitalistis perempuan lebih bebas? Atau malah semakin terjerat karena menjadi obyek dalam ikon2 iklan industri? Contah lain lagi, jika tubuh adalah hak para perempuan, apakah aborsi diperbolehkan? Hak bayi atau perempuan yang harus didahulukan? Feminisme tentu saja adalah teori yang kompleks dan perlu keseriusan dan ketekunan untuk mempelajarinya.
Setelah dua tahun berlalu, menurut saya keadaan tidak jauh berbeda. Saya belum menemukan satu orangpun yang serius mengkaji teks-teks feminis. Apa gunanya hanya belajar berteori saja? Tentu teori sangatlah penting, perubahan terhadap dunia tidaklah mungkin terjadi tanpa adanya sudut pandang lain dan konsep alternatif tentang dunia yang lebih baik. Memang menjadi aktifis adalah perjuangan, namun menjadi teoritikus jugalah perjuangan. Dua tahun? Dan keadaan sama sekali belum berubah.
Apakah penindasan yang dialami teman2 perempuan saya tidak cukup pedih sehingga tidak menjadi motor bagi mereka untuk belajar feminisme? Saya pikir sangatlah pedih, terutama di Yogyakarta tempat feodalisme kraton masih menyisakan budayanya kuat di masyarkat. Kos-kosan untuk teman2 perempuan banyak yang tutup jam sembilan Malam. Alhasil, kebebasan untuk mengatur diri mereka sendiri tidak ada pada mereka. Sedangkan kos laki-laki hampir tidak ada yang memiliki jam malam. Anda bisa berdalih telah memilih kos yang ini karena inilah yang terbaik. Namun, saya pikir Anda sangatlah layak mendapatkan kebebasan lebih dan mengatur hidup Anda sendiri. Industri menerapkan standard ketat bahwa perempuan cantik haruslah berambut lurus, berkulit putih dan halus, serta bertubuh langsing. Akibatnya, banyak pria juga termakan standard tersebut. Naasnya, perempuan2 dengan senang hati merelakan dirinya sengsara untuk kepuasan sang pria. Dia harus banyak berkorban untuk memnuhi standard2 industri tersebut perihal kecantikan. Perempuan memiliki intimidasi sosial yang lebih kuat daripada yang ditimpakan pada laki-laki.
Masih terheran-heran benak saya melihat hampir belum ada teman yang dengan gigih menguak penjajahan patriarkis. Memang sejak kecil budaya membangun bahwa perempuan yang baik adalah mereka yang pasif, tidak agresif, menerima, pasrahan, lemah, dan manja. Sedangkan pria yang baik adalah mereka yang aktif, agresif, berinisiatif, memberi, kuat, dan selalu melindungi. Sejak kecil para perempuan dipaksa menerima kelamin sosial tersebut sebagi hasrat alamiah dan kodrati sehingga mereka harus rela berada di bawah pria. Namun, setalah mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, dan terutama wacana yang didapat dari buku2, saya masih merasa wacana2 feminsi belumlah berekembang di antara mereka. Bukankah setelah menyadari bangunan sosial yang menindas itu, justru mereka sangatlah berkesempatan merubah. Namun, di mana para feminis yang cukup serius? Apakah mental mereka telah terbentuk dan tidak gampang merubahnya? Bukankah ini justru tantangan yang seharusnya dijawab. Perempuan paling serius mengkaji feminis yang saya temui, seorang anak UNY, bahkan tidak mau menyebut dirinya feminis. “terlalu berat” katanya.
Tulisan ini sekedar mempertanyakan ke mana para feminis? Memang feminist tidak harus perempuan karena ini merupakan posisi politis yang menolak patriarkis. Namun, saya berpendapat bahwa seharusnya perempuan, sebagai kaum yang tertindas, adalah garda depan kebangkitan melawan dominasi pria.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar