KBR68H- Raden Ahmad Kosasih telah berpulang.
Hampir separuh hidupnya habis untuk menggambar. Karyanya yang paling legendaris
adalah epos Mahabarata dan Ramayana. Berikut sekelumit kisah hidup Bapak Komik
Indonesia itu dimata pengagum dan keluarganya.
KBR68H menyambangi rumah duka Kosasih di
kawasan Tangerang, Banten. Anak almarhum,
Yudowati Ambiyana dan sang cucu Adinendra
menyambut kedatangan tamunya. Adinendra membuka perbincangan tentang pemakaman sang
kakek pada 24 Juli lalu. Sejumlah pejabat negara seperti Wakil Presiden
Boediono ikut mengirimkan bunga duka cita.
“
Banyak
ya, tidak bisa dihitung. kira-kira dari ujung gang sampai empat rumah, sebagian
lagi di luar. Sampai macet jalan utama. Menteri-menteri itu waktu masa kecil
suka baca komik pak Kosasih. Boediono di depan, Menteri Pariwisata mengirim
bunga, kaget juga, apakah ini tidak salah?,” katanya heran.
Kosasih yang berdarah biru ini
dilahirkan 93 tahun silam di Bogor, Jawa Barat. Sejumlah karya komiknya mengangkat kisah
pewayangan. Seperti Mahabrata dan Ramayana. Minatnya itu terpengaruh hobi menyaksikan wayang golek.
Awal karir Kosasih muda dimulai 1939. Kata
Yudowati ayahnya saat itu bekerja sebagai
juru gambar di Departemen Pertanian Bogor. “Di
pertanian, dia bagian nggambar, binatang-binatang ulet bulu. Mirip sekali
dengan ulat bulu yang asli,” kenangnya.
Di sela kesibukannya, Kosasih juga
bekerja sebagai pelukis komik di harian Pedoman Bandung. Singkat cerita pada 1953, Kosasih melamar pekerjaan sebagai pembuat buku komik pertama
penerbit Melodi, Bandung. Ditahun yang sama komik serial pertamanya
diluncurkan. Tokoh utamanya adalah wanita superhero: Sri Asih. Pendiri Komunitas
Komik Indonesia Andy Wijaya menceritakan.,”Dulu
komik itu biasanya komik strip,dulu ada Koran Sin PO, Ko wangi bikin komik strip.,
Tapi, di tahun 54, Melodi menerbitkan komik kompilasi dalam bentuk buku, bukan
koran. Jadi dalam satu buku, ada beberapa cerita habis. Di situ ada cerita Sri
Asih, karya Kosasih. Itulah yang kita sebut buku komik, karena semuanya komik.
Beda dengan Koran.”
Konsisten
Berkarya
Kosasih mendapat gagasan untuk
menggambar komik wayang. Tapi, gagasan itu ditolak penerbitnya. Penolakan itu
tidak membuatnya putus asa. Ia mencoba mengomikkan kisah wayang “Burisrawa
Merindukan Bulan”. Laku keras. Reaksi pasar yang baik mendorong Kosasih
mengembangkan ide-ide komik wayang, dari kisah-kisah klasik Mahabharata dan
Ramayana.
Karena kiprahnya itu Andy Wijaya sangat
kagum kepada sahabatnya tersebut. “Karyanya
fenomenal untuk Ramayana, Mahabarata dan Baratayuda. Kiprahnya di dunia komik
juga sangat lama. Dari tahun 1954 ketika berusia 34 atau 35 hingga ia berusia
lebih 60 tahun tetap berkarya dan konsisten. Di mana orang-orang sudah banyak
yang jadi advertising atau free lance, dia tetap di komik,” kata Andi.
Permintaan melukis komik semakin
meningkat, pada 1955. Kosasih akhirnya
memutuskan berhenti dari pekerjaannya di Departemen Pertanian. Dari pekerjaannya sebagai komikus, penghasilan
Kosasih ikut melonjak. Ia bisa membeli rumah dan sebuah kendaraan mewah, Harley Davidson.
Komikus gaek Mansyur Daman menilai
komik wayang Kosasih mampu
menyaingi komik-komik asing seperti Flash Gordon dan Super Woman. Komik dari
mancanegara itu menjamur pada dekade 60-an. “Banyak di pasaran. Beli. Jajanan saya dulu komik, mudah sekali
mendapatkan komik-komik itu, 250 perak ketika duit seribu belum jadi satu
rupiah. Kita bisa beli 3 buku. Tidak tebal komiknya, paling hanya 64 halaman,”
terang Mansyur.
Hingga kini sebagian karya komik Kosasih
masih bisa dinikmati. Karyanya dikagumi para komikus muda.
Komikus
Piawai
“Jualan di sini sejak
kapan, tahun 1985 masih banyak yang cari RA.Kosasih, masih banyak. dari pertama
saya buka juga banyak yang nyari. Kalau saya dapat pasti saya simpan. karena
saya tahu ini buku lokal tapi paling laku. Tidak perlu dipajang akan dicari.
Walaupun sampulnya lecek pasti dicari,” kata Udin,
penjual buku bekas di kawasan Pasar
Minggu, Jakarta Selatan. Ia senang bila ada yang menjual buku komik
besutan komikus Raden Ahmad Kosasih. Menurutnya, hingga kini, serial komik wayang
Ramayana dan Mahabarata laris diburu penggemarnya.
Kosasih mulai intens menekuni komik epos
pewayangan Hindu tersebut sejak keluar sebagai juru gambar di Departemen
Pertanian, Bogor pada 1955, terang komikus senior Mansyur Daman. Bagi Mansyur, Kosasih adalah komikus yang
piawai.
“Kecerdasan
almarhum, bisa mengubah wayang menjadi komik. Sebelum itu belum ada. Siapa yang
mau bikin karena ceritanya panjang dan tokohnya banyak? Tidak kepikiran.
Tokohnya satu peti. Dan almarhum bikinnya sampai tamat. Walaupun ada yang
dikorbakan adegannya, tetap enak dibaca,” beber Mansyur.
Pembaca yang tak pernah menikmati wayang
sekalipun akan mudah mencernanya setelah menyimak ilustrasi dan naskah yang
disajikan komik Kosasih, kata komikus muda Suryo Nugroho. “Saya kenal wayang tapi nggak
tahu. Dengan komik itu saya jadi tahu, tentang wayang, oh begini, adegan ia
berguru, belajar ilmu, akhirnya ia mempraktekan ilmu untuk masyarakat. Kadang
berantem. berantemnya seru juga. Gambarnya realis, kalau cowok ganteng kalau
cewek cantik,” jelasnya.
Kesan serupa disampaikan illustrator
Beng Rahadian, “Pak Kosasih merupakan salah satu versi. Versi mana nih? Versi kosasih.
Bisa disebut, jadi pakem. Ada beberapa kekhasan. Seperti Gatot Kaca tidak lagi
jelek, tapi ganteng. Dia menghilangkan Drupadi yang punya lima suami menjadi
monogamy. Kehebatan pak kosasih, kalau
menurut Seno Gumira, dulu wayang itu dituturkan dengan bahasa daerah, Sunda,
Jawa dan Bali. Sejak Pak Kosasih bikin komik dan selesai, wayang jadi
menasional karena bahasanya bahasa Indonesia. Kan belum ada wayang dalam bahasa
Indonesia, sebelumnya bahasa daerah.”
Meski demikian Program Manajer Akademi
Samali itu menilai sebagai manusia Kosasih tak luput dari kekurangan. Ia
komikus yang kurang memperhatikan rincian gambar.
“Dan
dia juga tidak memperhatikan rincian. Kalau kita memperhatikan, senjata dan
kereta kuda gambaran dia malah lebih dekat dengan romawi. Itu yang dia tonton
film-filmnya, Jadi itu yang dia tonton waktu itu. Jadi acuannya itu. Ketika itu
tidak ada referensi India seperti apa. Jadi bener-bener bayangan dia aja. Tapi,
ya, akhirnya kita tidak pedul itu. Yang penting cerita,” jelas Beng.
Solidaritas
Komikus
Pada 1990-an sakit memaksa RA.Kosasih berhenti berkarya,
kata pendiri Komik Indonesia Andy Wijaya,“Memang
dia tangannya gemetar, awal 1990an dan itu komik sudah terpuruk. Hilang,
sayangnya begitu.”
Sang anak, Yudowati mengenang jika perayaan ulang tahun dihelat, sahabat-sahabat
Kosasih datang berkumpul. “Kalau dirayakan, ulang tahun selalu
dirayakan, dari teman-teman Andy, Komik Indonesia, kalau dirayakan, “selamat
panjang” dia hentikan. Sudah, sudah. Saya sudah terlalu panjang, buat kalian
saja.
Di usia senjanya, para komikus muda setia mendampingi Kosasih saat berada di rumah
sakit. Mereka bergiliran menjaga sang maestro saat dirawat di rumah sakit.
Salah satu yang tekun merawat adalah komikus muda Suryo Nugroho “Alasannya, saya merasa dibesarkan lewat
komik juga. Saya jadi tahu komik dari kecil dan sudah merasa dekat dengan
karya-karya beliau. Ketika kenal, punya kebanggan sendiri. Dan ada kesempatan
untuk lebih akrab lagi, saya menjaga beliau di rumah sakit. Seperti nyuapin,”
kenangnya.
Para pengagum Kosasih menggalang dana
untuk meringankan beban keluarga. Sahabat Kosasih Andy Wijaya menuturkan,”Dia sakitnya sering. Dan setelah
keluar rumah sakit ada biaya perawatan. Setiap bulan butuh 2-3 juta, itu obat
saja. Sakit jantung dan paruparu. Kita berusaha terbitin komiknya lagi. Kita
juga pasang pengumuman untuk menggalang dana. untung juga ada media yang
meliput.”
Pada 24 Juli 2012 dini hari, serangan jantung menyerang Kosasih. Ia
menghembuskan napas terakhirnya. Sebagai penghormatan, Akademi Samali pernah
menggelar Kosasih Award pada 2007. Akademi ini juga berencana mengabadikan nama RA.Kosasih dalam
kegiatan lain.Kembali komikus Beng Rahadian menuturkan,”Mungkin nanti kita akan buat kegiatan dengan nama beliau, yang komik
dan sifatnya non-profit. Kita sudah pernah buat, kosasih award, kita
mengumpulkan komik untuk dijuri. Mungkin per kegiatan tapi regular, entah itu
awardya kita terusin atau apalah, yang sifatnya belajar mengajar.”
Sepeninggal Kosasih, komikus di Koran
Tempo itu berharap, kejayaan komik Indonesia kembali bangkit. Beng bersama komunitas komik di penjuru tanah air tengah memperjuangkan cita-cita itu.
“Yang
paling penting dampanya untuk
masayrakat. Pertama, terdokumentasi konten. Kedua, kita punya ciri produksi
yang khas. Itu ciri kebudayaan. Bangsa kita ini mikir, bisa. Bukan masalah
teknis, tapi, bagaiman amemanfaatkan medium ini sebagai alat. Kita ingin mereka
, apa yang mereka lakukan untu. Paradigma kita akan beda dengan cara orang
barat menuturkan sebuah kisah. Kita ingin Paradigma kita akan beda dengan
disbanding oran barat mengisahkan suatu cerita,” pungkas Beng.
Meski telah wafat, semoga karya Kosasih
tetap hidup. Dibaca dan dinikmati generasi muda kapanpun jua. Selamat jalan Bapak Komik Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar