Politik, Liputan, Humor, Budaya

Rabu, 10 Juli 2013

Kisah Kosasih, Bapak Komik Indonesia

 


KBR68H- Raden Ahmad Kosasih telah berpulang. Hampir separuh hidupnya habis untuk menggambar. Karyanya yang paling legendaris adalah epos Mahabarata dan Ramayana. Berikut sekelumit kisah hidup Bapak Komik Indonesia itu dimata pengagum dan keluarganya.   

KBR68H menyambangi rumah duka Kosasih di kawasan Tangerang, Banten. Anak almarhum,  Yudowati Ambiyana dan  sang cucu Adinendra menyambut kedatangan tamunya. Adinendra membuka perbincangan tentang pemakaman sang kakek pada 24 Juli lalu. Sejumlah pejabat negara seperti Wakil Presiden Boediono ikut mengirimkan bunga duka cita.  

Banyak ya, tidak bisa dihitung. kira-kira dari ujung gang sampai empat rumah, sebagian lagi di luar. Sampai macet jalan utama. Menteri-menteri itu waktu masa kecil suka baca komik pak Kosasih. Boediono di depan, Menteri Pariwisata mengirim bunga, kaget juga, apakah ini tidak salah?,” katanya heran. 

Kosasih yang berdarah biru ini dilahirkan 93 tahun silam di Bogor, Jawa Barat.  Sejumlah karya komiknya mengangkat kisah pewayangan. Seperti Mahabrata dan Ramayana. Minatnya itu terpengaruh  hobi menyaksikan wayang golek. 

Awal karir Kosasih muda dimulai 1939. Kata Yudowati  ayahnya saat itu bekerja sebagai juru gambar di Departemen Pertanian Bogor. “Di pertanian, dia bagian nggambar, binatang-binatang ulet bulu. Mirip sekali dengan ulat bulu yang asli,” kenangnya. 

Di sela kesibukannya, Kosasih juga bekerja sebagai pelukis komik di harian Pedoman Bandung. Singkat cerita  pada 1953, Kosasih  melamar pekerjaan sebagai pembuat buku komik pertama penerbit Melodi, Bandung. Ditahun yang sama komik serial pertamanya diluncurkan. Tokoh utamanya adalah wanita superhero: Sri Asih. Pendiri Komunitas Komik Indonesia Andy Wijaya menceritakan.,”Dulu komik itu biasanya komik strip,dulu ada Koran Sin PO, Ko wangi bikin komik strip., Tapi, di tahun 54, Melodi menerbitkan komik kompilasi dalam bentuk buku, bukan koran. Jadi dalam satu buku, ada beberapa cerita habis. Di situ ada cerita Sri Asih, karya Kosasih. Itulah yang kita sebut buku komik, karena semuanya komik. Beda dengan Koran.”

Konsisten Berkarya
Kosasih mendapat gagasan untuk menggambar komik wayang. Tapi, gagasan itu ditolak penerbitnya. Penolakan itu tidak membuatnya putus asa. Ia mencoba mengomikkan kisah wayang “Burisrawa Merindukan Bulan”. Laku keras. Reaksi pasar yang baik mendorong Kosasih mengembangkan ide-ide komik wayang, dari kisah-kisah klasik Mahabharata dan Ramayana. 

Karena kiprahnya itu Andy Wijaya sangat kagum kepada sahabatnya tersebut. “Karyanya fenomenal untuk Ramayana, Mahabarata dan Baratayuda. Kiprahnya di dunia komik juga sangat lama. Dari tahun 1954 ketika berusia 34 atau 35 hingga ia berusia lebih 60 tahun tetap berkarya dan konsisten. Di mana orang-orang sudah banyak yang jadi advertising atau free lance, dia tetap di komik,” kata Andi. 

Permintaan melukis komik semakin meningkat, pada 1955.  Kosasih akhirnya memutuskan berhenti dari pekerjaannya di Departemen Pertanian.  Dari pekerjaannya sebagai komikus, penghasilan Kosasih ikut melonjak. Ia bisa membeli rumah dan sebuah kendaraan mewah,  Harley Davidson.

Komikus gaek Mansyur Daman  menilai  komik wayang  Kosasih mampu menyaingi komik-komik asing seperti Flash Gordon dan Super Woman. Komik dari mancanegara itu menjamur pada dekade 60-an. “Banyak di pasaran. Beli. Jajanan saya dulu komik, mudah sekali mendapatkan komik-komik itu, 250 perak ketika duit seribu belum jadi satu rupiah. Kita bisa beli 3 buku. Tidak tebal komiknya, paling hanya 64 halaman,” terang Mansyur.
Hingga kini sebagian karya komik Kosasih masih bisa dinikmati. Karyanya dikagumi para komikus muda.

Komikus Piawai
Jualan di sini sejak kapan, tahun 1985 masih banyak yang cari RA.Kosasih, masih banyak. dari pertama saya buka juga banyak yang nyari. Kalau saya dapat pasti saya simpan. karena saya tahu ini buku lokal tapi paling laku. Tidak perlu dipajang akan dicari. Walaupun sampulnya lecek pasti dicari,” kata Udin,  penjual buku bekas di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Ia senang bila ada yang menjual buku komik besutan  komikus Raden Ahmad  Kosasih.  Menurutnya, hingga kini, serial komik wayang Ramayana dan Mahabarata laris diburu penggemarnya. 

Kosasih mulai intens menekuni komik epos pewayangan Hindu tersebut sejak keluar sebagai juru gambar di Departemen Pertanian, Bogor pada 1955, terang komikus senior Mansyur Daman.  Bagi Mansyur, Kosasih adalah komikus yang piawai.  

“Kecerdasan almarhum, bisa mengubah wayang menjadi komik. Sebelum itu belum ada. Siapa yang mau bikin karena ceritanya panjang dan tokohnya banyak? Tidak kepikiran. Tokohnya satu peti. Dan almarhum bikinnya sampai tamat. Walaupun ada yang dikorbakan adegannya, tetap enak dibaca,” beber Mansyur.  

Pembaca yang tak pernah menikmati wayang sekalipun akan mudah mencernanya setelah menyimak ilustrasi dan naskah yang disajikan komik Kosasih, kata komikus muda Suryo Nugroho. “Saya  kenal wayang tapi nggak tahu. Dengan komik itu saya jadi tahu, tentang wayang, oh begini, adegan ia berguru, belajar ilmu, akhirnya ia mempraktekan ilmu untuk masyarakat. Kadang berantem. berantemnya seru juga. Gambarnya realis, kalau cowok ganteng kalau cewek cantik,” jelasnya. 

Kesan serupa disampaikan illustrator Beng Rahadian,  Pak Kosasih merupakan salah satu versi. Versi mana nih? Versi kosasih. Bisa disebut, jadi pakem. Ada beberapa kekhasan. Seperti Gatot Kaca tidak lagi jelek, tapi ganteng. Dia menghilangkan Drupadi yang punya lima suami menjadi monogamy.  Kehebatan pak kosasih, kalau menurut Seno Gumira, dulu wayang itu dituturkan dengan bahasa daerah, Sunda, Jawa dan Bali. Sejak Pak Kosasih bikin komik dan selesai, wayang jadi menasional karena bahasanya bahasa Indonesia. Kan belum ada wayang dalam bahasa Indonesia, sebelumnya bahasa daerah.” 

Meski demikian Program Manajer Akademi Samali itu menilai sebagai manusia Kosasih tak luput dari kekurangan. Ia komikus yang kurang memperhatikan rincian gambar. 

“Dan dia juga tidak memperhatikan rincian. Kalau kita memperhatikan, senjata dan kereta kuda gambaran dia malah lebih dekat dengan romawi. Itu yang dia tonton film-filmnya, Jadi itu yang dia tonton waktu itu. Jadi acuannya itu. Ketika itu tidak ada referensi India seperti apa. Jadi bener-bener bayangan dia aja. Tapi, ya, akhirnya kita tidak pedul itu. Yang penting cerita,” jelas Beng.

Solidaritas Komikus
Pada 1990-an  sakit memaksa RA.Kosasih berhenti berkarya, kata pendiri Komik Indonesia Andy Wijaya,“Memang dia tangannya gemetar, awal 1990an dan itu komik sudah terpuruk. Hilang, sayangnya begitu.”  

Sang anak, Yudowati mengenang  jika perayaan ulang tahun dihelat, sahabat-sahabat Kosasih datang berkumpul.  Kalau dirayakan, ulang tahun selalu dirayakan, dari teman-teman Andy, Komik Indonesia, kalau dirayakan, “selamat panjang” dia hentikan. Sudah, sudah. Saya sudah terlalu panjang, buat kalian saja. 

Di usia senjanya, para komikus muda setia  mendampingi Kosasih saat berada di rumah sakit. Mereka bergiliran menjaga sang maestro saat dirawat di rumah sakit. Salah satu yang tekun merawat adalah komikus muda Suryo Nugroho “Alasannya, saya merasa dibesarkan lewat komik juga. Saya jadi tahu komik dari kecil dan sudah merasa dekat dengan karya-karya beliau. Ketika kenal, punya kebanggan sendiri. Dan ada kesempatan untuk lebih akrab lagi, saya menjaga beliau di rumah sakit. Seperti nyuapin,” kenangnya. 

Para pengagum Kosasih menggalang dana untuk meringankan beban keluarga. Sahabat Kosasih Andy Wijaya menuturkan,”Dia sakitnya sering. Dan setelah keluar rumah sakit ada biaya perawatan. Setiap bulan butuh 2-3 juta, itu obat saja. Sakit jantung dan paruparu. Kita berusaha terbitin komiknya lagi. Kita juga pasang pengumuman untuk menggalang dana. untung juga ada media yang meliput.” 

Pada 24 Juli 2012 dini hari,  serangan jantung menyerang Kosasih. Ia menghembuskan napas terakhirnya. Sebagai penghormatan, Akademi Samali pernah menggelar Kosasih Award pada 2007. Akademi ini juga  berencana mengabadikan nama RA.Kosasih dalam kegiatan lain.Kembali komikus Beng Rahadian menuturkan,”Mungkin nanti kita akan buat kegiatan dengan nama beliau, yang komik dan sifatnya non-profit. Kita sudah pernah buat, kosasih award, kita mengumpulkan komik untuk dijuri. Mungkin per kegiatan tapi regular, entah itu awardya kita terusin atau apalah, yang sifatnya belajar mengajar.”

Sepeninggal Kosasih, komikus di Koran Tempo itu berharap, kejayaan komik Indonesia kembali bangkit.  Beng bersama komunitas komik  di penjuru tanah air tengah  memperjuangkan cita-cita itu. 

“Yang paling  penting dampanya untuk masayrakat. Pertama, terdokumentasi konten. Kedua, kita punya ciri produksi yang khas. Itu ciri kebudayaan. Bangsa kita ini mikir, bisa. Bukan masalah teknis, tapi, bagaiman amemanfaatkan medium ini sebagai alat. Kita ingin mereka , apa yang mereka lakukan untu. Paradigma kita akan beda dengan cara orang barat menuturkan sebuah kisah. Kita ingin Paradigma kita akan beda dengan disbanding oran barat mengisahkan suatu cerita,” pungkas Beng. 

Meski telah wafat, semoga karya Kosasih tetap hidup. Dibaca dan dinikmati generasi muda kapanpun jua.  Selamat jalan Bapak Komik Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar