Politik, Liputan, Humor, Budaya

Rabu, 10 Juli 2013

Restorasi Lewat Djam Malam




Dari sekitar 3300an film yang diproduksi oleh sineas Indonesia sejak 1920-an, hanya seribuan yang terdata di pusat dokumen film Sinematek Indonesia. Sejumlah film rusak, di antaranya karena jamur dan sudah terlalu banyak diputar. Termasuk di dalamnya adalah mahakarya Bapak Film Indonesia Usmar Ismail, Lewat Djam Malam. Film yang dinilai kritikus terbaik di Asia Tenggara pada zamannya menjalani proses restorasi di Bologna, Italia sejak awal tahun. Gagasan ini berawal dari proyek restorasi film Museum Nasional Singapura. Mereka menggandeng Yayasan Konfiden dan Sinematek Indonesia. Kenapa penting melakukan suatu restorasi film? Sebagai peringatan Hari Film Nasional 30 Maret hari ini, berikut laporan yang disusun Reporter KBR68H Guruh Dwi Riyanto. 


Memulihkan Karya Klasik

“Dalam perjuangan aku biasa tidur di tanah saja. Paling-paling hanya tidur di bangku saja. Kini aku tidur di kasur yang putih bersih.”

Itu cuplikan adegan dalam film Lewat Djam Malam. Film ini mengangkat kisah konflik seorang veteran perang kemerdekaan bernama Iskandar. Ia kesulitan beradaptasi di tengah masyarakat, seusai perang.

“Waktu perang sempat mendapatkan sebuah misi yaitu membunuh satu keluarga yang dianggap mata-mata belanda. Dia merasa bersalah karena yang dia bunuh itu sebuah keluarga yang terdiri dari bapak ibu dan sebuah anak. Kesalahan itu terus menghantui dia sampai akhirnya ketahuan bahwa yang ia bunuh bukanlah mata-mata sama Belanda sama sekali. Jadi komandannya mengelabui dia supaya mendapatkan harta benda. Akhirnya ia marah sekali dengan komandannya. Ia mendatangi dan membunuh komandannya. Karena sudah malam dan jam malam itu patroli, tidak boleh ada orang sama sekali di luar. Dan dia tertangkap patroli dan ditembak oleh patroli itu. Mati.”

Lintang Gitomartoyo adalah Asisten Pengembangan Program Yayasan Film Konfiden. Ia ditunjuk menjadi koordinator proyek pemulihan film Lewat Djam Malam.

Ini akan menjadi film klasik pertama yang selesai direstorasi dalam sejarah perfilman Indonesia.   

“Tujuan restorasi mengembalikan film ke kondisi semula. Bukan menambah apapun. Film jaman dulu dari hitam putih ke berwarna, itu bukan restorasi lagi. Kalau prosesnya ada yang lebih dulu, Tiga Dara. Prosesnya di Belanda. Kemaren gara-gara Eropa krisis, belum bisa dilanjutkan sampai sekarang. Mungkin ini jadi film yang selesai direstorasi yang pertama.”   

Pemulihan film ini akan membantu masyarakat memahami sejarah.

“Film merupakan jendela paling enak untuk belajar soal sejarah kita sendiri, apapun, sosial budaya, baju dulu kayak apa sih? Jakarta dulu kayak apa? Dengan gampang bisa kita lihat karena direkam lewat film.”

Tiga lembaga terlibat dalam proyek ini, yaitu Yayasan Film Konfiden, Pusat Dokumentasi Film Sinematek Indonesia, dan Museum Nasional Singapura.

“Dari National Museum of Singapore. Mereka punya program ingin merestorasi film Indonesia untuk rekomendasi film. Lisabona meneruskan pertanyaan ini ke J.B.Kristanto. Menurut J.B.Kristanto ini adalah film terbaik Indonesia sepanjang massa.”

Lisabona Rahman dan J.B.Kristanto adalah pemerhati perfilman dari Yayasan Konfiden.


Karya Pemenang

Film Lewat Djam Malam diproduksi pada 1954 oleh Persatuan film Nasional Indonesia atau Perfini. Rumah produksi ini didirikan oleh Bapak Film Indonesia, Usmar Ismail, sekaligus sutradara film tersebut.

Pada ajang Festival Film Indonesia yang pertama kali tahun 1955, film Lewat Djam Malam menyabet empat piala dari 12 kategori. Bekas Staf Perfini Sundoro.

“Aktor terbaik Alcaff dan aktris terbaik Dahlia. Film Terbaik. Film kebanggan Perfini waktu itu. Film Indonesia yang pertama kali diputar di Metropole, sekarang Megaria, itu Lewat Djam Malam. Dulu bioskop itu ada kelas-kelasnya, film yang bagus masuk metropole.”

Metropole atau sekarang disebut Megaria, adalah salah satu bioskop tua di Jakarta. Bioskop itu masih berdiri hingga sekarang, dengan mempertahankan bangunan gaya Eropa.

Lewat Djam Malam ditulis oleh Asrul Sani. Film ini dibuat untuk mengikuti Festival Film Asia di Jepang pada masa itu. Tak ayal, film ini mendapat pengakuan dunia internasional, kata kritikus film Abduh Azis.

“Dia menyampaikan isu paling kontekstual pada zamannya. Ada soal pembangunan yang baru berjalan, ada soal frustasi-frustasi dari para pejuang. Tapi, ada juga soal manusia sebagai korban pergolakan sejarah pada zamannya. Film ini sangat baik menangkapnya. Dianggap sebagai salah satu film terbaik di Asia Tenggara sepanjang zaman, itu pilihan para kritikus di Asia memang tidak terbantahkan saya kira.” 

Abduh Azis menambahkan, pemulihan Lewat Djam Malam bisa menjadi kontradiksi kondisi perfilman Indonesia sekarang, yang lebih banyak dipenuhi cerita hantu tidak menakutkan atau komedi tidak lucu. 

“Film buruk itu dikerjakan seadanya dengan cerita yang miskin, karakter yang miskin, pendekatan artistik yang miskin, cerita-cerita yang mendangkalkan pemikiran masyarakat. Banyak film baik punya kualitas untuk menghibur. Sayangnya dominasi film-film yang belum baik ini masih cukup besar. Saya kira sudah saatnya ada reflekasi lagi untuk mendorong lahirnya film-film bermutu.”

Proses restorasi film Lewat Djam Malam ternyata tak mudah. Saat tim Konfiden menemukan film itu, kondisi pita film dipenuhi jamur. Bagaimana proses restorasi dilakukan?


Pita Film Diserbu Jamur

Sore itu, di Gedung Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail, Firdaus tengah membersihkan sejumlah pita film. Firdaus adalah karyawan bagian pemeliharaan dan perawatan.

Salah satu tugasnya adalah menjaga suhu dan kelembapan ruangan penyimpanan.
 
“Saya setting suhu 10-12 derajat Celcius. Itu non-stop 24 jam, dengan kelembapan 60. Setiap tiga atau empat bulan harus kita putar (rewind-red), kalau tidak, nanti filmnya akan membatu dan keras. Kalau cuci kita setiap satu tahun. Apalagi film habis dipakai, balik, harus dibersihkan dan dicuci.”

Prosedur yang disebut Firdaus hanyalah syarat minimal perawatan pita film. Untuk keseluruhan, perawatan pita film menelan biaya besar, kata Kepala Sinematek Indonesia Berthy Ibrahim Lindia.

“Sinematek dengan jumlah kopi yang 3 ribu, biaya perawatan film seluloid tidak kurang dari 125 juta per bulan. Karena harga obatnya di atas 100 ribu per liter untuk membersihkan. Satu film, kalau pakai mesin, butuh 2 liter. Baru obatnya saja. Belum alat-alat yang lainnya.”

Berthy menambahkan, perawatan pita film jadi lebih sulit karena kesalahanpahaman sejumlah produser terkait proses penyimpanan film.

“Para produser selalu simpan filmnya di sini setelah keliling diputar di mana-mana. Mestinya, film itu, satu kopi, dikasih ke sini. Itu sesuai Undang-undang No. 4/1990 yang tidak pernah berjalan sampai sekarang.”

Undang-undang yang dimaksud Berthy mengatur tentang penyerahan karya cetak dan karya rekam untuk disimpan dalam arsip negara.

Setelah mendapatkan pita Lewat Djam Malam, tim restorasi mengirim pita film itu ke laboratorium film L’Immagine Ritrovata (baca: limajin ritrovata) di Italia. Laboratorium ini menang dalam tender yang dibuka Museum Nasional Singapura.   

Laboratorium itu menemukan sejumlah masalah pada pita film. Direktur lab, Davide Pozzi.

“Masalahnya ada goresan, kotoran, debu, titik hitam dan putih. Masalah yang paling kritis adalah jamur yang sungguh mempengaruhi gambar. Kita memutuskan untuk melakukan restorasi digital. Film itu dirubah semua menjadi versi digital. Lalu kita membersihkannya. Inilah langkah paling lama, karena kami menghabiskan lebih dari 2 ribu jam. Kita harus menstabilkan retakannya untuk menghapus semua goresan di setiap sudut. Kita juga melakukan restorasi suaranya secara digital.”

Laboratorium Film Ritrovata melaporkan sejumlah cacat itu ke tim restorasi di Indonesia. Koordinator proyek Lintang Gitomartoyo kelimpungan.

“Ketika tahu ada suara yang hilang saat sudah mengirim ke sana. Di menit 45 tidak ada suaranya. Padahal ada dialog. Akhirnya cari lagi ke Sinematek. Syukur dapet, kirim lagi ke Italia. Kalau tidak dapat mungkin filmnya bisu. Deg-degan bukan main.”

Penemuan suara tambahan tidak otomatis menyelesaikan masalah, lanjut Davide Pozzi.

“Suaranya cukup bermasalah juga. Karena suara asli tidak lengkap. Kita akhirnya menggunakan sumber suara dari kopi lain. Untunglah kita akhirnya berhasil mencocokan sangat baik dua sumber yang kita gunakan untuk suara.”

Proses restorasi rencananya kelar bulan depan. Lintang berharap bisa mengkampanyekan kembali film Lewat Djam Malam.

“Pulihnya hampir seluruhnya, masalah terbesar di kita itu jamur. Ada beberapa frame yang tidak bisa dihapus jamurnya. Nanti terlihat seperti garis itu jamur. Inginnya, nanti kalau sudah jadi, kami juga ingin ini ditonton semua orang di Indonesia. Karena saya yakin banyak yang belum nonton bahkan belum tau tentang film ini tahun 1954. Supaya bisa dilihat macam-macam, dibikin DVD-nya atau diputar di bioskop. Yang penting semua orang bisa melihat.” 

Laman Museum Nasional Singapura menulis, mereka berencana memutar ke publik hasil restorasi Lewat Djam Malam. Sayang, pihak museum menolak permintaan wawancara dari KBR68H, untuk menjelaskan lebih lanjut program restorasi ini.

Resotrasi yang Mahal

Upaya untuk restorasi film terhalang oleh mahalnya biaya, termasuk Lewat Djam Malam. Kepala Sinematek Indonesia Berthy Ibrahim Lindia berupaya mencari sejumlah alternatif untuk merestorasi koleksi film lainnya. 

“Yang memberi biaya justru Museum National of Singapore. Kira-kira Rp 2,5 miliar. Saya sedang mencoba restorasi dalam negeri. Hasil tahap pertama akan saya putar. Di Eropa miliaran, di India cuman 400 juta, karena sudah jadi industri.” 

Sayang, pemerintah belum bisa membantu. Direktur Perfilman Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Syamsull Lussa mengatakan, restorasi film baru bisa dilakukan setelah terbentuk direktorat film di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Restorasi emang sangat mahal untuk sebuah film, mulai ratusan juta hingga miliaran. Ke depan ini, pemerintah sudah mulai nanti, karena ada dua kementerian. Kementerian Kebudayaan akan merestorasi film-film yang bermutu itu.”

Film Lewat Djam Malam beruntung mendapat kesempatan menjalani proses restorasi. Ketua Sinematek Berty Ibrahim Lindia mengatakan, banyak film Indonesia perlu diselamatkan melalui proses restorasi. Di antaranya adalah film Pedjuang, salah satu film berprestasi dunia.

“Bambang Hermanto menjadi best actor di Moscow Film Festival 1961. Filmnya, Pedjuang. Moscow pada 60an adalah kutub festival film dunia.”

Kritikus film Abduh Azis menyebut sejumlah film lain. Kata dia, proses restorasi film tidak boleh berhenti di Lewat Djam Malam.

“Saya berharap, dengan kita meluncurkan Lewat Djam Malam, orang membuka mata dan dengan kampanye yang kita lancarkan, orang akan paham pentingnya dokumentasi film. Bukan buat kita, tapi generasi selanjutnya. Pertama, yang perlu dipecahkan adalah komitmen pemerintah untuk pendanaan. Misalnya tiap tahun kita punya program restorasi 5 film klasik. Film yang mewakili peradaban dan sejarah masyarakat indonesia. Misalnya karya Djajakusuma, judulnya Tjambuk Api, itu karya monumental. Film-filmnya Asrul Sani, Sumanjaya, Nyak Abbas Akub... banyak yang harus diselamatkan.” 

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar