Dari sekitar 3300an
film yang diproduksi oleh sineas Indonesia sejak 1920-an, hanya seribuan yang
terdata di pusat dokumen film Sinematek Indonesia. Sejumlah film rusak, di
antaranya karena jamur dan sudah terlalu banyak diputar. Termasuk di dalamnya
adalah mahakarya Bapak Film Indonesia Usmar Ismail, Lewat Djam Malam. Film yang
dinilai kritikus terbaik di Asia Tenggara pada zamannya menjalani proses
restorasi di Bologna, Italia sejak awal tahun. Gagasan ini berawal dari proyek
restorasi film Museum Nasional Singapura. Mereka menggandeng Yayasan Konfiden
dan Sinematek Indonesia. Kenapa penting melakukan suatu restorasi film? Sebagai
peringatan Hari Film Nasional 30 Maret hari ini, berikut laporan yang disusun
Reporter KBR68H Guruh Dwi Riyanto.
Memulihkan Karya Klasik
“Dalam perjuangan
aku biasa tidur di tanah saja. Paling-paling hanya tidur di bangku saja. Kini
aku tidur di kasur yang putih bersih.”
Itu cuplikan adegan
dalam film Lewat Djam Malam. Film ini mengangkat kisah konflik seorang veteran
perang kemerdekaan bernama Iskandar. Ia kesulitan beradaptasi di tengah
masyarakat, seusai perang.
“Waktu perang
sempat mendapatkan sebuah misi yaitu membunuh satu keluarga yang dianggap
mata-mata belanda. Dia merasa bersalah karena yang dia bunuh itu sebuah
keluarga yang terdiri dari bapak ibu dan sebuah anak. Kesalahan itu terus menghantui
dia sampai akhirnya ketahuan bahwa yang ia bunuh bukanlah mata-mata sama
Belanda sama sekali. Jadi komandannya mengelabui dia supaya mendapatkan harta
benda. Akhirnya ia marah sekali dengan komandannya. Ia mendatangi dan membunuh
komandannya. Karena sudah malam dan jam malam itu patroli, tidak boleh ada
orang sama sekali di luar. Dan dia tertangkap patroli dan ditembak oleh patroli
itu. Mati.”
Lintang Gitomartoyo
adalah Asisten Pengembangan Program Yayasan Film Konfiden. Ia ditunjuk menjadi
koordinator proyek pemulihan film Lewat Djam Malam.
Ini akan menjadi
film klasik pertama yang selesai direstorasi dalam sejarah perfilman
Indonesia.
“Tujuan restorasi
mengembalikan film ke kondisi semula. Bukan menambah apapun. Film jaman dulu
dari hitam putih ke berwarna, itu bukan restorasi lagi. Kalau prosesnya ada
yang lebih dulu, Tiga Dara. Prosesnya di Belanda. Kemaren gara-gara Eropa
krisis, belum bisa dilanjutkan sampai sekarang. Mungkin ini jadi film yang
selesai direstorasi yang pertama.”
Pemulihan film ini
akan membantu masyarakat memahami sejarah.
“Film merupakan
jendela paling enak untuk belajar soal sejarah kita sendiri, apapun, sosial
budaya, baju dulu kayak apa sih? Jakarta dulu kayak apa? Dengan gampang bisa
kita lihat karena direkam lewat film.”
Tiga lembaga
terlibat dalam proyek ini, yaitu Yayasan Film Konfiden, Pusat Dokumentasi Film
Sinematek Indonesia, dan Museum Nasional Singapura.
“Dari National
Museum of Singapore. Mereka punya program ingin merestorasi film Indonesia
untuk rekomendasi film. Lisabona meneruskan pertanyaan ini ke J.B.Kristanto.
Menurut J.B.Kristanto ini adalah film terbaik Indonesia sepanjang massa.”
Lisabona Rahman dan
J.B.Kristanto adalah pemerhati perfilman dari Yayasan Konfiden.
Karya Pemenang
Film Lewat Djam
Malam diproduksi pada 1954 oleh Persatuan film Nasional Indonesia atau Perfini.
Rumah produksi ini didirikan oleh Bapak Film Indonesia, Usmar Ismail, sekaligus
sutradara film tersebut.
Pada ajang Festival
Film Indonesia yang pertama kali tahun 1955, film Lewat Djam Malam menyabet
empat piala dari 12 kategori. Bekas Staf Perfini Sundoro.
“Aktor terbaik
Alcaff dan aktris terbaik Dahlia. Film Terbaik. Film kebanggan Perfini waktu
itu. Film Indonesia yang pertama kali diputar di Metropole, sekarang Megaria,
itu Lewat Djam Malam. Dulu bioskop itu ada kelas-kelasnya, film yang bagus
masuk metropole.”
Metropole atau
sekarang disebut Megaria, adalah salah satu bioskop tua di Jakarta. Bioskop itu
masih berdiri hingga sekarang, dengan mempertahankan bangunan gaya Eropa.
Lewat Djam Malam
ditulis oleh Asrul Sani. Film ini dibuat untuk mengikuti Festival Film Asia di
Jepang pada masa itu. Tak ayal, film ini mendapat pengakuan dunia
internasional, kata kritikus film Abduh Azis.
“Dia menyampaikan
isu paling kontekstual pada zamannya. Ada soal pembangunan yang baru berjalan,
ada soal frustasi-frustasi dari para pejuang. Tapi, ada juga soal manusia sebagai
korban pergolakan sejarah pada zamannya. Film ini sangat baik menangkapnya.
Dianggap sebagai salah satu film terbaik di Asia Tenggara sepanjang zaman, itu
pilihan para kritikus di Asia memang tidak terbantahkan saya kira.”
Abduh Azis
menambahkan, pemulihan Lewat Djam Malam bisa menjadi kontradiksi kondisi
perfilman Indonesia sekarang, yang lebih banyak dipenuhi cerita hantu tidak
menakutkan atau komedi tidak lucu.
“Film buruk itu
dikerjakan seadanya dengan cerita yang miskin, karakter yang miskin, pendekatan
artistik yang miskin, cerita-cerita yang mendangkalkan pemikiran masyarakat. Banyak
film baik punya kualitas untuk menghibur. Sayangnya dominasi film-film yang
belum baik ini masih cukup besar. Saya kira sudah saatnya ada reflekasi lagi
untuk mendorong lahirnya film-film bermutu.”
Proses restorasi
film Lewat Djam Malam ternyata tak mudah. Saat tim Konfiden menemukan film itu,
kondisi pita film dipenuhi jamur. Bagaimana proses restorasi dilakukan?
Pita Film Diserbu Jamur
Sore itu, di Gedung
Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail, Firdaus tengah membersihkan sejumlah pita
film. Firdaus adalah karyawan bagian pemeliharaan dan perawatan.
Salah satu tugasnya
adalah menjaga suhu dan kelembapan ruangan penyimpanan.
“Saya setting suhu
10-12 derajat Celcius. Itu non-stop 24 jam, dengan kelembapan 60. Setiap tiga
atau empat bulan harus kita putar (rewind-red), kalau tidak, nanti filmnya akan
membatu dan keras. Kalau cuci kita setiap satu tahun. Apalagi film habis
dipakai, balik, harus dibersihkan dan dicuci.”
Prosedur yang
disebut Firdaus hanyalah syarat minimal perawatan pita film. Untuk keseluruhan,
perawatan pita film menelan biaya besar, kata Kepala Sinematek Indonesia Berthy
Ibrahim Lindia.
“Sinematek dengan
jumlah kopi yang 3 ribu, biaya perawatan film seluloid tidak kurang dari 125
juta per bulan. Karena harga obatnya di atas 100 ribu per liter untuk
membersihkan. Satu film, kalau pakai mesin, butuh 2 liter. Baru obatnya saja.
Belum alat-alat yang lainnya.”
Berthy menambahkan,
perawatan pita film jadi lebih sulit karena kesalahanpahaman sejumlah produser
terkait proses penyimpanan film.
“Para produser selalu
simpan filmnya di sini setelah keliling diputar di mana-mana. Mestinya, film
itu, satu kopi, dikasih ke sini. Itu sesuai Undang-undang No. 4/1990 yang tidak
pernah berjalan sampai sekarang.”
Undang-undang yang
dimaksud Berthy mengatur tentang penyerahan karya cetak dan karya rekam untuk
disimpan dalam arsip negara.
Setelah mendapatkan
pita Lewat Djam Malam, tim restorasi mengirim pita film itu ke laboratorium
film L’Immagine Ritrovata (baca: limajin ritrovata) di Italia. Laboratorium ini
menang dalam tender yang dibuka Museum Nasional Singapura.
Laboratorium itu
menemukan sejumlah masalah pada pita film. Direktur lab, Davide Pozzi.
“Masalahnya ada
goresan, kotoran, debu, titik hitam dan putih. Masalah yang paling kritis
adalah jamur yang sungguh mempengaruhi gambar. Kita memutuskan untuk melakukan
restorasi digital. Film itu dirubah semua menjadi versi digital. Lalu kita
membersihkannya. Inilah langkah paling lama, karena kami menghabiskan lebih
dari 2 ribu jam. Kita harus menstabilkan retakannya untuk menghapus semua
goresan di setiap sudut. Kita juga melakukan restorasi suaranya secara digital.”
Laboratorium Film
Ritrovata melaporkan sejumlah cacat itu ke tim restorasi di Indonesia.
Koordinator proyek Lintang Gitomartoyo kelimpungan.
“Ketika tahu ada
suara yang hilang saat sudah mengirim ke sana. Di menit 45 tidak ada suaranya.
Padahal ada dialog. Akhirnya cari lagi ke Sinematek. Syukur dapet, kirim lagi
ke Italia. Kalau tidak dapat mungkin filmnya bisu. Deg-degan bukan main.”
Penemuan suara
tambahan tidak otomatis menyelesaikan masalah, lanjut Davide Pozzi.
“Suaranya cukup
bermasalah juga. Karena suara asli tidak lengkap. Kita akhirnya menggunakan
sumber suara dari kopi lain. Untunglah kita akhirnya berhasil mencocokan sangat
baik dua sumber yang kita gunakan untuk suara.”
Proses restorasi
rencananya kelar bulan depan. Lintang berharap bisa mengkampanyekan kembali
film Lewat Djam Malam.
“Pulihnya hampir
seluruhnya, masalah terbesar di kita itu jamur. Ada beberapa frame yang tidak
bisa dihapus jamurnya. Nanti terlihat seperti garis itu jamur. Inginnya, nanti
kalau sudah jadi, kami juga ingin ini ditonton semua orang di Indonesia. Karena
saya yakin banyak yang belum nonton bahkan belum tau tentang film ini tahun
1954. Supaya bisa dilihat macam-macam, dibikin DVD-nya atau diputar di bioskop.
Yang penting semua orang bisa melihat.”
Laman Museum
Nasional Singapura menulis, mereka berencana memutar ke publik hasil restorasi
Lewat Djam Malam. Sayang, pihak museum menolak permintaan wawancara dari KBR68H,
untuk menjelaskan lebih lanjut program restorasi ini.
Resotrasi yang Mahal
Upaya untuk
restorasi film terhalang oleh mahalnya biaya, termasuk Lewat Djam Malam. Kepala
Sinematek Indonesia Berthy Ibrahim Lindia berupaya mencari sejumlah alternatif
untuk merestorasi koleksi film lainnya.
“Yang memberi biaya
justru Museum National of Singapore. Kira-kira Rp 2,5 miliar. Saya sedang
mencoba restorasi dalam negeri. Hasil tahap pertama akan saya putar. Di Eropa
miliaran, di India cuman 400 juta, karena sudah jadi industri.”
Sayang, pemerintah
belum bisa membantu. Direktur Perfilman Kementerian Pariwisata dan Ekonomi
Kreatif Syamsull Lussa mengatakan, restorasi film baru bisa dilakukan setelah
terbentuk direktorat film di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
“Restorasi emang
sangat mahal untuk sebuah film, mulai ratusan juta hingga miliaran. Ke depan
ini, pemerintah sudah mulai nanti, karena ada dua kementerian. Kementerian
Kebudayaan akan merestorasi film-film yang bermutu itu.”
Film Lewat Djam
Malam beruntung mendapat kesempatan menjalani proses restorasi. Ketua Sinematek
Berty Ibrahim Lindia mengatakan, banyak film Indonesia perlu diselamatkan
melalui proses restorasi. Di antaranya adalah film Pedjuang, salah satu film
berprestasi dunia.
“Bambang Hermanto
menjadi best actor di Moscow Film
Festival 1961. Filmnya, Pedjuang. Moscow pada 60an adalah kutub festival film
dunia.”
Kritikus film Abduh
Azis menyebut sejumlah film lain. Kata dia, proses restorasi film tidak boleh
berhenti di Lewat Djam Malam.
“Saya berharap,
dengan kita meluncurkan Lewat Djam Malam, orang membuka mata dan dengan
kampanye yang kita lancarkan, orang akan paham pentingnya dokumentasi film. Bukan
buat kita, tapi generasi selanjutnya. Pertama, yang perlu dipecahkan adalah
komitmen pemerintah untuk pendanaan. Misalnya tiap tahun kita punya program
restorasi 5 film klasik. Film yang mewakili peradaban dan sejarah masyarakat
indonesia. Misalnya karya Djajakusuma, judulnya Tjambuk Api, itu karya
monumental. Film-filmnya Asrul Sani, Sumanjaya, Nyak Abbas Akub... banyak yang
harus diselamatkan.”
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar