Politik, Liputan, Humor, Budaya

Minggu, 09 Agustus 2015

Seperti Bola Bekel: Strategi Bertahan Kekuatan Politik Islam dalam Tekanan Orba

Soeharto setelah naik haji pada 1991. sumber https://en.wikipedia.org/wiki/Suharto#/media/File:Suharto_and_wife_after_hajj.jpg


Kekuatan politik Islam menjadi semakin inlusif dan integratif sebagai akibat tekanan dari pemerintahan Orde Baru ketika awal memerintah. Kekuatan Islam bagaikan bola bekel, ketika kekuatan Islam politik dalam partai Islam ditekean, kekuatan ini bergerak ke sisi lain dengan menjadikan partai politik non-Islam, ormas dan organisasi sosial sebagai kendaraan untuk menyalurkan aspirasi. Untuk menjelaskan kecenderungan ini, tulisan ini akan menerangkan secara singkat tekanan orde baru dan bagiamana kekuatan Islam menjadi inklusif dan integratif.
            Ketika berada pada era Orde Lama, kekuatan politik Islam bersifat ekslusif dan partisan. Kekuatan politik Islam bersifat ekslusif artinya Islam hanya menggunakan partai Islam sebagai kendaraan politik untuk menyalurkan perjuangan yang dianggap nilai-nilai Islami. Alhasil, suara partai Islam dianggap identic dengan aspirasi komunitas muslim. “What was then known as political Islam appeared to become the sole enterprise of Islamic parties. In other words, political Islam emerged to become an eclusive project and venture of thse parties to envision and fulfill.”(Effendi, 124).
            Setelah menjadi korban penindasan dalam Demokrasi Terpimpin di bawah Soekarno, kelompok ini bersatu dengan sayap kanan Angkatan Darat di bawah pimpinan Jenderal Soeharto untuk menumbangkan PKI. Soeharto mendirikan Orde Baru dengan menyandarkan kekuatan politik Islam terutama dalam menghancurkan Soekarno dan para pendukungnya, terutama PKI.
            Hubungan mesra Orde Baru dengan kekuatan Islam ternyata bertahan hanya sesaat setelah pembantaian PKI secara fisik dan ideologis. Seraya semakin mapannya kekuatan Orde Baru, pemerintahan militeristik Soeharto mencurigai kekuatan Islam karena dianggap ingin menguasai negara dan mengganti Pancasila.
            Ketakutan antara hubungan tentara dan Islam itu muncul setidaknya karena dua hal. Pertama, Islam memiliki sejarah memberontak terhadap Negara Kesaturan Republik Indonesia. Pemerontakan itu bahkan terorganisir menjadi pemberontakan bersenjata nasional melawan tentara Indonesia di bawah kepemimpinan Karosoewirjo di Jawa Barat, Daud Beureu’eh di Aceh, Amir Fatah di Jawa Tengah dan Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan.
            Hadiz dan Bourchier menyebut, pengalaman jenderal-jenderal yang berada di lingkaran kekuasaan Orde Baru menumpas pemberontakan Islamis sebagai sumber utama kecurigaan. “Soeharto dan perwira-perwiranya yang setia telah menghabiskan karir mereka dalam memerangi pemberontakan muslim di Jawa Barat, Sumatera dan Sulawesi” (Hadiz dan Bourchier, 110).
            Ketakutan itu merajalela terlebih karena kelompok tentara di bawah Soeharto yang berhasil memegang kendali sebagian besar berasal dari kelompok abangan dan non-muslim. Mereka enggan merekrut kelompok-kelompok Islam dalam posisi-posisi berpengaruh. “Di dalam lembaga-lembaga inti negara, orang-orang Islam yang taat dipinggirkan, kadangkala bahkan sampai dikeluarkan. Orang-orang Islam-Jawa dan Kristen mendominasi angkatan bersenjata dan aparat intelijen di bawah pengaruh Ali Moertopo (Hadiz dan Bourchier, 185). Di antara yang memegang posisi penting adalah Ali Moertopo yang seorang abangan dari Blora dan Benny Moerdani yang merupakan seoarang katolik. Alie Moertopo juga mendirikan think tank politik CSIS yang dijalankan Jusuf Wanandi, seorang keturunan Cina beragama Katolik.
            Hadiz dan Bouchier menggambarkan, kebijakan-kebijakan awal Orde Baru Orde Baru memunculkan wajah penindasan terhadap kekuatan politik muslim dalam sejumlah kebijakan mereka. Orde Baru tidak mengakomodasi pendirian kembali Partai Masyumi pada 1967. Orde Baru bahkan menyodorkan pembentukan partai baru Partai Muslimin Indonesia (Parmusi) dengan catatan partai itu tidak mengikutkan parta pentolan Masyumi. Bertubi-tubi kebijakan Orde Baru membuat kelompok Islam semakin terpinggirkan. Di anataranya adalah pemaksaan azaz
            Kelompok muslim pada dasarnya menaggapi tekanan itu dengan dua cara. Pertama, sejumlah kelompok tetap bersikeras dan mesti menghadapi konflik frontal dengan orde baru. Mereka bersikukuh pada jalur perjuangan lama berupa tuntutan penegakan syariat Islam. Konflik di Tanjung Priok merupakan salah satu hasil response frontal kelompok ini. Contoh lain adalah kemaran Syafrudin Prawiranegara yang berteriak keras ketika menolak asas tunggal Pancasila. Syafrudin Prawiranegara menyebutkan,  Orde Baru melakukan penghianatan karena penerapan azaz tunggal itu tidak sesuai dengan janji awal untuk menjalankan UUD 45 dengan murni dan konsekuen. Namun, kelompok yang memilih jalan ini kesulitan bergerak karena sikap keras mereka. Kelompok ini juga biasanya berasal dari golongan muslim generasi tua.
            Kedua, muncul para aktivis dan intelektual Islam yang memilih jalan berkompromi dengan kekuatan penindasan orde baru dan menjadikan . Kelompok ini berasal dari generasi muda dan memunculkan pendekatan baru kekuatan politik Islam dengan menjadi inklusif dan integratif. Bahtiar Effendi menyebut, nama-nama dari generasi yang muncul pada 1970an ini di antaranya adalah Nucholis Madjid, Abdurrahman Wahid, Dawam Rahardjo, Djohan Effendi, Adi Sasono, Ahmad Syafii Maarif, Kuntowijoyo dan Amin Rais (Effendi, 128).
            Effendi menyebutkan, pendekatan inklusif dan integrative dari politik Islam generasi tersebut bisa dibuktikan dengan dua cara. Pertama, kedua pendekatan ini terlihat dalam bagaimana mereka menyampaikan gagasan sosial politik. Kedua, bagaimana mereka berupaya mewujudkan tujuan sosial-politik Islam.
            Para intelektual dan aktivis muslim muda itu menyampaikan ekspresi sosial politik Islam mereka dengan bahasa yang inlufsif. Mereka tidak lagi memiliki cita-cita mendirikan negara Islam dan penegakan syariah Islam. Kelompok ini melihat partai Islam kurang adaptif terhadap zaman. Mereke menganggap, gagasan ini tidak lagi relevan. Pada 1984, Abdurahman Wahid dan Achmad Siddiq menegaskan penerimaan NU terhadap azaz Pancasila. Mereka menganggap Pancasila sebagai bentuk final dasar negara Indonesia.
            Nurcholis Madjijd dalam pidato terkenal pada Januari 1970 menyebutkan, “Islam, Yes, Partai Islam , no! Jadi, jika partai-partai Islam merupakan wadah ide-ide yang hendak diperjuangkan berdasarkan Islam, maka jelaslah bahwa ide itu sekarang dalam keadaan tidak menarik (Hadiz dan Bourchier, 118)”
            Alih-alih, mereka mengeser coral legalistik dan ideologis perjuangan partai Islam pada agenda-agenda yang lebih inklusif. Effendi merinci agenda-agenda itu di antaranya adalah, “democratization, religious and political tolerance, socio-economic egalitarianism, and political emancipation (Effendi, 128)”.
            Gerakan ini menjadi integratif karena penolakan untuk memperjuangkan negara Islam di lain sisi juga berujung pada penerimaan terhadap azas pancasila. Alhasil, mereka tidak lagi berdiri menantang negara dalam skema Pancasila vs Islam. Agenda-agenda mereka kini menjadi integratif karena merupakan bagian dari agenda negara. “This is because the substance of their socio political programme is objective and integrative to the concerns of many Indonesians as a nation (Effendi, 129).
            Kedua, mereka mewujudkan tujuan sosial-politik Islam tidak lagi semata atua ekslusif melalui partai Islam. Effendi menyebutkan tiga penjelasan terhadap pilihan ini. Pertama, Orde Baru menekankan stabilitas. Artinya, perjuangan melalui partai politik cenderung menimbulkan konflik politik; sesuatu yang dihindari Orde Baru. Kedua, terjadi perubahan sifat terhadap dasar sosio-kultural muslim Indonesia. Ketiga, agenda mereka yang bersifat inklusif dan integrative tidak lagi niscaya disalurkan melalui partai Islam (Effendi, 12). Pada 1973, NU bahkan menarik diri dari PPP dan menyatakan tidak terlibat dalam politik praktis.
            Generasi muda intelektual dan aktivis Islam tersebut menyalurkan aspirasi dan perjuangan mereka melalui organisasi Islam, Lembaga Swadaya Masyarkaat (LSM), institusi pendidikan dan yayasan kemasyarakatan.
            Terhadap semua itu, negara merespon dengan memberi sejumlah konsensi. Di antaranya adalah pendirian Bank Muamalat, izin berjilbab di sekolah, pengakuan terhadap pengadilan agama serta penyusunan kompilasi hukum islam, pendirian ICMI, pemberian dana untuk infrastruktur agama Islam dan masuknya sejumlah politisi Islam dalam pemerintahan sertai Partai Golkar

Mendekat ke Golkar 
Selama Orde Baru, kekuatan politik Islam memandang partai Golkar sebagai kendaraaan politik strategis dan efektif untuk mewujudkan nilai Islami karena partai ini yang terbesar , tidak mengundang kecurigaan dalam konflik Islam lawan negara dan keselarasan agenda pembangunan Golkar dengan Orde Baru. Selain itu, mereka juga tidak lagi mematok perjuangan mereka pada partai Islam. Terlebih, Partai Persatuan Pembangunan tengah berada dalam kondisi carut marut akibat konflik internal dan pengarahan ulang (re-orientation) untuk menyelesaikan konflik dengan pemerintahan Orde Baru. Selain itu, partai politik Islam tidak lagi niscaya karena mereka mengubah orientasi perjuangan sosial-politik mereka untuk lebih integratif dan inklusif.  Bahtiar Effendi menyebut, intelektual Islam menerapkan diversifikasi politik dalam menyalurkan aspirasi melalui partai. Ia menyarikan panggapan para intelektual muslim dalam memandang dinamika perpolitikan partai sebagai berikut:
                
       The younger generation of Muslim activists realizes that for the party politics approach to work effectively, it rquires a fundamental transformation, especially in terms of agenda formulation (that is, rational and realistic political programs instead of ideological and utopian ones) as well ass party affiliation model (that is diversified party alliance rather than being limited to a formal Islamic party” (Effendi, 135)


                 Banyak intelektual Islam bergabung dengan partai Golkar pada periode Orde Baru. Beberapa tokoh yang terkenal di antaranya adalah Akbar Tandjung dan Fahmi Idris. Effendi menjelaskan, mereka memilih Golkar karena alasan filosofis dan pragmatis.
                 Secara filosofis, para intelektual muda ini menganggap aspirasi politik Islam tidak lagi secara niscaya didominasi oleh partai Islam. Alasannya, banyak muslim enggan menyuarakan aspirasi politik melalui partai Islam. Artinya, aspirasi muslim tersalurknya juga dalam partai-partai non-Islam. Ini membuat partai Islam bukanlah satu-satunya yang secara formal berhak mengklaim diri sebagai suara muslim. Bandingkan dengan zaman pra-Orde Baru ketika terdapat identifikasi erat antara muslim dengan partai Islam.
                 Secara pragmatis, Effendi menyebut terdapat tiga alasan mengapa para intelektual muslim menyerbu partai Golkar. Pertama, partai Golkar merupakan partai terbesar dan paling berkuasa di zaman Orde Baru. Golkar menang dominan dalam lima pemilu Orde Baru. Selain itu, banyak jabatan pemerintah dipegang oleh orang-orang Golkar. Artinya, kekuasaan politik Golkar merambah hingga ke eksekutif. Effendi menyebutkan, “With political resources of this magnitude, it was imperative for Muslims to cultivate the support of Golkar to ensure the realization of their interest (Effendi, 138).”
                 Kedua, para intelektual bisa bebas menyuarakan pendapat tanpa khawatir dicurigai sebagai kelompok Islamis oleh negara. Terlebih, Golkar merupakan partai penguasa. Dengan begitu, para intelektual bisa menyuarakan dan menyampaikan kepentingan mereka dengan leluasa.
                 Ketiga, agenda pembangunan Golkar bersinggungan dengan kepentingan perjuangan nilai-nilai Islami. Effendi beranggapan, Golkar sendiri memiliki gagasan pembangunan yang mencoba merangkul semua kelompok atau golongan fungsional ketika berdiri. Alhasil, kepentingan  politik kelompok muslim.
                 Di lain sisi, Golkar membutuhkan kelompok muslim untuk melebarkan sayap mereka agar bisa mengeruk suara di daerah Islam. Hasil pemilu legislatif pada 1971 menyebutkan, Partai Nahdatul Ulama memegang peringkat kedua dengan suara 18 persen. Kemenangan itu hampir tiga kali lebih tinggi dari partai nasionalis yang menduduki peringkat ketiga, PNI, dengan 6 persen suara. Hadiz dan Bourchier mengamati, perolehan suara NU pada 1971 dan 1955 tidak beda jauh. “Meskipun menderita Serangan intimidasi fisik dan kekerasan negara pada pemilihan 1971, basis dukungan NU kurang lebih tetap utuh; partai itu memenangi 18,67 persen suara, hampir tepat sama dengan yang diperolehnya dalam pemilihan 1955.” (Hadiz dan Bourchier, 111). Pada Pemilu 1987 dan 1982, suara PPP juga tetap berada di atas 20 persen. Pada 1987, suara PPP mencapai 29 persen dan pada 1982 sebanyak 27 persen. Golkar mengalami kesulitan untuk memperoleh suara di kantong-kantong partai Islam.
                 Berkaitan dengan itu, Golkar juga membutuhkan tokoh-tokoh Islam untuk menyalurkan dana-dana ke berbagai institusi dan organisasi Islam. Upaya itu dibantu dengan pembentukan sejumlah organisasi seperti Gabungan Usaha Perbaikan Pendidikan Islam, Majelis Dakwah Islamiyah, Tarbiyah Islamiyah, Persatuan Tarekat Islam, Satkar Ulama dan Pengajian Al-Hidayah.
                 Upaya partai Golkar itu terbukti berbuah manis. Partai penguasa ini berhasil meningkatkan suara secara signifikan dari pada 1987 dengan merebut pemilih NU. Ini dimungkinkan karena NU membebaskan anggotanya untuk memilih partai setelah mengundurkan diri dari politik praktis. Suara Golkar meningkat menjadi 73,2 persen dari sebelumnya 64,3 persen. Golkar jelas berhasil mengambil tambahan suara dari kantong-kantong pemilih muslim. Sebab, suara PPP turun secara drastis dari 27,8 persen menjadi 16 persen. Sejarawan Riclef bahkan mencatat, Golkar akhirnya memenangkan pemilu legislatif di aceh. Ia menulis, “Golkar menang 51,8 persen suara, di atas PPP 42,8 persen dan PDI 5,4 persen (Ricklef, 382).”
                 Di lain sisi, pilihan itu berhasil memberi sejumlah keuntungan bagi para intelektual Islam. Pada pemerintahan 1987-1992, sebanyak empat jebolan Himpunan Mahasiswa Islam berhasil menduduki kursi menteri. Mereka adalah Saleh Afif, Azhar Anas, Hasrul Harahap Akbar Tanjung, Arifin Siregar, Syamsuddin Sumintapura, Sya’dilah Mursid dan Syarifuddin Baharsyah (Effendi, 148). Jumlah anggota DPR dari kelompok sosial santri itu juga bertambah tanpa melalui jalur PPP. Effendi mencatat, pemerintah mulai mengeluarkan kebijakan akomodatif terhadap kelompok sosial ini. Di antaranya adalah pendirian ICMI dan terbentuknya kitab Kompilasi Hukum Islam.
                 Para intelektual muslim juga banyak yang enggan bergabung dengan partai Islam karena PPP terbebani konflik internal dan beban sejarah berupa hubungan tidak nyaman antara Islam-Negara.
                 Partai Islam secara umum tidak lagi strategis setelah Orde Baru melakukan pengebirian terhadap partai Islam secara sistematis. Pengebirian Orde Baru terhadap Partai Islam  Orde Baru melarang pendirian kembali Masyumi. Mereka juga menciptakan partai Islam Parmusi dengan mengabaikan tokoh-tokoh Masyumi. Pada 1971, orang pilihan Orde Baru, Mintaredja diangkat menjadi pemimpin partai ini.
                 Setelah Golkar menang pemilu, Soeharto melakukan penindasan terhadap partai-partai yang sudah ada dengan memaksakan fusi partai-partai agama, termasuk Partai Katolik dan Islam, dalam wadah Partai Persatuan Pembangunan. Orde Baru menggabungkan berbagai faksi-faksi Islam ke dalam PPP. Padahal, tidak semua faksi itu memiliki satu visi dan misi. Terlebih, Orde Baru memaksakan pemimpin partai pilihan mereka untuk mengendalikan PPP. Mitaredja yang sebelumnya dipecaya Orde Baru memimpin Parmusi menjadi pemimpin PPP untuk pertama kali.  
                 Alhasil, banyak energi dari kekuatan-kekuatan Islam habis untuk bertarung satu sama lain. Ini alhasil turut berbuah dengan menurunnya jumlah suara bahkan dari konstituen potensial muslim.

                 Partai Islam juga bermasalah karena, menurut Efffendi, selama 15 tahun energi partai itu habis untuk menyesuaikan diri untuk membersihkan tudingan Islamisme dari Orde Baru. Ini membuat PPP sibuk mengubah orientasi mereka dari aspirasi memperjuangkan negara dan syariat Islam untuk ke partai Islam yang lebih memperjuangkan nilai-nilai Islam yang diterima kalangan luas. Ridwan Saidi bahkan mengusulkan PPP untuk menjadi partai terbuka untuk menghapus stigma sebagai partai Islamis (Effendi, 137).

Review Politik Kontemporer Indonesia
Pengajar           : Philips Vermonte, Ph.D.


Referensi

Bourchier, David dan Veri Hadiz.ed. 2006. Pemikiran Sosial dan Politik Indonesi Periode 1965-1999. Jakarta: Grafiti
Effendy, Bahtiar. 2003. Islam and the State in Indonesia. Singapore: Instute of Southeast Asian Studies Singapore
Feith, Herbert dan Lance Castles. 1956. Pemikiran POlitik Indonesia 1945-1965. Jakarta:LP3ES
Huntington, Samuel. 1983. Tertib Politik di dalam Masyarakat yang Sedang Berubah. Jakarta: Grafiti Pers
Kingbury, Damien. 2003. Power, Politics and the Indonesian Military. New York: Routledge
Ricklef, M.R. 2001. A History of Modern Indonesia Since 1200, Third Edition. Palgrave. London

Rinakit, Sukardi. 2005. The Indonesian Military after the New Order. Denmark: Nias Press
Sukma, Rizal. Indonesia’s 2009 Elections: Detective Systemm, Resilient Democracy dalam Problems of Democratisation in Indonesia. Edward Aspinal dan Marcus Mietzner. Ed. Winters, Jeffrey. 2011.
Oligarchy. New York: Cambridge Univesity Press
Referensi online

[1] Elnner, Steve. (2015, 22 Mei) Chavismo On The Horns Of A Dilemma: Populism And Pragmatism In Venezuela terakhir diakses http://venezuelanalysis.com/analysis/11391
[1] Firdaus, Ferdy Randy. (2014, 30 September) Akhiri Masa Bakti 2009-2014, DPR hasilkan 126 Undang-undang. http://www.merdeka.com/politik/akhiri-masa-bakti-2009-2014-dpr-hasilkan-126-undang-undang.html 
[1] Biaya Calon Anggota DPR Hingga 6 Miliar. (2013, 22 April) http://www.tempo.co/read/fokus/2013/04/22/2745/Biaya-Calon-Anggota-DPR-Hingga-Rp-6-Miliar
[1]Keterlibatan DPR Dalam Pengangkatan dan Pemberhentian Kapolri dan Panglima TNI Dianggap Membatasi Hak Prerogratif Presiden http://www.mahkamahkonstitusi.go.id/index.php?page=web.Berita&id=10585#.VYtEomDldlI



Tidak ada komentar:

Posting Komentar