Politik, Liputan, Humor, Budaya

Rabu, 10 Juli 2013

Jejak Peranakan Cina di Museum Benteng Heritage Tangerang

Sumber: http://bentengheritage.com
Jejak Peranakan Cina di Museum Benteng Heritage


14 tahun silam, kerusuhan anti-Cina meletus di berbagai kota, terutama Jakarta, Solo dan Medan. Peranakan Tionghoa menjadi bulan-bulanan massa, dijarah, dibunuh dan diperkosa. Mereka dilupakan sejarah dan dianggap bukan bagian dari negeri ini. Padahal etnis tionghoa telah banyak berbagi budaya dengan etnis-etnis lainnya di Indonesia, dan menjadi bagian dari sejarah panjang berdirinya Indonesia. Itulah yang digambarkan di Museum Benteng Heritage, yang diluncurkan pada 11 November 2011, di Tanggerang, Banten. Reporter KBR68H Guruh Riyanto mengajak Anda menikmati museum ini.


Akulturasi Budaya

Musem Benteng Heritage berada di kawasan Pasar Lama, Tangerang. Ini merupakan bangunan tua yang direstorasi menjadi museum. Benteng Heritage menghadirkan gambaran sejarah peranakan Tionghoa di Tangerang, Banten. Mereka juga dikenal sebagai Cina Benteng.

Relawan museum Airin Triyana memandu KBR68H menjelajahi jejak peranakan Cina di Tangerang ini.

“Saya Airin, saya sendiri adalah volunteer di Museum Benteng Heritage. Kita mulai dengan ruangan paling depan. Di mana di ruangan ini kita bisa melihat lukisan-lukisan tentang Tangerang tempo dulu.”

“Ini menggambarkan Pasar Lama, sekitar tahun 1950-an. Ini di depan museum. Di sini dulu adalah bioskop. Arsitekturnya seperti banyak bangunan tua di sini, seperti di Tiongkok sana, bertingkat. Di deretan sini, bangunan dua lantai ini adalah museum. Dulu adalah rumah tinggal, waktu tahun 1950-an, bangunan ini aslinya dari abad ke 17. Jadi usianya sudah ada 300 tahunan. Jadi museum ini kita tidak merenovasi atau membangun gedung baru, tapi merestorasi, mengembalikan kembali fungsi bangunan ini.”    

Pada 2009, pendiri museum Udaya Halim membeli bangunan berasitektur Tionghoa ini dari seorang peranakan. Sebuah kongsi dagang ditengarai bermarkas di rumah ini ketika gedung ini didirikan. Sebab, kisah dewa perang Sam Kwan Kong terukir di rumah itu. Dewa ini banyak dijunjung oleh para pedagang.

Di bawah lukisan Tangerang Tempo Doeloe itu, ada potongan berita Harian Sin Po.

“Cerita tentang Tangerang, ini kita ambil dari surat kabar Sin Po tahun 1940-an. Kita bisa melihat bagaimana kereta dulunya yang mendatangi penumpang karena penumpang biasanya naik opelet. Kalau gunung tidak mau samperken nabi, nanti nabi samperken gunung. Maksudnya adalah kalau penumpang tidak bisa samperi kereta, nanti keretalah yang samperin penumpang.”

Setelah dari ruang depan, kami masuk ke ruang berikutnya.

Begitu masuk, ada dua ruangan besar yang tidak ada pintunya.

“Iya, ini plong, tidak ada pintunya. Tapi tidak semua ada yang pakai sekat. Sekarang kita memasuki... kita bisa melihat ini suasananya mungkin sama dengan suasana Cina tempo dulu. Kita membawa kembali dekorasi-dekorasi yang ada di zaman dulu juga.”

Dekorasi itu berupa dua sekat ruangan. Sekat pertama kuat dengan nuansa etnis Tionghoa bernama gerbang bulan.

“Moongate, karena seperti bulan. Dulu adalah dekorasi untuk wayang orang, opera begitu. Di sini ada burung hong, seperti burung merak yang membawa suatu keberuntungan.”

Sekat kedua menunjukan bagaimana budaya Tionghoa bercampur baur dengan budaya masyarakat tropis Asia Tenggara. 

“Iya, ini tanda sekat ruangan, tapi kita letakan di atas. Menggambarkan daerah tropis karena untuk Indonesia, lalu Penang, Malaka, Malaysia dan Singapura merupakan daerah tropis. Warna-warna cerah dan gambar burung dan buahnya berasal dari tropis.”

Burung yang terpahat dalam sekat itu adalah burung kepodang. Warnanya kuning cerah.

Di bagian kiri ruangan itu ada prasasti yang menceritakan peran peranakan Tionghoa dalam membangun Tanggerang.

“Kalau kita berjalan ke blok kiri, kita akan melihat ada ukiran di batu yang disebut prasasti tangga jamban. Ini dari tahun 1873. Isinya soal bagaimana dulu peranakan Tionghoa di Tangerang urun dana untuk membangun kota Tangerang, dari pembangunan jalan raya, jembatan, semua ada di sini.”

“Kalau kita bisa melihat ke samping kirinya, ini adalah diorama taman. Itu bukan batu biasa tapi tempat penggilingan tahu. Ini untuk aliran air ya, tapi juga penggilingan kacang kedelai. Kacang digiling di bagian atas yang batu bulat, keluar dialirkan lalu diendapkan di batu bundar ini. Setelah keras menjadi tahu atau tofu.”

Tahu, atau yang dulu dikenal tofu, juga menjadi bukti pertukaran budaya antara peranakan Tionghoa dengan etnis lainnya di nusantara.

“Sekarang kita menuju lantai dua, kita menaiki tangga dari kayu jati.”

Lantai dua Museum Benteng Heritage juga terdiri dari dua ruangan tak tertutup pintu.  Bedanya, di dua ruangan ini ada lebih banyak koleksi yang menggambarkan sejarah peranakan Tionghoa, terutama di Tangerang, Banten.


Para Peranakan Awal

“Ini adalah lantai dua, lantainya dari kayu semua semua. Sudah kita indahkan kembali, kita vernis. Ini adalah pojok OKT, Oey Kim Tiang. OKT adalah penulis cerita silat, dia seorang peranakan Tionghoa Tangerang. Rumahnya sampai sekarang masih ada di Pasar Lama. Sekarang ia sudah meninggal. Ia memproduksi buku-buku silat. Di antaranya yang terkenal adalah cerita Sie Jin Kwie.”

Sie Jin Kwie adalah cerita tentang jenderal perang Cina dari Dinasti Tan. Cerita silat ini ditulis oleh Oey Kim Tiang, sementara Siauw Tik Wie membuat ilustrasi gambarnya.

Selain soal itu, terdapat replika kapal pelaut Cheng Ho.

“Cheng Ho ini kan dari keluarga muslim. Ini adalah untuk kapal utamanya. Kan ia membawa sekitar 300 kapal-kapal kayu, dengan sekitar 30 ribuan pengikut. Setiap ia mendarat, biasanya ada pengikutnya yang tinggal di sana.”

Dari catatan sejarah Sunda Tina Layang Parahyangan tertulis, pada abad 15 pelaut-pelaut Cina mendarat di Tangerang. Mereka diduga adalah bagian dari ekspedisi armada besar Laksamana Ceng Ho. Kemudian mereka menetap dan membuka pertanian. Mereka adalah nenek moyang dari peranakan Tionghoa di Tangerang, atau komunitas Cina Benteng.

Melewati replika kapal Cheng Ho, relawan museum Airin memperkenalkan perangkat orkes gambang kromong.

“Dari gambang kromong, ada satu alat musik, yang disebut Tehyan. Ini alat musik gesek. Terdiri dari beberapa dawai saja, tapi bisa menghasilkan suara sedemikian rupa.” 

Kesenian gambang kromong adalah cerminan multikultur. Dalam orkes ini, alat musik Tionghoa seperti tehyan dan sukong berpadu dengan alat musik tradisional seperti gambang dan gendang.

Jejak interaksi hangat antara etnis Tionghoa dengan etnis lainnya juga terekam dalam busana. Jejak ini ada dalam motif batik.

“Kain-kain batik yang ada dari Lasem, daerah Jawa Tengah. Kalau kita lihat ini sama, bentuk bulat-bulat ulir dan ini motifnya sama dengan kain-kain dari bangsa Yunan. Begitu juga dengan motifnya bunga-bunga. Di sini bisa kita liat akulturasi yang terjadi.”

Jejak keakraban ini juga ada dalam kebaya.

“Di sini ada dua kebaya encim dengan motif yang berbeda. Kalau ini dibordir yang warna putih dan ada bunga-bunganya. Yang ini coklat ada bolong-bolongnya disebut krancang. Ciri khas kebaya encim itu tidak memakai kancing, dan biasanya dipadukan dengan bros, dan bawahannya kain batik.”

Museum Benteng Heritage mencatat sejumlah tragedi rasial yang menimpa peranakan Tionghoa di Tangerang. Dua peristiwa tercatat pada 1940-an.

“Di sini ada artikel-artikel yang menggambarkan... di sini tertulis Neraka Sepoeter Tangerang. Ini tahun 1942, disebut zaman penggedoran. Ada keluarga-keluarga Tionghoa jadi korban. Malam-malam digedor rumahnya, ada yang dirampok, diculik juga ada pembunuhan. Tahun 1946 terjadi lagi, sama kejadiannya, ada yang mengompori.” 

Kerusuhan pada 1946 itu berdalih pada sebuah tudingan. Peranakan Tionghoa di Tangerang dianggap tidak setia pada republik yang baru berdiri.


Sejarah Tionghoa dan Indonesia

Berkeliling dan menikmati isi museum sudah selesai. KBR68H menemui pendiri sekaligus kurator museum, Udaya Halim.

“Sejarah Tionghoa adalah sejarah yang berhubungan dengan perkembangan kebangsaan kita. Jadi jelas Tionghoa banyak memberikan, termasuk juga menerima. Jadi bukan hanya menerima saja. Tionghoa membawa dan menerima, take and give, dalam bentuk kultur, akulturasi.”

Pria yang lahir dan besar di Tangerang ini mencari koleksi untuk Benteng Heritage hingga ke luar negeri. 

“Sisa-sisa sejarah yang berhubungan dengan museum sudah tidak lagi ada di tempatnya. Tahun 1942 terjadi penjarahan besar-besaran di Tangerang. Barang itu dicuri dan dirampok, mungkin tidak barang-barang itu dibawa ke mana-mana? Kita pernah dijajah, mungkin tidak barang-barang itu dibawa penjajah? Barang koleksi tidak harus dari Tangerang semua. Yang penting benang merah dicari, barang itu pernah ada hubungannya dengan Tangerang atau berada di Tangerang.”

Upaya keras Udaya Halim membuahkan penghargaan Museum Rekor Indonesia. Penghargaan diberikan kepada Museum Benteng Heritage sebagai museum Tionghoa-Indonesia pertama.  Udaya juga mendaftarkan museum ini sebagai warisan budaya dunia ke Perserikatan Bangsa-bangsa.

“Kita sudah mendaftarkan ke UNESCO agar museum ini abadi dan menjadi kebanggaan Indonesia. Ini adalah warisan budaya dunia sebagai sebuah kultur. Kota Tangerang berawal dari pecinan ini. Gedung ini adalah saksi bisu dari perkembangan sebuah kota, sehingga layak dijadikan simbol warisan dunia.”

Museum Benteng Heritage terbuka untuk umum setiap hari, kecuali Senin, mulai pukul 1 hinggga 6 sore. Hanya dengan Rp 20 ribu, seorang pemandu akan menemani berkeliling menikmati koleksi museum. 

Museum ini diharap dapat meningkatkan pemahaman sejarah kebangsaan Indonesia, tutup Udaya Halim.

“Museum kebudayaan Indonesia-Tionghoa. Jadi kebudayaan Indonesia yang mewakili suku Tionghoa. Kalau dibilang suku, provinsi mana? Orang Tionghoa di provinsi mana? Provinsi khusus nusantara, karena, kalau mau cari orang Tionghoa, dari sabang sampai merauke ada orang Tionghoa.”


***



1 komentar: