| Sumber: http://bentengheritage.com |
Jejak
Peranakan Cina di Museum Benteng Heritage
14 tahun silam, kerusuhan anti-Cina meletus di
berbagai kota, terutama Jakarta, Solo dan Medan. Peranakan Tionghoa menjadi
bulan-bulanan massa, dijarah, dibunuh dan diperkosa. Mereka dilupakan sejarah
dan dianggap bukan bagian dari negeri ini. Padahal etnis tionghoa telah banyak
berbagi budaya dengan etnis-etnis lainnya di Indonesia, dan menjadi bagian dari
sejarah panjang berdirinya Indonesia. Itulah yang digambarkan di Museum Benteng
Heritage, yang diluncurkan pada 11 November 2011, di Tanggerang, Banten.
Reporter KBR68H Guruh Riyanto mengajak Anda menikmati museum ini.
Akulturasi
Budaya
Musem Benteng Heritage berada di kawasan Pasar
Lama, Tangerang. Ini merupakan bangunan tua yang direstorasi menjadi museum.
Benteng Heritage menghadirkan gambaran sejarah peranakan Tionghoa di Tangerang,
Banten. Mereka juga dikenal sebagai Cina Benteng.
Relawan museum Airin Triyana memandu KBR68H
menjelajahi jejak peranakan Cina di Tangerang ini.
“Saya Airin, saya sendiri adalah volunteer di
Museum Benteng Heritage. Kita mulai dengan ruangan paling depan. Di mana di
ruangan ini kita bisa melihat lukisan-lukisan tentang Tangerang tempo dulu.”
“Ini menggambarkan Pasar Lama, sekitar tahun
1950-an. Ini di depan museum. Di sini dulu adalah bioskop. Arsitekturnya
seperti banyak bangunan tua di sini, seperti di Tiongkok sana, bertingkat. Di
deretan sini, bangunan dua lantai ini adalah museum. Dulu adalah rumah tinggal,
waktu tahun 1950-an, bangunan ini aslinya dari abad ke 17. Jadi usianya sudah
ada 300 tahunan. Jadi museum ini kita tidak merenovasi atau membangun gedung
baru, tapi merestorasi, mengembalikan kembali fungsi bangunan ini.”
Pada 2009, pendiri museum Udaya Halim membeli
bangunan berasitektur Tionghoa ini dari seorang peranakan. Sebuah kongsi dagang
ditengarai bermarkas di rumah ini ketika gedung ini didirikan. Sebab, kisah
dewa perang Sam Kwan Kong terukir di rumah itu. Dewa ini banyak dijunjung oleh
para pedagang.
Di bawah lukisan Tangerang Tempo Doeloe itu,
ada potongan berita Harian Sin Po.
“Cerita tentang Tangerang, ini kita ambil dari
surat kabar Sin Po tahun 1940-an. Kita bisa melihat bagaimana kereta dulunya
yang mendatangi penumpang karena penumpang biasanya naik opelet. Kalau gunung
tidak mau samperken nabi, nanti nabi samperken gunung. Maksudnya adalah kalau
penumpang tidak bisa samperi kereta, nanti keretalah yang samperin penumpang.”
Setelah dari ruang depan, kami masuk ke ruang
berikutnya.
Begitu masuk, ada dua ruangan besar yang tidak
ada pintunya.
“Iya, ini plong, tidak ada pintunya. Tapi
tidak semua ada yang pakai sekat. Sekarang kita memasuki... kita bisa melihat
ini suasananya mungkin sama dengan suasana Cina tempo dulu. Kita membawa
kembali dekorasi-dekorasi yang ada di zaman dulu juga.”
Dekorasi itu berupa dua sekat ruangan. Sekat
pertama kuat dengan nuansa etnis Tionghoa bernama gerbang bulan.
“Moongate, karena seperti bulan. Dulu adalah
dekorasi untuk wayang orang, opera begitu. Di sini ada burung hong, seperti
burung merak yang membawa suatu keberuntungan.”
Sekat kedua menunjukan bagaimana budaya
Tionghoa bercampur baur dengan budaya masyarakat tropis Asia Tenggara.
“Iya, ini tanda sekat ruangan, tapi kita
letakan di atas. Menggambarkan daerah tropis karena untuk Indonesia, lalu Penang,
Malaka, Malaysia dan Singapura merupakan daerah tropis. Warna-warna cerah dan
gambar burung dan buahnya berasal dari tropis.”
Burung yang terpahat dalam sekat itu adalah
burung kepodang. Warnanya kuning cerah.
Di bagian kiri ruangan itu ada prasasti yang
menceritakan peran peranakan Tionghoa dalam membangun Tanggerang.
“Kalau kita berjalan ke blok kiri, kita akan
melihat ada ukiran di batu yang disebut prasasti tangga jamban. Ini dari tahun
1873. Isinya soal bagaimana dulu peranakan Tionghoa di Tangerang urun dana
untuk membangun kota Tangerang, dari pembangunan jalan raya, jembatan, semua
ada di sini.”
“Kalau kita bisa melihat ke samping kirinya,
ini adalah diorama taman. Itu bukan batu biasa tapi tempat penggilingan tahu. Ini
untuk aliran air ya, tapi juga penggilingan kacang kedelai. Kacang digiling di
bagian atas yang batu bulat, keluar dialirkan lalu diendapkan di batu bundar
ini. Setelah keras menjadi tahu atau tofu.”
Tahu, atau yang dulu dikenal tofu, juga
menjadi bukti pertukaran budaya antara peranakan Tionghoa dengan etnis lainnya
di nusantara.
“Sekarang kita menuju lantai dua, kita menaiki
tangga dari kayu jati.”
Lantai dua Museum Benteng Heritage juga
terdiri dari dua ruangan tak tertutup pintu.
Bedanya, di dua ruangan ini ada lebih banyak koleksi yang menggambarkan
sejarah peranakan Tionghoa, terutama di Tangerang, Banten.
Para
Peranakan Awal
“Ini adalah lantai dua, lantainya dari kayu
semua semua. Sudah kita indahkan kembali, kita vernis. Ini adalah pojok OKT, Oey
Kim Tiang. OKT adalah penulis cerita silat, dia seorang peranakan Tionghoa
Tangerang. Rumahnya sampai sekarang masih ada di Pasar Lama. Sekarang ia sudah
meninggal. Ia memproduksi buku-buku silat. Di antaranya yang terkenal adalah
cerita Sie Jin Kwie.”
Sie Jin Kwie adalah cerita tentang jenderal
perang Cina dari Dinasti Tan. Cerita silat ini ditulis oleh Oey Kim Tiang,
sementara Siauw Tik Wie membuat ilustrasi gambarnya.
Selain soal itu, terdapat replika kapal pelaut
Cheng Ho.
“Cheng Ho ini kan dari keluarga muslim. Ini
adalah untuk kapal utamanya. Kan ia membawa sekitar 300 kapal-kapal kayu,
dengan sekitar 30 ribuan pengikut. Setiap ia mendarat, biasanya ada pengikutnya
yang tinggal di sana.”
Dari catatan sejarah Sunda Tina Layang Parahyangan
tertulis, pada abad 15 pelaut-pelaut Cina mendarat di Tangerang. Mereka diduga
adalah bagian dari ekspedisi armada besar Laksamana Ceng Ho. Kemudian mereka menetap
dan membuka pertanian. Mereka adalah nenek moyang dari peranakan Tionghoa di
Tangerang, atau komunitas Cina Benteng.
Melewati replika kapal Cheng Ho, relawan
museum Airin memperkenalkan perangkat orkes gambang kromong.
“Dari gambang kromong, ada satu alat musik, yang
disebut Tehyan. Ini alat musik gesek. Terdiri dari beberapa dawai saja, tapi
bisa menghasilkan suara sedemikian rupa.”
Kesenian gambang kromong adalah cerminan
multikultur. Dalam orkes ini, alat musik Tionghoa seperti tehyan dan sukong
berpadu dengan alat musik tradisional seperti gambang dan gendang.
Jejak interaksi hangat antara etnis Tionghoa dengan
etnis lainnya juga terekam dalam busana. Jejak ini ada dalam motif batik.
“Kain-kain batik yang ada dari Lasem, daerah
Jawa Tengah. Kalau kita lihat ini sama, bentuk bulat-bulat ulir dan ini
motifnya sama dengan kain-kain dari bangsa Yunan. Begitu juga dengan motifnya
bunga-bunga. Di sini bisa kita liat akulturasi yang terjadi.”
Jejak keakraban ini juga ada dalam kebaya.
“Di sini ada dua kebaya encim dengan motif
yang berbeda. Kalau ini dibordir yang warna putih dan ada bunga-bunganya. Yang ini
coklat ada bolong-bolongnya disebut krancang. Ciri khas kebaya encim itu tidak
memakai kancing, dan biasanya dipadukan dengan bros, dan bawahannya kain batik.”
Museum Benteng Heritage mencatat sejumlah
tragedi rasial yang menimpa peranakan Tionghoa di Tangerang. Dua peristiwa
tercatat pada 1940-an.
“Di sini ada artikel-artikel yang
menggambarkan... di sini tertulis Neraka Sepoeter Tangerang. Ini tahun 1942, disebut
zaman penggedoran. Ada keluarga-keluarga Tionghoa jadi korban. Malam-malam
digedor rumahnya, ada yang dirampok, diculik juga ada pembunuhan. Tahun 1946
terjadi lagi, sama kejadiannya, ada yang mengompori.”
Kerusuhan pada 1946 itu berdalih pada sebuah
tudingan. Peranakan Tionghoa di Tangerang dianggap tidak setia pada republik
yang baru berdiri.
Sejarah
Tionghoa dan Indonesia
Berkeliling dan menikmati isi museum sudah
selesai. KBR68H menemui pendiri sekaligus kurator museum, Udaya Halim.
“Sejarah Tionghoa adalah sejarah yang
berhubungan dengan perkembangan kebangsaan kita. Jadi jelas Tionghoa banyak
memberikan, termasuk juga menerima. Jadi bukan hanya menerima saja. Tionghoa
membawa dan menerima, take and give,
dalam bentuk kultur, akulturasi.”
Pria yang lahir dan besar di Tangerang ini
mencari koleksi untuk Benteng Heritage hingga ke luar negeri.
“Sisa-sisa sejarah yang berhubungan dengan
museum sudah tidak lagi ada di tempatnya. Tahun 1942 terjadi penjarahan besar-besaran
di Tangerang. Barang itu dicuri dan dirampok, mungkin tidak barang-barang itu
dibawa ke mana-mana? Kita pernah dijajah, mungkin tidak barang-barang itu
dibawa penjajah? Barang koleksi tidak harus dari Tangerang semua. Yang penting
benang merah dicari, barang itu pernah ada hubungannya dengan Tangerang atau
berada di Tangerang.”
Upaya keras Udaya Halim membuahkan penghargaan
Museum Rekor Indonesia. Penghargaan diberikan kepada Museum Benteng Heritage
sebagai museum Tionghoa-Indonesia pertama.
Udaya juga mendaftarkan museum ini sebagai warisan budaya dunia ke
Perserikatan Bangsa-bangsa.
“Kita sudah mendaftarkan ke UNESCO agar museum
ini abadi dan menjadi kebanggaan Indonesia. Ini adalah warisan budaya dunia
sebagai sebuah kultur. Kota Tangerang berawal dari pecinan ini. Gedung ini
adalah saksi bisu dari perkembangan sebuah kota, sehingga layak dijadikan simbol
warisan dunia.”
Museum Benteng Heritage terbuka untuk umum
setiap hari, kecuali Senin, mulai pukul 1 hinggga 6 sore. Hanya dengan Rp 20
ribu, seorang pemandu akan menemani berkeliling menikmati koleksi museum.
Museum ini diharap dapat meningkatkan
pemahaman sejarah kebangsaan Indonesia, tutup Udaya Halim.
“Museum kebudayaan Indonesia-Tionghoa. Jadi
kebudayaan Indonesia yang mewakili suku Tionghoa. Kalau dibilang suku, provinsi
mana? Orang Tionghoa di provinsi mana? Provinsi khusus nusantara, karena, kalau
mau cari orang Tionghoa, dari sabang sampai merauke ada orang Tionghoa.”
***
nice post
BalasHapus