Politik, Liputan, Humor, Budaya

Minggu, 09 Agustus 2015

Aliran Politik Sebelum dan Saat Orde Baru

1955_Indonesian_Election_Posters.png
Poster Pemilu 1955, sumber https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/0/0f/1955_Indonesian_Election_Posters.png

Herbeth Feith membagi aliran politik Indonesia menjadi lima. Namun, Feith memberi catatan aliran itu berdasarkan gambaran partai-partai terutama pada periode 1952 hingga pembubaran Masyumi dan PSI beberapa saat setelah demokrasi terpimpin diterapkan pada 1959. Vedi R Hadiz dan David Bourchier melanjutkan pembagian itu dengan menggolongkan aliran-aliran politik setelah 1965.
       Feith menggolongkan aliran-aliran politik Indonesia dalam nasionalisme radikal, tradisionalisme Jawa, Islam, sosial demokratis dan komunisme. Kelima aliran itu dimengerti dalam bagan atas (pengaruh barat) dan bawah (pengaruh tradisi) serta kutub kiri-kanan secara politik. Feith menyebutkan pengaruh barat yang paling dominan adalah marxisme dalam varian komunisme dan sosial demokrat. Pengaruh aliran politik barat lain dianggap tidak kuat merasup di Indonesia. Di kutub bawah, tradisi digambarkan sebagai pengaruh dari berabad-abad budaya Hindu dan Budhis.
Aliran komunisme di Indonesia berada pada spectrum politik kiri dengan pengaruh barat paling kuat. “[K]ami mendapat kesan kuat bahwa golongan komunis lebih drastis dibandingkan dengan partai besar lain mana pun, dalam memutuskan ikatan-ikatan secara langsung maupun tidak langsung dari Barat,” (Feith, 1988, hal lvi). Komunisme terwakili oleh Partai Komunis Indonesia. Meskipun paling menyerap pengaruh barat, agenda politik mereka banyak mendapat dukungan dari kelas bawah yang beragama abangan. PKI juga memanfaatkan slogan-slogan abangan dalam mengembangkan partai. Karena itulah, Feith menyebutkan komunisme Indonesia memiliki sedikit pengaruh tradisionalisme Jawa.
         Bergeser sedikit ke kanan dari komunsime adalah nasionalisme radikal. Kelompok ini mendapat cukup pengaruh barat meski lebih sedikit dari komunisme. Namun, pengaruh barat yang diserap oleh nasionalisme radikal merupakan marxisme beraliran sosial demokrat. Nasionalisme radikal juga paling banyak bersinggungan dengan tradisionalisme Jawa. Alhasil, gerakan ini memiliki kedekatan lebih pada tradisi ketimbang komunsime. Nasionalisme radikal bisa juga disebut sebagai kelompok kiri-tengah. Aliran politik ini terwakili dalam Partai Nasionalis Indonesia.
Aliran ketiga adalah Islam. Ia berada di sisi kanan dari spektrum ideologi perpolitikan di Indonesia. Namun, Islam tidaklah plural di zaman Soekarno karena terbagi dalam golongan modernis dan golongan konservatif. Kelompok modernis tentu menerima lebih banyak pengaruh barat dibandingkan kelompok konservatif. Islam modernis berada di spektrum kanan-atas. Kelompok ini berlandaskan Islam tapi memiliki pengaruh kuat dari aliran marxisme sosial demokrat. Masyumi merupakan perwakilan dari aliran Islam modernis.
       Islam tradisional atau konservatif merupakan aliran Islam dengan muatan tradisi yang sangat kental. Alhasil, ia berada lebih bawah atau lebih dekat dengan tradisionalisme ketimbang Masyumi. Tradisionalisme Jawa mendapat tempat dalam kelompok Islam tradisional. Aliran ini bisa dikatakan tidak menerima pengaruh politik barat. Partai NU yang pecah dari Masyumi pada 1952 mewakili kelompok ini. Feith menempatkan aliran ini di posisi paling bawah karena sifat tradisionalisme tersebut.
      Aliran keempat adalah sosialisme demokrat. Aliran ini terwakili dalam Partai Sosialis Indonesia. Salah satu ragam marxisme yang moderat ini juga memiliki pengaruh di Masyumi dan PNI. Aliran sosial demokrat berada di sebelah kanan atas karena ia lebih lunak ketimbang komunisme dan terpapar pengaruh barat yang kuat.
Terakhir, Feith menyebut tradisionalisme Jawa sebagai aliran yang meskipun kecil memiliki pengaruh di nasionalisme radikal dalam Partai Nasionalis Indonesia, Islam tradisional dalam Nahdatul Ulama dan komunisme di PKI. Tradisionalis Jawa mewakili mereka yang mendapat inspirasi dari tradisi Jawa Hindu. Partai ini diwakili oleh PIR yang mendapat satu kursi dalam pemilu 1955.  
            David Bourchier dan Vedi Hadiz melanjutkan proyek pemetaan pemikiran pasca 1965. Keduanya menyebutkan, Orde Baru melakukan perubahan radikal dalam politik Indonesia. “Orde baru secara telak telah mengubah Indonesia. Orde itu juga mengubah cara-cara bagiamana politik ditafsirkan (Boucher dan Vedi, 2006, hal 10). Ideologi resmi orde baru dengan nama organisisme muncul menguasai jagad perpolitikan Indonesia.
            Keduanya mengatakan, mengutip Feith dan Castles, setelah 65 kelompok politik kiri lenyap. Spektrum kiri tengah atau nasionalis radikal turut lenyap bersama dengan keberhasilan kudeta merangkak Orde Baru. “Tidak hanya PKI yang disingkirkan, anggota-anggota PNI, tentara , dan beberapa partai kecil Sukarnois juga dibersihkan, dan ini sungguh-sungguh mengikir peredearan nasionalisme radikal (Bourchier dan Vedi, 2006, hal 11) . Bagaimanapun, aliran Islam tetap bertahan meskipun terpaksa melakukan sejumlah penyesuaian.
            Kelompok kiri lenyap bersama dengan nasionalisme radikal setelah Soeharto dengan cerdik memanfaatkan kegagalan Gerakan Satu Oktober untuk memukul para pendukung Soekarno atas nama menyelamatkan revolusi. Sejarawan John Rossa menyebut, Soeharto bersama faksi militer pro-barat menggunakan momentum Gestok sebagai dalih pembunuhan massal.
Tapi bahwa Angkatan Darat memburu setiap anggota PKI dan setiap anggota ormas yang terkait dengan PKI memperlihatkan bahwa tanggapan Angkatan Darat tidak ditetapkan oleh kebutuhan untuk menindas G-30-S saja. Maka, kita berhadapan dengan seorang petinju yang tidak sekadar memukul knock- out lawannya di atas gelanggang, tapi meneruskan serangannya kepada semua penggemar petinju yang kalah yang ada di stadion, kemudian mengejar-ngejar serta menyerang semua penggemar petinju lawannya di seluruh penjuru tanah air, bahkan terhadap mereka yang tinggal jauh dan tidak pernah mendengar tentang pertandingan itu sama sekali (Rossa, 2008, hal 7).”

Sekitar 500 ribu hingga satu juta orang tewas akibat pembantaian masssal tersebut. Setelah Soeharto mengkonsolidasikan kekuasaan, MPR yang dikuasai para pendukung Soeharto menerbitkan TAP MPRS no 25 tahun 1966 tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia, Pernyataan Sebagai Organisasi Terlarang di Seluruh Wilayah Negara Republik Indonesia bagai partai Komunis Indonesia dan Larangan Setiap Kegiatan untuk Menyebarkan atau Mengembangkan Faham atau Ajaran Komunis/Marxisme-Leninisme.
            Soeharto membubarkan PKI karena ia merupakan penghalang utama untuk mewujudkan kekuasaan pro-barat. “Prioritas pertama Soeharto adalah menegakan kekuasaan atas seluruh wilayah negara dan meyakinkan Barat untuk memulai pengaliran bantuan keuangan dan investasi untuk meyelamatkan ekonomi yang mengalami kemerosotan tajam,” (Borcier dan Vedi, 2006, hal 38)
            Selain Islam, Vedi dan Bourchier melihat aliran politik organisisme, pluralism dan radikalisme tumbuh pada masa orde baru. Aliran organisisme mendominasi karena digunakan sebagai doktrim resmi orde baru. Vedi dan Bourchier menguraikan kelompok ini sebagai berikut:
“Konsep-konsep yang selalu berulang adalah ketertiban, harmoni, dan hirearki. Kaum organisis, yang di antaranya kami masukan Soeharto dan banyak sekutu politiknya yang terdekat, mendukung gagasan bahwa otoritas di negara Indonesia harus mencerminkan pola-pola yang ditemukan dalam keluarga tradisional dan masyarakat pedesaan yang tertib,” (Bourchier dan Vedi, 2006, hal 11)

Orde Baru mengkampanyekan aliran ini untuk mengkontraskan dengan aliran politik di zaman Soekarno. Organisisme mengkritik komunisme dan liberalisme sebagai bentuk politik yang tidak cocok dengan Indonesia karena menimbulkan perpecahan.
            Vedi dan Bourchier melacak, organisisme berakar dari tradisionalisme aristokratik Jawa yang mendapat perpaduan dari pemikiran Eropa yang antipencerahan. Dalam sidang konstiutuante, Raden Soepomo merupakan juru bicara dari aliran ini. Alhasil, gagasan organisisme menjadi dasar dari dwifungsi Abri karena militer memiliki peran sosial sebagai bagian dari keluarga besar bangsa Indonesia.
            Pemerintahan Orde Baru menggunakan organisisme untuk menjembatani kontradiksi dalam pemerintahan diktator militer tersebut. Kontradiksi itu adalah gagasan developmentalisme dan tradisionalisme. Singkatnya, organisisme meyakinkan pembangunan dan modernism dapat berjalan tanpa meninggalkan kepribadian nasional Indonesia.  
Setelah Organisisme, Vedi dan Boucher menyebut aliran pluralisme sebagai oposisi dari organisisme. “[K]aum pluralis mendukung konsep-konsep seperti rule of law, keterbukaan politik, transparansi, dan hak-hak asasi manusia,” (Vedi dan Broucher, 2006 hal 13). Namun, aliran pluralisme ini tidak menerima komunisme dan politik kelas serta agama dan etnis. Aliran pluralisme memiliki akar dari aliran politik sosial demokrat terutama PSI dan Masyumi. Pada 1960, Soekarno melarang kedua partai itu karena dituding terlibat pemberontakan. Setelahnya, sedikit pembela aliran pluralisme berani bersuara di bawah rezim demokrasi terpimpin Soekarno. Namun, ketika Soeharto berhasil menggerogoti Soekarno, kelompok ini kembali aktif sebagai pendukung orde baru. Banyak pendukung Soeharto dari kalangan pluralis ini akhirnya menentang.
Kelompok ini bagaimanapun tidak dapat berkembang karena otoritarianisme orde baru. Soeharto menghalangi pembentukan kembali Masyumi pada 1967. Upaya tokoh Mohammad Hatta dan tokoh Masyumi Deliar Noer untuk mendirikan partai modernis juga digagalkan Orde Baru.
Aliran politik lain yang hadir dalam masa orde baru adalah radikalisme. Golongan ini menyatukan kelompok-kelompok di bawah keyakinan bahwa “tatanan yang ada secara mendasar eksploitatif dan bahwa pembebasan seharusnya terjadi melalui redistribusi secara radikal dalam kekuasaan ekonomi dan politik.” Banyak kelompok ini mengaku berakar dari tradisi nasionalisme radikal dan sayap kiri. Namun, kelompok ini tidak memiliki kekuatan politik berarti. Kelompok ini banyak menggunakan agenda dan bahasa feminism, lingkungan dan marxis. Vedi dan Boucher melihat kehadiran kelompok ini sebagai reaksi terhadap ekspansi pembangunan dan industrialisasi pada 1980an.
Setelahnya, aliran Islam bagaimanapun tetap hadir mewarnai partai politik Orde Baru. Namun, aliran ini mengalami pergeseran. Mereka tidak lagi mungkin untuk berkoar-koar menyerukan negara Islam. Pertentangan mereka terhadap penerapan azaz tunggal juga dengan gampang diabaikan oleh Orde Baru. Di tengah rezim Orde Baru, aliran Islam tradisional yang diwakili Nahdatul Ulama memilih untuk menyesuaikan diri. Ini tidak bisa dilakukan dengan gampang oleh kelompok Islam modernis.
Sebaliknya, Orde Baru memberikan dukungan pada kelompok yang menentang pendirian negara Islam. Kelompok neo-modernisme Islam itu tidak mendukung penegakan negara Islam dan partai Islam. Kelompok ini, dengan perwakilan Nurcholis Madjid, justru menyerukan Islam untuk bersatu dan lentur dalam menyesuaikan dengan zaman.  Aliran-aliran Islam ini akhirnya digabung menjadi satu dalam partai agama Partai Persatuan Pembangunan bersama Partai Katolik dan Kristen. Orde Baru menempatkan Mintaredja yang pro-pemerintah untuk memimpin partai ini.
Secara umum, dinamika aliran-aliran politik tersebut redup. Soeharto menjalankan politik massa mengambang yang menjauhkan masyarakat dari hingar binger politik. Selain itu, partai selain Golongan Karya mendapat hambatan dari Orde Baru untuk tumbuh. Hanya Golongan Karya yang luwes untuk memiliki cabang atau organisasi massa hingga tingkat di bawah pemerintah daerah Tingkat Dua atau kabupaten/kota. Aliran-aliran itu juga kalah dibandingkan Golkar karena Golkar memiliki dukungan birokrasi dan ABRI atau disingkat ABG (Abri, Birokrasi, Golongan).
Partai Golkar pada pemilu pertama di 1971 mendapatkan suara dominan dengan 62,8 persen. Keberhasilan ini juga disokong oleh langkah-langkah Ali Murtopo dalam merancang Golkar sebagai kendaraan politik Orde Baru. Menggunakan kekuatan itu, pemerintha Orde Baru segera melakukan penggabungan partai-partai. Partai nasionalis dimasukan dalam PDI dan partai agama dalam PPP. 

Meskipun begitu, setelah orde baru kelompok aliran nasionalisme radikal tampaknya kembali mendapatkan tempat. PDI-P yang mengklaim sebagai penerus PNI zaman Soekarno berhasil mengungguli Golkar dengan meraih 33,74 persen kursi dan memenangi pemilu 1999.



Esai ini adalah tulisan saya sebagai bagian dari ujian tengah semester Pengantar Politik Indonesia di Universitas Paramadina dengan dosen pengampun Philip Vermonte. 

Referensi:
Bourchier, David dan Vedi Hadiz,ed. (2006) Pemikiran Sosial dan Politik Indonesia periode 1965-1999. Jakarta: Grafiti Pustaka Utama Gayatri
Bourchier, David dan John Legge. (1994) Democracy in Indonesia: 1950s and 1990s. Centre of Southeast Asian Studies, Monash University
Budiarjo, Miriam. 2003. Dasar-dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia.
Feith, Herbert dan Lance Castles, ed. (1988) Pemikiran Politik Indonesia 1945-1965. Jakarta:LP3ES
Feith, Herbert. 1957. The Indonesian Elections of 1955. Ithaca, NY. Modern Indonesia Project, Southeast Asia Program, dept.of Far Eastern Studies, Cornell University,
Feillard, Andree dan Remy Madinier. 1999. At the Sources of Indonesian Political Islam's Failure: The Split between the Nahdlatul Ulama and the Masyumi dalam Retrospect Studi Islamika Volume 2 nomor 2 1999
Rosssa, John. 2008. Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto. Jakarta: Hasta Mitra dan Institut Sejarah Sosial Indonesia.
Huntington, Samuel. Tertib Politik di Dalam Masyarakat yang Sedang Berubah. Jakarta:CV Rajawali

Tidak ada komentar:

Posting Komentar