![]() |
| WInters, sumber http://www.polisci.northwestern.edu/people/core-faculty/jeffrey-winters.html |
Jeffrey Winters memaparkan
pengertian oligarki sebagai sebuah, “politik pertahanan kekayaan oleh pelaku
yang berlimpah harta (Winters, 7).” Pelaku dari sistem oligarki adalah oligark.
Winters menyebutkan, sistem oligarki muncul karena
adanya pelaku oligarki (oligarch).
Pelaku ini mampu memerintah atau menguasai pemusatan sumber daya material
berlimpah yang bisa untuk mempertahankan atau menumpuk kekayaan material mereka
dan posisi sosial yang ekslusif (Winter, 6). Winters menekankan, kunci dari
pelaku oligarki adalah pemusatan kekayaan dalam jumlah besar untuk kepentingan
pribadi. Meski kekayaan itu tidak dimiliki, oligarki bisa menggunakannya untuk
kepentingan pribadi. Ia mencontohka Oligarki yang tidak memiliki kekayaan namun
mampu menggerakan kekayaan dalam jumlah besar untuk kepentingan pribadinya
adalah Akbar Tanjung. Ia memiliki kemampuan menggerakan anggaran negara untuk
kepentingan pribadi. Tanpa pemusatan kekayaan, pelaku oligarki juga tidak
mungkin muncul.
Winter menekankan, ada tiga pokok relevan dengan
pengertian pelaku oligarki tersebut. Pertama, kekayaan mesti dalam bentu materi
yang dapat dipusatkan pada segelintir orang. Kedua, kendali atau perintah
kekayaan mesti untuk kepentingan pribadi, bukan institutsi. Ketiga, definisi
pelaku oligarki dapat tetap dari waktu ke waktu.
Dengan kata lain, sebab utama munculnya pelaku
oligarki, dan juga berbuntut pada sistem
oligarki, adalah pemusatan harta dan kemampuannya untuk mengerahkan harta
miliknya atau kendalinya untuk melakukan pertahanan upah ataupun kepemilikan
dalam kesenjangan sosial ekstrim. Kesenjangan material yang ekstrim ini
berbuntut pada kesenjangan luar biasa pada politik.
Dengan menarik dari pengertian di atas, pelaku
oligarki melakukan dua komponen pertahanan kekayaan. Pertama adalah pertahanan
kepemilikan. Dengan begitu, oligarki dapat mengerahkan kekayaan untuk
memastikan mereka tetap berada pada kendali, memiliki atau setidaknya bisa
mengakses kekayaan yang terpusat. Komponen kedua adalah pertahanan pemasukan.
Pertahanan ini memastikan pelaku oligarki dapat mengerahkan sebagian dari harta
berlimpah di atas kendalinya untuk memastikan ia tetap mendapatkan pemasukan
tinggi.
Harta merupakan penyebab utama sistem oligarki
karena ia memberikan kekuasaan istimewa bagi pemilik atau orang yang dapat
mengendalikannya untuk menambah dan mempertahankan kekayaaan. Hak istimewa ini
cenderung lebih sulit untuk dibubarkan dibandingkan dengan sumber kekuasaan
lain berupa jabatan, hak politikformal, kemampuan memaksa dan mobilisasi.
Winter membagi tipologi oligarki berdasarkan empat
hal. Pertama, keterlibatan langsung dalam tindak pemaksaan. Oligarki jenis ini
menggunakan senjata secara langsung untuk melakukan kekerasan. Dalam
kesenjangan ekstrim, kekerasan merupakan hal niscaya untuk mempertahankan
akumulasi kekayaan dalam kerangkan kelas-kelas sosial. Kedua, keterlibatn
langsung atau tidak langsung dari pelaku oligarki untuk memerintah. Pelaku
oligarki bisa saja langsung atau tidak langsung dalam memegang pemerintahan.
Ketiga, apakah oligarki terlibat secara kolektif atau sendiri-sendiri dalam
keterlibatan mereka terkait dengan kekerasan. Keempat, apakah oligarki tersebut
jinak atau buas. Oligarki yang liar cenderung tidak memiliki kemampuan untuk
mengendalikan diri. Di lain sisi, oligarki bisa saja jinak ketika ada faktor
luar yang mempengaruhi atau mengendalikan mereka. (Winters, 32)
Berdasarkan tipologi itu, Winters membagi sistem
oligarki menjadi empat jenis. Pertama, oligarki panglima. Oligarki ini diwarnai
dengan perpecahan ekstrim antar para pelaku oligarki. Alhasil, mereka saling
berperang satu sama lain untuk memperebutkan dan mempertahankan kekayaan dan
pemasukan. Ini membuat tidak ada institusi kuat yang melindungi dan
mempertahankan kekayaan mereka. Oligarki ini bersifat liar dan tidak
dikendalikan selain oleh diri mereka sendiri. Sebab, semua memiliki wilayah
kekuasaan serta terlibat langsung dalam memerintah dan memasok paksaan karena
tidak ada institusi ang melindungi kekayaan mereka. Contoh ekstrim adalah warlord di benua Timur Tengah dan Afrik.
Kedua adalah oligarki sultanistik. Oligarki ini
diwarnai dengan satu pelaku oligarki yang menguasai pelaku-pelaku lainnya.
Dengan kata lain, penguasa itu menjadi primes
interpares. Dalam sistem ini, hanya satu pelaku oligarki yang paling
berkuasa yang terlibat langsung memasok kekerasan dan memerintah. Pelaku
oligarki lainnya mengandalkan pemimpin itu untuk mengatur pemasukan dan
pertahanan kekayaan mereka. Alhasil, keterlibatan ini bersifat. Oligarki ini
lebih bersifat jinak karena memiliki satu orang untuk mengendalikan para pelaku
lainnya. Namun, sistem ini jarang bertahan ketika pelaku oligarki tertinggi
lengser. Brunei adalah contoh ketika pelaku oligarki ini. Indonesia juga masuk
dalam contoh ini ketika berada di zaman Soeharto.
Ketiga adalah oligarki sipil. Oligarki ini tidak terlibat langsung dalam
memerintah dan memasok kekerasan. Sebab, mereka memiliki institusi yang cukup
kuat dalam mempertahankan kekayaan dan pemasukan mereka. Biasanya, negara
justru menjadi ancaman pemasukan dengan menarik pajak tinggi. Itulah kenapa
pertahanan sering bersifat pertahanan terhadap pemasukan. Oligarki ini bersifat
jinak atau relatif dapat dikendalikan karena ada unsur hukum dan peraturan yang
kuat. Contohnya adalah oligarki di Amerika Serikat dan Singapura.
Keempat adalah oligarki memerintah. Oligarki ini
adalah bentuk pemerintahan oleh kelompok-kelompok oligarki yang memerintah
secara kolektif, biasanya dalam bentuk konfederasi, namun semuanya memiliki
akses atau terlibat dalam memasok paksaan. Pertahanan kekayaan dilakukan secara
lebih kolektif. Oligarki ini berbahaya karena cenderung tidak stabil dan rentan
untuk saling perang satu sama lain.
Terlibat langsung dalam memerintah atau
tidak
|
Terlibat langsung dalam memasok paksaan
(bersenjata) atau tidak
|
Keterlibatan kolektif atau terpecah
dalam memasok paksaan dan memerintah
|
Liar/Jinak
|
|
Oligarki Panglima
|
Terlibat
|
Terlibat
|
Terpecah
|
Liar
|
Oligarki Sultanistik
|
Hanya satu yang terlibat
|
Hanya satu yang terlibat
|
Hanya oleh satu pelaku oligarki
|
Jinak
|
Oligarki Sipil
|
Tidak terlibat
|
Tidak
|
kolektif
|
Jinak
|
Oligarki Memerintah
|
Terlibat
|
Terlibat
|
Kolektif
|
Liar
|
Oligarki pada dasarnya tidak dapat dibenarkan
karena berlawanan dengan prinsip keadilan sosial. Winters dengan cermat
menggunakan kata “klaim” untuk menyebutkan hubungan antara penguasaan harta
mereka. Dengan kata lain, yang dianggap kepemilikan merupakan produk dari
sebuah sistem sosial yang dijalankan oleh penguasa. Selain itu, dalam
ketimpangan ekstrim, yang terjadi adalah kelompok yang kaya akan merekayasa
kelompok-kelompok di bawahnya untuk mengabdi pada mereka secara langsung atau
tidak langsung. Baru-baru ini, kesenjangan kekayaan di dunia semakin melebar.
Untuk itu, pemerataan kembali kekayaan merupakan keniscayaan untuk
demokratisasi.
Lantas, bagaimana proses itu bisa berlangsung?
Oligarki memiliki kekayaan luar biasa dan kemampuan untuk melawan siapa saja
yang mencoba merebutnya. Satu-satuya cara untuk melawan oligarki adalah dengan
memaksimalkan berbagai sumber kekuatan seperti mobilisasi dan jika perlu
kemampuan memaksa ketika terjadi perlawanan balik. Steve Ellner menyebutkan, kasus
Venezuela membuktikan oligarki memiliki kemampuan untuk memobilisasi kekacauan
ekonomi. Untuk itu, ia menyarankan, pemerataan kemakmuran melalui jalur politik
memerlukan perubahan struktural dan mendasar melalui kekuasaan politik. [i]
Tulisan saya sebagai bagian untuk memenuhi ujian aksi semester dalam mata kuliah Ulasan Politik Kontemporer Indonesia di Universitas Paramadina
Winters, Jeffrey. 2011. Oligarchy. New
York: Cambridge Univesity Press
[i]
Elnner, Steve. (2015, 22 Mei) Chavismo On The Horns Of A Dilemma: Populism And
Pragmatism In Venezuela terakhir diakses http://venezuelanalysis.com/analysis/11391

Tidak ada komentar:
Posting Komentar