Politik, Liputan, Humor, Budaya

Senin, 10 Agustus 2015

Kenapa Sulit Hancurkan Oligarki: Jenis dan Perilaku Oligarki Menurut Jeffrey Winters

WInters, sumber
http://www.polisci.northwestern.edu/people/core-faculty/jeffrey-winters.html
Jeffrey Winters memaparkan pengertian oligarki sebagai sebuah, “politik pertahanan kekayaan oleh pelaku yang berlimpah harta (Winters, 7).” Pelaku dari sistem oligarki adalah oligark.
                  Winters menyebutkan, sistem oligarki muncul karena adanya pelaku oligarki (oligarch). Pelaku ini mampu memerintah atau menguasai pemusatan sumber daya material berlimpah yang bisa untuk mempertahankan atau menumpuk kekayaan material mereka dan posisi sosial yang ekslusif (Winter, 6). Winters menekankan, kunci dari pelaku oligarki adalah pemusatan kekayaan dalam jumlah besar untuk kepentingan pribadi. Meski kekayaan itu tidak dimiliki, oligarki bisa menggunakannya untuk kepentingan pribadi. Ia mencontohka Oligarki yang tidak memiliki kekayaan namun mampu menggerakan kekayaan dalam jumlah besar untuk kepentingan pribadinya adalah Akbar Tanjung. Ia memiliki kemampuan menggerakan anggaran negara untuk kepentingan pribadi. Tanpa pemusatan kekayaan, pelaku oligarki juga tidak mungkin muncul.
                  Winter menekankan, ada tiga pokok relevan dengan pengertian pelaku oligarki tersebut. Pertama, kekayaan mesti dalam bentu materi yang dapat dipusatkan pada segelintir orang. Kedua, kendali atau perintah kekayaan mesti untuk kepentingan pribadi, bukan institutsi. Ketiga, definisi pelaku oligarki dapat tetap dari waktu ke waktu.
                  Dengan kata lain, sebab utama munculnya pelaku oligarki, dan juga  berbuntut pada sistem oligarki, adalah pemusatan harta dan kemampuannya untuk mengerahkan harta miliknya atau kendalinya untuk melakukan pertahanan upah ataupun kepemilikan dalam kesenjangan sosial ekstrim. Kesenjangan material yang ekstrim ini berbuntut pada kesenjangan luar biasa pada politik.
                  Dengan menarik dari pengertian di atas, pelaku oligarki melakukan dua komponen pertahanan kekayaan. Pertama adalah pertahanan kepemilikan. Dengan begitu, oligarki dapat mengerahkan kekayaan untuk memastikan mereka tetap berada pada kendali, memiliki atau setidaknya bisa mengakses kekayaan yang terpusat. Komponen kedua adalah pertahanan pemasukan. Pertahanan ini memastikan pelaku oligarki dapat mengerahkan sebagian dari harta berlimpah di atas kendalinya untuk memastikan ia tetap mendapatkan pemasukan tinggi.
                  Harta merupakan penyebab utama sistem oligarki karena ia memberikan kekuasaan istimewa bagi pemilik atau orang yang dapat mengendalikannya untuk menambah dan mempertahankan kekayaaan. Hak istimewa ini cenderung lebih sulit untuk dibubarkan dibandingkan dengan sumber kekuasaan lain berupa jabatan, hak politikformal, kemampuan memaksa dan mobilisasi.   
                  Winter membagi tipologi oligarki berdasarkan empat hal. Pertama, keterlibatan langsung dalam tindak pemaksaan. Oligarki jenis ini menggunakan senjata secara langsung untuk melakukan kekerasan. Dalam kesenjangan ekstrim, kekerasan merupakan hal niscaya untuk mempertahankan akumulasi kekayaan dalam kerangkan kelas-kelas sosial. Kedua, keterlibatn langsung atau tidak langsung dari pelaku oligarki untuk memerintah. Pelaku oligarki bisa saja langsung atau tidak langsung dalam memegang pemerintahan. Ketiga, apakah oligarki terlibat secara kolektif atau sendiri-sendiri dalam keterlibatan mereka terkait dengan kekerasan. Keempat, apakah oligarki tersebut jinak atau buas. Oligarki yang liar cenderung tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan diri. Di lain sisi, oligarki bisa saja jinak ketika ada faktor luar yang mempengaruhi atau mengendalikan mereka. (Winters, 32)
                  Berdasarkan tipologi itu, Winters membagi sistem oligarki menjadi empat jenis. Pertama, oligarki panglima. Oligarki ini diwarnai dengan perpecahan ekstrim antar para pelaku oligarki. Alhasil, mereka saling berperang satu sama lain untuk memperebutkan dan mempertahankan kekayaan dan pemasukan. Ini membuat tidak ada institusi kuat yang melindungi dan mempertahankan kekayaan mereka. Oligarki ini bersifat liar dan tidak dikendalikan selain oleh diri mereka sendiri. Sebab, semua memiliki wilayah kekuasaan serta terlibat langsung dalam memerintah dan memasok paksaan karena tidak ada institusi ang melindungi kekayaan mereka. Contoh ekstrim adalah warlord di benua Timur Tengah dan Afrik.
                  Kedua adalah oligarki sultanistik. Oligarki ini diwarnai dengan satu pelaku oligarki yang menguasai pelaku-pelaku lainnya. Dengan kata lain, penguasa itu menjadi primes interpares. Dalam sistem ini, hanya satu pelaku oligarki yang paling berkuasa yang terlibat langsung memasok kekerasan dan memerintah. Pelaku oligarki lainnya mengandalkan pemimpin itu untuk mengatur pemasukan dan pertahanan kekayaan mereka. Alhasil, keterlibatan ini bersifat. Oligarki ini lebih bersifat jinak karena memiliki satu orang untuk mengendalikan para pelaku lainnya. Namun, sistem ini jarang bertahan ketika pelaku oligarki tertinggi lengser. Brunei adalah contoh ketika pelaku oligarki ini. Indonesia juga masuk dalam contoh ini ketika berada di zaman Soeharto.
                  Ketiga adalah oligarki sipil.  Oligarki ini tidak terlibat langsung dalam memerintah dan memasok kekerasan. Sebab, mereka memiliki institusi yang cukup kuat dalam mempertahankan kekayaan dan pemasukan mereka. Biasanya, negara justru menjadi ancaman pemasukan dengan menarik pajak tinggi. Itulah kenapa pertahanan sering bersifat pertahanan terhadap pemasukan. Oligarki ini bersifat jinak atau relatif dapat dikendalikan karena ada unsur hukum dan peraturan yang kuat. Contohnya adalah oligarki di Amerika Serikat dan Singapura.
                  Keempat adalah oligarki memerintah. Oligarki ini adalah bentuk pemerintahan oleh kelompok-kelompok oligarki yang memerintah secara kolektif, biasanya dalam bentuk konfederasi, namun semuanya memiliki akses atau terlibat dalam memasok paksaan. Pertahanan kekayaan dilakukan secara lebih kolektif. Oligarki ini berbahaya karena cenderung tidak stabil dan rentan untuk saling perang satu sama lain.  






Terlibat langsung dalam memerintah atau tidak
Terlibat langsung dalam memasok paksaan (bersenjata) atau tidak
Keterlibatan kolektif atau terpecah dalam memasok paksaan dan memerintah
Liar/Jinak
Oligarki Panglima
Terlibat
Terlibat
Terpecah
Liar
Oligarki Sultanistik
Hanya satu yang terlibat
Hanya satu yang terlibat
Hanya oleh satu pelaku oligarki
Jinak
Oligarki Sipil
Tidak terlibat
Tidak
kolektif
Jinak
Oligarki Memerintah
Terlibat
Terlibat
Kolektif
Liar

                  Oligarki pada dasarnya tidak dapat dibenarkan karena berlawanan dengan prinsip keadilan sosial. Winters dengan cermat menggunakan kata “klaim” untuk menyebutkan hubungan antara penguasaan harta mereka. Dengan kata lain, yang dianggap kepemilikan merupakan produk dari sebuah sistem sosial yang dijalankan oleh penguasa. Selain itu, dalam ketimpangan ekstrim, yang terjadi adalah kelompok yang kaya akan merekayasa kelompok-kelompok di bawahnya untuk mengabdi pada mereka secara langsung atau tidak langsung. Baru-baru ini, kesenjangan kekayaan di dunia semakin melebar. Untuk itu, pemerataan kembali kekayaan merupakan keniscayaan untuk demokratisasi.
                  Lantas, bagaimana proses itu bisa berlangsung? Oligarki memiliki kekayaan luar biasa dan kemampuan untuk melawan siapa saja yang mencoba merebutnya. Satu-satuya cara untuk melawan oligarki adalah dengan memaksimalkan berbagai sumber kekuatan seperti mobilisasi dan jika perlu kemampuan memaksa ketika terjadi perlawanan balik. Steve Ellner menyebutkan, kasus Venezuela membuktikan oligarki memiliki kemampuan untuk memobilisasi kekacauan ekonomi. Untuk itu, ia menyarankan, pemerataan kemakmuran melalui jalur politik memerlukan perubahan struktural dan mendasar melalui kekuasaan politik. [i]


Tulisan saya sebagai bagian untuk memenuhi ujian aksi semester dalam mata kuliah Ulasan Politik Kontemporer Indonesia di Universitas Paramadina




Referensi 

Winters, Jeffrey. 2011. Oligarchy. New York: Cambridge Univesity Press

[i] Elnner, Steve. (2015, 22 Mei) Chavismo On The Horns Of A Dilemma: Populism And Pragmatism In Venezuela terakhir diakses http://venezuelanalysis.com/analysis/11391

Tidak ada komentar:

Posting Komentar