Sepanjang kampanye pemilu presiden 2014, calon presiden
ketika itu, Joko Widodo dan Prabowo Subianto saling bertarung untuk memenangkan
opini publik. Namun, pada dasarnya, opini publik tidaklah tunggal. Kedua calon
presiden saling memperebutkan untuk menguasai opini publik sedominan mungkin. Sebab,
penguasaan opini publik sebanyak mungkin memberikan peluang pada kedua kandidat
untuk lolos ke kursi RI-1. Joko Widodo sebagai seorang calon presiden terbukti
berhasil memenangkan lebih banyak opini publik dengan meyakinkan mereka untuk
memilihnya. Keberhasilan Joko Widodo ini terutama karena berhasil mengarahkan
opini publik dari kelompok pemilih rasional pada saat-saat akhir.
Opini Publik-publik
Sosiolog dari Universitas Colombia Philips Davison
menguraikan opini publik sebagai, “kumpulan pandangan, sikap dan kepercayaan
individu tentang topik tertentu, disampaikan oleh jumlah signifikan dari suatu
komunitas.” Davison merangkum, sebagian besar akademikis sepakat, setidaknya
ada empat syarat agar suatu opini bisa disebut opini publik. Pertama, harus ada
sebuah pokok persoalan. Kedua, mesti ada sejumlah besar individu yang
menyampaikan pendapat tentang suatu pokok masalah. Ketiga, mesti ada
kesepakatan dari setidaknya sejumlah pendapat ini. Keempat, kesepakatan itu
mesti memiliki pengaruh secara langsung atau tidak. [1]
Ahli
dilompasi dari Universitas Aberystwyth, Gary Rawnsley berpendapat, opini publik
bagaimanapun tidaklah tunggal. Sebab, ia mendapati gagasan publik yang tunggal
bukanlah suatu fakta. “Tidak ada publik yang tungggal dan upaya mengukur opini
mesti cukup maju untuk mengenali banyak publik, setiap kelompok memiliki
tingkat kepedulian dan kepentingan politik yang sangat berbeda,” tulisnya dalam
Political Communication and Democracy.
Ia menyebutkan, setiap isu memunculkan publik tersendiri. Terlebih, setiap individu
memiliki keanggotaan bersinggungan dengan sejumlah publik pada satu waktu. [2]
Dengan
persepektif teoritis itu, Rawnsley menekankan, pendapat mayoritas orang dalam
suatu masyarakat tidak lantas menjadi opini publik. Namun, ia membuka ruang
munculnya banyak opini publik dalam satu masyarakat tempat para aktor politik
berebut pengaruh.[3]
Rawnsley
menyebut, media memiliki pengaruh besar dalam membentuk opini publik. Pengaruh
media semakin besar terutama ketika individu konsumen media memiliki jarak
ruang dan waktu yang terhampar hauh dari peristiwa atau pokok persoalan yang
menjadi ulasan. Pengaruh itu menjadi semakin kuat ketika seorang individu tidak
berada dalam kelompok yang dapat memberi pengaruh terhadap sejumlah isu.[4]
Pengaruh Opini Publik pada
Perilaku Pemilih
Banyak teoritikus politik melihat perilaku pemilih dalam
kelompok pemilih rasional, sosiologis dan psikologis. Pemilih rasional adalah
pemilih yang mencoblos dengan penuh pertimbangan dan alasan, pemilih psikologis
karena kedekatan seperti identitas partai dan sosiologis karena asal usul kelompok
sosial. Namun, Richard Lau dan David Redlawks dalam How Voters Decide mengembangkan pengggolongan perilaku pemilih
menjadi empat. Berdasarkan paparan
Rawnsley, kita bisa menggolongkan kelompok pemilih mana yang dapat menjadi
sasaran kampanye pembentukan opini publik untuk mendulang suara.
Pertama, Laws dan Redlawks tipe pemilih sebagai model
rasional. Pemilih rasional “dengan penuh kesadaran mempertimbangkan dampak
(baik positif dan negative) untuk kepentingan diri mereka.”[5]
Kedua, model perilaku pemilih early
socialization and cognitive consistency yang gampang menenetukan pilihan
karena berdasarkan pada identitas partai. Selain itu, identitas partai bagi
kelompok ini seperti halnya ras dan gender, seolah merupakan bawaan bayi.
Ketiga adalah model perilaku memilih fast
and frugal decision making. Model perilaku ini memperhatikan hanya pada
satu atau dua isu saja yang mereka peduli. Setelahnya, mereka melakukan seleksi
secara singkat berdasarkan isu mereka. Tidak seperti pemilih rasional yang
menghabiskan sumber daya untuk mencari informasi tentang kandidat, kelompok ini
menganggap mereka memiliki keterbatasan sumber daya tersebut. Terakhir adalah
model bounded rationality and intuitive
decision making. Model ini juga mirip dengan model kedua. Namun, model
pemilih ini bersedia membuka peluang untuk memastikan kandidat mereka sesuai
dengan kriteria pengelompokan spektrum politik. Mereka mencari sedikit
informasi, contohnya, untuk memastikan John Kerry mengusung nilai-nilai Partai
Demokrat atau George Bush mengusung nilai-nilai Partai Republik.
Berdasarkan kategori di atas, model pemilih pertama, ketiga
dan keempat memiliki peluang untuk mendapat pengaruh melalui opini publik.
Ketiganya mencari informasi untuk memastikan mereka tidak salah pilih. Bedanya,
model pemilih rasional meluangkan lebih banyak sumber daya untuk mencari dan
mempertimbangkan informasi. Sementara, model pemilih yang cepat dan gampang
mengambil keputusan sedikit sumber daya dan model intuitif lebih sedikit lagi.
![]() |
| Konser Dua Jari, Sumber Kompas.com |
Memenangkan Opini Publik Kritis di Saat Akhir
Calon presiden pada pemilu 2014 Joko Widodo dan Prabowo
Subianto saling merebut opini publik kelompok-kelompok tertentu untuk
memenangkan pemilu. Joko Widodo terutama, mengemas citra dirinya sebagai bagian
dari rakyat jelata untuk secara pasti memenangkan opini publik pada kelompok
perilaku pemilih intuitif (model 4)
dengan gampang. Meskipun dianggap berhasil, ia kewalahan menghadapi kampanye
hitam berbau SARA untuk memenangkan opini publik model pemilih kritis (model 1)
dan pemilih cepat (model 3). Untungnya, Jokowi, seperti pengakuan JK, berhasil
memanfaatkan momentum saat-saat terakhir untuk menggaet suara dari perilaku
pemilih rasional (model 1) dan menetralisir opini publik negative untuk isu agama
bagi kelompok model pemilh 3.
Joko Widodo
mencoba meyakinkan opini publik khalayak pemilih tradisional PDI-P dengan
gampang. PDI-P mencitrakan diri sebagai partai wong cilik. Jokowi dapat mengemas diri dengan gampang untuk
menyesuaikan citra tersebut. Alhasil, pemilih intuitif cukup melakukan sedikit
sekali informasi untuk memastikan Joko Widodo sesuai dengan kebiasaan memilih
mereka. Anggota Tim Pemenangan Jokowi, Nusron Wahid mengatakan dalam pernyataan
penutup di debat Mata Najwa bahwa
Jokowi 2 Juli 2014 sangat sesuai dengan citra wong cilik. “Saya yakin Jokowi akan menang karena wajahnya ndeso, dan hampir semua orang Indonesia
itu wajahnya ndeso kaya saya.
Personifikasi dari orang Indonesia pada umumnya.[6]”
Pakar
sosiologi komunikasi Burhan Bungin berpendapat, Joko Widodo menggunakan pola
komunikasi wong cilik karena langkah
itu merupakan pilihan terbaik. “Jokowi, yang datangnya dari kalangan bawah,
anak dari orang biasa, didukung oleh banyak akar rumput. Mau-tidak mau
menggunakan gaya komunikasi pencitraan ini sebagai salah satu senjata utamanya,”
tulisnya. [7]
Jokowi bahkan menyikapi serangan terhadap dirinya seperti rakyat jelata dengan
mengatakan aku ra po po.
Jajak
pendapat Cyrus Surveyors Group pada
periode November-Desember 2013 menyimpulkan, sebanyak 64,5 persen pemilih PDI-P
bakal mencoblos Joko Widodo jika PDI-P akhirnya mengajukan ia menjadi calon
presiden. [8]
Jajak pendapat LIPI pada Juni 2014 menemukan, sebanyak 60 persen dari pemilih
PDI-P, Hanura, PKB dan Nasdem bakal mencoblos Jokowi.[9]
Untuk
memenangkan opini publik dari model pemilih 3 yang peduli dengan satu atau dua
isu, Jokowi meskipun tergopoh-gopoh, berhasil menetralisir kampanye hitam
berbau SARA di masa akhir menjelang kampanye. Sayangya, upaya ini tidak
berhasil untuk menembus provinsi-provinsi yang dikenal memiliki tingkat
religiusitas tinggi.
Selama masa
kampanye, Jokowi mendapat paling banyak serangan kampanye hitam dibandingkan
dengan lawannya, Prabowo Subianto. Survei Indonesia Indicator (I2) terhadap isu
di Twitter selama periode 1 Januari-4 Juni 2014 menyimpulkan, sebanyak 148.133
informasi dengan 12 isu negative menyerang Jokowi. Jumlah ini lebih 10 kali
lipat ketimbang 12.090 informasi negative dalam bingai 6 isu yang menyerang
Prabowo.[10] Survei Politicawave
menemukan, 94 persen kampanye hitam di Internet tertuju pada Joko Widodo. [11]
Jokowi disebut memiliki keturunan Cina, beragama Kristen dan berpihak pada
non-muslim. [12]
Bagi
pemilih model 3 yang mempedulikan satu atau dua isu, banyak menganggap agama
merupakan isu penentu dalam memilih calon presiden. Selama kampanye, Jokowi
membuat komitmen yang membuat berang kelompok masyarakat Islam fanatik karena
ingin menghapuskan perda syariah kecuali untuk Aceh. [13]
Selaini tu, Jokowi berasal dari PDI-P yang selama ini dikenal nasionalis dan
pluralis.
Sumatera Barat contohnya, merupakan
wilayah yang pemilihnya banyak menjadikan isu agama sebagai penentu. Pengamat
politik dari Universitas Negeri Padang, Nora Eka Putri mengatakan, agama
merupakan satu dari empat faktor utama yang menyebabkan kekalahan Jokowi di
sana. Di provinsi itu, pesaingnya, Prabowo menang dengan suara 78 persen. Selain
kalah di sana, Jokowi juga kalah di daerah yang dikenal sangat mementingkan isu
agama antara lain Jawa Barat, NTB, Aceh
dan Gorontalo.
Jokowi berupaya melawan upaya pembangunan
opini publik di daerah-daerah dengan tingkat religiusitas tinggi tersebut. Tokoh
Muhammadiyah Buya Syafii Maarif bersama timses Jokowi bahkan melakukan safari
ke 10 titik selama dua hari untuk menepis isu bahwa Jokowi merupakan kafir di
Sumatera Barat. [14]
Jokowi juga berupaya menepis isu itu terutama
dengan gaya komunikasi khasnya, plain
folks. Plain folks merupakan
teknik propaganda dengan, “mendekatkan juru bicara propagandis sebagai sosok
yang sederhana, seseorang yang bisa dipercaya oleh khalayak dan memiliki
kesamaan kepentingan dengan khalayak.”[15]
Penelitian Alip Kunandar dan Yani Tri Wijayanti selama bulan Maret dan April
2014 di Kompas.com dan Detik.com menyimpulkan, di Detik.com 46 persen upaya
Jokowi menepis kampanye hitam dengan cara plain
folks dan di Kompas.com sebanya 42 persen. Jokowi pada saat-saat akhir bahkan menjanjikan untuk menetapkan
hari santri untuk memenangkan opini publik bahwa ia tidak anti-Islam ketika
memimpin.
Pertarungan opini publik pada isu soal
agama bahkan semakin bergulir pelik ketika lawan Jokowi, Fahri Hamzah
menanggapi janji Jokowi itu dengan kata-kata kasar. “Jokowi Janji 1 Muharam
hari santri. Demi dia terpilih, 360 hari akan dijanjikan ke semua orang.
Sinting!” tulisnya. Tim kampanye Jokowi menyambut baik umpah ini untuk
memperkuat opini bahwa Jokowi pro-terhadap muslim. Banyak santri NU turun ke
jalan untuk menekan Fahri dan mendukung hari santri. Tim kampanye Jokowi membayar advertorial ke
sejumlah media untuk memberitakan demo itu. Media itu di antaranya adalah
merdeka.com[16] dan tribunnews[17].
Cawapres JK menganggap kesalahan itu sebagai langkah bunuh diri kubu
Prabowo-Hatta. Dipandang dari pertarungan opini publik, langkah Fahri Hamzah
memberi peluang Jokowi untuk mentralisir isu anti-Islam dan meraih suara dari
pemilih yang hanya memperhatikan sedikit isu (model 3). [18]
Terkait pertarungan opini publik untuk
memperebutkan suara model 1 atau perilaku pemilih rasional, Joko Widodo diperkirakan
mengantongi dukungan para pemilih rasional. Selain itu, ia mencoba meyakinkan
dengan memanfaatkan momen saat-saat akhir kampanye. Pemilih rasional memiliki
kecenderungan menentukan pilihan di saat-saat akhir. Mereka juga rentan menjadi
swing voters jika melihat terjadi
perubahan-perubahan kondisi.
Pemilih rasional merupakan pemilih yang
mempertimbangkan untung rugi suatu pilihan dengan seksama. Kebanyakan pemilih
rasional merupakan kelompok muda dan berpendidikan. Banyak dari mereka tinggal
di perkotaan. Survei Polcom Institut pada 16-20 Juni 2014 menyimpulkan, usia
pemilih di bawah 34 tahun kebanyakan memberikan suara pada Joko Widodo. [19]
Kelompok ini gemar menggunakan media
internet. Jajak pendapat Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia pada 2014
memperkirakan, hampir separuh (49 persen) pengguna internet di Indonesia berusia
muda pada rentang 18-25 tahun. Penelitian pada blog opini kompasiana, sebagai
salah satu tempat kelompok muda ini mencoba mempengaruhi opini publik,
menemukan, sebagian besar penulis menyatakan dukungan pada Jokowi. Penelitian
Aryo Subarkan Eddyono mencatat, 69 persen artikel tentang calon presiden Jokowi
pada periode 9 April 2015 hingga 9 Mei 2014 mendukung Joko Widodo dan hanya 36
persen tentang Prabowo mendukung pencalonan bekas danjen kopassus tersebut.
Jokowi juga mendapat porsi pembahasan paling banyak dengan 62 persen dari
seluruh artikel tentang pencapresan. [20]
Untuk kelompok pemilih ini, Jokowi
mencoba mencitrakan diri sebagai calon alternatif dengan gagasan-gagasan segar.
Contohnya, Jokowi membuat kampanye tidak harus dengan rapat massa dengan alasan
kalau di Jakarta akan mengganggu orang lain. Alih-alih, ia kampanye dengan
menelusuri jejak perjuangan bangsa, patriot trail dari museum. [21]
Joko Widodo menggunakan
momentum masa akhir kampanye untuk meyakinkan para pemilh rasional ini dengan
menggunakan band wagon effect melalui konser dua jari pada hari terakhir
kampanye dan memanfaatkan opinion leader melalui media sosial Twitter pada masa
tenang. Konser dua jari di Jakarta dihadiri puluhan ribu pendukung dan memberi
kesan pasangan Jokowi-JK akan memenangi pemilihan umum. Selain itu, para
selebritis seperti Djoko Anwar dan Sherina Munaf mendorong para penggemar
dengan tanda pagar #akhirnyapilihjokowi.
[1]
Davison, Philips. 30 Juni 2015. Public Opinion http://www.britannica.com/topic/public-opinion
[3]
hal 67
[4]
hal 74
[5]
Lau, Richard and David Redlaws. 2006. How
Voters Decide: Information processing
during election campaign
[7]
Budianto, Heri dan Dewi Sad Tanti,ed. 2014. Membaca Gaya Komunikasi Pemimpin
Kita. Jakarta: Political Communication Institute. hal xvii
[8]
Firdaus, Rendy Ferdy. Setelah PDI-P, Pemilih Jokowi Paling Banyak dari
Demokrat. 9 Januari 2014. http://www.merdeka.com/pemilu-2014/setelah-pdip-pemilih-jokowi-paling-banyak-dari-demokrat.html
[9]
Aco, Hasanudin. 26 Juni 2014. Suvei LIPI Jokowi JK menang, Pengamat: Sulit
berubah http://www.tribunnews.com/pemilu-2014/2014/06/26/survei-lipi-jokowi-jk-menang-pengamat-sulit-berubah
[11] Wardhy, Robertus. 6 Juni 2014 http://www.beritasatu.com/nasional/188494-survei-politicawave-jokowijk-paling-banyak-diserang-kampanye-hitam.html
[12]
Shaidra, Aisha. Pengamat: Kampanye Hitam Terhadap Jokowi Membodohi, 5 Juni
2014 http://www.tempo.co/read/news/2014/06/05/269582647/pengamat-kampanye-hitam-terhadap-jokowi-membodohi
[14]Trianita,
Linda. 03 Juli 2015. Buya Syafii Ngeri Lihat Kampanye HItam ke Jokowi http://nasional.tempo.co/read/news/2014/07/03/078589971/buya-syafii-ngeri-lihat-kampanye-hitam-ke-jokowi
[15]
hal 23
[18]
Tempo. JK: Prabowo Kalah karena Gol Bunuh Diri http://www.tempo.co/read/news/2014/07/21/269594608/jk-prabowo-kalah-karena-gol-bunuh-diri
[20]
hal 61
[21]
hal 10

Tidak ada komentar:
Posting Komentar