Kecenderungan media massa semakin dimiliki oleh segelintir
orang dan mewakili kepentingan segelintir kelompok pemilik, bukannya publik.
Ini terjadi tidak hanya di Indonesia tapi juga di dunia. Sudah begitu, garis ideologi
suatu media semakin rentan tercebur arus utama untuk membebek pada ideologi
arus utama, seperti HAM dan kapitalisme. Untuk itu, pengelolaan media secara alternatif
mutlak diperlukan untuk menjadi angin segar dalam pasar bebas gagasan.
Ibarat
lepas dari mulut harimau masuk mulut buaya, nasib media di Indonesia setelah
lepas dari tirani pemerintah orde baru tercebur pada korporasi media. Sebagian
besar media di Indonesia dimiliki oleh 12 kelompok media saja. Apesnya lagi,
sebagian besar dari mereka memiliki kepentingan-kepentingan tersendiri. Buntutnya,
pemberitaan kerap diatur sedemikian rupa untuk mewakili kepentingan tersebut. Contohnya,
koran dan televise Jawa Post tak ayal kerap menggambarkan Menteri BUMN Dahlan
Iskan sebagai sosok yang melakukan gebrakan dalam mengelola BUMN. Terlebih
lagi, Dahlan sebagai pemilik kelompok media ini kini memiliki kepentingan
mendongkrak popularitasnya untuk bertarung dalam konvensi calon presiden Partai
Demokrat. Dalam dunia pertelivisian, kepemilikan TV nasional dipegang lima
orang saja. Aburizal Bakrie pemilik TV One dan ANTV maju sebagai capres dari
Partai Golkar. Sementara itu, Surya Paloh pemilik Metro TV memimpin Partai
Nasdem. Di lain sisi, Harry Tanoesodibjo yang memiliki RCTI, Global TV dan MNC
TV maju sebagai cawapres dari partai Hanura. Film di Balik Frekuensi mengupas
dengan cukup mendalam bagaimana pemilik media menggunakan frekuensi publik itu
untuk kepentingan diri.
Dalam
dunia dan berita internasional, keadaan tak jauh beda. Media-media terpecah
pada bias politik yang mencerminkan kepentingan penguasa. Media seperti BBC,
CNN, VoA, Reuters, AFP, AP, ANN dan Fox News gencar mendukung kepentingan
negara-negara barat dalam mengeksploitasi negara-negara dunia ketiga. Di bawah
komando mereka, masyarakat dunia diajak untuk membenarkan invasi militer untuk
menumbangkan pemerintahan negara berdaulan seperti Libya, Suriah dan Irak atas
nama “kemanusiaan”. Tokoh-tokoh yang melawan imperialisme seperti bekas
pemimpin Libya Gaddafi, bekas Presiden Venezuela Hugo Chavez dan penggantinya Nicolas
Maduro, Presiden Bolivia Evo Morales dan Presiden Ekuado Rafael Correa digambarkan
sebagai tokoh diktator. Sementara itu, tokoh yang menegakan kapitalisme seperti
bekas Presiden Nelson Mandela dan bekas Perdana Menteri Inggris Margaret Tatcher
disanjung-sanjung bak pahlawan. Padahal, Margaret Tatcher memimpin dengan
otoriter, terutama terhadap serikat pekerja. Ia bahkan menghentikan program
susu gratis bagi pelajar Inggris. Sementara itu, Nelson Mandela menghianati
janji kampanye dengan tidak menasionalisasi perusahaan-perusahaan milik kulit
putih.
Ketidakberimbangan
media internasional menular, entah disadari atau tidak, pada media-media lokal
ketika memuat berita internasional. Media-media, terutama daring, mengambil
framing dan kosa kata media pro-barat itu begitu saja. Akibatnya, pemberontak
Suriah mendapat sebutan sebagai kelompok pro demokrasi. Padhaal, pemberontak
Suriah kini dikuasai kelompok garis keras Islamis yang menghendaki Suriah yang
cenderung sekuler dan toleran menjadi seperti Arab Saudi.
Selain
pemframingan itu, media-media kini memiliki pandangan homogen dalam ideologi.
Mayoritas dari mereka tidak lagi mempertanyakan soal kapitalisme. Koran dan
majalah Tempo contohnya, meskipun bisa dikatakan cenderung selamat dari
kooptasi korporasi media, harian ini terus dan terus mengangkat isu korupsi
sebagai berita utama. Korupsi memang salah satu masalah bangsa. Namun,
penekanan berlebihan menimbulkan pertanyaan. Apakah media ini berharap dengan
tidak adanya korupsi pasar bebas dapat bekerja dengan efisien dan rakyat menjadi
makmur? Begitu juga dengan media-media seperti kompas dan Jakarta post. Pekan
lalu, kompas memuat berita tentang demo buruh di Tangerang yang menutup tol. Sebagian
besar isi berita itu menceritakan dampak kemacetan dan kecaman terhadap aksi
buruh. Sementara itu, hanya dua paragraph menceritakan tuntutan buruh tanpa
menyampaikan alasannya. Di sini, pandangan suatu media tampaknya telah hanyut
pada arus pendapat yang disenangi publik.
Lantas,
alternatif seperti apa yang dibutuhkan? Pengalaman Venezuela dapat memberi
gerbang pencerahan untuk ditiru. Pemerintahan Hugo Chavez selama ini memang
dikenal oleh pers barat sebagai dictator. Namun, perlu dicatat, tidak ada
jurnalis dipenjarakan oleh pemerintahan ini. Bandingkan dengan Amerika Serikat
yang mencoba menangkan Julian Assange karena menyebarkan informasi. Pada 2007,
pemerintah Venezuela menolak memperpanjang izin tv swasta RCTV. TV ini
merupakan milik pemerintah dan terlibat aktif dalam kudeta dua hari pada 2002. Meda
barat tentu menuding Chavez menutup TV milik oposisi. Namun, pemerintah Venezuela
justru tengah melakukan demokratisasi penyiaran. Channel 2 kini diberikan pada
pihak-pihak swasta, komun, pekerja, perusahaan gabungan publik-swasta yang
bersedia membuat produk siaran yang menyuarakan kepentingan rakyat, bukannya
pengusaha. Orientasi publik merupakan amanat Undang-undang tentang
Pertanggungjawaban Media.
Selain demokratisasi
penyiaran, mengaktifkan jurnalisme warga dan media untuk menampung itu bisa
menajdi alternatif informasi. Warga yang jenuh dengan pemberitaan Metro TV dan
TV One yang terus menggelembungkan korupsi Partai Demokrat dapat mencari
informasi soal lain. Namun, kelemahan dari sistem ini, sepertai dapat dilihat
pada kompasiana, adalah tulisan-tulisan warga yang belum tentu nikmat dibaca.
Meskipun begitu, dengan pelatihan rutin dan memadai, tulisan warga dapat
dikemas secara menarik. Contoh jurnalisme warga yang berhasil adalah
reportase-reportase warga desa dalam laman www.melung.desa.id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar