Politik, Liputan, Humor, Budaya

Rabu, 15 Mei 2013

Upaya Curang Keong Kalahkan Kancil




Alkisah, di suatu hutan, hiduplah berbagai macam binatang dan tumbuhan. Mereka bersyukur dengan kelebihan mereka masing-masing. Walaupun berkuran kecil, semut hidup dengan gotong royongnya. Mereka sungguh kompak. Gajah hidup dengan belalainya yang panjang. Burung pelatuk dengan paruhnya yang kuat. Mereka juga saling kerja sama dan berbagi. Bunga memberikan nektarnya pada lebah dan kupu-kupu. Sebagai gantinya, mereka dibantu agar berbuah.

Namun, ada suatu kelompok binatang yang tidak mensyukuri apa yang dia punya. Kelompok ini bernama keong. Para keong merasa dirinya berjalan terlalu lambat. Keong berpikir bahwa dirinya hanya dapat merayap dan menempel di bebatuan sungai. Keong tidak memiliki kaki. Mereka merasa seolah-olah banyak binatang-binatang di hutan menertawakan mereka.

Selain itu, keong juga merasa iri hati dengan binatang-binatang lain, terutama kancil. Menurut para keong, kancil binatangnya besar dan dapat berlari-lari dengan lincahnya. Maka, suatu ketika sang raja keong mengumpulkan seluruh keong-keong yang ada di hutan. Mereka berkumpul di kolam yang indah sambil membahas sebuah rencana.

“Saya merasa kita telah dianggap remeh oleh makhluk-makhluk hutan yang lainnya” seru dia membuka pertemuan itu.
“kita dipermalukan karena kita berjalan lambat, hanya mampu menempel dan tidak punya kaki. Lihatlah binatang-binatang lain? Mereka memandang kita dengan tatapan menghina. Maka, agar kita tidak minder, hendaklah kita mengadakan sayembara. Kita tantang kancil berlari mengelilingi danau.”
 Namun, Si Keong Tua yang bijaksana membalas, “Tapi kita pastilah kalah, kancil dapat berlari lebih cepat dan gesit. Lagi pula, bukankah setiap jenis binatang memiliki kelebihan dan keunggulannya masing-masing. Kita tidak perlu iri, juga merasa minder”
Raja Keong membantahnya, “Tentu kita curang supaya menang. Aku sudah merancang cara supaya menang. Dalam pertandingan ini, kita akan melibatkan banyak keong tanpa pengetahuan si kancil dan juri. Kancil akan mengira dia hanya bertanding melawan satu keong. Setelah kancil menyalip dan melaju lebih cepat, kita telah menyiapkan keong di depan sehingga keong itu akan masuk finis terlebih dahulu. Dan pertandingan akan kita menangkan.”
Banyak rakyat keong setuju karena mereka memang merasa minder. Namun, Si Keong Tua tidak merasa iri dengan kancil, dia tidak merasa minder pada binatang-binatang lainnya. Namun, karena iri hati menguasai Raja Keong. Ia tetap bersikeras, dan keong-keong lain juga setuju rencana pertandingan dengan kancil.

Kerajaan keongpun mengirim utusan menemui kerajaan kancil. Raja Keong juga telah mengundang seluruh binatang di hutan untuk menyaksikan jalannya pertandingan. Raja Keong ingin agar semua makhluk di hutan melihat kehebatan keong mengalahkan kancil. Kerajaan Keong dan kerajaan kancil saling sepakat untuk berlomba sesuai peraturan yang adil. Setiap kerajaan diwakili satu ekor. Tapi tidak ada yang tahu rencana curang Raja Keong kecuali Raja Keong dan rakyatnya. Juri pertandingan tersebut adalah seekor burung elang. Dia dipilih karena penglihatannya tajam dan jeli.
Sebelum pertandingan, kancil yang mewakili berlomba tertawa geli. Dengan sombong dia berkata pada lawannya, “mana mungkin keong, kamu bisa mengalahkanku. Larimu pelan, kaki saja kamu tidak punya. ”
“kita lihat saja nanti, jangan terlalu sombong. Kesombonganmu dapat menjatuhkanmu” jawab keong yang sudah siap-siap berlari.
Perlombaanpun dimulai, “prriiiiit” si burung elang membunyikan peluit start. Para binatang mempercayai matanya yang jeli untuk mengamati pertandingan. Elang segera terbang dan mengamati memantau dari udara. Kancil langsung melesat berlari meninggalkan keong. Dia berlari sambil tertawa-tawa girang. Sambil berlari ke depan dan menoleh ke belakang kancil berteriak “lihatlah, sudah kukatakan, aku pasti menang, akulah binatang yang dapat lari paling lincah di hutan”
“Siapa bilang, aku sudah di depanmu” seru seekor keong lainnya di depan kancil.
“Tidak mungkin, tadi aku sudah lari di depanmu. Baiklah, segera aku lewati kamu” balas kancil kesal.

Begitulah pertndingan berlangsung, hingga sebelum garis finis, kancil yang sombong mengira dia akan menang. Namun sayang, raja keong telah menyiapkan sebuah rencana curang untuk menggagalkan kemenangan kancil. Seeekor keong telah disiapkan di tikungan terakhir sebelum garis finis. Saat kancil mendekat, keong itu tinggal sedikit melangkah dan jadilah, dia melewati finis sebelum kancil. Penduduk hutan yang menunggu tepat di garis finis terkesima. Entah bagaimana, ternyata keong mampu berlari lebih cepat dari kancil. Merekapun menganggap keonglah pemenang perlombaan tersebut.

“Tungguh, teriak si burung elang yang menjadi wasit. Dia telah memutuskan bahwa pemenang sebenarnya adalah kancil.. dia menjelaskan pada penonton bahwa dalam pertandingan ini si keong yang mewakili telah jauh tertinggal, dan si keong yang membelakangi kancil adalah keong yang lain. Ini berarti curang. Maka, kancillah pemenang perlombaan ini.” Si Elang menjelaskan.
Kancil yang semula sebal akhirnya merasa lega. Namun, saat dia melihat raja keong menjadi sebal, terlintas dari pikirannya “Kenapa mereka sebal pada saya dan menantang saya lomba lari? Mengapa mereka berusaha mati-matian memenangkannya dengan segala cara?”.
Kancilpun akhirnya menyadari bahwa dia telah sombong, tidak rendah hati. Maka, dia dengan lapang dada segera menyesalinya. Dia merasa bersalah telah membangkitkan rasa tidak suka pada orang lain. “Keong, saya minta maaf karena saya sadar saya terlalu sombong.”

Hewan-hewan yang ada di sana menjadi terkagum dan menghormati kancil yang lapang dada. Keongpun menjadi tersentuh. Dia kini bersimpati pada kancil. Mereka merasa lega dan bahagia. Raja keong akhirnya berbicara, “kami juga meminta maaf telah iri pada dirimu kancil. Si Keong Tua benar bahwa semua dari kita memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kaum keong tak perlu iri karena tak punya kaki, memang yang kami butuhkan adalah menempel kuat di batu-batu sungai karena kami tidak boleh terseret arus”

“Betul raja keong, setiap binatang memiliki kekurangan dan kelebihannya. Yang terpenting adalah mengembangkan kelebihan kita” sahut si elang.
Binatang-binatang lainnya pun turut bersuka cita. Mereka bahagia tidak ada perselisihan lagi. Akhirnya, kisah tentang perlombaan keong dan kancil menyebar di seluruh hutan. Binatang-binatang lain yang tidak hadir tetap dapat mengambil pelajaran darinya. Hutanpun menjadi damai tanpa iri hati. Mereka menjadi binatang-binatang yang semakin bersyukur atas apa yang mereka punya dan mereka kini semakin akrab berkawan satu sama lain.

Digubah dengan banyak perubahan dari fable klasil tentang kancil dan keong.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar