Politik, Liputan, Humor, Budaya

Senin, 10 Juni 2013

Ketika Orang Kulit Putih Kapitalis Menghidupi Budaya Indian Shuar-Kutipan dari novelet Pak Tua yang Membaca kisah Cinta






Kutipan dari novelet Pak Tua yang Membaca kisah Cinta, halaman 26-27, Luis Sepulveda, terbitan Marjin Kiri.  
 
Ia (Antonio Jose Bolivar Proano) belajar bahasa Shuar (suku Indian di Ekuador dan Peru.ed) dengan ikut ekspedisi berburu mereka. Mereka memburu tapir, paca, kapibara, babi-rusa, celeng hutan kecil yang sangat lezat, monyet, burung, dan reptil. ….

                Bersama mereka ia abaikan adat kesopanan Katolik udiknya. Ia berjalan-jalan setengah telanjang dan menghindari kontak dengan pemukiman-pemukiman baru, yang menganggapnya orang gila. 

                Antonio Jose Bolivar Proano, yang tak pernah berpikir soal kata “kebebasan” selama di hutan, kini menikmati kebebasan tak terbatas..

                Ia makan kapanpun merasa lapar. Ia pilih buat terlezat, emoh makan ikan yang terlalu lambat buatnya, menguntit binatang liar, tapi saat hewan itu sudah masuk dalam jangkau sumpitnya, ia tiba-tiba merasa pingin makan yang lain.

                Malamnya, kalau ingin sendiri ia berbaring di bawah kano, dan sebaliknya, kalau butuh teman ia pergi mencari orang-orang Shuar. 

                Dan mereka pun menerimanya dengan senang hati. Mereka berbagi makan, rokok lintingan sendiri, dan ngobrol sampai berjam-jam, meludah banyak-banyak di seputar tungku susun tiga mereka yang terus menyala. 

                “Seperti apa kami ini?” mereka bertanya. 

                “Seramah kawanan monyet, secerewet kakaktua mabok dan besar mulut persis iblis.”

                Orang Shuar menyambut perbandingan ini dengan tawa ngakak dan kentut keras2 tanda puas. 

                 “Dan di sana, tempat asalmu, seperti apa?”

                “Dingin. Pagi dan sore seperti beku. Kau harus memakai poncho rajutan panjang, juta topi.”

                “Pantas kau bau. Kalau berak, kau kotori kain ponchomu.”

                “Nggak juga, kadang memang. Masalahnya, terlalu dingin buat kami untuk mandi sesuka hati, tidak seperti kalian.”

                “Monyet-monyet kalian juga pakai poncho?”

                “Tak ada monyet di gunung. Babi-rusa juga tak ada. Orang gunung tidak berburu.”

                “Lalu, mereka makan apa?”

                “Apa saja. Kentang, jagung. Kadang babi biasa atau ayam, di hari pesta. Atau marmot di hari pasar.”

“Dan apa yang mereka perbuat kalau tidak berburu?”

“Mereka kerja. Dari terbit matahari sampai tenggelam.”

“Goblok sekali! Goblok sekali!” seru orang-orang Shuar itu. 

Setelah di sana lima tahun, ia tahu ia tak bisa meninggalkan dunia rimba itu.

2 komentar:

  1. Judulnya maksudnya apa, Yan? Hahaha.

    BalasHapus
  2. heehehe, nek baca noveletnya bakal jelas. ini cerita tentang orang kulit putih kere dan udik yang sengsara hidupnya. lalu dia ikut migrasi, koloninya sebagian besar tewas. nah, dia memutuskan menggabungkan diri dengan para Indian, suku shuar. setelahnya, mereka akrab dan berbincang2. si Indian menertawakan gaya hidup kapitalisme kulit putih yang kerja terus sepanjang hari. kontras dengan gaya indian yang tinggal mengambil dari hasil hutan. lucu banget menurutq gayane orang Indian menertawakan.

    BalasHapus