Kutipan dari novelet Pak Tua
yang Membaca kisah Cinta, halaman 26-27, Luis Sepulveda, terbitan Marjin
Kiri.
Ia (Antonio Jose Bolivar Proano) belajar bahasa Shuar (suku Indian di Ekuador dan Peru.ed)
dengan ikut ekspedisi berburu mereka. Mereka memburu tapir, paca, kapibara,
babi-rusa, celeng hutan kecil yang sangat lezat, monyet, burung, dan reptil. ….
Bersama
mereka ia abaikan adat kesopanan Katolik udiknya. Ia berjalan-jalan setengah
telanjang dan menghindari kontak dengan pemukiman-pemukiman baru, yang
menganggapnya orang gila.
Antonio
Jose Bolivar Proano, yang tak pernah berpikir soal kata “kebebasan” selama di
hutan, kini menikmati kebebasan tak terbatas..
Ia
makan kapanpun merasa lapar. Ia pilih buat terlezat, emoh makan ikan yang
terlalu lambat buatnya, menguntit binatang liar, tapi saat hewan itu sudah
masuk dalam jangkau sumpitnya, ia tiba-tiba merasa pingin makan yang lain.
Malamnya,
kalau ingin sendiri ia berbaring di bawah kano, dan sebaliknya, kalau butuh
teman ia pergi mencari orang-orang Shuar.
Dan
mereka pun menerimanya dengan senang hati. Mereka berbagi makan, rokok
lintingan sendiri, dan ngobrol sampai berjam-jam, meludah banyak-banyak di
seputar tungku susun tiga mereka yang terus menyala.
“Seperti
apa kami ini?” mereka bertanya.
“Seramah
kawanan monyet, secerewet kakaktua mabok dan besar mulut persis iblis.”
Orang
Shuar menyambut perbandingan ini dengan tawa ngakak dan kentut keras2 tanda puas.
“Dan di sana, tempat asalmu, seperti apa?”
“Dingin.
Pagi dan sore seperti beku. Kau harus memakai poncho rajutan panjang, juta
topi.”
“Pantas
kau bau. Kalau berak, kau kotori kain ponchomu.”
“Nggak
juga, kadang memang. Masalahnya, terlalu dingin buat kami untuk mandi sesuka
hati, tidak seperti kalian.”
“Monyet-monyet
kalian juga pakai poncho?”
“Tak
ada monyet di gunung. Babi-rusa juga tak ada. Orang gunung tidak berburu.”
“Lalu,
mereka makan apa?”
“Apa
saja. Kentang, jagung. Kadang babi biasa atau ayam, di hari pesta. Atau marmot
di hari pasar.”
“Dan apa yang mereka perbuat kalau
tidak berburu?”
“Mereka kerja. Dari terbit matahari sampai tenggelam.”
“Goblok sekali! Goblok sekali!”
seru orang-orang Shuar itu.
Setelah di sana lima tahun, ia tahu
ia tak bisa meninggalkan dunia rimba itu.
Judulnya maksudnya apa, Yan? Hahaha.
BalasHapusheehehe, nek baca noveletnya bakal jelas. ini cerita tentang orang kulit putih kere dan udik yang sengsara hidupnya. lalu dia ikut migrasi, koloninya sebagian besar tewas. nah, dia memutuskan menggabungkan diri dengan para Indian, suku shuar. setelahnya, mereka akrab dan berbincang2. si Indian menertawakan gaya hidup kapitalisme kulit putih yang kerja terus sepanjang hari. kontras dengan gaya indian yang tinggal mengambil dari hasil hutan. lucu banget menurutq gayane orang Indian menertawakan.
BalasHapus