Drama tari
Ariah menceritakan gadis miskin yang menjadi tambatan hati tiga pria.
Pria pertama, seorang tuan tanah, memiliki posisi kuat karena keluarga
Ariah menumpang di tanahnya. Pria kedua, seorang pria hidung belang kaya
Oey Tambahsia yang “hartanya
tidak habis dimakan tujuh turunan”. Pria dengan banyak istri ini mampu
membayar centeng tangguh untuk menyeret Ariah. Pria ketiga adalah jawara
lokal. Apesnya, Ariah menyukai jawara ini dan menolak kehidupan dengan
harta mapan bersama dua pria.
Ariah
digambarkan sebagai tokoh yang membela martabatnya hingga mati. Ia
menolak menjadi perempuan pemuas nafsu lelaki kaya meskipun dengan
imbalan harta dan kemapanan. Demi membela prinsip ini, ia menggunakan
silat yang ia pelajari dengan singkat dari Juki untuk melawan centeng Oey
Tambahsia. Tentu saja ia kalah. Ariah memilih mati membawa martabatnya.
Aria ditokohka sebagai perempuan yang keras. Ia rela berpeluh belajar
silat demi membela diri dan tentu martabatnya.
Bagaimana
dengan fenomena sejumlah perempuan Jakarta atau yang tinggal di Jakarta
sekarang? Mungkin perlu penelitian lebih lanjut untuk memastikan kisaran
persentase kecenderungan ini. Saya kira ada cukup banyak perempuan
Jakarta yang, ketika menjadi Ariah, akan lebih memilih menikah dengan
orang kaya dan menjadi mapan. Bagaimana dengan martabat? Mereka yakin
masyarakat sekarang materialistis dan memandang martabat berdasarkan
harta dan jabatan. Teman saya
yang bekerja di bank swasta pernah menceritakan, rekan sejawatnya yang
perempuan mengeluh karena masih jomblo. Perempuan ini jelas berharap
mendapat pria kaya dan ia bahkan rela menjadi perempuan simpanan asalkan
mendapat jaminan harta. Ini jelas mengingatkan pada perempuan-perempuan
terdakwa koruptor seperti Djoko Susilo, Fathanah dan Lufi Hassan Ishaq.
Perempuan-perempuan ini
keraplagi dikandangkan dalam apartemen-apartemen di Jakarta. Apakah
perempuan ini, seperti Ariah, rela berpeluh untuk mendapatkan sesuatu?
Saya kira perempuan-perempua itu lebih suka menikmati kerja lelaki,
entah halal atau haram, asal mereka mendapat harta dan merasa martabat
meningkat.
Ada juga
perempuan-perempuan dengan mental terjajah yang merasa martabatnya
terangkat dengan jalan bersama bule kulit putih. Seorang teman saya
mengaku mengenal perempuan yang kumpul kebo bersama seorang bule.
Padahal, ia tahu bule itu sudah beristri di negara asalnya. Begitu juga
dengan seorang kenalan saya, ia menikah dengan bule di Indonesia dan
bangganya setengah mampus. Namun, ia ditinggal begitu saja setelah menua
setelah usia pernikahan satu dasawarsa. Sang bule pergi ke negara
asalnya dan menceraikannya.
Saya
membayangkan, bagaimana jika kisah ini disaksikan dan ditanggapi oleh
perempuan-perempuan di atas? Entah apakah mereka merasa tertusuk dengan
Ariah atau malah acuh tak acuh. Mungkin juga mereka sekedar menikmati
sendratari yang diiringi dengan koreografi, efek dan musik apik ini.
Lantas, seumpama saja Ariah seperti yang ditokohkan dalam cerita,
bagaimana pendapatnya melihat perempuan-perempuan yang saya paparkan di
atas?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar