Walaupun dengan berbagai modifikasi dan pembaharuan, agama adalah salah satu unsur kebudayaan yang dapat bertahan sangat lama. Agama yang dominan dalam budaya modern adalah agama dengan konsep-konsep monoteis antroposentris yang dianut muslim, yahudi dan Kristen arus utama. Walaupun mulai banyak mendapat tinjauan kritis dan seruan-seruan penolakan bahwa agama itu logis dan padu (coherence), agama dapat bertahan di masyarakat awam. Standar-standar ganda telah dipergunakan dengan efektif untuk mendamaikan ketidakpaduan dalam pemahaman dan konsep-konsep agama sehingga bagian yang bertentangan disembunyikan dan mapanlah agama dalam iman tanpa dipertanyakan. Standar pertama dikemukakan, tapi ketika dibantah atau ada kebutuhan lain, standar kedua dikeluarkan.
Standar ganda diterapkan dalam bagaimana sifat-sifat Tuhan. Orang-orang yang percaya Tuhan biasanya membuat klaim bahwa tuhan tidak dapat diketahui karena dia tuhan. Pernyataan ini mengandung standar ganda. Dengan kata lain, Tuhan di luar pengetahuan manusia karena jika dalam pengetahuan manusia maka dia bukanlah tuhan. Lantas, dari mana datangnya pengetahuan dan gagasan tersebut, bahwa tuhan ada di luar batas pengetahuan manusia, sehingga ada dalam gagasan dan manusia? Lihatlah betapa gagasan dengan standar tersebut diterapkan. Anda tahu bahwa mengetahui bahwa sesuatu ada “di luar pengetahuan manusia” dengan pengetahuan manusia adalah tidak mungkin. Hanya ada satu standar yang mungkin benar. Hanya satu yang mungkin benar, standar pertama, yaitu Tuhan ada di dalam pengetahuan manusia yang berarti pengetahuan tentang Tuhan tidaklah mistis dan adi-alami melainkan alamiah dan dapat dikuak, atau standar kedua, bahwa tuhan tidak ada di luar batas pengetahuan (yang berarti kita bahkan tidak ada gagasan sama sekali). Namun, kedua standar tersebut dipakai bersamaan dan pertentangannya diselesaikan dengan iman, yang entah dari mana datangnya (Kemelekatan psikologis yang erat karena indoktrinasi budaya?)
Standar ganda tersebut menjalar ke gagasan-gagasan lebih jauh tentang Tuhan saat dilontarkan bantahan dari masalah kejahatan (problem of evil). Yang percaya Tuhan umumnya mengatakan bahwa Tuhan maha baik, mahasempurna, mahabijaksana, dan segala maha yang baik-baik. Namun, saat dilontarkan pertanyaan dari masalah adanya kejahatan yang menolak bahwa Tuhan yang mahabaik, mahakuasa dan mahatahu ada karena adanya kejahatan di dunia (apakah tuhan ingin merubah tapi tidak mampu? Maka dia tidak mahakuasa, apa dia mampu tapi tidak ingin? Maka dia tidak mahabaik? Apakah tuhan mampu dan ingin? Lalu dari mana datangnya kejahatan?). Biasanya orang beragama akan menjawab, seperti dilontarkan filsuf kristen William Lane Craig, kita tidak berada dalam posisi yang baik untuk menggapai dengan percaya diri kemungkinan bahwa Tuhan tidak memiliki alasan-alasan [penekanan ditambahkan] yang cukup bermoral karena memperbolehkan penderitaan di dunia.” Atau
“kita tidak berada dalam posisi epistemis yang baik untuk membuat penghakiman-penghakiman kemungkinan sejenis itu [seperti dilontarkan permasalahan kejahatan] dengan kepercayaan diri macam apa pun. Hanya akal budi yang mahatahu dapat menggenggap kerumitan tujuan yang telah ditakdirkan dari dunia dengan makhluk yang memiliki kehendak bebas ke arah tujuan yang telah terlihat”(Cambridge Companion to Atheism,pg 73)
Lantas, jika kita tidak berada di posisi epistemis yang baik tersebut, bagaimana kita dapat tahu ada posisi seperti itu? Bagaimana kita dapat membenarkan ataupun menyalahkan? Berarti, kepercayaan pada Tuhan yang mahabaik, mahakuasa, dan mahatahu tidak dapat dibenarkan atau disalahkan? Jika standar pertama tersebut digunakan, toh orang-orang tetap keukeuh bahwa tuhan pasti memiliki tujuan baik yang kita tidak tahu (lagi, standar kedua ini melanggar standar pertama tentang ketidakmungkinan diketahui).
Bukan saja konsep ketuhanan, yang seharunya merupakan konsep dasar, yang menerapkan standar ganda, tapi juga tentang doktrin-doktrin tradisinya. Dalam konsep takdir, dikisahkan bahwa Tuhan tidak akan mengubah nasib jika manusia tidak mencoba. Lalu, siapa yang menetapkan takdir? Jika manusia dapat merubah dengan kehendak bebasnya (free will), apa peran tuhan? Menyetujui dan menolak yang berarti juga ujung-ujungnya Tuhan yang menentukan (determinisme)? Atau Tuhan tidak berperan dan hanya manusia yang menentukan takdirnya, yang menguasai takdirnya, maka, di mana posisi Tuhan yang mahakuasa (karena manusia berkuasa atas dirinya) dan Tuhan yang mahatahu di hadapan kebebasan manusia? Ekspresi pertama dapat disampaiakan, oh, karena kau berusaha, Tuhan merubah takdirmu. Ekspresi kedua, walaupun kau berusaha tuhan tidak merubah tadirmu (mungkin usahamu kurang keras dan tulus? Atau tuhan telah menentukan yang lain? Hanya tuhan yang tahu. Namun, dalam agama kedua standar bertentangan itu tetap saja digunakan dengan nyamannya.
Dalam doa, jika seseorang berdoa dan memohon sesuatu, maka doa itu dapat terkabul atau tidak. Nah, jika terkabul, diterapkan standar bahwa tuhan mencintai manusia maka mau mengkabulkan doa. Jika tidak, diterapkan standar Tuhan maha mendengar dan mengerti tapi tidak mau karena dia mencintai manusia dan menolak demi kebaikan yang lebih tinggi. Akibatnya, doa terkabul atau tidak tetap Tuhan memiliki posisi yang aman.
Jika standar agama tidak jelas, kapan pemeluknya tahu untuk menggunakan satu standar atau standar yang lainnya? Seperti, kapan kita mengetahui kita bisa merubah takdir atau tuhan yang merubah takdir? Hanya Tuhan yang tahu adalah sama dengan mengatakan standar tersebut semena-mena, terserah, atau misteri. Saya teringat perkataan Ionas Rakhman dalam esainya berjudul Keingintahuan Melahirkan Sains, bahwa” Agama di mana-mana dan sejak dulu, melalui para agamawan yang taat, memang mempertahankan dan menjaga misteri-misteri alam dan kehidupan. Hanya dengan cara inilah mereka dapat terus mengendalikan umat yang mereka pimpin.” Standar-standar ganda digunakan untuk membungkam dan menjaga misteri alam dan kehidupan. Standar mana yang digunakan? Tanyalah the holy man (yang biasanya man). Dennet mengatakan bahwa agama-agama suku lebih konsisten karena dewa bertanggung jawab atas keburukan ataupun kebaikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar