NEGARA SOSIALIS (1)
ditulis olehDjoko Sri Moeljono.
Djoko Sri Moeljono, 73, was also among the hundreds of thousands of artists, academics and trade unionists jailed at that time as “leftists.” After his arrest in 1965, for being a trade union member and graduate of a Sukarno-supported metallurgy program in the Soviet Union, he spent six years in forced labor. He was then exiled to a remote island until 1978 http://www.nytimes.com/2012/01/19/world/asia/veil-of-silence-lifted-in-indonesia.html?pagewanted=all&_r=0
Apabila 60 tahun lalu hubungan diplomatik antara Indonesia dan Uni Soviet tidak dijalin,maka penulis bersama ratusan mahasiswa Indonesia lainnya tidak bisa menikmati kesempatan menimba ilmu di negara yang dikenal sebagai negara pertama didunia yg berlandaskan pada ajaran sosialisme/komunisme dan layak disebut sebagai negara sosialis pertama dibunia.
Penulis yakin bahwa diantara sekian ratus juta penduduk Indonesia saat ini, tidak lebih dari 10,000 orang yang pernah benar-benar merasakan hidup di sebuah negara sosialis. Sebelum kami mengalaminya sendiri,memang banyak pertanyaan yang terlintas dalam benak banyak orang : apa itu negara sosialis? Jawabannya kami temukan setelah kami sendiri menjalani, mengalami, menyelami kehidupan di sebuah negara sosialis. Kami merupakan saksi-saksi hidup tentang apa itu yang disebut negara sosialis, dalam kehidupan nyata dan bukan penjelasan teori dalam buku-buku ilmiah.
Penulis berangkat sebagai anak muda yang sudah menempuh kuliah di ITB Jurusan Pertambangan dan pernah mengalami masa-masa transisi pergantian pengajar dari berkebangsaan Belanda kemudian digantikan pengajar asal Amerika Serikat setelah para pengajar berkebangsaan Belanda diusir dari Indonesia dalam rangka merebut Irian Barat kembali kepangkuan ibu pertiwi.
Penulis mengalami masa-masa kuliah dengan dosen Belanda dan kemudian diganti dosen Amerika dengan sistem ujian yang sama sekali berbeda.
Kami yang sebelum berangkat masih bermental asli Indonesia yang tidak mengenal disiplin ketat, begitu terjun dalam masyarakat Rusia mengalami goncangan budaya kecil-kecilan. Kalau tidak ingin dibilang “ne kulturnii” (tidak tahu sopan santun), anda harus mau antri berdiri saat beli apa saja di toko. Saat baru menjejakkan kaki di Uni Soviet memang sempat kaget dan heran : kok di Uni Soviet orang antri roti? Mereka teratur antri bukan untuk mendapatkan roti, tetapi antri karena watak disiplin
Sebelum berangkat penulis masih ikut antri gula dan memang kondisi ekonomi Indonesia sedang sulit, sehingga begitu tiba di Uni Soviet kami melihat perbedaan yang begitu mencolok antara kehidupan di tanah-air yang baru kami tinggalkan dibanding dengan kehidupan di Uni Soviet yang tampak begitu tertata. Dan masalah pangan tidak jadi persoalan, memang bukan untuk membandingkan dengan kondisi Indonesia dimana penulis masih harus antri bahan pokok sebelum berangkat. Kondisi Indonesia yang serba kesulitan bahan makanan pokok ini ini masih sangat dalam meninggalkan kesan dalam benak..
Bulan-bulan pertama sebagai mahasiswa di asrama, kami masih bisa makan roti sepuasnya tanpa bayar. Tetapi memasuki tahun 1961, saat Rusia gagal panen gandum, maka: makan roti di Stolowaya harus bayar walaupun murah dan sangat terjangkau..Penulis tidak tahu pasti apakah roti gratis ini hanya berlaku di Stolowaya kampus? Atau juga di Stolowaya sekolah-sekolah dan juga di pabrik-pabrik untuk buruh? Kelebihan sistem sosialis yang kami rasakan dalam kehidupan mahasiswa: adalah kenyataan bahwa pendidikan dan perawatan kesehatan dijamin pemerintah secara cuma-cuma. Dan kami para mahasiswa asing ikut menikmati sisi-sisi positif dari pendidikan
cuma-cuma yang diselenggarakan negara. Mahasiswa tuan rumah adalah mahasiswa ikatan dinas seluruhnya, mereka menerima tunjangan dari negara walaupun tidak besar tetapi cukup untuk hidup layak dan disediakan asrama bagi mahasiswa dari luar kota..
Apa yang penulis coba paparkan dalam tulisan singkat dibawah ini merupakan pengalaman hidup sebenarnya,bukan cerita rekaan dan tidak terlupakan. Apa yang penulis alami di Uni Soviet mungkin tidak jauh berbeda dari pengalaman mereka yang pernah menimba ilmu di negara-negara Blok Timur lainnya, terutama yang belajar di Eropa Timur atau yang lebih dikenal dengan sebutan negara-negara Pakta Warsawa, sebagai tandingan Blok NATO sebelum runtuhnya Tembok Berlin di penghujung tahun 1980-han dan ambruknya Uni Soviet. Bagaimanapun, mereka-mereka yang pernah menimba ilmu di Uni Soviet di era 1960-an merupakan saksi-saksi hidup tentang tegaknya negara-negara sosialis yang dipelopori oleh Uni Soviet sebagai negara sosialis pertama didunia.
Tulisan singkat dibawah ini merupakan kesan dan pengalaman pribadi, yang mungkin berbeda dari pengalaman orang lain.
Sebagai mahasiswa muda kami meninggalkan tanah air yng pada tahun 1960 disaat ketegangan politik internasional baru saja mereda setelah tetembaknya pesawat mata-mata U-2 Amerika di wilayah Uni Soviet. Kami ditugasi belajar di negara yang disebut Uni Republik Sosialis Soviet atau disingkat Uni Soviet, sebagai bagian dari kerjasama dibidang kebudayaan.
Awal-awal kehidupan di Uni Soviet, bagi penulis pribadi, memang terkesan hebat danmenjanjikan dimata rakyat Rusia. Tidak ada orang antri roti karena barangnya langka, pembangunan berjalan siang malam tanpa henti dan ini bisa disaksikan lewat jendela kamar asrama setiap hari. Bagi penulis saat itu,orang bekerja siang malam merupakan hal baru yng belum pernah penulis saksikan di tanah air (mungkin juga sudah pernah terjadi di daerah terpencil seperti jatiluhur atau proyek Sigura-gura di Sumatera Utara tapi bukan ditengah kota seperti di Moskwa).
Penulis setiap hari bisa melihat lewat jendela bagaimana pembangunan kwartira (apartemen) tumbuh begitu cepat dari minggu ke minggu) walaupun dengan mutu bangunan yang dibawah standar Eropa dan ini bisa dilihat setelah penulis berkunjung ke beberapa negara Eropa Barat: Jerman, Italia dan Perancis)/ Sasaran pemerintah bisa diduga agar bisa dengan cepat memenuhi kebutuhan perumahan masyarakat dan masalah mutu sementara di nomor duakan.
Kesan lain yang sangat terasa dalam kehidupan sehari-hari adalah stabilnya harga karena semua diatur pemeritah,tidak ada inflasi atau gejolak ekonomi yang disebabkanoleh faktor spekulasi pelaku pasar (menurut kacamata Barat ekonomi semacam ini sifatnya statis,tidak berkembang karena tidak ada persaingan dan stagnan, serta semua-nya dikendalikan secara terpusat oleh negara dan tidak memungkinkan persaingan).
Penulis selama empat tahun bermukim di Moskwa,sepanjang ingatan yang bisa dirunut kembali, rasanya tidak pernah membaca berita tentang kenaikan harga . Hal lain yang penuis kagumi adalah rasa aman dari gangguan kriminal, kemanapun kita pergi di malam hari, tidak pernah merasa takut dirampok atau diganggu dengan macam-macam ulah yang mengganggu. Gangguan yang agak mengusik adalah masalah orang-orang mabok yang berkeliaran di hari-hari pembayaran gaji atau menjelang hari libur. Wodka sudah membudaya dan berakar dalam kehidupan rakyat Rusia. Dikenal pemeo “Rusia tanpa wodka, bukan Rusia”
Aturan hukum mungkin begitu ketat sehingga membuat orang Rusia sangat menahandiri dalam pertengkaran agar tidak sampai berkelahi dan kami tahu benar hal ini, serta memanfaatkan sebaik mungkin. Kalau bertengkar dengan orang Rusia, bagaimanapun sengitnya pertengkaran kami yakin bahwa mereka tidak akan memukul. Banyak sisi-sisi yang membuat penulis kagum,tetapi harus diakui bahwa tidak sedikit pula sisi-sisi yang menjengkelkan dan menjemukan,bahkan kadang memuakkan.
Kalau semasa di Indonesia bisa bebas mendengarfkan radio mana saja,terutama men dengarkan siaran VOA (Voice of America) dengan Jazz Session-nya, di Moskwa mendadak radio yang kami miliki jadi bungkam dan hanya bisa menerima siaram Goworit Moskwa. Benar-benar menyebalkan! Punya radio bagus bagi kami sia-sia karena disetiap kamar asrama ada radio umum, seperti pernah kami alami di masa pendudukan Jepang. Radio di kamar asrama ditempelkan didinding semacam jam dan hanya
memiki satu tombol: untuk menghidupkan dan mematikan, tidak ada tombol lain. Dan isisiaran yang dipancarkan hanya satu: siaran pemerintah dan sesekali hiburan. Bagaimanapun juga ada manfaatnya bagi kami di musim dingin mengingat-ingat ramalan cuaca untuk esok hari, sehingga kami bisa siap dengan pakaian sesuai suhu besok. Tidak jarang radio umum ini hidup sepanjang hari dari saat kami bangun pagi sampai malam hari saat pergi tidur. Tak seorangpun penghuni kamar punya perhatian untuk mematikannya.
Di Uni Soviet tidak dikenal kehidupan malam dan semua kegiatan berhenti pada jam 23.00 malam. Trem, bus, Metro – semua berhenti berdenyut dan kota Moskwa seolah menjadi kota mati dan gelap dan hanya ada lampu penerangan jalan umum serta sedikit sekali lampu reklame berwarna-warni. Pertunjukan film, ballet atau teater juga berhenti sebelum jam 23.00 karena tidak ada lagi transport umum yang bekerja. Satu-satunya pilihan tinggal taksi dan itupun tidak banyak.
Uni Soviet tidak mengenal buku telepon dan peta kota yang baik, sehingga bagi warga asing akan sulit menemukan alamat atau nomor telepon yang diperlukan. Anda harus membuat sendiri catatan nomor-nomor telepon yang diperlukan. Tetapi di kota Moskwa banyak bertebaran kios Informasi, dimana anda bisa menanykan apa saja dari alamat dan nomor telepon yang anda perlukan. Semua hal yang remeh dalam benak kami, sepertinya menjadi sesuatu yang harus dirahasiakan di Rusia.
Rakyat Rusia sangat bangga dengan negara dan Tentara Merah-nya bila berceloteh mengenai Perang Dunia ke-II yang dalam bahasa Rusia disebut Patrioticeskaya Woiina atau Perang Patriotik. Harus diakui bahwa Soviet Uni sangat menderita dengan jutaan orang tewas sebagai korban perang,tetapi mereka bangga bahwa Tentara Merahadalah pasukan pertama yang berhasil menaklukkan tentara Nazi Hitler. Pantas kalau mereka bangga dan merasa diri besar, kadang berlebihan dan menganggap bangsa
lain lebih rendah. Ini adalah hasil propaganda pemerintah yang benar-benar merasuk dalam kalbu warga negaranya dan bersifat massif. Perlu juga diingat bahwa disaat tegang-tegangnya Perang Dingin berkonfrontasi dengan Blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat, pemerintah Rusia sangat aktif berusaha merebut pengaruh di Asia-Afrika dan Amerika Latin sehingga berdampak positif pada mahasiswa-mahasiswa Indonesia. Untuk menarik perhatian kami, pemerintah Rusia tidak segan-segan memomulerkan lagu “Rayuan Pulau Kelapa” sebagai semacam lagu wajib disekolah-sekolah dan kemananpun kami pergi berkunjung,tidak jarang disambut dengan paduan suara mengalunkan lagu wajib tsb. Nama Soekarno juga sangat diken al secara luas, se
hingga rakyat kecil dipinggir jalanpun tahu bahwa Indonesia = Soekarno.
Rakyat Rusia lewat propaganda pemerintah yang begitu deras mengalir, membuat mereka bangga dengan capaian teknologi seperti Sputnik pertama, manusia pertama terbang keluar angkasa jadi pahlawan nasional Yurii Gagarin, wanita pertama jadi astronot Teresykova dsb. Belum lagi ditambah dengan keberhasilan Uni Soviet dibidangmiliter dengan pesawat-pesawat tempur canggih, tank dan kapal selamnya. Semua ini tentu menelan beaya sangat besar sehingga harus mengorbankan keperluan rakyat banyak dibidang kesejahteraan.
Dimata rakyat, Uni Soviet harus jadi negara adidaya, negara besar yang ditakuti dunia dan harus diakui, pemerintah Rusia berhasil membangun impian di benak rakyatnya. Tetapi disisi lain dalam hal kesejahteraan hidup,pemerintah Rusia diam-diam harus mengakui bahwa kehidupan di Amerika, musuh nomor satu,jauh lebih baik dari kehidupan rakyatnya sendiri. Lihat saja semboyan saat itu: mengejar dan melampaui Amerika dalam 15 tahun! Kalau anda pergi ke toko besar Gosudarstwenii Universalnii Magazin (GUM), semacam mall yang berserakan di Jakarta saat ini,barang yang dipajang di etalase sangat terbatas dan tidak banyak pilihan, belum lagi mutunya yang rendah. Pelayanan para pramuniaganyapun sangat buruk dan bahkan kadang-kadang menjengkelkan, seolah-olah mereka tidak butuh pembeli. “Pembeli adalah raja” tidak berlaku disini. Para pramuniaga dan pengelola toko seolah-olah tidak berusaha menarik pembeli.
Harus diakui bahwa di surat-surat kabar atau siaran televisi, iklan sepertinya tabu! Penulis kadang bertanya dalam hati: sampai-sampai pasta gigi dan sabun mandi yng baikpun pemerintah Rusia tidak bisa membuatnya, padahal pesawat MIG-17 sudah di ekspor ke pelbagai penjuru dunia.
Propaganda memang sangat banyak berpengaruh dalam kehidupan masyarakat dan dimana-mana anda bisa melihat poster-poster raksasa dengan gambar pria berotot diikuti tulisan mencolok : Plan wipolnen do srocno! Target tercapai lebih cepat! Kalau Indonesia punya Repelita (Rencana Lima Tahun) maka Uni Soviet memiliki Semiletka atau rencana Tujuh Tahun dipelbagai bidang: pertanian, industri, berita disurat-surat kabar Pravda atau Izweztiya hanya berisi keberhasilan dan sukses, tidak ada berita kegagalan. Kegagalan adalah tabu untuk diberitakan!
Akibat dari propaganda yang sangat effektif dan mencapai sasaran,raskyat awam kalau berdialog dengan kami mahasiswa yang datang dari negara berkembang, mereka
menganggap dirinya sebagai :”saudara tua” yang penolong, mereka berada diatas kita yang mendahkan tangan. Walaupun memuakkan karena seringnya mendengar “pencerahan” semacam ini, kami tidak bisa berbuat apa-apa.Yang bicara begini bisa sesama penumpang Metro, warga biasa yang bertemu di taman, termasuk teman kuliah. Banyak hal-hal yang merupakan sisi-sisi negatif dalam kehidupan sehari-hari dan semua ini adalah pengaturan atau pengelolaan masyarakat dalam suatu sistem besar. Kalau anda lupa membawa tanda pengenal yang disebut “propusk” jangan harap anda bisa melenggang masuk rumah sendiri (asrama). Tidak jarang anda harus bertengkar adu argumentasi sampai otot muncul di batang leher melawan Komendant (Kepa
la srama sebelum bisa masuk rumah sendiri) karena lupa membawa propusk.
Tetapi belakangan kami bisa memakluminya karena asrama dimana kami tinggal, sebuah gedung berlantai 10 dan 8 diantaranya terdiri dari kamar-kamar yang kami huni. Kalau 8 lantai dan setiap lantai terdiri dari 70 kamar (penulis mengisi kamar nomor 671) maka ada 560 kamar dan setiap kamar diisi 4 mahasiswa, anda bisa hitung berapa mahasiswa tinggal di asrama tsb.
Kepala asrama sampai berapa tahunpun tidak bakal bisa mengingat-ingat wajah setiap penghuninya,walaupun kami orang asing (di asrama penulis ada mahasiswa asing non-kulit putih berasal dari Vietrnam,Tiongkok, Sri Lanka,Mesir, Irak, India). Tanda pengenal penting kemanapun anda pergi: ke kampus, Dom Kulturi (Gedung Kesenian) dimana anda secara teratur berlatih kesenian dan harus punya propusk terdendiri. Setelah cukup lama tinggal dan hidup ditengah masyarakat Rusia, kami akhirnya merasa nyaman-nyaman saja dengan kehidupan masyarakat sosialistis. Sisi positif dari pengaturan negara yang dikelola menurut ajaran sosialisme/komunisme juga kami rasakan dan ikut menikmati (menikmati hal-hal positif).
*******
(Bersambung)
#sastra-pembebasan# Djoko Sri Moeljono: NEGARA SOSIALIS (2)
|
367 posts
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar