Abdullah Peureulak, seorang eks-tapol, harus menyembunyikan
bagian sejarah dalam hidupnya yang terkelam. Peristiwa sejarah yang teramat
tragis dan merubah hidupnya, yang tak akan dan tak pernah ia dapat lupakan
sampai mati. Peristiwa penangkapanya sebagai tapol yang menghancurkan cita-cita
sebagai bintang film.Cita-cita yang ketika itu sedang dia rintis di tanah
rantau.
Ironisnya,
dia harus menyembunyikan itu dari sepengetahuan keluarganya, yang bagian tak
terpisahkan dari dirnya. Terhadap Dewangga, istri tercintanya, dia baru bisa
mengatakanya beberapa saat karena
desakan ajal yang hendak menjemput sang istri. Dan menjadi begitu ironis, karena Dewanngga
juga merupakan korban prahara 65/66. Pada pertanyaan anaknya perihal PKI, dia terpaksa menyetujui
sejarah versi orde baru bahwa PKI itu kejam dengan berat hati. Walaupun hati
kecilnya berteriak, bahwa itu adalah dusta sejarah. Dusta sejarah yang telah
menjadikanya korban. Suami-istri, yang begitu digambarkan begitu intim, harus
saling menyembunyikan pecahan hidup yang begitu pedih dan berpengaruh dalam
membentuk hidup mereka.
Cerita dia atas dikisahkan Aleida
dalam Liontin Dewangga, satu dari sembilan cerpen yang ada dalam
antologi cerpen Mati Baik-Baik, Kawan. Dia tidak berfokus pada
kekerasan-kekerasan fisik, yang walaupun memang terjadi, saat terlalu
ditonjolkan menjadikan kisah korban-korban 65/66 layaknya cerita-cerita
sadistis. Martin Aleida memotret tragedi 65/66 lewat kamera kemanusian dengan
cara yang penuh empati. Kita diajak berempati sedalam-dalamnya terhadap
lakon-lakonya.
Benang merah dari kumpulan cerpen
ini adalah versi lain dari sejarah 65 yang kontroversial. Suatu versi yang
ingin membela manusia-manusia yang dikorbankan sejarah penguasa. Namun, Mati Baik-Baik, Kawan bukan hanya membela
versi sejarah yang mencoba dihilangkan orde baru, Aleida memaparkan lebih dalam siapakah yang dibantai pada tragedi 65/66. Aleida
lugas menggambarkan yang
diperjuangkan partai komunis dan organisasi-organisasi affiliasinya
melalui ideologi yang mereka terapkan
dan bagaimana menerapkanya. Dengan
begitu, pembaca diajak bertanya, layakah
mereka dibantai dan dihilangkan hak-haknya sebagai warga negara karena apa yang
mereka perjuangkan? Selain itu, Aleida mencoba menggambarkan betapa para korban
terdesak dan hanya kematian yang dapat memberi kesempatan bagi mereka.
Aleida mennggambarkan bahwa
organisasi-organisasi yang orang-orangnya dibunuh saat itu, seperti Barisan
Tani Indonesia yang berafiliasi dengan PKI, adalah organisasi yang membela rakyat. BTI membela rakyat petani
tak bertanah. Aleida menceritakan dalam Lionting Dewangga, bahwa BTI
adalah “gerakan tani yang melancarkan aksi sepihak untuk melaksanakan
undang-undang pokok agrarian. Bahwa lima hektar adalah batas luas tanah yang
boleh dimiliki seseorang.”(hal.65)
Saat undang-undang itu telah disahkan, dan pemerintah belum melaksanakan
aksinya. BTI telah lebih dulu membagi-bagikan lahan para tuan tanah pada para
petani tak bertanah. Mereka adalah pengejawantahan dari jiwa rakyat yang
menderita. Seruan terhadap usaha mencapai keadilan sosial, sila kelima
pancasila. Dari kisah tersebut, pembaca dapat melihat sisi lain gerakan-gerakan
yang ditumpas atas nama “pembersihan mereka yang komunis dan anti-Pancasila.”
Dalam
kisah berjudul Mangku Mencari Doa di Daratan Jauh, diceritakan bahwa ayah Mangku adalah petani tak bertanah
yang menerima tanah karena undang-undang ini. Memiliki tanah baginya seperti
mimpi yang tak berani diharapkan. Namun, setelah meletus peristiwa G30S, tuan
tanah tersebut mencoba untuk merebut kembali tanahnya dengan memberi label
pembersihan PKI. Terjadilah pembunuhan terhadap ayah mangku didepan mata
mangku.
Sejak peristiwa itu, kematian
mendapat makna yang penting bagi Mangku. Dia tak rela mati di tanah
kelahiranya. Tanah Bali yang
dulunya begitu damai, menjadi kelam bagi mangku. Dia ingin mati di tempat lain,
“mati baik-baik, kawan, diiringi doa.”(hal.17) Mati baik-baik merupakan salah
satu cara Mangku untuk mengobati pedihnya penderitaan nasib.
Selain itu, dalam cerpen Malam Kelabu, diceritkan Kamal, seorang
pemuda kesepian, dalam perjalanan ke desa Soroyudan, kampung halaman Partini,
kekasihnya. Dia pergi dengan penuh harapan karena di desa itulah dia akan
menikah dan diterima oleh keluarga Partini. Namun, pedih yang diterima saat
tiba di desa itu. Keluarga tersebut telah dibunuh massa karena menyembunyikan
seorang PKI. Dalam keadaan putus asa, Kamal memilih mati di sungai bengawan
Solo. Kematian menjadi pembebas dalam tragedi kemanusiaan yang begitu dahsyat. Kematian
menjadi suatu kain yang disulam indah lewat benang kata-kata untuk
menggambarkan sulaman perlawanan dalam ketidakberdayaan. Begitulah
Aleida menggambarkan sisi kemanusiaan manusia yang manusiawi.
Data Buku
Judul : Mati
Baik-Baik, Kawan
Pengarang : Martin Aleida
Tahun Terbit : Maret, 2009
ISBN :
978-979-19004-4-7
Penerbit : Akar Indonesia
Tebal Halaman : 144
Tidak ada komentar:
Posting Komentar