Politik, Liputan, Humor, Budaya

Senin, 25 November 2013

Potret Manusiawi dan Ideologis atas Tragedi Kemanusiaan





Abdullah Peureulak, seorang eks-tapol, harus menyembunyikan bagian sejarah dalam hidupnya yang terkelam. Peristiwa sejarah yang teramat tragis dan merubah hidupnya, yang tak akan dan tak pernah ia dapat lupakan sampai mati. Peristiwa penangkapanya sebagai tapol yang menghancurkan cita-cita sebagai bintang film.Cita-cita yang ketika itu sedang dia rintis di tanah rantau. 

                Ironisnya, dia harus menyembunyikan itu dari sepengetahuan keluarganya, yang bagian tak terpisahkan dari dirnya. Terhadap Dewangga, istri tercintanya, dia baru bisa mengatakanya beberapa saat karena desakan ajal yang hendak menjemput sang istri. Dan menjadi begitu ironis, karena Dewanngga juga merupakan korban prahara 65/66. Pada pertanyaan anaknya perihal PKI, dia terpaksa menyetujui sejarah versi orde baru bahwa PKI itu kejam dengan berat hati. Walaupun hati kecilnya berteriak, bahwa itu adalah dusta sejarah. Dusta sejarah yang telah menjadikanya korban. Suami-istri, yang begitu digambarkan begitu intim, harus saling menyembunyikan pecahan hidup yang begitu pedih dan berpengaruh dalam membentuk hidup mereka. 

Cerita dia atas dikisahkan Aleida dalam Liontin Dewangga, satu dari sembilan cerpen yang ada dalam antologi cerpen Mati Baik-Baik, Kawan. Dia tidak berfokus pada kekerasan-kekerasan fisik, yang walaupun memang terjadi, saat terlalu ditonjolkan menjadikan kisah korban-korban 65/66 layaknya cerita-cerita sadistis. Martin Aleida memotret tragedi 65/66 lewat kamera kemanusian dengan cara yang penuh empati. Kita diajak berempati sedalam-dalamnya terhadap lakon-lakonya.

Benang merah dari kumpulan cerpen ini adalah versi lain dari sejarah 65 yang kontroversial. Suatu versi yang ingin membela manusia-manusia yang dikorbankan sejarah penguasa. Namun, Mati Baik-Baik, Kawan bukan hanya membela versi sejarah yang mencoba dihilangkan orde baru, Aleida memaparkan lebih dalam siapakah yang dibantai pada tragedi 65/66. Aleida lugas menggambarkan yang diperjuangkan partai komunis dan organisasi-organisasi affiliasinya melalui ideologi yang mereka terapkan dan bagaimana menerapkanya. Dengan begitu, pembaca diajak bertanya, layakah mereka dibantai dan dihilangkan hak-haknya sebagai warga negara karena apa yang mereka perjuangkan? Selain itu, Aleida mencoba menggambarkan betapa para korban terdesak dan hanya kematian yang dapat memberi kesempatan bagi mereka.

Aleida mennggambarkan bahwa organisasi-organisasi yang orang-orangnya dibunuh saat itu, seperti Barisan Tani Indonesia yang berafiliasi dengan PKI, adalah organisasi yang membela rakyat. BTI membela rakyat petani tak bertanah. Aleida menceritakan dalam Lionting Dewangga, bahwa BTI adalah “gerakan tani yang melancarkan aksi sepihak untuk melaksanakan undang-undang pokok agrarian. Bahwa lima hektar adalah batas luas tanah yang boleh dimiliki seseorang.”(hal.65) Saat undang-undang itu telah disahkan, dan pemerintah belum melaksanakan aksinya. BTI telah lebih dulu membagi-bagikan lahan para tuan tanah pada para petani tak bertanah. Mereka adalah pengejawantahan dari jiwa rakyat yang menderita. Seruan terhadap usaha mencapai keadilan sosial, sila kelima pancasila. Dari kisah tersebut, pembaca dapat melihat sisi lain gerakan-gerakan yang ditumpas atas nama “pembersihan mereka yang komunis dan anti-Pancasila.”  

            Dalam kisah berjudul Mangku Mencari Doa di Daratan Jauh, diceritakan bahwa ayah Mangku adalah petani tak bertanah yang menerima tanah karena undang-undang ini. Memiliki tanah baginya seperti mimpi yang tak berani diharapkan. Namun, setelah meletus peristiwa G30S, tuan tanah tersebut mencoba untuk merebut kembali tanahnya dengan memberi label pembersihan PKI. Terjadilah pembunuhan terhadap ayah mangku didepan mata mangku.

                Sejak peristiwa itu, kematian mendapat makna yang penting bagi Mangku. Dia tak rela mati di tanah kelahiranya. Tanah Bali yang dulunya begitu damai, menjadi kelam bagi mangku. Dia ingin mati di tempat lain, “mati baik-baik, kawan, diiringi doa.”(hal.17) Mati baik-baik merupakan salah satu cara Mangku untuk mengobati pedihnya penderitaan nasib. 

                Selain itu, dalam cerpen Malam Kelabu, diceritkan Kamal, seorang pemuda kesepian, dalam perjalanan ke desa Soroyudan, kampung halaman Partini, kekasihnya. Dia pergi dengan penuh harapan karena di desa itulah dia akan menikah dan diterima oleh keluarga Partini. Namun, pedih yang diterima saat tiba di desa itu. Keluarga tersebut telah dibunuh massa karena menyembunyikan seorang PKI. Dalam keadaan putus asa, Kamal memilih mati di sungai bengawan Solo. Kematian menjadi pembebas dalam tragedi kemanusiaan yang begitu dahsyat. Kematian menjadi suatu kain yang disulam indah lewat benang kata-kata untuk menggambarkan sulaman perlawanan dalam ketidakberdayaan.  Begitulah Aleida menggambarkan sisi kemanusiaan manusia yang manusiawi.  


Data Buku
Judul                                     : Mati Baik-Baik, Kawan
Pengarang                          : Martin Aleida
Tahun Terbit                      : Maret, 2009
ISBN                                      : 978-979-19004-4-7        
Penerbit                              : Akar Indonesia
Tebal Halaman  : 144

Tidak ada komentar:

Posting Komentar