http://www.facebook.com/notes/rio-al-wafa-rizalino/pki-dilarang-merokok/10151238936320993
Sejak beberapa hari lalu, saya mewawancarai sejumlah ex tapol
1965 untuk keperluan peliputan program acara di Tempo TV. Program
tersebut mengangkat tema seputar peristiwa G30S. Satu hal yang menarik
dari keterangan sejumlah ex tapol tersebut adalah larangan merokok di
kalangan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Menurut mereka, salah satu kode etik ketika menjadi anggota atau
simpatisan PKI adalah dilarang merokok. Larangan ini muncul bukan tanpa
sebab. Menurut para ex tapol itu, salah satu tujuan berdirinya PKI
adalah untuk memperjuangkan hak-hak kaum miskin dan tertindas. Jadi
basis massa dan basis ideologi mereka adalah kaum proletar. Lalu kenapa
dilarang merokok? menurut salah satu ex tapol, mbah Pudjiati, larangan
itu muncul karena mayoritas anggota PKI adalah orang miskin. Jadi, kalau
orang miskin punya kebiasaan merokok, itu sama saja memiskinkan diri
sendiri. "Lebih baik uang untuk beli rokok digunakan untuk kebutuhan
lain," kata mbah Pudjiati yang kini berusia hampir 80 tahun.
Larangan ini pula lah yang jadi salah satu bukti kalau PKI bukan
dalang G30S. Kalau kita melihat film "Pengkhianatan G30S/PKI" yang
selalu diputar setiap tahun pada era orde baru, ada sebuah adegan di
mana para petinggi PKI sedang rapat mempersiapkan kudeta. Di sana mereka
rapat sambil menghisap rokok. Adegan itu cukup mudah diingat, karena
setting ruangan yang remang-remang, kepulan asap dimana-mana dan
sesekali kamera menyorot close up bibir pemimpin rapat yang
sambil menghisap rokok. "Djawa adalah kontji." begitu kalimat yang saya
ingat dalam adegan rapat tersebut.
Mengomentari adegan di film itu, mbah Pudjiati berkata, "Dalang G30S itu bukan PKI. Wong orang-orang PKI itu ngga boleh merokok. Makanya film itu bohong semuanya,"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar