Politik, Liputan, Humor, Budaya

Kamis, 14 Februari 2013

PKI Dilarang Merokok

http://www.facebook.com/notes/rio-al-wafa-rizalino/pki-dilarang-merokok/10151238936320993


Sejak beberapa hari lalu, saya mewawancarai sejumlah ex tapol 1965 untuk keperluan peliputan program acara di Tempo TV. Program tersebut mengangkat tema seputar peristiwa G30S. Satu hal yang menarik dari keterangan sejumlah ex tapol tersebut adalah larangan merokok di kalangan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Menurut mereka, salah satu kode etik ketika menjadi anggota atau simpatisan PKI adalah dilarang merokok. Larangan ini muncul bukan tanpa sebab. Menurut para ex tapol itu, salah satu tujuan berdirinya PKI adalah untuk memperjuangkan hak-hak kaum miskin dan tertindas. Jadi basis massa dan basis ideologi mereka adalah kaum proletar. Lalu kenapa dilarang merokok? menurut salah satu ex tapol, mbah Pudjiati, larangan itu muncul karena mayoritas anggota PKI adalah orang miskin. Jadi, kalau orang miskin punya kebiasaan merokok, itu sama saja memiskinkan diri sendiri. "Lebih baik uang untuk beli rokok digunakan untuk kebutuhan lain," kata mbah Pudjiati yang kini berusia hampir 80 tahun.

Larangan ini pula lah yang jadi salah satu bukti kalau PKI bukan dalang G30S. Kalau kita melihat film "Pengkhianatan G30S/PKI" yang selalu diputar setiap tahun pada era orde baru, ada sebuah adegan di mana para petinggi PKI sedang rapat mempersiapkan kudeta. Di sana mereka rapat sambil menghisap rokok. Adegan itu cukup mudah diingat, karena setting ruangan yang remang-remang, kepulan asap dimana-mana dan sesekali kamera menyorot close up bibir pemimpin rapat yang sambil menghisap rokok. "Djawa adalah kontji." begitu kalimat yang saya ingat dalam adegan rapat tersebut.

Mengomentari adegan di film itu, mbah Pudjiati berkata, "Dalang G30S itu bukan PKI. Wong orang-orang PKI itu ngga boleh merokok. Makanya film itu bohong semuanya,"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar